ANGKLUNG, TABUNG MUSIK BLAMBANGAN: Ikhtiar Tulis, Tantangan Kreativitas, dan Tanggung Jawab Ekologis-Kultural

IKWAN SETIAWAN

Perjumpaan dari Warung ke Warung: Pengantar

Warung Jukung (arah Desa Kemiren), rumah Kang Juwono (Lemahbang), warung bothok (sebelah timur Bulog Lemahbang), dan Pasar Wit-witan Singojuruh menjadi saksi pertemuan simultan saya dengan Elvin Hendratha, pada 2019. Dalam setiap pertemuan yang berlangsung dalam suasana cair, penuh canda itu, kami tidak lupa membincang pentingnya menulis kekayaan seni Banyuwangi, khususnya oleh para penulis kelahiran bumi Blambangan. Bukan bermaksud mengabaikan penulis dan peneliti dari luar yang telah banyak berkontribusi dalam mendiskusikan perkembangan dan permasalahan budaya Banyuwangi, khususnya Using, karya penulis Banyuwangi diharapkan bisa memperkaya kajian serta menjadi catatan penting gerak keberaksaraan dalam masyarakat yang masih didominasi tradisi lisan. Tentu, dari Banyuwangi kita sudah mengenal beberapa penulis hebat seperti Hasan Ali, Hasnan Singodimayan, Armaya, Achmad Aksoro, Endro Wilis, Hasan Basri, Hasan Sentot, Fatha Yasin, Dwi Pranoto, Taufik WR Hidayat, Rosdi Bachtiar, Wiwin Indiarti, dan yang lain. Maka, kehadiran Elvin, seorang bankir lulusan Universitas Jember, tentu akan memberikan warna baru bagi proses keberaksaraan tersebut.

Kang Elvin Hendratha memberikan sambutan dalam Peluncuran buku Angklung, Tabung Musik Blambangan di Rumah Adat Kebo-keboan, Alasmalang, Singojuruh, Banyuwangi, 10 April 2021. Dok. Ikwan Setiawan

Apa yang saya rekam dari setiap perbincangan kami adalah sebuah keinginan besar Elvin untuk menulis tentang angklung Banyuwangi secara mendetil, dari aspek bentuk, notasi, hingga perkembangan historisnya. Maka, tidak ada ucapan lain selain “siap mendukung” terhadap keinginan tersebut. Meskipun bukan etnomusikolog, setidaknya, dukungan tersebut adalah ikhtiar kecil untuk menyalakan api semangatnya. Saya sering mengatakan, tidak usah bingung dengan gaya penulisan; mau model bertutur, mendongeng, deksriptif, eksploratif, atau apalah. Apa yang terpenting adalah dicatat semua informasi penting dari para tokoh angklung Banyuwangi serta rujukan-rujukan tertulis yang bisa didapat. Mengumpulkan data-data itu tentu bukan pekerjaan mudah, apalagi angklung berangkat dari tradisi lisan dan data-data lama kebanyakan berbahasa Belanda. Tidak bingung dengan gaya tulisan adalah salah satu cara bijak agar tidak terlalu terbenani, agar semangat menulis terus mengalir.

Kalau ada sesuatu yang benar-benar saya sesali adalah saya tidak bisa menepati janji untuk ikut membaca dan menyunting draft tulisan yang disiapkan Elvin. Sempat membaca draft awal, lalu laptop saya rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Maka, kerja-kerja akademis yang biasanya bersifat mobile harus terganggu. Namun, saya meyakini kalau ia akan menemukan partner lain yang bisa membantunya untuk urusan penyuntingan. Dan,  itu terbukti dengan terbitnya Angklung, Tabung Musik Blambangan (2021). Sudah sepatutnya saya ikut bergembira dan merayakan kehadiran bacaan yang akan memperkaya rujukan bagi kajian ke-Banyuwangi-an ataupun ke-Using-an sekaligus menciptakan “ritme lain” dalam gerak budaya: sebuah tradisi tulis di tengah-tengah gemuruh dan meriah pesta di ujung timur Jawa ini.  

Mengungkap yang Lisan ke dalam yang Tulis

Salah satu keunggulan buku ini, menurut saya, adalah kedetilan data yang disuguhkan. Mulai dari deskripsi, bentuk, jenis-jenis instrumen, tuning frekuensi, karakteristik masing-masing kelompok, dan perkembangan angklung disajikan secara runtut.[1] Meskipun Wolber sudah menyinggungnya dalam disertasi serta beberapa tulisan jurnalnya, buku ini tetap menyuguhkan detil-detil yang berbeda. Apa yang menarik diperhatikan dari detil-detil itu adalah kehendak untuk menyampaikan wacana-wacana yang tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya secara luas.

Kang Hasan Sentot, pengurus Sengker Kuwung Belambangan (SKB) memberikan sambutan dalam acara peluncuran buku Angklung. Dok. Ikwan Setiawan

Dalam deskripsi tentang angklung Banyuwangi, misalnya, kita akan menemukan beberapa penjelasan (Hendrata, 2021: 3-4) . Pertama, dibuat dari ruas-ruas bambu yang diraut dan berbentuk tabung terpotong, dan disusun sedemikian rupa di atas ancak yang terbuat dari kayu sehingga apabila dipukul akan mengeluarkan bunyi nyaring dan terdengar indah paduan suaranya serta membentuk bunyi nada dengan laras slendro. Kedua, sangat khas, baik terkait cara pembuatan, bentuk, maupun teknik memainkan yang berbeda dengan daerah lain, menggunakan pemukul terbuat dari bambu dan kayu santen. Ketiga, dalam pemahaman sebagai alat musik tradisional, angklung adalah sekumpulan peralatan musik orkestra mini yang terdiri atas beberapa peralatan seperti kendang, saron, selentem, gong, angklung, ketuk, bahola, suling, dan kluncing. Keempat, angklung sebagai “kelompok musik tradisional” yang beranggotakan dua belas sampai dengan lima belas orang yang memainkan alat musik masing-masing. Dalam perkembangannya, angklung sebagai kelompok musik tradisional memiliki bermacam jenis, seperti Angklung Caruk, Angklung Dwilaras, Angklung Daerah, dan lain-lain.

