Parrhesia dalam drama tragedi Euripides

MICHEL FOUCAULT

Pada bagian ini saya akan mulai menelaah penggunaan kata parrhesia, khususnya dalam karya sastra Yunani, seperti yang muncul dalam enam tragedi karya Euripides: (1) Phoenician women; (2)Hippolytus; (3) The Bacchae; (4) Electra; (5) Ion; (6) Orestes.

Dalam empat drama pertama, parrhesia bukan merupakan topik atau motif penting, tetapi ia muncul dalam konteks yang tepat sehingga bisa membantu pemahaman kita tentang maknanya. Dalam dua drama terakhir parrhesia memainkan peran penting. Memang, saya pikir Ion sepenuhnya dikhususkan untuk masalah parrhesia karena mengejar pertanyaan: siapa yang memiliki hak, tugas, dan keberanian untuk berbicara kebenaran? Masalah parrhesiastic dalam Ion ini diangkat dalam kerangka hubungan antara para dewa dan manusia. Dalam Orestes—yang ditulis sepuluh tahun kemudian, salah satu drama terakhir Euripides—peran parrhesia bisa dikatakan hampir tidak signifikan. Namun, lakon itu masih mengandung adegan parrhesiastic yang membutuhkan perhatian sejauh berkaitan langsung dengan isu-isu politik yang kemudian diangkat oleh warga Athena. Di sini, dalam adegan parrhesiastic ini, ada transisi mengenai pertanyaan parrhesia seperti yang terjadi dalam konteks institusi manusia. Secara khusus, parrhesia dipandang sebagai masalah politik dan filosofis.

Euripides - Playwright - Biography

Maka, pertama-tama, saya akan memaparkan kemunculan kata parrhesia dalam empat drama pertama untuk sedikit banyak memberi pengertian tentang tersebut. Lalu, saya akan mencoba menelaah secara umum Ion sebagai drama parrhesiastic yang menentukan di mana kita melihat manusia mengambil sendiri peran penutur-kebenaran yang para dewa tidak lagi dapat mengasumsikan.

The Phoenician Women (411-409 SM)

Mari kita pertimbangkan, pertama-tama, The Phoenician Women. Tema utama drama ini adalah pertarungan antara dua anak Oedipus, Eteocles dan Polyneices. Setelah Oedipus jatuh, untuk menghindari kutukannya—kedua anaknya harus membagi warisan “dengan baja yang diasah”—Eteocles dan Polyneices membuat perjanjian untuk memerintah Thebes secara bergantian, tahun demi tahun. Eteocles (yang lebih tua) memerintah terlebih dahulu. Namun, setelah tahun pertama pemerintahannya, Eteocles menolak bergantian. Dia menolak menyerahkan mahkota dan kekuasaan kepada saudaranya, Polyneices. Eteocles, dengan demikian, merepresentasikan tirani, dan Polyneices yang tinggal di pengasingan merepresentasikan rezim demokratis. Untuk mencari bagian dari mahkota ayahnya, Polyneices kembali dengan rombongan pasukan Argos[1] untuk menggulingkan Eteocles. Mereka mengepung kota Thebes. Dengan harapan menghindari konfrontasi, Jocasta—ibu dari Polyneices dan Eteocles sekaligus istri dan ibu Oedipus—membujuk kedua anaknya untuk bertemu dan melakukan gencatan senjata. Ketika Polyneices tiba untuk pertemuan ini, Jocasta bertanya kepadanya tentang penderitaannya selama diasingkan dari Thebes. “Apakah benar-benar sulit di pengasingan?,” tanya Jocasta. Dan Polyneices menjawab, “lebih buruk dari apa pun”. Dan, ketika Jocasta bertanya mengapa pengasingan begitu sulit, Polyneices menjawab bahwa itu karena seseorang tidak dapat menikmati parrhesia:

JOCASTA: Ini yang paling penting yang ingin aku ketahui: bagaimana kehidupan orang buangan? Apakah itu kesengsaraan yang hebat?

POLYNEICES: Yang terhebat; lebih buruk dalam kenyataan daripada dalam laporan.

JOCASTA: Lebih buruk apa? Apa yang terutama menggerakkan hati orang buangan?

POLYNEICES: Yang terburuk adalah tidak adanya hak kebebasan berpendapat.

JOCASTA: Itu kan kehidupan budaya– dilarang mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.

POLYNEICES: Seseorang harus menanggung kebodohan mereka yang memerintah.

JOCASTA: Bergabung dengan orang bodoh dalam kebodohan mereka–itu yang membuat seseorang sakit.

POLYNEICES: Seseorang merasa terbayar untuk menyangkal alam dan menjadi budak.

Seperti yang dapat kita lihat dari beberapa baris ini, parrhesia terkait, pertama-tama, dengan “status sosial” Polyneices. Karena jika kita bukan warga negara di sebuah kota, jika kita diasingkan, maka kita tidak dapat menggunakan parrhesia. Itu cukup jelas. Namun, penggalan dialog di atas juga menyiratkan bahwa jika kita tidak memiliki hak berbicara bebas, kita tidak dapat menggunakan jenis kekuatan apa pun. Dengan demikian, kita berada dalam situasi yang sama dengan seorang budak. Lebih lanjut, jika warga negara tersebut tidak dapat menggunakan parrhesia, mereka tidak dapat menentang kekuasaan penguasa. Tanpa adanya hak kritik, kekuasaan yang dilakukan oleh penguasa akan berlangsung tanpa batas. Kekuasaan tanpa batasan seperti itu dicirikan oleh Jocasta sebagai “bergabung dengan orang bodoh dalam kebodohan mereka.” Sebab kekuasaan tanpa batas berkaitan langsung dengan kegilaan. Orang yang menjalankan kekuasaan dikatakan bijaksana hanya kalau terdapat seseorang yang dapat menggunakan parrhesia untuk mengkritiknya, sehingga bisa membatasi kekuasaannya, perintahnya.

Hippolytus (428 SM)

Bagian kedua dari Euripides yang ingin saya kutip berasal dari Hippolytus. Seperti yang kita ketahui, drama ini bertutur tentang cinta Phaedras kepada Hippolytus. Adapun bagian tentang parrhesia terjadi tepat setelah pengakuan Phaedra: ketika Phaedra, di awal drama, di hadapan perawatnya, mengakui cintanya kepada Hippolytus (tanpa, benar-benar menyebutkan namanya). Namun, kata parrhesia tidak berkaitan dengan pengakuan ini, alih-alih merujuk pada sesuatu yang sangat berbeda. Sesaat setelah pengakuan akan cintanya pada Hippolytus, Phaedra berbicara tentang perempuan-perempuan bangsawan tinggi dari keluarga kerajaan yang pertama-tama mempermalukan keluarga mereka sendiri, khususnya suami dan anak-anak mereka, dengan melakukan perzinaan dengan lelaki lain. Phaedra mengatakan ia tidak ingin melakukan hal seperti itu karena ingin anak-anaknya tinggal di Athena, bangga dengan ibu mereka, dan berlatih parrhesia. Dia mengklaim bahwa jika seorang lelaki sadar akan noda di keluarganya, saat itulah dia menjadi budak.

PHAEDRA: Aku tidak akan membawa aib pada suami atau anak-anak lelakiku. Aku ingin kedua anak lelakiku kembali dan tinggal di Athena yang agung, menegakkan kepala mereka di sana, dan berbicara di sana seperti orang-orang bebas, merasa terberkait oleh nama ibu mereka. Satu hal yang dapat membuat lelaki yang paling berani menjadi budak: mengetahui rahasia tindakan orang tua yang memalukan.

Dalam teks ini kita melihat, sekali lagi, hubungan antara kurangnya parrhesia dan perbudakan. Logikanya, jika kita tidak dapat berbicara dengan bebas karena kita tahu ada sesuatu yang tidak terhormat dalam keluarga kita, maka kita telah diperbudak. Juga, kewarganegaraan dengan sendirinya tidak cukup untuk mendapatkan dan menjamin tuturan bebas. Kehormatan, reputasi yang baik untuk diri sendiri dan keluarga, juga diperlukan sebelum seseorang dapat dengan bebas berbicara di hadapan warga kota. Maka, parrhesia membutuhkan kualifikasi moral dan sosial yang berasal dari kelahiran yang mulia dan reputasi yang terhormat.

The Bacchae (407-406 SM)

the bacchae, the bacchae euripides, the bacchae summary

Dalam The Bacchae ada bagian yang sangat singkat, momen transisi, di mana parrhesia muncul. Salah satu pelayan Pentheus—seorang gembala dan utusan raja—datang untuk melaporkan tentang kekacauan yang diciptakan para Maenad[2] di masyarakat dan kelakuan aneh yang mereka lakukan. Namun, sebagaimana tradisi lama di kerajaan bahwa utusan yang membawa kabar gembira diberi imbalan atas berita yang mereka sampaikan. Sementara, mereka yang membawa berita buruk dihadapkan pada hukuman. Maka, hamba raja sangat enggan menyampaikan kabar buruknya kepada Pentheus. Meskipun demikian, ia bertanya kepada raja apakah ia boleh menggunakan parrhesia dan menceritakan semua diketahuinya, karena ia takut raja akan marah. Mendengarnya, Pentheus berjanji bahwa si utusan tidak akan mendapat masalah selama ia mengatakan kebenaran.

HERDSMAN: Saya melihat Bacchae yang kudus, yang menyerupai tombak terbang mengalir dengan telanjang, panik, keluar dari gerbang kota. Tuanku, saya datang dengan maksud untuk memberitahu Anda dan seluruh kota tentang tindakan aneh dan mengerikan mereka–hal-hal yang di luar semua yang aneh. Tetapi, pertama-tama saya akan belajar apakah saya dapat berbicara dengan bebas tentang apa yang terjadi di sana, atau jika saya harus memotong kata-kata saya. Saya takut kecekatan Anda, amarah Anda, kedudukan Anda yang terlalu kuat, Tuanku.

PENTHEUS: Tak perlu takut. Katakan semua yang harus kamu katakan; kemarahan seharusnya tidak menjadi mendidih terhadap orang yang tidak bersalah. Semakin mengerikan ceritamu tentang ritus-ritus Bacchic ini, semakin berat hukuman yang akan aku berikan pada para lelaki yang membujuk wanita kita untuk melakukan kejahatan.

Percakapan di atas menarik karena menunjukkan kasus di mana parrhesiastes, orang yang “berbicara kebenaran”, bukanlah orang yang sepenuhnya bebas, tetapi seorang pelayan raja. Ia tentu tidak dapat menggunakan parrhesia jika raja tidak cukup bijak untuk masuk ke dalam permainan parrhesiastic dan memberinya izin untuk berbicara secara terbuka. Jika raja tidak memiliki pengendalian diri, jika ia terbawa oleh hawa nafsu dan amarahnya pada utusan itu, maka ia tidak akan berkenan mendengar kebenaran. Ia juga akan menjadi penguasa yang buruk bagi kota. Namun, Pentheus, sebagai raja bijaksana, menawarkan kepada pelayannya apa yang bisa kita sebut “kontrak parrhesiastic.”

Kontrak parrhesiastic yang relatif penting dalam kehidupan politik para penguasa di dunia Yunani-Romawi terdiri dari hal-hal berikut. Yang berkuasa, orang-orang yang memiliki kekuasaan tetapi tidak memiliki kebenaran, berbicara kepada orang yang memiliki kebenaran tetapi tidak memiliki kekuasaan. Yang berkuasa mengatakan kepadanya: jika kau mengatakan yang sebenarnya, tidak peduli apa dan bagaimana kebenaran itu, kamu tidak akan dihukum. Adapun mereka yang bertanggung jawab atas ketidakadilan akan dihukum, tetapi bukan mereka yang mengatakan kebenaran tentang ketidakadilan tersebut. Gagasan tentang kontrak parrhesiastic ini dikaitkan dengan parrhesia sebagai hak istimewa yang diberikan kepada warga kota terbaik dan paling jujur. Tentu saja, kontrak parrhesiastic antara Pentheus dan utusannya hanya merupakan kewajiban moral karena tidak memiliki dasar kelembagaan. Sebagai hamba raja, utusan itu masih cukup rentan dan masih mengambil risiko dalam berbicara. Meskipun berani, ia juga tidak boleh gegabah dan harus berhati-hati terkait konsekuensi dari apa yang ia katakan. “Kontrak” dimaksudkan untuk membatasi risiko yang ia ambil saat berbicara.

Electra (415 SM)

Dalam Electra kata parrhesia muncul dalam konfrontasi antara Electra dan ibunya, Clytemnestra. Saya tidak perlu mengingatkan tentang cerita terkenal ini, tetapi hanya menunjukkan bahwa dalam adegan drama sebelum kata itu muncul, Orestes baru saja membunuh Aegisthus, si tiran. Dia adalah kekasih Clytemnestra dan bersama-sama (dengan Clytemnestra) membunuh Agamemnon (suami Clytenmestra, ayah dari Orestes dan Electra). Namun, tepat sebelum Clytemnestra muncul di tempat kejadian, Orestes menyembunyikan dirinya dan tubuh Aegisthus. Jadi, ketika Clytemnestra masuk, dia tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Ia tidak tahu bahwa Aegisthus baru saja dibunuh. Proses masuknya Clytemnestra sangat indah dan khidmat, karena ia mengendarai kereta kerajaan yang dikelilingi oleh para gadis tawanan Troya yang paling cantik—yang semuanya sekarang adalah budaknya. Electra, yang ada di sana ketika ibunya datang, juga berperilaku seperti budak untuk menyembunyikan fakta bahwa saat balas dendam atas kematian ayahnya sudah dekat. Ia juga ada di sana untuk menghina Clytemnestra dan untuk mengingatkan atas kejahatannya. Adegan dramatis ini memberi jalan bagi konfrontasi antara keduanya. Diskusi dimulai. Kita bisa menemukan dua pidato paralel, keduanya sama-sama panjang (empat puluh baris). Yang pertama disampaikan oleh Clytemnestra dan yang kedua oleh Electra.

