Komunitas Tutur dan Kompleksitasnya: Pandangan Marcyliena Morgan

IKWAN SETIAWAN

Pengantar

Kajian tentang komunitas tutur merupakan aspek penting dalam antropologi linguistik (selanjutnya disingkat antropolinguistik). Secara umum komunitas tutur didefinisikan sebagai kelompok warga tertentu yang berbicara bahasa yang sama. Namun, definisi tersebut bagi antropolog linguistik tampak menyederhanakan dinamika dan kompleksitas yang berlangsung di dalamnya. Marcyliena Morgan adalah salah satu pakar yang cukup serius menggeluti isu-isu komunitas tutur.[1] Tulisan ini berusaha memaparkan gagasan-gagasan penting Morgan terkait komunitas tutur yang memberikan kontribusi penting dalam antropolinguistik, sosiolinguistik, identitas, gender dan yang lain.

Dalam pandangan Morgan, komunitas tutur menjadi pintu masuk untuk memahami bahasa yang digunakan dalam komunitas, khususnya terkait pembentukan-makna karena ia merupakan produk dari interaksi yang sudah berlangsung lama di antara warga komunitas. Dalam interaksi itulah mereka berbagi keyakinan dan sistem nilai yang menghargai budaya, masyarakat, dan sejarah serta komunikasi dengan pihak lain. Secara dinamis, interaksi ini membentuk asal-muasal fundamental kontak antarmanusia dan keutamaan bahasa, wacana, dan gaya verbal dalam representasi dan negosiasi hubungan yang terjadi.  Komunitas tutur menekankan fakta bahwa bahasa merepresentasikan, mewujudkan, mengkonstruksi, dan membentuk partisipasi penuh makna dalam masyarakat dan budaya. Dalam komunitas tutur kita bisa menjumpai sistem simbolik yang bisa dimengerti secara mutual dan sistem komunikatif ideologis harus diutamakan di antara mereka yang memiliki pengetahuan dan tindakan yang sama tentang bagaimana sesuatu bermakna melintasi konteks-konteks sosialnya.

Memang, terdapat banyak bentuk sosial dan politik yang bisa dijadikan basis eksistensi komunitas tutur sekaligus menegaskan betapa luasnya entitas ini, dari negara-bangsa hingga grup media sosial yang didedikasikan untuk psikologi hewan piaraan. Komunitas tutur juga dikenali sebagai entitas berbeda dalam hubungannya dengan komunitas tutur lainnya.  Bahkan, perbedaan tersebut bisa memunculkan kesadaran kolektif dalam komunitas tutur ketika muncul semacam krisis yang seringkali dipicu tindakan kekuatan hegemonik yang menganggap mereka sumber masalah. Misalnya, kelompok penutur AAE (African-American English, bahasa Inggris Afrika-Amerika) yang seringkali dianggap sebagai sumber kejahatan seperti penyalahgunaan narkoba, gangster, dan yang lain. Kesadaran tersebut juga bisa muncul ketika peneliti menyoroti keberadaan dan karakteristik mereka sebagai unit kajian. Dengan kata lain, meskipun komunitas tutur merupakan konsep fundamental, mereka juga menjadi objek kritik yang tak henti-hentinya. Seringkali mereka dikaitkan atau distereotipisasi sebagai sekelompok dengan kemampuan literasi yang buruk, lekat dengan epidemi, pengangguran, kejahatan dan sebagainya. Realitas tersebut mengindikasikan bahwa membincang komunitas tutur tidak bisa semata-mata mengupas bahasa yang digunakan dan bagaimana mereka menggunakan bahasa, tetapi juga kompleksitas relasi dengan kekuatan-kekuatan sosial, ekonomi, politik, atau kultural yang berkuasa serta relasi mereka dengan komunitas tutur lainnya.

Dari sekian banyak argumen kritis terkait komunitas tutur, menurut Morgan, setidaknya terdapat dua perspektif yang saling bertentangan, khususnya yang menekankan bahasa dan wacana. Pertama, perspektif yang memfokuskan pada analisis dan deskripsi fitur linguistik, semantik, dan percakapan yang dikumpulkan dari kelompok dan kemudian dijadikan indikator stabil bagi sebuah komunitas tutur. Kedua, perspektif yang merujuk kepada dalil bahasa dan wacana sebagai cara untuk merepresentasikan sesuatu. Bahasa menjadi alat untuk mengkonstruksi identitas, solidaritas, hubungan sosial, dan lain-lain. Meskipun kedua perspektif tersebut bisa saling melengkapi, mereka seringkali saling bertentangan satu sama lain. Pilihan perspektif akan membawa implikasi lebih jauh lagi tentang komunitas tutur itu sendiri serta konsep secara umum.

Meskipun demikian, warga komunitas tutur seringkali memahami bahwa kedua perspektif tersebut sama-sama eksis dalam kehidupan mereka, meskipun analisis linguistik—yang meniadakan keyakinan, politik, dan realitas sosial penutur—sering  dianggap sebagai deskripsi ‘obyektif’ dan akurat tentang komunitas tutur dari perspektif budaya dominan. Salah satu implikasi peniadaan faktor-faktor penting tersebut adalah memberikan legitimasi bagi penetapan bahasa dominan tertentu sebagai bahasa nasional dengan argumen sesuai untuk seluruh warga, meskipun realitasnya hanya dituturkan oleh kelompok elit dan, tentu saja, menguntungkan mereka. Pada saat bersamaan, anggota komunitas tutur mengakui bahwa hegemoni budaya yang dipertahankan, ditegakkan, dan direproduksi juga dapat diinkorporasi dan dilakoni secara diskursif dan harfiah untuk menyoroti representasi pihak lain lain yang tinggal di luar batasnya. Dalam bingkai hegemoni, seringkali pandangan “kita vs mereka” berkembang demi kepentingan pihak-pihak tertentu yang diuntungkan dari praktik bahasa. Dengan demikian, keanggotaan dalam komunitas tutur mencakup pengetahuan lokal tentang cara bagaimana pilihan bahasa, variasi, dan wacana merepresentasikan generasi, pekerjaan, politik, hubungan sosial, identitas, dan banyak lagi. Bukan sekedar deskripsi kebahasaan.

