Memahami Parrhesia: Tuturan bebas, kebenaran, dan evolusinya

MICHEL FOUCAULT

Pengantar penerjemah

Apakah kita benar-benar bisa memiliki kebebasan untuk menyampaikan segala hal, termasuk yang bertentangan dengan kebenaran ataupun kehendak mayoritas? Apakah kita bisa merdeka dalam menyampaikan segala hal yang ada dalam pikiran, meskipun itu harus menghadapi kekuasaan, baik tirani maupun demokrasi? Apakah kita sekarang ini memiliki hak dan keberanian berbicara secara bebas ketika banyak aturan pengawasan kepada diri kita sebagai subjek? Apakah para pemikir dan filosof pernah memiliki kemerdekaan untuk berbicara segala hal yang mereka pikirkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan rangkuman dari kegelisahan manusia dari masa lalu hingga masa kini ketika membicarakan hakikat kemerdekaan dalam berbicara ketika mereka harus berhadapan dengan kekuasaan yang disepakati oleh mayoritas masyarakat.

Terkait dengan permasalahan tersebut, Michel Foucault, empu sejarah pemikiran yang cukup terkenal dengan teori “wacana dan kuasa/pengetahuan”—salah satu rujukan penting kaum pascastrukturalis selain dekonstruksi Derrida—menawarkan konsep parrhesia sebagai topik utama enam kuliah umum di Unversity of Barkeley, Oktober hingga November 1983. Dengan metode genealogis dan kritis sebagaimana yang ia sukai, Foucault menelisik kehadiran istilah Parrhesia dari Yunani Kuno serta transformasinya ke era modern. Tulisan berikut merupakan terjemahan pertama dari materi kuliah umum yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Discourse and Truth: The Problematization of Parrhesia”. Bagian pertama ini akan membahas hal-hal mendasar tentang parrhesia serta fungsi dan evolusinya dalam lingkaran politik dan pemikiran/filsafat.  

Makna parrhesia

Kata parrhesia [παρρησία] muncul pertama kali dalam sastra Yunani, lebih tepatnya dalam karya Euripides [c.484-407 SM]. Selanjutnya, istilah ini banyak digunakan dalam jagat sastra Yunani dari akhir abad ke-5 SM. Namun, parrhesia juga masih bisa ditemukan dalam teks patristic yang ditulis pada akhir abad ke-4 dan ke-5 M—berulangkali digunakan misalnya dalam karya-karya Jean Chrisostome [345-407 M].

Terdapat tiga bentuk kata, yakni: kata benda, parrhesia;kata kerja parrhesiazomai [παρρησιάζοαι]; dan, ada juga kata parrhesiastes [παρρησιαστής]—yang tidak sering muncul dan tidak bisa ditemukan dalam teks Klasik. Alih-alih, kita hanya bisa menemukannya dalam karya periode Yunani-Romawi, seperti dalam karya Plutarch dan Lucian. Di dalam sebuah dialog karya Lucian, “The Dead Come to Life, or The Fisherman”, salah satu tokoh juga memiliki nama “Parrhesiades” [Παρρησιαδής].

Secara etimologis, parrhesia berasal dari bahasa Yunani, “pan” (segala hal) dan “rhema” (apa yang dikatakan). Dalam penggunaan umum, kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai free speech, “tuturan bebas/merdeka.” Berangkat dari makna tersebut, parrhesiastes dimaknai sebagai seseorang yang berani “mengatakan semua yang ada di benaknya, tidak menyembunyikan apapun, tetapi membuka hati dan pikirannya secara menyeluruh untuk orang lain melalui wacananya.” Dalam parrhesia, penutur diharapkan menyampaikan dan memberikan secara menyeluruh dan jujur apa-apa yang ia punyai dalam benak sehingga pendengarnya bisa memahami secara tepat apa yang ia pikirkan. Dengan demikian, parrhesia  bukanlah sekedar bentuk tuturan, tetapi merujuk kepada tipe hubungan antara penutur dan apa yang ia katakan karena penutur membuat apa-apa yang ia tuturkan dalam opininya sejelas dan sejernih mungkin. Dari pemahaman dasar tersebut, Foucault menawarkan beberapa karakteristik parrhesia sebagai berikut.

Karakteristik parrhesia

Berikut ini beberapa karakteristik parrhesia yang bisa dikembangkan dari definisi di atas.

