Mbok DARIAH, Laku Budaya Seorang Lengger Lanang: Sebuah Pesona dan Cinta Penggemar Lelaki

Dariah, 86 tahun, maestro Lengger Lanang asal Desa Somakaton Kecamatan Somagede Banyumas menari dalam rangka napak tilas perjalanan hidupnya, Rabu (19/2). Dariah adalah laki-laki yang memilih menjadi perempuan demi kecintaannya terhadap kesenian lengger. Saat ini tinggal segelintir laki-laki yang mau terjun menjadi penari lengger. (Aris Andrianto/Tempo)

HUSNUN NADHIROH

Mbok Dariah dan Kembalinya Dunia Lengger Banyumasan

Tari lengger merupakan salah satu tari yang sudah ada sebelum kolonialisme datang di Indonesia. Tari lengger bergenre hampir sama dengan ronggeng dan tayub. Tari rakyat seperti lengger, ronggeng dan tayub merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun karena pada mulanya merupakan salah satu bentuk ritual kesuburan. Tradisi dapat rusak atau hancur bila pewarisnya tidak lagi menjalankan dan menggelarnya. Entah dengan cara dan dalam bentuk apapun, karena hanya dengan dipraktikkan maka tradisi itu diberi kehidupan di masa kini.[3]

Sama halnya di Desa Somakaton Kecamatan Somagede, lengger di tempat ini sempat vakum sekitar tahun 1920. Kevakuman ini dikarenakan Lengger Sendur telah meninggal. Lengger Sendur adalah seorang lengger yang telah mewarnai tradisi dan kesenian lengger di Somakaton. Sepeninggal Lengger Sendur masyarakat Somakaton belum menemukan sosok orang yang dipercaya menjadi titisan lengger sebelumnya untuk dijadikan lengger berikutnya. Menurut mitos masyarakat Banyumas, seseorang dapat menjadi lengger yang seutuhnya jika ia memperoleh indhang lengger. Indhang lengger tidak bisa dilihat wujudnya, tetapi dapat disadari keberadaannya. Indang lengger ini juga muncul dalam diri Sadam dan menjadi salah satu dorongannya untuk menjadi lengger pada tahun 1942.

Pada tahun 1942 Sadam, calon lengger lanang, sudah mulai melakukan beberapa ritual pra-lengger, sebelum akhirnya resmi menjadi lengger dua tahun kemudian yakni tahun 1944. Keputusan Sadam untuk melengger selain dipengaruhi oleh indhang lengger yang ada di dalam tubuhnya, juga dikarenakan keinginan yang ada di dalam dirinya.

Sadam berkeinginan untuk melanjutkan dan menumbuhkan kembali kesenian tradisi leluhur yang dianggap sebagai nafas kehidupan masyarakat di lingkungan kehidupan lengger yang dahulu pernah mewarnai desanya. Semula Sadam mengenal lengger seperti mitos dari masyarakat yang dianggap benar adanya. Mempercayai mitos tersebut menimbulkan rasa penasaran dan keingintahuan Sadam terhadap lengger.

Bayangan untuk menjadi seseorang yang dihormati, dipuji, dan diagungkan melalui sosok penari juga diharapkan oleh Sadam. Keinginan untuk diagungkan itu merupakan hakikat manusia yang merupakan  makhluk bebas dan bermartabat yang selalu bergerak untuk mengungkapkan eksistensinya. Wajar jika Sadam berusaha keras untuk menjadi lengger dengan maksud ingin terkenal karena hal itu dirasakan Sadam sebagai kebebasan dari jiwanya.  

Keinginan dan tekad yang dimiliki Sadam menumbuhkan kekuatan pada diri Sadam untuk mewujudkan keinginannya. Sadam berharap  derajat kehidupannya dapat terangkat dalam pandangan masyarakat melalui bakat yang ia miliki, yaitu menari dan menyanyi. Ditambah lagi dengan permasalahan ekonomi yang membelit keluarganya sehingga mendorong Sadam untuk melengger demi memenuhi kehidupan sehari-harinya.     

Dariah, 86 tahun, maestro Lengger Lanang asal Desa Somakaton Kecamatan Somagede Banyumas menari dalam rangka napak tilas perjalanan hidupnya, Rabu (19/2). Dariah adalah laki-laki yang memilih menjadi perempuan demi kecintaannya terhadap kesenian lengger. Saat ini tinggal segelintir laki-laki yang mau terjun menjadi penari lengger. (Aris Andrianto/Tempo)

Seiring ketekunan Sadam dalam dunia lengger, membawa namanya kian terkenal sampai ke luar daerahnya. Tidak sedikit dari masyarakat yang mengagumi dan mengidolakan sosok Sadam, bahkan kecantikannya saat melengger dianggap luar biasa sampai membuat penonton tergila-gila. Perawakannya yang tinggi, langsing dan kulitnya yang kuning bersih menjadi daya tarik tertentu untuk membius para penontonnya. Setiap pukul 4 sore, para penggemarnya sudah berkumpul menanti senja untuk bertemu dan melihat pertunjukan Sadam.[4] Lengger yang dibawakan oleh Sadam menjadi hiburan yang digemari oleh masyarakat pada saat itu.