Bagi seniman yang biasa memainkan atau membuat angklung, penjelasan-penjelasan tersebut (mungkin) tidak begitu dibutuhkan. Namun, penjelasan tersebut jelas dibutuhkan untuk kepentingan akademis, seperti pembelajaran, dan keperluan kreatif, seperti eksplorasi musikal berbasis lokalitas, apalagi untuk mereka yang berasal dari luar Banyuwangi. Keinginan atau, setidaknya, rasa penasaran untuk mempelajari, memainkan, ataupun mengkaji alat musik ini bisa tumbuh dari membaca penjabaran yang menunjukkan karakteristik dan keberbedaan angklung Banyuwangi dengan angklung-angklung lain di Indonesia. Reasoning itu pula yang membuat pentingnya penjelasan terkait notasi, tuning frekuensi, nama-nama alat musik, jenis-jenis angklung, dan yang lain. Menurut saya, itu merupakan ikhtiar  (rekadaya, Jawa) untuk menggerakkan tradisi tulis di tengah-tengah ‘galaksi kelisanan’ yang menjadi ciri khas budaya Using, baik dalam bentuk ritual, tembang, tari, dan yang lain. Penjelasan deskriptif terhadap pernik-pernik dalam angklung Banyuwangi adalah kekuatan sekaligus keunggulan yang memiliki dampak ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Bukan hanya bagi warga luar Banyuwangi, baik pelajar, mahasiswa, guru, dosen, ataupun warga awam, tetapi juga bagi mereka yang berasal dari Banyuwangi. Kehadiran tradisi tulis ini, lebih jauh lagi, bisa menjadi prasasti yang menandakan bahwa kemeriahan dan kehebatan tradisi lisan atau kesenian rakyat bisa didokumentasikan secara apik sehingga proses penyebarluasan dan pewarisan setidaknya bisa merujuk pada data-data tertulis dalam buku ini.

Kang Elvin, Kang Hasan Basri (Ketua Dewan Kesenian Blambangan, DKB), dan Kang Hansen menabuh hadrah pertanda diluncurkannya buku Angklung. Dok. Ikwan Setiawan.

Mengadopsi pemikiran Ong (2002), tradisi lisan (oral tradition) memang memiliki keunggulan seperti (a) menyatu dalam kehidupan manusia dengan subjek-subjek dinamis, (b) karya relatif komunikatif meskipun sering muncul pengulangan, penyangatan, dan penambahan, (c) bersifat konservatif/tradisionalis, butuh waktu lama untuk berubah, (d) diwarnai pertarungan dan perjuangan untuk mengada, (e) cenderung empatetik dan partisipatoris, (f) hidup dalam keseimbangan tanpa harus memelihara sesuatu yang sekiranya tidak begitu relevan, dan (g) bersifat situasional. Karakteristik lisan tersebut dengan mudah kita jumpai dalam angklung Banyuwangi, baik sebagai garapan musikal-lagu maupun model pertunjukan, serta masyarakat pendukungnya. Penamaan gending yang situasional dan spontan, pengulangan-penyangatan-penambahan nada dalam aransemen musikal, garapan yang mudah dimengerti, para musisi yang cukup dinamis, para pendukung fanatik (angklung caruk), hidup di tengah-tengah tradisi agraris Banyuwangi, dan banyak lagi yang lain. Tentu bukan pekerjaan mudah untuk menuliskan kelisanan yang cukup lentur, dinamis, dan konfliktual ke dalam bahasa tulis. Tradisi tulis seringkali tak mampu mengungkap secara menyeluruh praktik-praktik kelisanan, khususnya aspek-aspek yang seringkali tak bisa terbahasakan dalam logika tulisan. Meskipun berisiko mengurangi, menggeser, ataupun mengubah kompleksitas kelisanan jagat angklung Banyuwangi, bagi saya, dengan prinsip pendetilan untuk mencatat pernik-pernik laras, lagu, hingga partisipasi penukung fanatik Elvin sudah menunjukkan kapasitasnya untuk mengungkap dinamika kelisanan itu dalam tulisan.

Kalau ada yang perlu diberikan catatan terkait pemindahan galaksi kelisanan ke gugus tulisan dalam buku ini adalah penggambaran tentang keghaiban dalam budaya angklung caruk, semacam battle musikal untuk menampilkan yang terbaik di antara dua kelompok (Hendartha, 2021: 67-94). Kalau terkait seluk-beluk alat musik, persiapan acara, dan komposisi dan formasi pertunjukan, penjelasan dalam buku ini cukup gamblang, bahkan lebih dari cukup—paparan yang cukup membantu buat para peneliti atau pembaca yang ingin mengkaji pernik-pernik musikal dan pertunjukan. Keghaiban dalam tradisi angklung caruk sebenarnya diulas cukup jelas berdasarkan pengalaman beberapa tokoh angklung caruk, seperti Awik, Juwono, dan Rajuli. Masing-masing pernah mengalami kejadian-kejadian di luar nalar. Namun, semua bisa diatasi hanya dengan jampi-jampi yang disiapkan oleh para tetua desa tempat kelompok angklung berasal. Artinya, segala hal yang awalnya harmonis, ketika menjadi ajang yang tidak harmonis, bisa diharmoniskan kembali dengan kekuatan yang sejatinya belajar dari alam.

