Mbok DARIAH, Laku Budaya Seorang Lengger Lanang: Sebuah Awal

HUSNUN NADHIROH

Latar Belakang

Tari menjadi salah satu bidang seni yang banyak digemari oleh masyarakat, bukan hanya menarik dari segi estetika tetapi juga dikarenakan beberapa tarian memiliki nilai sakral untuk digunakan sebagai media ritual pada upacara tertentu. Tari adalah ekspresi perasaan tentang sesuatu lewat gerak ritmis.[1] Gerak ritmis dalam tari diartikan dengan suatu gerak yang memiliki tempo dan sesuai dengan irama.[2] Berdasarkan atas pola garapannya tari dibagi menjadi dua jenis yaitu tari garapan dan tari daerah.

Tari garapan adalah jenis tarian yang unsur di dalamnya tidak berciri etnis atau lokal,[3] antara lain Tari Merak, Tari Kupu-Kupu dan Tari Yapong. Tari daerah adalah tarian yang memiliki gerak tertentu yang diikat oleh tatanan budaya setempat baik secara etika dan estetika yang menggambarkan ciri khas dari masyarakat suatu daerah. Tari daerah dapat diartikan juga dengan semua tarian  yang telah mengalami perjalanan sejarah cukup lama, yang selalu bertumpu pada pola-pola tradisi yang telah ada.[4]

Tari daerah menurut artistik garapannya dibagi menjadi dua jenis yakni Tari Klasik dan Tari Rakyat. Tari klasik merupakan tari-tarian yang tumbuh dan berkembang di lingkungan istana dan ditampilkan dalam upacara yang diselenggarakan oleh keluarga istana seperti upacara penobatan raja dan upacara ulang tahun sang raja. Contoh tari klasik antara lain Bedhaya, Serimpi, Beksan Lawung dan Wayang Wong. Tari rakyat adalah tarian yang muncul, tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat sehingga sangat dekat dengan masyarakat dan selalu ditampilkan di depan masyarakat tanpa ada batasan kelas. Contohnya Tari Ronggeng (Jawa Barat), Tari Gandrung (Banyuwangi) dan Tari Lengger (Banyumas).

Lengger atau lenggeran merupakan kesenian yang banyak berkembang di Jawa, terutama daerah Jawa Tengah. Lengger juga telah ada di wilayah Banyumas sejak tahun 1755 di daerah Jatilawang Kabupaten Banyumas dan kemudian menyebar di daerah Kalibagor Kabupaten Banyumas.[5] Istiah lengger muncul karena pada zaman dahulu seorang atau beberapa wanita menampilkan tari-tarian dengan gerakan sederhana seperti hanya menggeleng-gelengkan kepala. Gerakan tersebut kemudian diiringi dengan musik dan dilangsungkan pada acara pra dan pasca panen yang mampu mengundang masyarakat untuk berkumpul dan ikut bergoyang. Tarian dalam upacara tersebut kemudian dinamakan lengger dan dijadikan sebagai upacara wajib pada acara-acara tertentu.[6] Beberapa pendapat juga megatakan bahwa istilah lengger muncul saat Kiai Nurdaiman mengisyaratkan santri laki-lakinya untuk menari mengikuti iringan lagu dari alat musiknya pada saat acara Maulid Nabi tahun 1755 di Daerah Kalibagor Kabupaten Banyumas.[7] Lagu yang diciptakan oleh Kiai Nurdaiman yang diiringi oleh para santri laki-lakinya digunakan sebagai salah satu alat syiar agama islam untuk memikat hati masyarakat terhadap islam.

Beberapa orang menyebutkan istilah lengger berasal dari kata leng dan jengger. Leng artinya lubang (kemaluan perempuan) dan jengger artinya kemaluan laki-laki. Kedua kata tersebut mengalami penggabungan sehingga menjadi  lengger yang berarti dikira perempuan ternyata laki-laki.[8] Istilah ini muncul dikarenakan lengger pada mulanya ditarikan oleh penari laki-laki (namun kemudian perempuan juga ikut andil menari lengger). Penari laki-laki tersebut tetap berpakaian seperti perempuan sehingga masyarakat tertipu dari yang dikira penarinya perempuan ternyata laki-laki maka muncullah istilah lengger.

Seorang laki-laki yang menjadi penari lengger harus bersikap, berbusana dan berlenggak-lenggok layaknya perempuan di atas panggung sebagai syarat dan pelengkap sebelum menari lengger. Penari memakai konde, jarit (kain batik panjang khas jawa) dan juga sampur (selendang penari). Perlengkapan yang paling utama dari tari adalah selembar selendang atau syal persegi empat yang dikenakan melintang bahu atau dikalungkan di atas kedua bahu, atau yang diselipkan di sekeliling pinggang.[9] Penari lengger laki-laki atau yang disebut sebagai lengger lanang dan dianggap melegenda di Banyumas masih tersisa satu orang, yaitu Dariah.

Dariah berasal dari Desa Somakaton Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas, namun di usia yang semakin menua Dariah kemudian tinggal bersama keponakannya di Desa Plana Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas.   Nama asli Dariah adalah Sadam tetapi masyarakat lebih akrab memanggilnya dengan sebutan Mbok Dariah semenjak ia menggeluti profesi sebagai lengger. Mbok Dariah lahir di Banyumas tanggal 30 Desember 1921 menurut Kartu Tanda Penduduknya (KTP) atau tanggal 31 Desember 1928 menurut buku kumpulan Maestro Seni Tradisi dan Anugerah Kebudayaan tahun 2011.[10] Sepeninggal ayahnya Mbok Dariah tinggal bersama kakeknya yang bernama Kramaleksana dan neneknya yang bernama Mainah.