Bersama dengan ketenarannya sebagai lengger lanang di Desa Somakaton pada tahun 1944, Sadam akhirnya mengganti namanya menjadi Dariah. Nama Dariah dipilih sendiri oleh Sadam dengan maksud semata-mata sebagai nama panggungnya. Ada kemungkinan jika Sadam memang tertarik dengan nama Dariah tersebut didasari pada nilai rasa tentang suasana batin yang gembira dan dinamis sesuai dengan penampilan fisiknya saat tampil di panggung.[5] Berkat kecantikan dan kemolekannya, Sadam yang telah berubah menjadi Dariah mulai merasakan kenyamanan dengan berbalut busana wanita dan bersikap selayaknya wanita. Di masa tuanya, Dariah tetap dipanggil dengan julukan perempuan yakni sebutan “Mbok” dan bukan “Kaki”.

Totalitas yang diberikan Mbok Dariah dari awal mula me-lengger hingga di masa tuanya yang terlihat seperti lancar saja, bukan berarti telah berjalan tanpa kendala. Sebagai seseorang yang memeluk kejawen secara turun temurun dari Kramaleksana kakeknya,[6] Mbok Dariah meyakini bahwa kepercayaan para leluhur masih melekat erat dalam kehidupannya maupun masyarakatnya. Mbok Dariah adalah seorang penganut kejawen yang kuat, karena dalam diri seorang kejawen tidak bisa menganut agama pemerintah sebelum kejawennya kuat, sehingga tidak salah jika konsep kehidupannya diambil dari konsep-konsep kejawen.[7] 

Konsep nyawiji[8] digunakan Mbok Dariah untuk mendalami karakter perempuannya. Manusia yang menggunakan konsep tersebut dengan baik maka akan menjadi sempurna, itulah yang diyakini Mbok Dariah. Hampir sama dengan yang ada dalam salah satu unsur tari yakni wirasa, adalah merasakan jiwa tokoh yang diperankan dalam tarian dan berusaha memasuki karakternya.

Totalitas menjadi lengger bagi Mbok Dariah adalah keharusan demi memberikan kepuasan kepada penonton, para leluhur dan sang pencipta. Berbeda saat dikaitkan dengan struktur masyarakat yang sudah mengenal agama. Besar kemungkinan Mbok Dariah tidak dapat bertahan hidup lama, karena agama hanya mengenal adam dan hawa. Pada saat itu banyak kecaman yang datang kepada Mbok Dariah.[9]

Mayoritas masyarakat yang tidak menyukai Mbok Dariah berasal dari kaum perempuan. Terutama perempuan yang suaminya yang tertarik kepada Mbok Dariah bahkan dapat memberikan semua yang Mbok Dariah mau. Cemoohan dan hinaan datang kepada Mbok Dariah seiring dengan banyaknya laki-laki yang terarik dan berujung menginap di rumah Mbok Dariah.

Masyarakat menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Mbok Dariah merupakan penyimpangan sosial, seperti sebagian masyarakat Desa Plana, desa tempat tinggal Mbok Dariah. Bagi sebagian masyarakat Desa Plana lengger lanang seperti yang digeluti oleh Mbok Dariah merupakan hal yang negatif karena dianggap menyimpang dari kodrat hakikinya. Jangankan lengger lanang, bahkan lengger wadon pun sudah sangat jarang ditarikan di Desa Plana. Para siswi yang diberikan kesempatan untuk menari lengger merasa malu jika harus melengger, apalagi jika sudah memasuki masa remaja.[10] Mereka lebih memilih menolak dari pada harus dipandang negatif oleh masyarakat.[11] Dapat dilihat bagaimana beban yang dirasakan Mbok Dariah semenjak ia me-lengger. Jika keyakinan dan keteguhan Mbok Dariah tidak kuat maka sudah dapat dipastikan Mbok Dariah tidak akan bertahan. Beruntung sekali karena Mbok Dariah memiliki keluarga dan orang-orang yang bergelut dengan kesenian dan tetap perduli dengan apa yang Mbok Dariah yakini serta perjuangkan.

Sebagai pegangan bagi spiritualnya Mbok Dariah memiliki mantra dan jimat yang digunakan untuk melakukan ritual khusus setiap sebelum melakukan pementasan. Jimat yang menjadi pegangan Mbok Dariah adalah batu berbentuk kelamin laki-laki. Batu tersebut didapatkan Mbok Dariah dari Petilasan Sela Kursi yang berada di pinggir Sungai Serayu di Desa Somakaton Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas. Sela Kursi adalah salah satu tempat yang dijadikan Mbok Dariah untuk menenangkan diri dengan memanjatkan doa-doa. Selain sebagai alat pengasih, bagi Mbok Dariah batu jimat tersebut juga memberikan energi tertentu kepadanya saat melengger, begitupun dengan mantra-mantranya.

Mantra yang digunakan Mbok Dariah digunakan untuk pelindung atribut yang dipakainya. Pernak-pernik, kostum dan make up, dan gelung yang digunakan Mbok Dariah memiliki mantranya sendiri-sendiri. Mantra-mantra tersebut dimaksudkan agar saat tampil melengger Mbok Dariah dapat percaya diri dan memancarkan aura positif yang memikat para penggermarnya. Aura positif itu terwujud bisa disebabkan oleh kharisma yang dikeluarkan oleh Mbok Dariah sangat kuat. Kharisma yang kuat berasal dari spiritual yang ditekuni oleh orang tersebut.