Usaha Memulihkan Pemahaman tentang Komunitas Tutur

Dalam banyak kajian yang sudah dilakukan, komunitas tutur seringkali dipahami sebagai cara partikular untuk melihat manusia dan budaya, sehingga terlalu banyak difokuskan pada perbedaan, bukan pada kompleksitas perbedaan dan kuasa. Menyikapi realitas tersebut beberapa linguis menggunakan perspektif kritis seperti hegemoni Gramsci dan modal kultural Bourdieu. Pemikiran mereka bisa digunakan untuk melihat bagaimana relasi antara perbedaan dan kekuasaan, khususnya bagaimana sebuah komunitas berusaha secara diskursif memaknai dan menghadapi kekuasaan hegemonik dari kelompok yang lebih kuat. Ketika komunitas A, misalnya, lebih setia menggunakan bahasa lokal mereka alih-alih bahasa kelompok dominan, anggotanya menyadarai sepenuhnya bahwa pilihan mereka akan berimplikasi serius terhadap munculnya bermacam stigmatisasi atau perilaku kelompok dominan terhadap keberbedaan tersebut. Dalam kasus regional di Jawa Timur, misalnya, kita bisa melihat bagaimana komunitas keturunan Blambangan memilih menggunakan bahasa yang di kemudian hari disebut cara Using, alih-alih menggunakan bahasa Jawa yang menjadi bahasa birokrat di era kolonial. Bahkan, di era pasca kemerdekaan, birokrast Banyuwangi juga masih dikuasai oleh elit-elit politik dari komuntias Jawa-Kulonan, sehingga bahasa yang digunakan untuk urusan pemerintahan dan pendidikan juga bahasa Jawa. Sebagai komunitas tutur, warga keturunan Blambangan di Banyuwangi memang tidak punya kuasa untuk menolak pengaruh elit politik Jawa-Kulonan. Para elit memiliki modal politik, ekonomi, dan kultural yang cukup kuat untuk mengatur warga keturunan Blambangan. Mereka juga berhak mengatur bagaimana cara memahami dunia bagi kelompok subordinat dengan tujuan bahwa Jawa Kulonan memang layak dihormati, dijalani, dan dtierima. Harapannya, warga keturunan Blambangan di Banyuwangi akan menggunakan budaya dan bahasa Jawa-Kulonan sebagai orientasi dan praktik ideal dalam menjalani kehidupan. Meskipun demikian, karena wacana bersifat dialogis dan representasional, penutur juga memiliki kesempatan untuk mempertanyakan hegemoni melalui tindak kebahasaan. Dalam hal ini, mereka tetap menggunakan bahasa lokal yang disebut cara Using itu.

Beberapa Definisi Awal Komunitas Tutur

Beragam sanggahan dan pertanyaan tentang kegunaan konsep komunitas tutur sudah berkembang sejak Leonard Bloomfield mendefinisikannya sebagai “sekelompok orang yang menggunakan serangkaian tuturan yang sama” (1933: 29). Tentu saja, pengertian ini merefleksikan keyakinan umum pada zamannya, bahwa monolingualisme—satu bahasa, satu negara-bangsa—merupakan contoh kanonik komunitas tutur. Komunitas dimaknai sebagai “kelompok sosial yang mendiami wilayah khusus, memiliki tata pemerintahan dan warisan kultural-historis yang sama.” Antropolinguistik pada masa ini lebih banyak fokus pada relasi historis keluarga bahasa, sedangkan bahasa dipandang sebagai hasil dari sejarah dan politik, bukan sebagai sesuatu yang bersifat integral dan berjejaring di dalamnya—sehingga bukanlah aspek historisitas dan bukan pula konteks politik dan kehidupan sosial. Di dalam ranah linguistik struktural-deskriptif, komunitas tutur yang direfleksikan dalam definisi linguis merupakan produk dan hasil dari apa yang disebut kontak.

Kemampuan  menemukan sejarah dan mendeskripsikan bahasa dunia menjadi penting karena definisi-definisi awal berkaitan erat dengan arogansi Barat dan tanggung jawabnya untuk “merepresentasikan jagat dengan benar”—dan, tentu saja, mereka sebagai rujukan. Menjadi wajar ketika Bloomfield menempatkan komunitas tutur sebagai jenis kelompok yang paling penting. Namun, evaluasinya terhadap situasi kontak tidak mengasumsikan bahwa beragam sektor masyarakat berinteraksi satu sama lain dengan cara saling melengkapi. Alih-alih, komunitas yang tumbuh selama agresi dan hegemoni kultural Eropa diturunkan statusnya sebagai pelengkap. Sayangnya, dalil bahwa komunitas tutur yang layak tidak bisa eksis dalam lingkungan seperti itu menyarankan bahwa restrukturisasi dan rekonstitusi kultural dan sosial luar biasa yang dicapai oleh pihak terjajah dan orang-orang yang ditaklukkan merupakan konsep sembrono dalam konteks beratnya penderitaan yang mereka alami. Perspektif ini mempengaruhi kajian awal terkait kajian bahasa, kontak, pidgin, dan creole, di mana bahasa-bahasa Afrika pengaruhnya dianggap marjinal sehingga creoles seringkali diperlakukan tidak sebagai bahasa.

Noam Chomsky (1965) menawarkan pendekatan teoretis yang mengeksplorasi kemampuan manusia untuk menghasilkan bahasa alih-alih bahasa sebagai konstruksi sosial. Ia memperkenalkan perbedaan antara kompetensi dan keberlangsungan dan meninggalkan model yang memasukkan komunitas tutur sebagai dasar analisis linguistik. Kemungkinan untuk menemukan kapasitas linguistik manusia ditemukan dalam diri kognitif dan psikologis yang berkembang terlepas dari di mana kinerja pengetahuan itu berada—komunitas tutur. Alih-alih menyelesaikan konflik antara apakah komunitas tutur merupakan bahasa dan wacana atau dibentuk melalui deskripsi linguistik, Chomsky dengan tegas berpendapat bahwa esensi bahasa terletak pada penemuan mekanisme dan teori di balik kemampuan manusia untuk menghasilkan bahasa. Dengan mengatur penggunaan bahasa yang sebenarnya oleh orang-orang untuk mendeskripsikan masalah linguistik (misalnya awal yang salah, kesalahan, dll.), Komunitas tuturan tiba-tiba berisiko menjadi tempat pembuangan sampah untuk puing-puing linguistik—apa yang tersisa setelah analisis teoretis selesai.

