Heterotopia: Menelusuri ruang-ruang lain

MICHEL FOUCAULT

Obsesi besar dari abad ke-19 adalah sejarah, khususnya yang bertema pembangunan dan penangguhannya, krisis, dan siklus, tema-tema masa lalu yang terus bertambah, banyaknya manusia yang meninggal, dan mencairnya es kutub yang mengancam dunia. Abad ke-19 menemukan sumber daya mitologis esensialnya dalam prinsip kedua termodinamika.[1] Epos sekarang mungkin menjadi epos ruang. Kita berada di epos simultanitas: kita berada di epos penjajaran, epos dekat dan jauh, epos sisi-demi-sisi, dan epos “yang tersebar”. Kita sedang menunggu. Saya percaya, pengalaman kita tentang dunia kurang dari umur panjang yang berkembang melalui waktu dibandingkan dengan jaringan yang menghubungkan titik-titik dan memotong dengan kumparannya sendiri. Kita mungkin bisa mengatakan bahwa konflik ideologis tertentu yang menjiwai polemik masa kini menentang keturunan saleh dari waktu dan menentukan penghuni ruang. Strukturalisme—atau paling tidak pemikiran yang dikelompokkan di bawah nama yang agak terlalu umum ini—adalah  upaya untuk membangun di antara elemen-elemen yang dapat dihubungkan pada poros temporal, sebuah rangkaian hubungan yang membuat mereka tampak disandingkan, berangkat satu sama lain, disiratkan oleh satu sama lain—yang menjadikannya, singkatnya, sebagai semacam konfigurasi. Sebenarnya, strukturalisme tidak memerlukan penolakan waktu. Pemikiran ini memang melibatkan cara tertentu dalam berurusan dengan apa yang kita sebut waktu dan apa yang kita sebut sejarah.

The star cluster Westerlund 2 | ESA/Hubble

Namun, perlu diperhatikan bahwa ruang yang saat ini tampak membentuk cakrawala kepedulian kita, teori kita, sistem kita, bukanlah sebuah inovasi. Mengapa? Karena ruang itu sendiri memiliki sejarah dalam pengalaman Barat dan tidak mungkin untuk mengabaikan persimpangan fatal waktu dengan ruang. Dengan cara menelusuri kembali sejarah ruang secara sangat kasar, kita bisa mengatakan bahwa pada Abad Pertengahan terdapat rangkaian hierarki tempat. Ada tempat-tempat suci dan lempeng-lempeng profan. Ada tempat-tempat yang dilindungi dan terbuka. Tempat-tempat terbuka juga ada yang di kota dan di pedesaan. Semua ruang tersebut memperhatikan kehidupan nyata manusia. Dalam teori kosmologis, ada tempat supercelestial (sebuah tempat di atas surga) yang bertentangan dengan celestial (surga). Tempat surga pada gilirannya berlawanan dengan tempat terestrial (bumi). Ada tempat-tempat di mana benda-benda diletakkan karena mereka telah dipindahkan dengan kejam. Di tempat-tempat sebaliknya di mana benda-benda menemukan tanah dan stabilitas alami mereka. Hirarki yang lengkap ini, oposisi ini, persimpangan tempat-tempat inilah yang secara kasar dapat disebut sebagai ruang abad pertengahan: ruang penempatan.

Ruang penempatan ini dibuka oleh Galileo. Karena skandal nyata karya Galileo tidak terletak pada penemuannya, atau penemuan kembali, bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, tetapi dalam susuannya tentang ruang tak terbatas, dan ruang terbuka yang tak terbatas. Di ruang seperti itu, tempat Abad Pertengahan seola-olah menjadi hilang; tempat benda tidak lagi merupakan titik dalam pergerakannya, sama seperti stabilitas benda hanya gerakannya yang melambat tanpa batas. Dengan kata lain, dimulai oleh Galileo dan abad ke-17, perluasan diganti untuk lokalisasi.

Nebulite race information | Wiki | Ashes of Eden Amino

Hari ini situs tersebut telah diganti untuk perluasan yang dengan sendirinya telah menggantikan penempatan. Situs ini ditentukan oleh hubungan kedekatan antara titik atau elemen. Secara formal, kita dapat menggambarkan hubungan ini sebagai rangkaian, pohon, atau kisi-kisi. Selain itu, pentingnya situs tersebut sebagai masalah dalam pekerjaan teknis kontemporer cukup terkenal. Misalnya, penyimpanan data atau hasil langsung perhitungan dalam memori mesin, sirkulasi elemen berlainan dengan output acak (lalu lintas mobil adalah kasus sederhana, atau suara pada saluran telepon); identifikasi elemen-elemen yang ditandai atau diberi kode di dalam suatu himpunan yang dapat didistribusikan secara acak, atau dapat diatur menurut klasifikasi tunggal atau ganda.