Gerakan lengger yang dinamis dan memiliki tempo cepat dan tegas tetapi tetap anggun dalam pembawaannya menjadi daya tarik yang kuat kepada para penonton. Berbalut pakaian layaknya busana tari gambyong yakni kemben dan jarit jawa tetapi menari dengan tempo yang cepat menumbuhkan kesan sensasional dari penari kepada penonton. Tidak salah jika penggemar Mbok Dariah kebanyakan laki-laki, baik yang muda maupun tua. Terlebih lagi Mbok Dariah sangat lihai dalam memanfaatkan kepiawaiannya untuk memikat para penonton, sesekali jika ada yang ingin menari bersama. Pesona seorang penari dapat terwujud saat ia mampu berkomunikasi dengan penonton melalui setiap gerakan tarinya.

Pesona Mbok Dariah dalam menari tidak dapat dipungkiri lagi, dibuktikan dengan banyaknya penggemar yang mengagumi baik perempuan maupun laki-laki. Sebagai seorang penari transgender sangat mengagumkan bila sosok Mbok Dariah dapat menari dengan luwes dan lugas layaknya perempuan tulen. Belum lagi daya tarik dalam segi ritual yang terbilang cukup kuat dan memberikan pengaruh baik dalam karirnya di dunia lengger. Konsistensi Mbok Dariah terhadap lengger dengan ritual kejawennya ini memunculkan kekaguman dari penari salah satu penari transgender terkenal dari Yogyakarta, Didi Nini Thowok.[12]  

Didi Nini Thowok bersama Mbik DARIAH.
Sumber: https://purwokertokita.com/rehat/begini-kesan-didik-nini-thowok-tentang-dariah.php

Didi Nini Thowok koreografer yang terkenal dengan tarian topeng dua arah (depan dan belakang), juga pernah meminta mantra memakai brongsong gelung (konde) kepada Mbok Dariah sekitar tahun 2012.[13] Didi Nini Thowok adalah seorang Koreografer yang ada di Yogyakata dan sudah sering melakukan performa sampai ke luar negeri. Respon Didi Nini Thowok terhadap Mbok Dariah sampai ia meminta mantra memakai konde tarinya, memperlihatkan betapa Mbok Dariah memang memiliki kharisma yang luar biasa. Sebagai seorang Maestro Lengger lanang, Mbok Dariah memang patut dinantikan penampilannya. Didi menyatakan salut terhadap totalitas Mbok Dariah yang masih sangat terasa meski di usia senjanya.[14] Kekaguman Didi Nini Thowok kepada Mbok Dariah salah satunya dengan adanya permintaan dari Didi untuk belajar mantra memakai brongsong gelung yang digunakan Mbok Dariah. Berikut mantra tersebut

Brongsong Gelung

Sun niat gelung/Ndasku Gelung Gowar/Gelungku dadak angkrem/Wekasanku ora lanang/Akeh wong gelung ora pantes ora kewes/Isun dewek gelung katon pantes katon kewes/jelas e deleng salira isun gelung/katon asih katon kewes[15]

Mantra ini digunakan untuk memberikan energi mistis pada konde agar terlihat pantas digunakan oleh pemakainya dan berbeda dengan pemakai konde yang lain. Diharapkan bagi orang yang melihat penampilan seorang yang memakai konde tersebut dapat tertarik dan jatuh hati.

Terdapat juga beberapa mantra yang sering diminta oleh masyarakat sekitar kepada Mbok Dariah sebagai mantra pengasih dan sejenisnya. Beberapa di antaranya adalah Jaran Goyang dan Kijang Menjangan.

Jaran Goyang

(syaratnya harus membawa bunga merah sejodoh)

Tibakna gunung gugur/Tibakna segara asat/Tibakna ring sing dungkar/Tibakna atine si jabang bayi (sebut nama orang yang dituju)/Tepak edan ya wong edan/Tepak asih ya wong asih/Asih maring bajang saliraku

Mantra ini digunakan untuk meluluhkan hati seseorang yang dikehendaki. Terlihat jelas dari bait-bait kata mantra yang tercantum. Orang yang dituju akan langsung jatuh hati kepada si pembaca mantra, dan kemungkinan terburuk seseorang yang diberikan mantra jaran goyang akan gila jika tidak mendapat respon baik dari si pembaca mantra.

Kijang Menjangan

Agi turu gugahno/Agi njagong nyatno/Jujugna maring basan saliraku/Katon welas katon asih/Katon kewes katon james/Maring basan saliraku[16]

Mantra kijang menjangan penggunaan dan maksudnya tidak jauh berbeda dengan mantra jaran goyang, yakni untuk menarik hati seseorang.