Pidato Clytemnestra dimulai dengan kata-kata “λέξω δέ”–“saya akan berbicara”. Ia mulai mengatakan yang sebenarnya, mengaku bahwa dia membunuh Agamemnon sebagai hukuman atas kematian putrinya, Iphigeneia. Setelah pidato itu, Electra menjawab, dimulai dengan formulasi simetris “λέγοι άυ”—“maka, saya akan berbicara”. Terlepas dari simetri ini, bagaimanapun, ada perbedaan yang jelas antara keduanya. Karena pada akhir pidatonya, Clytemnestra berbicara langsung kepada Electra dan berkata kepadanya, “gunakan parrhesia-mu untuk membuktikan bahwa aku salah membunuh ayahmu”.

CLYTEMNESTRA: … Saya membunuhnya. Saya mengambil satu-satunya jalan terbuka untuk mendapat bantuan dari musuh-musuhnya. Apa yang bisa saya lakukan? Tidak ada teman ayahmu yang akan membantuku membunuhnya. Jadi, jika kamu ingin membantah saya, lakukan sekarang; berbicara dengan bebas; buktikan kematian ayahmu tidak dibenarkan.

Dan, setelah Chorus berbicara, Electra menjawab, “Jangan lupa kata-kata terakhirmua, Ibu. Kamu memberi saya parrhesia untuk berbicara kepadamu.

ELECTRA: Ibu, ingat apa yang Anda katakan tadi. Anda berjanji bahwa saya dapat menyatakan pendapat saya secara bebas tanpa rasa takut.

Dan Clytemnestra menjawab: “Memang demikian, Putriku, dan aku bersungguh-sungguh”.  Namun, Electra masih waspada dan berhati-hati, karena ia bertanya-tanya apakah ibunya akan mendengarkannya hanya untuk menyakitinya setelah itu.

ELECTRA: Maksudmu, kau akan mendengarkan dulu, dan mendapatkan kembali milikmu sendiri setelah itu?

CLYTEMNESTRA: Tidak, tidak, kau bebas mengatakan apa yang ingin dikatakan hatimu.

ELECTRA: Saya akan mengatakannya, kalau begitu. Di sinilah aku mulai …

Dan Electra mulai berbicara secara terbuka, menyalahkan ibunya atas apa yang telah ia lakukan.

Terdapat aspek asimetris lain antara kedua wacana yang menyangkut perbedaan status kedua penutur. Clytemnestra adalah ratu dan tidak menggunakan atau membutuhkan parrhesia untuk membela dirinya karena sudah membunuh Agamemnon. Sementara, Electra berada dalam situasi seorang budak, yang memainkan peran sebagai budak dalam adegan ini. Ia tidak lagi bisa tinggal di rumah sang ayah yang bisa melindunginya. Kini, Electra berbicara kepada ibunya seperti seorang pelayan yang berbicara kepada ratu. Electra membutuhkan hak parrhesia. Maka, kontrak parrhesiastic lain dibuat antara Clytemnestra dan Electra. Clytemnestra berjanji ia tidak akan menghukum Electra karena keterusterangannya seperti Pentheus yang berjanji kepada utusannya dalam The Bacchae. Namun di Electra, kontrak parrhesiastic model itu ditumbangkan. Kontrak itu tidak ditumbangkan oleh Clytemnestra (yang, sebagai ratu, masih memiliki kekuatan untuk menghukum Electra), tetapi ditumbangkan oleh Electra sendiri. Electra meminta ibunya berjanji kepadanya bahwa ia tidak akan dihukum karena berbicara terus terang. Clytemnestra membuat janji seperti itu tanpa mengetahui bahwa dia sendiri akan dihukum karena pengakuannya. Sebab, beberapa menit kemudian, ia dibunuh oleh anak-anaknya, Orestes dan Electra. Dengan demikian, kontrak parrhesiastic ditumbangkan: orang yang diberi hak istimewa parrhesia tidak dihancurkan, tetapi orang yang diberi hak parrhesia—orang yang berada dalam posisi yang lebih rendah—meminta parrhesia. Kontrak parrhesiastic menjadi jebakan subversif untuk Clytemnestra.

Ion (418-417 SM)

Sekarang kita beralih ke Ion, drama parrhesiastic.

Kerangka mitologis drama ini melibatkan pendiri legendaris Athena. Menurut mitos Attic, Erectheus adalah raja pertama Athena yang lahir sebagai putra Bumi dan kembali ke Bumi dalam kematian. Erectheus, dengan demikian, mempersonifikasikan apa yang sangat dibanggakan oleh warga Athena, yaitu autochtony: bahwa mereka benar-benar muncul dari tanah Athena.[3] Pada 418 SM, waktu drama ini ditulis, acuan mitologis semacam itu memiliki makna politis. Euripides ingin mengingatkan para penontonnya bahwa warga Athena adalah penduduk asli tanah Athena. Namun, melalui tokoh Xuthus (suami putri Erectheus, Creusa, dan warga asing Athena karena dia berasal dari Phithia), Euripides juga ingin menunjukkan kepada para penontonnya bahwa warga Athena berhubungan, melalui pernikahan ini, dengan warga Peloponese.[4] Mereka juga berhubungan secara khusus dengan warga Achaia—berasal dari nama salah satu anak Xuthus dan Creusa, Achaeus. Untuk cerita Euripides tentang sifat pan-Hellenik dari silsilah Athena membuat Ion putra Apollo dan Creusa (putri raja Athena kuno Eretheus). Creusa kemudian menikahi Xuthus (yang merupakan sekutu warga Athena dalam perang mereka melawan Euboe). Dua putra dilahirkan dari pernikahan ini: Dorus dan Achaeus. Ion dikatakan sebagai pendiri komunitas warga Ionic; Dorus, pendiri Dorian, dan Achaeus, pendiri Achaean. Dengan demikian, semua leluhur ras Yunani digambarkan sebagai keturunan dari keluarga kerajaan Athena.

Acuan Euripides untuk hubungan Creusa dengan Apollo dan penempatan latar drama di Kuil Apollo di Delphi,[5] dimaksudkan untuk menunjukkan hubungan dekat antara Athena dan Phoebus Apollo: dewa pan-Hellenik di kuil Delphik. Karena pada waktu historis produksi sandiwara ini pada masa Yunani kuno, Athena berusaha membentuk koalisi pan-Hellenik melawan Sparta. Rivalitas antara Athena dan Delphi berlangsung sengit karena kebanyakan pendeta Delphik berada di pihak Sparta. Namun, guna menempatkan Athena pada posisi yang menguntungkan sebagai pemimpin dunia Hellenik, Euripides ingin menekankan hubungan kekeluargaan yang saling menguntungkan antara kedua kota. Maka, silsilah mitologis tersebut dimaksudkan, sebagian, untuk membenarkan politik imperialistik Athena terhadap kota-kota Yunani lain pada saat para pemimpin Athena masih berpikir bahwa kekaisaran Athena adalah mungkin.

Saya tidak akan fokus pada aspek-aspek politis dan mitologis drama ini, tetapi pada tema pergeseran tempat pengungkapan kebenaran dari Delphi ke Athena. Seperti yang kita ketahui, sabda dewa di Delphi seharusnya menjadi tempat di Yunani di mana manusia diberitahu kebenaran oleh para dewa melalui sabda Pythia. Namun, dalam drama ini kita melihat pergeseran yang sangat eksplisit dari kebenaran sabda dewa di Delphi ke Athena. Athena menjadi tempat di mana kebenaran sekarang muncul. Dan, sebagai bagian dari perubahan ini, kebenaran tidak lagi diungkapkan oleh para dewa kepada manusia (seperti pada Delphi), tetapi diungkapkan kepada manusia oleh manusia melalui parrhesia warga Athena.

Ion karya Euripides adalah lakon yang memuji autochtony Athena dan menegaskan hubungan darah dengan sebagian besar negara kota Yunani lainnya. Namun, kisah ini merupakan kisah tentang pergeseran pengungkapan kebenaran dari Delphi ke Athena; dari Phoebus Apollo ke warga Athena. Itulah alasan mengapa saya pikir drama ini merupakan kisah parrhesia: drama parrhesiastic Yunani yang cukup menentukan. Sekarang saya ingin memberikan rujukan skematik dari drama ini sebagai berikut.

Kita akan melihat bahwa Apollo diam sepanjang drama; bahwa Xuthus ditipu oleh dewa, tetapi dia juga penipu. Dan kita juga akan melihat baik Creusa maupun Ion berbicara kebenaran melawan diamnya Apollo, karena hanya mereka yang terhubung ke bumi Athena yang memberi mereka parrhesia.

a. Prolog Hermes

Pertama-tama saya ingin menceritakan secara singkat peristiwa-peristiwa yang dihadirkan dalam Prolog Hermes sebelum drama dimulai.

Setelah kematian anak-anak lain Erectheus (Cecrops, Orithyia, dan Procris), Creusa adalah satu-satunya anak yang masih hidup dari dinasti Athena. Suatu hari, sebagai seorang gadis muda, saat memetik kembang kuning di Long Rocks, Apollo merayu atau memperkosanya.

Apakah itu pemerkosaan atau rayuan? Bagi warga Yunani, perbedaannya tidak sepenting bagi kita. Jelas, ketika seseorang (lelaki) memperkosa seorang perempuan, gadis, atau jejaka, ia menggunakan kekerasan fisik. Sementara, ketika seseorang menggoda orang lain, ia (laki-laki) menggunakan kata-kata, kemampuannya untuk berbicara, status superiornya, dan sebagainya. Bagi warga Yunani, menggunakan kemampuan psikologis, sosial, atau intelektual untuk merayu orang lain tidak jauh berbeda dengan menggunakan kekerasan fisik. Memang, dari perspektif hukum, rayuan dianggap lebih kriminal dari pada pemerkosaan. Karena ketika seseorang diperkosa, tindakan itu bertentangan dengan kehendaknya. Namun, ketika seseorang dirayu, maka tindakan itu merupakan bukti bahwa pada saat tertentu, individu yang dirayu memilih untuk tidak setia kepada istri atau suaminya, orang tua, atau keluarganya. Rayuan dianggap lebih sebagai serangan terhadap kekuatan pasangan, atau kekuatan keluarga, karena orang yang dirayu memilih untuk bertindak melawan keinginan pasangannya, orang tua, atau keluarganya.

Apapun yang terjadi, dirayu ataupun diperkosa, Creusa hamil. Ketika akan melahirkan, Creusa kembali ke tempat di mana dia ditiduri Apollo, yakni sebuah gua di bawah akropolis Athena, di bawah Gunung Pallas, di bawah pusat kota Athena. Di tempat itu ia bersembunyi seorang diri sampai melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun, karena Creusa tidak ingin ayahnya, Erectheus, menelisik tentang anak itu (karena ia malu dengan apa yang terjadi), ia menelantarkan dan meninggalkan anak itu agar dimakan binatang buas. Mengetahui hal itu, Apollo mengirim saudaranya, Hermes, untuk membawa anak itu beserta tempat buaian dan pakaiannya, ke kuil di Delphi. Lalu, anak laki-laki itu dibesarkan sebagai pelayan dewa di kuil. Ia pun dianggap sebagai anak cucu. Karena tak seorang pun di Delphi (kecuali Apollo sendiri) yang tahu siapa dia atau dari mana dia berasal. Ion sendiri tidak tahu. Ion, dengan demikian, muncul, pada skema yang saya uraikan, antara Delphi dan Athena, Apollo dan Creusa. Dia adalah putra dari Apollo dan Creusa dan dilahirkan di Athena tetapi hidupnya di Delphi.

Di Athena, Creusa tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya. Dia hanya bisa bertanya-tanya apakah anak itu hidup atau mati. Kemudian dia menikahi Xuthus, warga asing yang kehadirannya bisa menghadirkan masalah rumit bagi kelangsungan autochtony—itulah  mengapa sangat penting bagi Creusa untuk memiliki ahli waris dengan Xuthus. Namun, setelah pernikahan mereka, Xuthus dan Creusa tidak dapat memiliki anak. Di akhir drama, kelahiran Dorus dan Achaeus dijanjikan kepada mereka oleh Apollo, tetapi pada awal drama mereka tetap tanpa anak, meskipun mereka sangat membutuhkan anak-anak untuk memberkahi Athena dengan kesinambungan yang dinamis. Lalu, keduanya datang ke Delphi untuk bertanya pada Apollo apakah mereka akan punya anak. Dan begitulah drama dimulai.

b. Diamnya Apollo

Tentu saja, Creusa dan Xuthus tidak memiliki pertanyaan yang persis sama untuk ditanyakan kepada Dewa Apollo. Pertanyaan Xuthus sangat jelas dan sederhana: “Saya tidak pernah punya anak. Haruskah saya memilikinya dengan Creusa?” Creusa, bagaimanapun, memiliki pertanyaan lain untuk diajukan. Dia harus tahu apakah dia akan pernah memiliki anak dengan Xuthus. Tapi dia juga ingin bertanya: “Denganmu, Apollo, aku punya anak. Dan, aku perlu tahu sekarang apakah dia masih hidup atau tidak. Apa telah menjadi putra kita?”