Menyelamatkan Komunitas Tutur

John Gumperz (1968, 1972a, 1972b) menghidupkan kembali konsep komunitas tutur dengan menimbangnya sebagai konstruk sosial. Menurut Gumperz, komunitas tutur merupakan sekumpulan manusia yang dicirikan oleh interaksi teratur dan sering melalui seperangkat tanda-tanda verbal dan berangkat dari kelompok yang sama serta berbeda dengan kelompok lain secara signifikan dalam penggunaan bahasa. Komunikasi tatap muka yang memungkinkan berlangsungnya interaksi dan kontak yang konsisten, berulang, dan dapat diprediksi diperlukan untuk keberadaan komunitas tuturan. Dia berpendapat bahwa terlepas dari persamaan dan perbedaan linguistik, ragam tutur yang digunakan dalam komunitas tutur membentuk suatu sistem karena mereka terkait dengan seperangkat norma sosial. Rumusan ini bisa memasukkan penelitian sosiolinguistik tentang kelompok sosial di wilayah perkotaan dan menyusun-kembali gagasan komunitas tutur untuk memasukkan lebih dari sekedar bahasa dan batas bahasa, tetapi juga nilai, sikap, dan ideologi tentang bahasa. Maka, konsep komunitas tutur yang awalnya berfokus pada sistem, hubungan, dan batas-batas bahasa, diperluas untuk mencakup gagasan representasi sosial dan norma dalam bentuk sikap, nilai, kepercayaan, dan praktik—dan gagasan bahwa anggota komunitas tutur menggunakan bahasa mereka sebagai produk sosial dan budaya.

Dell Hymes (1964) berusaha melengkapi pemikiran Gumperz dengan memosisikan komunitas tutur sebagai konsep dasar untuk hubungan antara bahasa, ucapan, dan struktur sosial. Dia menganggap pertanyaan tentang batas-batas penting untuk mengenali bahwa komunitas menurut definisi bukanlah unit yang tetap. Faktanya, model etnografi komunikasi Hymes menyatakan pentingnya kompetensi komunikatif—pengetahuan yang harus dimiliki penutur untuk berfungsi sebagai anggota kelompok sosial. Kompetensi komunikatif didasarkan pada penggunaan bahasa dan sosialisasi dalam budaya dan seseorang bisa mengetahui tata bahasa dan kesesuaian di seluruh tindak tutur dan peristiwa yang dievaluasi dan dikuatkan oleh orang lain. Kompetensi merupakan keterhubungan antara bahasa dengan kode lain perilaku komunikatif. Konsep ini  menggantikan gagasan bahwa bahasa merupakan komunitas tutur dengan kode kepercayaan dan perilaku tentang bahasa dan wacana dan pengetahuan tentang cara menggunakannya.

Bagi Morgan diskusi tentang dialek dan pengertian tentang standar serta batas yang kaku dan tumpang tindih antarkomunitas tidak memasukkan analisis tentang kondisi sosial dan politik yang dicerminkan oleh komunitas tutur. Akibatnya, sifat dari apa dimaksukan kontak dalam hal kekuasaan dan representasi tetap berada di ruang pinggir analisis komunitas tutur.

Sosiolinguis dan Aktor Sosial

Dalam pandangan Morgan, salah satu tantangan terbesar terkait konsep komunitas tutur sebagaimana dirumuskan ulang di atas berasal dari sosiolinguistik dan studi bahasa creole. Hal ini tidak mengherankan karena sosiolinguistik merupakan studi tentang variasi bahasa dan identifikasi ciri-ciri yang secara sistematis berbeda dari ragam lain. Demikian pula, studi bahasa creole harus bergeser melalui sistem kontak bahasa untuk menentukan apakah sebuah bahasa cukup berbeda dari semua bahasa lain yang ada untuk disebut sebagai bahasa itu sendiri. Jadi, kedua bidang fokus pada perbedaan di antara dan di dalam komunitas tutur yang dihasilkan dari diskriminasi dalam hal kelas, jenis kelamin, ras, dan penaklukan kolonial. Di bidang yang terkenal karena menyatakan bahwa perbedaan antara bahasa dan dialek adalah siapa yang mengontrol kekuasaan, orang bisa memprediksi bahwa parameter sosial, budaya, dan politik dari komunitas tutur akan melanggar metodologi sosiolinguistik yang seringkali apolitik.

William Labov (1972) dalam gagasannya tentang komunitas tutur fokus pada relasi kategori sosiologis seperti ras, kelas, dan jenis kelamin dengan variasi dalam penggunaan bahasa. Menurutnya, komunitas tutur tidak ditentukan oleh kesepakatan yang ditandai dalam penggunaan elemen bahasa, seperti halnya dengan partisipasi dalam seperangkat norma bersama. Selain itu, Labov menemukan bahwa meskipun norma-norma ini seringkali bertentangan dengan standar prestise, tidak berarti bahwa penutur di dalam dan di luar komunitas tidak menggunakannya. Sebaliknya, perlu mempertimbangkan nilai mereka dalam konteks sosial.  Menurut Guy (1988), salah satu alasan mengapa norma umum menjadi bagian dari definisi komunitas tutur adalah bahwa keberadaan mereka digunakan untuk menjelaskan salah satu temuan penting sosiolinguistik mengenai variasi menurut kelas dan gaya, yaitu bahwa variabel linguistik yang sama terlibat dalam diferensiasi kelas sosial dan gaya bicara.

Sebaliknya, Milroy dan Milroy (1992) percaya bahwa perbedaan sikap terhadap varietas di dalam dan di antara komunitas tutur tertanam dalam metodologi kelas sosial alih-alih dalam stratifikasi sosial komunitas tutur itu sendiri. Mereka berpendapat bahwa dalam gagasan Labov tentang komunitas tutur dalam sosiolinguistik, norma evaluasi bersama juga merupakan norma yang sangat linguistik yang melambangkan perpecahan di antara mereka. Alih-alih mencerminkan keyakinan umum, mereka menegaskan bahwa temuan Labov lebih mudah ditafsirkan sebagai bukti konflik dan perpecahan tajam dalam masyarakat alih-alih sebagai bukti konsensus. Artinya, kita tidak mungkin menelaah sebuah komunitas tutur dalam perspektif “damai-damai saja”, karena di dalamnya kita bisa menemukan banyak persoalan, ragam, pengaruh kelas, dan kepentingan.

