Lembayung di Sepikul: Model gotong-royong pemerintah desa dan DeKaJe untuk merintis wisata eko-kultural

IKWAN SETIAWAN

Sebuah ‘perjalanan’ menuju Sepikul

Sebuah sore, selepas Ashar pada 18 Januari 2020, saya, Dr. Eko Suwargono (Kang Eko), Ketua Umum Dewan Kesenian Jember (selanjutnya disingkat DeKaJe), dan Mas Basis Wanto (Bendahara DeKaJe), setelah menempuh perjalanan 15 menit dari arah kota Jember, sampai di Bukit Sepikul—warga setempat menyebutnya Gunung Sepikul—di Desa Pakusari, Jember. Kami sengaja berkunjung ke tempat ini untuk melakukan survei awal berkaitan dengan akan diselenggarakannya sebuah hajatan budaya di tempat ini. Cuaca sore yang cukup cerah mampu mengeluarkan pesona Sepikul yang begitu indah. Dua bukit yang berbentuk semacam “pikulan”—sepasang alat terbuat dari bambu untuk mengangkat hasil panen—itu seperti menarik kami ke dalam kebahagiaan batin mendalam. Ada banyak cerita dan bisikan dari semesta yang tiba-tiba menyergap kami bersama semilir angin sore. Kami bertiga pun menikmati langkah demi langkah menyusuri pematang sawah dengan hamparan padi yang menguning ataupun yang masih menghijau.

Keindahan senja di Sepikul pada survei pertama

Awalnya, kami sempat bingung karena belum mendapatkan lahan yang tepat untuk menggelar sebuah event budaya yang akan melibatkan ratusan seniman dan menghadirkan ribuan warga. Beruntunglah, setelah kami turun dari lereng Sepikul, seorang lelaki petani setengah baya menginformasikan sebuah gumuk—bukit kecil—yang baru saja dibongkar diambil batunya. Di tempat itu ada bekas galian yang cukup lapang. Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun menuju ke tempat yang dimaksud. Benar saja, bekas galian itu membentuk tanah lapang yang cukup luas dan bisa dijadikan sebuah arena pertunjukan. Kami bertiga pun diam untuk beberapa saat lamanya sambil menatap Sepikul di kala senja. Ada takjub. Ada sujud dan syukur dalam batin. Keindahan senja di Sepikul masih terjaga.

Lokasi pertunjukan

Dari lokasi bongkaran gumuk, kami memutuskan untuk mencari warung kopi untuk menggali informasi dari warga. Setelah berkeliling beberapa menit, sampailah kami di warung sederhana di samping masjid yang berdekatan dengan dam sungai buatan Belanda. Sambil menikmati kopi dan mie instan, Mas Basis bertanya ke ibu pemilik warung dan beberapa warga lainnya. Dari mereka kami mendapatkan informasi bahwa di Sepikul belum pernah digelar hajatan seni dan budaya. Menurut warga, kalau digelar event seni budaya, pasti pengunjung akan membludak dan warga akan sangat senang. Selain mendapatkan hiburan, mereka juga bisa berjualan. Informasi tersebut cukup penting sebagai reasoning awal untuk menyelenggarakan event. Dalam perbincangan di warung itulah kami memutuskan untuk tetap membawa misi ekologis dalam kegiatan yang akan diselenggarakan di Sepikul. Kedua bukit tersebut harus dipertahankan ekosistemnya serta diusahakan agar tidak dibeli oleh investor karena bisa melahirkan ekpsloitasi dan tidak memberikan keuntungan kepada warga.

Perbincangan dengan pemerintah desa dan konsolidasi internal

Hasil survei kami diskusikan di jajaran internal pengurus DeKaJe. Diskusi difokuskan pada pematangan konsep dan permasalahan-permasalahan yang mungkin akan muncul dalam penyelenggaraan event. Tidak lupa beberapa nama acara pun diusulkan, meskipun belum disepakati. Untuk memudahkan komunikasi dengan Pemerintah Desa (selanjutnya disebut Pemdes) Pakusari, Pak Kusnadi aka Pak Kodi, anggota Dewan Pakar DeKaJe dan pembina Paguyuban Reyog Putra Sakti, ditunjuk sebagai mediator dengan Kepala Desa, Pak Misjo. Dia bertugas untuk mengkomunikasikan kemungkinan untuk mengadakan pertemuan. Pak Kodi pun segera menjalankan tugas untuk mengatur pertemuan pertama antara DeKaJe dan Pemdes Pakusari.