Temple of Apollo at Delphi: The Complete Guide

Kuil Apolo, tempat sabda di Delphi, adalah tempat di mana kebenaran disabdakan oleh para dewa kepada manusia yang datang untuk berkonsultasi. Baik Xuthus maupun Creusa tiba bersama di depan pintu kuil dan, tentu saja, orang pertama yang mereka temui adalah Ion—pelayan Apolo dan anak Creusa. Namun, tentu saja, Creusa tidak mengenali putranya, demikian pula Ion tidak mengenali ibunya. Mereka adalah orang asing satu sama lain, sama seperti Oedipus dan Jocasta awalnya di drama karya Sophocles, Oedipus the King.

Ingatlah bahwa Oedipus juga diselamatkan dari kematian terlepas dari kehendak ibunya. Dia juga tidak bisa mengenali ayah dan ibu kandungnya. Struktur plot Ion agak mirip dengan kisah Oedipus, tetapi dinamika kebenaran dalam kedua drama itu benar-benar terbalik. Dalam Oedipus The King, Phoebus Apollo berbicara kebenaran sejak awal. Dia dengan jujur ​​meramalkan apa yang akan terjadi. Manusia adalah orang-orang yang terus bersembunyi atau menghindari diri untuk melihat kebenaran. Mereka berusaha melarikan diri dari takdir yang dinubuatkan oleh dewa. Namun, pada akhirnya, melalui tanda-tanda yang diberikan Apollo kepada mereka, Oedipus dan Jocasta menemukan kebenaran terlepas dari diri mereka sendiri. Dalam drama ini, manusia berusaha untuk menemukan kebenaran: Ion ingin tahu siapa dia dan dari mana dia berasal. Begitupula Creusa ingin tahu nasib putranya. Namun Apollo-lah yang secara sukarela menyembunyikan kebenaran. Masalah Oedipal kebenaran diselesaikan dengan menunjukkan bagaimana manusia, terlepas dari kebutaan mereka sendiri; akan melihat cahaya kebenaran yang diucapkan oleh dewa, dan yang sejaitnya tidak ingin mereka lihat. Masalah Ionik kebenaran diselesaikan dengan menunjukkan bagaimana manusia, terlepas dari kesunyian Apollo, akan menemukan kebenaran yang sangat ingin mereka ketahui.

Tema diamnya dewa berlangsung di sepanjang drama Ion. Peristiwa itu muncul di awal tragedi ketika Creusa bertemu Ion. Creusa masih malu dengan apa yang terjadi padanya. Jadi Creusa berbicara kepada Ion seolah-olah ia datang untuk berkonsultasi dengan para pendeta untuk mewakili “sahabatnya”. Dia kemudian menceritakan kepadanya sebagian dari kisahnya sendiri yang dikamuflasekan sebagai kisah sahabat perempuannya. Creusa bertanya kepada Ion apakah menurutnya Apollo akan memberikan jawaban kepada temannya untuk pertanyaannya. Sebagai pelayan dewa yang baik, Ion mengatakan kepadanya bahwa Apollo tidak akan memberikan jawaban. Karena jika Apollo telah melakukan apa yang diklaim teman Creusa, maka ia akan sangat malu:

ION: … apakah Apollo mengungkapkan apa yang ia maksudkan harus tetap menjadi misteri?

CREUSA: Tentunya sabdanya terbuka untuk setiap warga Yunani yang perlu bertanya?

ION: Tidak. Kehormatannya terlibat; Anda harus menghargai perasaannya.

CREUSA: Bagaimana perasaan korbannya? Apa yang dilibatkannya untuknya?

ION: Tidak ada orang yang akan menanyakan pertanyaan ini untuk Anda. Misalkan itu dibuktikan di kuil Apollo sendiri bahwa ia telah berperilaku sangat buruk, ia akan dibenarkan dalam membuat penerjemahmu menderita karenanya. Tuan Putri, biarkan masalah ini hilang. Kita tidak boleh menuduh Apollo di pengadilannya sendiri. Itulah arti kebodohan kita, jika kita mencoba memaksa dewa yang enggan berbicara, untuk memberikan tanda pengorbanan atau pelarian untuk burung. Tujuan-tujuan yang kita kejar melawan para dewa akan membuat kita sedikit baik ketika kita mendapatkannya …

Jadi di awal drama, Ion mengatakan mengapa Apollo tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Dan, faktanya, dia sendiri tidak pernah menjawab pertanyaan Creusa. Kondisi ini menceritakan dewa-yang-sedang-bersembunyi.

Apa yang lebih penting dan mencolok adalah apa yang terjadi di akhir drama ketika semuanya telah dikatakan oleh berbagai tokoh dan kebenaran diketahui semua orang. Semua orang kemudian menunggu kemunculan Apollo yang kehadirannya tidak terlihat sepanjang drama (terlepas dari kenyataan bahwa ia adalah tokoh utama dalam peristiwa dramatis yang terjadi). Dalam tragedi tradisional Yunani kuno memang dewa sebagai sosok ilahiah muncul di bagian terakhir. Namun, pada akhir drama, Apollo—dewa cahaya, tetap tidak muncul. Alih-alih, Athena datang untuk menyampaikan pesannya. Dia muncul di atas atap kuil Delphic, karena pintu kuil tidak terbuka. Menjelaskan alasan kedatangannya, dia berkata:

ATHENA: … Aku temanmu di sini seperti di Athena, kota yang namanya aku bawa—aku Athena! Aku datang dengan tergesa-gesa dari Apollo. Dia pikir benar untuk tidak menampakkan diri kepadamu, jangan sampai ada celaan yang diucapkan secara terbuka untuk masa lalu. Jadi dia mengirim aku dengan pesan ini kepadamu. Ion, ini ibumu, dan Apollo adalah ayahmu. Xuthus tidak melupakanmu, tetapi Apollo memberikanmu kepadanya agar kamu bisa menjadi pewaris rumah yang terkenal. Ketika tujuan Apolo dalam masalah ini diungkapkan, dia merencanakan cara untuk menyelamatkan kalian masing-masing dari kematian di tangan satu sama lain. Niatnya adalah untuk menjaga rahasia kebenaran untuk sementara waktu, dan kemudian di Athena untuk mengungkapkan Creusa sebagai ibumu, dan kamu sebagai putranya oleh Apollo …

Jadi, bahkan pada saat terakhir, ketika semuanya terungkap, Apollo tidak berani muncul dan mengatakan yang sebenarnya. Dia bersembunyi, sementara Athena yang berbicara. Kita harus ingat bahwa Apollo adalah dewa profetik yang bertugas berbicara kebenaran kepada manusia. Namun, dia tidak dapat memainkan peran ini karena dia malu atas kesalahannya. Di sini, di Ion, diam dan rasa bersalah terhubung di sisi Dewa Apollo. Dalam Oedipus the King, diam dan rasa bersalah dihubungkan pada sisi manusia. Motif utama Ion berkaitan dengan perjuangan manusia untuk kebenaran melawan para dewa. Maka, dengan sendirinya, manusia harus mengatur agar bisa menemukan dan mengatakan yang sebenarnya. Apollo tidak mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak mengungkapkan apa yang dia tahu benar tentang kasusnya. Dia menipu manusia dengan diamnya atau mengatakan kebohongan murni. Dia tidak cukup berani untuk berbicara sendiri. Dia menggunakan kekuatannya, kebebasannya, dan keunggulannya untuk menutupi apa yang telah dilakukannya. Apollo adalah anti-parrhesiastes.

Dewa-Dewi Zaman Baheula: Apollo – Di Kaki Pelangi

Dalam perjuangan melawan diamnya para dewa ini, Ion dan Creusa adalah dua tokoh parrhesiastic utama. Namun, mereka tidak memainkan peran parrhesiastes dengan cara yang sama. Karena sebagai laki-laki yang lahir dari bumi Athena, Ion memiliki hak untuk menggunakan parrhesia. Creusa, di sisi lain, memainkan peran parrhesiastic sebagai perempuan yang mengakui pikirannya. Maka, saya ingin menelisik dua peran parrhesiastic tersebut, tidak lain kecuali untuk mencatat asal-usul perbedaan mereka.

c. Peran parrhesiastic Ion

Peran parrhesiastic Ion terbukti dalam adegan panjang yang mempertemukan Ion dan Xuthus di awal permainan. Ketika Xuthus dan Creusa datang untuk berkonsultasi guna mendapatkan sabda, Xuthus yang pertama memasuki kuil suci karena dia adalah suami dan lelaki. Dia mengungkapkan kepada Apollo pertanyaannya. Dewa mengatakan kepadanya bahwa orang pertama yang ia temui ketika keluar kuil akan menjadi anak lelakinya. Dan, tentu saja, yang pertama dia temui adalah Ion karena, sebagai pelayan Apolo, dia selalu berada di pintu kuil. Di sini kita harus memperhatikan ungkapan Yunani, yang tidak diterjemahkan secara harfiah, baik dalam edisi Prancis atau Inggris. Kata-kata Yunani itu adalah: “παίδ έόυ πεφυиέυαι”. Penggunaan kata “πεφυиέυαι” menunjukkan bahwa Ion dikatakan sebagai putra Xuthus “secara alami”.

ION: Apa sabda Apolo?

XUTHUS: Dia berkata, siapa pun yang bertemu aku pertama kali ketika keluar dari kuil..

ION: Siapapun yang bertemu Anda: bagaimana?

XUTHUS: …. adalah anakku! [παίδ έόυ πεφυиέυαι]

ION: Anak Anda sejak lahir, atau hanya karena pemberian?

XUTHUS: Sebuah pemberian, ya; tapi milikku sejak lahir juga.

Jadi, kita tahu bahwa Apollo tidak memberikan pernyataan nubuat yang kabur dan ambigu karena ia tidak mau berurusan dengan penanya yang tidak jelas. Jawaban para dewa adalah dusta murni. Karena Ion bukanlah putra Xuthus “secara alami” atau “oleh kelahiran.” Apollo dalam kasus ini bukanlah pencerita-kebenaran yang ambigu. Dia pembohong. Dan, Xuthus, yang ditipu oleh Apollo, secara terang-terangan percaya bahwa Ion—orang pertama yang ia temui—pada dasarnya adalah putranya sendiri.

Berikut ini adalah babak parrhesiastic utama dan pertama drama ini yang dapat dibagi menjadi tiga bagian.

Bagian pertama menyangkut kesalahpahaman antara Ion dan Xuthus. Xuthus meninggalkan kuil, melihat Ion, dan—dalam mendengar jawaban Apollo—dia meyakini bahwa Ion adalah anaknya. Dengan penuh gembira, dia mendatanginya dan ingin menciumnya. Ion yang tidak tahu siapa Xuthus dan tidak tahu mengapa ia ingin menciumnya, memahami perilaku Xuthus dan berpikir bahwa ia ingin berhubungan seks dengannya. Hal itu wajar terjadi dalam pikiran lelaki muda di Yunani ketika seorang pria mencoba menciumnya. Sebagian besar komentator—bahkan ketika mereka memahami interpretasi seksual Ion yang diarahkan kepada perilaku Xuthus—mengatakan bahwa peristiwa itu adalah adegan komik yang kadang-kadang terjadi dalam tragedi Euripides. Bagaimanapun, Ion berkata kepada Xuthus: “Jika kamu terus melecehkanku, aku akan melepaskan anak panah di dadamu.” Adegan ini mirip dengan adegan dalam Oedipus the King, ketika Oedipus tidak tahu bahwa Laius, Raja Thebes, adalah ayahnya. Dan, dia juga salah memahami sifat perjumpaan dengannya; pertengkaran terjadi dan Laius dibunuh oleh Oedipus. Namun, dalam Ion terjadi pembalikan: Xuthus, Raja Athena, tidak tahu bahwa Ion bukan putranya, dan Ion tidak tahu bahwa Xuthus berpikir bahwa ia adalah ayah Ion. Jadi, sebagai konsekuensi dari kebohongan Apollo, kita berada dalam dunia penipuan.

02-Zuleika-Henry-RSC-Ion-Euripides-1994.jpg - Zuleika Henry ...

Bagian kedua dari adegan ini menyangkut ketidakpercayaan Ion kepada Xuthus. Xuthus memberi tahu Ion: “Tenang saja; jika aku ingin menciummu, itu karena aku ayahmu.” Namun, alih-alih bersukacita karena mengetahui siapa ayahnya, pertanyaan pertama Ion untuk Xuthus adalah: “Lalu, siapakah ibuku?” Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, perhatian prinsip Ion adalah pengetahuan tentang identitas ibunya. Namun, kemudian dia bertanya kepada Xuthus: “Bagaimana aku bisa menjadi anakmu?” Dan, Xuthus menjawab: “Aku tidak tahu caranya”; Aku menunjukku karena mengikuti apa yang dikatakan Dewa Apollo.” Ion kemudian mengucapkan kalimat yang sangat menarik yang banyak diterjemahkan salah dalam versi Bahasa Perancis. Versi Bahasa Yunani adalah: “φέρε λόγωυ άψώεθ άλλωυ.” Edisi Bahasa Prancis menerjemahkannya sebagai: “Ayo, mari kita bicara tentang sesuatu yang lain.” Terjemahan yang lebih akurat mungkin: “Mari kita coba jenis wacana lain.” Jadi, dalam menjawab pertanyaan Ion tentang bagaimana dia bisa menjadi putranya, Xuthus menjawab bahwa dia tidak tahu, tetapi sudah diberitahu banyak oleh Apollo. Dan Ion mengatakan kepadanya untuk mencoba jenis wacana lain yang lebih mampu mengatakan yang sebenarnya:

ION: Bagaimana aku bisa menjadi putramu?

XUTHUS: Apollo, punya jawabannya, bukan aku.

ION (setelah jeda): Mari kita coba wacana lain.