Namun, komunitas tutur memang bisa saja memiliki konsensus tentang perpecahan dan menggunakan simbol yang sama untuk mencerminkan opini yang kompleks dan beragam tentang perpecahan dan untuk menghasilkan konsensus. Artinya, dimungkinkan untuk merepresentasikan pandangan tentang pilihan variabel melalui suatu bentuk konsensus, dan variabel dapat memiliki nilai yang berbeda tergantung pada konteks sosial dan budaya tanpa merepresentasikan konflik. Komunitas tutur Afrika-Amerika, misalnya, menganggap konyol seorang profesional yang menggunakan bahasa Inggris Afrika-Amerika (African-American English, AAE) dalam kesempatan formal kecuali jika dilakukan dengan sengaja untuk menyampaikan suatu maksud. Selain itu, percakapan di antara anggota kelas menengah sering kali menyertakan peniruan penutur bahasa Inggris Afrika-Amerika dalam suasana formal untuk menandakan bahwa pendengar di luar komunitas tutur mereka adalah orang-orang fanatik. Hal itu berlangsung pula dalam alih kode, dari bahasa minoritas ke bahasa mayorita, yang bersifat kondisional dan fleksibel, sesuai dengan kepentingan.

Bagi Labov, nilai-nilai komunitas tutur mengakui adanya perbedaan sosial di dalam dan di antara komunitas. Kita bisa mengetahuinya dengan mengkontraskan norma-norma dominan dan terang-terangan dengan norma-norma terselubung. Dalam pemahamannya, norma terselubung merupakan preferensi bagi dialek sosial terlepas dari peran ragam standar. Meskipun demikian, pertanyaan tentang bagaimana norma-norma tersebut berfungsi dan apakah mereka, pada kenyataannya, terselubung dengan cara yang sama kepada semua anggota komunitas tutur masih tetap ada. Menariknya, seringkali terdapat agenda dan pandangan berbeda antara teoretisi dan penutur dalam menilai keragaman  bahasa. Para teoretisi, pada umumnya, memperhatikan keragaman yang berkaitan dengan norma dan pola linguistik, sedangkan anggota komunitas tutur mungkin memperhatikan keragaman sebagai bentuk representasi yang tidak tetap tetapi berubah-ubah dalam berbagai interaksi.

Diakui atau tidak, sebagian besar kuliah sosiolinguistik berfokus pada identifikasi dan analisis ragam linguistik alih-alih aspek sosiologis seperti etnis, kelas, usia dan jenis kelamin. Kesulitannya adalah dalam memasukkan sikap tentang bahasa dan gagasan tentang kepercayaan bersama dan yang dikuatkan ke dalam analisis praktik linguistik. Jika anggota komunitas tutur tidak mengetahui bentuk-bentuk ini, linguis sering berargumen bahwa mereka tidak mengetahui apa yang membentuk komunitas tutur mereka. Bagaimanapun, sosiolinguistik juga harus memperhatikan apa yang sebenarnya diyakini oleh penutur tentang bagaimana praktik bahasa mereka mencerminkan kehidupan sosial. Dalam hal ini, definisi komunitas dan konteks sosial menciptakan dikotomi antara pengetahuan yang dikembangkan oleh teoretisi versus pengetahuan komunikatif dan linguistik abstrak dari penutur.

Salah satu tantangan bagi studi bahasa kreol dan sosiolinguistik adalah untuk menentukan sejauh mana dan cara-cara di mana informasi atau fakta linguistik yang dikumpulkan dari komunitas tutur tertentu dapat, dalam beberapa cara, menguntungkan komunitas itu. Dalam kajian bahasa kreol, tantangan ini sering muncul dalam bentuk pertanyaan tentang kekuasaan dan hegemoni ketika membahas linguistik historis dan penjajahan Eropa. Situasi bahasa kreol modern telah muncul terutama dari sistem perkebunan yang dikendalikan Eropa yang mempertemukan warga berbagai bangsa, budaya dan bahasa, sebagai pekerja kontrak atau budak. Jadi, memahami kreol tidak bisa lagi hanya sekedar sebagai akibat kontak bahasa, karena komunitas penutur saat ini menggunakan bahasa untuk menegosiasikan dan memperkuat berbagai realitas yang membentuk dunia mereka. Kondisi ini memungkinkan untuk mengkaji situs kontestasi di mana penutur bahasa kreol dan keturunannya bernegosiasi dan mencari kekuasaan. Tentu saja, para linguis sudah semestinya bisa mengungkap kompleksitas tersebut.

Bahasa, Wacana, dan Representasi

Menyadari kompleksitas tersebut, selama beberapa dekade terakhir dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora tumbuh kesadaran akan pentingnya hakikat wacana dalam representasi kearifan lokal, budaya, identitas, dan politik. Pandangan ini terutama berlaku bagi para antropolog dengan kerja-kerja etnografis dalam komunitas yang anggotanya sadar akan perbedaan sosio-kultural dan di mana transmigrasi, identitas sosial, dan ingatan akan dalil yang dibayangkan dan dialami tentang rumah merupakan bagian dari tatanan budaya. Ragam bahasa yang digunakan dalam karya-karya pertunjukan seniman diasporik di negara-negara induk Eropa dan Amerika Serikat, misalnya, bisa menjadi representasi diskursif tentang persoalan dan identitas kultural yang mereka negosiasikan di tengah-tengah budaya hegemonik kulit putih. Banyak warga transnasional masih menjadikan bahasa ibu sebagai rujukan untuk membingkai keanggotaan mereka dalam komunitas tutur diasporik di negara-negara maju, meskipun mereka juga menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Eropa lainnya. Pilihan tersebut merupakan bentuk negosiasi yang membedakan identitas mereka dengan identitas kulit putih. Maka, mengkaji bahasa kreol bisa menjadi pintu masuk menuju migrasi diasporik, etnisitas, nasionalisme, identitas, dan kesetiaan bahasa.

Sekali lagi, berdasarkan uraian di atas, kita bisa memahami bahwa mendeskripsikan komunitas tutur bukanlah hal sepele. Komunitas tutur tidak bisa ditentukan berdasarkan lokasi fisik statis karena keanggotaan dapat dialami sebagai bagian dari negara-bangsa, lingkungan tetangga, desa, klub, perkumpulan, ruang obrolan daring, lembaga keagamaan, dan sebagainya. Terlebih lagi, orang dewasa sering memiliki banyak komunitas. Akibatnya, sosialisasi awal seseorang ke dalam komunitas tutur bisa berlangsung dalam budaya dengan nilai-nilai komunikatif yang berbeda dari budaya dan komunitas lain yang ditemui di kemudian hari. Itulah mengapa Morgan berargumen bahwa konsep komunitas tutur seringkali menginkorporasi pergeseran dalam sikap dan penggunaan serta dalil bahasa yang mengikatnya dikonstruksi pada seputar teori-teori besar yang memosisikan bahasa sebagai konstruk sosial. Teori-teori tersebut antara lain bahasa dan representasi, bahasa dan keberagaman, sikap terhadap penggunaan bahasa, serta bahasa dan kuasa. Komunitas tutur dikenali melalui sirkulasi wacana dan pengulangan aktivitas dan keyakinan serta nilai tentang topik-topik tersebut yang secara ajeg didiskusikan, dievaluasi, di perkuat, dibentuk-kembali oleh anggota-anggotanya. Kesadaraan terhadap isu-isu tersebut ditentukan oleh krisis seperti apa dan tingkat krisis yang berlangsung dalam komunitas tutur. Bagi beberapa pihak, kesadaran di-tanam-kan dalam rajutan kultural sehingga merepresentasikan penggunaan tak tertandai yang mengarahkan kesejarahan, politik, representasi, ideologi komunitas, dan lain-lain. Meskipun nilai-nilai tersebut disepakati, hal itu tidak berarti bahwa terdapat konsensus menyeluruh tentang impelementasi prinsip-prinsip itu. Alih-alih, apa yang penting adalah pengetahuan tentang nilai simbolik, pertemuan, dan pertukaran dari keragaman dan gaya di dalam dan melintasi komunitas tutur.

