Ekonomi Politik Jagung Hibrida

RICHARD C. LEWONTIN & JEAN-PIERRE BERLAN

[Dalam komoditas,] ada hubungan sosial yang pasti antarmanusia, yang, di mata mereka, mengasumsikan bentuk fantastis hubungan antara bermacam hal. Oleh karena itu, untuk menemukan analogi, kita harus mencari jalan lain ke wilayah-wilayah yang diselimuti kabut dari dunia keagamaan. Di dunia itu, produksi otak manusia muncul sebagai makhluk independen yang diberkahi dengan kehidupan, dan menjalin hubungan baik satu sama lain maupun dengan ras manusia. Demikian pula dalam dunia komoditas dengan hasil tangan manusia. Ini saya sebut Fetisisme yang melekatkan dirinya pada produk-produk kerja, segera setelah mereka diproduksi sebagai komoditas, dan karena itu tidak dapat dipisahkan dari produksi komoditas. (Capital, Jilid 1, Bab 1, Seksi 4)

Ilmu pengetahuan dan teknologi selama ini telah digunakan untuk mensubordinasikan sistem produksi pertanian yang sebagian besar masih pra-kapitalis ke dalam dominasi modal. Pada artikel ini kami memberikan studi kasus masuknya kekuatan modal besar ke dalam budidaya jagung, dengan penggunaan jagung hibrida, unggulan inovasi sukses penelitian pertanian abad kedua puluh. Ahli genetika, sejarawan, sosiolog, dan ekonom mengutipnya sebagai contoh utama dari peningkatan hasil yang sangat besar yang berasal dari penelitian dasar yang hanya dimotivasi oleh pencarian pengetahuan. Selain itu, para ekonom membuat klaim berlebihan terkait manfaat sosial—dan hanya sosial—dari inovasi ini.

Klaim ini adalah mitos, kami akan membuatnya segera menjadi jelas. Sebelum tahun 1910, para petani memperbaiki tanaman jagung mereka dengan memilih bulir jagung terbaik di ladang mereka untuk digunakan sebagai benih untuk panen tahun depan. Pemuliaan varietas baru difokuskan pada pemilihan jagung “pilihan” yang paling laku. Namun, memilih hanya berdasarkan penampilan menyebabkan penurunan hasil. Sekitar tahun 1910, metode baru pemuliaan—hibridisasi—ditemukan yang tampaknya mengembangkan varietas unggul. Tak lama kemudian, upaya penelitian dan dana pemerintah untuk penelitian disalurkan ke dalam pekerjaan benih hibrida. Semua upaya penelitian lainnya pada dasarnya ditinggalkan. Teknik baru ini secara luas disebut-sebut sebagai terobosan revolusioner berdasarkan penemuan teoritis baru, dan penggunaan benih jagung hibrida tumbuh dari 13 persen pada tahun 1937 menjadi 88 persen pada tahun 1945.

Di balik transformasi ini, bagaimanapun, tidak hanya terletak teknologi baru tetapi juga kepentingan komersial yang cukup penting. Jika petani menyimpan benih yang ditanam dari pembelian awal varietas hibrida, hasil panen menurun drastis di tahun berikutnya. Jadi, begitu petani beralih menanam jagung hibrida, mereka harus membeli benih dari produsen benih komersial setiap tahun alih-alih memetik, pada saat panen, pipil yang sehat dan produktif dari ladang jagung mereka sendiri untuk benih tahun depan, seperti yang selalu mereka lakukan sebelumnya. Dengan kata lain, adopsi jagung hibrida mengubah benih menjadi komoditas.

Karena penggunaan benih hibrida semakin menyebarluas, produksi massal benih hibrida menjadi industri pertumbuhan yang sangat menguntungkan. Kombinasi kepentingan komersial dan dukungan besar pemerintah dalam bantuan benih hibrida yang lebih baik menyebabkan dominasi jenis baru produksi dan pemasaran benih-jagung. Paling tidak di antara alasan keberhasilan pemasaran teknologi baru adalah penyebaran ideologi dan klaim meragukan yang merasionalisasi keefektifannya.