Kang Elvin bersama tokoh angklung. Dok. Ikwan Setiawan.

Tentang keghaiban itu, Elvin mengatakan: “Cerita-cerita tersebut sangat sulit dibuktikan keterkaitannya dengan ilmu magic. Bisa jadi karena hal-hal yang sangat alami, misalnya penyakit yang belum bisa dipahami secara medis, atau penyebab lainnya” (Hendartha, 2021: 94). Memang tidak ada salahnya membangun asumsi kritis terkait peristiwa-peristiwa terkait hal-hal di luar nalar manusia modern. Sangat mungkin pula, ada jenis-jenis penyakit yang belum dikenali oleh warga desa pada masa itu. Namun, mengatakan “sangat sulit dibuktikan keterkaitannya dengan ilmu magic” juga terkesan menyederhanakan persoalan dan mengabaikan dinamika manusia lokal yang memiliki kemampuan untuk membangun relasi dengan kekuatan-kekuatan adikodrati dalam menghasilkan apa-apa yang dianggap sebagai ilmu ghaib oleh manusia modern. Akan lebih baik kalau dikembangkan analisis berdasarkan kahanan yang berkembang pada masa-masa ketika angklung caruk jaya, termasuk bagaimana fanatisme dan komunalisme menguat di antara para pendukungnya. Penggunaan kekuatan adikodrati untuk mengganggu keberhasilan kelompok lawan dalam pergelaran adalah  sebuah ikhtiar untuk menyukseskan kelompok yang digemari. Artinya, tidak perlu menggunakan persepsi modern untuk menjustifikasi situasi dan pengalaman tersebut.

Menegaskan Identitas dan Komunalisme

Apa yang juga tidak boleh disepelekan dari deskripsi tulis tentang angklung adalah usaha untuk menunjukkan identitas kesenian Blambangan yang berbeda dari angklung-angklung dari daerah lain. Selama ini, ketika berbicara angklung masyarakat Indonesia dan dunia selalu merujuk angklung Sunda. Mengapa demikian? Karena yang banyak ditulis dan diwacanakan dalam bermacam publikasi dan tayangan memang angklung Sunda. Di sinilah kuasa tulis dan wacana menghadirkan eksistensinya, bahwa kesenian yang banyak diulas, dianalisis, dan dipublikasikanlah yang akan mendapatkan perhatian dari individu atau lembaga di tingkat nasional dan internasional. Dalam kondisi demikian, ikhtiar tulis untuk menjelaskan secara deskriptif kesenian angklung Banyuwangi bisa diposisikan sebagai kepentingan strategis untuk menunjukkan keberbedaan dengan angklung-angklung yang lain sehingga identitasnya akan bisa dikenali. Ketika kesadaran untuk menunjukkan partikularitas melalui tulisan tidak muncul, maka angklung Banyuwangi hanya akan dikenal sebagai tradisi lisan yang memang dinamis dan luar biasa secara estetik, tetapi miskin secara diskursif.

Persiapan pergelaran angklung caruk

Catatan khusus juga perlu diberikan kepada keghairaan komunal untuk menghidupkan angklung: bagaimana seniman dan warga pendukung angklung merayakan, menghayati, dan memahami eksistensi kesenian ini dalam kehidupan desa mereka. Di sini kita bisa menemukan kualitas “ketlatenan” Elvin. Bukan hanya semarak pertunjukan, tetapi juga bagaimana warga masyarakat ikut menempatkan diri mereka dalam gerak budaya angklung. Dalam pertunjukan angklung caruk, misalnya, pendukung dari dua kelompok yang sedang battle, menunjukkan dukungan mereka dengan mengerumuni lokasi pertunjukan. Dalam suasana kerumunan, bisa saja terjadi perkelahian. Itu adalah bagian dari dinamika pertunjukan dan kerumunan. Apa yang perlu dicatat adalah tradisi supporter pertunjukan yang menjadikan angklung caruk tumbuh subur sebagai identitas manusia-manusia keturunan Blambangan, yang asyik berkebudayaan dalam kegembiraan komunal.  

Selain itu, cerita seorang penjual makanan yang menggratiskan semua makanan di warungnya ketika kelompok pujaannya menang dalam pergelaran menjadi penanda “manunggaling angklung lan menungso”, menyatunya budaya angklung dan manusia pendukungnya. Laku penggratisan makanan adalah letupan kegembiraan yang didasari kesadaran dan penghayatan bahwa angklung adalah identitas, jiwa, ideal, doa, dan harapan, yang menubuh dalam laku hidup masyarakat pendukungnya. Tentu, itu semua bisa berlangsung ketika kesenian-kesenian dusun belum mendapatkan begitu banyak saingan produk budaya pop-industrial. Setidaknya, Elvin hendak mengingatkan bahwa angklung itu bukan sekedar tabuhan, tetapi identitas yang diperjuangkan dan dirayakan, baik dalam kegembiraan pertunjukan maupun kehidupan sehari-hari.