Dengan cara yang lebih konkrit, masalah penentuan letak atau penempatan muncul bagi umat manusia dalam hal demografi. Masalah situs manusia atau ruang hidup ini tidak hanya untuk mengetahui apakah akan ada cukup ruang untuk manusia di dunia—masalah yang tentu saja cukup penting—tetapi juga untuk mengetahui hubungan kedekatan, juga jenis penyimpanan, sirkulasi, penandaan, dan klasifikasi elemen manusia harus diadopsi dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Zaman kita adalah masa di mana ruang mengambil bagi kita bentuk hubungan antar situs.

Dalam kasus apa pun saya percaya bahwa kecemasan zaman kita secara mendasar berkaitan dengan ruang, tidak diragukan, lebih dari waktu. Waktu mungkin tampak bagi kita hanya sebagai salah satu dari berbagai pelaksanaan distribusi yang memungkinkan untuk elemen-elemen yang tersebar di ruang. 

Newfound Galileo Letter Suggests He Lied to Dupe the Church and ...
Galileo

Sekarang, terlepas dari semua teknik untuk mengambil ruang, terlepas dari seluruh jaringan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk membatasi atau memformalkannya, ruang kontemporer mungkin masih belum sepenuhnya terdesentralisasi (tampaknya tidak seperti waktu yang terlepas dari tempat suci di masa lalu abad ke-19). Memang desakralisasi teoritis ruang tertentu (yang diisyaratkan oleh karya Galileo) telah terjadi, tetapi kita mungkin masih belum mencapai titik desentralisasi praktis ruang. Dan mungkin hidup kita masih diatur oleh sejumlah oposisi yang tetap tidak dapat diganggu gugat, di mana institusi dan praktik kita belum berani mematahkan. Ini adalah pertentangan yang kita anggap sebagai yang terberi secara mudah: misalnya antara ruang pribadi dan ruang publik, antara ruang keluarga dan ruang sosial, antara ruang budaya dan ruang bermanfaat, antara ruang waktu luang dan ruang kerja. Semua ini masih dipelihara oleh kehadiran tersembunyi dari yang suci.

Karya Bachelard yang monumental dan deskripsi para ahli fenomenologi telah mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak hidup di ruang yang homogen dan kosong, tetapi sebaliknya, di ruang yang dipenuhi dengan kuantitas dan mungkin juga sangat fantastik. Ruang persepsi utama kita, ruang mimpi kita dan gairah hidup kita memiliki sifat-sifat yang tampak intrinsik: ada ruang terang, halus, transparan, atau, lagi-lagi, ruang gelap, kasar, terbebani; ruang dari atas, puncak, atau sebaliknya ruang dari bawah lumpur; atau sekali lagi ruang yang dapat mengalir seperti air yang berkilau, atau ruang yang tetap, membeku, seperti batu atau kristal. Namun analisis ini, meskipun penting untuk refleksi di zaman kita, secara khusus menyangkut ruang internal. Saya ingin berbicara sekarang tentang ruang eksternal.

Ruang di mana kita hidup, yang menarik kita keluar dari diri kita sendiri, di mana erosi hidup kita, waktu dan sejarah kita terjadi, ruang yang mencakar dan menggerogoti kita, juga merupakan ruang heterogen. Dengan kata lain, kita tidak hidup dalam kekosongan, di dalamnya kita bisa menempatkan individu dan benda. Kita tidak hidup di dalam kekosongan yang bisa diwarnai dengan beragam warna cahaya. Kita hidup di dalam rangkaian hubungan yang menggambarkan situs yang saling tidak dapat direduksi satu sama lain dan sama sekali tidak saling menindih atau memaksa satu sama lain.

