Mbok DARIAH, Laku Budaya Seorang Lengger Lanang: Banyumas dan Sebuah Perjalanan

HUSNUN NADHIROH

Potensi Budaya Banyumas

Banyumas merupakan salah satu eks-Karesidenan yang ada di provinsi Jawa Tengah. Eks-Karesidenan Banyumas meliputi Kabupaten Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara dan Banyumas. Sebelah barat berbatasan langsung dengan wilayah Provinsi Jawa Barat, Sungai Citanduy sebagai batas teritorial dengan Wilayah Jawa Tengah. Sebelah selatan dibatasi dengan Bagelen (Kabupaten Kebumen), sebelah timur dengan Kabupaten Wonosobo, sedang sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes.[1] Pusat pemerintahan wilayah Kabupaten Banyumas terletak di Purwokerto.  

Kabupaten Banyumas terletak jauh dari pusat pemerintahan Jawa Tengah yaitu Semarang. Sebagai salah satu bagian wilayah Provinsi Jawa Tengah, Banyumas memiliki berbagai macam budaya, adat istiadat, dialek, dan kesenian yang menarik, hal tersebut dikarenakan letak geografis Banyumas berada pada perbatasan dua etnis yang berbeda yaitu masyarakat Jawa Barat dengan etnik Sunda dan masyarakat Jawa Tengah dengan etnis Jawa.

Kondisi geografis Banyumas yang berbukit dan dikelilingi sungai membentuk daerah agraris. Wilayah yang berupa batuan pegunungan dan bentang alam, ditambah letak Banyumas yang jauh dari pusat pemerintahan dan kebudayaan keraton menjadi salah satu pengaruh terhadap perwatakan dan strukstur sosial masyarakat di wilayah Banyumas.  Watak yang dimiliki oleh orang Banyumas mempengaruhi logat bahasa, dan kesenian yang diciptakan. Watak menjelaskan sifat kejiwaan manusia, dan sifat kejiwaan manusia berasal dari bawaan sejak lahir, hasil didikan, dan pengaruh dari luar dirinya/dipengaruhi orang lain.

Berikut ciri-ciri lege’yan (tingkah laku dan kebiasaan) wong Banyumasan pada umumnya. Cowag, berbicara dengan suara keras. Mbolak, suka ngomong bergaya serius, cablaka, dan humoris. Apa diomongkan sepertinya sungguh-sungguh dan dapat melakukan apa yang diomongkan itu, tetapi ternyata hasilnya belum tentu. Hanya bloakan (botak di tengah belaka), artinya semangat menggebu, namun hasilnya belum tentu. Dablongan atau ndablong, seenaknya sendiri kalau mengkritik orang atau dengan kelakar yang berlebihan. Sifat ini khas lage’yan wong Banyumasan selatan, yakni kawasan pantai selatan, seperti wong Cilacapan dan Kebumenan. Wong Banyumasan utara (Pemalang, Tegal, dan Brebes) itu ajiban. “ajiiii……iibbb”, begitu reaksi spontan mereka bila memperoleh satu kenikmatan yang menggiurkan hingga mengeluarkan air liur para jago mengudap (jajan) itu. Nikmat, puas, lezat. Itulah ajiibb!. Juga spontanitas atas kekaguman karena melihat sesuatu yang luar biasa indahnya. Ndobos yang khas Gombongan, yaitu saling berebut bicara/mengeluarkan ide. Ujung-ujungnya, ide itu tidak ada yang dipilih/disepakati dan akhirnya tinggal dobosan (omong kosong belaka), Mbanyol (memba’-memba’ seng konyol – meniru-niru perbuatan konyol) alias bercanda ria, bergurau sangau, saling menyindir dengan gurauan. Kluyuran atau ngluyur, melancong sekadar sight-seeing-mengamati situasi dan pandangan lain di rumah untuk menghilangkan rasa sumpek (jenuh, sendat hati), sekadar menghibur diri sendiri. Ndapok, omong–omong untuk mengeluarkan pendapat atau berkomentar dan menyampaikan gagasan yang jika hanya dipendam dan bertumpuk akan ndongkol di hati dan bahkan bisa-bisa menjadi sutris atau stress.[2]

Menurut penelitian yang pernah dilakukan oleh Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta, bahasa Banyumasan dengan dialek Banyumasnya memiliki sub dialek geografis dan dialek sosial.[3] Dialek geografis menunjukkan daerah-daerah yang memiliki gaya bahasa sama, yaitu dialek Banyumas (Purwokerto, Banyumas, Ajibarang, dan Cilacap), dan dialek Sunda Banyumas atau bahasa Jawa Reang untuk daerah Cilacap bagian barat. Dialek sosial dibedakan menjadi dua yaitu dialek rakyat jelata yang masih menggunakan bahasa Jawa murni, dan dialek kaum cerdik yang menggunakan bahasa Jawa bercampur dengan bahasa Indonesia.

Budaya Banyumas oleh banyak orang dianggap sebagai budaya pinggiran, budaya desa atau budaya petani. Logat dialek Banyumasan yang medhok dan kasar sering dianggap sebagai cermin dari orang pinggiran/desa yang kurang mengerti unggah-ungguh.