Perusahaan pertanian secara konsisten membuat dua klaim: (a) bahwa hibrida meningkatkan hasil; dan (b) margin kenaikannya besar. Namun, apa yang diajukan untuk mendukung kedua klaim ini sama sekali tidak dapat diandalkan. Sebelum melihat bukti yang diasumsikan, penting untuk dipahami bahwa terjadi kurang lebih secara bersamaan sejumlah perkembangan yang berkontribusi dalam satu atau lain cara untuk hasil yang lebih tinggi. Pertama, pengenalan program pemuliaan tanaman yang direncanakan. Kebingungan pemuliaan, secara umum, dengan hibriditas sebagai metode tertentu (lihat kotak [1 di bawah]) adalah mendasar. Kedua, upaya yang belum pernah dilakukan oleh instansi pemerintah untuk mengembangkan varietas unggul dalam mendukung strategi benih hibrida. Ketiga, perubahan teknik budidaya, seperti rotasi tanaman, peningkatan penggunaan pupuk, dan mekanisasi. Keempat, pengenalan prosedur uji eksperimental dan statistik yang lebih efisien. Meskipun lembaga pertanian sangat menyadari bahwa semua perubahan ini memainkan peran, namun mereka mengaitkan peningkatan hasil terutama dengan penggunaan benih hibrida dan tidak membedakan antara pengaruh hibrida dan faktor pendukung lainnya.

Kotak 1. Apa itu Hibrida?

Setiap gen dalam tanaman jagung hadir dalam dua salinan, satu disumbangkan oleh setiap indukan. Jika dua salinan identik, tanaman memiliki sepasang gen yang sama dan jika berbeda, sepasang gen yang tidak sama. Dalam populasi jagung yang diserbuki secara terbuka, tanaman membawa pasangan gen yang sama dan tidak sama. Jagung inbrida dihasilkan dari pengambilan satu tanaman, penyerbukan sendiri untuk menghasilkan keturunan, pengambilan satu untuk generasi berikutnya, penyerbukan sendiri, dan seterusnya selama beberapa generasi. Hasilnya adalah generasi akhir yang hanya membawa pasangan seperti. Dengan demikian, semua tanaman dari satu galur inbrida secara genetik identik. Jika proses dilakukan untuk banyak tanaman tunggal asli yang berbeda dari populasi, kumpulan galur inbrida dibuat, masing-masing membawa satu set unik dari pasangan gen yang serupa. Artinya, setiap galur berbeda secara genetik dari galur inbrida lainnya.

Hibrida terdiri dari persilangan antara dua tanaman inbrida. Proses pembuatan hibrida melibatkan serangkaian tindakan: a) jagung penyerbukan sendiri selama beberapa generasi; b) menyilangkan galur-galur tersebut menjadi hibrida dan memilih persilangan yang menghasilkan hibrida terbaik; c) memproduksi dan menjual benih hibrida ini.
Proses ini butuh waktu lama, mahal dan rumit. Turunan inbrida menghasilkan hasil yang rendah tetapi ketika galur inbrida disilangkan, hibrida terkadang memberikan hasil yang lebih tinggi daripada salah satu yang lebih tua, dan bahkan terkadang lebih produktif daripada rata-rata populasi asli campuran. Jika satu kombinasi hibrida yang sangat kuat ditemukan, itu dapat diproduksi secara massal untuk menggantikan populasi campuran asli dengan tanaman hibrida yang semuanya secara genetik sama dan memberikan hasil yang lebih tinggi daripada rata-rata populasi asli. Tetapi benih generasi ke-2 akan kurang produktif karena banyak keturunan tanaman hibrida akan menyerupai kakek-neneknya (inbrida). Petani, kemudian, harus membeli benih mereka lagi setiap tahun.

Konsentrasi pada hibridisasi sebagai penyebab utama, jika bukan satu-satunya, adalah bagian dari proses komoditisasi. Contoh khas dari kecerobohan para ilmuwan dalam hal ini adalah klaim yang dibuat dalam karya monumental tahun 1976 tentang pemuliaan tanaman oleh Juggenheimer: “Perkiraan konservatif menunjukkan bahwa benih hibrida telah meningkatkan produksi di Amerika Serikat dari 25 menjadi 50 persen.” Tiga referensi mendukung klaimnya. Salah satunya adalah bukunya sendiri tahun 1958 di mana klaim yang sama dibuat tanpa referensi apa pun; yang kedua datang dari Asisten Menteri Pertanian yang lagi-lagi tidak memberikan referensi. Yang ketiga berasal dari sebuah buku di mana referensinya lagi adalah Asisten Menteri yang sama!