Tentu saja, kita mungkin mencoba untuk menggambarkan situs-situs yang berbeda ini dengan mencari serangkaian hubungan di mana situs tertentu dapat didefinisikan. Sebagai contoh, menggambarkan rangkaian hubungan yang mendefinisikan situs transportasi seperti jalan dan kereta api. Kereta api adalah kumpulan hubungan yang luar biasa karena ia merupakan sesuatu yang dengannya seseorang bepergian; sesuatu yang dengannya seseorang bisa berpindah dari satu titik ke titik yang lain; dan, juga sesuatu yang melintas. Kita dapat menggambarkan, melalui gugus hubungan yang memungkinkan mereka untuk didefinisikan, tempat-tempat relaksasi sementara—kafe, bioskop, dan pantai. Demikian juga, kita dapat menggambarkan, melalui jaringan relasinya, tempat istirahat tertutup atau semi tertutup—rumah, kamar tidur, tempat tidur, dan lain-lain. Namun, di antara semua situs ini, saya tertarik pada situs-situs tertentu yang memiliki sifat ingin tahu terkait dengan semua situs lain, tetapi sedemikian rupa untuk mencurigai, menetralisir, atau membalikkan rangkaian hubungan yang kebetulan mereka tunjuk, cermin, atau refleksi. Ruang-ruang ini—seolah-olah terhubung dengan yang lain, tetapi bagaimanapun bertentangan dengan semua situs lain—terdiri dari dua bentuk utama.

HETEROTOPIA

Pertama ada utopia. Utopia adalah situs tanpa tempat nyata. Mereka adalah situs yang memiliki hubungan umum analogi langsung atau terbalik dengan ruang nyata masyarakat. Mereka menghadirkan masyarakat itu sendiri dalam bentuk yang sempurna, atau masyarakat yang terbalik. Namun, dalam kasus apa pun utopia ini adalah ruang yang pada dasarnya tidak nyata.

Utopia | work by More | Britannica
Utopia, Thomas More

Ada juga, mungkin di setiap budaya, di setiap peradaban, tempat-tempat nyata—tempat-tempat yang memang ada dan yang terbentuk dalam pendirian awal masyarakat—yang mirip dengan situs-situs semacam utopia yang diberlakukan secara efektif di mana situs-situs nyata—semua situs nyata lain yang dapat ditemukan dalam budaya—secara bersamaan diwakili, diperebutkan, dan dibalik. Tempat-tempat semacam ini berada di luar semua tempat, meskipun mungkin untuk menunjukkan lokasi mereka dalam kenyataan. Karena tempat-tempat ini benar-benar berbeda dari semua situs yang mereka refleksikan dan bicarakan, saya akan menyebutnya, dengan kontras dengan utopia, heterotopia. Saya percaya bahwa di antara utopia dan situs-situs lain ini, heterotopia ini, mungkin ada semacam pengalaman gabungan, yang akan menjadi cermin. Bagaimanapun, cermin itu adalah utopia, karena ia adalah tempat tanpa tempat. Di cermin, saya melihat diriku di sana di mana saya tidak berada, dalam ruang virtual yang tidak nyata yang terbuka di belakang permukaan. Saya di sana, di sana di mana saya bukanlah semacam bayangan yang memberikan visibilitasku sendiri untuk diriku sendiri, yang memungkinkan saya untuk melihat diriku di sana di mana saya tidak ada. Seperti itulah utopia cermin. Namun, utopia cermin itu juga merupakan heterotopia sejauh cermin itu ada dalam kenyataan, di mana cermin itu memberikan semacam penyeimbang pada posisi yang saya tempati. Dari sudut pandang cermin saya menemukan ketidakhadiranku dari tempat di mana saya berada sejak saya melihat diriku di sana. Mulai dari tatapan ini, yang seolah-olah, diarahkan ke arahku, dari dasar ruang virtual yang ada di sisi lain dari kaca, saya kembali ke diriku sendiri. Saya mulai lagi mengarahkan mataku ke arahku sendiri dan untuk memulihkan diri di sana di mana saya berada. Cermin berfungsi sebagai heterotopia dalam hal ini: cermin membuat tempat yang saya tempati saat saya melihat diriku di dalam kaca sekaligus benar-benar nyata, terhubung dengan semua ruang yang mengelilinginya, dan sama sekali tidak nyata, karena untuk dapat dirasakan itu harus melewati titik virtual yang ada di sana.