XUTHUS: Ya, itu akan membantu kita lebih banyak.

Meninggalkan formulasi sabda dewa, Xuthus dan Ion melakukan penyelidikan yang melibatkan pertukaran pertanyaan dan jawaban. Sebagai penanya, Ion mempertanyakan Xuthus—yang diduga sebagai ayahnya—untuk mencoba mencari tahu dengan siapa, kapan, dan bagaimana mungkin baginya untuk memiliki anak sehingga Ion bisa jadi putranya. Xuthus menjawabnya: “Ya, aku pikir aku berhubungan seks dengan seorang gadis Delphian. Kapan? Sebelum saya menikah dengan Creusa. Di mana? Mungkin di dalam Delphi. Bagaimana? Suatu hari ketika saya mabuk ketika merayakan pesta obor Dionysian.” Tentu saja, sebagai penjelasan tentang kelahiran Ion, seluruh rangkaian pemikiran ini adalah omong-kosong. Namun, mereka menganggap metode ingin tahu ini dengan serius, dan berusaha, sebisa mungkin, untuk menemukan kebenaran dengan cara mereka sendiri yang disebabkan oleh kebohongan Apollo. Setelah penyelidikan ini, Ion agak enggan dan tidak antusias menerima hipotesis Xuthus: ia menganggap dirinya sebagai putra Xuthus.

Bagian ketiga dari adegan parrhesiastic antara Xuthus dan Ion menyangkut nasib politik Ion serta potensi kemalangan politiknya jika ia tiba di Athena sebagai putra dan pewaris Xuthus. Setelah berhasil membujuk Ion bahwa ia adalah putranya, Xuthus berjanji untuk membawanya kembali ke Athena di mana, sebagai putra seorang raja, ia akan kaya dan berkuasa. Namun, Ion tidak terlalu antusias dengan prospek ini. Mengapa? Karena dia tahu bahwa ia akan datang ke Athena sebagai putra Xuthus (warga asing di bumi Athena). Apalagi dengan ibu yang tidak diketahui. Menurut undang-undang Athena, seseorang tidak dapat menjadi warga negara biasa di Athena jika bukan keturunan orang tua yang keduanya dilahirkan di Athena. Jadi, Ion memberitahu Xuthus bahwa ia akan dianggap sebagai orang asing dan bajingan, misalnya, bukan siapa-siapa.

Kegelisahan ini memberikan kesempatan bagi perkembangan panjang yang sekilas tampak sebagai penyimpangan, tetapi menyajikan gambaran kritis Euripides tentang kehidupan politik Athena: baik dalam demokrasi maupun mengenai kehidupan politik seorang raja.

Ion menjelaskan bahwa dalam demokrasi ada tiga kategori warga negara. Pertama, warga negara Athena yang tidak memiliki kekuasaan atau kekayaan dan yang membenci semua yang lebih unggul dari mereka. Kedua, warga Athena yang baik yang mampu menjalankan kekuasaan, karena mereka bijak, tetapi mereka memilih diam dan tidak khawatir tentang urusan politik kota. Ketiga, orang-orang terkemuka yang kuat serta menggunakan wacana dan alasan mereka untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik publik. Membayangkan reaksi ketiga kelompok ini terhadap kehadirannya di Athena sebagai orang asing dan bajingan, Ion mengatakan bahwa kelompok pertama akan membencinya; kelompok kedua, warga bijak, akan menertawakan pemuda yang ingin dianggap sebagai salah satu Warga Negara Athena; dan kelompok terakhir, para politisi, akan iri dengan pesaing baru mereka dan akan berusaha untuk menyingkirkannya. Jadi, datang ke Athena yang demokratis bukanlah prospek yang menyenangkan bagi Ion. Setelah penggambaran kehidupan demokratis ini, Ion berbicara tentang aspek-aspek negatif dari kehidupan keluarga—dengan ibu tiri tanpa anak yang tidak akan menerima kehadirannya sebagai pewaris takhta Athena. Namun, Ion kemudian kembali ke deskripsi politik di mana ia menggambarkan kehidupan seorang raja sebagai berikut.

ION: … Adapun sebagai raja, memang berlebihan. Kebangsawanan menyembunyikan kehidupan penuh siksaan di balik beranda yang menyenangkan. Untuk hidup dalam ketakutan setiap jam, dengan kekuasaan mencari para pembunuh—itukah surga? Apakah itu keberuntungan? Beri aku kebahagiaan seorang lelaki biasa, bukan kehidupan seorang raja yang suka mengisi istananya dengan penjahat dan membenci orang jujur karena takut mati. Anda bisa memberitahu saya kesenangan menjadi kaya melebihi segalanya. Namun, hidup dikelilingi oleh skandal, meskipun menggenggam uangmu dengan erat, dilanda kekhawatiran tidak ada banding bagiku.

Dua uraian tentang kehidupan demokratis Athena dan kehidupan seorang raja ini tampaknya tidak sesuai dengan babak ini, karena masalah sebenarnya yang dihadapi Ion adalah menemukan siapa ibunya sehingga ia bisa tiba di Athena tanpa rasa malu atau cemas. Kita harus menemukan alasan untuk dimasukkannya dua babak ini. Drama ini berlanjut dan Xuthus memberi tahu Ion agar tidak khawatir tentang kehidupannya di Athena.

Xuthus pun mengusulkan agar Ion berpura-pura menjadi pengunjung dan tidak mengungkapkan fakta bahwa ia adalah putra Xuthus. Kemudian, ketika waktu yang tepat tiba, Xuthus mengusulkan untuk menjadikan Ion pewarisnya; untuk saat ini, tidak ada yang akan dikatakan pada Creusa. Ion ingin datang ke Athena sebagai penerus sesungguhnya dinasti kedua Erectheus, tetapi apa yang Xuthus usulkan—agar dia berpura-pura menjadi pengunjung ke kota itu–tidak membahas masalah nyata itu. Jadi, babak itu tampak gila, tidak masuk akal. Meskipun demikian, Ion menerima usulan itu, tetapi mengklaim bahwa tanpa mengetahui siapa ibunya, kehidupan tidak akan mungkin:

ION: Ya, aku akan pergi. Tetapi satu keberuntungan masih jauh dariku: sebelum aku menemukan ibuku, hidupku tidak berharga.

Mengapa Ion tidak mungkin hidup jika tidak bisa menemukan ibunya? Dia melanjutkan :

ION: … Jika aku dapat menemukannya, aku berdoa ibuku adalah warga Athena, sehingga melaluinya aku dapat memiliki hak untuk berbicara [παρρησία]. Karena ketika seorang asing datang ke kota darah murni, meskipun atas nama warga negara, mulutnya tetap menjadi budak: ia tidak memiliki hak untuk berbicara [παρρησία].

Maka kita tahu, Ion perlu tahu siapa ibunya untuk menentukan apakah dia adalah keturunan dari bumi Athena, karena hanya dengan demikian ia akan diberkahi dengan parrhesia. Dia menjelaskan bahwa seseorang yang datang ke Athena sebagai warga asing—meskipun secara harfiah dan secara hukum dianggap sebagai warga negara—masih tidak dapat menikmati parrhesia. Lalu, apa makna penggambaran kritis kehidupan demokrasi dan monarki yang tampaknya merosot itu, memuncak seperti yang mereka lakukan dalam rujukan akhir tentang parrhesia tepat ketika Ion menerima Xuthus menawarkan untuk kembali bersamanya ke Athena—terutama mengingat hal-hal yang agak kabur yang diusulkan Xuthus?

Penggambaran kritis tentang demokrasi dan monarki yang menyimpang yang diberikan Ion mudah dikenali sebagai contoh khas wacana parrhesiastic. Karena kita bisa menemukan kritik yang hampir sama di kemudian hari dari mulut Socrates dalam karya Plato atau Xenophon. Kritik serupa diberikan kemudian oleh Isocrates. Jadi, penggambaran kritis kehidupan demokratis dan monarki yang disajikan oleh Ion adalah bagian dari ciri konstitusional individu parrhesiastic dalam kehidupan politik Athena pada akhir abad Kelima dan awal Keempat SM. Ion hanyalah parrhesiastes, yaitu individu yang sangat berharga bagi demokrasi atau monarki karena dia cukup berani untuk menjelaskan kepada rakyat atau kepada raja apa sebenarnya kekurangan hidup mereka. Ion adalah seorang individu parrhesiastic dan menunjukkan dirinya seperti itu dalam kritik politik yang sangat kecil ini. Pun demikian, ketika dia menyatakan bahwa dia perlu tahu apakah ibunya warga Athena karena dia membutuhkan parrhesia. Karena, terlepas dari kenyataan bahwa sifatnya sebagai parrhesiastes, ia tidak dapat secara legal atau institusional menggunakan parrhesia alami yang ia miliki jika ibunya bukan warga Athena. Parrhesia, dengan demikian, bukan hak yang diberikan secara merata kepada semua warga Athena, tetapi hanya bagi mereka yang sangat terhormat melalui keluarga dan kelahiran mereka. Dan Ion muncul sebagai orang yang, pada dasarnya, adalah individu parrhesiastik, namun pada saat yang sama, dirampas hak kebebasan berbicara.

Mengapa figur parrhesiastic ini kehilangan hak parrhesiastic-nya? Karena Dewa Apollo—dewa profetik yang bertugas untuk mengatakan kebenaran kepada manusia—tidak cukup berani mengungkapkan kesalahannya sendiri dan bertindak sebagai seorang parrhesiastes. Agar Ion menyesuaikan diri dengan sifatnya dan memainkan peran parrhesiastic di Athena, sesuatu yang lebih dibutuhkan adalah kekurangannya tetapi yang akan diberikan kepadanya oleh figur parrhesiastic lain dalam drama itu, yakni ibunya, Creusa. Jadi, Creusa bisa mengatakan yang sebenarnya, sehingga membebaskan putranya yang parrhesiastic untuk menggunakan parrhesia alaminya.

d. Peran Parrhesiastic Creusa

Peran parrhesiastic Creusa dalam drama ini sangat berbeda dari Ion. Sebagai seorang perempuan, Creusa tidak akan menggunakan parrhesia untuk berbicara kebenaran tentang kehidupan politik Athena kepada raja, melainkan secara terbuka menuduh Apollo atas kesalahannya.

Quality Hand Painted Oil Painting Repro Herbert Draper Lamia ...

Ketika diberitahu oleh Chorus bahwa Xuthus telah diberi seorang putra oleh Apollo, Creusa menyadari bahwa dia tidak hanya tidak akan menemukan putra yang dicarinya. Lebih dari itu, ia juga akan memiliki seorang anak tiri yang merupakan orang asing, tetapi tetap akan menggantikan Xuthus sebagai raja. Dua alasan itulah yang menjadikan dia marah, tidak hanya kepada suaminya, tetapi juga kepada Apollo. Bagaimanapun juga, Apollo telah memperkosanya. Dia kehilangan putranya. Kini dia mengetahui bahwa Apollo tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Sementara, Xuthus menerima seorang putra dari si Dewa. Semua itu membuktikan bahwa Apollo mengambil terlalu banyak darinya. Kegetiran hidupnya, keputusasaannya, dan amarahnya meledak dalam sebuah tuduhan terhadap Apollo: dia memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. Dengan demikian kebenaran muncul sebagai reaksi emosional terhadap ketidakadilan dewa dan kebohongannya.

Dalam Oedipus the King, manusia tidak menerima tuturan kenabian Apollo karena kebenaran mereka tampaknya luar biasa. Namun mereka dituntun pada kebenaran kata-kata dewa terlepas dari upaya mereka untuk melarikan diri dari nasib yang telah dinubuatkan olehnya. Namun, dalam Ion, manusia dituntun pada kebenaran di hadapan kebohongan atau kebungkaman para dewa, terlepas dari fakta bahwa mereka ditipu oleh Apollo. Sebagai konsekuensi dari kebohongan Apolio, Creusa percaya bahwa Ion adalah putra alami Xuthus. Namun, dalam reaksi emosionalnya terhadap apa yang menurutnya benar, ia menutupnya dengan mengungkapkan kebenaran.

Adegan parrhesiastic utama Creusa terdiri dari dua bagian yang berbeda dalam struktur puitik dan dalam tipe parrhesia yang termanifestasikan. Bagian pertama mengambil bentuk pidato panjang yang indah—omelan terhadap Apollo.  Sementara, bagian kedua berupa stichomythia, yaitu, melibatkan dialog antara Creusa dan pelayannya yang terdiri dari baris alternatif, satu demi satu.

Pertama, omelan. Pada momen ini, Creusa muncul di depan tangga kuil ditemani oleh seorang lelaki tua, pelayan keluarga yang dapat dipercaya (dan yang tetap diam selama tuturan Creusa berlangsung). Omelan Creusa terhadap Apollo adalah bentuk parrhesia di mana seseorang secara terbuka menuduh pihak lain melakukan kejahatan, suatu kesalahan, atau ketidakadilan. Tuduhan tersebut merupakan contoh parrhesia sejauh yang dituduh lebih kuat dari pada yang menuduh. Menyadari ada bahaya akibat tuduhan itu, yakni tertuduh bisa saja membalas dengan cara tertentu terhadap penuduhnya, maka parrhesia Creusa, pertama-tama, mengambil bentuk celaan atau kritik publik terhadap suatu makhluk di mana ia inferior dalam kuasanya dan berada dalam hubungan ketergantungan dengannya. Dalam situasi rentan inilah Creusa memutuskan untuk menuduhnya:

CREUSA: 0 hatiku, bagaimana bisa diam? Namun, bagaimana aku bisa berbicara tentang cinta rahasia ini dan melepaskan diri dari semua rasa malu? Masih adakah penghalang yang bisa mencegahku? Siapakah yang sekarang menjadi sainganku dalam kebajikan? Bukankah suamiku menjadi pengkhianatku? Aku ditipu terkait rumah, ditipu terkait anak-anak, harapan hilang yang tak bisa aku capai, harapan mengatur hal-hal dengan baik dengan menyembunyikan fakta, dengan menyembunyikan kelahiran yang membawa kesedihan. Tidak! Tidak! Tapi aku bersumpah demi tempat tinggal penuh bintang Dewa Zeus, demi dewi yang memerintah di atas kita dan demi pantai suci Danau Tritonis, aku tidak akan lagi menyembunyikannya. Ketika aku menyingkirkan beban, hatiku akan lebih mudah. Air mata jatuh, dan jiwaku sakit karena kejahatan yang direncanakan oleh manusia dan dewa. Aku akan membuka rahasia mereka, para pengkhianat wanita yang tidak tahu berterima kasih.