8Basa Kedhaton (Basa Bagongan)
7 Basa Kasar  
6  Basa Krama Desa  
5   Basa Krama Inggil  
4    Basa Krama  
3     Basa Madya  
2      Basa Ngoko Andap  
1       Basa Ngoko (Jawadwipa) 
Tingkatan Bahasa Jawa[4]

Bahasa Jawa logat Banyumasan (ngapak) dimasukkan ke dalam tataran kedua, yaitu Basa Ngoko Andhap. Ngoko, yaitu bahasa yang digunakan kepada orang yang memiliki derajat sama atau lebih rendah. Bahasa ngoko terkadang dicampur dengan bahasa kromo atau kromo inggil, bahasa inilah yang kemudian disebut dengan ngoko andhap dan digunakan oleh orang-orang Banyumas pada umumnya.[5]

Bahasa orang-orang Banyumas dengan dialek Banyumasan disebut bahasa peginyongan dan bersifat cablaka (lugas dan tegas, terbuka, apa adanya dan tidak ditutup-tutupi). Jika dilihat dalam kesehariannya masyarakat Banyumas lebih banyak menggunakan kata kowe’ atau koe’ (kata ganti kamu/engkau) untuk panggilan kepada teman sebaya atau yang tua kepada yang lebih muda. Berbeda dengan bahasa Jawa di daerah yang dekat dengan keraton, sapaan dengan panggilan sampeyan kepada teman sebaya ataupun dari yang tua kepada yang muda itu dianggap lebih sopan. Kemudian orang Banyumas mulai  mengganti kata kowe’ dengan sebutan rika’ sebagai kata panggilan agar terdengar lebih sopan.

Bukan hanya bahasa yang menjadi daya tarik dari wilayah Banyumas, tetapi kesenian lengger banyumasan yang dikembangkan oleh orang-orang Banyumas dengan iringan musik calung menjadi pusat perhatian oleh masyarakat Indonesia bahkan sampai mancanegara. Kesenian lengger khas Banyumas yaitu Lengger Calung[6] tersebar di hampir seluruh pelosok daerah seperti di Purwokerto, Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga. Kesenian di Banyumas pada umumnya merupakan seni pertunjukan rakyat yang memiliki fungsi-fungsi tertentu dan berkaitan dengan kehidupan masyarakat pemiliknya.

Kesenian Lengger

Banyumas adalah daerah berhawa sedang yang terletak di selatan lereng Gunung Slamet. Berada pada dataran yang selalu ijo royo-royo pertanda wilayah kesuburan dengan sifat masyarakat yang cablaka dan tidak neka-neka serta memiliki bahasa yang spesifik. Banyumas merupakan salah satu sub kultur Jawa yang tumbuh dan berkembang di luar batas wilayah negarigung[7] atau pusat kerajaan.[8]

Sebagai daerah yang berada di luar pusat kerajaan, Banyumas memiliki sistem budaya yang berbeda dengan budaya induknya, Budaya Jawa. Budaya masyarakat Banyumas bahkan keluar dari konsep keraton, hal itu dapat dilihat dari perbedaan bentuk kesenian yang ada. Menjadi lazim jika orang membedakan gaya tarian tertentu dan cara bagaimana tarian ditampilkan, sesuai dengan  kondisi geografis wilayahnya.[9] Salah satu kesenian yang populer dan merupakan bentuk perwujudan dari karakter masyarakat Banyumas yang tegas dan berani dari segi seni tari, yaitu Tari Lengger.

Lengger merupakan salah satu bentuk kesenian Banyumas yang dahulu dilaksanakan berkaitan dengan ritual kesuburan seperti meminta hujan dan upacara menanam sampai dengan panen padi .[10] Pada kelompok masyarakat yang tidak berburu, maka perhatian mereka tertuju pada curah hujan.[11] Orang yang hidup dari mengumpulkan buah-buahan maupun yang telah mengenal bercocok tanam, keduanya selalu mengusahakan agar hujan turun untuk kesuburan tumbuh-tumbuhan. Demikianlah masyarakat mengekspresikan doa minta hujan  dengan bernyanyi dan menari.

Lengger yang biasa disebut lengger calung adalah suatu tari-tarian gambyong yang diiringi gamelan bambu dengan gamelan Banyumasan.[12]

Gambyong merupakan gerakan tari yang lemah lembut dan diiringi dengan musik senada. Penari bertujuan untuk memikat perhatian penonton, seperti lirikan, gerak leher, dan lain-lain. Wiraga (penampilan pribadi dipentingkan, tekanan individual. Ritmik tidak ditentukan oleh irama yang tetap tetapi oleh irama kendang yang lincah.[13]

Lengger merupakan seni pertunjukan tradisional yang berangkat dan berkembang dari kalangan masyarakat jelata. Terletak jauh dari hegemoni kekuasaan istana dan salah satu jenis seni tari yang sudah ada di Banyumas sejak abad ke-18. Pada tahun 1755 lengger pertama kali muncul di daerah Kalibagor Kabupaten Banyumas[14] kemudian berkembang menjadi kesenian identitas masyarakat Banyumas. Lengger merupakan istilah bagi para penari calung[15] pria yang berdandan wanita.[16]

Pada mulanya penari lengger adalah laki-laki (selanjutnya disebut lengger lanang untuk membedakan dengan lengger wadon). Pendapat tersebut dapat diketahui melalui pengertian dari lengger yang berarti dikira perempuan ternyata laki-laki. Penari lengger seharusnya memang laki-laki karena menurut kepercayaan masyarakat, lengger dahulunya memiliki kisah historis tersendiri. Pada masa perlawanan Diponegoro tarian digunakan sebagai alat perlawanan kepada Belanda. Para lelaki menyamar sebagai ronggeng untuk mengelabuhi Belanda, dan bersiap menyerang saat Belanda mulai lengah. Jadi sebutan ronggeng adalah untuk penari wadon, dan lengger untuk penari lanang. Hanya saja di Banyumas para penari sama-sama disebut lengger baik itu wadon maupun lanang.