Lingkungan Mbok Dariah dapat dikatakan sebagai lingkungan seniman. Dilihat dari latar belakang nenek dan bibinya yang bernama Misem, keduanya pernah menjadi seorang penari ronggeng. Lingkungan yang demikian menjadikan Mbok Dariah akrab dengan musik, tembang Jawa[11] serta gerak tari sehingga menimbulkan ketertarikan untuk mempelajarinya. Pada tahun 1944 bersamaan dengan masa penjajahan Jepang menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Mbok Dariah yang saat itu berumur 23 tahun  mulai menekuni tari lengger.

Tahun 1945 daya tarik masyarakat terhadap Mbok Dariah semakin tinggi. Pesona yang dipancarkan Mbok Dariah  menjadikan dirinya dianggap sebagai primadona di daerahnya, bahkan namanya terkenal hingga ke luar daerah. Beberapa lelaki juga tertarik dan berusaha merayu Mbok Dariah seperti yang dilakukan oleh Mukyani dan Badri.[12] Kedudukan Mbok Dariah pada saat itu setara dengan kedudukan orang penting seperti petinggi desa. Salah satu contoh ketenarannya yaitu pada zaman Ratu Wilhelmina,[13] Mbok Dariah pernah diundang  salah satu keluarga kaya untuk menyembuhkan kerabatnya yang lumpuh dengan imbalan Mbok Dariah diundang menari lengger dan dibayar dengan tape 30 besek ditambah uang 7 perak. Standar pembayaran ini biasa diperuntukkan bagi petinggi desa atau mantri.[14] Mbok Dariah juga sering diundang untuk mengisi acara mirunggan[15] di beberapa desa di sekitar wilayah Banyumas dan Purbalingga.  

Ketenaran Mbok Dariah sedikit meredup pada tahun 1965, bersamaan dengan munculnya Gerakan 30 September. Pada saat itu seniman tradisional menjadi kelompok sosial yang oleh rezim Orde Baru ditengarai dekat dengan komunisme. Begitu pula seniman lengger, tidak diperbolehkan ngibing[16]oleh pemerintah pada saat itu. Saat lengger dilarang, Mbok Dariah beralih profesi sebagai perias pengantin atau sering disebut sebagai dukun manten. Menjadi dukun manten dilakukannya agar dapat bertahan hidup dan tetap menyalurkan kemampuan seninya meski dalam bentuk yang berbeda.

Berprofesi sebagai perias pengantin atau dukun manten menjadi salah satu bukti bahwa dirinya sudah terbiasa berdandan layaknya perempuan, baik saat di atas panggung atau dalam kesehariannya. Beralih profesi sebagai dukun manten bukan berarti dapat menurunkan ketenaran Mbok Dariah dan kepercayaan masyarakat kepadanya. Cakupan wilayah orang yang mengundang Mbok Dariah untuk merias pengantin mencapai daerah Karanganyar (Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas), Karangkemiri (Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas) dan Tanggeran (Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas).[17]

Pada perkembangannya sejak tahun 1970 penari lengger lanang mulai hilang dan mulai aktif dengan penari perempuan. Salah satu bukti yakni dengan munculnya grup calung Ngesti Laras pimpinan Sankardi dari Desa Banjarwaru Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap yang didirikan tahun 1970.[18] Grup calung ini juga melebarkan sayapnya dengan membentuk satu grup calung lagi yang diketuai oleh penari lengger wadon itu sendiri yakni Kamiyati, pada tahun 1979.  Secara tidak langsung pada tahun 1970-an lengger lanang di Banyumas mulai banyak berganti dengan lengger wadon. Adanya perubahan tersebut mengakibatkan  lengger lanang hampir tidak dikenal lagi oleh masyarakat luas. Mbok Dariah sendiri Bahkan masih belum memiliki penerus yang dilatihnya langsung untuk mewarisi kelenggerannya.

Setelah banyak muncul penari lengger wadon, jam terbang Mbok Dariah menurun. Hal ini dikarenakan usia Mbok Dariah yang tidak lagi muda sehingga pesonanya sedikit tersaingi oleh penari wanita yang masih muda. Para  pemain musik lengger yang hidup sezaman dengan Mbok Dariah seperti Wangsa Wayut dan Dipa Kewir pun sudah meninggal sehingga Mbok Dariah tidak lagi memiliki grup lengger sendiri.[19]

Mbok Dariah berpindah dari Desa Somakaton ke Desa Plana dan tinggal di rumah keponakannya. Di Desa Plana Mbok Dariah bergabung dengan Sanggar Banyubiru yang dulunya bernama Sanggar Dua Menduri dan telah berdiri sekitar tahun 2000.[20] Mbok Dariah seringkali diikutsertakan untuk menari lengger jika ada undangan seperti acara bersih desa dan hajatan pernikahan. Pada saat itu jam terbang Mbok Dariah sedikit dikurangi oleh pihak sanggar mengingat faktor usia yang sudah menginjak ke 79 di tahun 2000 sehingga tidak memungkinkan untuk membawa Mbok Dariah ikut serta menari lengger dengan durasi waktu 5 jam tanpa jeda. 

