Wajah Baru Resistensi Yahudi-Amerika terhadap Israel

AZAD ESSA

Sophie Edelhart mengatakan bahwa untuk waktu yang lama, ia tidak ingin mendekati topik Israel dan Palestina. Sebagai seorang perempuan muda Yahudi yang tumbuh di San Francisco, pendidikannya merupakan campuran aneh dari pendidikan agama Yahudi dan politik liberal California.

Banyak diskusi tentang Israel sebagai konsekuensinya berfokus pada “diplomasi”, pembicaraan yang cermat tentang “kedua belah pihak”, dan gagasan bahwa “solusi dua negara” akan membawa perdamaian bagi Palestina-Israel. Konflik, katanya, selalu digambarkan sebagai “rumit” dan tidak pernah digambarkan sebagai kebenaran secara gamblang: Israel adalah negara pendudukan.

“Saya akan selalu mencoba merasionalisasi dan menjelaskan pendudukan Israel dengan mencoba menambahkan ‘nuansa’ (perbedaan kecil) ke setiap percakapan. Semuanya tentang ‘nuansa’,” lanjut perempuan berusia 22 tahun itu, menekankan maksudnya dengan kutipan berulang-ulang, sebelum melepaskan jari-jarinya dan berhenti untuk menertawakan dirinya sendiri.

Sophie Edelhart
Sophie Edelhart mendeskripsikan perpindahaannya dari Zionisme liberal menjadi anti-Zionis sebagai “proes” [Azad Essa/MEE]

Namun, ketidaknyamanan yang tumbuh berkaitan dengan bagaimana cara konflik dibahas di komunitasnya membuat Edelhart beralih pada Jewish Voice for Peace (Suara Yahudi untuk Perdamaian, JVP), organisasi Yahudi-Amerika berusia dua dekade yang bekerja tanpa henti melawan kefanatikan, penindasan dan untuk sebuah mengakhiri pendudukan Israel atas tanah Palestina.

Edelhart menemukan bahwa organisasi tersebut mengejar jenis keadilan yang selalu dia kaitkan dengan nilai-nilai Yahudinya. Tapi itu adalah acara yang diadakan oleh JVP selama tahun pertamanya belajar sejarah di University of Columbia New York pada tahun 2016 yang memaksanya keluar dari zona nyaman. Setelah mendengar orang-orang Palestina berbicara tentang pengalaman mereka di wilayah pendudukan, dia ingat berpikir sendiri:

“Tidak mungkin saya bisa mempertahankan ini. Tidak ada landasan moral untuk berdiri di sini. Saya segera menyadari bahwa pada suatu saat, seseorang harus mengambil sikap dan mengakui bahwa ada sesuatu yang tidak benar, dan sebenarnya sangat salah … nuansa itu sebenarnya adalah bentuk kekerasan jika menyembunyikan kebenaran. Sudah terlalu lama, saya, seperti Zionis liberal lainnya, [bersembunyi] di balik gagasan bahwa pendudukan Israel ‘terlalu rumit’ atau ‘terlalu sulit untuk mengambil sikap,'” tutur Edelhart, yang sekarang menjadi organizer JVP.

Perpindahan Edelhart dari Zionisme liberal ke sentimen anti-Zionis mencerminkan apa yang digambarkan para pengamat sebagai pergeseran generasi di antara warga Yahudi-Amerika yang semakin berpaling dari harapan akan dukungan tanpa syarat untuk Israel.

“Persepsi telah Berubah”

Warga Yahudi-Amerika, yang berjumlah sekitar enam juta, secara fundamental beragam dalam pendapat agama dan politik, tetapi persepsi tentang komitmen teguh kepada Israel semakin berkurang. Pendudukan Israel di Tepi Barat dan blokade Gaza serta perlakuannya terhadap warga Palestina, dan pengaruhnya terhadap kehidupan politik Amerika yang akan menelan biaya setidaknya $ 38 miliar dalam bentuk bantuan keamanan saja selama dekade berikutnya, menjadi bagian dari telaah baru.

Mengesampingkan orang Yahudi non-Ortodoks (yang merupakan mayoritas orang Yahudi-Amerika) dalam kehidupan religius di Israel dan disahkannya undang-undang Negara Bangsa, yang memberikan supremasi orang Yahudi atas warga negara Israel non-Yahudi, hanya menambah perpecahan yang tumbuh. Dan justru kaum Yahudi-Amerika–yang terhubung ke media sosial dan sumber berita alternatif, dan dipengaruhi oleh kebangkitan gerakan sosial baru dalam konteks sosial dan politik yang bergeser di AS sendiri–yang semakin tertekan oleh tindakan yang konon dilakukan atas nama mereka.