Terlepas dari apakah komunitas tutur didasarkan pada aktivitas dan praktik bersama, baik terpinggirkan, mengingkorporasi ideologi dominan, atau menentangnya, anggotanya harus memiliki kompetensi komunikatif dalam kaitannya dengan wacana tentang bagaimana bahasa dan/atau ragam bahasa berfungsi dalam konteks spesifik dan membentuk komunitas tutur. Konsekuensinya, wacana dapat berfokus pada praktik linguistik yang menunjukkan ragam atau bahasa, berbeda dengan dan dialogis dengan dialek dan bahasa lain.

Wacana tentang ciri-ciri linguistik yang mewakili komunitas tutur dapat berasal dari studi linguistik dan dari komunitas itu sendiri. Morgan berpendapat bahwa sementara deskripsi sosiolinguistik tentang komunitas tutur Afrika-Amerika telah menghasilkan wawasan yang luar biasa tentang dialek, analisis ini juga telah mendorong para pendidik, ilmuwan sosial, dan beberapa ahli bahasa untuk berpendapat bahwa itu adalah penyebab utama ketimpangan pendidikan dan ekonomi. Faktanya, komunitas tutur Afrika-Amerika melangsungkan integrasi yang rumit dari norma dan nilai bahasa yang terkait dengan fungsi simbolis dan praktis dari Bahasa Inggris Afrika-Amerika dan Bahasa Inggris Umum. Salah satu hasilnya adalah apa yang disebut Morgan (2002: 74), dialek membaca, praktik alih-kode yang terjadi ketika anggota komunitas Afrika-Amerika mengkontraskan atau menyorot apa yang mereka anggap sebagai fitur kontras yang jelas dari AAE dan Bahasa Inggris Umum (General English, GE) dengan cara yang tidak kentara dan tidak ambigu untuk menjelaskan. Ini menghasilkan lingkungan di mana kedua ragam menyimbolkan ideologi-ideologi tentang praktik budaya Afrika-Amerika. Dalam hal pilihan bahasa, Bahasa Inggris Umum adalah satu-satunya variasi bahasa yang dapat dipilih karena sering dipelajari dalam suasana formal di luar rumah dan dari mereka yang bukan anggota komunitas tutur. Di sisi lain, AAE adalah variasi bahwa seseorang dapat memilih untuk tidak berbicara karena itu adalah bahasa yang digunakan untuk disosialisasikan ke dalam komunitas tutur. Artinya, dalam komunitas tutur Afrika Amerika, AAE dan GE berfungsi sebagai bahasa rumah, komunitas, sejarah, dan budaya. Untuk keluarga yang menggunakan kedua varietas tersebut, yang satu belum tentu dihargai di atas yang lain meskipun yang satu mungkin dianggap lebih sesuai secara kontekstual. Dalam sistem ini AAE tidak hanya apa yang didengar dan dibicarakan di rumah dan di masyarakat, tetapi juga keragaman yang menyampaikan pengetahuan formal dan informal serta kearifan dan kearifan lokal. Ini adalah bahasa yang mendalam dan yang profan.

Dalam sistem budaya dominan, penggunaan GE merepresentasikan hegemoni, dianggap ”normal” dan mengindeks kecerdasan, kepatuhan, dan seterusnya. Meskipun penutur mungkin tidak menyadari semua hubungan dan sistem tata bahasa dalam perbendaharaan mereka, pada saat mereka dewasa mereka tahu bahwa penggunaan AAE dapat distigmatisasi dalam sistem budaya yang dominan dan dapat dianggap menyimpang dan ketidaktahuan indeks. Mereka tahu politik penggunaan bahasa dan berusaha menyesuaikan diri. Dengan cara ini teori tentang struktur linguistik dan penggunaan AAE dan GE adalah bagian dari pemfilosofian sehari-hari dalam komunitas tutur dan “filosofi bahasa” mengenai realitas sosial ini secara radikal berbeda dari linguis dalam banyak hal.

Meskipun komunitas tutur dapat mengambil salah satu dan semua bentuk dan lebih banyak lagi, ini bukanlah konsep yang dapat dibentuk tanpa batas, tidak bisa pula seenaknya mengubah bentuk, pola, dan makna sesuai dengan kebutuhan ilmiah atau kumpulan orang baru. Sebaliknya, komunitas tutur mencerminkan apa yang orang lakukan dan ketahui ketika mereka berinteraksi satu sama lain. Ini mengasumsikan bahwa ketika orang berkumpul melalui praktik diskursif, mereka berniat untuk berperilaku seolah-olah mereka beroperasi dalam seperangkat norma, pengetahuan lokal, kepercayaan, dan nilai bersama. Artinya mereka sadar akan hal-hal tersebut dan mampu mengetahui kapan mereka ditaati dan ketika nilai-nilai masyarakat diabaikan.

Bahkan ketika anggota menyadari nilai, sikap, dan norma wacana komunitas tutur, posisi positif mereka tidak selalu dijamin, terutama ketika perjalanan reguler dan transmigrasi menjadi norma. Sebaliknya, keanggotaan dalam dan lintas komunitas bahasa membutuhkan negosiasi bahasa, dialek, gaya wacana, dan sistem simbolik sebagai bagian dari praktik normal. Jenis negosiasi ini adalah aspek kehidupan sosial dalam komunitas bahasa dan bukan bagian dari imajinasi sosial – meskipun mungkin merupakan produk dari itu. Selain itu, jenis interaksi ini sangat umum bagi mereka yang berasal dari budaya yang sosialisasi sekundernya mungkin berbentu perubahan secara sukarela dan tidak disengaja dalam pendidikan, dalam kelas dan status, di lokasi dan wilayah geografis melalui migrasi dan transmigrasi, dan yang mungkin pernah mengalami perubahan dalam pekerjaan. dan bahkan metode kontak yang pada gilirannya memperkenalkan cara berbicara dan berkomunikasi (misalnya Internet).