Penari lengger lanang di Banyumas berkembang pada tahun 1755 melalui Kiai Nurdaiman, seorang mubaligh yang menetap di daerah Kalibagor. Kiai Nurdaiman saat itu berencana untuk membuat sebuah pertunjukan pada acara Maulid Nabi Besar Muhammada S.A.W. untuk menarik perhatian masyarakat. Lengger digunakannya sebagai trik untuk menyebarkan islam pada saat itu, agar masyarakat tertarik mempelajari islam.  Kiai Nurdaiman membuat sebuah alat musik yang terbentuk dari bambu sepanjang 30 cm, kemudian dilaras membentuk nada. Belahan bambu disusun di atas kaki anak-anak yang pada saat dipukul dan dilagukan bunyinya terdengar begitu sari (enak).[17] Suara alat musik ini kemudian dinamakan calung dan lagu yang diiringi alat musik calung lama-lama disebut sebagai lagu Gunung Sari Kalibagoran.

Alat musik calung terus disempurnakan oleh Kiai Nurdaiman. Belahan bambu pada mulanya disusun di atas kaki yang terbujur kemudian dirubah dipasang di atas sandaran bambu. Begitu pula kendangnya, semula terbuat dari upih (kelopak pohon pinang) dan diletakkan di atas tanah yang dilubangi, kemudian dirubah dengan berbahan bambu. Perubahan ini terjadi ketika calung Gunung Sari Kalibagoran diminta oleh R.M. Tmg. Cokrokusumo, Adipati Banyumas pada tahun 1885-1905 untuk mengisi acara di pendopo Kabupaten Banyumas.[18]Pernyataan Pigeud Gautier Thomas dalam bukunya Javan Volksvertoningen  yang menyatakan bahwa di Banyumas khususnya, terdapat lengger yaitu pertunjukan dengan penari laki-laki dalam bentuk transvesti[19] yang diiringi musik dan beberapa badut.[20]

Lengger pada zaman dahulu merupakan bentuk tari-tarian yang ditampilkan di tempat-tempat terbuka, seperti langanan, sawah, atau di tempat-tempat khusus, seperti kuburan pepunden, candi, sendang dan lain-lain, bahkan diemper-emper rumah jika ada orang yang menanggap secara pribadi.[21] Penari lengger diharuskan bisa menari sekaligus bernyanyi, karena dalam satu grup lengger tersebut penari merangkap sebagai sinden. Musik calung menjadi pengiring bagi tari dan tembang yang ditampilkan oleh penari lengger. Sebagai seni hiburan dan pergaulan, saat itu pertunjukan lengger membutuhkan waktu semalam dalam setiap pertunjukannya. 

Lengger Lanang Banyumas

Seni yang tercipta di desa biasaya digunakan sebagai ritual kesuburan, sehingga baik musik maupun gerakan yang digunakan terbilang sederhana. Seiring berjalannya waktu maka bentuk upacara dengan musik dan tari-tarian telah menjadi bagian masyarakat suatu daerah tertentu yang telah disepakati untuk diakui bahwa kesenian tersebut merupakan produk asli wilayah itu.

Begitu pula dengan tari lengger yang merupakan salah satu bentuk tari rakyat. Tari lengger pertama kali muncul dengan penari lengger lanang dan hal ini tidak dipungkiri oleh para seniman lengger dan penari lengger wadon. Bagi yang sudah mengerti pasti memahami bahwasanya penari laki-laki yang berdandan seperti perempuan sudah ada sejak lama, dan mayoritas seni tari pada mulanya ditarikan oleh laki-laki sebelum ditarikan oleh perempuan, seperti jathilan, dan Gandrung Banyuwangi.

Serat Centhini jilid V pupuh 321-356 karya KGPAA Mengkunegara III (Sunan Pakubuwana V) (1814-1823), di dalamnya menceritakan tentang perjalanan Mas Cebolang ke Wirasaba yang membawa seorang penari thledek bernama Nurwitri dan mendapati sang Kanjeng Adipati jatuh cinta kepadanya. Isi dari Serat Centhini sebagai berikut :

Pupuh Sinom: 57. Ki Dipati ris ngendika

Endi sabatmu kang dadi/Tandhak kang jebles wanodya/Mas Cebolang matur inggih/Punika kang prayogi/Pun Nurwitri namanipun/Pinundhut binusanan/Cerestri ronggeng linuwih/Pinaringken kinen tumili lekasa[22]

Pupuh Dhandanggula: 14.  Ki Dipati angendhika aris

Esmu ngguyu marang Mas Cebolang/Panjakmu Nurwitri kuwe/Lah tilaren karuhun/Dimen kari nang njero becik/Suka tyas sun tumingal/Lir wong wadon lugu/Nora mantra-mantra lanang/Lan maninge manira akrya ringgit/Nurwitri kang muruka        

22.  Wuru kaworan alimpang brangti

Mring Nurwitri kang binrangti anyar/Katemben blero karsane/Nulya binekta kondur/Maring dalem gedhong kang wingking/Ki Dipati ngendika/Nurwitri dimaju/Sun sare singeben ingwang/Sembari rengeng-rengenga Lompong Keli/Montro Petung Wulungan[23]

Penari lengger melebur diri dan menyerahkan diri secara total kepada tradisi leluhur dengan menanggalkan kelelakiannya. Seorang penari lengger lanang telah menanggalkan maskulinitasnya dan menggantinya dengan feminitas untuk keperluan pertunjukan dan daya tarik penonton. Pilihan ini tentu saja berpengaruh kepada bagaimana pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap dirinya di luar pementasan. Ia memosisikan dirinya diposisikan kaum pria sebagai “perempuan”. Seorang lengger harus merelakan dirinya diposisikan layaknya seorang permepuan pada saat berada di atas panggung seperti pada kasus ledhek Nurwitri pada Serat Centhini.