“Persepsi tentang konflik telah berubah. Kita memiliki pemuda Yahudi yang tidak memiliki ingatan tentang Perang Enam Hari atau perang 1973. Banyak dari mereka tumbuh melalui Intifada Kedua dan hanya benar-benar kenal [Perdana Menteri Israel] Benjamin Netanyahu,” kata Dov Waxman, profesor ilmu politik, urusan internasional, dan studi Israel di Northeastern University di Boston. “Dan saya pikir ini berkaitan dengan perubahan dalam komunitas Yahudi; jarak kronologis dari Holocaust dan berkurangnya persepsi bahwa Israel adalah tempat berlindung yang aman bagi orang Yahudi yang pernah memotivasi dukungan tanpa syarat untuk Israel. ”

Sementara invasi Israel ke Gaza pada tahun 2008 dan 2012 telah mendorong perubahan itu bagi sebagian masyarakat, pemboman Gaza tahun 2014 yang bertepatan dengan kemunculan gerakan Black Lives Matter (BLM) memengaruhi generasi baru aktivis Yahudi untuk menarik kesejajaran antara kebrutalan polisi di AS dan penaklukan Palestina. Munculnya kelompok-kelompok seperti IfNotNow, sebuah organisasi yang dipimpin kaum muda yang dimulai pada tahun 2014 untuk menuntut diakhirinya dukungan Amerika untuk pendudukan, perluasan kelompok lain seperti Jews for Racial and Economic Justice (Yahudi untuk Keadilan Rasial dan Ekonomi, JFREJ) dan pertumbuhan yang cepat dalam pengaruh dan visibilitas organisasi JVP adalah simbol dari tren ini.

Di Austin, Texas, Liana Petruzzi, seorang penyelenggara IfNotNow, mengatakan bahwa bahkan di sini, di antara komunitas Yahudi konservatif tradisional, ide-ide mulai bergeser. Dia menggambarkan pembantaian di “Tree of Life Synagogue” di Pittsburgh, di mana 11 orang dibunuh pada Oktober 2018, sebagai peringatan bagi sebagian besar komunitas.

“Ketika orang berbicara tentang anti-semitisme di AS, yang mereka maksud adalah kritik terhadap Israel, tapi menurut saya Pittsburgh menunjukkan bahwa anti-semitisme terkait dengan supremasi sayap kanan dan kulit putih dan tidak terkait dengan mengkritik Israel,” kata Petruzzi.

Seruan anti-semitisme berulang yang ditunjukkan oleh Presiden Donald Trump dan para pendukungnya selama kampanye pemilihannya, dan keselarasan Gedung Putih dengan kebijakan sayap kanan Netanyahu yang tidak dapat diidentifikasi oleh sebagian besar orang Yahudi Amerika, telah membuat Israel kehilangan reputasinya bahkan di luar lingkaran progresif tradisional, dia menambahkan. “Orang-orang bertanya pada diri sendiri: Apa artinya jika Donald Trump bersekutu dengan seseorang seperti Netanyahu?”

Kesenjangan yang Tumbuh

Data yang tersedia menyajikan gambaran yang beragam. Sebuah survei pasca-pemilu nasional J-Street pada 2018 di antara orang-orang Yahudi Amerika menemukan bahwa 84 persen dari mereka yang disurvei setuju bahwa seseorang dapat bersikap kritis terhadap Israel sambil tetap pro-Israel. Mengenai permukiman, 32 persen mengatakan itu membuat mereka merasa negatif terhadap Israel sementara 48 persen mengatakan itu tidak berdampak pada pandangan mereka tentang Israel. Hanya 27 persen yang percaya bahwa Israel harus menghentikan semua pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki, yang dianggap ilegal menurut hukum internasional. 49 persen responden menentang gagasan AS memainkan peran aktif dalam menyelesaikan konflik “Arab-Israel” jika itu berarti secara terbuka tidak setuju dengan Israel.

Caroline Klaasen
“Kami berusaha mengatasi rasisme dan supremasi kulit putih di sinagogue kami selama dekade yang lalu,” ujar Carolyn Klaasen (Azad Essa/MEE)

Survei lain, yang dilakukan oleh Brand Israel pada tahun 2018, menemukan bahwa dukungan untuk Israel di kalangan mahasiswa Yahudi Amerika telah menurun sebesar 32 persen antara tahun 2010 dan 2016. Angka-angka ini mendorong Alan Hoffman, CEO dan direktur jenderal Badan Yahudi saat itu, menyimpulkan: “Jika saya menargetkan satu demografis yang penting untuk masa depan Israel dan orang-orang Yahudi, itu adalah mereka.” Dan meskipun tidak ada data akurat yang memeriksa sikap orang-orang Yahudi-Amerika yang tergabung dalam tiga gerakan utama, yaitu Ortodoks, Konservatif, dan Reformasi (kategori yang digunakan dalam studi Pew pada tahun 2013), bukti anekdot yang substansial menunjukkan perubahan yang luar biasa dalam komunitas yang lebih besar. Munculnya JVP, yang keanggotaannya dikatakan telah “melonjak” selama pemboman Israel di Gaza tahun 2014 dan yang tetap menjadi organisasi Yahudi yang tumbuh paling cepat di negara itu, mencontohkan perubahan ini.

Jurnalis dan penulis Peter Beinart–yang mengatakan pada tahun 2010 bahwa orang Yahudi Amerika yang progresif cenderung memilih “liberalisme daripada Zionisme” jika organisasi komunitas terus membiarkan kebijakan Israel tidak terselesaikan–mengatakan kepada podcast “Yudaism Unbound” pada tahun 2018 bahwa kelompok-kelompok seperti IfNotNow bergerak melampaui beberapa rumusan yang membingkai argumen saya “. Pertanyaan tentang apakah sentimen yang berubah ini hanya di wilayah liberal New York dan Washington DC (di mana mayoritas Yahudi Amerika tinggal) dijawab melalui pembukaan cabang di Detroit, Minneapolis, Chicago, Pittsburgh, Austin dan di tempat lain.