Bertambahnya umur bukan menjadi kendala atau membuat semangat Mbok Dariah sirna. Ia tetap melestarikan tari lengger dengan cara berbagi ilmu kepada para seniman, masyarakat umum maupun pihak akademik yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai tari lengger. Mbok Dariah selalu menerima kunjungan orang-orang yang ingin belajar mengenai lengger meskipun dia belum bisa membuka tempat dan waktu khusus untuk belajar lengger. Mbok Dariah telah berhasil menginspirasi mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta menciptakan karya tari berjudul “Dariah” pada tahun 2009. Mbok Dariah menjadi inspirasi bagi  mahasiswa dan dosen di dalam dan luar negeri untuk meneliti lengger sejak tahun 2001 terutama yang berkaitan dengan Mbok Dariah.[21] 

Tahun 2011 Mbok Dariah menjadi perbicangan publik dikarenakan di usia yang sudah menginjak 84 tahun ia masih melakukan rutinitas menarinya meskipun tidak intens seperti di usia mudanya. Pada tahun yang sama Mbok Dariah mendapat anugerah sebagai kategori Maestro Seni Tradisi dari Wakil Presiden. Pemberian anugerah kategori Maestro Seni Tradisi ini diberikan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI sebagai bentuk terima kasih dan penghargaan kepada warga negara Indonesia yang telah berupaya melakukan pewarisan seni tradisi secara terus menerus hingga mereka berusia diatas 50 (lima puluh) tahun.[22] Artinya anugerah Maestro kategori Seni Tradisi ini diberikan kepada orang yang telah totalitas bergelut dan menekuni seni tradisi tertentu lebih dari 50 tahun. Berbeda dengan penghargaan anugerah kebudayaan yang diberikan khusus bagi orang-orang yang peduli terhadap pelestarian dan pengembangan kebudayaan Indonesia.

Penghargaan sebagai Maestro Seni Tradisi tersebut diberikan kepada Mbok Dariah berdasarkan beberapa bukti karyanya yang menginspirasi masyarakat seperti film dokumenter yang berjudul  “Leng apa Jengger” yang diproduksi oleh La Cimplung tahun 2008 dan Mbok Dariah sebagai tokoh utamanya. Film dokumenter produksi MNC Jawa Tengah tahun 2009 yang menjadi film terbaik kategori film dokumenter tahun 2010, pemeran utama film dokudrama SUN TV Semarang tahun 2010. Selain itu pesona Mbok Dariah yang kharismatik juga diakui oleh Didik Nini Thowok, seorang penari asal Yogyakarta yang terkenal  dengan gaya tari 2 wajah sebagai karakteristiknya. Sejak tahun 2012  Mbok Dariah sering diundang sebagai pembicara di acara seminar budaya. Beberapa perguruan tinggi yang mengundangnya antara lain UNSUD Purwokerto, IKJ Jakarta, ISI Solo, UNDIP Semarang, STMIK AMIKOM Purwokerto dan UNMUH Purwokerto.[23]

Pada tahun 2012 Didi Nini Thowok datang kepada Mbok Dariah untuk mendokumentasikan profil kehidupan Mbok Dariah. Ia mengatakan, ide untuk mendokumentasikan Lengger Dariah ini berawal dari perjalanannya ke Amerika Serikat pada 20 September hingga 4 Oktober 2012. Didi Nini Thowok mempersembahkan tari lengger saat melakukan pertunjukan di Yale University di New Haven, Amerika Serikat, ia berjanji akan mendatangi Mbok Dariah sepulang dari Amerika untuk membuat film dokumenter sebagai bentuk kekagumannya terhadap sosok Mbok Dariah.[24]

Tahun 2013 Mbok Dariah diundang pada acara sendratari yang mengangkat tema tari lengger lanang dengan judul Lengger Laut di Solo yang disutradarai oleh Otnil Tasman seorang mahasiswa dari Institut Seni Indonesia Surakarta yang juga sebagai penari lengger lanang Banyumas generasi muda. Di tahun yang sama Mbok Dariah mendapat penghargaan dari Purwokerto sebagai Maestro Seni Banyumas.[25]

Realitas di ataslah yang mendorong saya untuk membahas lebih detail mengenai sosok Mbok Dariah Sang Maestro Lengger melalui skripsi dengan judul “Mbok Dariah “Perempuan” Lengger Banyumas tahun 1944-2013” di Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Skripsi tersebut saya pertahankan di hadapan dewan penguji pada 20 Desember 2017. Semua isi dalam tulisan ini berasal dari skripsi tersebut. Penyuntingan dilakukan untuk menyesuaikan beberapa bagian dalam tulisan, bukan mengubah substansi sama sekali.

Mengapa Mbok Dariah?