Penampilan para penari lengger yang berdandan seperti perempuan saat berada di atas panggung menimbulkan pembawaan selayaknya perempuan yang sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian dari para penari lengger lanang tersebut akhirnya merasa nyaman dengan karakter perempuan yang semula hanya dipertunjukkan di atas panggung. Adanya keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat terhadap potensi yang dimilikinya, mendorong seorang penari lengger berperilaku seperti perempuan pada kehidupan sehari-hari. Dalam fase selanjutnya, sebagian lengger lanang mengalami perubahan ketertarikan di mana daya tarik terhadap perempuan lambat laun berganti dengan ketertarikan terhadap laki-laki. Salah satu contoh terjadi pada lengger Agnes yang semula adalah laki-laki tulen berubah menjadi “perempuan” setelah 1 tahun menggeluti lengger dan akhirnya terbawa karakter perempuan hingga pada kesehariannya. Keadaan seperti inilah yang tidak menguntungkan bagi para penari lengger lanang, karena mengakibatkan seseorang menjauhi kodratnya sebagai laki-laki.

Pada abad ke 18 , sebagaimana dijelaskan sebelumnya, penari lengger adalah lengger lanang. Baru pada abad ke 20 saat Indonesia mulai memasuki adanya seni peran atau seni pertunjukan, lengger mengalami perkembangan dari penari lanang menjadi wadon. Pada tahun 1918 atau setelah memegang peran dalam seni pertunjukan rakyat, lengger tidak lagi ditarikan oleh pria (tledhek), tetapi berubah menjadi ronggeng atau lengger wadon.[24] Penari lengger di Banyumas terutama di Desa Somakaton pada saat itu juga seorang perempuan, ia bernama Sendur.

Sepeninggal lengger Sendur yang diperkirakan pada tahun 1920 an[25], Desa Somakaton mengalami kekosongan penari lengger. Berselang 20 tahun di Banyumas mulai marak kembali penari lengger lanang. Pada tahun 1944, lama setelah lengger Sendur (lengger wadon) meninggal muncul kembali penari lengger lanang di Desa Somakaton melalui sosok Mbok Dariah sebagai penari dan mengisi kekosongan pertunjukan lengger yang ada di desa tersebut.

Mbok Dariah juga mengalami perubahan kepribadian dalam dirinya. Mbok Dariah lahir sebagai seorang laki-laki dan berpenampilan perempuan saat berada di atas panggung, bisa dikatakan sebagai penari transgender. Secara psikologi keadaan tersebut dapat mendorong timbulnya kenyamanan dan pengaruh seksualitas. Profesi sebagai penari lengger lanang yang dilakoni Mbok Dariah membawa dirinya untuk berinteraksi lebih kepada laki-laki, sehingga muncul ketertarikan yang menimbulkan intensitas hubungan atau pertemuan di luar pertunjukan. Dampak dari lengger yang demikian menjadikan Mbok Dariah  melakukan hubungan badang dengan sesama jenis. Seseorang yang memiliki daya tarik kepada orang lain yang memiliki kesamaan jenis kelamin dinamakan dengan homoseksual atau biasanya disebut dengan gay (banci) untuk hubungan sejenis yang dilakukan oleh sesama laki-laki.

Lengger Wadon

Tahun 1965 di Indonesia muncul suatu peristiwa besar yang disebut dengan G30S (Gerakan 30 September). G30S merupakan pemberontakan yang oleh rezim penguasa Orde baru dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai bentuk perwujudan tujuannya dalam rangka menciptakan diktator proletar, ialah merebut kekuasaan pemerintah dengan jalan apapun.[26] Munculnya PKI yang dituduh sebagai dalang dalam peristiwa G30S tersebut memunculkan amarah masyarakat, antara lain tercetus dengan dibakarnya gedung kantor pusat PKI di Jalan Kramat Jaya, rumah-rumah tokoh PKI beserta kantor-kantornya. Kemarahan masyarakat juga menyeret Organisasi Lekra (Lembaga Kebudayaan rakyat) dan para senimannya yang juga dianggap bagian dari Partai Komunis Indonesia.

Lekra adalah lembaga kebudayaan rakyat yang lahir pada tanggal 17 agustus 1950 dan merupakan salah satu organisasi seni budaya yang besar dan berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Lekra sering dikait-kaitkan dengan PKI dikarenakan adanya kemiripan prinsip keduanya dalam berorganisasi yang sama-sama berbasis kerakyatan. Kemiripan prinsip inilah yang juga menjadikan Lekra mendapat perhatian khusus dari PKI.

Melalui surat kabar Harian Rakjat PKI memberikan ruang kepada seniman Lekra untuk berarya.[27] Lekra juga ikut membantu PKI dalam merebut simpati masyarakat dalam pemilu 1955. Keberhasilan PKI dalam pemilu menimbulkan keinginan PKI untuk menarik Lekra masuk menjadi bagian dari PKI. Lekra menolak tawaran tersebut dan tetap berdiri sendiri tanpa memihak pada PKI atau organisasi lainnya.

Akibat dari dugaan adanya keterlibatan Lekra dengan PKI maka pada tahun 1965 Lekra mengalami kemunduran bahkan kefakuman. Para seniman yang dianggap berhubungan dengan PKI dibunuh dan disiksa untuk menghilangkan jejak orang-orang komunis. Keadaan ini juga berdampak pada Lekra Surakarta. Lekra Surakarta mengalami kemunduran bahkan kehancuran tanpa adanya kesempatan regenerasi diranah kebudayaan. 