Adapun heterotopia-heteropia seperti itu, bagaimana mereka bisa dijelaskan? Apa artinya mereka? Kita mungkin membayangkan semacam deskripsi sistematis—saya tidak mengatakan sains karena istilah itu terlalu luar biasa sekarang—yang dalam masyarakat tertentu akan menjadikan ruang-ruang berbeda dari tempat-tempat lain ini sebagai objek studi, analisis, deskripsi, dan “bacaan” (sebagaimana yang dikatakan oleh beberapa orang saat ini). Sebagai semacam pertarungan mitos dan nyata dari ruang tempat kita hidup, deskripsi ini bisa disebut heterotopologi.

Prinsip pertamanya adalah bahwa mungkin tidak satupun budaya di dunia yang gagal membentuk heterotopia. Prinsip pertama ini bersifat konstan dalam setiap kelompok manusia. Namun, heterotopia-heteropia jelas mengambil bentuk yang sangat bervariasi dan mungkin tidak satu pun bentuk heterotopia yang benar-benar universal akan ditemukan. Namun kita dapat mengelompokkannya dalam dua kategori utama.

Dalam apa yang disebut masyarakat primitif, terdapat suatu bentuk heterotopia tertentu yang saya sebut heterotopia-heterotopia krisis. Dalam konsep ini, terdapat tempat istimewa atau sakral atau terlarang yang disediakan untuk individu yang–dalam kaitannya dengan masyarakat dan lingkungan manusia di mana mereka hidup—berada dalam keadaan krisis, semisal para remaja, perempuan yang sedang menstruasi, wanita hamil, dan orang tua, dll. Dalam masyarakat luar, heterotopia-heterotopia krisis ini terus-menerus menghilang, meskipun beberapa sisa masih dapat ditemukan. Sebagai contoh, sekolah asrama abad ke-19 atau dinas militer untuk lelaki muda, tentu saja memainkan peran seperti itu. Tempat-tempat itu menjadi perwujudan pertama kejantanan seksual seharusnya terjadi “di tempat lain” di luar rumah. Untuk anak perempuan, sampai pertengahan abad ke-20 terdapat sebuah tradisi yang disebut “perjalanan bulan madu” yang merupakan tema leluhur. Pemerawanan (deflowering) perempuan muda itu bisa terjadi “di-antaberanta”. Pada saat kejadiannya, kereta api atau hotel bulan madu memang merupakan tempat antaberanta. Heterotopia ini tanpa penanda geografis.

Royal Military Academy, Woolwich, London, 19th century. The Royal ...

Heterotopia krisis ini menghilang hari ini dan digantikan dengan apa yang dsebut heterotopia-heterotopia deviasi. Dalam heterotopia ini individu-individu yang perilakunya menyimpang dalam kaitannya dengan makna atau norma yang disyaratkan. Kasus-kasus itu antara lain rumah peristirahatan dan rumah sakit jiwa, dan tentu saja penjara. Kita mungkin harus menambahkan rumah pensiun yang, seolah-olah, berada di perbatasan antara heterotopia krisis dan heterotopia deviasi karena usia tua adalah krisis sekaligus penyimpangan. Dalam masyarakat kita waktu luang adalah aturan, kemalasan adalah semacam penyimpangan.

Prinsip kedua deskripsi heterotopia adalah bahwa masyarakat, sebagaimana sejarahnya terungkap, dapat membuat fungsi heterotopia yang ada dalam cara yang sangat berbeda. Setiap heterotopia memiliki fungsi yang tepat dan ditentukan dalam suatu masyarakat. Heterotopia yang sama, sesuai dengan sinkroni budaya di mana ia terjadi, dapat memiliki satu fungsi atau fungsi yang lain.

Sebagai contoh saya akan mengambil heterotopia aneh dari kuburan. Kuburan tentu saja tidak seperti ruang budaya biasa. Namun, kuburan adalah ruang yang terhubung dengan semua situs kota, negara bagian atau masyarakat desa, dll. Karena setiap individu, setiap keluarga memiliki kerabat di kuburan. Dalam budaya Barat pemakaman praktis selalu ada. Tetapi telah mengalami perubahan penting. Sampai akhir abad ke-18, kuburan ditempatkan di jantung kota, di sebelah gereja. Di dalamnya ada hierarki makam yang memungkinkan. Ada rumah kuburan di mana tubuh kehilangan jejak-jejak individualitas terakhir. Ada beberapa makam individu dan kemudian ada makam di dalam gereja. Makam di gereja sendiri terdiri dari dua jenis, batu nisan dengan prasasti dan makam dengan patung-patung. Pemakaman di ruang sakral gereja telah mengambil peran yang sangat berbeda dalam peradaban modern, dan anehnya, pada saat peradaban telah menjadi “atheis,” budaya barat menetapkan apa yang disebut kultus orang mati.