1. Parrhesia dan kejujuran

Ketika banyak orator, filosof, intelektual, maupun sastrawan yang suka menggunakan retorika tingkat tinggi agar para audiens (pembaca/pendengar/penikmat) bisa terpengaruh dan masuk ke dalam karya mereka, dalam parrhesia penutur menghindari segala bentuk retorika yang akan menutupi dan mengaburkan segala hal yang ia pikirkan. Alih-alih, parrhesiastes harus memanfaatkan dan menggunakan kata-kata yang paling jelas yang bisa ditemukan dari kosa kata sehari-hari. Hal itu tentu berbeda dengan retorika yang memberikan penutur teknik untuk mempengaruhi dan menguasai pikiran audiens-nya. Ketika menjalankan parrhesia, parrhesiastes bertindak seperti berada dalam pikiran orang lain dengan menunjukkan kepada mereka, sebisa mungkin, secara langsung apa yang sebenarnya ia yakini.

Jika kita membedakan subjek yang berbicara (subjek pengucapan) dan subjek gramatikal dari yang diucapkan, sebenarnya ada juga subjek enunciandum yang merujuk pada keyakinan dan opini. Dalam parrhesia, penutur menekankan fakta bahwa ia adalah subjek pengucapan sekaligus subjek enunciandum—bahwa dirinya adalah subjek opini yang ia rujuk: “saya adalah orang yang berpikir ini dan itu”. Penutur berusaha menegaskan kepada lawan bicara atau audiens bahwa apa yang ia sampaikan semua murni berasal dari pikirannya, tidak ada yang ditutup-tutupi sama sekali.

Untuk itulah, saya tidak menggunakan istilah “tindak tutur”(speech act), tetapiaktivitas tutur” (speech activity) untuk membedakan tuturan parrhesiastic dan komitmennya dari komitmen umum yang dicapai antara seseorang dan apa yang ia katakan. Komitmen dalam parrhesia terhubung dengan situasi sosial tertentu, dengan perbedaan status antara penutur dan audiens-nya, dengan fakta parrhesiastes mengatakan sesuatu yang berbahaya bagi dirinya sehingga melibatkan risiko dan yang lain.

2. Parrhesia dan Kebenaran

Dalam makna yang sedikit merendahkan, parrhesia tidak jauh dari bentuk “ocehan.” Ketika sedang mengoceh seseorang akan mengatakan apapun yang ada dalam benaknya tanpa memandang kualifikasi atau tanpa menghiraukan kepatutan dan standar umum yang berlaku dalam masayarakat. Dalam sejarah filsafat Yunani, misalnya, bisa kita temukan omongan Plato tentang sifat jelek demokrasi ketika semua warga negara bisa berbicara kepada warga negara lain tentang segala hal, bahkan hal yang paling konyol dan membahayakan negara.  Semua bebas untuk diutarakan sebebas-bebasnya. Dalam literatur agama parrhesia bermakna “buruk” karena bertentangan dengan konsep “keheningan” sebagai salah satu syarat untuk melakukan kontemplasi kepada Tuhan, sehingga bisa menghalangi keberlangsungan dan tujuan ibadah tersebut.

Dalam teks klasik, parrhesia memiliki makna positif, parrhesiazesthai, “mengatakan kebenaran.” Tentu kita bisa mengajukan pertanyaan. Apakah parrhesiastes mengatakan apa yang menurutnya benar? Apakah ia mengatakan sesuatu yang benar? Parrhesiastes mengatakan apa yang benar karena dia tahu itu benar. Dia tahu itu benar karena memang benar. Parrhesiastes tidak hanya tulus dan mengutarakan pendapatnya, tetapi pendapatnya juga benar; mengatakan apa yang dia tahu benar. Maka, karakteristik kedua parrhesia adalah selalu ada koinsidensi yang sesuai antara keyakinan dan kebenaran. Dalam filsafat modern, Cartesian, misalnya, koinsidensi antara keyakinan dan kebenaran hanya bisa dicapai dalam pengalaman berdasarkan bukti (mental) tertentu. Dalam filsafat Yunani, koinsidensi tersbut berlangsung dalam aktivitas verbal.