Mempraktikkan Komunitas Tutur

Morgan, mengutip pendapat beberapa ahli, menjelaskan bahwa terdapat beberapa komunitas tutur yang eksis dalam hubungannya dengan praktik, aktivitas, dan hubungan sosial tertentu. Komunitas ini dikonstruksi sebagai sesuatu unik dan berbeda dari yang lain, seringkali memenuhi kebutuhan atau tujuan tertentu. Karena itu, anggota kemungkinan besar menyadari peran dan hubungannya dengan komunitas tutur lainnya sebagai bagian dari fungsi normal. Komunitas praktik bisa berada di institusi seperti penjara dan institusi mental hingga situasi dengan aturan yang lebih santai, dari sekolah hingga grup drama. Halliday (1978), misalnya, mengkaji identitas dan konstruksi komunitas tutur bawah tanah di institusi dan daerah perkotaan. Penelitiannya tentang antilanguages (praktik anti bahasa dominan) ​​di penjara memberikan wawasan tentang konstruksi komunitas tutur yang tertanam yang memanfaatkan gaya linguistik dan wacana dominan dalam kerangka penafsiran yang kontras sehingga narapidana dapat secara efektif berbicara dengan agensi menggunakan wacana yang terkait dengan penerimaan penahanan mereka. Dengan demikian komunitas tutur dapat menjadi entitas simbolik yang keduanya menciptakan dan mengindeks keberadaannya sebagai produk tersembunyi dari masyarakat dan struktur kelembagaan.

Meskipun anggota komunitas tutur non-dominan seringkali mengakui dan menginkorporasi bahasa standar, mereka tidak mengontroln bahasa itu atau pengetahuan yang terkait dengannya. Mungkin salah satu konteks di mana kita bisa menjumpai realitas ini adalah institusi pendidikan. Insitusi pendidikan biasanya menjalankan secara terang-benderang tirani bahasa standar, terutama karena ia mensosialisasikan anak-anak pada norma-norma budaya dan hegemoni komunikatif. Institusi pendidikan tidak hanya menyampaikan pengetahuan khusus dan terspesialisasikan, tetapi juga anggapan bahwa ragam bahasa prestise lebih berharga alih-alih bahasa yang diperoleh dalam percakapan di rumah orang-orang yang tidak mencirikan bahasa dominan. Dalam kasus di AS, misalnya, anak-anak diasporik harus belajar bahasa GE yang diyakini sebagai saranan untuk memperoleh pengetahuan lebih luas dibandingkan bahasa lokal di komunitas mereka. Dalam kasus yang lebih ekstrim, kita bisa melihat bagaiama anak-anak Madura wilayah perkotaan atau pinggiran kota Jember harus belajar bahasa Jawa sebagai bahasa dominan yang menjadi bagian dari kurikulum. Pada akhirnya, anak-anak itu akan membiasakan diri dengan bahasa dominan sekaligus nilai-nilai budaya yang ada dalam komunitas penutur bahasa tersebut. Inilah yang menjadi bentuk—mengikuti pemikiran Bourdieuan—dominasi  linguistik, di mana integrasi komunitas tutur subordinat/pinggiran ke dalam komunitas tutur dominan merupakan produk dominasi politik terus-menerus diproduksi dan direproduksi oleh institusi-institusi yang menuntut pengakuan universal atas bahasa. Jadi antilanguage lebih dari sekedar perlawanan terhadap hegemoni. Ini adalah pengakuan simultan dari wacana oposisi.

Komunitas tutur memiliki peran yang rumit dalam pendidikan sebagaimana beberapa psikolog dan sosiolinguis pendidikan berasumsi bahwa hanya kelas menengah yang berbagi cita-cita komunitas tutur sekolah. Beberapa kajian mengungkap kontras antara nilai-nilai dalam rumah dan kemampuan literasi. Anak-anak kulit hitam dan kelas pekerja belum pernah berlatih model prestise di sekolah. Namun pihak sekolah menyadari komunitas tutur rumah dan versi modal budayanya. Mereka pun merancang untuk menggantikan komunitas tutur rumah dengan ideologinya sendiri alih-alih memperkenalkan komunitas tutur lain. Hasilnya adalah bahwa bahasa sekolah dengan berbagai cara digambarkan mewakili “tradisi pendidikan elitis” di mana hanya ada satu variasi tuturan yang dapat diterima. Sebaliknya, komunitas tutur rumah mengakui dan terkadang menginkorporasi keduanya, dan hanya memilih untuk meninggalkan wacana dominan pada saat kerusuhan sipil—atau ketika representasi dan identitas dipertanyakan. Dengan demikian, komunitas tutur yang lebih luas mempelajari nilai wacana dan nilai representasi mereka. Tidak mengherankan, ada banyak skenario yang mungkin dilaporkan dalam literatur tentang bagaimana siswa mungkin menanggapi situasi ini. Salah satunya adalah komunitas tutur sekolah tidak berhasil meyakinkan siswa bahwa pertukaran memiliki nilai yang setara dan siswa memperkenalkan inovasi dalam menciptakan nilai-nilai baru untuk model-model ini.

Maka, proyek hegemoni yang menggunakan bahasa standar bukanlah pekerjaan mudah, karena sangat mungkin akan memunculkan kesadaran resistensi dari penutur subordinat. Dalam upaya untuk mengatasi kecakapan buruk anak-anak yang berbahasa Afrika-Amerika dan Spanyol dalam sistem pendidikan AS, beberapa pendidik dan ahli bahasa berargumen terdapat konflik antara bahasa rumah dan bahasa sekolah. Hal ini juga terjadi pada remaja yang terlibat dalam budaya hiphop dan yang ingin mengekspos ideologi hegemonik yang direpresentasikan oleh bahasa standar dengan menggunakan norma-norma linguistik Afrika-Amerika dan linguistik dwibahasa. Namun, konflik bukanlah di antara keduanya—mereka adalah bagian dari satu sama lain dan bergantung pada satu sama lain untuk keberadaan. Sebaliknya, konflik terjadi dengan sistem pendidikan dan upayanya untuk menegakkan hegemoni.