“Saya pikir komunitas Yahudi di seluruh negeri berubah secara drastis dan cepat,” kata Maya Edery, koordinator kampus nasional JVP. “Kami memiliki cabang di lebih dari 25 kampus dengan delapan cabang baru dalam enam bulan terakhir saja. Semakin banyak anak muda yang menyadari bahwa nilai-nilai Yahudi kami sebenarnya tentang keadilan sosial dan harus untuk semua orang. Mereka menyadari bahwa banyak institusi Yahudi telah berbohong kepada mereka,” tambahnya.

Yahudi Amerika dan Israel

Rosalind Petchesky berkata dia ingin memulai percakapan kami dengan sebuah cerita. Saat itu tahun 1959, dan seorang gadis berusia 16 tahun dengan akar imigran Rusia yang tinggal di sebuah kota bernama Tulsa di Oklahoma melakukan perjalanan ke Israel dengan sebuah organisasi Yahudi bernama “B’nai Brith Youth.” Saat mengunjungi sebuah kibbutz (komunitas kolektif berbasis pertanian, pen), ia bertemu dengan seorang pria kulit hitam dan memulai percakapan dengannya. Setelah beberapa menit, seorang wanita kulit putih mendekati remaja tersebut dan memerintahkannya untuk “berhenti berbicara dengan orang Afrika”.

Kejadian itu membuatnya marah dan bingung. Itu menjadi salah satu dari banyak insiden rasis yang dia saksikan selama kunjungan singkatnya ke Israel. Bagaimanapun, ini akhir 1950-an, dan bagi remaja, gerakan hak-hak sipil sedang berkembang pesat, dan dia tahu prasangka ketika dia melihatnya. Sekembalinya ke AS, dia menyebutkan apa yang dia saksikan saat duduk mengelilingi meja makan dengan anggota keluarga, seorang rabi lokal dan beberapa orang asing. Setelah pertemuan, salah satu orang asing mengeluh tentang cerita yang ia ceritakan kepada rabi. Sebagai tanggapan, rabbi itu menulis surat kepada orang asing itu dan memberikan salinannya kepada perempuan muda itu. “Dikatakan bahwa ia hanyalah seorang gadis kecil dan apapun yang ia katakan itu tidak benar. Ia juga menulis bahwa ia juga telah melakukan perjalanan dan tidak pernah terjadi hal seperti itu. ”

ROSALIND PETCHESKY
“Fakta bahwa dua perempuan anggota Kongres tanpa takut mendukung BDS merupakan tanda pergeseran monumental di AS,” tutur Rosalind Petchesky (MEE/Azad Essa)

Perempuan muda itu, tentu saja, adalah Petchesky sendiri, dan ia berkata hal itu mengubah perspektifnya tentang Israel selamanya. “Bisa dibilang momen itu sangat penting bagi saya. Itu mendorong saya ke dalam aktivisme seumur hidup,” kenang perempuan 76 tahun itu, dengan senyum ringan. Meski begitu, Petchesky mengatakan pendidikannya tentang Palestina baru benar-benar dimulai beberapa tahun kemudian sebagai mahasiswa, melalui interaksinya dengan Profesor Palestina Ibrahim Abu-Lughod di Smith College di Massachusetts, dan dengan pamannya, penulis biografi utama filsuf Yahudi Martin Buber. Itu semua memperkuat ikatan dengan perjuangan Palestina. Tetapi dia mengatakan bahwa pengalamannya bukanlah norma. “Pengertian saya tentang perbedaan generasi terhadap Israel adalah bahwa ada pergeseran mutlak. Ketika saya masih muda, dan kami mulai mencoba dan meningkatkan kesadaran, saya tidak mengenal orang lain, yang berpikir seperti saya. ”

Hubungan antara Israel dan Yahudi Amerika selalu menjadi urusan yang kompleks. Menurut Waxman, orang-orang Yahudi Amerika baru benar-benar mendukung Zionisme, ideologi politik abad ke-19 yang muncul dari penganiayaan yang dihadapi oleh orang-orang Yahudi di Eropa, mendekati masa Holocaust dan pembentukan Israel sendiri. Sejak saat itu, warga Yahudi-Amerika memiliki pluralitas pandangan terhadap Israel, meskipun keragaman pendapat ini tidak selalu sampai ke ranah publik.

Di satu sisi, komunitas liberal di garis depan gerakan anti-perang dan anti-rasis, tetapi dengan titik buta ketika datang ke Palestina, sebuah pendekatan yang digambarkan oleh Yahudi anti-Zionis sebagai “PEP” atau “Progresif kecuali Palestina.” Di sisi lain, individu dan kelompok pro-Israel yang berpegang pada gagasan tentang Israel dan Zionisme muncul pada saat Holocaust jauh lebih mendalam bagi imajinasi Yahudi; dalam menghadapi trauma antargenerasi yang mendalam dari anti-semitisme dan ketakutan akan kehancuran, ruang alternatif yang aman tampak sangat penting, bahkan mendesak.