Apa yang menarik adalah fakta bahwa tidak ada teks dalam budaya Yunani kuno di mana parrhesiastes tampak ragu akan kebenarannya. Di sinilah letak perbedaan antara permasalahan Cartesian dan sikap parrhesiastic. Sebelum mendapatkan bukti yang jelas, Descartes tidak yakin bahwa apa yang dia yakini, pada kenyataannya, benar. Namun, dalam konsepsi Yunani tentang parrhesia, tampaknya tidak ada masalah terkait bagaimana cara mendapatkan kebenaran karena memiliki-kebenaran dijamin oleh kememilikan kualitas moral tertentu. Ini membutikan bahwa bukti bahwa ia memiliki akses terhadap kebenaran—dan sebaliknya. “Permainan parrhesiastic” mengandaikan bahwa parrhesiastes adalah seseorang yang memiliki kualitas moral yang diperlukan untuk mengetahui kebenaran dan menyampaikan kebenaran tersebut kepada orang lain. Jadi, ada semacam legitimasi yang dimiliki seseorang untuk mengatakan kebenaran karena ia mempunyai kualitas moral dan pemikiran yang tak diragukan.  

Ketulusan para parrhesiastes untuk mengatakan apa yang benar secara bebas merupakan “bukti” keberaniannya. Hal itu khususnya bisa kita temukan dari keberanian seorang pembicara untuk mengatakan sesuatu yang benar, meskipun berbahaya karena berbeda dari apa yang diyakini mayoritas. Keberanian semacam itu mengindikasikan bahwa ia adalah parrhesiastes. Jika kita mengajukan pertanyaan tentang bagaimana kita dapat mengetahui apakah seseorang adalah seorang pencerita kebenaran, sebenarnaya kita tengah mengajukan dua pertanyaan sekaligus: (1) bagaimana kita bisa tahu seseorang tertentu adalah pencerita kebenaran dan (2) bagaimana mungkin parrhesiastes yang diduga dapat memastikan bahwa apa yang dia yakini, pada kenyataannya, adalah kebenaran. Pertanyaan pertama sangat penting dalam masyarakat Yunani-Romawi, sedangkan pertanyaan skeptis kedua merupakan pertanyaan yang sangat modern yang asing bagi orang Yunani.

3. Parrhesia dan Bahaya

Apa yang lazim dipahami adalah bahwa seorang penutur bisa dikatakan menjadi parrhesiastes ketikaada risiko atau bahaya baginya jika ia mengatakan yang sebenarnya. Dalam contoh sederhana, seorang guru Matematika dapat mengatakan rumus-rumus pitagoras yang sebenarnya kepada siswa. Apa yang ia ajarkan, tak diragukan lagi, adalah sesuatu yang benar. Namun, terlepas dari koinsidensi antara keyakinan dan kebenaran ini, ia bukanlah seorang parrhesiastes. Namun, ketika seorang filsuf menunjuk dirinya sendiri kepada penguasa, kepada seorang tiran, dan mengatakan kepadanya bahwa tirani itu mengganggu dan tidak menyenangkan karena tidak sesuai dengan keadilan, maka kita bisa mengatakan dia mengatakan kebenaran. Kita meyakini ia mengatakan kebenaran dan, lebih dari itu itu, juga mengambil risiko. Sangat mungkin si tiran itu menjadi marah dan menghukumnya, seperti mengasingkannya atau, bahkan, membunuhnya.

Dari pemahaman tersebut, kita bisa mengatakan parrhesiastes sebagai orang yang memang berani mengambil risiko. Tentu saja, risiko ini tidak selalu merupakan risiko hidup. Kita mungkin akan menghadapi situasi tidak enak dengan seorang kawan. Kita melihatnya melakukan sesuatu yang salah. Dia bisa saja marah ketika kita mengatakan kesalahannya. Ketika kita berani mengatakannya, saat itulah kira bertindak sebagai parrhesiastes. Memang, kita tidak mengambil risiko untuk mengorbankan nyawa. Risikonya adalah kita bisa saja menyakiti hatinya dan persahabatan menjadi runyam. Contoh lainnya, dalam debat politik di mana seorang orator berisiko kehilangan ketenarannya karena pendapatnya bertentangan dengan pendapat mayoritas atau pendapatnya dapat menyebabkan skandal politik. Saat itulah kita bisa mengatakan si politisi menjalankan parrhesia. Dengan demikian, parrhesia berkaitan dengan keberanian dalam menghadapi bahaya: menuntut keberanian untuk berbicara kebenaran bahaya mengintai. Dalam bentuk ekstrimnya, mengatakan kebenaran berarti kita memberanikan diri dalam “permainan” hidup atau mati.