O, kau yang memberi kecapi tujuh nada suara yang membunyikan dengan lantang tanduk rustik tak bernyawa, suara indah nyanyian Muse, padamu, putra Latonas. Di sini, di siang hari, aku akan menyalahkanmu. Kau datang dengan rambut berkilau emas, ketika aku tengah mengumpulkan dan memasukkan bunga bercahaya keemasan ke dalam jubahku. Dengan menggenggam erat pergelangan tanganku yang pucat ketika aku menangis memohon pertolongan ibu, kau membimbingku ke ranjang di gua. Dewa dan kekasihku, tanpa malu, tunduk pada kehendak para Cyprian.[6] Dalam penderitaan, aku melahirkan putramu. Karena takut pada ibuku, aku meletakkanya di ranjang di mana kau dengan kejam memaksaku. Ah! Dia hilang sekarang, disambar jadi makanan burung, anakku dan anakmu; 0 hilang! Tapi kau memainkan kecapi, melantunkan puji-pujianmu. 0 dengarkan aku, putra Latona, yang menyampaikan nurbuatmu dari tahta emas dan kuil di pusat bumi, aku akan memproklamirkan kata-kataku di telingamu: kau adalah kekasih berhati iblis. Meskipun kau tidak berutang pada suamiku, kau telah menetapkan seorang putra di rumahnya. Tapi anakku, ya dan anakmu, yang berhati keras, hilang, disambar burung, hanya jubah yang ditinggalkan ibunya. Delos membencimu dan pohon salam muda yang tumbuh di telapak tangan dengan daun-daunnya yang lembut, tempat Latona membelahmu, anak suci, buah Zeus.

Mengenai omelan ini, saya ingin menekankan tiga poin berikut. Pertama, seperti yang kita lihat, tuduhan Creusa adalah laknat publik terhadap Apollo. Acuan Apollo sebagai putra Latona (Leto),[7] misalnya, dimaksudkan untuk menyampaikan pikiran bahwa Apollo adalah seorang bajingan: putra Latona dan Zeus. Kedua, ada juga oposisi metaforis yang jelas ditarik antara Phoebus Apollo sebagai dewa cahaya dengan kecerahan emasnya, yang, pada saat yang sama, menarik seorang gadis muda ke dalam kegelapan gua untuk memperkosanya. Dia adalah putra Latona—penguasa malam dan sebagainya. Ketiga, ada kontras yang ditarik antara musik Apollo—dengan lirik tujuh chord-nya—dengan tangisan dan teriakan Creusa (yang berteriak minta tolong sebagai korban Apollo dan yang juga harus, melalui laknat dan caciannya, berbicara kebenaran yang tidak akan diucapkan Tuhan). Creusa menyampaikan tuduhannya di depan pintu kuil Delphik yang tertutup. Suara ilahi diam ketika Creusa menyatakan kebenaran seorang diri.

Bagian kedua dari adegan parrhesiastic Creusa secara langsung mengikuti omelan ini, yakni ketika pelayan dan penjaga lamanya yang telah mendengar semua yang dikatakannya melakukan penyelidikan yang persis simetris dengan dialog stichomythic antara Ion dan Xuthus. Dengan cara yang sama, pelayan Creusa meminta untuk menceritakan kisahnya kepadanya. Sementara, dia mengajukan pertanyaan kepadanya, seperti kapan peristiwa ini terjadi, di mana, bagaimana, dan seterusnya.

Dua hal yang patut dicatat tentang pertukaran ini. Pertama, pertanyaan interogatif ini adalah kebalikan dari pengungkapan kebenaran yang bersifat rahasia. Sabda Apolo biasanya ambigu dan kabur, tidak pernah menjawab satu rangkaian pertanyaan yang tepat secara langsung, sehingga tidak dapat dilanjutkan sebagai penyelidikan. Sementara, metode tanya-jawab menjadikan sesuatu yang kabur menjadi terang-benderang. Kedua, wacana parrhesiastic Creusa sekarang tidak lagi merupakan tuduhan yang ditujukan kepada Apollo. Artinya, bukan lagi tuduhan seorang perempuan terhadap pemerkosaanya. Melainkan, mengambil bentuk tuduhan-diri di mana dia mengungkapkan kesalahannya, kelemahannya, kelakuan buruknya sendiri, termasuk mengekspos anak, dan sebagainya. Creusa mengakui peristiwa yang terjadi dengan cara yang mirip dengan pengakuan cinta Phaedra untuk Hippolytus. Agar seperti Phaedra, dia juga memanifestasikan keengganan yang sama untuk mengatakan segalanya dan berhasil membiarkan pelayannya mengucapkan aspek-aspek dari ceritanya yang dia tidak ingin mengakuinya secara langsung. Alih-alih, menggunakan wacana pengakuan dosa yang agak tidak langsung yang akrab bagi semua orang dari Hippolytus karya Euripides atau Phaedra karya  Racines.

Dalam kasus apa pun, saya berpikir bahwa pengungkapan kebenaran Creusa adalah contoh parrhesia pribadi (yang bertentangan dengan politik). Parrhesia Ion mengambil bentuk kritik politik yang jujur, sedangkan parrhesia Creusa mengambil bentuk tuduhan yang jujur ​​terhadap orang lain yang lebih kuat darinya, serta sebagai pengakuan kebenaran tentang dirinya sendiri.

Kombinasi figur parrhesiastic dari Ion dan Creusa-lah yang memungkinkan pengungkapan penuh kebenaran di akhir drama. Untuk mengikuti adegan parrhesiastic Creusa, tidak ada seorang pun kecuali dewa yang tahu bahwa putra Creusa dengan Apollo adalah Ion.  Sama seperti Ion tidak tahu bahwa Creusa adalah ibunya dan bahwa ia bukan putra Xuthus. Namun, untuk menggabungkan dua wacana parrhesiastic membutuhkan sejumlah episode lain yang, sayangnya, kita tidak punya waktu sekarang untuk menganalisis. Sebagai contoh, ada episode yang sangat menarik di mana Creusa—masih percaya bahwa Ion adalah putra alamiah Xuthus—mencoba untuk membunuh Ion. Ketika Ion menemukan rencana ini, dia mencoba untuk membunuh Creusa; sebuah pembalikan aneh dari situasi Oedipal.

Mengenai skema yang saya uraikan, kita sekarang dapat melihat bahwa serangkaian kebenaran yang diturunkan dari Athena (Erectheus-Creusa-Ion) selesai pada akhir drama. Xuthus ditipu oleh Apollo sampai akhir, karena ketika kembali ke Athena ia masih percaya Ion sebagai putra kandungnya. Sementara, Apollo tidak pernah muncul di mana pun dalam drama: dia terus diam.

Orestes (408 SM)

Kemunculan terakhir kata parrhesia dapat ditemukan dalam drama Euripides Orestes yang ditulis, atau setidaknya ditampilkan, pada tahun 408 SM, hanya beberapa tahun sebelum Euripides meninggal. Pada saat itu tengah terjai krisis politik di Athena ketika ada banyak perdebatan tentang rezim demokratis. Teks ini menarik karena merupakan satu-satunya bagian di Euripides di mana kata parrhesia digunakan dalam arti yang merendahkan. Kata tersebut muncul pada baris 905 dan diterjemahkan di sini sebagai “blak-blakan yang bodoh.” Teks dalam drama di mana kata itu muncul ada dalam narasi seorang utusan yang datang ke istana agung di Argos untuk memberitahu Electra apa yang terjadi di pengadilan Pelasgian di persidangan Orestes. Seperti kita ketahui dari Electra, Orestes dan Electra telah membunuh ibu mereka, Clytemnestra, dan dengan demikian sedang diadili karena pembunuhan ibu. Narasi yang ingin saya kutip berbunyi sebagai berikut:

UTUSAN: ... Ketika seluruh warga hadir, seorang utusan resmi berdiri dan berkata, “Siapa yang ingin berbicara di pengadilan, untuk mengatakan apakah Orestes harus mati atau tidak demi pembunuhan ibu? Pada saat ini, Talthybius berdiri. Dia adalah karib Ayahandamu dalam kemenangan atas Troy. Selalu tunduk pada orang-orang yang berkuasa, ia membuat pidato yang ambigu, penuh pujian untuk Agamemnon dan kata-kata dingin untuk saudaramu, memutar sanjungan dan kecaman bersama-sama—menetapkan hukum yang tidak berguna bagi orang tua, dan dengan setiap kalimat yang sekilas tampak manis untuk kawan Aegisthus. Pemberita  seperti itu—seluruh pertarungan mereka telah belajar untuk melompat ke sisi yang menang; teman mereka adalah siapa pun yang memiliki kekuasaan atau kantor pemerintah. Pangeran Diomedes berbicara berikutnya. Dia mendesak mereka untuk tidak menghukum baik Anda atau saudara Anda untuk kematian, tetapi memuaskan kesalehan dengan mengusir Anda. Beberapa berteriak menyetujui, yang lain tidak setuju.  

Selanjutnya di sana berdiri seorang pria dengan mulut seperti mata air yang mengalir, seorang raksasa yang lancang, seorang warga negara yangterdaftar, namun bukan dari Argos. Layaknya cakar kucing, ia menempatkan rasa percaya dirinya dalam gertakan dan blak-blakan yang bodoh, dan masih cukup meyakinkan untuk membuat pendengarnya menghadapi masalah. Dia berkata Anda dan Orestes harus dibunuh dengan batu. Namun, ketika dia memperdebatkan kematianmu, kata-kata yang dia gunakan bukan berasal dari dirinya sendiri, tetapi semua dibisikkan oleh Tyndareos.

Yang lain bangkit, dan berbicara menentangnya dengan tegap. Seorang lelaki yang diberkahi dengan sedikit keindahan, tetapi seorang yang berani; jenis yang tidak sering ditemukan tercampur di jalan atau pasar, buruh kasar. Dia cerdas, ketika memilih untuk memahami argumen; seorang pria dengan prinsip tak bisa dan integritas yang bisa disalahkan.

Dia berkata, Orestes putra Agamemnon harus dimuliakan dengan mahkota karena berani membalaskan dendam ayahnya karena mengambil istri seorang perempuan yang seumur hidupnya bejat dan tak bertuhan, benar-benar merusak adat. Kita tahu, tidak akan ada seorang lelaki pun yang berani meninggalkan rumah, mempersenjatai diri, dan berbaris untuk berperang, jika istri yang ditinggalkannya dengan kepercayaan bisa dengan mudah dirayu oleh para lelaki yang tinggal di rumah. Maka, para pria pemberani dikhianati. Kata-katanya tampak masuk akal bagi para hakim yang jujur; dan tidak ada lagi pidato.”

Seperti yang kita lihat, narasi dimulai dengan acuan ke prosedur Athena untuk pengadilan pidana: ketika semua warga negara hadir, seorang utusan resmi bangkit dan menangis: “siapa yang ingin berbicara?” Itu adalah ekspresi hak warga Athena untuk berbicara secara setara (isegoria). Dua orator kemudian berbicara, keduanya dipinjam dari mitologi Yunani, dari dunia Homerik.[8] Pembicara pertama adalah Talthybius, salah satu rekan Agamemons selama perang melawan warga Troya. Setelah tokoh negatif Talthybius, tokoh berikutnya yang menyampaikan pendapatnya adalah Diomedes, salah satu pahlawan Yunani paling terkenal karena keberaniannya yang tak tertandingi, keterampilannya dalam pertempuran, kekuatan fisiknya, dan kefasihan berbicaranya.

Pylades and Orestes Brought as Victims before Iphigenia', Benjamin ...

Utusan itu mencirikan Talthybius sebagai seseorang yang tidak sepenuhnya bebas, tetapi bergantung pada mereka yang lebih kuat daripada dirinya. Teks Yunani menyatakan bahwa ia “di bawah kuasa yang kuat” (“tunduk pada mereka yang berkuasa”). Ada dua drama lain di mana Euripides mengkritik jenis manusia ini, utusan resmi. Dalam The Women of Troy, tokoh Talthybius muncul setelah kota Troya ditaklukkan oleh pasukan Yunani. Si pengabar memberitahu Cassandra bahwa dia akan menjadi selir Agamemnon. Cassandra memberikan balasan kepada utusan dengan memprediksikan bahwa dia akan membawa kehancuran bagi musuh-musuhnya. Dan, sebagaimana kita ketahuai, ramalan Cassandras selalu benar. Talthybius, bagaimanapun, tidak percaya ramalannya. Sebagai utusan resmi, dia tidak tahu apa yang benar (dia tidak dapat membuktikan kebenaran ucapan Cassandras), tetapi hanya mengulangi apa yang dikatakan oleh tuannya Agamemnon. Talthybius berpikir bahwa Cassandra benar-benar gila. Dia mengatakan padanya: “pikiranmu tidak di tempat yang tepat” (“kamu tidak waras”). Dan untuk ini Cassandra menjawab:

CASSANDRA: “Pembantu”! Kau dengar pembantu ini? Dia seorang pengabar. Jadi, apa itu pengabar, selain makhluk yang secara umum menjijikkan—pesuruh dan pembantu pemerintah dan raja? Kau mengatakan bahwa ibuku ditakdirkan untuk pulang ke rumah Odiseus: lalu bagaimana dengan nubuat Apolo yang dikatakan kepadaku, bahwa ibu akan mati di sini?