Di antaranya, sekelompok orang lain, entah acuh tak acuh, diam-diam ambivalen, atau bahkan bekerja untuk keadilan bagi orang-orang Palestina dalam beberapa bentuk atau lainnya. Sementara itu, dan yang paling menonjol dalam kehidupan politik Amerika, adalah kelompok lobi seperti American Israel Public Affairs Committee (Komite Urusan Publik Amerika-Iseael, AIPAC) yang berusia 56 tahun yang mengilhami legiun kelompok lobi pro-Israel, yang dituduh menggunakan tingkat pengaruh yang tidak semestinya terhadap pemerintah AS. pejabat dan kebijakan.

Aktivis Tahun 80-an

Pada 1980-an, ada organisasi seperti New Jewish Agenda (Agenda Yahudi Baru, NJA), sebuah kelompok keadilan sosial, yang menggambarkan dirinya sebagai “suara Yahudi di antara kaum progresif dan suara progresif di antara orang Yahudi”. NJA kemudian mengorganisir protes terhadap apartheid Afrika Selatan dan invasi Israel ke Lebanon pada tahun 1982.

Sherry Gorelick, seorang aktivis lama dan mantan profesor sosiologi dan studi wanita di University of Rutgers di New Brunswick, mengatakan dia “telah berada di kelompok Yahudi yang kritis terhadap Israel sejak 1983″. Dia ingat Women in Black, sebuah organisasi perdamaian Israel yang menyerukan diakhirinya pendudukan, memegang teguh solidaritas di setidaknya 38 negara bagian AS pada satu titik selama 1980-an. Organisasi tersebut masih ada sampai sekarang. “Perbedaan pendapat bukanlah hal baru. Itu hanya lebih besar dan lebih keras dari sebelumnya. Generasi ini tampaknya lebih progresif secara umum. Saya mengajar selama 31 tahun tetapi periode ini sangat berbeda,” kata Gorelick.

Petchesky mengatakan berkembangnya dukungan pemuda Yahudi Amerika untuk keadilan bagi Palestina dan kritik terhadap Israel tidak akan ada tanpa gerakan keadilan sosial lainnya yang berkembang di AS.

“Saya tidak akan melihat rasisme di Israel [saat berusia 16 tahun] jika bukan karena partisipasi saya dalam gerakan hak-hak sipil. Saya melihat hal-hal secara berbeda dari orang lain dalam kelompok saya karena mereka tidak terlibat dalam hak-hak sipil atau anti-rasisme. Demikian pula, saya tidak percaya akan ada siswa yang mendorong keadilan di Palestina tanpa BLM,” tambahnya.

Edelhart, organizer JVP di University of Columbia, setuju.

“Gerakan untuk kehidupan kulit hitam adalah salah satu gerakan paling menonjol saat ini dan gerakan tersebut telah memperjelas bahwa pembebasan bagi kehidupan kulit hitam di sini sangat terkait dengan perjuangan pembebasan di Palestina.”

Taktik mempersenjatai tuduhan anti-semitisme, yang beberapa orang lihat dalam kritik baru-baru ini ditujukan pada aktivis Palestina-Amerika Linda Sarsour dan Anggota Kongres Ilhan Omar, adalah metode yang telah lama digunakan untuk mencegah dan melawan kritik terhadap Israel.

Rabbi Gerry Serotta, pendiri NJA, mengatakan:

“Kami merasa bahwa satu-satunya cara untuk menegaskan bahwa kami tidak menyerang Yahudi itu sendiri dengan mengkritik kebijakan Israel adalah dengan berurusan dengan spektrum luas kehidupan Yahudi Amerika.”

Mengomentari tingkat kepekaan masyarakat selama tahun 1980-an, Rabbi Toba Spitzer, yang memimpin Kongregasi Dorshei Tzedek di West Newton, Massachusetts, mengatakan bahwa hanya dimasukkannya “huruf ‘PLO’ dalam dokumen yang menyerukan dialog antara Israel dan musuh-musuhnya dapat membuat seseorang dikeluarkan dari komunitas Yahudi yang terorganisir .

“Pergerakan hari ini jauh lebih besar. Segala macam hal yang tidak bisa dikatakan sebelumnya sedang diucapkan sekarang. Kami tidak memilikinya pada tahun 1983. Sulit untuk membuat siapa pun mendengarkan kita terutama jika kita ingin berbicara tentang masalah dalam kerangka Yahudi,” ucap kata Gorelick.

Mengenai Permasalahan tentang Konsensus

Zack Chatterjee Shlachter, organizer IfNotNow dan anggota JVP di Austin, mengatakan pergeseran di antara aktivis muda saat ini sebagian disebabkan oleh pekerjaan dasar yang diletakkan oleh para aktivis yang lebih tua. Dia mengatakan gelombang baru aktivisme tidak mengabaikan ketakutan mendalam dan antargenerasi yang masih dirasakan banyak orang Yahudi, utamanya terkait tempat mereka dalam masyarakat Amerika.

“Ada trauma yang dalam dan nyata, serta ketakutan yang dalam dan gamblang. Tapi kami tidak setuju bahwa Israel adalah jawaban atas keselamatan kami,” katanya.

Perbedaan yang tumbuh ini tidak hanya antara orang Yahudi-Amerika dan Israel, tetapi antara orang Yahudi yang lebih muda dan yang lebih tua dan di dalam keluarga Yahudi di Amerika sendiri.

“Banyak orang tua yang tidak mendukung aktivisme mereka, karena mereka terjebak dengan gagasan bahwa kritik terhadap Israel adalah anti-semit. Sementara, yang lainnya [bagaimanapun] telah mampu memobilisasi orang yang lebih tua ke dalam gerakan,” ujar kata Edery, organizer JVP.