Sekali Lagi, Keterbukaan dan Kelenturan Budaya

Dalam banyak kesempatan saya mengatakan bahwa salah satu kekuatan manusia Using adalah keterbukaan dan kelenturan kreatif dalam mengapropriasi budaya yang berasal dari luar wilayah geografisnya. Apropriasi tersebut, mengikuti pemikiran Bhabha (1994), membawa masuk yang dari luar untuk kemudian diolah secara kreatif sehingga menjadi karya kultural baru yang diakui menjadi kekayaan mereka sendiri. Angklung merupakan karya estetik hibrid yang mempertemukan dan mendialogkan bermacam alat musik dengan bermacam bahan dan bermacam asal-muasal demi merespons tantangan zaman. Bahola (biola) adalah salah satu alat musik yang menarik untuk dicermati lebih lanjut.

Bahola pada angklung Banyuwangi sama dengan bahola gandrung, selain berfungsi sebagai hang mimpin gendhing, juga berfungsi dalam membuat variasi, menunjukkan laras dalam gending, serta sebagai pembuka pada gending. Bahola peralatan hasil akulturasi yang terakhir bergabung pada angklung Banyuwangi, sebagai desakan adanya tuntutan panggung. Perkembangan dunia seni panggung, membutuhkan pemain angklung yang sekaligus bisa mengiringi tari-tarian berlandaskan gandrung. Dibandingkan dengan biola diatonik Barat, bahola pada angklung Banyuwangi memiliki beberapa perbedaan cara memainkannya. Bahola diletakkan pada dada di atas siku tangan sebelah kiri, tidak dijepit dengan rahang (chinrest bahola tidak difungsikan). Bahola diletakkan di depan bahu, agar mudah memiringkan badan bahola ke kanan-kiri, untuk mendapatkan posisi dua senar yang pas saat digesek. Pemain bahola Banyuwangi selalu posisi duduk bersimpuh, tidak berdiri atau duduk di kursi. Pemain bahola Banyuwangi selalu menggesek dua senar (teknik double stops/ drone) secara bersamaan dalam memainkan garap lagu, dengan maksud agar menimbulkan suara harmonik atau monofonik yang membentuk sebuah akord yang terus berjalan. (Hendratha, 2021: 12-13)

Saya sengaja mengutip agak panjang paparan tentang bahola. Tampak sepele, jelas. Namun, dari yang tampak sepele itulah kita bisa mengetahui dunia yang begitu terbuka dan lentur dari manusia-manusia Blambangan dalam memosisikan dan memaknai subjektivitas mereka. Alat musik yang berasal dari Barat, biola, dibawa masuk ke dalam dunia lokal, ke dalam gandrung dan, selanjutnya, ke dalam angklung. Kesadaran apropriatif ini tentu tidak lepas dari cultural encountering dengan estetika Barat melalui proses kolonial. Bahkan, bahola diposisikan dominan, “hang mimpin gendhing”, dalam komposisi gandrung dan angklung. Kalau dibaca secara kritis, di satu sisi ini menunjukkan realitas kuasa estetik Barat/kolonial/modern yang mempengaruhi selera estetik para seniman Using, sepertihalnya kuasa ekonomi-politik mereka. Di sisi lain, memasukkan biola ke dalam karya lokal merupakan siasat lentur untuk menyerap budaya dominan, tetapi tetap mengedepankan cara baca kritis-kreatif sesuai kepentingan untuk mendapatkan komposisi yang menarik, tanpa meninggalkan kesadaran lokal. Maka, dalam harmoni dengan alat-alat lain, bahola—juga triangle, kluncing—menyatu ke dalam bahasa dan ritme lokal yang menguntungkan para musisi dalam mengiringi pertunjukan tari berbasis gandrung.  

Gelaran angklung caruk antara angklung Alasmalang dan Pasinan, Singojuruh. Dok. Ikwan Setiawan.

Penjabaran lain yang menurut saya menarik dicermati adalah tuning frekuensi angklung (Hendratha, 2021: 35-55). Tradisi lisan tidak akan pernah mencatat partikularitas frekuensi bunyi yang dihasilkan masing-masing kelompok angklung. Selain membuktikan ketelitian dalam menuliskan laras, suguhan berupa gambar-gambar dari tuning frekuensi mengindikasikan bahwa perbedaan adalah ‘takdir kelisanan’ yang mengedepankan aspek rasa dalam berkarya. Perbedaan frekuensi dari masing-masing kelompok menegaskan bahwa dalam kesatuan nama angklung, sejatinya, terdapat perbedaan yang mengalir dan mengalun tanpa harus menjadi masalah serius. Alih-alih, perbedaan tersebut menjadi partikularitas estetik yang menjadi karakteristik masing-masing kelompok dan meramaikan perjumpaan-perjumpaan dalam angklung caruk. Peta konseptual “kemenyatuan dalam keberbedaan” menggerakkan budaya angklung yang menyebar di kantong-kantong Using di Banyuwangi. Bahkan, kehadiran laras angklung anyar sebagai respons terhadap tradisi garap nyanyi untuk mengakomodasi penyanyi yang tidak biasa dengan nada melengking ala gandrung serta kebutuhan para musisi muda untuk mengkolaborasikannya dengan alat-alat musik modern tidak menimbulkan masalah terlalu serius. Prinsip merespons kebutuhan yang berkembang dan bersifat kontekstual, menjadikan kehadiran laras ataupun bentuk baru angklung bisa mengisi ruang-ruang geo-kultural Banyuwangi, bahkan meluas sampai kawasan-kawasan lain.