Wajar kiranya, bahwa pada masa kepercayaan nyata terhadap kebangkitan tubuh dan keabadian jiwa, kepentingan utama tidak diberikan pada sisa-sisa tubuh. Sebaliknya, sejak saat ketika orang tidak lagi yakin bahwa mereka memiliki jiwa atau bahwa tubuh akan mendapatkan kembali kehidupan, mungkin perlu untuk memberikan perhatian yang lebih banyak pada mayat yang pada akhirnya merupakan satu-satunya jejak keberadaan kita di dunia dan dalam bahasa. Bagaimanapun, sejak awal abad ke-19 setiap orang memiliki hak atas ‘kotak kecilnya’ sendiri untuk pembusukan personal kecilnya. Namun, di sisi lain, hanya sejak awal abad ke-19. bahwa kuburan mulai berlokasi di perbatasan luar kota. Dalam korelasi dengan individualisasi kematian dan apropriasi borjuis dari kuburan, muncul obsesi terhadap kematian sebagai “penyakit.” Orang mati, konon, membawa penyakit pada orang yang hidup. Tempat pemakaman tepat di samping rumah-rumah, di sebelah gereja, hampir di tengah jalan dianggap menyebarkan kematian kepada orang lain. Tema penyakit yang disebarkan oleh penularan dari kuburan ini bertahan sampai akhir abad ke-18, hingga selama abad ke-19, pergeseran kuburan menuju pinggiran kota dimulai. Pemakaman-pemakaman itu kemudian menjadi, bukan lagi jantung kota yang suci dan abadi, tetapi kota lain, di mana setiap keluarga memiliki tempat peristirahatannya yang gelap.

Bourgeosie Gardens
Taman Borjuis

Prinsip ketiga. Heterotopia mampu menyandingkan di satu tempat nyata beberapa ruang, beberapa situs yang dalam dirinya sendiri tidak kompatibel. Begitulah gedung teater, misalnya, membawa ke persegi panjang panggung, satu demi satu, serangkaian tempat yang asing satu sama lain. Sinema adalah ruang persegi panjang yang sangat aneh, di ujungnya, pada layar dua dimensi, orang melihat proyeksi ruang tiga dimensi. Namun, mungkin contoh tertua dari heterotopia-heterotopia yang berbentuk situs kontradiktif adalah taman. Kita tidak boleh lupa bahwa di dalam taman Orient, sebuah ciptaan yang menakjubkan yang sekarang berusia ribuan tahun, memiliki makna yang sangat dalam dan tampaknya dilapiskan. Taman tradisional Persia adalah ruang sakral yang seharusnya menyatukan empat persegi panjang yang mewakili empat bagian dunia, dengan ruang yang masih lebih sakral dari pada yang lain seperti umbilicus, pusar dunia di pusatnya (baskom dan air mancur ada di sana). Semua tanaman di taman itu seharusnya berkumpul di ruang ini, dalam semacam mikrokosmos. Adapun karpet, mereka awalnya reproduksi kebun (taman adalah permadani di mana seluruh dunia datang untuk memberlakukan kesempurnaan simbolisnya, dan permadani itu adalah semacam taman yang dapat bergerak melintasi ruang). Taman adalah parsel terkecil di dunia dan kemudian merupakan totalitas dunia. Taman telah menjadi semacam heterotopia yang menyenangkan dan sudah diuniversalkan sejak awal zaman kuno (taman zoologi modern kita berasal dari sumber itu).

Prinsip keempat. Heterotopia-heterotopia paling sering dikaitkan dengan irisan-irisan dalam waktu – yang berarti bahwa mereka membuka ke apa yang disebut—atas nama simetri—heterokroni. Heterotopia mulai berfungsi pada kapasitas penuh ketika manusia tiba pada semacam istirahat mutlak dengan waktu tradisional mereka. Situasi ini menunjukkan kepada kita bahwa pemakaman itu memang tempat yang sangat heterotopik karena, bagi individu, pemakaman dimulai dengan heterokroni yang aneh ini, seperti hilangnya kehidupan dan dengan kekekalan di mana tanah permanennya adalah pemutusan dan penghilangan.