Mbok” dalam bahasa Jawa digunakan untuk menyebut seorang perempuan yang sudah berusia. Sementara, Mbok Dariah pada hakikatnya adalah laki-laki tetapi mendapat julukan Mbok disebabkan profesinya sebagai penari lengger yang berpenampilan layaknya perempuan, sehingga “Mbok” ditulis dengan bentuk miring. Panggilan Mbok muncul dari masyarakat karena mereka mengakui kelenggeran Mbok Dariah dan telah terbiasa melihat sosok Mbok Dariah sebagai layaknya wanita. Kata perempuan dalam judul skripsi dalam tulisan ini saya ganti dengan “lanang” (laki-laki) untuk menegaskan bahwa Mbok Dariah bukanlah perempuan, melainkan sosok lelaki penari lengger yang berbalut busana dan bertingkah seperti perempuan, sehingga pantas dipanggil Mbok, sebagai penari lengger senior dengan dandanan perempuan. Lengger adalah salah satu seni tari Banyumas yang pada mulanya digunakan sebagai ritual upacara tertentu seperti upacara tanam dan panen padi yang kemudian telah berkembang menjadi tari hiburan. Banyumas adalah salah satu kabupaten yang ada di Eks Karesidenan Banyumas yang menjadi salah satu tempat berkembangnya kesenian lengger.

Saya memiliki beberapa pertimbangan ketika melakukan penelitian tentang Mbok Dariah. Pertaman, kajian dengan objek Mbok Dariah belum pernah ditulis, meskipun tema lengger telah banyak dikaji dan ditulis dalam penelitian. Dengan demikian kajian ini memberi peluang untuk menghasilkan karya dengan topik baru. Kedua,   wilayah Banyumas yang menjadi pusat perkembangan tari lengger sehingga tidak dipungkiri banyak masyarakatnya yang terjun dalam kesenian lengger baik menjadi penari atau pengrawit, seperti Mbok Dariah, Krisman Wiraatmaja, Otnil Tasman, Yusmanto dan lain-lain yang sedikit banyak memberi warna beberapa perubahan pada tari lengger. Dengan demikian, tulisan tentang Mbok Dariah diharapkan bisa memberikan gambaran tentang perjuangan kultural sang maestro yang dalam perkembangannya memberikan banyak inspirasi bagi generasi berikutnya.

Untuk mendapatkan kajian biografi tanpa melupakan konteks sosio-kultural yang melatarinya, saya akan memfokuskan pada beberapa permasalahan. Mengetahui latar belakang Mbok Dariah yang memilih total dalam menjalani kehidupan sebagai seniman lengger merupakan fokus pertama dalam tulisan ini. Perjalanan proses kreatifnya hingga memperoleh anugerah sebagai Maestro Lengger juga penting ditelaah agar kita bisa mendapatkan gambaran komitmen dan konsistensi yag dilakoni Mbok Dariah. Yang tidak kalah penting adalah memahami tanggapan masyarakat terhadap peranan Mbok Dariah dalam perkembangan tari lengger di Banyumas?

Dengan membahas permasalahan tersebut, saya berharap hasil kajian ini bisa memberi sumbangan bagi khazanah ilmu sejarah yaitu untuk memperkaya jenis penulisan sejarah, tidak hanya tentang politik, ekonomi, namun juga sejarah biografi, terutama biografi seorang seniman. Selain itu juga bisa memperkaya kajian kesenian dan budaya terkait seniman dan kesenian di wilayah lokal. Selanjutnya, kajian ini juga diharapkan bisa mejadi bahan bacaan buat seniman, pemerhati dan peneliti budaya, guru dan dosen kesenian, kaum muda yang bergiat di kesenian, para pelajar dan mahasiswa, serta masyarakat luas yang tertarik dengan lengger Banyumas. Kalau berkenan, dinas-dinas terkait di  Kabupaten Banyumas bisa menjadikan tulisan ini sebagai refleksi untuk meningkatkan kesadaran akan arti penting budaya lokal sebagai salah satu penguat identitas dan juga sebagai landasan pengambilan kebijakan dalam mengembangkan kesenian.

Agar bisa fokus dengan permasalahan, ruang lingkup kajian perlu dibuat. Lingkup spasial pada kajian ini adalah Desa Somakaton dan Desa Plana Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas. Di Desa Plana Kecamatan Somagede Mbok Dariah tinggal di usia senjanya dan melestarikan seni tari lengger dengan melalui Sanggar Banyubiru. Selain itu, orang-orang terdekat Mbok Dariah seperti teman, keluarga dan mantan kekasihnya juga berada di desa tersebut. Desa Somakaton Kecamatan Somagede juga menjadi rujukan bagi penelitian ini dikarenakan di desa tersebut dahulunya Mbok Dariah tinggal dan menjalani proses lenggernya sebelum berpindah dan tinggal bersama keponakannya di Desa Plana.

Lingkup temporal dimulai dari tahun 1944 sampai dengan tahun 2013. Tahun 1944 diambil sebagai awal mula Mbok Dariah sebagai penari lengger yang pada saat itu berusia 23 tahun. Tahun 2013 ditetapkan sebagai batas akhir penelitian karena pada tahun itu Mbok Dariah yang saat itu berumur 92 tahun mulai sedikit mengurangi agenda menari dan jam menarinya tidak sepadat saat tenaganya masih mampu untuk ngibing.[26]

Lingkup kajian termasuk ke dalam kajian Sejarah Biografi dikarenakan objek penelitian membahas mengenai sosok seorang penari lengger. Biografi  adalah riwayat hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain. Penulisan biografi pada sejarah merupakan sebuah tulisan untuk melihat keadaan masa lalu melalui pengalaman seseorang. Biografi yang ditulis dengan baik akan memberikan kenikmatan kepada pembacanya, tidak jauh berbeda dengan novel. Bedanya dalam sejarah biografi setiap peristiwa yang ditulis berdasarkan sumber yang jelas karena sejarah biografi merupakan hasil imajinasi dan bukan fantasi.[27] Objek kajian pada sejarah biografi ini yaitu Mbok Dariah sang Maestro Lengger Banyumas.