Kecuali untuk angka awal yang diperoleh dari Uji Hasil Iowa Com yang direncanakan dengan cermat yang menunjukkan peningkatan 7-11 persen dalam panen jagung hibrida, kami tidak tahu kapan, di mana, bagaimana, atau oleh siapa eksperimen untuk mendukung klaim ini dilakukan. Bagaimanapun, semua perbandingan seperti itu akan keliru. Sebelum tahun 1920-an, pemuliaan jagung adalah pemuliaan jagung pilihan, yaitu pemuliaan untuk mendapatkan  pipil terbaik, yang gagal menghasilkan tanaman rata-rata dan menyebabkan penurunan hasil yang sebenarnya. Mulai tahun 1921, penelitian publik dan swasta difokuskan secara eksklusif pada pemuliaan hibrida sehingga sulit dalam retrospeksi untuk memilah berapa banyak peningkatan yang disebabkan oleh hibrida dan berapa banyak yang disebabkan oleh upaya pemuliaan publik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Untuk menghindari kesulitan ini, pemulia menawarkan bukti statistik seperti perbandingan evolusi hasil jagung dengan hasil tanaman yang tidak mendapat manfaat dari hibriditas. Grafik 1 adalah tipikal. Kita dapat melihat lonjakan besar hasil panen bersamaan dengan penyebaran hibrida, dan lonjakan seperti itu tidak terjadi untuk spesies non-hibrida seperti jerami jinak(tame hay, sejenis padi-padian yang ditanam untuk pakan ternak). Namun, jerami jinak tidak menawarkan perbandingan yang valid. Itu hampir bukan tanaman komersial, hasil sulit diukur, dan upaya pemuliaan pada tanaman ini terbatas. Perbandingan yang lebih valid adalah dengan gandum, tanaman komersial non-hibrida yang perbaikannya telah dilakukan secara aktif di seluruh Amerika Serikat.

Perbandingan hasil jagung dan gandum menghancurkan klaim peningkatan hasil khusus karena hibriditas. Selama periode 1937–1945, ketika areal yang ditanami hibrida meningkat pesat di Corn Belt, hasil gandum meningkat 4,4 persen per tahun, sementara hasil jagung meningkat hanya 2,8 persen per tahun. Selanjutnya, perbandingan mengabaikan perubahan penting dalam mekanisasi, rotasi tanaman, pupuk, kebijakan ekonomi, dll, yang memiliki pengaruh penting pada hasil tanaman komersial. Terakhir, sejak pertengahan 1920-an, ada pengembangan prosedur pengujian eksperimental dan statistik yang efisien untuk semua pemuliaan tanaman (buku R. A. Fisher yang sangat berpengaruh, Metode Statistik untuk Pekerja Penelitian, diterbitkan pada tahun 1925).

Grafik 1. Tren produksi acre jagung sebelum dan sesudah heterosis digunakan dan jerami jinak yang belum ada kontrol pemuliaan seperti itu, 1930-1950

Klaim objektif yang tampaknya apolitis, bebas nilai, bahwa hibrida (atau hibriditas) meningkatkan hasil, merupakan reifikasi produk pikiran manusia yang diperlukan untuk penciptaan komoditas baru dan sangat menguntungkan. Dalam kata-kata Marx, pemuliaan menciptakan “hubungan sosial yang pasti antarmanusia, yang di mata mereka menganggap, bentuk fantastis dari hubungan antarbenda.”