article-image
Perpustakaan umum New York, tahun 1900-an

Dari sudut pandang umum, dalam masyarakat kita, heterotopia dan heterokroni disusun dan didistribusikan dengan cara yang relatif kompleks. Pertama-tama, ada heterotopia dari waktu yang tidak terbatas, misalnya museum dan perpustakaan. Museum dan perpustakaan telah menjadi heterotopia di mana waktu tidak pernah berhenti membangun dan mencapai puncaknya sendiri. Pada abad ke-17, bahkan sampai akhir abad ini, museum dan perpustakaan adalah ekspresi pilihan individu. Sebaliknya, modernitas kita memiliki: (1) gagasan untuk mengumpulkan segala sesuatu, membangun semacam arsip umum; (2) keinginan untuk melampirkan di satu tempat semua waktu, semua zaman, semua bentuk, semua selera; (3) gagasan untuk membentuk tempat sepanjang masa yang ada di luar waktu dan tidak dapat diakses oleh kerusakan; dan, (4) proyek pengorganisasian dengan cara semacam akumulasi waktu yang tak terbatas dan abadi di tempat yang tidak bergerak. Museum dan perpustakaan adalah heterotopia yang sesuai dengan budaya Barat abad ke-19.

Entertainment in Georgian Britain, from Pleasure Gardens to Blood ...

Berlawanan dengan heterotopia yang terkait dengan akumulasi waktu, sebaliknya, ada yang terkait dengan waktu dalam aspeknya yang paling mengalir, tidak tetap/sementara, tidak menentu; terkait dengan waktu dalam moda festival. Heterotopia ini tidak berorientasi pada yang kekal, alih-alih mutlak temporal [chroniques]. Misalnya, adalah arena pameran, “situs-situs kosong yang luar biasa di pinggiran kota” yang dipenuhi setahun sekali atau dua kali dengan stand, pajangan, benda-benda tidak biasa (heteroclite), pegulat, penari ular, peramal nasib, dan sebagainya. Baru-baru ini, jenis baru heterotopia temporal telah ditemukan: desa untuk liburan/desa wisata, seperti desa-desa di Polinesia yang menawarkan ketelanjangan primitif dan abadi selama tiga minggu bagi penduduk kota. Kita lihat, lebih lanjut, bahwa melalui dua bentuk heterotopi yang menyatu di sini, heterotopia festival dan kekekalan waktu yang terakumulasi, gubuk-gubuk Djerba dalam arti tertentu adalah kerabat dari perpustakaan dan museum karena penemuan-kembali kehidupan Polinesia menghapuskan waktu. Namun pengalaman itu sama banyaknya dengan, penemuan kembali waktu, seolah-olah seluruh sejarah umat manusia yang kembali ke asalnya dapat diakses dalam semacam pengetahuan langsung.

Prinsip kelima. Heterotopia-heterotopia selalu mengandaikan suatu sistem pembukaan dan penutupan yang keduanya mengisolasi mereka dan membuat mereka dapat ditembus. Secara umum, situs heterotopik tidak dapat diakses secara bebas seperti tempat umum. Baik proses masuknya melalui prosedur wajib tertentu, seperti dalam kasus memasuki barak atau penjara, maupun individu harus tunduk pada ritual dan pemurnian. Untuk masuk seseorang harus mendapatkan izin tertentu dan membuat gestur tertentu. Selain itu, bahkan ada heterotopia yang sepenuhnya ditasbihkan untuk kegiatan pemurnian—pemurnian yang sebagian bersifat religius dan sebagian higienis, seperti sembahyang umat Islam, atau pemurnian yang tampaknya murni higienis, seperti dalam sauna Skandinavia.

.

Sebaliknya, ada yang lain, yang tampaknya menjadi pembukaan murni dan sederhana, tetapi umumnya menyembunyikan pengecualian aneh. Setiap orang dapat masuk ke situs heterotopik, tetapi pada kenyataannya itu hanya ilusi—kita berpikir kita masuk ke tempat di mana kita—begitu kita masuk—dieksklusi. Saya sedang berpikir misalnya, tentang kamar tidur terkenal yang ada di pertanian besar Brasil dan tempat lain di Amerika Selatan. Pintu masuk tidak mengarah ke ruang tengah tempat keluarga itu tinggal dan setiap orang atau pelancong yang datang memiliki hak untuk membuka pintu ini, untuk masuk ke kamar tidur dan tidur di sana selama satu malam. Sekarang kamar-kamar ini sedemikian rupa sehingga orang yang masuk ke dalamnya tidak pernah memiliki akses ke tempat tinggal keluarga, tamu itu benar-benar tamu yang sedang transit, sebenarnya bukan tamu yang diundang. Jenis heterotopia yang praktis telah hilang dari peradaban kita, mungkin dapat ditemukan di kamar-kamar motel Amerika yang terkenal di mana seorang lelaki mengendari mobil pergi dengan kekasihnya di mana seks terlarang terlindungi dan sepenuhnya tersembunyi, tetap terisolasi tanpa diizinkan di tempat terbuka.

