Pasang Surut Pusat Kajian Madura di Jember

YONGKY GIGIH PRASISKO

Kesepakatan budaya Indonesia dan Belanda menjadikan kedua negara membangun kembali hubungan yang telah lama retak. Kesepakatan ini memungkinkan terjadi setelah pemerintahan Presiden Soekarno berakhir dan digantikan oleh Presiden Soeharto. Di awal era Orde Baru, Indonesia mulai membangun kembali hubungan dengan Negara-Negara Barat. Terbukanya hubungan dengan Barat membuat Indonesia mendapatkan akses modal dan beragam kerjasama dengan Negara-Negara Barat, antara lain dengan Belanda. Model kerjasama yang cukup menonjol yakni IGGI (Inter-Governmental Group on Indonesia) yang dibentuk pada tahun 1967 dengan 16 anggota donor dan 5 lembaga internasional yang kemudian diketuai oleh Belanda. IGGI dibentuk dengan tujuan memberi pinjaman dan mereorganisasi sistem ekonomi Indonesia (Posthumus, 1972:55-56).

Huub de Jonge bersama warga Arab (Sumber foto: https://www.batarfie.com)

Dalam kerangka kesepakatan budaya, Belanda mengirim para peneliti/akademisinya ke Indonesia. Salah satunya, yakni seorang antropolog bernama Huub de Jonge yang meneliti tentang Madura. Dalam penelitian doktoralnya, Jonge menganalisis perkembangan ekonomi-budaya Madura, khususnya perdagangan tembakau, di Desa Parindu, Kecamatan Paraga, Kabupaten Sumenep. Jonge merupakan akademisi dari Universitas Radboud, Nijmegen dan peneliti di Pusat Kajian Asia Pasifik (The Centre for Pacific and Asian Studies–CPAS). Sejak 1985-1987, Jonge bekerja sebagai konsultan di Pusat Kajian Madura yang baru didirikan di Universitas Negeri Jember (UNEJ). Jonge bertugas mempromosikan dan mensupervisi penelitian di kalangan orang Madura di Madura dan Jawa bagian timur. Lingkup kajiannya seputar hubungan antara orang Madura dengan kelompok penduduk lain (Jonge, 2019: xvi).

Jonge tak bekerja sendiri. Ia turut dibantu oleh peneliti lokal bernama A. Latief Wiyata. Latief kebetulan juga seorang yang berasal dari Madura, tepatnya lahir di Desa Parsanga, Sumenep. Sejak tahun 1974, Latief memulai karir sebagai dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNEJ. Latief menyelesaikan penelitian doktoralnya tentang budaya Carok Madura, yakni pertarungan antarlelaki, satu lawan satu atau banyak orang dengan motivasi membela gengsi, kehormatan dan harga diri (Wiyata, 2013: 251). Sejak menulis desertasi, Latief merasa lebih mengenal Madura. Sejak tahun 1970an, ia gelisah pada kelangkaan penelitian tentang Madura, terutama yang dilakukan oleh orang Madura sendiri. Penelitiannya ini dilakukan dengan maksud supaya orang luar bisa melihat Madura secara lebih proporsional dan kotekstual, tidak terjebak pada stereotip-stereotip negatif.[1]

Pendirian dan Program Pusat Kajian Madura

Pendirian Pusat Kajian Madura didasari akan dorongan untuk melahirkan penelitian-penelitian terkait permasalahan dan budaya lokal. Di Universitas Leiden, ada sejumlah mahasiswa Indonesia yang melakukan penelitian doktoralnya tentang budaya lokal yang turut menjadi faktor pendorongnya. Pusat Kajian Madura berangkat dari usaha untuk memperbaiki kualitas data dari pusat penelitian lokal di seluruh Indonesia. Awalnya, ia akan didirikan di Malang, Jawa Timur, tetapi karena ada masalah lokal dan beberapa gesekan, Pusat Kajian Madura akhirnya dipindah ke Jember. Pusat Kajian Madura memiliki program yang fleksibel, yang berbasis pada ilmu sosial dan, tidak terlalu ketat, antropologi. Metode penelitian cenderung dilakukan dengan wawancara yang berakhir terbuka (open ended interviews). Jadi tidak ada angket yang kaku yang bisa mengarahkan informasi pada kesimpulan yang telah dikerangkai oleh peneliti: “dengarkan saja apa yang informan katakan padamu.”[2]

Di awal pendirian, Huub de Jonge menjadi konsultan penelitian sampai tahun 1987. Setelah itu, Jonge harus kembali ke Belanda, ke pekerjaan asalnya sebagai pengajar di Nijmegen. Posisi Jonge sebagai konsultan kemudian digantikan oleh Robert Wessing, yang juga seorang antropolog kelahiran Amsterdam, Belanda. Sebelum menjadi konsultan di Pusat Kajian Madura, Wessing ditugaskan sebagai tenaga ahli selama dua tahun di Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial di Banda Aceh.