Kemampuan Membaca Zaman: Dari Urusan Politik hingga Industri Rekaman

Perjalanan dari angklung paglak ke angklung Bali-balian, caruk, dwi laras, daerah, pengiring tari kreasi hingga angklung anyar, bukanlah sekedar peristiwa kronologis-historis yang menandai pergantian era (Hendartha, 2021:  57-124). Lebih dari itu, perubahan demi perubahan yang berlangsung menandakan kemampuan para seniman membaca zaman yang ditandai dengan kesiapan untuk mengubah komposisi alat musik hingga laras. Pada masa awal, angklung paglak hanya terdiri atas angkung yang dimainkan di atas paglak, tempat duduk di ketinggian, baik di pinggir sawah maupun di depan rumah, yang disangga tiang bambu. Ini sesuai dengan tradisi dan kondisi kehidupan agraris yang cukup sederhana dan banyak waktu senggang. Masuknya elemen gamelan saron, selentem, peking, gong, kendang, dan lain-lain, seperti angklung Bali  sehingga angklung Banyuwangi sering disebut tabuhan atau angklung Bali-Balihan. Sebagian pihak mengatakan karena pengaruh Mataram Jawa Tengah. Apakah ini semata-mata meniru? Tentu tidak. Peniruan yang berlangsung adalah moda kreativitas untuk menyiasati hegemoni kerajaan-kerajaan Bali seperti Buleleng dan Mengwi serta Mataram Islam. Bisa dikatakan, ada kepentingan politik dalam siasat estetik penambangan gamelan dan alat-alat lain dalam komposisi angklung Bali-balian.

Kang Elvin dan moderator Rosdi Bachtiar dalam acara diskusi buku Angklung. Dok. Ikwan Setiawan.

Lahirnya angklung dwilaras—penggabungan alat-alat berlaras pelog dan slendro dalam satu komposisi—pada tahun 1960-an merupakan respons terhadap ketenaran angklung yang dikelola Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang cukup terkenal di Banyuwangi (Hendartha, 2021: 94-96). Tema tembang angklung dwilaras yang berafiliasi ke Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) difokuskan pada kebangsaan, sedangkan tema anklung Lekra bertema kerakyatan. Kehebatan para seniman dan sastrawan yang berafiliasi ke Lekra dalam menciptakan karya lagu berbasis musik angklung memang tidak perlu diragukan lagi. Muhammad Arif dan kawan-kawannya memang cukup lihai dalam menciptakan lagu bertema masalah rakyat kecil dan merespons alam dengan alunan musik angklung.

Dwilaras merupakan counter-culture yang dilakukan LKN berdimensi politik. Terlepas dari pihak-pihak yang tidak suka dengan masuknya kesenian ke dalam tegangan politiko-ideologis dengan alasan bisa merugikan para seniman dan kesenian mereka, realitas angklung dwilaras menunjukkan bahwa para seniman bisa mengembangkan kreastivitas berbasis lokalitas yang diselimuti kepentingan politik sekaligus memperkaya eksistensi kesenian dan budaya dalam masyarakat. Sejatinya, di antara para seniman yang ‘berbeda secara kreatif’ tersebut tidak pernah terlalu mempermasalahkan perbedaan ideologi partai. Politik bagi mereka adalah spirit untuk membuat karya-karya yang berkontribusi terhadap perkembangan budaya Banyuwangi.

Peserta diskusi buku Angklung. Dok. Ikwan Setiawan

Ketika rezim Orde Baru di Pemkab Banyuwangi melalui Bupati Djoko Supaat Slamet mengumpulkan kembali para seniman angklung untuk membentuk apa yang kemudian terkenal dengan angklung daerah, alasan the end of ideology menempatkan kesenian ini tidak boleh lagi dibawa ke ranah politik dukung-mendukung partai politik (Hendratha, 2021: 96-101). Meskipun terlihat mengedepankan netralitas dan kreativitas seniman, sampai-sampai Presiden Suharto dan Ibu Tien kesengsem, bukan berarti angklung daerah tidak lagi membawa kepentingan politik. Sebaliknya, kepentingan politik rezim Orde Baru adalah membawa kesenian Blambangan untuk tidak terlibat politik. Ketidakterlibatan ini perlahan-lahan menjadikan seniman aktif dalam ranah pengembangan kreativitas musikal, tetapi minim kekritisan tematik tembang dalam memahami persoalan-persoalan yang berlangsung dalam masyarakat, seperti kemiskinan dan ketidakadilan. Pada tahapan inilah kita bisa menyaksikan deideologisasi, sebuah usaha untuk mengebiri keberanian para seniman angklung dalam mengekspresikan ide-ide kritis mereka dengan alasan pengaruh ideologi tertentu—utamanya yang Kiri—bisa menjadikan kreativitas seni dimobilisasi dan merugikan seniman. Para seniman pun masuk ke dalam industri rekaman yang digerakkan oleh kepentingan Negara.