Prinsip keenam. Sifat terakhir dari heterotopia-heterotopia adalah bahwa mereka memiliki fungsi dalam kaitannya dengan semua ruang yang tersisa. Fungsi ini terbentang di antara dua kutub ekstrem. Peran mereka bisa jadi adalah untuk menciptakan ruang ilusi yang mengekspos setiap ruang nyata, semua situs di mana kehidupan manusia di-partisi, seperti masih lebih ilusi (mungkin itu adalah peran yang dimainkan oleh rumah-rumah bordil terkenal yang sekarang dihilangkan). Atau sebaliknya, peran mereka adalah menciptakan ruang yang lain—ruang nyata yang lain, sesempurna, seteliti mungkin—juga ditata dengan rapi karena ruang kita berantakan, tidak dibangun dengan baik, dan kacau. Jenis terakhir ini akan menjadi heterotopia, bukan ilusi, tetapi kompensasi. Saya penasaran kalau koloni-koloni tertentu tidak berfungsi dengan cara ini. Dalam kasus-kasus tertentu, mereka telah memainkan—pada tingkat organisasi umum ruang terestrial–peran heterotopiki. Saya sedang berpikir, misalnya, tentang gelombang kolonisasi pertama pada abad ke-17 dari masyarakat Puritan yang didirikan oleh Inggris di Amerika dan tempat-tempat lain yang benar-benar sempurna. Saya juga memikirkan koloni-koloni Jesuit luar biasa yang didirikan di Amerika Selatan. Koloni-koloni jesuit itu sangat luar biasa dan sangat teratur di mana kesempurnaan manusia secara efektif dicapai. Para Jesuit Paraguay mendirikan koloni-koloni di mana keberadaan diatur pada setiap kesempatan. Desa ditata sesuai dengan rencana yang ketat dengan desain mengikuti pola persegi. Gereja berada di bagian bawah dengan sekolah dan pemakaman di kedua sisinya. Di depan gereja dibuat sebuah jalan yang dipotong jalan lainnya dengan sudut tajam. Setiap keluarga memiliki pondok kecil di sepanjang kedua sumbu ini dan dengan demikian tanda salib Kristus benar-benar direproduksi. Agama Kristen menandai ruang dan geografi dunia Amerika dengan tanda fundamentalnya.

Kehidupan sehari-hari individu diatur, bukan oleh peluit, tetapi oleh genta/lonceng. Semua orang terbangun pada saat yang sama. Semua orang mulai bekerja pada saat yang sama. Jam makan siang dan jam lima, lalu menjelang tidur. Pada tengah malam datang apa yang disebut “bangun perkawinan”, yaitu, ditandai bunyi lonceng gereja, setiap orang—laki-laki dan perempuan—melaksanakan tugasnya.

Rumah bordil

Rumah bordil dan koloni adalah dua jenis heterotopia ekstrim. Jika kita pikir, bagaimanapun juga, bahwa ‘kapal’ itu adalah ruang melayang, tempat tanpa tempat, yang ada dengan sendirinya, yang tertutup dengan sendirinya dan pada saat yang sama diberikan kepada ketakterbatasan samudra. Dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, dari satu jalur ke lain, dari satu rumah bordil ke rumah bordil lain, ia pergi sejauh koloni untuk mencari harta paling berharga yang mereka sembunyikan di kebun mereka. Kita akan mengerti mengapa perahu tidak hanya untuk alat besar pembangunan ekonomi bagi peradaban kita, dari abad keenam belas hingga saat ini, tetapi juga sekaligus merupakan cadangan imajinasi terbesar. Kapal adalah heterotopia par excellence. Dalam peradaban tanpa kapal, mimpi mengering, mata-mata menggantikan petualangan, dan polisi menggantikan bajak laut.