Foto Lengger Wadon pada sekira tahun 1920. Sumber: Disparbud Banyumas

Kelompok seni lengger Mbok Dariah merupakan kelompok seni yang netral, tidak memihak siapapun tetapi lebih pada mematuhi pemimpin yang sedang berkuasa pada saat itu. Agar tetap berada pada posisi netral dan tidak menjadi kelompok yang ikut dalam komunis, maka kelompok seni lengger Mbok Dariah lebih memilih untuk vakum. Tidak ada lagi lengger yang melakukan pertunjukan di tahun tersebut.

Memasuki tahun 1970 kesenian mulai diperbolehkan menampilkan pertunjukan kembali. Keputusan ini disertai dengan munculnya GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) pada tahun 1970. Di wilayah eks-Karesidenan Banyumas mulai bermunculan kelompok-kelompok kesenian lengger seperti:

  1. Grup Calung Ngesti Laras pimpinan Sankardi dari Desa Banjarwaru Kab. Cilacap. Didirikan pada tahun 1970.
  2. Grup Calung Sekar Ngrembaka yang merupakan sempalan Ngesti Laras pernah mengikuti lomba tradisional tingkat nasional. Grup ini dipimpin Kamiyati dari Desa Bajing Kecamatan Kroya kabupaten Cilacap. Grup ini dapat maju atas bimbingan Letkol. Pol. R. Gunarto anggota Kowil Kepolisian 91 Banyumas. Grup ini didirikan tahun 1979.
  3. Grup Calung Kencana Laras dari Dukuh Panggung, Desa Wangon Kec. Wangon, Kab. Banyumas. Grup ini didirikan pada tahun 1980 dipimpin oleh Kusniarjo. Mereka beranggotakan 7 orang dan rata-rata berusia muda.[28] 

Kelompok kesenian lengger disebut dengan kesenian lengger calung dikarenakan pertunjukan tari lengger ini menggunakan calung sebagai alat musik pengiringnya, sehingga kemudian penari lengger beserta kelompok pemain calungnya disebut kesenian lengger calung. Beberapa penari lengger juga ada yang tidak memiliki grup musik calung sendiri, seperti Mbok Dariah, Kak Otnil dan Kak Agus. Mereka termasuk dalam seniman bebas, yakni seniman yang dapat tampil dengan kelompok musik tertentu yang mengajaknya. Para penari lengger calung tersebut juga disebut dengan lengger sehingga panggilan mereka menjadi lengger Dariah, Lengger Otnil, dan lengger Agus. Sama hal nya dengan seorang dalang wayang, ada beberapa dalang yang memiliki kelompok musik karawitannya sendiri, tetapi ada juga beberapa yang hanya berprofesi sebagai dalang saja, dan siap mendalang kapan saja jika diajak suatu grup wayang dalam sebuah tanggapan.   

Setelah keluarnya keputusan dari pemerintah mengenai diperbolehkannya para seniman untuk tampil kembali, banyak kelompok seni lengger yang bermunculan untuk menampilkan kembali tari lengger yang telah lama padam. Hanya saja saat itu perempuan ikut berperan dalam kesenian lengger sehingga banyak perempuan yang menjadi penari lengger. Pada masa ini lengger lanang dan lengger wadon berjalan berdampingan, meskipun lengger wadon lebih banyak digemari dari pada lengger lanang.

Ada beberapa kelompok lengger yang pemimpinnya adalah penari lengger wadon tersebut. Salah satu kelompok lengger wadon yang sudah ada sejak tahun 1970 dan masih sering diundang masyarakat adalah Lengger Kamiyati.

Penampilan Grup Calung Sekar Ngrembaka. Dok. Kamiyati

Dalam foto di atas terlihat jelas dua orang lengger sedang tampil bersama dengan kelompok lenggernya yang berjumlah 10 orang. Musik yang digunakan adalah seperangkat musik calung disertai gendang dan gong ala Banyumasan.   

Lengger wadon adalah sebutan untuk membedakan lengger laki-laki dengan lengger perempun, meskipun di daerah Banyumas sendiri baik itu lengger lanang atau wadon sama-sama disebut lengger dan tidak ada pembeda penyebutan pada keduanya. 

Menjadi Lengger

Desa Plana termasuk dalam wilayah Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Dari Kecamatan Somagede Desa Plana berjarak sekitar 6 Km, yang dapat ditempuh dengan sepeda sekitar 15 menit, sedangkan dari pusat ibu kota berjarak 33 Km dan dapat ditempuh sekitar 1 jam. Luas wilayah Desa Plana adalah 3.410 ha[29] dengan batas-batas desa sebagai berikut :

Sebelah Utara   :Desa Pelumutan Kecamatan Kumangkoni Kabupaten         Purbalingga.
Sebelah Timur  :Desa Karang Salam Kecamatan Susukan Kabupaten Banjar.
Sebelah Selatan:Desa Piasa Kulon Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas.
Sebelah Barat   :Sungai Serayu Desa Somakaton Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas.[30]

Mbok Dariah bernama asli Sadam berjenis kelamin laki-laki. Lahir di Desa Somakaton Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas pada tanggal 31 Desember 1921[31] dari pasangan Dipawikarta Samin dan Darminem[32] yang berprofesi sebagai petani. Semula Sadam 9 bersaudara, tetapi 7 diantaranya telah meninggal saat bayi dan tersisa dirinya dan adik perempuannya yang bernama Wasilah. Kakek nya bernama Kramaleksana, neneknya bernama Mainah dan bibinya bernama Misem.