“Mawar Di antara Kumbang-kumbang”

Mbok Dariah adalah lengger lanang yang lahir di Desa Somakaton. Kemunculan Mbok Dariah pada tahun 1942 sebagai lengger lanang memberikan warna baru kepada masyarakat Somakaton setelah Lengger Sendur meninggal. Pada zaman dahulu, untuk menjadi semacam ronggeng atau lengger selain memiliki kemampuan juga harus dikuatkan dengan adanya indhang di dalam diriya, untuk meyakinkan masyarakat bahwa orang tersebuut mampu melengger. Hal-hal berbau mistis tersebut dapat meyakinkan masyarakat karena pada zaman dahulu masyarakat masih mempercayai perkara sejenis mitos.

Mbok DARIAH di antara para penggemar.
\Sumber: https://www.antarafoto.com/mudik/v1324520423/lengger-lanang

Ada beberapa syarat yang dilakukan Mbok Dariah sebelum menjadi lengger, seperti puasa mutih yaitu tidak makan apapun kecuali nasi putih sekepal dalam sehari, tiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon harus tidur di depan pintu rumah, dan mandi di tujuh sumur yang menghadap ke timur tepat di pertengahan malam.[17] Sumur menghadap ke timur disini adalah sumur yang letaknya di sebelah timur sehingga posisi mandi dari orang yang mandi nantinya menghadap ke arah barat.

Setelah semua persyaratan dilakukan, dan seorang calon lengger dianggap sudah siap menjadi lengger maka dipilihlah beberapa orang pemain musik untuk mengiringi lengger tersebut menari. Begitu pula dengan Mbok Dariah, Kramaleksana kakek dari Mbok Dariah memanggil beberapa orang tetangga yang bisa memainkan alat musik calung sebagai pengiring tari dan tembang dari Mbok Dariah untuk membuktikan bahwa Mbok Dariah memang bisa melengger dan memiliki indhang lengger di dalam dirinya. Untuk pertama kalinya Mbok Dariah diiringi dengan gamela ringgeng, sejenis bonang lemprek, dengan beberapa syair pangkur buatannya sendiri, yakni :

Na ne no ne no (diucapkan beberapa kali, karena belum tau tentang not dan lagu pangkur Jawa) kemudian ditutup dengan dua baris syair berikut

Ala bapak balung pakelAlok-alok huse[18]

Puncak ketenaran dicapai Mbok Dariah sekitar tahun 1944-1946 di usianya yang ke 23-25, bersama dengan kelompok seninya yang oleh Mbok Dariah dinamakan Somakaton Kulon atau Grup Ringgeng[19]. Beberapa personil kelompok seninya yaitu Kaki Wayut, Kaki Sawang, Kaki Nadesul, dan Kaki Wangsatarwan, yang kesemuanya adalah seniman ahli dalam bermain gamelan dan juga merupakan tetangga yang letak rumahnya tidak jauh dari rumah Mbok Dariah. Alasan personil kelompok seni yang dipilih keseluruhan merupakan tetangga sendiri adalah jarak tempat tinggal antar personil saling berdekatan sehingga jika ada pementasan atau latihan mendadak informasi yang disampaikan akan lebih cepat tersampaikan.

Pada masa kejayaan Mbok Dariah, wilayah yang menjadi langganan pementasan bersama kelompok seninya adalah di daerah Binangun Kulon, Kemawi, Bandar Klepen, Gemulung (dekat Sumpiuh), dan Kali Doli.[20] Mbok Dariah bahkan dapat dikatakan sering tampil di luar Kabupaten Banyumas yakni Kabupaten Banjarnegara tepatnya di kampung Blarak Desa Kemranggon Kecamatan Susukan. Banyaknya pembicaraan tentang Mbok Dariah terkait ketenaran sebagai penari lengger menjadi salah satu media atas luasnya jangkauan pementasan Mbok Dariah bersama grup seninya. Hasil dari percakapan beberapa orang yang puas dengan penampilan Mbok Dariah, merambah terus meluas hingga ke luar daerah mengantarkan Mbok Dariah semakin kondang, tidak hanya di wilayahnya sendiri. Melalui pementasannya, Mbok Dariah mampu menawarkan hiburan, sarana kesenangan, aktualisasi diri atau pernyataan jati diri.

Pementasan Mbok Dariah sendiri memiliki beberapa bagian yang selalu ada dan telah menjadi karakter dari tariannya. Pertama, menyajikan tari gambyongan dengan gerak tarian wetanan diiringi gendhing Idrang Pangkur Laras Slendra Pathet Sanga. Kedua, Tayuban yang disertai dengan gendhing Ayak-Ayak Laras Slendra Pathet Manyura dan Jineman Magelang untuk menghipnotis penonton agar ikut menari. Lagu yang menjadi khas dinyanyikan oleh Mbok Dariah beberapa liriknya sebagai berikut:

“sapa nyana, sapa nyana/Krungu lagu banyumasan/Wiwit kuna uwis ana/Lagune ra sepiraha/Egat egot egat egot egat ego/Jebule kaya wong gila”[21]