Namun, bukan berarti ini ada konsensus di komunitas tentang jalan ke depan. Dalam hal pendudukan Israel, orang Yahudi-Amerika yang progresif tetap berada dalam spektrum. Upaya oleh banyak negara bagian AS untuk mengkriminalisasi kampanye Boycott, Divestment, and Sanction (BDS)–sebuah taktik yang didukung oleh orang-orang Palestina sendiri untuk memaksa diakhirinya pendudukan melalui isolasi ekonomi dan budaya Israel, tetapi 26 negara bagian AS telah memberlakukan undang-undang anti-boikot dan memfitnah mereka yang terkait dengannya dengan konsekuensi profesional atau pribadi yang parah–menunjukkan bahwa penentangan itu keras dan seringkali sistemik.

“Mahasiswa Yahudi, misalnya, yang mengorganisir protes atau kampanye menentang perjalanan “Taglit-Birthright Israel” (juga dikenal sebagai “Birthright Israel”), atau meminta universitas untuk melepaskan diri dari Israel, menghadapi tantangan pribadi dan profesional yang sangat besar. Mereka sering menjadi sasaran dan dimasukkan daftar hitam [oleh kelompok pro-Israel],” kata Edery, dari JVP.

Setidaknya dua aktivis yang diwawancarai oleh Middle East Eye diminta untuk mencabut atau menyesuaikan komentar yang menyimpulkan dukungan pribadi atau organisasi terhadap BDS. Konsekuensinya akan terlalu mahal, kata mereka. “Gagasan bahwa orang-orang mencoba melarang terjadinya BDS sangatlah mengganggu,” kata Rebecca Pierce, pembuat film dokumenter dan anggota Yahudi Kulit Berwarna dan Sephardi-Mizrahi Caucus yang berbasis di San Francisco. “Boikot sebagai alat perlawanan tanpa kekerasan selalu menjadi taktik yang digunakan oleh aktivis kulit hitam di AS … pelarangan juga dapat merugikan perjuangan keadilan lainnya,” kata Pierce.

Maya
Maya Edery mengatakan perbedaan yang tumbuh antara kaum tua dan kaum muda menciptakan tegangan di beberapa keluarga Yahudi-Amerika (MEE/Azad Essa)

Kurangnya konsensus tidak dilihat sebagai jalan buntu; bagi banyak orang. Hal itu hanyalah simbol dari komunitas tanpa pilihan selain mengakomodasi berbagai tingkat perbedaan pendapat tentang topik yang sebelumnya dianggap tidak tersentuh. Misalnya, JVP menyebut Israel sebagai negara apartheid, dan merek Zionisme yang telah mengakar sebagai kolonialisme pemukim. Organisasi ini juga mendukung BDS. IfNotNow, yang tujuan utamanya adalah untuk mengakhiri dukungan Amerika untuk pendudukan, sebagai perbandingan, tidak mendukung BDS atau memiliki posisi sama tentang Zionisme atau kenegaraan, tetapi memegang “kebijakan tenda terbuka” bagi anggota untuk memiliki pandangan berbeda tentang masalah ini. J-Street, sebuah organisasi Zionis liberal, yang mendukung solusi dua negara, menentang perluasan pemukiman dan kriminalisasi kampanye BDS meskipun tidak mendukungnya.

“Beberapa orang yang membela Ilhan [Omar] adalah Zionis, dan mereka membela hak untuk mendukung BDS meskipun mereka tidak setuju dengan BDS. Kerangka kerjanya benar-benar berubah,” kata Gorelick. Meskipun ada pergeseran sentimen di antara beberapa orang Yahudi-Amerika, dukungan untuk Israel di antara orang Kristen Evangelis (Injili) sayap kanan, sumber kekuatan dan pengaruh yang luar biasa dalam politik AS, tetap ada.

Di lapangan, sementara itu, hanya sedikit yang berubah bagi warga Palestina. Gaza tetap menjadi penjara terbuka bagi 2,2 juta orang. Penghinaan kehidupan di Tepi Barat yang diduduki, termasuk perusakan kehidupan dan harta benda terus berlanjut setiap hari. Hanna Alshaikh, seorang peneliti dan organizer Palestina-Amerika yang tinggal di Chicago, mengatakan bahwa meskipun ia optimis dengan apa yang dapat ditunjukkan oleh perubahan dalam hal perubahan kebijakan AS dalam waktu dekat, ia mengatakan “momentum yang mendukung hak-hak Palestina adalah produk dari puluhan tahun pengorganisasian yang dipimpin oleh warga Palestina dan Arab di Amerika Serikat, dan pengorganisasian Yahudi-Amerika telah menjadi bagian penting dari gerakan ini “.

Pekerjaan “Krusial”

Alshaikh menggambarkan pekerjaan kaum Yahudi progresif di AS sebagai “krusial dan sangat signifikan”.

“Sementara dukungan untuk hak-hak Palestina tumbuh di masyarakat umum Amerika, kami harus mengakui bahwa kondisi di lapangan dengan cepat memburuk bagi orang-orang Palestina yang hidup di bawah blokade di Gaza, di bawah pendudukan di Tepi Barat, sebagai warga negara kelas dua di Israel, dan di kamp pengungsi di negara tetangga Arab. Dengan kemungkinan Yahudi-Amerika yang berkembang pesat dalam upaya untuk hak-hak Palestina ini, kita dapat mengantisipasi peningkatan dukungan untuk mengakhiri keterlibatan kita dalam penindasan terhadap warga Palestina di publik AS yang lebih luas–ini dapat membantu mendorong perubahan nyata dalam kebijakan AS segera,” tutur Alshaikh.