Bukti Teoritis

Kekuatan hibrida dalam arti biologis yang ketat dari keunggulan hibrida jagung atas induknya yang dikawinkan secara genetik adalah fenomena alam yang umum. Dalam pengertian itu, hibrida atau hibriditas memang meningkatkan hasil. Namun, jauh dari fenomena alam ini untuk mengklaim bahwa hibriditas itu sendiri merupakan keunggulan kombinasi hibrida tertentu dari galur-galur inbrida di atas varietas jagung penyerbukan terbuka yang ditanam petani sebelum era jagung hibrida. Dua penjelasan teoretis untuk kekuatan hibrida ditawarkan hampir secara bersamaan pada tahun 1909 dan 1910. Kedua penjelasan tersebut mampu menjelaskan dua fenomena eksperimental: penurunan kekuatan selama perkawinan sedarah, dan pemulihan kekuatan dalam persilangan dua galur inbrida. Kedua penjelasan tersebut, bagaimanapun, memiliki konsekuensi yang berlawanan untuk pilihan terbaik dari teknik pemuliaan.

Penjelasan pertama menyatakan bahwa kekuatan hibrida disebabkan oleh hibriditas itu sendiri. Penjelasan ini diusulkan (atau lebih tepatnya dipaksakan) oleh dua ahli genetika Amerika, East dan Shull, setelah mereka menemukan, atas dasar empiris murni, apa yang mereka pikir sebagai metode pemuliaan “revolusioner”, teknik inbrida-hibrida. Mereka membenarkan penemuan mereka dengan klaim bahwa hibrida mendapat manfaat dari “stimulasi fisiologis” karena hibriditas itu sendiri—fakta membawa pasangan gen yang berbeda. Namun, mereka tidak menawarkan bukti apa pun untuk mendukung teori mereka. Stimulasi fisiologis hanyalah nama lain untuk fenomena tersebut dan bukan penjelasan.

Penjelasan kedua dikemukakan oleh ahli genetika Inggris yang tidak memiliki kepentingan dalam masalah ini, karena tidak ada jagung yang ditanam di Inggris pada waktu itu. Penjelasan tersebut menempel pada model hereditas Mendel awal dan menyatakan bahwa kekuatan hibrida disebabkan oleh “penutupan” gen yang tidak menguntungkan oleh rekan-rekan mereka yang menguntungkan—apa yang disebut “hukum dominasi” Mendel.

Kedua model memperkirakan bahwa perkawinan sedarah akan mengurangi hasil, dan persilangan garis sedarah akan meningkatkannya. Namun, penjelasan East dan Shull memiliki konsekuensi lain yang krusial: tidak ada perbaikan melalui pemilihan yang mungkin dilakukan. Pemilihan tanaman yang paling kuat dengan cara tradisional berarti pemilihan tanaman dengan sejumlah besar pasangan gen yang berbeda, menurut penjelasan mereka tentang kekuatan hibrida. Namun, persilangan acak di antara tanaman-tanaman ini akan memecah pasangan gen yang berbeda menjadi pasangan gen yang serupa, yang menyebabkan hilangnya kekuatan. Akibatnya, pandangan teoritis menghalangi semua teknik perbaikan jagung yang mengandalkan seleksi. Hanya teknik hibrida-inbrida “revolusioner” yang ditemukan oleh East dan Shull yang dapat menghasilkan perbaikan tanaman jagung. Penjelasan ini semakin masuk akal karena seleksi jagung sebelumnya telah gagal—tetapi gagal karena itu adalah seleksi untuk keindahan, bukan untuk hasil. Lalu, mengapa pembibitan jagung menjadi kontes kecantikan? Ini bermula dari kontradiksi antara pemuliaan untuk nilai guna, yaitu untuk meningkatkan efisiensi dalam produksi komoditas pertanian, dan pemuliaan sebagai komoditas dengan sendirinya (yaitu, nilai tukar) sebagai ladang yang menguntungkan bagi pengusaha. Aspek kedua ini mendominasi pameran jagung. Peternak komersial dibiakkan karena ciri-ciri spesifik yang dapat diidentifikasi karena itulah yang bisa mereka jual. Para petani kemudian membeli benih jagung yang memiliki ciri-ciri “indah”, dengan anggapan bahwa itu menjamin hasil yang lebih tinggi.

Di sisi lain, model Mendel berarti bahwa tugas seorang pemulia adalah meningkatkan jumlah gen yang menguntungkan di ladang jagung. Seleksi itu mungkin dan memang perlu. Petani atau pemulia dapat mencari tanaman dan pipil jagung mereka yang terbaik, dapat menumbuhkan benih bersama untuk mengubah gen mereka, dan dapat memulai proses dari awal lagi. Secara teori, praktik umum seleksi massal ini pada akhirnya meningkatkan proporsi gen “baik” dan akibatnya menyebabkan peningkatan populasi secara bertahap pada setiap siklus seleksi melalui peningkatan frekuensi gen yang menguntungkan.