Pada perkembangannya tari lengger dalam pertunjukan mengalami pemangkasan waktu dari pertunjukan semalam suntuk menjadi berdurasi 5 jam dengan beberapa urutan tarian di dalamnya. Dimulai dari babak gambyongan, babak badutan, babak ebeg-ebegan (jathilan) dan babak baladewaan. Babak gambyongan adalah babak pembukaan dalam tari lengger Gambyongan ini menandakan keluwesan seorang wanita dengan gerakan lemah gemulai seperti tari gambyong pada umumnya. Babak badhutan merupakan babak selingan yang berisi lawakan oleh penari lengger, pembawa acara dan pemusik. Lawakan tersebut digunakan sebagai pemecah suasana agar tidak terlalu menegangkan dan monoton dengan tari-tarian saja. Babak ebeg-ebegan adalah babak yang ditarikan seperti tari kuda lumping. Penari dalam babak ini akan mengalami keadaan trance atau kesurupan yang menyimbolkan adanya kekuatan supranatural disekitar daerah tersebut. Babak baladhewaan merupakan babak tari yang dilakukan oleh penari lengger dengan berpakaian seperti laki-laki. Tari ini menyimbolkan permohonan untuk keselamatan bagi teman dan sahabat. Babak baladhewaan juga menjadi petunjuk berakhirnya pertunjukan lengger yang sedang berlangsung. 

Mbok Dariah dalam sebuah acara di TIM.
Sumber: https://www.antarafoto.com/mudik/v1324520423/lengger-lanang

Dibandingkan dengan lengger wadon, Mbok Dariah lebih menonjol. Kecantikan Mbok Dariah menjadikan banyak pria kesengsem kepadanya. Bukti ketenaran tersebut yang pertama, yaitu di manapun Mbok Dariah tampil para penggemar prianya selalu datang menyaksikan pementasannya.[22] Jika pada zaman dahulu belum banyak masyarakat yang memiliki kendaraan pribadi meski hanya sepeda ontel, bukan menjadi penghalang bagi para penggemar Mbok Dariah untuk mendatangi lokasi pementasannya. Kedua, hadirnya beberapa pria yang mendekati Mbok Dariah dan menggunakan berbagai alasan untuk bisa mendatangi rumahnya. Pernah suatu hari, beberapa pria mendatangi rumah Mbok Dariah dengan alasan pijat, tetapi sampai menginap beberapa hari. Salah satu dari mereka bernama Jeman, orang dari Desa Selanegara Kecamatan Sumpyuh Kabupaten Banyumas, ia menginap selama 3 hari di rumah Mbok Dariah.[23] Ketiga, kerelaan beberapa orang untuk memberikan hartanya kepada Mbok Dariah semata-mata untuk menyenangkannya, dan tidak sedikit juga yang membawa banyak uang untuk bisa tidur di sampingnya.

Bersamaan dengan eksistensi pementasan dan kejayaan Mbok Dariah bersama grup keseniannya, ia mulai banyak digandrungi oleh para penonton baik laki-laki maupun perempuan. Beberapa di antara laki-laki tersebut juga jatuh cinta kepada Mbok Dariah dan pernah memilih tinggal bersama atau menjalin hubungan samen leven. Para lelaki tersebut merupakan penggemar yang mengagumi Mbok Dariah sekaligus termasuk orang yang menopang biaya pementasan maupun biaya hidup Mbok Dariah. Mereka menopang biaya pementasan dengan menanggap Mbok Dariah, dan menopang biaya hidup Mbok Dariah saat mereka melakukan hubungan samen leven.

“Nyong ya sok gelem genthuwelan karo wong lanang, inyong ya dipojoki mbirengan” (saya ya kadang mau berhubungn badan dengan pria, saya ya diejek juga).[24] Mbok Dariah juga berhasil menaklukkan seorang pejabat dan  ia mengaku puas (dapat berhubungan dengan pria tersebut) karena pejabat itu yang pernah mengejeknya dimuka umum. Dilihat dari sisi tersebut dapat dibayangkan betapa mempesona sosok Mbok Dariah pada saat itu sehingga dapat mengubah perasaan benci seseorang menjadi rasa suka yang tidak biasa.

Menari bersama Didi Nini Thowok.
Sumber: https://www.antarafoto.com/bisnis/v1353046526/maestro-lengger-lanang

Beberapa laki-laki di antaranya lagi yaitu Kaki Sijem, Badri, Yasjemu dan Mukyani. Kaki Sijem yang begitu mencintai Mbok Dariah melebihi  mencintai istrinya, rela menjual sawah untuk membeli benda-benda berharga guna dipersembahkan kepada Mbok Dariah. Begitu juga Badri, ia rela menjual sapi miliknya agar dapat memberi apa yang menjadi keinginan Mbok Dariah. Badri bahkan memberikan pilihan kepada Mbok Dariah, ingin diberi emas, kalung atau rumah bagus sebagai hadiahnya.[25] Begitu pula dengan Mukyani, ia juga mengagumi sosok Mbok Dariah. Disertai ajakan teman-temannya akhirnya Mukyani ikut melihat pementasan Mbok Dariah dan tertarik untuk melakukan hubungan samen leven. Saat bersama Mbok Dariah, Mukyani bisa merasakan kasih sayang yang begitu tulus layaknya bersama wanita sungguhan. Ada pula seorang lurah asal Candinata, Kabupaten Purbalingga yang kedanan[26] kepada Mbok Dariah.[27] Setiap kali datang selalu naik kuda. Pada mulanya lurah tersebut tidak menyukai Mbok Dariah, tetapi saat Mbok Dariah mengeluarkan Tari Jaran Goyang, lurah tersebut mulai tertarik dengan Mbok Dariah bahkan bersedia mengantarkan pulang Mbok Dariah dengan menaiki kuda berdua.[28] Tindakan Mbok Dariah untuk menaklukkan sang lurah bisa jadi juga dipicu oleh rasa ingin balas dendam karena telah menjelekkan namanya di muka umum, sehingga muncullah inisiatif cara balas dendam melalui langkah yang demikian.