Simpulan: Kuasa dan Identitas

Secara jeli dan kritis Morgan meunjukkan bagaimana komunitas tutur merepresentasikan lokasi suatu kelompok dalam masyarakat dan hubungannya dengan kekuasaan. Hubungan ini penting untuk memahami bagaimana aktor sosial bergerak di dalam dan di antara komunitas tutur mereka. Komunitas tutur mungkin terpinggirkan dan diperebutkan, beberapa merupakan bagian dari budaya dominan dan yang lain adalah bagian dari praktik yang mungkin mencakup semua hal di atas. Morgan juga mendiskusikan beberapa keterlibatan yang melekat dalam setiap contoh komunitas tutur untuk menunjukkan bahwa anggota secara aktif terlibat dalam kompleksitas bahasa dan representasi tersebut. Namun, baginya, masih ada tiga pertanyaan. Bagaimana komunitas tutur berhasil memasukkan norma-norma hegemoni dan bagaimana mereka menghasilkan norma, nilai, dan sikap yang tidak menginkorporasi hegemoni dan bertentangan dengan wacana dominan? Terakhir, apa peran peneliti dan ahli teori dalam konstruksi krisis ini?

Untuk menjawab pertanyaan pertama dan kedua, Morgan, pertama-tama, mengadopsi perspektif Judith Buttler. Ranah representasi politik dan linguistik menetapkan terlebih dahulu kriteria di mana subjek dibentuk. Dengan kata lain, kualifikasi untuk menjadi subjek harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum representasi dapat diperluas. Butler menekankan bahwa bahasa yang kita gunakan untuk merujuk pada komunitas tutur kita dan menyebutnya sebagai pengakuan sebenarnya menggambarkan kembali sistem simbolik budaya dominan. Untuk menjadi subjek atau diakui sebagai warga dari masyarakat dominan, mau atau tidak mau, kita harus mengikuti tatanan kebahasaan dan norma-norma dominan yang berlaku. Memang, akan ada relasi kuasa yang berlangsung di dalam penggunaan bahasa dominan. Namun, itu semua menjadi siasat agar subjek bisa diakui dan masuk ke dalam kehidupan masyarakat dominan. Pada tahap berikutnya, Morgan menyerap pemikiran Bhabha tentang interstices di mana subjek subordinat melakukan tindakan-tindakan strategis untuk menegosiasikan diri mereka di tengah-tengah perbedaan budaya di mana kekuatan dominan menjadi pengendalinya. Subjek subordinat memang melakukan inkorporasi bahasa dominan dalam kehidupan mereka sebagai siasat, tetapi mereka juga tidak hanya diam. Artinya, mereka melakukan pembacaan kreatif aspek-aspek lingusitik dan kultural apa yang bisa diambil dari komunitas tutur dominan, tetapi di saat bersamaan mereka bisa meluruhkan kekuatan dominan itu dengan tindakan-tindakan strategis. Misalnya, kuasa bahasa Inggris ditanggalkan kekuatan simboliknya dan dijadikan sarana untuk menciptakan kreativitas baru yang menguntungkan komunitas subordinat. Ini adalah bentuk dinamika dari hegemoni bahasa dominan yang dimaknai secara lentur oleh komunitas tutur.

Komunitas tutur hiphop bisa menjadi contoh menarik dari dinamika tersebut. Komunitas ini dibentuk di jalan-jalan wilayah komunitas berkulit cokelat dan hitam di New York dan dibesarkan menurut praktik counterlanguage Afrika-Amerika. Bangsa hiphop dikonstruksi di seputaran ideologi yang representasi dan referensinya (tanda dan simbol) bersifat indeksikal dan menciptakan praktik kelembagaan. Sementara pencetusnya berasal dari Karibia, Amerika Latin, dan komunitas kulit hitam New York dan New Jersey, mereka bersatu dalam praktik budaya Afrika-Amerika di mana norma dan nilai dikomunikasikan melalui simbol dan praktik khusus dan sering berupa ritual alih-alih melalui lembaga eksplisit. Praktik-praktik ini secara sederhana disebut sebagai WORD—sehingga setiap budaya yang mengadopsi hiphop harus memasukkan ideologi bahasa Afrika-Amerika. Ini tidak berarti bahwa kaum muda termasuk dalam satu komunitas tutur dunia. Tetapi ini berarti, identitas mereka terikat pada kekuatan yang berasal dari wacana dan sistem representasi bersama.

Dengan modernitas, aksesibilitas yang sebelumnya menjadi batas-batas nasional dan budaya telah mengakibatkan orang-orang dari luar budaya-budaya ini menyesuaikan diri dengan bahasa komunitas tutur yang tidak memiliki hubungan sosial atau budaya yang mereka miliki. Faktanya, konflik budaya dapat muncul ketika mereka yang akrab dengan komunitas di mana mereka mungkin tidak berbagi keanggotaan menggunakan bahasa atau jargon untuk penekanan, permainan, atau untuk menyelaraskan dengan identitas “luar” dalam batas-batas komunitas mereka sendiri. Dalam hal ini gaya berbicara dapat langsung diidentifikasi sebagai milik komunitas tertentu, tetapi norma nilai dan harapan komunitas sumber tidak menyertainya. Terlebih lagi, kata-kata dan ungkapan dapat digunakan di luar konteks dan dengan cara yang dianggap tidak pantas dan menyinggung.

Diakui atau tidak, peneliti komunitas tutur memiliki tugas yang sangat sulit karena tugas mereka seringkali membedakan komunitas penutur alih-alih mengidentifikasi cara kerja komunitas tutur. Para peneliti harus menghindari mempromosikan “komunitas tafsir” karena mereka memasarkan diri mereka sendiri sebagai ahli dengan mengorbankan mengenali kompleksitas dalam komunitas tutur. Tantangan ini akan meningkat ketika komunitas semakin memperluas akses satu sama lain dan kemudian meningkatkan kompleksitas. Maka, penting bagi para peneliti untuk mengenali komunitas tutur dalam termanya sendiri dan terbuka terkait metodologi, hubungan, dan minat mereka.

