Slametan di Air Terjun Damarwulan: Gotong Royong Merintis Wisata Eko-Kultural di Ledokombo

IKWAN SETIAWAN

Siapapun tahu bahwa Jember memiliki keindahan alam yang cukup beragam. Siapapun tahun bahwa Jember memiliki keragaman budaya yang menggambarkan keragaman etnisitas dan agama. Begitupula, siapapun tahu, bahwa Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jember, sampai dengan saat ini belum memiliki kebijakan yang jelas, bagaimana harus mengelola potensi pariwisata dan kebudayaan tersebut. Sementara, Banyuwangi, yang pada tahun 2011 masih harus meminta bantuan Dynand Faris (alm) untuk mendesain Banyuwangi Ethno Carnival, saat ini sudah melesat, jauh meninggalkan Jember dalam aspek pariwisata berbasis budaya. Ini tentu ironi yang semestinya tidak perlu terjadi seandainya Pemkab Jember memiliki pilihan strategis dan operasional dalam kebijakannya.

Salah satu potensi alam yang bisa dikembangkan untuk aktivitas wisata berbasis komunitas adalah air terjun. Di Jember, terdapat banyak air terjun yang layak untuk dinikmati karena keindahannya. Di antara mereka adalah Damarwulan, Anjasmoro, Tujuh Bidadari, Tancak Panti, Tancak Tulis, Antrogan, dan beberapa lagi yang lain. Bisa dipastikan, semua air terjun tersebut belum disentuh oleh Disparbud. Warga masyarakatlah yang memliki kepedulian dan kepentingan untuk mengelola secara swadaya.

Air Terjun Damarwulan dan Anjasmoro di Dusun Paluombo, Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo merupakan dua air terjun yang memiliki potensi bagus untuk dikembangkan. Akses lokasi yang tidak terlalu sulit dijangkau menjadi salah satu daya tarik. Selama ini, pengelolaan secara sederhana dilakukan komunitas kaum muda yang bergabung dalam Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata). Meskipun demikian, masih banyak hal yang bisa dikembangkan lebih lanjut, agar kedua air terjun tersebut bisa tetap terjaga kelestariannya sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat.

Mungkin gambar 4 orang dan makanan
Dr. Eko Suwargono, M.Hum, memberikan sambutan dalam slametan.

Sebagai upaya untuk menemani dan mendampingi Pokdarwis dan warga dalam mengembangkan Air Terjun Damar Wulan, tim pengabdian dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UNEJ) bekerjasama dengan Dewan Kebudayaan Jember (DeKaJe), Pokdarwis, dan GenBi (komunitas mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari Bank Indonesia) menggelar slametan dan jagongan  di kawasan Damar Wulan, 9 September 2021.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Eko Suwargono, M.Hum., mewakili DeKaJe dan Tim FIB UNEJ menyampaikan beberapa hal yang patut dijadikan bahan pertimbangan dalam pengelolaan air terjun. Pertama, harus ada kerjasama strategis dalam wujud gotong royong antara pemerintah desa dan masyarakat Sumbersalak dengan perguruan tinggi, Pokdarwis, para seniman, dan pemerhati budaya. Itu perlu dilakukan agar bisa diformulasi model pengembangan wisata air terjun berbasis lingkungan dan kebudayaan. Karakteristik tersebut diharapkan bisa menjadi pembeda air terjun ini dengan air terjun lainnya.

Mungkin gambar 4 orang, orang duduk, luar ruangan dan pohon
Suasana guyub pada waktu slametan dengan tetap memperhatikan prokes.

Kedua, pengelola bisa membuat event rutin, baik tahunan maupun tengah tahunan yang memadukan aspek keindahan alam, legenda yang berkembang di masyarakat, dan karakteristik budaya. Event tersebut bisa saja karya kolaboratif yang terdiri dari ritual, pertunjukan seni, fashion, kuliner, dan penanaman bambu atau pohon lainnya. Dengan event ini diharapkan para wisatawan lokal, regional, maupun nasional tertarik untuk datang.

Event yang dimaksud bisa dikaitkan dengan cerita Damarwulan dan Anjasmoro yang cukup terkenal di kawasan ini, meskipun dalam bentuk serat berasal dari Surakarta. Tentu kalau bisa ditemukan data-data historis terkait kedua sosok tersebut akan lebih baik. Kalaupun tidak ditemukan, tidak masalah. Toh, masyarakat Ledokombo juga gemar menonton kesenian janger yang salah satu ceritanya adalah Damarwulan. Bagaimana bentuknya? Bisa sendratari, fashion, dan yang lain, tergantung kesepatakan bersama para Pokdarwis, masyarakat, dan pemerintah desa. Untuk itu, Tim FIB UNEJ dan DeKaJe bisa memfasilitasi melalui diskusi dengan para seniman atau kreator.