Sepeninggal Dipawikarta Samin sang ayah, Sadam beserta Ni Darminem sang ibu dan adiknya tinggal bersama Kramaleksana di Desa Somakaton kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas. Pada suatu hari rumah Kramaleksana kedatangan seorang tamu dan mengaku bernama Kaki Danabahu yang pada saat itu dipercaya sebagai mubaligh dan sedang berkelana. Kaki Danabahu Berkata kepada Kramaleksana bahwa cucunya telah kemasukan indhang[33] lengger dan mampu untuk melengger asal ada niat dan usaha.

“Wirya, kae putumu si Sadam tah kedunungan indhang lengger. Angger gelem ginau bisa dadi lengger sing misuwur” (Wirya, cucumu si Sadam dirasuki indhang lengger. Kalau mau belajar dapat menjadi lengger yang terkenal).[34]

Pembicaraan antara Kramaleksana dan Kaki Danabahu terdengar oleh Sadam yang diam-diam mendengarkan dipojok ruangan. Terjadilah gejolak dalam diri Sadam yang pada saat itu juga sedang gemar berlenggak-lenggok layaknya seorang penari. Pada malam hari Sadam memutuskan untuk pergi dari rumah tanpa pamit, hal ini tidak diketahuinya, apakah kepergiannya merupakan salah satu pengaruh indhang lengger atau karena rasa penarasan dirinya terhadap perkataan Kaki Danabahu tersebut.

Perjalanan panjang Sadam dalam berkelana disebut-sebut sebagai perjalanan supranatural. Sadam tidak mengingat betul jalur mana saja yang dia tempuh. Sadam hanya  ingat bahwa dia memulai dari daerah Banyumas, berjalan dari rumahnya ke arah timur menuju Klampok, Banjarnegara, ke utara arah Purbalingga, dan ke arah barat hingga Gandatapa Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas.[35] Setelah berjalan beberapa hari kemudian Sadam menemukan sebuah pemakaman yang disertai sebuah candi[36] di dekatnya, kemudian dia memutuskan berhenti di pemakaman yang terletak di daerah Gandatapa tersebut. Keputusan Sadam untuk berhenti di tempat tersebut karena dia merasa tenang berada di pemakaman tersebut yang dia yakini bahwa di tempat itulah kegundahan hatinya akan terobati.

Berhari-hari Sadam berada di pemakaman tersebut, tetapi Sadam belum mengetahui bahwa tempat peristirahanya merupakan panembahan ronggeng. Selanjutnya terdengar perbincangan beberapa orang yang melewatinya dan menebak keberadaan Sadam yang singgah di tempat tersebut. Berikut sekilas percakapan yang didengar oleh Sadam :

A : “kae sapa sih sing lagi tapa nang Panembahan Ronggeng?” (siapa sih yang sedang bertapa di Panembahan Ronggeng?),

B : “Mbuh wong ngendi. Wong nang Panembahan Ronggeng mesthine ya lagi ngudi men bisa dadi ronggeng” (entah orang mana. Orang di Panembahan Ronggeng mestinya yang sedang memohon agar dapat menjadi ronggeng).[37]

Setelah mendengar percakapan itu, Sadam baru menyadari bahwa tempat yang sedang ia jadikan peristirahatan dan penyejuk kegundahannya merupakan tempat Panembahan Ronggeng. Selanjutnya Sadam merasa yakin bahwa menjadi lengger sudah menjadi jalan hidup yang harus dilakoninya dan dia sudah siap akan hal itu. Di Panembahan Ronggeng tersebut Sadam juga menemukan sebuah batu yang berbentuk menyerupai penis (kemaluan laki-laki) dan oleh Sadam dianggap sebagai batu keramat dan sebuah petunjuk.

2016_Otniel Dance Community Come to Plana (21)
Batu yang diyakini sebagai jimat oleh Sadam (Mbok Dariah). Sumber: Otnil Tasnan

Setelah merasa pertapaannya telah cukup maka Sadam memutuskan untuk pulang. Sebelum sampai di rumah Sadam membeli beberapa perlengkapan tari seperti brongsong gelung, sampur, kemben dan jarit. Sesampainya di rumah Sadam disambut meriah oleh keluarga. Bahkan, keluarganya menyelenggarakan selamatan atas kedatangan Sadam setelah mendengar cerita tentang perjalanan spiritualnya. Keputusan Sadam untuk menjadi lengger juga ditanggapi positif oleh keluarga besarnya sehingga tidak ada resistensi dari pihak keluarga atas keputusan Sadam tersebut.

Keesokan harinya kakek Kramaleksana mengundang beberapa tetangga yang bisa memainkan alat musik seperti calung dan gendang untuk mengiringi Sadam menari dan menembang. Setelah benar-benar yakin ia akan menjadi lengger maka Sadam merubah namanya menjadi Dariah. Nama inilah yang kemudian digunakan Sadam hingga usia senja dan populer ditengah-tengah masyarakat dengan sebutan Mbok Dariah.

Terdapat dua petilasan yang menjadi napak tilas Mbok Dariah dan digunakan sebagai tempat untuk menenangkan diri atau dalam sebutan bahasa Jawa Kuno adalah bersemedi. Lokasi pertama bernama Petilasan Panggihsari. Petilasan Panggihsari memang sudah tidak digunakan sebagai tempat bersemedi, tetapi masyarakat masih menghargainya dengan cara memperindah petilasan tersebut dan menggunakan area Petilasan Panggihsari sebagai tempat untuk acara tertentu seperti acara selamatan Desa. [38]

IMG_20170601_092920_HDR
Petilasan Panggihsari Desa Somakaton Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Dokpri.