Dan nyatanya, Hecuba, ibu Cassandra, meninggal di Troya.

Dalam drama The Suppliant Women karya Euripides, ada juga diskusi antara utusan resmi yang tidak disebutkan namanya (yang berasal dari Thebes) dan Theseus (bukan raja, tetapi Warga Negara Pertama Athena). Ketika pengabar masuk, dia bertanya, “Siapakah Raja di Athena?” Theseus mengatakan kepadanya bahwa ia tidak akan dapat menemukan Raja Athena karena tidak ada tyrannos[9] di kota:

THESEUS: … Negara ini tidak tunduk pada kehendak satu orang, tetapi kota bebas. Raja di sini adalah orang-orang, yang memerintah secara bergilir setahun sekali. Kami tidak memberikan kekuatan khusus untuk si kaya; suara lelaki miskin pun memerintahkan otoritas yang setara.

Pernyataan tersebut memicu diskusi argumentatif tentang bentuk pemerintahan apa yang terbaik: monarki atau demokrasi? Pengabar memuji rezim monarki dan mengkritik demokrasi karena tunduk pada kehendak rakyat jelata. Theseus membalas dengan memuji demokrasi Athena di mana karena konstitusi orang miskin dan kaya memiliki hak yang sama. Setiap orang pun bebas untuk berbicara di dalam ekklēsia.[10]

THESEUS: … Kebebasan hidup dalam formula ini: “Siapapun yang memiliki nasihat bagus bisa ia sampaikan ke kota? Dia yang ingin berbicara mendapat ketenaran; yang tidak ingin, memilih diam. Di mana lagi bisa ditemukan kesetaraan yang lebih besar?

Di mata Theseus, kebebasan untuk berbicara dengan demikian identik dengan kesetaraan demokratis; sesuatu yang beroposisi dengan apa yang disampaikan perwakilan-pengabar tentang kekuasaan tirani.

Karena kebebasan berada dalam kemerdekaan untuk berbicara kebenaran, Talthybius tidak dapat berbicara secara langsung dan terus terang di persidangan Orestes. Sekali lagi, dia tidak bebas, tetapi bergantung pada mereka yang lebih kuat dari dirinya. Akibatnya, dia “berbicara secara ambigu”, memanfaatkan wacana yang bermakna dua hal yang berlawanan pada saat bersamaan. Jadi, kita melihat dia memuji Agamemnon (karena dia adalah pengabar Agamemnon), tetapi juga mengutuk putra Agamemnon, Orestes (karena dia tidak menyetujui tindakannya). Rasa takut akan kekuatan kedua faksi menjadikannya ingin menyenangkan semua orang, sehingga ia berbicara dalam dua wajah. Namun, karena kawan-kawan Aegisthus yang tengah berkuasa menyerukan kematian Orestes (Aegisthus, dalam Electra, juga dibunuh oleh Orestes), pada akhirnya Talthybius mengutuk Orestes.

Setelah tokoh mitologis negatif, Talthybius, muncul tokoh positif, Diomedes. Diomedes terkenal sebagai prajurit Yunani karena eksploitasinya yang berani dan kefasihannya yang agung: keahliannya dalam berbicara dan kebijaksanaannya. Tidak seperti Talthybius, Diomedes bersifat independen. Dia mengatakan apa yang dia pikirkan dan mengusulkan solusi moderat yang tidak memiliki motivasi politik: bukan sebuah tindakan balas dendam. Atas dasar agama, “untuk memenuhi kesalehan”, ia mendesak agar Orestes dan Electra diasingkan untuk memurnikan negara setelah kematian Clytemnestras dan Aegisthus. Hal itu sesuai dengan hukum agama tradisional untuk kasus pembunuhan. Meskipun Diomedes memberikan vonis moderat dan masuk akal, pendapatnya tetap membelah majelis: yang setuju dan yang tidak setuju.

Kita kemudian memiliki dua pembicara lain yang hadir. Nama mereka tidak diberikan, mereka bukan menjadi bagian dunia mitologis Homer, juga bukan pahlawan. Namun, dari deskripsi sempurna yang disampaikan oleh pembawa laporan, kita dapat melihat mereka adalah dua warga “bertipe sosial”. Yang pertama (simetris dengan Talthybius, orator buruk) adalah jenis orator yang sangat berbahaya bagi demokrasi. Dan saya pikir kita harus menentukan dengan cermat karakteristik spesifiknya.

Ciri pertamanya, ia memiliki “mulut seperti mata air yang mengalir”, yang diterjemahkan dari istilah Yunani athuroglossos. Istilah itu secara harfiah mengacu pada seseorang yang memiliki lidah tetapi tidak memiliki pintu; menyiratkan seseorang yang tidak bisa menutup mulutnya.

 Metafora mulut, gigi, dan bibir sebagai pintu yang tertutup ketika seseorang diam sering muncul dalam sastra Yunani kuno. Pada abad keenam SM, misalnya, Theognis dalam Elegies menulis bahwa ada terlalu banyak orang yang tidak sopan:

Terlalu banyak lidah memiliki gerbang yang terbang terpisah/ terlalu mudah, dan merawat banyak hal/yang tidak mempedulikan mereka./ Lebih baik menyimpan berita buruk/ di dalam, dan hanya membiarkan kabar baik keluar.

Pada abad kedua M, dalam esainya “Mengenai Banyak Omong”, Plutarch juga menulis bahwa gigi adalah pagar atau gerbang sehingga “jika lidah tidak mematuhi atau menahan diri, kita dapat memeriksa sifat yang tidak bisa menahan omongan dengan menggigitnya sampai berdarah.”

Gagasan tentang athuroglossos, atau athurostomia (orang yang memiliki mulut tanpa pintu), mengacu pada seseorang yang suka mengoceh tak berujung, yang tidak bisa diam, dan cenderung mengatakan apa pun yang terlintas dalam pikiran. Plutarch membandingkan kelicikan orang-orang semacam itu dengan Laut Hitam yang tidak memiliki pintu atau gerbang untuk menghalangi aliran airnya ke Mediterania:

 … mereka yang percaya bahwa ruang penyimpanan tanpa pintu dan dompet tanpa pengencang tidak ada gunanya bagi pemiliknya, namun menjaga mulut mereka tanpa kunci atau pintu, mempertahankan aliran keluar abadi seperti mulut Laut Hitam, tampaknya menganggap ucapan sebagai paling tidak berharga dari semua hal. Karena itu, mereka tidak sesuai dengan keyakinan yang merupakan objek dari semua pembicaraan.

Seperti yang kita lihat, athuroglossos dicirikan oleh dua sifat. Pertama, ketika kita memiliki “mulut seperti mata air yang mengalir”, kita tidak dapat membedakan saat harus berbicara dan saat harus diam. Implikasinya, kita harus bisa membedakan apa mesti dikatakan dari apa yang harus tetap tidak dikatakan atau memahami keadaan dan situasi di mana tuturan diperlukan dan di mana kita harus tetap diam. Dengan demikian, Theognis menyatakan bahwa orang yang ceroboh tidak dapat membedakan ketika seseorang harus menyuarakan berita baik atau buruk. Mereka juga tidak paham bagaimana membatasi diri dari urusan orang lain karena mereka dengan tidak sengaja campur tangan dalam urusan orang lain. Kedua, seperti yang dicatat Plutarch, ketika diri kita adalah athuroglossos, kita tidak memedulikan nilai logos, untuk wacana rasional sebagai sarana mendapatkan akses menuju kebenaran. Athuroglossos, dengan demikian, hampir identik dengan parrhesia yang dalam arti yang merendahkan dan justru kebalikan dari parrhesias positif (sebagai tanda kebajikan untuk dapat menggunakan parrhesia tanpa jatuh ke dalam kekejaman athuroglossos). Salah satu masalah yang harus diselesaikan oleh tokoh parrhesiastic adalah bagaimana membedakan apa yang harus dikatakan dan apa yang harus didiamkan karena tidak semua orang dapat membuat perbedaan seperti itu, seperti yang digambarkan contoh berikut.

Dalam risalahnya “The Education of Children”, Plutarch memberikan sebuah anekdot tentang Theocritus, seorang sofis,[11] sebagai contoh athuroglossos dan ketidakberuntungan yang ditimbulkan oleh tuturan yang melewati batas. Raja Makedonia, Antigonus, mengirim utusan kepada Theocritus, memintanya untuk datang ke istananya untuk berdiskusi. Dan kebetulan bahwa utusan yang ia kirim adalah juru masak utamanya, Eutropian. Raja Antigonus juga kehilangan mata dalam pertempuran, jadi dia hanya punya satu mata. Theocritus tidak senang mendengar dari Eutropian bahwa ia harus pergi dan mengunjungi Antigonus. Maka, dia berkata kepada si juru masak: “Aku tahu betul kau ingin menyerahkanku mentah-mentah untuk Cyclops[12]-mu.” Tentu saja, itu dimaksudkan untuk menertawakan raja cacat dan profesi Eutropia sebagai juru masak. Lalu, si juru masak menjawab: “Kalau begitu kau tidak akan bisa tenang, tetapi kamu harus mendapatkan hukuman karena omongan sembrono [athurostomia] dan kegilaanmu itu.” Maka, ketika Eutropian melaporkan ucapan Theocritus kepada raja, dia segera mengirim utusan untuk mengukum mati Theocritus.

Kita bisa memahami Diogenes sebagai seorang filosof yang sangat baik dan berani dalam menggunakan parrhesia untuk seorang raja. Namun, dalam kasus Theocritus, keterusterangannya bukanlah parrhesia tetapi athurostomia karena bercanda tentang pencemaran nama raja atau profesi juru masak tidak memiliki makna filosofis yang penting. Athuroglossos atau athurostomia, kemudian, adalah sifat pertama orator ketiga dalam narasi persidangan Orestes.

Ciri kedua, ia adalah ίσχύωυ θράρει, “raksasa yang kurang ajar” (baris l.903). Kata ίσχύω menunjukkan kekuatan seseorang, khususnya kekuatan fisik yang memungkinkan seseorang untuk mengalahkan orang lain dalam kompetisi. Jadi pembicara ini kuat, tetapi dia kuat θράρει yang berarti kuat bukan karena alasannya, atau kemampuan retorikanya untuk berbicara, atau kemampuannya untuk mengucapkan kebenaran, tetapi hanya karena dia sombong. Dia kuat hanya dengan kesombongannya yang cukup berani.

Karakteristik ketiga, “warga yang terdaftar, namun bukan warga Argos.” Dia bukan warga asli Argos, tetapi berasal dari tempat lain dan telah diintegrasikan ke dalam kota. Ungkapan ήυαγиασέυος mengacu pada seseorang yang menjadi warga anggota kota secara terpaksa atau dengan cara yang tidak terhormat (Apa yang diterjemahkan sebagai cakar kucing saja).

Sifat keempatnya diwujudkan dalam frasa “menempatkan adalah kepercayaan pada gangguan”. Dia percaya pada thorubos, suara ribut yang dibuat oleh suara yang keras, dengan jeritan atau kegemparan. Dalam peperangan, para prajurit berteriak untuk membangkitkan keberanian mereka sendiri atau untuk menakuti musuh. Warga Yunani menggunakan kata thorubos. Atau, suara gaduh dari kumpulan yang ramai ketika orang-orang berteriak disebut thorubos. Jadi, orator ketiga tidak yakin dengan kemampuannya untuk merumuskan wacana artikulatif. Ia hanya memanfaatkan kemampuannya untuk menghasilkan reaksi emosional dari apra pendengarnya dengan mengguankan suara yang keras. Hubungan langsung antara suara dan efek emosional yang dihasilkannya dalam ekklesia, dengan demikian, bertentangan dengan pengertian rasional dari tuturan artikulasi.

Karakteristik terakhir dari pembicara ketiga (negatif) adalah bahwa ia juga menaruh keyakinannya pada “blak-blakan yang bodoh (parrhesia).” Ungkapan “blak-blakan yang bodoh” mengulangi ungkapan athuroglossos, tetapi dengan implikasi politiknya. Meskipun pembicara ini telah dipaksakan mendapatkan kewarganegaraan, ia tetap memiliki parrhesia sebagai hak sipil resmi yang dijamin oleh konstitusi Athena. Apa yang menjadikan parrhesia sebagai parrhesia dalam makna yang merendahkan atau negatif adalah bahwa ia kurang mathesis—kurang belajar atau kurang bijak. Agar parrhesia memiliki efek politik positif harus dikaitkan dengan pendidikan yang baik, dengan formasi intelektual dan moral, dengan sistem pendidikan (paideia) atau kebajikan. Hanya dengan itulah parrhesia akan lebih dari thorubos atau suara nyaring ssbelaka. Karena ketika pembicara menggunakan parrhesia tanpa kebajikan, ketika mereka menggunakan bahasa yang tidak jelas, kota ini akan mengarah ke situasi yang mengerikan.