Wessing memiliki ketertarikan utama pada Asia Tenggara, sistem nilai, realtias simbolik dan agama. Tahun 1970, Wessing memulai penelitian lapangannya di Jawa Barat, selama 18 bulan. Wessing melahirkan beberapa tulisan tentang Jawa Barat, antara lain “Some Comments on Channels of Communication in Rural West Java”, “The Social Structure of Economic Behavior in West Java, Indonesia”, “Spirits of the Earth and Spirits of the Water: Chthonic Forces in the Mountains of West Java”, “A Change in the Forest: Myth and History in West Java”, “The Sacred Grove: Founders and the Owners of the Forest in West Java”, “The Position of the Baduj in the Larger West Javanese Society”, “Cosmology and Social Behavior in a West Javanese Settlement”, “Parameters of Economic Behavior in West Java” dan “Electing a Lurah in West Java”.

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2021-05-02-at-20.04.56.jpeg
Robert Wessing bersama penari Seblang di Banyuwangi. (Dok. Robert Wessing)

Sejak bergabung dalam Pusat Kajian Madura tahun 1987, Wessing turut menjalankan program yang tak jauh berbeda dengan Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial di Banda Aceh. Program Pusat Kajian Madura turut didanai oleh KITLV, Leiden, lembaga yang juga mengontraknya sebagai konsultan. Program dijalankan dengan merekrut orang-orang ke dalam suatu angkatan, yang dilatih untuk melakukan penelitian lapangan. Topik penelitian diserahkan kepada peserta angkatan dengan bidang kajian yang fleksibel. Pilihan topik yang sudah disetujui kemudian dituliskan dalam bentuk proposal penelitian. Proposal kemudian ditinjau sekaligus dikritik oleh konsultan untuk kemudian direvisi oleh peserta.

Sebelum terjun ke lapangan, para peserta dibekali dengan materi tentang metode penelitian, analisis data dan penulisan laporan. Setiap peserta memiliki topik penelitian masing-masing. Jadi diskusi topik tidak dilakukan secara kelompok. Secara umum, pendekatannya sangat praktis dan intensif. Topik yang diangkat peserta yakni seputar slametan tahunan untuk roh penjaga desa pantai sampai ke adopsi anak-anak.

Setelah didiskusikan secara matang, kemudian peserta melakukan tinjauan awal dengan mengunjungi tempat-tempat yang akan dipilih sebagai lokasi penelitian. Peninjauan awal ke lapangan ini kemudian ditulis dalam sebuah laporan, yang lalu dikritisi kembali oleh konsultan dan direvisi oleh peserta. Setelah diperbaiki dan dianggap sudah cukup siap, peserta kemudian langsung pergi ke lapangan untuk menggali data dalam waktu yang lebih lama dari sebelumnya. Dalam masa ini, staf program mengunjungi mereka di lapangan untuk melihat kondisi jalannya penelitian dan memberi masukan kepada mereka.

Setelah selesai penggalian data di lapangan, mereka kembali ke program untuk menulis laporan yang kemudian juga dikritisi kembali dan direvisi. Perbaikan turut menyisakan beberapa pertanyaan yang belum terjawab, yang kemudian mengharuskan mereka kembali lagi ke lapangan untuk mencari jawaban terakhir dalam waktu yang lebih singkat dari sebelumnya. Setelah itu, mereka menulis laporan penelitian lanjutan, dikritisi kembali, sampai pada revisi terakhir. [3]

Berakhirnya Pusat Kajian Madura

Pusat Kajian Madura bertahan selama 7 tahun, sampai tahun 1992. Kesepakatan budaya Indonesia dan Belanda tak bisa lagi dilanjutkan karena hubungan kedua Negara kembali retak. Hal ini dipicu oleh kritik Belanda terhadap pelanggaran HAM oleh pemerintah Indonesia di Timor-Timur, terutama kasus Dili pada tahun 1991. Sembari Belanda juga menggantungkan kasus HAM dan kejahatan perang yang dilakukanya selama menjajah kepulauan Nusantara dan melakukan agresi militer ke Indonesia. Dari sisi Indonesia, Belanda, sebagai ketua IGGI, terlalu banyak mengatur Indonesia dalam program pembangunannya dan banyak ikut campur soal urusan dalam negeri Indonesia. Menteri Kerjasama Pembangunan Belanda, Jan Pronk, dengan gayanya yang blak-blakan dan ofensif dalam mengritik membuatnya disebut sebagai simbol kepongahan dan paternalisme ala kolonial Belanda terhadap Indonesia (Baehr, 1997:374). Pada akhirnya, IGGI dibubarkan pada tahun 1992. Berdasarkan laporan dari Belanda sendiri di tahun 2004, terkuak fakta bahwa melalui IGGI, Belanda membuat Indonesia untuk membayar sejumlah 689 juta gulden atas kesepakatan pengakuan kedaulatan Indonesia (Soevereiniteitsoverdracht) tahun 1949 (Rapport, 2004).

Koleksi Unggulan Budaya Jawa Timur, Perpustakaan Univ. Jember. (Dok. Yongky G.P.)