Menelusuri Pustaka

Tinjauan pustaka digunakan untuk melakukan penelusuran terhadap karya terdahulu sesuai dengan tema kajian yang sedang dibahas. Penelusuran ini digunakan sebagai pembeda dengan karya tulis yang sudah ada untuk menghindari terjadinya plagiasi. Memang, selama saya melakukan penelitian, belum ada rujukan akademis yang membahas secara khusus kedirian dan perjuangan Mbok Dariah. Meskipun demikian, saya menemukan beberapa rujukan yang bisa membantu untuk memasuki dunia lengger untuk akhirnya fokus kepada Mbok Dariah.  

Masri Nur Hayati (2016) secara khusus membahas perkembangan kesenian lengger Banyumasan ditinjau dari bentuk penyajian.[28] Tulisan Masri membantu saya dalam melihat perkembangan penyajian tari lengger melalui kasus yang terjadi di Langen Papringan. Perubahan dilihat dari segi  gerak, desain lantai, iringan, tata rias, busana, tempat pertunjukan, tata lampu/lighting dan perlengkapan tari/property.[29] Kesemuanya dibedakan dalam empat tahap periode yang telah disusun dari tahun 1982 sampai 2016. Perkembangan bentuk penyajian tersebut menjadikan kesenian lenggerBanyumasanlebih terlihat praktis, dinamis dan efisien dengan tampilan yang telah dikemas sedemikian rupa hingga lebih menarik dan dapat di terima oleh semua kalangan.

Karena kajian saya membahas perjalanan hidup lengger lanang (laki-laki), maka perlu juga mencari rujukan yang secara khusus membahas para pelaki yang berdandan perempuan ketika menari. Perspektif cross-gender menjadi kata kunci. Itulah mengapa, skripsi Ika Sapriana tentang identitas penari cross gender dalam kehidupan masyarakat Surakarta menjadi penting.[30] Tulisan ini berisi tentang penari-penari cross gender yang ada di daerah Surakarta seperti Mas Endo dan Mas Wardoyo,[31] mulai dari eksistensi hingga strategi bertahan hidup mereka di tengah-tengah masyarakat. Mayoritas masyarakat belum bisa sepenuhnya menerima keberadaan para penari cross gender karena dalam pandangan masyarakat mereka adalah sekelompok orang yang hidup dengan menyalahi kodratnya. Pada kenyataannya mereka berpenampilan seperti perempuan pada saat menari diatas panggung sebagai bentuk penyaluran bakat dan kreatifitas yang mereka miliki. Tulisan Ika menjadi acuan untuk menggali lebih dalam lagi sosok cross-gender Mbok Dariah, termasuk strategi bertahannya di tengah-tengah pandangan stigmatik masyarakat hingga bentuk kreatifitas di panggung untuk mempertahankan eksistensi di dunia tari.

Tesis Pujiyani (2015) yang membahas kehidupan dan perjuangan kultural Tati Pesek dalam seni pertunjukan populer, memiliki topik yang sama dengan kajian ini. Keduanya membahas mengenai perjalanan hidup seorang seniman. Tulisan Pujiyani membantu saya untuk mengetahui seluk-beluk penulisan biografi seorang seniman.[32]  Lingkungan dan kondisi sosial ekonomi yang mendorong Yati Pesek untuk terjun dalam dunia seni juga dirasakan oleh Mbok Dariah. Namun, Yati Pesek didukung dengan bakat yang sebagian besar diperoleh karena bakat turunan, sedangkan Mbok Dariah lebih pada keinginan untuk menekuni seni yang diinginkan. Dalam tesis ini objek yang diteliti merupakan seniman tobong, pelawak yang tidak terkait permasalahan gender di dalamnya sehingga permasalahan yang terjadi tidak begitu komplek. Berbeda dengan Mbok Dariah yang sebenarnya seorang lelaki berprofesi sebagai penari lengger, sedangkan lengger pada umumnya ditarikan oleh perempuan sehingga masalah yang timbul lebih rumit.

Untuk memperdalam pemahaman tentang pandangan masyarakat tentang lelaki yang memilih ‘menjadi perempuan’ untuk alasan kebudayaan, saya cukup terbantu oleh tulisan Lono Simatupang (2013) yang secara mendalam membahas kehidupan gemblak dalam tradisi reyog Ponorogo.[33] Gemblak adalah penari jathil yang ditarikan oleh laki-laki. Respons masyarakat terhadap penari laki-laki tersebut berbeda dengan respons terhadap penari jathil perempuan. Lono menjabarkan bahwa adanya penilaian masyarakat terhadap gender berupa laki-laki dan perempuan merupakan hasil dari budaya yang diterapkan oleh masyarakat. Sebagian  masyarakat yang memiliki potensi untuk berkreasi diluar batas gender yang dibangun masyarakat akhirnya tidak memiliki kebebasan karena khawatir dianggap menyimpang. Tulisan Lono membantu saya untuk mengetahui lebih dalam pribadi seseorang yang bergelut dengan aktifitas yang mengakibatkan dirinya mengalami silang-gender seperti yang terjadi pada Mbok Dariah.