Pada perkembangan berikutnya, para seniman angklung—melanjutkan keterlibatan mereka dalam industri rekaman—juga menggarap komposisi yang direkam untuk kepentingan tari garapan (Hendartha, 2021: 103-119). Ini menandai babak baru kolaborasi musisi angklung dengan para koreografer Banyuwangi. Meskipun demikian, yang muncul di cover kaset biasanya adalah nama koreografernya, bukan para musisinya. Dalam hal ini, para musisi masih menempati posisi subordinat karena tujuan dijualnya kaset-kaset tersebut adalah untuk para pelajar atau siswa sanggar yang belajar tari, sehingga nama koreografer lebih menjanjikan secara ekonomis. Larut dalam musik pengiring tari menjadikan musik angklung Banyuwangi tidak banyak menelorkan karya-karya lagu yang benar-benar populer di masyarakat. Angklung, perlahan-lahan, kalah pamor dengan kendang kempul, sebuah genre musik lokal yang menyerap ketenaran dangdut dengan menekankan beat pada kendang dan gamelan kempul.

Letupan kreatif dan kritis dari angklung Banyuwangi baru muncul pada tahun 2002, ketika sekelompok seniman muda membentuk POB (Patrol Opera Banyuwangi) mengkolaborasikan angklung dan gamelan dengan instrumen musik modern. Angklung dan gamelan pun disesuaikan dengan kepentingan suara para penyanyinya ketika proses mastering. Meskipun, pada awalnya, mendapatkan ejekan sebagai musik yang kurang bermutu, kehadiran POB mampu memberikan warna tersendiri dalam industri musik Banyuwangi yang keluar dasri pakem kendang kempul. Apa yang harus diapresiasi dari lagu-lagu POB adalah keberanian mereka untuk menghadirkan lagu-lagu berdimensi kritis untuk menggugah kesadaran sosial, politik, dan historis masyarakat. Lagu seperti Layangan mengingatkan akan pentingnya untuk menjaga toleransi meskipun berbeda pilihan politik. Sementara, lagu Tetese Eluh menceritakan kesedihan akibat tragedi politik, seperti G 30 S yang menelan banyak korban di Banyuwangi dan di wilayah-wilayah lain. Keberanian untuk ekpslorasi garapan musikal dan lagu merupakan kekuatan dan energi yang sudah semestinya dipelihara oleh para seniman muda, agar mereka tidak hanya terjebak ke dalam isu-isu meloisme.

Tantangan Kreativitas

Sebagai kesenian yang terbuka, dinamis, dan lentur, sebenarnya banyak hal yang bisa dieksplorasi menjadi garapan inovatif yang bisa menyentuh hasrat estetik kaum muda. Katakanlah angklung caruk yang dikupas secara detil dalam buku ini. Pertunjukan battle antara dua kelompok angklung ini memiliki kualitas estetik yang cukup rancak, dengan kapasitas dan kemampuan musikalitas yang cukup mumpuni. Memang dalam angklung caruka ada kompetisi kreatif antarkelompok, tetapi itupun bisa dikemas menjadi suguhan menarik. Tentu saja ini membutuhkan positioning yang jelas, agar para seniman muda tidak sekedar menunggu job dari dinas-dinas terkait, tidak sekedar larut dalam beragam karnaval dan festival.

Sejatinya, apa yang diberikan buku ini adalah sebuah dokumen berisi data base yang luar biasa. Dari dokumen inilah para seniman muda bisa mendesain dan membuat komposisi musikal dan tembang yang disesuaikan dengan selera anak-anak masa kini. Saya seringkali merasa miris dan sedih ketika menjumpai even-even musikal di Banyuwangi yang mendatangkan musisi nasional dengan label kolaborasi, sedangkan di tlatah ini terdapat kekayaan musikal yang bisa dijadikan komposisi-komposisi dahsyat yang tidak kalah hebatnya. Saya tidak mengatakan bahwa even-even musikal yang mendatangkan usisi nasional tidak perlu dilakukan, tetapi setidaknya ada kesadaran bersama untuk mentransformasi musik Banyuwangi ke dalam pertunjukan-pertunjukan musikal masa kini. Komposisi rancak dan dinamis angklung bisa dikembangkan menjadi semacam orkestra lokal yang digelar di tempat-tempat terbuka, di dusun-dusun, di rumah-rumah adat/budaya.

Para seniman muda Banyuwangi bisa mengawalinya. Alih-alih menunggu dilibatkan dalam ajang Banyuwangi Festival, akan lebih baik kalau para seniman muda membuat ajang musikal yang bisa dikolaborasikan dengan tari garapan. Mereka bisa memainkan komposisi angklung yang bersifat pakem dan karya kolaboratif dengan instrumen musik modern yang lebih variatif. Jadi, ada dua komposisi. Model ini sekaligus menjadi pembelajaran buat penonton, khususnya anak-anak dan generasi muda, bahwa ekpslorasi musikal apapun, kalau berbasis pada beragam pakem angklung yang ada bisa menghasilkan garapan-garapan baru yang tidak melupakan karakteristik lokalnya. Tidak ada salahnya pula, garapan-garapan baru tersebut diunggah di new media untuk memperluas jangkauan penikmat, sekaligus membuat mereka penasaran dan akhirnya mau datang ke Banyuwangi untuk menikmati pertunjukan secara langsung.

Generasi muda, MC dan musisi angklung, dalam pembukaan peluncuran buku Angklung. Dok. Ikwan Setiawan.