Pada diri para lelaki yang menyukai Mbok Dariah tidak ada yang merasa sedang disaingi atau tersaingi. Mereka akur bahkan jika bertemu saling bertegur sapa. Bagi mereka sosok Mbok Dariah saat itu adalah milik masyarakat yang berhak bagi siapapun menjaganya, menyukainya dan mengaguminya. Menerima laki-laki yang menyukainya bahkan yang memilih tinggal bersamanya bagi Mbok Dariah dianggap sebagai bentuk pengabdian kepada para penggemarnya, baik itu laki-laki atau perempuan.

Dari keseluruhan laki-laki yang menyukai Mbok Dariah atau pernah tinggal bersamanya, Mbok Dariah mengaku bersama Kaki Sijem yang dirasa benar-benar jatuh hati.[29] Semenjak laki-laki tersebut memutuskan untuk tidak lagi tinggal bersama Mbok Dariah keduanya tidak pernah lagi bertemu. Perpisahan ini menimbulkan penantian bagi Mbok Dariah.[30] Penantian itu yang mungkin juga menjadi salah satu faktor Mbok Dariah tidak menikah hingga diusia senjanya. Baginya besar kemungkinan penantian itu masih memberikan harapan akan pertemuan dengan seseorang yang dianggap kekasih sejatinya itu. 

Lengger dalam Balutan Seni Modern

Seni tari, memiliki dimensi artistik dan estetis di dalamnya. Dimensi artistik berkaitan dengan teknik dan bentuk dari tari yang diciptakan, sedangkan dimensi estetis berhubungan dengan makna dan penilaian yang diberikan orang terhadap bentuk dan teknik tersebut. Tidak dapat dipungkiri jika dari zaman ke zaman tari mengalami perkembangan baik dari segi artistik maupun estetisnya. Seperti tari lengger yang mulanya sebagai ritus kesuburan kemudian berkembang menjadi tontonan dan hiburan. Segi gerak dan maknanya telah berubah disebabkan hasil proses dialektis antara kerja kreatif rakyat dengan konteks sosial-ekonomi-kultural mereka.   

Pada tahun 1945-1955 seni tari di Indonesia mengalami perkembangan baru yang masih terbatas pada teknik penyajian, yaitu dengan menyingkat waktu, memeras atau menyingkat cerita dan penyederhanaan.[31] Pada masa itu, tari lengger juga mengalami perubahan bentuk penyajian di dalam pertunjukannya. Tari lengger yang sudah menjadi hiburan biasanya ditanggap pada acara pernikahan, sunatan dan berbagai macam hajatan lainnya. Durasi waktu pertunjukan lengger pada mulanya bisa sampai semalam suntuk, kemudian mengalami “pemerasan” waktu sehingga sekali tampil hanya menghabiskan waktu sekitar 5 jam.

“Pemerasan” waktu pada pertunjukan tari lengger dimaksudkan untuk mempersingkat durasi tari yang dibawakan. Durasi waktu yang singkat dirasa lebih bisa memberikan pertunjukan yang optimal kepada masyarakat. Bersamaan dengan berkembangnya zaman, kegiatan masyarakat semakin banyak dan berfariasi, sehingga mayoritas tidak memiliki waktu untuk menikmati kesenian yang terlalu menghabiskan banyak waktu. Pertunjukan yang berdurasi  terlalu panjang juga dianggap bertele-tele dan membosankan, sehingga wajar jika akhirnya dilakukan pemerasan waktu pada pertunjukan lengger agar lebih laku dipasaran.  

Hadirnya kebijakan para seniman lengger untuk melakukan pemangkasan durasi pementasan lengger juga berpengaruh terhadap Mbok Dariah. Jika pada masa jaya Mbok Dariah sudah terbiasa melakukan pementasan semalam suntuk, sebab modernisasi ia akhirnya terbawa juga melakukan pementasan lengger dengan durasi 5 jam. Mbok Dariah tidak lagi tampil bersama dengan grup seninya sendiri, tetapi tampil dengan mengikuti grup seni tertentu yang mengajaknya, sehingga ia tidak bisa mengatur durasi pementasannya dan hanya mengikuti sesuai dengan arahan dari pemilik grup seni tersebut.

Lengger tersebar merata di seluruh wilayah eks-Karesidenan Banyumas. Wilayah eks-Karesidenan Banyumas pasti memiliki generasi lenggernya karena lengger merupakan tarian yang lahir di Banyumas, namun berbeda dengan  lengger lanang. Tidak semua wilayah di eks-Karesidenan Banyumas masih memiliki lengger lanang, terutama lengger lanang yang sudah lanjut usia dan tetap eksis di dunia kelenggeran. Ditahun 2013 penari lengger lanang hanya tertinggal Lengger Dariah dari Kabupaten Banyumas dan Lengger Manarwi (Lengger Unil) dari Purbalingga. Belum ada sumber yang menyatakan bahwa keduanya saling berhubungan meskipun sama-sama berprofesi sebagai penari lengger lanang. Jarak usia yang terpaut 20 tahun dan semakin renta serta perbedaan tempat tinggal yang sangat jauh dapat menjadi sebab keduanya tidak memiliki keterkaitan satu sama lain.