Dari Teori Menuju Lapangan, Kembali ke Teks

Teori digunakan untuk membatasi objek kajian yang akan diteliti oleh penulis sehingga pembahasan materi yang ditulis sesuai dengan jalur dan tidak akan meluas. Mengungkapkan fenomena sejarah diperlukan pemahaman yang jelas mengenai konsep dan teori yang digunakan sebagai alat analisis terhadap sebab-sebab permasalahan yang berhasil ditemukan.[34] Penulisan sejarah juga diperlukan adanya pendekatan dari ilmu bantu lain untuk mengupas permasalahan yang terjadi dalam peristiwa yang sedang diteliti dari sisi ilmu lain agar tidak terjadi keberpihakan.

Pada kajian ini saya menggunakan pendekatan psikologi kepribadian. Psikologi adalah ilmu mengenai kehidupan mental, termasuk fenomena dan kondisi-kondisinya.[35] Pada ilmu psikologi diajarkan untuk menjaga tindakan yang sudah menjadi kebiasaan agar tetap ada dengan memberikan dorongan kecil setiap harinya. Alunan musik lengger sudah familiar bagi Mbok Dariah sejak kecil sehingga tidak dipungkiri jika Mbok Dariah berusaha untuk melestarikan tari lengger hingga mendedikasikan seluruh hidupnya kepada tari lengger sebagai bentuk totalitasnya terhadap tari tersebut. 

Sebagai dasar pembahasan Mbok Dariah, saya menggunakan teori kepribadian Abraham Maslow. Menurut Maslow manusia dipandang sebagai makhluk yang bebas dan bermartabat yang selalu bergerak untuk mengungkapkan eksistensinya dengan segala potensinya.[36] Contohnya, seseorang yang berpotensi sebagai musisi harus bermusik, jika potensi tersebut tidak terwujud maka akan timbul rasa gelisah pada seseorang tersebut. Samahalnya dengan Mbok Dariah, sebagai makhluk (manusia) yang memiliki jiwa bebas seperti yang diungkapkan Maslow, ia melakukan pencarian jati diri untuk menemukan potensi yang ada di dalam dirinya.

Proses penemuan jati diri ini diperoleh setelah Mbok Dariah melakukan perjalanan mengelilingi tiga kabupaten yakni Kabupaten Banyumas, Banjarnegara dan Purbalingga. Perjalanannya berakhir setelah Mbok Dariah sadar berada di Panembahan Ronggeng yang merupakan tempat pemujaan untuk orang-orang yang menginginkan dirinya menjadi ronggeng atau lengger. Pada Panembahan Ronggeng itu terdapat sebuah makam ronggeng dan menhir. Oleh masyarakat dipercaya bahwa orang yang melakukan pemujaan atau berdiam diri ditempat tersebut maka dapat memperoleh indhang ronggeng/lengger. Setelah menjadi lengger keinginan Mbok Dariah untuk menjadi manusia yang bermartabat dapat terwujud, dengan membuktikan potensi dalam dirinya dan mampu tampil di tengah-tengah masyarakat meskipun jalan yang dipilihnya akan berbanding terbalik dengan norma-norma sosial dan agama.

Kajian ini menggunakan metode sejarah karena subjek penelitian termasuk dalam kajian sejarah. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau.[37] Ada empat tahap pokok metode sejarah, yakni : heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Heuristik adalah langkah untuk mengumpulkan sumber berupa hasil wawancara, artikel, surat kabar, arsip atau dokumen  yang sezaman dengan objek yang sedang diteliti. Sumber yang telah diperoleh dapat dikategorikan menjadi dua macam, yakni sumber primer dan sumber sekunder.

Sumber primer merupakan sumber yang berasal langsung dari pelaku sejarah, sezaman atau saksi yang melihat kejadian tersebut. Sumber primer dapat dilakukan dengan metode sejarah lisan melalui teknik wawancara. Berhubungan dengan permasalahan yang dikaji, saya menggunakan metode sejarah lisan untuk wawancara dengan seniman yang terlibat seperti Mbok Dariah sebagai pelaku sejarah, Yusmanto sebagai pegiat seni yang pernah berkarya bersama Mbok Dariah, dan Krisman Wiraatmaja sebagai pemerhati seni dan budaya Banyumas. Sumber primer lain juga didapatkan melalui sumber dokumen yang berhasil saya telusuri, seperti foto dan koran yang sesuai dengan temporal kajian ini. 

Sumber sekunder merupakan sumber yang digunakan untuk mendukung hasil penelitian seperti jurnal, skripsi, buku, dan karya tulis orang lain yang nantinya dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan permasalahan dari objek yang sedang dikaji. Beberapa yang sudah saya lakukan oleh penulis seperti wawancara dengan Otnil Tasman koreografer jebolan ISI Surakarta yang beberapa karyanya terinspirasi Mbok Dariah, memperoleh video tentang Mbok Dariah karya Hengky Bambang berjudul Dariah Lengger Lanang, video karya Bowo Leksono dan Sigit Harsanto berjudul Leng apa Jengger, data dari Dinas Kebudayaan Banyumas, Perpustakaan Daerah, dan Sanggar yang pernah diikuti oleh Mbok Dariah.