Konsekuensi dari bentuk seleksi ini adalah terciptanya varietas unggul yang dapat bertahan sendiri yang dapat dipanen untuk benih tahun depan oleh petani sendiri di ladang jagungnya sendiri.

Masalah Praktis

Usulan East dan Shull untuk membiakkan hibrida karena stimulasi fisiologis menyebabkan kesulitan dalam praktik.

Pertama, jika kekuatan dalam hibrida bergantung pada proporsi pasangan gen yang berbeda, bisa jadi galur inbrida terburuk akan menghasilkan kombinasi hibrida yang sangat produktif. Tidak ada cara untuk mengetahuinya terlebih dahulu. Konsekuensinya, kemudian, adalah metode pemuliaan yang mencari tanpa aturan logis untuk kombinasi unggul yang langka. Program inbrida-hibrida yang berhasil memerlukan biaya yang besar karena semakin besar sampel galur inbrida yang digabungkan menjadi hibrida, semakin besar kemungkinan untuk menemukan, secara kebetulan, kombinasi unggul. Namun, karena alasan biaya, sampelnya harus sangat kecil. Jadi hasil yang diharapkan rendah dibandingkan dengan skema seleksi Mendel.

Kesulitan lebih lanjut muncul karena tanaman inbrida yang digunakan dalam persilangan untuk menghasilkan benih hibrida sangat tertekan kekuatannya sehingga mereka tidak efisien dalam memproduksi benih. Solusi untuk produksi benih adalah penemuan oleh D. F. Jones dari persilangan ganda di mana tanaman penghasil benih itu sendiri adalah hibrida, yaitu tanaman yang telah pulih kekuatannya dan yang menghasilkan benih dalam jumlah besar. Benih hibrida komersial merupakan kombinasi dari empat galur dalam prosedur persilangan dua tahap. Tapi ini memperburuk masalah aslinya. Dengan hanya 20 galur (pada tahun 30-an, pemulia jagung menghasilkan ribuan galur), dimungkinkan untuk mendapatkan 190 persilangan tunggal yang dapat diuji (tetapi benihnya tidak dapat diproduksi secara komersial) dan hampir 15.000 hibrida persilangan ganda (bibit yang dapat diproduksi secara komersial tetapi akan terlalu mahal untuk diuji).

Setelah 15 tahun kerja keras yang dimulai pada tahun 1921, 52 pemulia jagung hibrida dari negara bagian Utara-Tengah mencapai varietas hibrida yang kurang dari 10 persen lebih baik daripada varietas dengan penyerbukan terbuka. Dan hasil sederhana ini dicapai hanya karena pemulia, bisa dikatakan, curang: mereka memang memilih selama proses perkawinan sedarah, menjaga bahan yang terlihat lebih baik dan lebih produktif. Artinya, dalam praktiknya, mereka mengumpulkan gen yang baik dalam garis keturunan mereka, sementara diduga melakukan sesuatu yang lain.

Sungguh menakjubkan bahwa penelitian pertanian akan menerapkan metode pemuliaan yang membutuhkan investasi besar dalam tenaga, waktu, dan uang; yang tidak akan memberikan hasil setidaknya selama 10 tahun; dan yang bertumpu pada manipulasi acak dan buta dari jumlah tanaman yang mengejutkan sambil mengabaikan skema alternatif yang sederhana, logis, dan cepat, yaitu seleksi massal jagung. Sampai dengan tahun 1955, data tentang efektivitas seleksi massal jagung hampir sepenuhnya kurang, dan baru belakangan ini seleksi massal berhasil dilaksanakan.

Namun, penerapan teknik hibrida-inbrida yang mahal akan dapat dijelaskan jika teori stimulasi hibrida East dan Shull terbukti benar. Selain kontradiksi yang mengganggu penerapan praktis teori semacam itu dan karakter ad hocnya, telah diketahui selama lebih dari 20 tahun bahwa penjelasan East dan Shull untuk kekuatan hibrida salah dan penjelasan Mendel ortodoks benar! Lalu, mengapa Departemen Pertanian AS belum meluncurkan program kilat perbaikan jagung melalui seleksi yang dapat menyelamatkan petani antara satu dan dua miliar dolar setahun?