Kita mungkin masih ingat komentar serupa dari Plato, dalam Seventh Letter [336SM], tentang kurangnya kebajikan. Di situ Plato menjelaskan bahwa Dion tidak bisa berhasil dengan usahanya di Sisilia (yaitu, untuk mewujudkan di Dionysius, baik sebagai penguasa kota besar maupun filosof yang mengabdikan diri pada nalar dan keadilan) karena dua alasan. Yang pertama adalah bahwa beberapa daimon atau ruh jahat mungkin iri dan ingin membalas dendam. Kedua, Plato menjelaskan bahwa ketidakpedulian mewabah di Sisilia. Tentang ketidakpedulian itu Plato mengatakan bahwa inilah “tanah di mana segala macam kejahatan bagi semua orang berakar dan berkembang serta menghasilkan buah yang paling pahit bagi mereka yang menaburnya.”

Karakteristik pembicara ketiga—tipe sosial tertentu yang menjalankan pharresia dalam makna merendahkan—yakni: kasar, penuh semangat, orang asing, kurang bijak, dan berbahaya.

Sekarang, marilah kita perhatikan pembicara keempat, terakhir, dalam pengadilan Oretes. Dia adalah analog dari Diomedes. Kalau Diomedes ada dalam dunia Homerik, si pembicara terakhir hadir dalam jagat politik Argos. Sebagai contoh parrhesiastes positif sebagai ‘tipe sosial’ dia memiliki ciri-ciri berikut.

Pertama, ia “seorang yang dikaruniai sedikit keindahan, tetapi seorang yang berani”. Tidak seperti seorang perempuan, dia tidak adil untuk dilihat, tetapi seorang “pria jantan,” yaitu pria yang berani. Bagi orang-orang Yunani, keberanian adalah sifat jantan yang tidak dimiliki wanita.

Kedua, ia adalah “tipe yang tidak sering ditemukan bergaul di jalanan atau pasar.” Jadi, perwakilan dari penggunaan positif parrhesia ini bukanlah jenis politisi profesional yang menghabiskan sebagian besar waktunya di Agora—tempat di mana anggota majelis bertemu untuk diskusi dan berdebat politik. Dia juga bukan salah satu dari warga miskin yang, tanpa sarana lain untuk hidup, akan datang ke Agora untuk menerima sejumlah uang yang diberikan kepada mereka yang mengambil bagian dalam ekklesia. Dia mengambil bagian dalam majelis hanya untuk berpartisipasi dalam keputusan penting pada saat-saat kritis. Dia tidak hidup dari politik demi politik.

Ketiga, ia adalah autourgos,  “buruh kasar”. Kata autourgos merujuk pada seseorang yang mengerjakan tanahnya sendiri. Kata itu menunjukkan kategori sosial tertentu — bukan pemilik tanah luas atau petani, tetapi pemilik tanah yang hidup dan bekerja dengan tangannya sendiri di tanah miliknya sendiri. Kadang-kadang dengan bantuan beberapa pelayan atau budak. Pemilik tanah seperti itu—yang menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja di ladang dan mengawasi pekerjaan pelayan mereka—sangat dipuji oleh Xenophon dalam Oeconomicus-nya. Yang paling menarik dalam Orestes, Euripides menekankan kompetensi politik pemilik tanah tersebut dengan menyebutkan tiga aspek karakter mereka.

Yang pertama adalah bahwa mereka selalu bersedia berbaris untuk berperang dan berjuang untuk kota. Apa yang mereka lakukan lebih baik daripada orang lain. Tentu saja, Euripides tidak memberikan penjelasan rasional mengapa ini harus terjadi. Namun, jika kita merujuk pada Oeconomicus, di mana autourgos digambarkan, terdapat sejumlah alasan yang diberikan. Penjelasan utama adalah bahwa pemilik tanah yang mengerjakan tanahnya sendiri, secara alami, sangat tertarik pada pertahanan dan perlindungan tanah negara. Hal itu berbeda dari pemilik toko dan warga kota yang tidak memiliki tanah mereka sendiri, sehingga tidak terlalu peduli jika musuh menjarah pedesaan. Para autourgos yang bekerja sebagai petani tidak bisa mentolerir pemikiran bahwa musuh bisa merusak pertanian, membakar tanaman, membunuh hewan ternak, dan sebagainya. Maka, mereka menjadi pejuang yang baik. Kedua, autourgos mampu “memahami argumen”, yaitu dapat menggunakan bahasa untuk mengusulkan saran yang baik untuk kota. Seperti yang dijelaskan Xenophon, pemilik tanah seperti itu biasa memberi perintah kepada pelayan mereka serta membuat keputusan tentang apa yang harus dilakukan dalam berbagai keadaan. Jadi, bukan saja mereka prajurit yang baik, mereka juga menjadi pemimpin yang baik. Oleh karena itu ketika mereka berbicara di ekklēsia, mereka tidak menggunakan thorubos. Apa yang mereka katakan adalah penting, masuk akal, dan merupakan nasihat yang baik. Selain itu, orator terakhir adalah seseorang yang memiliki integritas moral: “seseorang yang memiliki prinsip dan integritas yang tak diragukan lagi.”

ANCIENT GREECE - EURIPIDES - ORESTES

Poin terakhir tentang autourgos bisa diketahui bagaimana ia memandang kasus Electra dan Orestes. Sementara pembicara sebelumnya ingin Electra dan Orestes dihukum mati dengan cara dirajam, pemilik tanah tidak hanya meminta pembebasan Orestes, dia juga percaya Orestes harus “dihormati dengan mahkota” untuk apa yang telah dia lakukan. Untuk memahami pentingnya pernyataan autourgos, kita perlu menyadari bahwa apa yang dipermasalahkan dalam pengadilan Orestes bagi pemirsa yang tinggal di Athena di tengah-tengah perang Peloponnesia adalah pertanyaan tentang perang atau perdamaian. Apakah keputusan mengenai kasus Orestes akan lebih agresif yang akan melembagakan kelanjutan permusuhan, seperti dalam perang, atau akankah keputusan itu melembagakan perdamaian? Usulan autourgos terkait pembebasan melambangkan keinginan untuk perdamaian. Namun, dia juga menyatakan bahwa Orestes harus dimahkotai karena membunuh Clytemnestra “karena tidak ada orang yang akan meninggalkan rumahnya dan mempersenjatai dirinya sendiri, serta berbaris untuk berperang, jika istri yang ditinggalkan di sana dengan kepercayaan dapat dirayu oleh tinggal di rumah, dan pria pemberani dikhianati.” Kita harus ingat bahwa Agamemnon dibunuh oleh Aegisthus sesaat setelah dia pulang dari Perang Troya karena saat dia melawan musuh jauh dari rumah, Clytemnestra hidup berzina dengan Aegisthus.

Dan sekarang kita bisa melihat konteks sejarah dan politik yang tepat untuk adegan ini. Tahun produksi drama adalah 408 SM, masa ketika persaingan antara Athena dan Sparta dalam perang Peloponnesia masih sangat tajam. Kedua kota telah bertempur selama dua puluh tiga tahun, dengan periode gencatan senjata yang cukup pendek. Athena pada 408 SM, setelah beberapa kekalahan pahit dan menghancurkan pada 413, berhasil memulihkan beberapa kekuatan angkatan lautnya. Namun, di darat situasinya tidak baik, sehingga Athena rentan terhadap invasi pasukan Sparta. Meskipun demikian, Sparta membuat beberapa tawaran perdamaian ke Athena sehingga masalah melanjutkan perang atau berdamai dibahas dengan serisu.

Di Athena partai demokratik mendukung perang karena alasan ekonomi yang cukup jelas. Partai ini pada umumnya didukung oleh para pedagang, penjaga toko, pengusaha, dan mereka yang tertarik dengan ekspansi imperialistik Athena. Partai aristokrat konservatif mendukung perdamaian karena mereka mendapat dukungan dari pemilik tanah dan lainnya yang menginginkan koeksistensi damai dengan Sparta, serta konstitusi Athena yang lebih dekat, dalam beberapa hal, dengan konstitusi Spartan.

Pemimpin partai demokratik adalah Cleophon, bukan asli Athena, tetapi warga asing yang mendaftar sebagai warga negara. Sebagai pembicara yang terampil dan berpengaruh, ia terkenal dalam hidupnya digambarkan oleh kawan-kawannya sezamannya (misalnya, dikatakan ia tidak cukup berani untuk menjadi seorang prajurit, bahwa ia tampaknya memainkan peran pasif dalam hubungan seksualnya dengan pria lain, dan sebagainya). Jadi, kita bisa melihat bahwa semua karakteristik orator ketiga, parrhesiastes negatif, dapat dikaitkan dengan Cleophon.

Pemimpin partai konservatif adalah Theramenes yang ingin kembali ke konstitusi Athena Abad Keenam yang akan melembagakan oligarki moderat. Mengikuti usulnya, hak-hak sipil dan politik utama akan disediakan untuk pemilik tanah. Ciri-ciri autourgos, parrhesiastes positif, dengan demikian sesuai dengan Theramen.

Maka, bisa dikatakan, salah satu masalah yang jelas hadir dalam persidangan Orestes adalah pertanyaan yang kemudian diperdebatkan oleh partai-partai demokratik dan konservatif tentang apakah Athena harus melanjutkan perang dengan Sparta, atau memilih perdamaian.

Problematisasi parrhesia dalam karya-karya Euripides

Dalam drama Ion yang ditulis sepuluh tahun lebih awal dari Orestes, sekitar 418 SM, parrhesia disajikan hanya memiliki makna atau nilai positif. Seperti yang kita lihat, model itu merupakan kebebasan untuk menuturkan pikiran seseorang dan hak istimewa diberikan pada warga negara pertama Athenaa yang ingin diraih Ion. Parrhesiastes berbicara kebenaran justru karena dia adalah warga negara yang baik, terlahir dengan baik, memiliki hubungan terhormat dengan kota, dengan hukum, dan dengan kebenaran itu sendiri. Bagi Ion, agar dia dapat mengambil peran parrhesiastic yang datang secara alami kepadanya, kebenaran tentang kelahirannya harus diungkapkan. Namun, karena Apollo tidak ingin mengungkapkan kebenaran itu, Creusa harus mengungkapkan kelahirannya dengan menggunakan parrhesia terhadap dewa dalam sebuah tuduhan publik. Dengan demikian, parrhesia Ion dimapankan, dibumikan di tanah Athena, dalam permainan antara para dewa dan manusia. Jadi, tidak ada problematisasi parrhesiastes dalam konsepsi pertama ini.

Namun, dalam Orestes, ada perpecahan di dalam parrhesia itu sendiri, yakni antara makna positif dan negatifnya. Masalah parrhesia terjadi semata-mata dalam hal peran parrhesiastic manusia. Krisis fungsi parrhesia ini memiliki dua aspek utama.

 Yang pertama menyangkut pertanyaan: Siapa yang berhak menggunakan parrhesia? Apakah cukup dengan menerima parrhesia sebagai hak sipil sedemikian rupa sehingga semua dan setiap warga negara dapat berbicara dalam majelis jika dan kapan mereka menginginkannya? Atau, haruskah parrhesia diberikan secara eksklusif hanya untuk beberapa warga negara, sesuai dengan status sosial atau kebajikan pribadi mereka? Ada perbedaan antara sistem egaliter yang memungkinkan setiap orang menggunakan parrhesia dan perlunya memilih di antara warga negara yang mampu (karena kualitas sosial atau pribadi mereka) untuk menggunakan parrhesia sedemikian rupa sehingga benar-benar bermanfaat bagi kota. Perbedaan itu menyebabkan munculnya parrhesia sebagai isu problematis. Karena tidak seperti isonomia (kesetaraan semua warga negara di depan hukum) dan isegoria (hak hukum yang diberikan kepada semua orang untuk menyampaikan pendapatnya sendiri), parrhesia tidak secara jelas didefinisikan dalam istilah kelembagaan. Tidak ada hukum, misalnya, melindungi parrhesiastes dari kemungkinan pembalasan atau hukuman atas apa yang ia katakan. Dengan demikian, ada juga masalah dalam hubungan antara nomos dan aletheia: bagaimana mungkin memberikan bentuk hukum kepada seseorang yang berhubungan dengan kebenaran? Ada hukum formal untuk penalaran yang sah, tetapi tidak ada hukum sosial, politik, atau kelembagaan yang menentukan siapa yang dapat berbicara kebenaran.

Aspek kedua dari krisis mengenai fungsi parrhesia berkaitan dengan hubungan parrhesia dengan kebajikan, dengan pengetahuan dan pendidikan. Ini berarti bahwa parrhesia di dalam dan dari dirinya sendiri tidak lagi dianggap cukup untuk mengungkapkan kebenaran. Hubungan parrhesiastes dengan kebenaran tidak dapat lagi hanya dikonstruksi dengan kejujuran murni atau keberanian semata, karena relasi itu membutuhkan pendidikan atau, lebih umum, semacam formasi pribadi. Namun, jenis formasi pribadi atau pendidikan yang dibutuhkan juga merupakan masalah (dan sezaman dengan masalah menyesatkan). Dalam Orestes, hal yang lebih lebih mungkin adalah bahwa kebajikan yang diperlukan bukan dari konsepsi Socrates atau Platonik, tetapi jenis pengalaman yang akan dialami autourgos dalam hidupnya sendiri.

Saya pikir kita dapat mulai melihat bahwa krisis mengenai parrhesia adalah masalah kebenaran. Masalahnya adalah mengenali siapa yang mampu berbicara kebenaran dalam batas-batas sistem kelembagaan di mana setiap orang sama-sama berhak memberikan pendapatnya sendiri. Demokrasi dengan sendirinya tidak dapat menentukan siapa yang memiliki kualitas spesifik yang memungkinkannya untuk berbicara kebenaran (dan karenanya harus memiliki hak untuk mengatakan kebenaran). Dan parrhesia, sebagai kegiatan verbal, sebagai kejujuran murni dalam berbicara, juga tidak cukup untuk mengungkapkan kebenaran karena parrhesia negatif, blak-blakan yang bodoh, juga dapat terjadi.