Setelah sumber didapatkan maka langkah kedua adalah kritik sumber atau uji keabsahan sumber. Dalam proses kritik sumber ada dua macam cara yakni kritik eksternal dan internal. Kritik eksternal digunakan untuk menguji otentitas atau keaslian sumber. Hal ini dilakukan dengan melihat data yang diperoleh dari bentuk luarnya agar disesuaikan dengan kondisi zaman pada saat itu seperti jenis kertas yang digunakan, tulisan dan  semua tampilan luarnya harus dicermati untuk melihat originalitas sumber. Kedua, kritik intern untuk melihat kredibilitas sumber. Langkah ini digunakan untuk melihat kebenaran isi sumber atau dokumen, apakah isi sumber menyembunyikan kebenaran atau sudah sesuai dan cocok dengan sumber lain yang telah ditemukan.

Langkah  ketiga interpretasi atau penafsiran sumber. Adanya penafsiran ini sebagai langkah penelitian terakhir agar data yang merupakan benda mati tersebut dapat berbicara dan dapat dijadikan bukti sejarah. Langkah selanjutnya adalah historiografi atau penulisan yakni menggabungkan hasil penelitian yang telah diperoleh menjadi sebuah tulisan yang kronologis, sistematis dan ilmiah. Metode penulisan pada kajian ini menggunakan deskriptif analitis yaitu penulisan yang memaparkan dan menjelaskan suatu kajian dengan hubungan sebab akibat.[38] Deskriptif analitis merupakan model penulisan yang berusaha untuk memaparkan dan menjelaskan permasalahan, selain dengan mempersoalkan tentang apa, siapa, kapan, dimana, bagaimana juga pertanyaan mengapa.[39] Bersifat analitis berarti penulis menjelaskan asal mulanya (genesis), sebab-sebabnya (causes), kecenderungannya (trend), kondisional dan kontekstual serta perubahannya (changes).[40] Hal ini sesuai dengan tugas seorang sejarawan yang tidak hanya mengungkapkan apa yang terjadi tetapi juga mengungkapkan mengapa dan bagaiman peristiwa itu terjadi.

Kajian ini juga menggunakan sumber-sumber berupa foto, audio dan video yang berkaitan dengan Mbok Dariah sebagai objek kajian dan penulis cantumkan dalam skripsi ini. Saya menggunakan buku karya Henk Schulte dan kawan-kawan (2013),[41] sebagai panduan untuk menjadikan sumber visual tersebut menjadi narasi yang menarik. Foto yang disajikan sebagai bukti sejarah terlebih dahulu diseleksi. Seleksi foto didasarkan pada sejumlah faktor, misalnya: daya tarik estetika gambar tertentu; keinginan menyuguhkan kumpulan gambar yang “mewakili”; bobot pengetahuan atau pengaruh tidak disadari dari ide-ide yang sudah tertanam dan membentuk konsep-konsep mengenai tempat. Pada bagian berikutnya, saya akan membahas potensi budaya Kabupaten Banyumas, kesenian lengger (lanang dan wadon), dan wisuda lengger. Bagian berikutnya menjadi inti dari semua analisis dalam kajian ini, yakni intensitas peran Mbok Dariah terhadap kesenian lengger dari waktu ke waktu, dengan tiga sub bab di dalamnya yakni: kembalinya dunia lengger banyumasan melalui Mbok Dariah (“mawar di antara kumbang-kumbang” dan lengger dalam balutan modern), pengembaraan meninggalkan lengger, bangkit dan berjuang (lagi) sebagai lengger (peran Yusmanto dan Sri Multiyah Susanty dan peranan Mbok Dariah). Bagian terakhir berisi simpulan.

Catatan akhir

[1] R.M. Soedarsono, Pengantar Apresiasi Seni (Jakarta : Balai Pustaka, 1992), hlm. 82.

[2] Doris Humphrey, Seni Menata Tari, penerjemah Sal Murgiyanto (Jakarta : Dewan Kesenian Jakarta, 1983), hlm. 123.

[3] R.M. Soedarsono, op.cit., hlm. 113.

[4] Atjep Djamaludin dan Soedarsono, Tari-Tarian Indonesia I (Jakarta : Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, tanpa tahun ), hlm. 29.

[5] Masri Nur Hayati, “Perkembangan Bentuk Penyajian Kesenian Lengger Banyumasan di Paguyuban Seni Langen Budaya Desa Papringan  Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas” Skripsi Jurusan Pendidikan Seni Tari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta, 2016, hlm. 22.

[6] Wawancara dengan Krisman Wiraatmaja, Pemerhati Seni dan Budaya Banyumas pada 19 November 2016.

[7] M. Koderi, Banyumas Wisata dan Budaya (Purwokerto : CV Metro Jaya, 1991), hlm. 60.

[8] Masri Nur Hayati, op.cit., hlm. 42.

[9] Claire Holt, Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia, penerjemah R.M. Soedarsono (Bandung : art.line, 2000), hlm.117.

[10] Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Maestro Seni Tradisi dan Anugerah Kebudayaan Tahun 2011 (Jakarta : Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI, 2011), hlm. 13.

[11] Lirik/sajak dalam bahasa Jawa yang mempunyai irama dan nada.

[12] Berusaha menarik perhatian Mbok Dariah dengan mengiming-imingi harta seperti memberi uang seniali dengan 1 ekor sapi. Wawancara dengan Yusmanto, Pegiat Seni Banyumas pada 1 Maret 2017.

[13] Ratu Wilhelmina menjadi ratu Belanda sejak 1890-1948. Belanda masih mencoba menguasai Indonesia hingga tahun 1949 meskipun Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1945. Dapat dimungkinan jika yang dimaksud Mbok Dariah pada masa Ratu Wilhelmina tersebut yakni antara tahun 1944-1947.