Mengapa Jagung Hibrida?

Jagung hibrida memperluas lingkup produksi komoditas dengan menciptakan komoditas baru dan sangat menguntungkan, sesuatu yang tidak dapat diproduksi dengan metode pemuliaan alternatif. Pada awal abad kedua puluh, gerakan sosial dan ideologis yang kuat yang mendukung hak kepemilikan mempengaruhi pekerjaan pemuliaan. Hubungan hibriditas dengan hak kepemilikan secara eksplisit diketahui, dan hubungan ini sangat menentukan dalam pemilihan metode hibrid, terlepas dari penentangan sebagian besar ilmuwan.

Pekerjaan pemuliaan memiliki sifat paradoks—tidak ternilai harganya dalam dua arti yang berlawanan dari istilah tersebut: ia memiliki nilai sosial yang sangat besar seperti, katakanlah, sebuah mahakarya alam, namun ia tidak memiliki nilai pasar, yaitu, tidak ada harga.

Ketakternilaian ini berasal dari sifat dasar kehidupan, reproduksi-diri. Produksi biologis bertumpu pada informasi genetik, yang direproduksi dan digandakan dalam proses produksi. Petani memanen di ladangnya benih yang mengandung informasi genetik dari varietas yang telah ia tabur dan yang akan ia tabur.

Pada pergantian abad, peternak Amerika dan Eropa menjadi sangat sadar akan kontradiksi ekonomi ini. Pada awal tahun 1885, pemulia sereal dan buah swasta mulai menyerukan pembentukan sistem paten tanaman. Dalam volume pertamanya pada tahun 1910, American Breeders Magazine menyesalkan paradoks para peternak hebat yang meninggal dalam kemiskinan setelah membawa kemakmuran ke seluruh wilayah:

Ambil contoh, Ephraim Bull, yang memberi dunia anggur Concord, sekarang varietas standar, dibudidayakan di ribuan kebun anggur. Dia menciptakan kekayaan, kemewahan, penyegaran, dan makanan untuk jutaan orang.…. Ephraim Bull meninggal dalam kemiskinan … dan orang yang lewat diinformasikan oleh batu nisan di lempengan polos yang menandai kuburan Ephraim Bull: “DIA MENABUR, ORANG LAIN MENDAPAT.”

Dalam masyarakat borjuis, pelanggaran hak milik seperti itu adalah ketidakadilan tertinggi. Hibrida memberikan solusi. Memang, Shull dalam makalah pertamanya menyarankan bahwa masalah pemuliaan jagung “mungkin menemukan solusi sehingga perlu kembali setiap tahun ke kombinasi asli, alih-alih memilih dari antara keturunan hibrida stok untuk pemuliaan lanjutan.” East dan Jones menulis: “Ini (hibrida) adalah sesuatu yang mungkin dengan mudah diambil oleh penangkar benih; pada kenyataannya, ini adalah pertama kalinya dalam sejarah pertanian bahwa seorang ahli benih dimampukan untuk mendapatkan manfaat penuh dari asal usul yang diinginkan dari miliknya sendiri atau sesuatu yang telah ia beli.”

Pada tahun 1913 Henry Agard Wallace memulai bisnis benih jagung di Des Moines dan tertarik dengan metode yang dipelopori oleh Shull dan East. “Pendekatan senapan”-nya untuk pemuliaan inbrida-hibrida terbukti tidak membuahkan hasil, dan Wallace menyadari bahwa teknik itu terlalu rumit dan mahal untuk dikembangkan oleh satu perusahaan. Hanya upaya pemerintah habis-habisan yang akan mewujudkannya.