Para parrhesiastes harus mengambil risiko dalam berbicara kebenaran, sedangkan raja atau tiran umumnya tidak dapat menjalankan parrhesia, karena mereka tidak berani mengambil risiko apa pun. Itulah mengapa permainan parrhesiastic ini bersifat sangat personal ketika kita menerima permainan ini di mana kehidupan kita sendiri terpapar. Kita mengambil hubungan khusus untuk diri sendiri: berisiko mati untuk mengatakan yang sebenarnya alih-alih bersembunyi dalam kehidupan yang aan di mana kebenaran tidak pernah diucapkan. Tentu saja, ancaman kematian datang dari Sang Liyan, dan karenanya membutuhkan hubungan dengan dirinya: ia lebih suka dirinya sendiri sebagai pencerita kebenaran daripada sebagai makhluk hidup yang salah terhadap dirinya sendiri.

4. Parrhesia dan Kritik

Ilustasi lain yang menarik untuk menunjukkan betapa persoalan parrhesia ini bukanlah sekedar tentang mengatakan kebenaran bisa kita temukan dalam persidangan. Jika, selama persidangan, kita mengatakan sesuatu yang dapat digunakan untuk melawan diri kita sendiri, kita mungkin tidak menggunakan parrhesia. Hal itu terlepas dari kenyataan bahwa kita tulus dan jujur serta secara sadar membahayakan diri sendiri dengan mengatakan kebenaran. Mengapa demikian? Dalam parrhesia aspek bahaya selalu datang dari fakta bahwa kebenaran yang dikatakan mampu menyakiti atau membuat marah lawan bicara. Parrhesia, dengan demikian, merupakan “permainan” antara penutur kebenaran dan lawan bicaranya (interlocutor) atau audiens. Parrhesia yang terlibat, misalnya, mungkin merupakan nasihat bahwa lawan bicara harus berperilaku dengan cara tertentu, atau bahwa ia salah dalam apa yang ia pikirkan, atau dalam cara ia bertindak, dan sebagainya. Atau parrhesia mungkin merupakan pengakuan kepada seseorang yang menjalankan kekuasaan atasnya, dan mampu mengecam atau menghukumnya atas apa yang telah dilakukannya. Jadi kita tahu, fungsi parrhesia bukan untuk menunjukkan kebenaran kepada orang lain, tetapi memiliki fungsi kritik: kritik terhadap lawan bicara atau penutur itu sendiri. Dalam ungkapan sederhana: “Ini yang kamu lakukan dan ini yang kamu pikirkan; tapi ini yang tidak boleh kamu lakukan dan jangan pikirkan,” “Ini caramu berperilaku, tapi itu yang harus kamu lakukan,” “Saya telah melakukan, dan salah dalam melakukannya.” Parrhesia adalah bentuk kritik, baik terhadap orang lain atau terhadap diri sendiri, tetapi selalu dalam situasi di mana pembicara atau orang yang mengaku berada dalam posisi inferioritas sehubungan dengan lawan bicaranya.

Parrhesiastes selalu kalah kuat dibandingkan dengan orang yang ia ajak bicara. Parrhesia berasal dari “bawah,” seolah-olah, dan diarahkan ke “atas.” Inilah sebabnya mengapa orang Yunani kuno tidak akan mengatakan bahwa seorang guru atau ayah yang mengkritik seorang anak menggunakan parrhesia. Namun, ketika seorang filsuf mengkritik seorang tiran, ketika seorang warga negara mengkritik mayoritas, ketika seorang murid mengkritik gurunya, maka penutur semacam itu mungkin menggunakan parrhesia.

Meskipun demikian, realitas di atas bukan berarti bahwa siapa pun dapat menggunakan parrhesia. Karena meskipun ada teks dalam Euripides di mana seorang pelayan menggunakan parrhesia, sebagian besar waktu penggunaan parrhesia mengharuskan parrhesiastes mengetahui silsilahnya sendiri, statusnya sendiri; yaitu, biasanya seseorang harus menjadi warga negara pria untuk berbicara kebenaran sebagai seorang parrhesiastes. Memang, seseorang yang kehilangan parrhesia berada dalam situasi yang sama dengan seorang budak sejauh ia tidak dapat mengambil bagian dalam kehidupan politik kota, juga tidak memainkan “permainan parrhesiastic.” Dalam “parrhesia demokratis”—di mana seseorang berbicara kepada majelis, ekklesia—seseorang harus menjadi warga negara; pada kenyataannya, seseorang harus menjadi salah satu yang terbaik di antara warga negara, memiliki kualitas-kualitas pribadi, moral, dan sosial tertentu yang memberikannya hak istimewa untuk berbicara.