Lengger Unil di Purbalingga. Sumber: Gogon

Lengger Unil adalah sebutan untuk lengger lanang yang berasal dari Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, bernama Manarwi yang pada tahun 2014 berumur 83 tahun.[32] Lengger di Desa Panusupan ini masih berfungsi sebagai acara ritual kesuburan, sehingga Lengger Manarwi sering ditanggap oleh petani untuk manggung di tengah persawahan. Salah satu tempat yang menjadi panggung pementasan Manarwi adalah di tempat tanaman-tanaman padi milik petani yang diserang hama. Pementasan lengger ini digunakan sebagai sarana memohon kepada Yang Maha Kuasa agar kesulitan-kesulitan yang dialami bisa teratasi.[33]

Saat pertunjukan seni berfungsi sebagai tontonan dan hiburan, seorang pegiat seni harus memiliki inovasi-inovasi baru. Seni tradisi yang bercirikan tradisi, rumit dan lebih kepada seni hiburan (masih ada sedikit sakral) kurang diminati oleh masyarakat.[34] Agar tetap bisa bertahan hidup seni pertunjukan tradisional harus berani bersaing. Oleh sebab itu dibutuhkan pembaharuan dalam kesenian tradisi. Terobosan-terobosan baru yang digunakan sebagai pembaharuan harus melibatkan masyarakat untuk mewujudkannya. Tanpa adanya dukungan masyarakat sebagai pemangku budaya, segala usaha dan terobosan baru tidak akan terlaksana. Terutama jika seni tradisi itu berada di wilayah yang kehidupan sosial kulturalnya tidaklah kuat, sehingga sangat diperlukan dukungan dari berbagai pihak dan ide-ide pengembangan yang lebih fariatif.

Mbok Dariah tidak melakukan terobosan apapun dalam kesenian lengger, hal ini dikarenakan Mbok Dariah sudah tidak memiliki grup kesenian sendiri. Mbok Dariah berdiri sebagai penari solo dan bukan penari bagian dari kelompok seni tertentu sehingga sedikit kemungkinan untuknya menciptakan pembaharuan dalam lengger, dari segi gerak, musik, pangkur, dan lain-lain. Bukan berarti sosial kultural masyarakat di lingkungan Mbok Dariah tidak kuat. Melihat juga faktor usia Mbok Dariah yang tidak lagi muda dan pengetahuan lengger yang jauh berbeda dengan zaman dahulu menjadi kendala tersendiri bagi Mbok Dariah untuk memunculkan variasi dalam lengger. 

Pengaruh budaya Barat menjadi faktor penting dalam perubahan bentuk kesenian yang ada di Indonesia. Selama periode 1955-1956, tari mulai tampil dalam kreasi baru. Akan tetapi kreasi-kreasi itu masih merupakan pengolahan materi elemen-elemen tari yang terdapat di Indonesia, baik dari tari klasik maupun tari-tarian rakyat. Kebebasan dalam berkreasi sudah mulai timbul  tetapi masih merupakan kebebasan terbatas, dan pada waktu itu terasa sekali dalam perkembangan tari. Pengaruh komunis mengakibatkan tarian klasik yang dianggap “berbau keraton” dikesampingkan lalu muncul di mana-mana kreasi tari yang dianggap bertema “kerakyatan” dan kehidupan sehari-hari.[35] 

Ketika faham-faham komunis mulai disingkarkan melenyapkan orang-orang komunis, maka muncullah Gerakan 30 September (G30S) yang juga mengakibatkan banyak seniman terbunuh. Pada saat seperti ini, Mbok Dariah lebih memilih untuk vakum dan meninggalkan dunia kelenggeran agar tidak ikut serta menjadi sasaran pemerintah pada saat itu. 

Sikap Mbok Dariah tersebut dikarenakan situasi yang ia lihat sehingga menjadikan dirinya lebih memilih untuk fakum dari dunia lengger. Situasi saat sejumlah seniman yang disinyalir berkaitan dengan komunis dibawa ke daerah Banyumas lalu dibantai dan dieksekusi di sana.[36] Pengalaman Mbok Dariah melihat 5 orang diberondong di Purbalingga yang mungkin saja ia kenal menimbulkan efek jera pada diri Mbok Dariah, sehingga muncullah inisiatif untuk vakum me-lengger tersebut.

Catatan akhir

[3]Lono Simatupang, Pergelaran, Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya (Yogyakarta : Jalasutra, 2013), hlm. 234.

[4] Bambang Hengky, “Dariah Lengger Lanang” Film Dokumenter diproduksi tahun 2009.

[5] Wawancara dengan Yusmanto tanggal 16 Oktober 2017.

[6] Anggapan bahwa Kramaleksana menganut kepercayaan kejawen dapat ditandai dengan datangnya Kakidanabahu yang merupakan seorang pengelana (pada zaman dahulu pengelana selalu disangkutpautkan dengan seseorang yang sedang mencari ilmu) yang berkunjung dan tinggal sementara di kediaman Kramaleksana. Wawancara dengan Yusmanto tanggal 31 Mei 2017.