[14] Wawancara dengan Mbok Dariah pada 19 November 2016.

[15] Mirunggan adalah perkumpulan yang diadakan oleh sekelompok orang dengan tujuan untuk menjalin hubungan yang erat.

[16] Bahasa Banyumas untuk sebutan bagi para penari lengger yang sedang menari di panggung pada acara-acara tertentu.

[17] Wawancara dengan Mbok Dariah pada 19 November 2016.

[18] M.Koderi, op.cit., hlm 62.

[19] Wawancara dengan Yusmanto, Pegiat Seni Banyumas pada 1 Maret 2017.

[20] Wawancara bersama Krisman Wiraatmaja, Pemerhati Seni dan Budaya Banyumas pada tanggal 2 Desember 2016.

[21] Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Maestro Seni Tradisi dan Anugrah Kebudayaan tahun 2011.

[22] Ungkapan Ir. Jero Wacik Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada saat itu dalam lampiran sambutan pada buku Maestro Seni Tradisi dan Anugerah Kebudayaan tahun 2011.

[23] Wawancara dengan Yusmanto, Pegiat Seni Banyumas pada  28 Februari 2017.

[24] “Legenda Penari Lengger dan Jejak LGBT di Serat Centhini.” http://regional.liputan6.com/read/2445254/legenda-penari-lengger-dan-jejak-lgbt-di-serat-centhini.  Diakses, 06 September 2016 pukul 10:28.

[25] Foto penghargaan anugerah dari Purwokerto Bersatu (kumpulan Komunitas Pegiat Seni yang mengenalkan Seni dan Budaya Banyumas) yang diberikan kepada Mbok Dariah pada 22 Juni 2013.

[26] Menari lengger pada acara hajatan ataupun tanggapan.

[27] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Pemikiran Biografi, Kepahlawanan dan Kesejarahan (Jakarta : Pelita, 1981), hlm. 287.

[28] Masri Nur Hayati. “Perkembangan Bentuk Penyajian Kesenian Lengger Banyumasan DiPaguyuban Seni Langen Budaya Desa Papringan Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas.” Skripsi (Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Seni Tari Fakultas Bahasa Dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta, 2016)

[29] Ibid.

[30] Ika Sapriana, “Identitas Penari Cross Gender dalam Kehidupan Masyarakat Surakarta” Skripsi (Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret, 2010).

[31] Penari di kota Surakarta yang mengikuti jejak Didik Nini Thowok yakni sebagai penari cross gender dan membangun sebuah komunitas para penari cross gender dengan nama Gambyong Jreng pada tahun 2002. Ibid.

[32] Pujiyani, “Yati Pesek Seniman Serba Bisa Dalam Seni Pertunjukan Populer” Tesis (Surakarta : Program Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, 2015).

[33] Yogyakarta Queer Film Festival, “Gemblak: Silang-Gender Liminalitas Pertunjukan, Dan Vervremdungs-Effekt” Makalah Diskusi ( Yogyakarta : Lembaga Indonesia Perancis, 2006) dalam Lono Simatupang, Pergelaran, Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya (Yogyakarta : Jalasutra,2013), hlm. 170.

[34] Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah(Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm. 2 dalam Sumarni, “Kehidupan Ketoprak Siswo Budoyo Di Tulungagung Pada Tahun 1992-1999” Skripsi pada Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember, 2003, hlm. 11.

[35] Rita I. Atkinson, dkk, Pengantar Psikologi, edisi ke delapan Jilid 1, cetakan keenam, penerjemah Nurdjannah Taufiq dan Rukmini Barham  (Jakarta : Erlangga, 1999), hlm. 19.

[36] E. Koswara, Teori-Teori Kepribadian, cetakan kedua (Bandung : PT. Eresco, 1991), hlm. 113.

[37] Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah, penerjemah Nugroho Notosusanto (Jakarta : UI Press, 2008), hlm. 32.

[38] Wahyu Fitriyani, “Eksistensi Kesenian Tayub di Kabupaten Nganjuk Tahun 1996-2009” Skripsi Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, 2016, hlm. 22.

[39] Sartono Kartodirdjo, Pemikiran dan Perkembangan Historiografi suat aternatif, (Jakarta : Gramedia, 1982), hlm. 92. Dalam Sumarni, “Kehidupan Ketoprak Siswo Budoyo Di Tulungagung Pada Tahun 1992-1999” Skripsi pada Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember, 2003, hlm. 13.

[40] Suhartono W. Pranoto, Teori dan Metodologi Sejarah (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2010), hlm. 9.

[41] Henk Schulte. Dkk, Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2013), hlm. 333.

Cover depan: https://www.coklatkita.com/unik/masa-tergelap-lengger-lanang

Share This:

About Husnun Nadhiroh 3 Articles
Husnun Nadhiroh menyelesaikan S1 Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember dengan skripsi biografi Mbok Dariah, lengger lanang dari Banyumas. Selama kuliah, dia aktif di bidang tari Dewan Kesenian Kampus FIB UNEJ. Banyak pertunjukan tari garapan yang ia lakoni dan ikuti. Saat ini mengabdi sebagai guru di MTsN Lamandau, Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah. Di sela-sela pekerjaannya, ia masih mengasah keterampilan tarinya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*