Pada tahun 1920 Warren Harding, Presiden terpilih Amerika Serikat, memilih Henry C. Wallace, ayah Henry A. Wallace, sebagai Menteri Pertanian. Sebelum pencalonannya secara resmi, dia meminta putranya untuk melaporkan program pemuliaan jagung federal. Henry A. Wallace menyarankan ayahnya untuk menyingkirkan program pemuliaan jagung tradisional dan merekrut orang baru untuk menerapkan teknik hibrida-inbrida yang baru. Para rekrutan baru ini adalah mantan mahasiswa East di Harvard dan Emerson (yang pernah bekerja dengan East) di Cornell. Dana untuk penelitian jagung hibrida meningkat sepuluh kali lipat. Alih-alih kebijakan yang tersebar dan tidak terkoordinasi yang berlaku di berbagai stasiun percobaan, program pemuliaan hibrida “kooperatif” terpusat dimulai, dengan erat mengoordinasikan upaya penelitian federal dan negara bagian di bawah arahan Frederick Richey.

Henry A. Wallace mulai pada tahun 1920 untuk mengkhotbahkan kredo jagung baru yang menjanjikan sebuah revolusi dalam pertanian Amerika di majalah mingguan keluarga yang berpengaruh, Wallace’s Farmer. Pada tahun 1924 ia menjual benih jagung hibrida pertamanya seharga $1 per pon. Jagung benih hibrida ini memenangkan uji hasil jagung Iowa tahun 1924 di salah satu bagian selatan negara bagian itu dan diiklankan sebagai jagung revolusioner yang dapat dicoba oleh beberapa petani yang beruntung untuk pertama kalinya. Wallace mendapatkan garis keturunan dari pekerjaan pemuliaan yang didukung pemerintah: satu garis berasal dari Stasiun Percobaan Connecticut dan yang lainnya dari Frederick Richey yang dia rekomendasikan kepada ayahnya sebagai kepala program pemuliaan jagung federal. Dari acre benih jagung yang ditanam di bawah kondisi seperti kebun (hibrida adalah persilangan tunggal), ia mendapat sekitar $840. Biaya produksi benih mungkin lebih rendah dari $100. Penjualan pertama ini mencakup ciri khas industri hingga saat ini: periklanan untuk mengubah investasi publik menjadi keuntungan pribadi. Keuntungannya sangat besar dan, pada tahun 1926, Henry A. Wallace mendirikan Pioneer, yang sekarang menjadi perusahaan benih terbesar di dunia.

Kudeta Wallaces menjadi, bagi para pembela zaman akhir, “kombinasi [kemajuan teoretis dari Timur, Shull, dan Jones] yang terbukti tak bisa ditahan bahkan oleh ahli agronomi paling konservatif sekalipun!” Konservatisme ahli agronomi ini adalah mitos lain dari kisah jagung hibrida. Semua upaya awal untuk membiakkan hibrida untuk produksi komersial berakhir dengan kegagalan. Double-cross Jones, misalnya, tampil buruk di bawah kondisi Corn Belt. Setelah 15 tahun bekerja dan sejumlah klaim yang meningkat dari Shull dan East, tidak ada yang bernilai darinya, kecuali untuk satu eksperimen. Penjelasan teoretis tentang kekuatan hibrida menyebabkan prosedur pemuliaan menjadi tidak praktis. Dengan tidak adanya intervensi pemerintah, tidak masuk akal bagi peternak untuk mempertaruhkan karir mereka pada bukti yang tidak meyakinkan tersebut.

Ekonomi Jagung Hibrida

Hibrida komersial menurunkan hasil dari generasi berikutnya (lihat kotak [1 di atas]). Artinya, petani harus memperbaharui benihnya setiap tahun. Oleh karena itu, hibrida menciptakan pasar benih yang abadi.

Jadi pemuliaan hibrida membuka peluang keuntungan yang mengejutkan. Jika seorang petani kehilangan, katakanlah, 20 persen dari hasil panennya dengan menggunakan benih generasi kedua dari hibrida, dan jika hasil panennya 40 bu/hektar, maka kerugiannya berjumlah 8 bu/acre. Saat itu, satu gantang benih jagung disemai seluas 7 hektar. Sekali seorang petani mengadopsi hibrida (karena pekerjaan pemuliaan umum membuat mereka lebih unggul daripada jagung penyerbukan terbuka yang tidak dipilih), ia akan kehilangan 56 gantang biji-bijian dengan menabur gantang benih generasi kedua dari tanamannya sendiri (alih-alih membeli benih hibrida baru ). Secara teori, seorang petani rasional harus membeli gantang jagung benih komersial hibrida dengan harga berapa pun kurang dari 56 kali harga gantang jagung untuk biji-bijian.