Mungkin gambar 6 orang, orang duduk dan luar ruangan
Suasana guyub menjadikan diskusi semakin dinamis.

Penanaman bambu bisa menjadi ciri khas yang melibatkan aspek empati pengunjung terhadap mekanisme penyelamatan lingkungan, khususnya tanah-tanah miring di sepanjang jalan menuju Anjasmoro. Para pengunjung setelah menikmati atraksi kultural dan segarnya air, bisa menanam bibit bambu dan memberinya nama. Kelak, mereka bisa saja mengunjungi kembali air terjun sembari melihat bambu yang mereka tanam. Tentu kalau bambu yang mereka tanam tumbuh dengan baik, mereka bisa mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan karena ikut berpartisipasi dalam penyelamatan lingkungan.

Mungkin gambar 4 orang dan luar ruangan
Diskusi gayeng dengan latar belakang air terjun.

Ketiga, memperbaiki fasilitas-fasilitas umum seperti toilet dan tempat ibadah. Namun, bahan bangunan sebisa mungkin tetap menggunakan bambu atau pohon dengan desain disesuaikan dengan kondisi tanah. Selain itu, keberadaan warung minuman dan jajanan perlu dikelola lebih baik lagi. Para pemilik warung bisa menjual makanan dan minuman khas Sumbersalak, seperti aneka masakan ikan kali, lalapan, sayur, dan lain-lain. Kuliner khas yang disajikan dengan baik bisa menjadikan wisatan merasakan sensasi selera yang mungkin akan mendorongnya kembali berwisata ke Damarwulan.

Koordinator Pokdarwis, Iwan Joyo Suprapto, menyambut baik pendampingan yang dilakukan Tim FIB UNEJ dan DeKaJe. Ia mengatakan Pokdarwis siap bekerjasama untuk pengelolaan air terjun agar lebih baik dan menarik. Apa yang terpenting adalah bahwa masyarakat harus bisa ikut merasakan dampak dari aktivitas pariwisata yang ada di wilayah Ledokombo. Selain itu, sistem manajemen Pokdarwis juga akan terus diperbaiki. Hal itu perlu dilakukan karena dengan perbaikan manajemen, khususnya SDM yang terlibat serta strategi promosi dan pembenahan fasilitas bisa menjadikan destinasi wisata ini tumbuh lebih baik lagi.

Mungkin gambar 1 orang, berdiri dan luar ruangan
Sekdes Sumbersalak memberikan sambutan.

Sementara, Sekretaris Desa Sumbersalak merespons positif acara ini. Sekdes mengatakan bahwa pihak desa siap melakukan kerjasama dengan menyiapkan tata kelola yang memadai melalui Badan Usaha Milik Desa (BumDes) dan Pokdarwis. Bahkan, pemerintah desa siap mengalokasikan anggaran desa jika tata kelola wisata Damarwulan benar-benar sudah siap dalam hal administrasi dan SDM. Selain itu pemerintah desa juga siap memberikan dana untuk pembangunan infrastruktur, utamanya jalan akses menuju air terjun. Semua itu, menurut Sekdes, diharapkan bisa memberikan dampak positif kepada warga masyarakat, termasuk bidang pertanian, perikanan, budaya, kerajinan, dan yang lain. Harapannya, masyarakat bisa ikut merasakan rezeki dari aktivitas pariwisata.

Mungkin gambar 3 orang, orang duduk, orang berdiri, luar ruangan dan teks yang menyatakan 'R AI QUAD CAMERA Shot oy WAN KIOS'
Menikmati kuliner ndeso bersama-sama.

Adapun GenBi juga menyatakan dukungannya terhadap gotong-royong yang dilakukan berbagai pihak untuk mendukung pertumbuhan Damarwulan sebagai destinasi wisata dalam lingkup regional, nasional, maupun internasional. GenBi yang terdiri dari kaum mahasiswa tentu bisa memanfaatkan kecerdasan mereka dalam mendesain promosi atau pemasaran melalui bermacam platform new media, seperti Instagram, Facebook, WA Group dan yang lain.

Slametan sebagai Penanda

Bagi pihak-pihak yang biasa mengelola event dari Disparbud, acara slametan di kawasan Damarwulan tentu akan dianggap sebagai acara yang tak patut diperhitungkan. Tentu saja mereka lebih senang menggelar diskusi atau focus group discussion (FGD) di hotel milik Pemkab Jember dengan biaya APBD yang berasal dari uang rakyat. Namun, dalam mendorong partisipasi komunitas, acara slametan tentu memiliki dampak ungkit yang lebih signifikan dibandingkan rekomendasi FGD atau diskusi yang seringkali menguap entah kemana.

