Warga Tumpang Pitu Berkirim Surat ke BMKG dan Presiden Terkait Potensi Gempa dan Tsunami Pesisir Selatan Jawa Timur

MEDIA RILIS WALHI JATIM

Jumat, 28 Mei 2021, tim ahli Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memaparkan hasil kajiannya yang bertajuk Kajian dan Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami di Jawa Timur. Dalam kajiannya tersebut BMKG menyampaikan bahwa terdapat potensi gempa berkekuatan 8,7 SR dan bencana tsunami setinggi 26-29 meter di perairan selatan Jawa Timur.

Terkait informasi itu, seperti dilaporkan oleh Kompas.com pada 4 Juni 2021 (cek: https://www.kompas.com/tren/read/2021/06/04/094000465/ramai-potensi-gempa-87-sr-dan-tsunami-29-meter-di-jawa-timur-ini-penjelasan?page=all.) Kepala BMKG Daryono mengingatkan masyarakat agar tidak panik. Namun, dalam faktanya informasi dari BMKG tersebut telah menyebar secara luas ke publik dan seminggu terakhir menjadi pemberitaan utama di sejumlah media.

Masyarakat Jawa Timur, khususnya pesisir selatan Banyuwangi yang mendapatkan informasi ini juga mulai menunjukkan kegelisahannya, sembari mengingat kembali bencana tsunami di kampung mereka yang terjadi 27 tahun silam. Patut diketahui pada 3 Juni 1994 gelombang besar tsunami menyapu kawasan pesisir Desa Sumberagung, Pesanggaran, Banyuwangi dan pesisir selatan Banyuwangi sekitarnya. Bencana tersebut merenggut korban lebih dari 238 jiwa.

Dalam catatan BNPB tahun 2012, disebutkan bahwa bencana tsunami itu dipicu oleh gempa bumi tektonik berkekuatan 7.8 Skala Richter (SR) yang berpusat di Samudera Hindia. BNPB menambahkan bahwa selatan pulau Jawa masuk dalam kategori Kawasan Prioritas dengan Resiko Tsunami Tinggi di Indonesia, tercatat tiga gempa bumi besar pernah terjadi di zona ini pada tahun 1840, 1867, dan 1875. Banyuwangi sendiri menurut kajian dari BNPB (2011) menempati urutan ke sembilan dengan nilai kerentanan tinggi untuk wilayah dengan indeks kerentanan wilayah terhadap gempa bumi dan tsunami. Pada bencana lainnya seperti gempa bumi dan angin topan juga menempatkan Banyuwangi terutama kawasan pesisir selatan dengan nilai indeks kerentanan tinggi.

Pertambangan Memperbesar Ancaman Bencana Gempa dan Tsunami

Sejak beroperasinya kegiatan industri pertambangan di Gunung Tumpang Pitu dan sekitarnya yang dilakukan oleh PT. Bumi Suksesindo (PT. BSI) dan PT. Damai Suksesindo (PT. DSI), keduanya anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MCG) dari sejak tahun 2012, beragam krisis sosial-ekologis dan sejumlah persoalan keselamatan ruang hidup rakyat terus meningkat di Desa Sumberagung. Salah satu diantaranya yang masih membekas cukup kuat dalam benak warga adalah bencana lumpur yang terjadi pada Agustus 2016 silam.

Selain telah merusak sebagian besar kawasan pertanian warga, bencana lumpur tersebut juga telah menimbulkan beberapa persoalan penting lainnya, yakni telah membuat kawasan pesisir Pantai Pulau Merah dan sekitarnya berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Bahkan karena kerusakan tersebut ditemukan sejumlah fakta bahwa beberapa jenis kerang, ikan dan beberapa biota laut lainnya mulai menghilang dari pesisir Sumberagung. Warga menduga bencana lumpur itu bersumber dari rusaknya kawasan Gunung Tumpang Pitu akibat hadirnya kegiatan pertambangan grup MCG.