Karnavalisasi dan festivalisasi yang menjadi trend industri pariwisata Banyuwangi menghadirkan banyak perubahan dan klaim-klaim kemajuan dalam kehidupan masyarakat dan pelaku budaya. Namun, apa yang pasti dari beragam karnaval dan festival tersebut adalah semakin menguatnya rezim pariwisata yang mempertemukan hasrat ekonomi politik pemimpin yang berkuasa dan kelompok pemodal besar (Setiawan & Subaharianto, 2019, 2020a, 2020b; Setiawan, Tallapessy, & Subaharianto, 2017a, 2017b). Dalam kondisi demikian, semua karnaval dan festival diarahkan untuk menarik kehadiran wisatawan. Menjadi wajar kalau yang disuguhkan kemudian adalah tampilan yang bersifat glamor. Dan, keragaman budaya lokal yang masih dilakoni di masyarakat hanya menjadi pewarna bibir agar pemerintah dianggap sudah memajukan budaya.

Para seniman muda, khususnya mereka yang sudah bejalar musik dan tari lokal, harus mengambil sikap eksistensial: larut dan hanya menjadi penggembira dalam festival dan karnaval atau mendesain dan membuat program-proram terpola untuk menghadirkan kekayaan kesenian tanpa mengabaikan pengembangan di tingkat bawah. Membuat even-even kolaborasi dengan menggandeng berbagai pihak bisa menjadi pilihan. Selain itu, mereka juga bisa mengisi rumah-rumah adat dengan aktivitas musikal-tari secara rutin. Tujuannya, agar ketika ada penonton dari luar daerah mereka bisa menikmatinya. Pilihan-pilihan itu akan menjadi budaya tanding dari model selebrasi yang ditawarkan pemerintah. Ini perlu dilakukan agar masyarakat Banyuwangi semakin sadar bahwa kekayaan budaya mereka tidak harus dinikmati dalam glamornya fashion show, tetapi dalam rancak dan variatifnya kesenian-kesenian lokal yang dikemas secara kreatif oleh para pelaku bersama-sama warga.  

Menangkap Pesan Bambu: Tanggung Jawab Ekologis-Kultural

Meskipun Elvin tidak membahas bagaimana harusnya kita menempatkan angklung dalam kerangka besar “budaya bambu”—segala bentuk kearifan lokal terkait bambu dan segala pernik budaya material berbahan bambu—yang tidak bisa dilepaskan dari kondisi geografis Banyuwangi. Kalau budaya diposisikan sebagai respons terhadap kehidupan dan kondisi lingkungan, maka kita bisa mengatakan bahwa angklung merupakan karya kultural yang lahir dalam tradisi agraris di tengah-tengah kemelimpahan bambu. Itulah mengapa angklung paglak—menjadi momen relaksasi di pinggir sawah atau di depan rumah dengan menempatkan bambu tidak hanya sebagai tabung-tabung musikal, tetapi juga tiang penyangga paglak, selain sebagai bahan material rumah. Keterhubungan manusia dengan bambu adalah wujud relasi  ekologis-kultural yang menempatkan manusia pada poros pengguna yang sudah semestinya juga menjadi poros pelestari. Artinya, kita sejatinya tidak harus memisahkan “yang kultural” dan “yang ekologis” karena keduanya bisa mengisi dan mendinamisasi kehidupan manusia dan masyarakat.

Apa yang perlu dilakukan kemudian adalah merevitalisasi tema garapan musik dan tembang dalam angklung Banyuwangi. Tentu kita perlu membaca-kembali perjalanan dan catatan kreatif para seniman masa lalu yang mendedikasikan pikiran dan batin mereka untuk menciptakan karya yang mampu menembus struktur perasaan warga, memaknai permasalahan hidup, dan menyatu dalam ritme alam yang menarik. Kita tidak perlu takut dikatakan larut dalam nostalgia masa lalu. Kalau masa lalu bagus dan bisa ditransformasi ke dalam masa kini, kenapa tidak? Kepekaan tematik dalam tembang bisa diarahkan kepada beragam permasalahan yang dihadapi masyarakat Using ataupun masyarakat Banyuwangi secara umum dari bermacam etnis. Tidak harus selalu masalah yang besar, tetapi bisa berangkat dari masalah-masalah kecil dari keluarga, tetangga, sekolah, kantor, dan yang lain. Yang tidak kalah pentingnya adalah penyikapan kritis-kreatif terhadap masalah-masalah penggusuran lahan petani, pertambangan, dan pariwisata yang berpotensi merugikan rakyat kebanyakan. Bukankah itu hakekat angklung sebagai kesenian proletar?

Para seniman muda dari Angklung Ki Ageng Joyo Karyo bersiap membuka acara peluncuran buku Angklung. Dok. Ikwan Setiawan.

Keterlibatan tematik terhadap isu-isu kerakyatan dan lingkungan, setidaknya, bisa menjadikan angklung sebagai subjek yang merepresentasikan tanggung jawab ekologis-kultural. Tanggung jawab ini, anggaplah bisa ditempatkan sebagai ‘misi profetik’ para seniman angklung dalam menghadapi bermacam permasalahan serta dalam menempatkan diri mereka untuk kembali peka dengan garapan kreatif. Jadi, kombinasi estetik antara keberanian inovatif untuk mentransformasi angklung ke dalam gaya atau performance aktual dan revitalisasi tema bisa diharapkan menjadi starting point untuk terus membawa kesenian ini ke dalam medan dan perjuangan hidup manusia-manusia keturunan Blambangan secara asyik dan dinamis. Keberanian untuk mengambil sikap dalam berkarya bukanlah bentuk politik praktis, tetapi keberpihakan politis dalam konteks perjuangan kemanusiaan, kerakyatan, dan ekologis. Dalam demikian, angklung Banyuwangi bisa ditempatkan sebagai kesenian ekologis (ecological art)yang berdaya-guna.   