Naomi Hornstein
Naomi Hornstein, bersama IfNotNow, mengatakan kaum muda Yahudi-Amerika berhadapan dengan fakta bahwa lembaga-lembaga Yahudi menutupi pendudukan Israel [Azad Essa/MEE]

Naomi Hornstein berada di Yerusalem pada tahun 2014 ketika invasi Israel ke Gaza dimulai. Ia sangat ngeri dengan tingkat kebrutalan yang dialami warga Palestina selama “Operation Protective Edge”. Sekembalinya ke AS, ia merasa tidak berdaya dan tidak yakin apakah ada yang bisa dilakukan.

“Saya kemudian mengetahui tentang IfNotNow, dan anak muda Yahudi lainnya yang juga merasa ngeri dan ingin melakukan sesuatu,” kata perempuan berusia 26 tahun itu di sebuah kedai kopi jauh di Brooklyn. Ia bergabung dengan organisasi tersebut pada tahun 2016. Selama sesi pelatihan yang dibiayai oleh kelompoknya, ia menyadari betapa banyak pekerjaan yang telah disembunyikan darinya sebagai seorang anak. Itu memberinya bahasa untuk bisa memahami apa yang dia lihat selama berada di Israel dan kemudian di Tepi Barat.

“Banyak dari kita sekarang menyadari bahwa lembaga [Yahudi-Amerika] ini tidak menunjukkan kebenaran kepada kita, tidak memberitahu kita segalanya tentang Israel, dan kita harus mendapatkannya di tempat lain.”

Pengaburan pendudukan di rumah atau sekolah atau di komunitas adalah benang merah di antara aktivis muda Yahudi-Amerika. Praktik ini juga membuat banyak kalangan Yahudi progresif merasa terhambat dan terasing dari komunitas.

“Saat sedang tumbuh, kami diajari Israel sebagai ‘tempat suci’, dan selalu dijunjung tinggi, dan selalu ‘istimewa’ atau melampaui kritik. Sulit untuk mengajukan pertanyaan, hampir menakutkan untuk melakukannya,” ujar Bethany Zaiman, kandidat doktor berusia 26 tahun di American University di Washington DC.

Edery, organizer JVP, mengatakan bahwa ketika sedang tumbuh ia diberi makan narasi yang menghapus Palestina, dan mengajarkan bahwa Israel adalah tanah air dan penyelamat Yahudi. “Saya hanya mempertanyakan keyakinan ini di perguruan tinggi.” Salah satu pemasok terbesar untuk memperluas persepsi ini adalah Birthright Israel, sebuah kelompok yang menawarkan perjalanan gratis ke orang-orang Yahudi dari seluruh dunia untuk membantu mereka terhubung dengan Israel dan memperkuat identitas Yahudi mereka. Melalui “mifgash”, atau pertemuan dengan orang Israel, sebagian besar tentara, peserta diajak untuk “mengembangkan ikatan atau persahabatan jangka panjang”. Ini dianggap sebagai prinsip utama perjalanan.

sophie ellman-golan
Sophie Ellman-Golan, aktivis yang tinggal di New York, bertutur bahwa ia merasakan terbebaskan ketika ia menyadari banyak warga Yahudi yang tak erhubung dengan Israel (MEE/Azad Essa)

Menurut organisasi tersebut, 650.000 orang Yahudi dari seluruh dunia telah melakukan perjalanan tersebut sejak 1999. Pada tahun 2017 saja berjumlah dengan 48.000. Petchesky, aktivis dan akademisi, yang melakukan perjalanan serupa saat remaja pada 1959, mengatakan niat dari perjalanan semacam itu pada akhirnya sama. “Kita selayaknya jatuh cinta dengan seorang tentara Israel. Kegiatan itu dirancang untuk menghubungkan kita dengan Zionisme, sehingga kita akan kembali, dan memutuskan aliyah (pindah ke Israel).”

IfNotNow, yang dimulai pada 2014 sebagai protes terhadap perang di Gaza dan dukungan komunitas Yahudi Amerika untuk itu, telah berkampanye sejak akhir 2018 untuk Birthright Israel untuk mengatakan yang sebenarnya tentang pendudukan. “Kami mengatakan bahwa perjalanan ini tidak gratis. Itu mengorbankan martabat dan kebebasan warga Palestina,” kata Alyssa Rubin, juru bicara kampanye. “Itu juga mencegah orang Yahudi memiliki hubungan otentik dengan Israel atau Yudaisme. Ini seperti membawa seseorang ke Amerika Selatan pada tahun 1954 dan tidak membicarakan tentang Jim Crow,” mengacu pada undang-undang yang memberlakukan segregrasi rasial di negara bagian selatan AS dari awal abad ke-19 hingga 1960-an.