Namun, parrhesiastes mengambil risiko atas hak istimewanya untuk berbicara secara bebas ketika mengungkapkan kebenaran yang mengancam mayoritas. Karena itu adalah situasi yuridis yang istimewa ketika para pemimpin Athena diasingkan hanya karena mereka mengusulkan sesuatu yang ditentang oleh mayoritas, atau bahkan karena para anggota majelis berpikir bahwa pengaruh kuat para pemimpin tertentu membatasi kebebasan mereka sendiri. Maka, majelis itu, dengan cara ini, “dilindungi” untuk melawan kebenaran. Peristiwa itu merupakan latar belakang institusional “parrhesia demokratis”—yang harus dibedakan dari “parrhesia monarki” di mana seorang penasihat memberikan nasihat yang jujur dan bermanfaat bagi pemerintah.

5. Parrhesia dan Kewajiban

Karakteristik terakhir parrhesia adalah bahwa mengatakan kebenaran dianggap sebagai tugas/kewajiban. Orator yang berbicara kebenaran kepada mereka yang tidak bisa menerima kebenarannya, misalnya, dan yang mungkin diasingkan, atau dihukum dengan cara tertentu, bebas untuk diam. Tidak ada yang memaksanya berbicara; tetapi dia merasa bahwa itu adalah sudah menjadi tugasnya. Ketika, di sisi lain, seseorang dipaksa untuk mengatakan kebenaran (seperti, misalnya, di bawah tekanan siksaan), maka wacana itu bukan ucapan parrhesiastic. Seorang kriminal yang dipaksa oleh hakimnya untuk mengakui kejahatannya tidak menjalankan parrhesia. Namun, jika dia secara sukarela mengakui kejahatannya kepada orang lain karena rasa kewajiban moral, maka dia melakukan tindakan parrhesiastic untuk mengkritik seorang teman yang tidak mengakui kesalahannya, atau sejauh itu merupakan tugas ke kota untuk membantu raja memperbaiki dirinya sebagai penguasa. Parrhesia dengan demikian terkait dengan “kebebasan” dan “kewajiban.”

Untuk meringkas hal tersebut di atas, parrhesia adalah semacam kegiatan verbal di mana pembicara memiliki hubungan spesifik dengan kebenaran melalui keterbukaan; hubungan tertentu dengan kehidupannya sendiri meskipun bahaya; jenis hubungan tertentu untuk dirinya sendiri atau orang lain melalui kritik atau kritik terhadap orang lain; dan, hubungan spesifik dengan hukum moral melalui kebebasan dan kewajiban. Lebih tepatnya, parrhesia adalah kegiatan verbal di mana penutur mengungkapkan hubungan pribadinya dengan kebenaran, dan mempertaruhkan nyawanya karena ia mengakui pengungkapan kebenaran sebagai tugas untuk meningkatkan atau membantu orang lain (juga dirinya sendiri). Dalam parrhesia, penutur menggunakan kebebasannya dan memilih kejujuran alih-alih persuasi; kebenaran alih-alih kepalsuan atau kesunyian; risiko kematian alih-alih kehidupan dan keamanan; kritik alih-alih pujian; dan, tugas moral alih-alih kepentingan diri sendiri dan apatisme moral.

Evolusi Kata Parrhesia

Apa yang ingin saya lakukan dalam seminar ini bukanlah untuk mengkaji dan menganalisis semua dimensi dan bentuk parrhesia, alih-alih menunjukkan dan menenkankan beberapa aspek evolusi permainan parrhesiastic dalam budaya kuno (dari abad ke-5 SM) hingga era Kristianitas. Dan, menurut saya, kita bisa menganalisis evolusi tersebut dari tiga hal berikut.  

1. Parrhesia dan Retorika

Yang pertama menyangkut hubungan parrhesia dengan retorika—hubungan yang bermasalah bahkan di Euripides. Dalam tradisi Sokratic-Platonik, parrhesia dan retorika berada dalam oposisi yang kuat; dan pertentangan ini muncul dengan sangat jelas di Gorgias, misalnya, di mana kata parrhesia muncul. Ucapan panjang yang diutarakan terus-menerus merupakan alat retoris atau pencanggihan. Sementara, dialog melalui pertanyaan dan jawaban khas merupakan ciri khas parrhesia. Dalam hal ini, dialog adalah teknik utama untuk memainkan permainan parrhesiastic.