Mungkin gambar 6 orang, orang duduk, orang berdiri dan luar ruangan
Dalam teduhnya pohon bambu, kuliner ndeso pun semakin nikmat.

Slametan yang dilengkapi dengan aneka kuliner ndeso dan tembang mamaca merupakan penanda indahnya gotong-royong yang melibatkan lintas-sektor dalam menumbuhkan kesadaran bersama untuk mengelola potensi wisata yang ada di perdesaan. Dalam konteks itu, slametan ini bisa menjadi pintu masuk untuk lebih serius menumbuhkan dan mengembangkan wisata eko-kultural berbasis komunitas di Jember, bukan berbasis kepentingan pemodal besar.

Mengapa wisata eko-kultural berbasis komunitas? Sebagaimana telah saya singgung di bagian awal, Jember memilih banyak tempat potensial yang bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata. Aktivitas wisata berbasis keindahan alam akan lebih sempurna kalau dilengkapi dengan partisipasi komuntias seni dan budaya melalui ragam atraksi kultural. Kawasan barongan bambu (papringan) yang cukup rindang bisa menjadi payung alami untuk menggelar pertunjukan sederhana berupa sendratari, hadrah, musik patrol, ataupun janger versi ringkas. Semua kesenian itu mudah dijumpai di kawasan Ledokombo. Tentu saja, para pelaku seni akan mendapatkan manfaat ekonomis dari keterlibatan mereka. Namun, itu semua tentu masih perlu didiskusikan secara serius agar model keterlibatan komunitas seni bisa sama-sama memberikan dan mendapatkan manfaat.

Mungkin gambar 2 orang, orang duduk, kerudung dan luar ruangan
Bu Ratna dari Tim FIB UNEJ memberikan sambutan.

Rintisan wisata eko-kultural juga sejak awal harus memperhatikan aspek konservasi yang tidak hanya melibatkan warga masyarakat, tetapi juga wisatawan. Sebagaimana saya sampaikan sebelumnya, para wisatawan bisa ikut menanam bibit bambu yang sudah disiapkan Pokdarwis dan warga masyarakat. Dengan ikut menanam, mereka berarti berpartisipasi dalam tindakan ekologis untuk memperbaiki lingkungan serta bisa memberikan manfaat ekonomi ketika bambu-bambu itu sudah tua. Aktivitas konservasi bisa menjadi pembeda yang menjadikan wisata ke Damarwulan dan Anjasmoro akan dikenang oleh para wisatawan.

Setidaknya, di tengah ketidakjelasan kebijakan pariwisata dan budaya di Jember, inisiatif gotong royong yang melibatkan Tim FIB UNEJ, DeKaJe, Pokdarwis, pelaku seni budaya, GenBi dan warga masyarakat menegaskan bahwa “energi dan kekuatan dari bawah” masih ada di Bumi Jember. Mereka masih memiliki kesadaran untuk bersama-sama merintis, menumbuhkan, dan mengembangkan potensi wisata dan budaya.

Mungkin gambar 4 orang, orang duduk, orang berdiri dan luar ruangan
Doa bersama.

Sejatinya, DeKaJe pada tahun 2017 sudah mengajukan lebih dari dua puluh program pengembangan budaya dan pariwisata ke Bupati Faida melalui Disparbud, tetapi tidak ada kejelasan sama sekali. Bahkan, di rezim Bupati Hendy Siswanto, Disparbud tidak pernah mengajak komunikasi pengurus DeKaJe. Namun, bagi pengurus DeKaJe sendiri, realitas itu tidak pernah menyurutkan langkah dan gerakan mereka, sesederhana apapun, untuk terus bergerak bersama rakyat Jember. Slametan di Damarwulan menjadi penanda sekaligus bukti bahwa DeKaJe mampu menjalin kerjasama dengan institusi pendidikan tinggi terbesar di kawasan timur Jawa Timur, warga masyarakat, Pokdarwis, dan generasi muda, meksipun tidak diperhatikan oleh Disparbud.

Mungkin gambar 13 orang, orang berdiri, orang duduk dan air terjun
Ber-foto bersama dengan latar belakang Damarwulan.

Gotong royong strategis yang melibatkan berbagai sektor dalam pengembangan wisata eko-kultural sejatinya bisa menjadi kekuatan dinamis yang tidak harus melibatkan Disparbud yang sejatinya masih bingung dengan apa yang akan mereka lakukan. Basis komunitas menjadi kekuatan utama agar bisa melibatkan mereka dalam aktivitas pengelolaan destinasi sekaligus konservasi yang akan memberikan manfaat secara ekonomis, kultural, maupun ekologis.

  • Foto diambil dari dokumentasi Iwan Joyo, Cak Lipyanto, dan Mas Popong.
About Ikwan Setiawan 224 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*