“Bukan Sekedar Perjalanan Gratis”

Pada akhir Februari, IfNotNow meluncurkan kampanye yang menuntut Birthright Israel melakukan penyesuaian pada program mereka. Mereka meminta kelompok tersebut untuk menyertakan peta wilayah pendudukan, mendidik peserta tentang mimpi buruk harian pendudukan, menunjukkan pos pemeriksaan dari perspektif Palestina, dan membawa peserta ke kota Hebron untuk menunjukkan dampak pendudukan di kota tersebut. Ini terjadi setelah kampanye sebelumnya pada 2017 dan 2018 di mana lusinan alumni dari kamp musim panas Yahudi, sekolah harian, dan kelompok pemuda menuduh institusi mereka merahasiakan kebenaran pendudukan dari mereka. Setidaknya selusin orang Yahudi Amerika keluar dari tur Birthright pada tahun 2018, sebagai protes atas “disinformasi” dan “penghapusan” warga Palestina dari tur tersebut.

Zaiman, yang merupakan salah satu peserta yang berjalan di tengah jalan mengatakan bahwa dia melakukannya karena Birthright Israel terbukti tidak tertarik untuk berbicara tentang pendudukan dan kekerasan yang terjadi pada warga Palestina selama “March of Return” pada musim semi 2018–protes besar-besaran menuntut pemulangan pengungsi Palestina.

“Generasi saya membicarakan tentang Birthright dengan cara yang belum pernah kami bicarakan sebelumnya. Dan kami melihat komunitas kami melakukan percakapan tentang krisis berkelanjutan yang perlu kami hadapi,” kata Zaiman.

Awal bulan ini, J-Street mengumumkan bahwa mereka akan menjalankan perjalanannya sendiri ke Israel dan wilayah pendudukan pada tahun 2019 nanti, sebagai tanggapan atas penolakan Birthright untuk mengubah kurikulumnya. Logan Bayroff, juru bicara J-Street, mengatakan 40 mahasiswa Yahudi Amerika akan melakukan perjalanan tersebut. “Kami ingin mengirim pesan kepada Birthright bahwa ini adalah perjalanan yang ingin dilakukan oleh orang Yahudi Amerika … mereka ingin pergi ke Israel, mereka ingin melihat lokasi tur, mereka ingin bertemu orang Israel, tetapi mereka juga ingin membicarakannya pendudukan dan mereka ingin mendengar dari Palestina,”kata Bayroff.

Menanggapi kritik bahwa perjalanan ke Israel masih akan merusak gerakan BDS dan masih tidak menghormati warga Palestina, mengingat banyak yang tidak dapat kembali ke rumah, Bayroff mengatakan bahwa J-Street mengakui bahwa mahasiswa Yahudi Amerika sangat beruntung memiliki kesempatan tersebut, untuk melakukan perjalanan seperti ini.

“Kami pikir adalah hal yang positif untuk dapat melakukan perjalanan ke wilayah tersebut dan untuk bertemu dengan Israel dan Palestina dan terlibat dengan kenyataan di lapangan … kami ingin memastikan perjalanan ini tidak buta terhadap pendudukan.”

Lembaga Birthright tidak menjawab permintaan Middle East Eye untuk berkomentar. Organisasi tersebut menggambarkan dirinya sebagai apolitis dan mengatakan kepada Times of Israel tahun lalu bahwa para peserta “didorong untuk merumuskan pandangan mereka sendiri dan mengajukan pertanyaan dengan cara yang konstruktif dan terhormat”.

Warisan Rasisme

Rebecca Pierce berada di dalam dan sekitar Ferguson, Missouri, ketika Michael Brown, seorang pria kulit hitam berusia 18 tahun yang tidak bersenjata, dibunuh oleh seorang petugas polisi pada tanggal 9 Agustus 2014. Insiden tersebut memicu protes dan debat nasional tentang kebrutalan polisi, rasisme dan keadilan untuk warga Afrika-Amerika. Selama periode yang sama, Israel mulai membombardir Gaza dalam serangan yang menewaskan lebih dari 2.200 orang, 60 persen di antaranya adalah warga sipil. Pierce, 28 tahun, ingat bagaimana pengunjuk rasa kulit hitam membandingkan tindakan keras Israel terhadap warga Palestina dengan tindakan keras polisi terhadap aktivis di jalan-jalan Ferguson.

“Orang-orang meneriakkan ‘Jalur Gaza, Jalur Gaza’ kepada polisi bersenjata yang berusaha menghentikan protes mereka. Orang-orang Palestina di Tepi Barat yang diduduki benar-benar menjangkau dan memberikan nasihat tentang cara menangani gas air mata. Itu membentuk hubungan langsung dan lahirnya kampanye #Palestine2Ferguson,” katanya.

Untuk beberapa pemuda progresif Yahudi yang mendukung para pengunjuk rasa di Ferguson, kata Pierce, penggabungan kedua gerakan tersebut memaksa mereka untuk memikirkan dan bertindak atas isu-isu yang berkaitan dengan Palestina dengan cara yang tidak akan mereka lakukan sebaliknya. Tapi perhitungan ini belum menyelesaikan masalah lain yang membara dalam komunitas Yahudi di AS.

“Komunitas Yahudi-Amerika memiliki masalah rasisme,” kata Pierce. Dia percaya bahwa asumsi bahwa orang Yahudi tidak bisa menjadi rasis, hanya karena banyak warga tua yang progresif dan berpartisipasi dalam gerakan hak-hak sipil, menghindari tanggung jawab dari komunitas dalam menangani beberapa sentimen rasis dan Islamofobik yang lebih dalam.