Krisis parrhesia, yang muncul di persimpangan penyelidikan tentang demokrasi dan penyelidikan tentang kebenaran, memunculkan problematisasi terhadap beberapa hubungan yang sampai saat ini tidak bermasalah antara kebebasan, kekuasaan, demokrasi, pendidikan, dan kebenaran di Athena pada akhir abad kelima. Dari masalah sebelumnya untuk mendapatkan akses ke parrhesia terlepas dari keheningan dewa, kita beralih ke problematisasi parrhesia, yakni parrhesia itu sendiri yang menjadi bermasalah, terpecah dalam dirinya sendiri.

Saya tidak ingin menyiratkan bahwa parrhesia, sebagai gagasan eksplisit, muncul pada saat krisis—seolah-olah warga Yunani tidak memiliki ide yang koheren tentang kebebasan berbicara sebelumnya, atau nilai bicara bebas. Apa yang saya maksud adalah bahwa terdapat problematisasi baru tentang hubungan antara aktivitas verbal, pendidikan, kebebasan, kekuasaan, dan lembaga-lembaga politik yang menandai krisis terkait cara kebebasan berbicara dipahami di Athena. Dan, problematisasi ini menuntut cara baru untuk merawat dan mengajukan pertanyaan tentang hubungan-hubungan tersebut.

Saya menekankan poin ini, setidaknya, karena alasan metodologis berikut. Saya ingin membedakan antara “sejarah gagasan” dan “sejarah pemikiran”. Di sebagian besar waktunya, sejarawan ide mencoba menentukan kapan konsep tertentu muncul dan momen ini sering diidentifikasi oleh kemunculan kata baru. Namun, apa yang saya coba lakukan sebagai sejarawan pemikiran adalah sesuatu yang berbeda. Saya mencoba menganalisis cara lembaga, praktik, kebiasaan, dan perilaku menjadi masalah bagi orang-orang yang berperilaku dengan cara tertentu, yang memiliki jenis kebiasaan tertentu, yang terlibat dalam jenis praktik tertentu, dan yang bekerja untuk lembaga tertentu. Sejarah gagasan melibatkan analisis gagasan sejak lahir, melalui perkembangannya dan dalam pengaturan gagasan-gagasan lain yang membentuk konteksnya. Sejarah pemikiran merupakan analisis tentang cara bidang pengalaman yang tidak bermasalah, atau serangkaian praktik yang diterima tanpa pertanyaan, yang akrab dan keluar dari diskusi, menjadi masalah, menimbulkan diskusi dan debat, memicu reaksi baru, dan mendorong krisis dalam perilaku, kebiasaan, praktik, dan institusi yang sebelumnya sunyi. Sejarah pemikiran, ketika dipahami dengan cara ini, adalah sejarah cara orang mulai mengurus sesuatu, dari cara mereka menjadi cemas tentang ini atau itu misalnya, tentang kegilaan, tentang kejahatan, tentang seks, tentang diri mereka sendiri, atau tentang kebenaran.

(Bersambung) Diterjemahkan oleh Ikwan Setiawan

Catatan akhir

[1] Dalam mitologi Yunani, nama kota Argos berasal dari  nama Argos (Argus), putra Dewa Zeus dan Niobe. Argos adalah raksasa dengan banyak mata. Secara tradisional, Argos dianggap sebagai asal-usul kerajaan Yunani kuno, Makedonia, dari dinasti Argead (Ἀργεάδαι, Argeádai). Sebagai lokasi strategis di dataran subur Argolis, Argos adalah benteng utama selama era Mycenaean. Argos mengalami periode ekspansi pada abad ke-7 SM di bawah kepemimpinan Raja Pheidon. Argos mendapatkan kembali kekuasaan atas kota-kota Argolid dan menantang dominasi Sparta atas Peloponnese.  Pada 494 SM, Argos menderita kekalahan telak dari Sparta, pada Pertempuran Sepeia. Kekacauan politik diperkirakan telah menghasilkan transisi demokratis di kota. Argos tidak berpartisipasi dalam Aliansi Hellenik melawan invansi Persia tahun 480 SM. Ini menghasilkan periode isolasi diplomatik, meskipun ada bukti aliansi warga Argos dengan Tegea sebelum 462 SM. Argos tetap netral selama Perang Archidamia antara Sparta dan Athena. Netralitas Argos menghasilkan peningkatan prestise di antara kota-kota Yunani lainnya. Argos menggunakan modal politik ini untuk mengorganisasi dan memimpin aliansi melawan Sparta dan Athena pada 421 SM. Aliansi ini termasuk Mantinea, Korintus, Elis, Thebes, Argos, dan akhirnya Athena. Aliansi ini berantakan, setelah kehilangan sekutu pada Pertempuran Tegea pada 418 SM. Diolah dari: https://en.wikipedia.org/wiki/Argos#Mythology

[2] Dalam mitologi Yunani Maenad adalah para pengikut perempuan dari Dionysus dan anggota paling penting dari Thiasus, dewa arak-arakan atau pawai. Makna literal Maenad adalah meracau atau mengoceh. Terkenal dengan sebutan Bassarids  Bacchae, atau Bacchantes. Maenad terinspirasi oleh Dionysus, khususnya terkait kegilaan yang luar biasa melalui kombinasi tarian dan keracunan. Selama melakukan ritus, para Maenad akan berpakaian kulit coklat kekuning-kuningan dan membawa thyrsus, tongkat panjang yang dibungkus dengan daun sulur yang bagian ujungnya diberikan kerucut pinus. Mereka akan menenun karangan bunga ivy dikenakan di kepala mereka atau mengenakan helm banteng untuk menghormati dewa mereka, serta sering membawa ular. Diolah dari: https://en.wikipedia.org/wiki/Maenad

[3] Autochtony merupakan konsep Yunani Kuno yang berasal dari kata autos, diri, dan khthon, tanah. Atau, orang-orang yang muncul dari tanah. Dalam mitologi Yunani diyakini sebagai orang yang muncul dari tanah, bebatuan, dan pepohonan. Konsep ini dipahami sebagai warga pribumi atau penduduk asli dari sebuah wilayah untuk membedakannya dengan kaum pendatang.  Keturunan warga pribumi ini akan menjaga diri dan menghindari percampuran dengan kaum pendatang.  Penjelasan ini didapatkan dari https://wikipedia.org/wiiki/Autochton_(ancient_Greece)

[4] Peloponnese atau Peloponnisos adalah semenanjung dan wilayah geografis di Yunani selatan. Wilayah ini terhubung ke bagian tengah negara oleh jembatan tanah Isthmus Korintus yang memisahkan Teluk Korintus dari Teluk Saronic. Diolah dari: https://en.wikipedia.org/wiki/Peloponnese.

[5] Kuil Apollo, dewa musik, harmoni dan cahaya, menempati posisi paling penting di Tempat Suci Delphik. Bangunan dengan barisan tiang ini berasal dari abad ke-4 SM. Kuil ini adalah kuil ketiga yang dibangun di tempat yang sama. Peramal terkenal, Pythia, bekerja di dalam kuil, menurut tradisi, karena jurang suci di bawah situs yang mengeluarkan uap, yang dihirup oleh Pythia. Setelah menghirup asap suci itu, Pyhtia kemudian memasuki keadaan delirium dan mengucapkan tangisan yang tidak jelas, yang kemudian diubah menjadi nubuat samar-samar oleh para pendeta. Diolah dari: https://en.wikipedia.org/wiki/Temple_of_Apollo_(Delphi)

[6] Dalam mitologi Yunani ada semacam cerita bahwa para dewi terkadang berinteraksi dengan manusia. Aphrodite, adalah dewi yang dikaitkan dengan kecantikan, cinta, seksualitas, dan kesuburan. Selain itu, Aphrodite juga terkenal sebagai dewi yang mengumbar kesenangan dan kenikmatan, sehingga di beberapa tempat lain dia dijuluki dewi kepelacuran. Belum lagi cerita tentang perselingkuhan yang ia lakukan meskipun sudah bersuami. Di Cyprus terdapat ritual yang menyembah kehebatan Aphrodite. Istilah Cyprian merujuk kepada para penyembah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Aphrodite dalam hal kesenangan fisik. Diolah dari https://en.m.wikipedia.org/wiki/Aphrodite 

[7] Leto atau dalam bahasa Latin disebut Latona dalam mitologi klasik adalah putri dari Coeus dan Phoebe. Dia ibu dari Dewa Apollo dan Dewi Artemis. Tempat-tempat utama dari legenda itu adalah Delos dan Delphi. Leto, yang sedang hamil oleh Zeus, mencari tempat perlindungan untuk diselamatkan. Dia akhirnya mencapai pulau tandus Delos, yang, menurut beberapa orang, adalah batu yang mengembara yang ditimbulkan oleh ombak sampai tertancap di dasar laut untuk kelahiran Apollo dan Artemis. Pengembaraan Leto dianggap berasal dari kecemburuan istri Zeus, Hera, yang marah pada Leto yang mengandung anak-anak Zeus. Delphi didirikan sesudah kelahiran Apollo. Leto juga dikenal sebagai dewi kesuburan dan sebagai Kourotrophos (Pemelihara Pemuda). Diolah dari: https://www.britannica.com/topic/Leto.

[8] Homer atau dalam ejaan Yunani, Homeros, adalah penulis legendaris yang cukup disegani. Dia menulis Illiad dan Odyssey yang menjadi kanon dalam sastra kuno Yunani. Illiad menggunakan latar Perang Troya, 10 tahun penyerangan kota Troya oleh koalisi kerajaan-kerajaan di Yunani. Adapun ceritanya berfokus pada pertarungan antara Raja Agamemnon dan pejuang Achilles yang menghabiskan waktu beberapa minggu di masa berakhirnya perang. Odyssey difokuskan pada perjalanan sepuluh tahun Odysseus—Raja Ithaca—untuk kembali ke rumah, setelah jatuhnya Troya. Diolah dari: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Homer

[9] Dalam terminologi dikatakan tyrant, seorang penguasa yang kejam dan penuh tindakan kekerasan. Dalam terminologi Yunani disebut tyrannos, seorang penguasa yang mengambil alih atau mewarisasi kekuasaan secara konstitusional atau hanya mewarisi kekuasan itu. Pada abad ke-10 dan ke-9 SM, monarki merupakan bentuk pemerintahan yang lazim di negara-negara kota. Rezim aristokratik yang menggantikan sistem monarki kurang populer. Jadi, muncul kesempatan bagi para pelaki ambisius mengambil alih kekuasaan atas nama orang-orang tertindas. Salah satu pemerintahan tirani yang cukup terkenal adalah yang didirikan Cypselus di Korintus dan Orthagoras di Sicyon sekiata tahun 650 SM.  Diolah dari: https://www.britanica.com/topic/tyrant

[10] Ekklēsia merupakan majelis utama sebagai bentuk demokrasi di Athena kuno. Majelis ini sangat populer, terbuka untuk para lelaki yang sudah memenuhi kualifikasi sebagai warga negara yang sah. Semua lelaki bisa berpartisipasi, tanpa mengindahkan kelas mereka. Majelis ini bertanggung jawab dalam hal mendeklarasikan perang, strategi militer, memilih pemimpin militer (stategoi), dan urusan-urusan penting lainnya, seperti menominasikan dan memilih para hakim. Biasanya pertemuan dihadiri oleh 6.000 warga dari 30.000 hingga 60.000 jumlah penduduk kota. Meskipun dikatakan setara, namun sebelum memasuki majelis, seseorang diwajibkan membayar uang tertentu, sehingga orang miskin tetap sulit untuk menajdi anggota majeli. Diolah dari: https://en.m.wikipedia.org/Ecclecia_(ancient_Athens)

[11] Sofis (bahasa Yunani: σοφιστής, sophistes) adalah semacam guru khusus di Yunani kuno, pada abad kelima dan keempat SM. Banyak sofis berspesialisasi dalam menggunakan filsafat dan retorika, meskipun yang lain mengajarkan mata pelajaran seperti musik, atletik, dan matematika. Secara umum, mereka mengaku mengajar arete (“keunggulan” atau “kebajikan”, diterapkan pada berbagai bidang studi), terutama untuk negarawan muda dan bangsawan. Pada paruh kedua abad ke-5 SM, khususnya di Athena, para sofis datang sebagai intelektual keliling yang mengajar kursus dalam berbagai mata pelajaran, berspekulasi tentang sifat bahasa dan budaya, serta menggunakan retorika untuk mencapai tujuan mereka, umumnya untuk membujuk atau meyakinkan orang lain. Namun, kaum sofis memiliki satu kesamaan penting: apa pun yang mereka klaim atau tidak ketahui, mereka secara khas memiliki pemahaman tentang kata-kata apa yang akan menghibur atau mengesankan atau membujuk audiens. Para sofis pergi ke Athena untuk mengajar karena kota itu berkembang pesat. Di kota ini, mereka mendapatkan ketenaran dan kekayaan yang mereka cari. Diolah dari: https://en.wikipedia.org/wiki/Sophist.

[12] Dalam mitologi Yunani, Cyclops adalah nama ras atau komunitas raksasa bermata satu. Dalam drama Odyssey diceritakan, Raja Odysseus selamat dari kematian setelah menjadikan buta mata Cyclops Polyphermus. Diolah dari: https://www.lexico.com/en/definition/cyclops .

Share This:

About Ikwan Setiawan 200 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*