Harga benih jagung yang dijual dapat sepenuhnya terputus dari biaya produksinya. Industri jagung benih hibrida di Amerika Serikat dan di tempat lain harus membangun sistem persaingan monopoli melalui upaya penjualan, elemen penting di antaranya adalah penelitian dan pengembangan varietas baru terutama di luar pekerjaan penelitian publik. Saat ini, benih jagung dijual seharga $70 sampai $80 per gantang sedangkan biaya produksinya sekitar $15/bu. Perbedaan antara keduanya menunjukkan keuntungan ditambah apa yang dikeluarkan oleh perusahaan benih untuk membangun hambatan masuk: periklanan, tenaga penjualan, uji lapangan, penelitian dan pengembangan untuk menyediakan aliran varietas baru yang stabil, dll. Tingkat keuntungan mengejutkan karena sangat sedikit modal terikat dalam produksi aktual, yang dilakukan oleh petani yang bekerja di bawah kontrak.

Ekonom Ortodoks memberikan sentuhan ideologis terakhir pada dongeng sains dan teknologi ini. Zvi Griliches mendapatkan ketenaran awalnya dari dua artikel yang ditujukan untuk jagung hibrida, salah satunya dianggap sebagai terobosan dalam ekonomi neo-klasik karena menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa perubahan teknologi dapat diterima untuk analisis ekonomi.

Griliches memulai dengan asumsi bahwa “Jagung hibrida, seperti yang diketahui semua orang, meningkatkan hasil jagung.” Dia kemudian melompat ke perlakuan ekonomi matematis data, fitur ekonomi yang mencolok yang mengingatkan kita pada Alcibiades yang memotong ekor anjingnya. Ketika ditanya mengapa dia melakukan hal seperti itu, negarawan Yunani itu menjawab bahwa orang-orang, sambil merenungkan ekor anjingnya, akan mengabaikan hal-hal penting. Triknya, meskipun tua, bekerja dengan sempurna. Tidak ada yang melihat bahwa makalah Griliches tahun 1957 sepenuhnya tautologis. Karena, jika hibrida meningkatkan hasil (semuanya sama), produksi meningkat, harga turun, dan masyarakat mendapat manfaat dari inovasi! Inilah tepatnya klaim yang diinginkan oleh komunitas ilmiah pada umumnya “secara ilmiah”. “Pengembalian sosial secara keseluruhan atas penelitian teknologi yang didukung publik sangat tinggi”; mereka menguntungkan semua orang. “Dalam jangka panjang, tidak ada keuntungan abnormal yang dibuat di sana,” oleh karena itu, intervensi negara dibenarkan.

Orisinalitas sebenarnya dari makalah Griliches adalah dalam memberikan sosok yang menjadi legitimasi ideologis yang kuat dari proses perubahan teknologi kapitalis. Dia menghitung pengembalian tahunan 700 persen untuk setiap dolar yang diinvestasikan dalam penelitian jagung hibrida.

Angka ini sejak saat itu menjadi senjata politik. Lembaga penelitian pertanian mengulanginya untuk mendukung usahanya. Pada bulan Mei 1984, dua Asisten Profesor di University of California mengutip angka ini untuk mendukung penelitian pertanian di Wall Street Journal. Artikel itu adalah bagian dari kampanye Universitas untuk meredakan tuntutan hukum yang menuduh bahwa penelitiannya melayani orang kaya dan berkuasa daripada konsumen atau pekerja pertanian.

Kami menyarankan bahwa upaya yang benar-benar ilmiah sekarang adalah menghitung biaya sosial jagung hibrida.

Diterjemahkan oleh Ikwan Setiawan dari:

LEWONTIN, RICHARD C. & JEAN-PIERRE BERLAN. (1986). “The Political Economy of Hybrid Corn”. Monthly Review, Vol. 38, Issue 03. https://monthlyreview.org/1986/07/01/the-political-economy-of-hybrid-corn/

About Matatimoer 26 Articles
Adalah lembaga yang bergerak dalam bidang penelitian budaya dan pemberdayaan komunitas

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*