Chatterjee Shlachter, aktivis dari Austin, yang juga seorang Yahudi kulit berwarna, mengatakan komunitas itu juga harus menghadapi Islamofobia dan rasisme anti-Arabnya sendiri.

“Komunitas ini terletak di Barat dan seperti anti-semitisme, prasangka semacam ini adalah bagian dari udara yang kita hirup.”

Pierce mengatakan bahwa bahkan jika orang Yahudi kulit berwarna di AS dapat mengenali rasisme yang melekat dalam perlakuan terhadap orang Palestina, mereka sering memutuskan untuk tidak berbicara tentang masalah Palestina karena upaya langsung komunitas untuk menyerang identitas mereka.

“Lebih sulit bagi orang Yahudi kulit berwarna dan mereka tidak ingin terlibat dalam masalah ini karena mereka sudah berurusan dengan begitu banyak rasisme, mereka merasa itu terlalu menakutkan… tapi ini juga, berubah. Ketika saya melihat pengucilan dan perampasan orang Palestina, saya melihat pengalaman saya sendiri tercermin dalam hal itu. Ada juga kecenderungan untuk mengangkat suara Yahudi kulit putih sebagai sekutu dalam masalah ini alih-alih suara Yahudi kulit hitam atau coklat, ketika kami memiliki perspektif yang sangat berbeda tentang solidaritas Palestina,” tutur Pierce.

Sierra Mohamed, seorang Yahudi kulit berwarna lainnya, yang tinggal di New York, setuju bahwa masyarakat sering merasa sulit untuk menerima orang Yahudi kulit hitam. Bagi Mohamed yang berusia 25 tahun, nama belakangnya juga tidak mempermudah. Kakek buyut dari pihak ayah, yang berasal dari India, mengubah nama mereka menjadi Mohamed beberapa dekade yang lalu untuk menghindari prasangka kasta. Ketika orang tuanya menikah pada tahun 1978, ibu Yahudinya hanya mengadopsi nama keluarga ayahnya.

Sierra Mohamed
Sierra Mohamed mengatakan, warga Yahudi kulit berwarna says that as Jewish person of colour sangat sulit diterima di komunitas Yahudi-Amerika [Azad Essa/MEE]

“Saya sering ditanya bagaimana saya bisa menjadi Yahudi jika nama belakang saya adalah Muhammad. Ini seringkali sangat mengintimidasi.” Mohamed, yang bekerja sebagai paralegal untuk sebuah organisasi nirlaba di Manhattan, adalah anggota kelompok kerja ras di Kolot Chayeinu Synagogue di Brooklyn dan, sejak kuliah, menjadi pendukung kuat gerakan BDS. Mohamed mengatakan bahwa ia juga menghabiskan waktu di Yerusalem pada tahun 2014 dan tidak terlalu menikmati waktunya di sana.

“Saya diberitahu bahwa saya akan disambut dengan tangan terbuka, dan bukan itu masalahnya. Saya merasa antagonis sebagai orang kulit berwarna. Dan karena nama saya. Di sisi lain, tidak ada kepastian untuk menyambut saya. Yudaisme saya tidak terkait dengan Israel. Ini bukan rumahku.” Meskipun banyak orang Yahudi-Amerika berbicara tentang Israel sebagai rumah spiritual dan fisik orang Yahudi di mana-mana, Mohamed mengatakan bahwa itu sangat tergantung pada siapa kita dan seperti apa penampilan kita.

“Seorang Ashkenazi kulit putih [Yahudi keturunan Eropa utara dan timur] akan memiliki pengalaman yang berbeda dengan Ashkenazi kulit hitam atau Yahudi Mizrahi [Afrika Utara/Timur Tengah]. Begitu kita mulai menggali lebih dalam, itu jauh lebih rumit daripada sekadar menjadi orang Yahudi, karena ras dan tempat kita dibesarkan adalah faktor penting,” ” tambah Mohamed.

Pierce mengatakan bahwa secara historis, kepercayaan Yahudi sangat mementingkan Tanah Suci. Namun, ia memiliki cara pandang berbeda.

“Tanah Suci mendahului negara Israel atau gagasan tentang negara Yahudi etno-nasional modern. Karena referensi sejarah ini, banyak orang sekarang membuat hubungan antara Yudaisme dengan negara Israel modern… bagi saya, saya tidak berpikir itu harus menjadi satu-satunya cara kita berhubungan dengan hubungan ini. Bagi saya, terlibat dalam perjuangan hak asasi manusia untuk setiap orang yang tinggal di tanah itu, apa pun agamanya, adalah ekspresi dari iman saya dan pentingnya kepercayaan saya ditempatkan di tanah itu.”

* Azad Essa adalah rartawan senior Middle East Eye tinggal di New York. Dia bekerja untuk Al Jazeera English antara 2010-2018, meliput kawasan Afrika tengah dan selatan. Dia juga menulis untuk Washington Post, Foreign Policy, dan yang lain. Dia menulis “The Moslems are Coming” (Harper Collins India) dan “Zuma’s Bastard” (Two Dogs Books).

Diterjemahkan oleh Ikwan Setiawan dari:

Essa, Azad. (March 18, 2019). New faces of Jewish-American resistance to Israel. https://www.middleeasteye.net/…/new-faces-jewish….

About Ikwan Setiawan 217 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*