Beberapa Catatan Simpulan

Terlalu banyak yang bisa dituliskan terkait buku ini. Para pembaca memiliki banyak pilihan angle untuk membacanya, baik dari aspek komposisi musikal maupun sejarah perkembangannya yang cukup dinamis. Saya sendiri mencatat beberapa hal yang mungkin bisa diperdalam lagi oleh Elvin seandainya akan mencetak edisi kedua buku ini. Pertama, menjernihkan persoalan stigmatisasi yang dialami para seniman angklung yang berafiliasi ke dalam Lekra. Mereka memang berpihak secara politik, tetapi tidak sepatutnya pemerintah dan  masyarakat tetap memelihara stigma kepada kiprah dan kontribusi para seniman dan kesenian yang pernah berafiliasi ke Lekra. Bagaimanapun juga, Muhammad Arif dan seniman yang berafiliasi ke Lekra telah memperjuangkan budaya Blambangan secara ideologis dan praksis dan itu adalah kontribusi yang luar biasa. Kalaupun mereka memilih lembaga kebudayaan yang berafiliasi ke PKI, tentu kita harus melihat konteks zaman di mana para seniman yang lain pun berafiliasi ke dalam lembaga kebudaya yang menjadi underbow partai politik lainnya. Sudah saatnya, generasi muda Banyuwangi mendapatkan informasi yang lebih jernih terkait para pendekar angklung itu.

Kedua, mengungkap lebih jauh kehidupan dan kreativitas para seniman pembuat angklung yang berkontribusi terhadap kehidupan budaya angklung di Banyuwangi. Teknik-teknik pembuatan, meskipun akan sulit, bisa diuraikan dilengkapi dengan gambar-gambar agar memudahkan pemahaman. Permasalahan hidup yang mereka alami dan bagaimana mereka mempertahankan kecintaan dalam membuat angklung, meskipun perhatian dari pemerintah sangat kurang—untuk mengatakan tidak ada. Bagaimanapun juga, para seniman pembuat itu adalah subjek-subjek kreatif yang tidak bisa lepas dari permasalahan dan siasat. Paparan akan proses kreatif dan kehidupan mereka akan menjadi warna tersendiri yang bisa memperkaya buku Angklung.

Akhirnya, izinkan saya untuk, sekali lagi—tanpa bosan, mengucapkan selamat atas terbitnya Anklung, Tabung Musik Blambangan. Buku ini adalah karya akademis yang memproduksi banyak wacana kalau kita jeli membacanya. Elvin, memang tidak bicara tentang pernik-pernik permasalahan politik lebih lanjut, tetapi ia memberikan banyak penanda bahwa realitas politik sejatinya tidak bisa dilepaskan dari perjalanan historis angklung. Bagi saya, buku ini akan menjadi semangat dan energi untuk terus mewacanakan dan menggerakkan kesenian rakyat yang benar-benar tumbuh dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat beserta kemungkinan-kemungkinan transformasinya kedalam garapan masa kini tanpa meninggalkan keberpihakan tematik. Elvin menggunakan istilah “Blambangan” dalam judul bukunya alih-alih “Banyuwangi”. Menurut saya, itu adalah penanda bahwa angklung bisa menjadi energi besar untuk merespons secara kritis dan resisten kekuatan-kekuatan dominan dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya yang berpotensi memarjinalkan kehidupan dan budaya rakyat serta merusak lingkungan alam dan ruang hidup masyarakat, sepertihalnya ditunjukkan oleh para pemimpin Kerajaan Blambangan yang telah dengan gagah dan berani melawan kekuatan-kekuatan dominan di masa lalu.  

Rujukan

Bhabha, Homi. 1994. The Location of Culture. New York: Routledge.

Hendartha, Elvin. 2021. Angklung, Tabung Musik Blambangan. Banyuwangi: Sengker Kuwung Blambangan.

Ong, Walter J.. 2002.  Orality and Literacy The Technologizing of the Word. London: Routledge.

Setiawan, I., & Subaharianto, A. (2019). Never-ending Local Beauty: Neo-Exoticism in Tourism Activities and Online Media Narratives. Proceedings ofthe 3rd International Conference on Art, Language, and Culture 2018. doi: https://doi.org/10.2991/icalc-18.2019.28.   

Setiawan, I., & Subaharianto, A. (2020). Neo-Exoticism as Indonesian Regional Government’s Formula for Developing Ethnic Arts: Concept, Practice, and Criticism. Proceedings of the 4th International Conference on Arts Language and Culture (ICALC 2019). doi: https://doi.org/10.2991/assehr.k.200323.020.

Setiawan, I., Tallapessy, A., & Subaharianto, A. (2017a). The Mobilization of Using Cultures and Local Governments’ Political Economy Goals in Post-Reformation Banyuwangi. Humaniora, 29(1): 12-23.

Setiawan, I., Tallapessy, A., & Subaharianto, A. (2017b). Exertion of Cultures and Hegemonic Power in Banyuwangi: The Midst of Postmodern Trends. Karsa, 25(1): 147-178.

Catatan akhir

[1] Ini pula yang menjadi impian seniman, etnomusikolog, dan budayawan besar, Sahunik, sebelum menghembuskan nafas. Dalam banyak perbincangan, Sahunik sering mengatakan kepada saya: “Banyak kesenian di Banyuwangi, macem-macem, tapi yang mau menulisnya, dari urusan bentuk, pakem, dan keragamannya, masih belum ada. Saya berharap suatu saat ada yang mau melakukannya.”

About Ikwan Setiawan 213 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*