[7] Wawancara dengan Otnil Tasman tanggal 8 November 2016.

[8] Konsep Jawa yakni menjadi satu atau menyatu. Hampir sama dengan yang ada dalam unsur tari yakni wirasa : merasakan tokoh yang diperankan dalam tarian yang berusaha memasuki karakternya.

[9] Wawancara dengan Otnil Tasman tanggal 8 November 2016.

[10] Keadaan ini mungkin berbeda saat sudah ada Sanggar Banyu Biru yang dikelola Yusmanto di Desa Plana.

[11] Wawancara dengan Kepala Desa Plana, Yusim tanggal 31 Mei 2017.

[12] https://m.antaranews.com/berita/343716/didik-nini-thowok-dokumentasikan-lengger-lanang-dariah di publish tanggal 15 November 2012 19:50 WIB.

[13] Wawancara dengan Mbok Dariah tanggal 19 November 2016.

[14] Aris Andrianto. “Legenda Penari Lengger Dan Jejak LGBT Di Serat Centhini”, m.liputan6.com diunggah tanggal 25 februari 2016, 19:59.

[15] Wawancara dengan Mbok Dariah tanggal 19 November 2016.

[16] Wawancara dengan Mbok Dariah tanggal 19 November 2016.

[17] Keterangan Mukyani pada film dokumenter dari La Cimplung berjudul “Leng apa Jengger” yang disutradai oleh Bowo Leksono dan Sihar Sinomae tahun 2008.

[18] Bambang Hengky, “Dariah Lengger Lanang” Film Dokumenter tahun 2009.

[19] Wawancara dengan Yusmanto tanggal 30 Mei 2017.

[20] Wawancara dengan Mbok Dariah tanggal 31 Mei 2017.

[21] Bowo Leksono dan Sihar Sinomae, “Leng Apa Jengger” Film Dokumenter La Cimplung, 2008.

[22] Kesaksian Samdan pensiunan Sekretaris Desa Plana tahun 1995, dalam film karya La Cimplung berjudul “Leng Apa Jengger” yang disutradarai oleh Bowo Leksono dan  Sihar Sinomae Tahun 2008.

[23] Cerita Mbok Dariah dalam film karya La Cimplung berjudul “Leng Apa Jengger” yang disutradarai oleh Bowo Leksono dan  Sihar Sinomae Tahun 2008.

[24] Ryan Rachman, “Mbok Dariyah, Penari Lengger Delapan Dekade Dianggap Lelaki Tercantik, Dicemooh Istri Orang” Suara Merdeka Tahun 62 No. 270, 17 November 2011.

[25] Wawancara dengan Kaki Mukyani tanggal 1 Juni 2017.

[26] Berasal dari Bahasa Jawa yang berarti tergila-gila.

[27] Ryan Rachman, “Mbok Dariyah, Penari Lengger Delapan Dekade Dianggap Lelaki Tercantik, Dicemooh Istri Orang” Suara Merdeka Tahun 62 No. 270, 17 November 2011.

[28] Yusmanto, “Riwayat Perjalan Hidup Dariah”  Catatan pribadi hasil riset sebagai bahan pembuatan film oleh La Cimplung yang disutradarai Bambang Hengky  tahun 2008.

[29]Keterangan Mbok Dariah dalam film “Leng Apa Jengger” produksi La Cimplong yang disutradarai oleh Bowo Leksono dan Sihar Sinomae tahun 2008.

[30] Wawancara dengan Otnil Tasman tanggal 8 November 2016. Otnil Tasman juga membuat sebuah karya tari yang konsepnya berasal dari cerita  penantian Mbok Dariah terhadap sosok laki-laki yang dicintainya.

[31] Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, cetakan ke delapan (Jakarta : Balai Pustaka, 1993), hlm. 197.

[32] Wendro Tanjung, dkk, “Lengger Lanang yang Tersisa Dari Panusupan” Kompasiana Purbalingga  tanggal 7 Januari 2014.

[33]http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/cicipi-wisata-seni-dan-religi-desa-panusupan/.

[34] Sujarno, dkk, Seni Pertunjukan Tradisional, Nilai, Fungsi, Dan Tantangannya (Yogyakarta : Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, 2003), hlm. 61.

[35] Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, ibid., hlm. 296-297.

[36] Wawancara dengan Mbok Dariah tanggal 19 November 2016.

Cover depan: https://purwokertokita.com/ragam/kisah-hidup-dariah-dari-kerasukan-indang-hingga-menjadi-maestro-lengger.php

Share This:

About Husnun Nadhiroh 3 Articles
Husnun Nadhiroh menyelesaikan S1 Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember dengan skripsi biografi Mbok Dariah, lengger lanang dari Banyumas. Selama kuliah, dia aktif di bidang tari Dewan Kesenian Kampus FIB UNEJ. Banyak pertunjukan tari garapan yang ia lakoni dan ikuti. Saat ini mengabdi sebagai guru di MTsN Lamandau, Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah. Di sela-sela pekerjaannya, ia masih mengasah keterampilan tarinya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*