Bagi warga Sumberagung, Gunung Tumpang Pitu dan gunung-gunung sekitarnya memiliki peran penting.

Pertama, sebagai ‘tetenger’ bagi nelayan saat melaut. Setiap pagi, ketika mereka berada di laut lepas, titik yang mereka cari untuk menentukan arah adalah pulau Nusa Barong di sebelah Barat, Gunung Agung di sebelah Timur dan Gunung Tumpang Pitu ditengah-tengahnya. Maka jika Gunung Tumpang Pitu menghilang, bisa dipastikan mereka akan kehilangan salah satu tetenger daratan yang menjadi acuan arah.

Kedua, Gunung Tumpang Pitu dan gunung-gunung sekitarnya adalah benteng alami bagi perkampungan komunitas nelayan yang tinggal di pesisir teluk Pancer dari ancaman angin tenggara yang terkenal ganas pada musim-musim tertentu. Selain itu ia juga berfungsi sebagai benteng utama terhadap bahaya ancaman tsunami. Sebagaimana pernah dicatat, saat gelombang tsunami menyapu kawasan pesisir Sumberagung pada tahun 1994, keberadaan Gunung Tumpang Pitu dan gunung-gunung sekitarnya, dikatakan mampu meminimalisasi jumlah angka korban karena melindungi kawasan pemukiman. Sehingga dipastikan jika gunung-gunung tersebut menghilang karena hadirnya pertambangan MCG, potensi ancaman tsunami ini akan semakin membesar dalam merenggut jumlah korban yang lebih banyak pada masa mendatang, terlebih potensi ancamannya telah dijelaskan oleh kajian BMKG di atas.

Ketiga, selain berfungsi sebagai pusat mata air yang mampu mencukupi kebutuhan pertanian dan konsumsi rumah tangga, di sanalah (Tumpang Pitu) sebagian besar penduduk Sumberagung, khususnya kaum perempuan, mencari beberapa tanaman obat-obatan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan secara turun temurun.

PT BSI mengantongi izin IUP Operasi Produksi di Gunung Tumpang Pitu dan sekitarnya, berdasarkan Keputusan Bupati Banyuwangi No.188/547/KEP/429.011/2012 tanggal 9 Juli 2012. Izin tersebut seluas 4.998,45 Ha, dan berlaku hingga 25 Januari 2030. Sementara IUP Eksplorasi PT DSI diterbitkan berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Timur No. P2T/83/ 15.01/V/2018 tanggal 17 Mei 2018. Atas putusan tersebut PT DSI telah memperoleh penambahan jangka waktu atas IUP Eksplorasi untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan studi kelayakan dalam IUP yang berlokasi di Desa Sumberagung, seluas 6.558,46 Ha. IUP Eksplorasi DSI berlaku tersebut sampai dengan tanggal 25 Januari 2022.

Kini dalam perkembangannya, perluasan industri pertambangan yang dilakukan oleh grup PT Merdeka Copper Gold Tbk tersebut terus menuai protes dari warga Sumberagung dan sekitarnya, karena dianggap akan terus merusak kualitas lingkungan hidup, sosial, dan perekonomian mereka. Merespon informasi dari BMKG di atas, warga Sumberagung menyatakan bahwa dalam rangka untuk meminimalisasi potensi ancaman gempa dan tsunami tersebut, jalan keluarnya adalah dengan menutup dan mencabut seluruh izin pertambangan yang ada di pesisir selatan Banyuwangi dan Jawa.

Untuk memperjelas tuntutan dan harapan mereka, segelintir warga Sumberagung mengirimkan surat terbuka kepada BMKG dan Presiden Jokowi (terlampir dibawah).