Diterjemahkan dari:

Foucault, Michel. 1984.  “Of Other Spaces, Heterotopias”. Diterjemahkan dari Architecture, Mouvement, Continuité, no. 5: 46-49.

Diterjemahkan oleh: Ikwan Setiawan
Tersedia di: https://foucault.info/documents/heterotopia/foucault.heteroTopia.en/

Catatan akhir

[1] Termodinamika merupakan ilmu tentang hubungan antara panas, pekerjaan, suhu, dan energi. Secara umum, termodinamika berkaitan dengan transfer energi dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Konsep kuncinya adalah bahwa panas adalah bentuk energi yang sesuai dengan jumlah pasti pekerjaan mekanik. Panas tidak secara resmi diakui sebagai bentuk energi sampai sekitar tahun 1798, ketika Count Rumford (Sir Benjamin Thompson), seorang insinyur militer Inggris, memperhatikan bahwa jumlah panas yang tak terbatas dapat dihasilkan dalam pengeboran barel meriam dan bahwa jumlah panas yang dihasilkan sebanding dengan pekerjaan yang dilakukan dalam memutar alat pengeboran tumpul. Pengamatan Rumford tentang proporsionalitas antara panas yang dihasilkan dan pekerjaan yang dilakukan terletak pada fondasi termodinamika. Pelopor lainnya adalah insinyur militer Prancis Sadi Carnot, yang memperkenalkan konsep siklus mesin panas dan prinsip reversibilitas pada tahun 1824. Pekerjaan Carnot menyangkut batasan jumlah maksimum pekerjaan yang dapat diperoleh dari mesin uap yang beroperasi dengan perpindahan panas suhu tinggi sebagai kekuatan penggeraknya. Belakangan pada abad itu, gagasan-gagasan ini dikembangkan oleh Rudolf Clausius, seorang ahli matematika dan fisika Jerman, masing-masing ke dalam hukum termodinamika pertama dan kedua. Termodinamika terdiri dari beberapa hukum/prinsip penting. Hukum nol termodinamika. Ketika dua sistem masing-masing dalam kesetimbangan termal dengan sistem ketiga, dua sistem pertama berada dalam kesetimbangan termal satu sama lain. Properti ini membuatnya bermakna untuk menggunakan termometer sebagai “sistem ketiga” dan untuk menentukan skala suhu. Hukum termodinamika pertama, atau hukum kekekalan energi. Perubahan energi internal sistem sama dengan perbedaan antara panas yang ditambahkan ke sistem dari lingkungannya dan pekerjaan yang dilakukan oleh sistem di sekitarnya. Hukum kedua termodinamika. Panas tidak mengalir secara spontan dari daerah yang lebih dingin ke daerah yang lebih panas, atau, yang setara, panas pada suhu tertentu tidak dapat dikonversi seluruhnya menjadi pekerjaan. Akibatnya, entropi sistem tertutup, atau energi panas per unit suhu, meningkat seiring waktu menuju beberapa nilai maksimum. Dengan demikian, semua sistem tertutup cenderung menuju keadaan kesetimbangan di mana entropi mencapai maksimum dan tidak ada energi yang tersedia untuk melakukan pekerjaan yang bermanfaat. Asimetri antara proses maju dan mundur ini memunculkan apa yang dikenal sebagai “panah waktu”. Hukum ketiga termodinamika. Entropi kristal sempurna suatu unsur dalam bentuknya yang paling stabil cenderung nol ketika suhu mendekati nol absolut. Ini memungkinkan skala absolut untuk entropi untuk ditetapkan bahwa, dari sudut pandang statistik, menentukan tingkat keacakan atau gangguan dalam suatu sistem. Meskipun termodinamika berkembang pesat selama abad ke-19 sebagai tanggapan terhadap kebutuhan untuk mengoptimalkan kinerja mesin uap, generalisasi yang luas dari hukum termodinamika menjadikannya berlaku untuk semua sistem fisik dan biologis. Secara khusus, hukum termodinamika memberikan deskripsi lengkap tentang semua perubahan dalam keadaan energi sistem apa pun dan kemampuannya untuk melakukan pekerjaan yang bermanfaat di sekitarnya. Diterjemahkan dan diolah dari: https://www.britannica.com/science/thermodynamics

Share This:

About Ikwan Setiawan 200 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*