Setelah bubarnya Pusat Kajian Madura, Wessing masih tetap rutin berkunjung ke Jember dan melakukan penelitian. Keterikatan antropologis dirinya dengan lingkungan penelitiannya tidak terbatas pada program kerjasama budaya Belanda dan Indonesia. Dalam masa penelitian antropologis di Jember dan sekitarnya, Wessing menghasilkan beberapa karya yakni “Bangatowa, Patoguand Gaddhungan: Perceptions of the Tiger among the Madurese”, “The Last Tiger in East Java: Symbolic Continuity in Ecological Change dan “Nyai Roro Kidul in Puger: Local Applications of a Myth”. Wessing turut melahirkan karya antropologis, khususnya tentang Banyuwangi antara lain, “A Dance of Life: The Seblang of Banyuwangi, Indonesia”, “Celebrations of Life: The Gendhing Seblang of Banyuwangi, East Java”, “The Osing Agricultural Spirit-Medium”, “Hosting the Wild Buffaloes: The Keboan Ritual of the Using of East Java, Indonesia”, “When the Tutelary Spirit Objected: Conflict and Possession among the Using of East Java, Indonesia”.

Wessing resmi berhenti sebagai konsultan penelitian pada tahun 1992. Selama terlibat dalam program di Pusat Kajian Madura, Wessing hanya mengelola satu angkatan peneliti yang kemudian berhenti setelah kerjasama terputus dan Pusat Kajian Madura ditutup setelah dia pergi. Bagaimanapun juga, Pusat Kajian Madura bersumbangsih terhadap lahirnya penelitian-penelitian berbasis lokal, terutama di Jember dan sekitarnya. Dorongan ini terlihat dari beberapa peneliti lokal yang berminat/memfokuskan penelitiannya pada budaya lokal, seperti (Ayu) Sutarto dengan kajian Tengger dan Latief Wiyata dengan kajian Madura. Berbagai kumpulan karya, makalah, jurnal, tugas akhir, buku-buku dan dokumentasi audio-visual tentang budaya lokal tersimpan dalam ruangan khusus Koleksi Unggulan, Madura, Using dan Tengger di Perpustakaan Pusat, Universitas Jember.

Selain itu, Pusat Kajian Madura juga menjadi penanda hubungan baik antara Indonesia dan Belanda, terutama dalam bidang penelitian sosial-budaya. Meskipun program ini masih bersifat paternalistik dengan peran Belanda untuk memperbaiki kualitas penelitian lokal Indonesia, namun setidaknya melalui Pusat Kajian Madura, penelitian lokal berhasil diangkat dan mendapat signifikansinya. Penelitian berbasis lokal menjadi penting dan terinternasionalisasi dengan membangun kerja sama dengan para peneliti/akademisi asing. Pusat Kajian Madura turut menjadi penanda bahwa kinerja kebudayaan tak semestinya bersinggungan dengan kepentingan politik praktis. Pusat Kajian Madura menjadi contoh bagaimana sebuah program kebudayaan yang dibangun selama 7 tahun, berakhir karena hubungan politik yang retak antara Indonesia dengan Belanda. Dalam hal ini, kepentingan politik praktis tak sejalan dengan, atau bisa mengancam kemajuan kebudayaan Indonesia.

Catatan akhir

[1] Wawancara dengan Latief Wiyata, dikutip dari https://ariyamadura.id/2018/06/08/a-latief-wiyata-penulis-dan-peneliti-madura, (akses 1 Mei 2021).

[2] Korespondensi penulis dengan Robert Wessing, 16 April 2021.

[3] Korespondensi penulis dengan Robert Wessing, 1 Mei 2021.

Rujukan

Baehr, Peter R., 1997, “Problems of Aid Conditionality: The Netherlands and Indonesia”, Third World Quarterly, Vol. 18, No. 2 (Jun., 1997), pp. 363-376.

De Jonge, Huub, 2019, Mencari Identitas: Orang Arab Hadhrami di Indonesia 1900-1950, Jakarta: Kepustakaa Populer Gramedia.

Posthumus, G. A., 1972, “The Inter-Governmental Group on Indonesia”, Bulletin of Indonesian Economic Studies, 8:2, 55-66, DOI: 10.1080/00074917212331332048

Rapport Nederlandse regering, 2004, Financieleovereenkomst uit 1966, To forget the past in favour of a promise for the future: Forget the Past in Favour of a Promise for the Future. Nederland, Indonesië en de financiële overeenkomst van 1966.

Korespondensi penulis dengan Robert Wessing, 16 April 2021 dan 1 Mei 2021.

Wawancara dengan Latief Wiyata, dikutip dari https://ariyamadura.id/2018/06/08/a-latief-wiyata-penulis-dan-peneliti-madura, (akses 1 Mei 2021).

Wiyata, Latief, 2013, Mencari Madura, Jakarta: Bidik-Phronesis Publishing.

Sumber foto cover: https://hadiakmallubis.gurusiana.id/article/2020/4/tradisi-rokat-tase-2010442?bima_access_status=not-logged

About Yongki Gigih Prasisko 9 Articles
Peneliti kajian budaya, fokus pada etnisitas. Surel: yongky.gp@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*