Dari petilasan Panggihsari berjarak sekitar 500 M terdapat satu lagi lokasi petilasan yang juga merupakan napak tilas Mbok Dariah, bernama Petilasan Selo Kursi. Mbok Dariah lebih sering berada di Petilasan Selo Kursi dari pada di Petilasan Panggihsari meskipun letak Petilasan Selo Kursi lebih jauh dan berada tepat di pinggir Sungai Serayu.

Petilasan Selo Kursi yang berada di pinggir Sungai Serayu Desa Somakaton Kec. Somagede. Banyumas. Dokpri

Kelenggeran Mbok Dariah dimulai pada masa pemerintahan Jepang di Indonesia tepatnya sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.[39] Jika melihat perkiraan tersebut maka bisa jadi Mbok Dariah mulai melengger pada tahun 1944. Dihitung dari tahun lahir Dariah yakni tahun 1921[40] maka Mbok Dariah mulai melengger pada umur 23 tahun. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa Mbok Dariah melengger pada usia 10 atau 15 tahun sehingga dapat diperkirakan pada tahun 1931 atau 1930. Jika demikian maka sesungguhnya Mbok Dariah sudah me-lengger sebelum kedatangan Jepang ke Indonesia, masih pada masa kedudukan pemerintahan Belanda.

IMG_20170821_102325
KTP Mbok Dariah. Dokpri

Memutuskan untuk menjalani hidup menjadi lengger bukan suatu hal yang bisa dianggap mudah. Mbok Dariah harus melalui beberapa tahap ritual sebelum benar-benar dinobatkan sebagai penari lengger sesungguhnya. Ritual ini dianggap sebagai syarat atau semacam langkah-langkah seseorang sebelum di “wisuda” sebagai seorang lengger.

Sebelum seorang seniman dilahirkan, di lingkungannya telah hidup suatu budaya yang di dalamnya terdapat apa yang dinamai seni. Begitu si calon seniman mencapai kesadaran, dia mulai belajar menghayati dan memahami apa yang disebut seni oleh masyarakatnya. Dalam hal ini calon seniman belajar dari tradisi seni masyarakatnya. Tradisi ini berupa kumpulan warisan mengenai apa dan bagaimana seni itu berdasarkan pemahaman masyarakatnya. Kumpulan warisan seni dapat dipelajari lewat pemahaman sejarah seni dan penghayatan langsung berbaga karya warisan tersebut.[41]

Melalui penjelasan tersebut tidak heran jika Mbok Dariah sangat bersungguh-sungguh dalam menjalankan setiap ritual yang harus dijalani. Dariah adalah seseorang yang kuat dalam menjalani tirakatnya. Demi mendapatkan jiwa kelenggeran yang sejati Mbok Dariah memilih puasa mutih[42] dan ritual mandi di 7 sumur yang berbeda juga ia lakoni. Menjadi lengger tidak dianggap sebuah paksaan bagi Mbok Dariah, tetapi sebagai salah satu tanggung jawab seseorang terhadap usaha pelestarian tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya.

Selain persyaratan pribadi yang harus dijalankan, untuk menjadi lengger lengkap dengan pengrawitnya juga harus melalui beberapa ritual yang harus dijalankan oleh kelompok seni lengger terkait. Dalam seni tradisional di Banyumas, selalu mengawali proses dengan barang. Barang adalah proses ritual yang dilakukan dengan cara ngamen lengger. Para calon seniman lengger harus melewati pentas 7 kali tanpa kurun waktu tertentu bisa dalam waktu 1-3 bulan yang tidak diperbolehkan meminta bayaran.[43] Maka Ritual barang ini bukan semata-mata untuk mencari uang, tetapi digunakan untuk memenuhi persyaratan yang sudah menjadi keharusan tersebut.

Baru setelah semua persyarakat sebelum menjadi lengger dipenuhi, seorang lengger bersama kelompoknya dapat disebut sebagai lengger. Perjuangan para seniman tersebut telah mendapatkan ijazah dalam bentuk tradisi Jawa sebagai penguat dan sandaran mereka dalam berkesenian dan menjunjung nilai-nilai leluhur.   (bersambung)

Catatan akhir

[1] Budiono Herusatoto, Banyumas Sejarah, Budaya, Bahasa dan Watak (Yogyakarta : LkiS, 2008), hlm. 13.

[2] Ibid., hlm. 180.

[3] M. Koderi, Banyumas Wisata dan Budaya (Purwokerto : Cv. Metro Jaya, 1991), hlm. 165-166.

[4] Budiono Herusatoto, op.cit., hlm. 8.

[5] M. Koderi, op.cit.,hlm. 164.

[6] Wien Pudji Priyanto, “Representasi Indhang Dalam Kesenian Lengger Di Banyumas”, dalam Jurnal  Jurusan Pendidikan Seni Tari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta, hlm. 2.

[7] Wilayah bagian dari kerajaan atau wilayah yang mengitari Kutanegara. Wilayah Negarigung dibagi menjadi empat bagian, yaitu meliputi daerah-daerah Kedu, Siti Ageng, Bagelen, dan Pajang.

[8] Koentjoroningrat,  Masyarakat Desa di Indonesia (Jakarta : Lembaga Penerbit FE-UI, 1984), hlm. 219.

[9] Clara Brakel-Papenhuyzen. Seni Tari Jawa : Tradisi Surakarta dan Peristilahannya (Jakarta : ILDEP-RUL, 1991), hlm. 11.

[10] Wien Pudji Priyanto, op.cit., hlm. 1.