Oposisi parrhesia dan retorika juga mengalir melalui Phaedrus. Masalah utama dalam karya ini bukan tentang sifat oposisi antara berbicara dan menulis, tetapi menyangkut perbedaan antara logos yang berbicara kebenaran dan logos yang tidak mampu mengatakan kebenaran seperti itu. Pertentangan antara parrhesia dan retorika yang sangat jelas di abad ke-4 SM di seluruh tulisan Plato berlangsung selama berabad-abad dalam tradisi filosofis. Di Seneca, misalnya, orang menemukan gagasan bahwa percakapan pribadi adalah sarana terbaik untuk berbicara jujur dan mengungkapkan kebenaran sejauh yang dapat disalurkan. Dalam percakapan semacam itu membutuhkan alat retorika dan ornamentasi. Bahkan, selama abad ke-2 M, pertentangan budaya antara retorika dan filsafat masih sangat jelas dan penting.

Namun, kita juga dapat menemukan beberapa tanda penggabungan parrhesia dalam bidang retorika dalam karya para retorisi (ahli retorika) di awal Kekaisaran. Dalam Institutio Oratoria, misalnya (Buku IX, Bab II), Quintillian menjelaskan bahwa beberapa bentuk retoris secara khusus diadaptasi untuk mengintensifkan emosi penonton. Bentuk figur teknis seperti itu ia sebut dengan exclamatio. Apa yang terkait dengan seruan tersebut adalah semacam seruan alami yang menurut catatan Quintillian tidak “disimulasikan atau dirancang dengan indah.” Jenis seruan alami yang ia sebut “berbicara secara bebas” [libera oratione], oleh Cornificius disebut “lisensi” [licentia] oleh, dan oleh orang-orang Yunani disebut parrhesia. Dengan demikian, parrhesia adalah semacam ‘bentuk’ di antara bentuk retoris. Meskipun demikian, parrhesia memiliki karakteristik tidak memiliki bentuk apa pun karena ia benar-benar alami. Parrhesia adalah derajat nol dari tokoh-tokoh retoris yang mengintensifkan emosi penonton.

2. Parrhesia dan Politik

Aspek penting kedua dari evolusi parrhesia terkait dengan bidang politik. Seperti yang terlihat dalam drama-drama Euripides dan juga dalam teks-teks abad ke-4 SM, parrhesia adalah karakteristik esensial dari demokrasi Athena. Tentu saja, kita masih harus menyelidiki peran parrhesia dalam konstitusi Athena. Namun, kita dapat mengatakan secara umum bahwa parrhesia adalah pedoman untuk demokrasi serta sikap etis dan pribadi dari warga negara yang baik. Demokrasi Athena didefinisikan secara sangat eksplisit sebagai konstitusi (politeia) di mana orang menikmati demokras, isegoria (hak berbicara yang sama), isonomia (partisipasi yang sama dari semua warga negara dalam pelaksanaan kekuasaan), dan parrhesia. Jadi, parrhesia, yang merupakan syarat untuk pidato publik, terjadi pada warga negara sebagai individu dan juga warga negara sebagai majelis. Apalagi agora (tempat pertemuan publik di era Yunani, pen)adalah tempat parrhesia muncul.

Selama periode Hellenistik[1] makna politik ini berubah dengan munculnya monarki Hellenik. Parrhesia menjadi terpusat dalam hubungan antara penguasa dan penasihatnya atau orang-orang pengadilan. Dalam konstitusi negara monarki, adalah tugas penasihat untuk menggunakan parrhesia untuk membantu raja dengan keputusannya serta untuk mencegahnya menyalahgunakan kekuasaan. Parrhesia diperlukan dan berguna baik bagi raja maupun bagi rakyat di bawah pemerintahannya. Sang penguasa sendiri bukanlah seorang parrhesiastes, tetapi batu ujian dari penguasa yang baik adalah kemampuannya untuk memainkan permainan parrhesiastic. Karena itu, seorang raja yang baik menerima segala sesuatu yang dikatakan oleh seorang parrhesiastes yang asli, meskipun tidak menyenangkan baginya untuk mendengar kritik atas keputusannya. Seorang penguasa menunjukkan dirinya sebagai seorang tiran jika dia mengabaikan penasihatnya yang jujur, atau menghukum mereka karena apa yang mereka katakan. Penggambaran kedaulatan oleh sebagian besar sejarawan Yunani memperhitungkan cara dia berperilaku terhadap penasihatnya—seolah-olah perilaku tersebut merupakan indeks dari kemampuannya untuk mendengar para parrhesiastes.