Surat Untuk BMKG dan Presiden Jokowi dari Warga Pesisir Selatan Banyuwangi

Bismillahhirrahmanirrahim,

Keluh kesah warga di wilayah tambang, berbagai persoalan tidak pernah ada penyelesaian. Bertahun-tahun jalan rusak juga tidak ada perbaikan. Kalau hujan jadi kubangan. Kalau kemarau debu beterbangan. Belum lagi dua tahun terakhir sumur-sumur sudah mengalami kekeringan, dan beberapa hari ini kami melihat dan mendengarkan berita pernyataan dari BMKG bahwa akan terjadi gempa dan tsunami di wilayah pantai selatan Jawa Timur.

Mulut bisa bicara tenang, hati dan pikiran gak karuan karena Tumpang Pitu yang selama ini jadi benteng penghalang dari terjangan ombak, angin, dan badai, kini telah dihancurkan oleh tangan-tangan besi PT BSI. Masih mampukah Gunung Tumpang Pitu menghalangi dasyatnya tsunami? Ini ujuian, cobaan atau dampak dari keserakahan manusia yang tidak peduli dengan lingkungan. Lagi-lagi masyarakat yang jadi korban.”.

Heri Budiawan-Budi Pego (warga Sumberagung, yang dikriminalisasi karena berjuang menyelamatkan lingkungan dari ancaman pertambangan milik grup MCG).

Tulisan tangan Mas Budi Pego.

Kepada Yth Kepala BMKG,

Sehubungan dengan seringnya pemberitaan dari pihak BMKG belakangan ini mengenai akan terjadinya peristiwa tsunami setinggi 27 meter di pesisir pulau Jawa bagian selatan, dan ditambah lagi pemberitaan beberapa media wilayah yang berpotensi gelombang tsunami setinggi 27 meter adalah di Banyuwangi selatan, seperti Muncar, Grajagan, Pancer, dan sekitarnya.

Sungguh itu semua membuat hati kami resah/gelisah. Kemana kita akan lari dan kemana kita akan berlindung. Sedangkan kampung kami di kelilingi oleh pertambangan dari PT BSI-Merdeka Copper Gold. Masyarakat Sumberagung khususnya di pesisir Pancer dan Pulau Merah bukan gila. Menolak pertambangan di kawasan Gunung Tumpang Pitu dan sekitarnya bukannya apa? Di situlah dua aset yang sangat berharga di daratan dan di lautan.

Di lautan tempat untuk mencari rejeki. Di daratan Gunung Tumpang Pitu adalah tameng bencana/tempat berlindungnya apabila ada tsunami datang. Kami sebagai warga pesisir tidak ingin terulang kembali kejadian gelombang tsunami seperti tahun 1994 yang menelan korban dua ratusan jiwa manusia.

Dan warga mendengar berita tentang tsunami tidak enak tidur. Tiap sore selalu gelisah dan kalau sore hari tetangga dan teman-teman membicarakan kemana kita akan ngungsi kalau terjadi. Kemana kita akan berlindung. Selalu, hari-hari itu saja dibicarakan.

Berdasarkan itu semua kami sebagai warga ingin bertanya kepada pihak BMKG:

  1. Apakah pernyataan-pernyataan pihak BMKG mengenai kemungkinan akan terjadi tsunami setinggi 27 meter di pesisir selatan pulau Jawa?
  2. Berdasarkan analisa apa pihak BMKG membuat pernyataan seperti itu?

Kami mohon sekiranya pihak BMKG dapat menjawab pertanyaan masyarakat Pancer secara tertulis.

Demikian dari warga Pancer. Kami ucapkan terima kasih.

Ahmad (warga Pancer, Sumberagung)

Tulisan tangan Mas Ahmad.

WALHI JATIM

Jawa Timur, 11 Juni 2021. Narahubung: 0821-3936-5522

Gambar cover: Walhijatim.or.id

About Matatimoer 24 Articles
Adalah lembaga yang bergerak dalam bidang penelitian budaya dan pemberdayaan komunitas

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*