[11] Ben Suharto, Tayub: Pertunjukan & Ritual Kesuburan, (Bandung : Masyarakat Seni Pertumjukan Indonesia, 1999), hlm. 11.

[12] M. Koderi, op.cit., hlm. 59.

[13] Mudji Sutrisno dan Christ Verhaak, Estetika Fislafat Keindahan, cetakan keenam (Yogyakarta : Penerbit Kasibus, 2006), hlm 101.

[14] M. Koderi, op.cit., hlm. 60.

[15] Alat musik yang digunakan untuk mengiringi tari lengger. Calung terbuat dari bambu terbaik yang telah dipilih kemudian di jemur dan di susun horizontal dengan ukuran bambu yang berbeda untuk menghasilkan suara yang berfariasi.

[16] M. Koderi, loc.cit.

[17] Ibid., hlm. 61.

[18] loc.cit.

[19] Transvestit adalah seseorang yang berperilaku dan senang berdandan atau bersolek seperti lawan jenisnya untuk menarik perhatian orang disekelilingnya.

[20] Ivone Triyoga, “Gambyong Banyumasan Sebuah Studi Koreologis”, dalam Jurnal Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 1986, hlm. 34-35. Dalam Wien Pudji Priyanto, op.cit., hlm. 5.

[21] Supriyadi, Seni Tari Rakyat Lengger. Kajian sosiologis dalam Soetarno, dkk, Gelar,  Jurnal  (Surakarta : Ilmu Dan Seni Stis Surakarta, 2003), vol. 1 no. 1, hlm. 42.

[22] Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara III, Serat Centhini jilid V (Suluk Tambangraras) (Yogyakarta: Yayasan Centhini, 1998), hlm. 6.

[23] Yusmanto, Makalah lengger lanang berjudul “catatan kecil tentang lengger lanang dan masa depannya” yang digunakan sebagai bahan persentasi di Universitas Sooedirman pada tanggal 14 November 2013.  

[24] Supriyadi, op.cit., hlm. 34.

[25] Menurut penuturan Yusmanto, Mbok Dariah tidak mengikuti masa kelenggeran Sendur, sedangkan Mbok Dariah sendiri lahir pada tahun 1921. Diperkirakan lengger Sendur meninggal pada tahun 1920 an, saat Mbok Dariah baru lahir atau masih balita sehingga belum mengingat betul tentang lengger tersebut.

[26] Marwati Djoened Puosponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI (Jakarta : Balai Pustaka, 1993), hlm. 387.

[27] Jeanne S Mintz, Muhammad Marx And Marhaen (Jakarta Pusat : Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 218 dalam Andhika Krisna Wijaya, Lembaga Kebudayaan Rakyat Surakarta Tahun 1950-1965, skripsi (Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret, 2011), hlm. 4.

[28] Soegeng Wiyono dan Sunardi, Banjoemas Riewayatmoe Doloe (Purwokerto : Daya Mandiri Production, 2006), hlm. 62.

[29] Papan data Monografi Desa Plana Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas Tahun 2014.

[30] Daftar Isian Potensi Desa dan Kelurahan Lampiran II Peraturan Mentri Dalam Negri Nomor 12 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan dan Pendayagunaan Data Profil Desa dan Kelurahan, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Tengah, 2012.

[31] Kartu Tanda Penduduk Mbok Dariah.

[32] Surat Kartu Keluarga Mbok Dariah.

[33] Indhang adalah Kekuatan supranatural dari roh nenek moyang yang dapat menjadikan seseorang menjadi bintang panggung dan digandrungi oleh para penontonnya.  

[34] Wawancara dengan Yusmanto pada 30 Mei 2017.

[35] Ryan Rachman, “Mbok Dariah, Penari Lengger Delapan Dekade Dianggap Lelaki Tercantik, Dicemooh Istri Orang” Suara Merdeka  (Jawa Tengah : 17 November 2011), tahun 62. No 270.

[36] Di Panembahan Ronggeng tersebut dahulunya terdapat beberapa menhir, namun saat ini menhir tersebut telah hilang sebab dijual oleh masyarakat sekitar sehingga yang tersisa hanyalah panembahan ronggeng tersebut.

[37] Wawancara dengan Yusmanto pada 30 Mei 2017.

[38] Wawancara dengan Sarwo pada 1 Juni 2017.

[39] Wawancara dengan Mbok Dariah pada 21 November 2016, wawancara dengan Yusmanto pada 1 Maret 2017, dan wawancara dengan komunitas Purwokerto Bersatu tanggal 29 Mei 2017.

[40] Sumber sesuai dengan isi yang tertulis pada Kartu Tanda Penduduk.

[41] Jacob Sumardjo, Filsafat Seni (Bandung : Penerbit ITB, 2000), hlm. 88.

[42] Berpuasa dari berbagai macam makanan kecuali nasi putih.

[43] Wawancara dengan Yusmanto pada 30 Mei 2017.

Foto cover: https://www.liputan6.com/regional/read/2445254/legenda-penari-lengger-dan-jejak-lgbt-di-serat-centhini

Share This:

About Husnun Nadhiroh 3 Articles
Husnun Nadhiroh menyelesaikan S1 Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember dengan skripsi biografi Mbok Dariah, lengger lanang dari Banyumas. Selama kuliah, dia aktif di bidang tari Dewan Kesenian Kampus FIB UNEJ. Banyak pertunjukan tari garapan yang ia lakoni dan ikuti. Saat ini mengabdi sebagai guru di MTsN Lamandau, Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah. Di sela-sela pekerjaannya, ia masih mengasah keterampilan tarinya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*