Ada juga kategori ketiga pemain dalam permainan parrhesiastic monarki, yaitu “mayoritas diam.” Mereka adalah orang-orang yang pada umumnya tidak hadir dalam pertukaran pendapat antara raja dan penasihatnya. Namun, mereka selalu menjadi rujukan penasehat ketika menawarkan saran tertentu kepada raja. Tempat parrhesia muncul dalam konteks pemerintahan monarki adalah istana raja, bukan lagi agora.

3. Parrhesia dan Filsafat

Akhirnya, evolusi parrhesia dapat ditelusuri melalui hubungannya dengan bidang filsafat yang dianggap sebagai seni kehidupan (techne tou biou).

Dalam tulisan-tulisan Plato, Socrates muncul dalam peran sebagai parrhesiastes. Meskipun kata parrhesia muncul beberapa kali di tulisan Plato, ia tidak pernah menggunakan kata parrhesiastes—kata yang belakangan hanya muncul sebagai bagian dari kosakata Yunani. Namun, peran Socrates biasanya peran parrhesiastic, karena ia terus-menerus menghadapi warga Athena di jalan. Dan, sebagaimana dicatat dalam Apology (Permintaan Maaf), Socrates berusaha menunjukkan kebenaran kepada mereka serta menawari mereka untuk memelihara kebijaksanaan, kebenaran, dan kesempurnaan jiwa mereka. Juga di Alcibiades Major, Socrates mengambil peran parrhesiastic dalam dialog. Sementara sahabat dan kekasih Alcibiades menyanjungnya dalam upaya mereka untuk mendapatkan bantuannya, Socrates berisiko memicu kemarahan Alcibiades ketika dia membimbingnya ke ide ini: bahwa sebelum Alcibiades dapat mencapai apa yang telah ditetapkan untuk dicapai, yaitu, untuk mencapai menjadi yang pertama di antara orang Athena yang memerintah Athena dan menjadi lebih kuat daripada Raja Persia, sebelum ia dapat mengurus Athena, ia harus terlebih dahulu belajar untuk mengurus dirinya sendiri. Dengan demikian Parrhesia filosofis dikaitkan dengan tema perawatan diri sendiri (epimeleia heautou).

Pada zaman Epicurean, keterhubungan parrhesia dengan kepedulian terhadap diri sendiri berkembang ke titik di mana parrhesia sendiri dianggap sebagai teknologi bimbingan spiritual untuk ‘pendidikan jiwa.’ Philodemus (110-140 SM), misalnya (yang, bersama Lucretius [99-55 SM], adalah salah satu penulis Epicurian yang paling signifikan selama Abad Pertama SM), menulis sebuah buku tentang parrhesia (Περί παρρησίας) yang menyangkut praktik teknis berguna untuk mengajar dan membantu satu sama lain di komunitas Epicurean. Kita perlku memeriksa beberapa teknik parrhesiastic ini ketika berkembang di dalam, misalnya, filsafat Stoic Epictetus, Seneca, dan lainnya.

Diterjemahkan oleh Ikwan Setiawan dari: “Discourse and Truth: The Problematization of Parrhesia” (six lectures given by Michel Foucault at Berkeley, October-November. 1983).


Catatan akhir

[1] Merupakan periode kekuasaan Alexander the Great (Iskandar Agung) di Yunani, Makedonia. Dia membangun kekaisaran yang membentang dair Yunani hingga India. Ia meyakini dengan melakukan penaklukan, Yunani bisa mengkampanyekan ide dan budayanya, khususnya dari  Mediterania Timur hingga Asia. Era inilah yang dikenal dengan periode Hellenistik. Kata “Hellenistik” berasal dari kata Hellazin yang berarti berbicara Yunani atau mengidentifikasi diri dengan Yunani. Penjelasan ini diringkas dari htttps://www.history.com/topics/ancient-history/hellenistic-greece.   

Share This:

About Matatimoer 14 Articles
Adalah lembaga yang bergerak dalam bidang penelitian budaya dan pemberdayaan komunitas

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*