Komunitas tutur bukanlah konsep yang sudah terurai gamblang dalam hubungannya dengan konflik, situasi kompleks, dan pergeseran identitas. Mengikuti pemikiran Hall (1996) bahwa wacana adalah tentang produksi pengetahuan melalui bahasa. Namun, wacana itu sendiri dihasilkan oleh praktik diskursif—praktik menghasilkan makna. Karena semua praktik sosial mengandung makna, semua praktik memiliki aspek diskursif. Jadi, wacana masuk ke dalam pengaruh semua praktik sosial. Alih-alih mempermasalahkan gagasan komunitas tutur, beragam konflik justru menonjolkan kontribusinya untuk mengeksplorasi hubungan antara bahasa dan identitas, politik dan masyarakat—dalam  menghasilkan makna. Mengapa demikian? Dari konflik-konflik itulah kita bisa membaca secara lebih serius bagaimana istilah, jargon, atau ungkapan tertentu bisa membentuk keterikatan dan kesadaran atau, bahkan, memunculkan permasalahan bagi individu dalam sebuah komunitas tutur ketika terjadi masalah atau komunikasi dengan komunitas tutur lain. Atau, di tataran internal komunitas tutur sendiri bisa terjadi bermacam masalah yang bisa memperlemah ataupun sebaliknya, memperkuat ikatan antara individu dengan bahasa dan anggota komunitas.

Apa yang harus kita ingat adalah bahwa komunitas tutur menekankan pentingnya pengetahuan lokal dan kompetensi komunikatif dalam kegiatan diskursif sehingga anggota dapat mengidentifikasi orang dalam dari luar serta mereka yang tinggal di zona kontak dan perbatasan. Perkembangan kontemporer menunjukkan masalah utama modernitas bukan lagi identitas tetapi kewarganegaraan. Maka, kajian komunitas bahasa harus secepatnya mempertanyakan baik pengertian bahasa standar sebagai representasi dan “bukti” kewarganegaraan serta kekuatan ideologis, politik, dan sosial yang menyebabkan kita semua untuk mengklaim atau menolak keanggotaan. Artinya, gagasan komunitas tutur otonom yang terisolasi dan tidak terhubung hanya dapat eksis dalam batas-batas yang paling kaku dari suatu komunitas.

Ilmu linguistik masa depan berhutang budi kepada para penutur. Mengapa? Keberadaan para penutur terikat dengan individu lain melalui validasi dalam kehidupan sosial mereka di setiap kesempatan. Tentu saja tuturan menjadi penting dalam konteks itu. Karena itulah eksplorasi kita ke komunitas tutur dan pernyataan kita tentang keberadaan mereka harus mengarahkan perhatian pada pentingnya identitas, kewarganegaraan, dan rasa memiliki. Suka atau tidak suka, konsep tutur komunitas segera menjangkau argumen, teori, dan ideologi politik lama dan baru. Kemunculan ini membawa perubahan dalam komunitas tuturan karena pengetahuan implisit menjadi terlibat dalam wacana aktif dan komunitas tuturan dan subjeknya pada gilirannya diubah olehnya.

Catatan akhir

[1] Marcyliena Morgan adalah Profesor Ilmu Sosial Ernest E. Monrad di Universitas Harvard dan Direktur Pendiri The Hiphop Archive and Research Institute (HARI) di Hutchins Center for African and African American Research. Dia mendapatkan gelar sarjana dan MA-nya di University of Illinois di Chicago. Dia memperoleh gelar MA tambahan dalam bidang linguistik di University of Essex, Inggris dan gelar Ph.D-nya dari Sekolah Pascasarjana di University of Pennsylvania. Dia banyak menulis tentang bahasa dan identitas, pendidikan, filosofi linguistik, gender, feminisme dan seksualitas, wacana dan interaksi,  rasisme, dan budaya hip hop. Beberapa karyanya antara lain: Hiphop and the Global Imprint of a Black Cultural Form (2011, bersama Dionne Bennett), “The World is Yours”: The Globalization of Hiphop Language” (2016), Language, Discourse and Power in African American Culture (2002), The Real Hiphop – Battling for Knowledge, Power, and Respect in the Underground (2008), Speech Communities (2014) dan banyak lagi. Informasi di dapat dari: https://anthropology.fas.harvard.edu/people/marcyliena-morgan

Rujukan

Bloomfield, L. (1933). Language. New York: Holt, Rinehart & Winston.

Chomsky, N. (1965). Aspects of the Theory of Syntax. Cambridge, MA: MIT Press.

Gumperz, J. (1968). The Speech Community. In P. P. Giglioli (ed.), Language and Social Context. Harmondsworth: Penguin.

Gumperz, J. J. (1972a). Introduction. In J. J. Gumperz and D. Hymes (eds.), Directions in Sociolinguistics: The Ethnography of Communication (pp. 1–25). New York: Holt, Rinehart and Winston.

Gumperz, J. J. (1972b). The Speech Community. In P. P. Giglioli (ed.), Language and Social Context (pp. 219–231). Harmondsworth: Penguin.

Guy, G. (1988). Language and Social Class. In F. J. Newmeyer (ed.), Linguistics: The Cambridge Survey – IV. Language: The Socio-cultural Context (pp. 37–63). Cambridge: Cambridge University Press.

Hall, S. (1996). The West and the Rest: Discourse and Power. In S. Hall, D. Held, D. Hubert, and K. Thompson (eds.), Modernity: An Introduction to Modern Societies (pp. 118–227). Oxford: Blackwell.

Halliday, M. A. K. (1978). Language as Social Semiotic: The Social Interaction of Language and Meaning. London: Edward Arnold.

Hymes, D. (ed.) (1964). Language in Culture and Society: A Reader in Linguistics and Anthropology. New York: Harper and Row.

Hymes, D. (1972). On Communicative Competence. In J. B. Pride and J. Holmes (eds.), Sociolinguistics (pp. 269–293). Harmondsworth: Penguin

Labov, W. (1972). Sociolinguistic Patterns. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.

Milroy, L., and Milroy, J. (1992). Social Network and Social Class: Toward an Integrated Sociolinguistic Model. Language in Society 21: 1–26.

Morgan, M. (1994). The African-American Speech Community: Reality and Sociolinguistics. In M. Morgan (ed.), Language and the Social Construction of Identity in Creole Situations, (pp. 121–148). Berkeley: Center for African-American Studies.

Morgan, M. (2001). ‘‘Ain’t Nothin’ But A G Thang’’: Grammar, Variation and Language Ideology in Hip Hop Identity. In S. Lanehart (ed.), African American Vernacular English (pp. 185–207). Amsterdam and Philadelphia: John Benjamins.

Morgan, M. (2002). Language, Discourse and Power in African American Culture. Cambridge: Cambridge University Press.

Morgan, M. (2004). Speech Communities. In A. Duranti (ed). A Companion to Linguistic Anthropology (pp. 3-22). Victoria: Blackwell Publishing.

Morgan, M. (2014). Speech Communities. Cambridge: Cambridge University Press.


About Ikwan Setiawan 217 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*