Rembugan di rumah Kades Misjo

Maka, pertemuan pertama dengan Kepala Desa Pakusari, Pak Misjo, pun berlangsung pada 24  Januari 2020, selepas Isya. Bertempat di rumahnya, di pinggir kali yang airnya terus mengalir, kami mengadakan perbincangan dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan. Kang Eko, Pak Kodi, Mas Basis, dan saya disambut hangat oleh Pak Misjo. Lelaki bertubuh tegap ini dengan sumringah mendengarkan paparan Kang Eko dan Pak Kodi terkait rencana membuat event di Sepikul yang bertujuan merintis destinasi wisata minat khusus yang memadukan aspek pelestarian lingkungan, keindahan alam, budaya dan komunitas. Kang Eko mengharapkan dukungan dan kerjasama Pemdes Pakusari demi kelancaran agenda yang akan dilaksanakan, seperti pergelaran seni, penanaman pohon, dan painting on the spot.

Dengan penuh semangat Pak Misjo menyampaikan dukungannya terhadap gagasan DeKaJe tersebut. Ia mengatakan sudah menunggu lama untuk menggelar event budaya di Sepikul, tetapi belum ada rekan atau lembaga yang bisa diajak kerjasama. Maka, ketika DeKaJe menawarkan event seni budaya, Pak Misjo pun menyampaikan rasa terima kasih. Dia merasa bahagia karena keinginan untuk membuat event seni budaya akan bisa terwujud. Perbincangan yang ditemani suara air kali ini menyepakati jadwal pelaksanaan acara Sabtu, 22 Pebruari 2020, dari pagi hari hingga dini hari. Selain itu, Pak Misjo pun mengatakan akan mengundang pengurus DeKaJe dalam rapat koordinasi dengan perangkat desa dan pihak kecamatan untuk mendetilkan rencana kegiatan.

Konsodilasi internal pengurus DeKaJe dan para seniman yang akan mengisi acara pun terus dilakukan. Tanggal 26 Januari, misalnya, konsolidasi dilakukan di Warung Amin,  Kebonsari Jember. Pertemuan yang dihadiri oleh Pak Kodi dan nyonya, Christian Veri (Putra Sakti), Cak Lipianto dan nyonya, Kang Eko, Mas Popong, dan Mas Basis ini membahas konsep pertunjukan yang akan dihadirkan. Usulan mengerucut kepada konsep semacam opera yang menampilkan beberapa kesenian Rakjat seperti reyog, jathilan, barongan, rampak cemeti, can-macanan kaduk, dan beberapa yang lain. Beberapa permasalahan pun dieksplorasi, seperti sulitnya latihan bersama. Maka, opera yang disajikan akan dibuat dalam format longgar, di mana para penampil akan menampilkan kesenian dalam rangkaian cerita. Mereka akan dipertemukan dalam gladi bersih untuk memadukan gerakan. Untuk memudahkan penggarapan, Veri diberikan amanh untuk memimpin proses kreatif dengan supervisi langsung dari Kang eko. Perbincangan juga memutuskan Lembayung di Sepikul sebagai nama gelaran. Pemilihan nama tersebut terinspirasi oleh suasana senja yang indah di Sepikul di  mana warga lembayung sangat dominan. Selain itu, Kang Eko diminta untuk melakukan komunikasi intensif dengan Bupati Faida dan orang-orang dekatnya agar mau hadir dalam Lembayung di Sepikul.

Rapat internal pengurus DeKaJe

Proses ‘kampanye’ di media sosial pun mulai digiatkan dengan memanfaatkan FB dan grup FB, seperti IWJ (Info Warga Jember), dan grup-grup WA yang diikuti oleh para pengusur DeKaJe ataupun para seniman yang terlibat acara. Sosialisasi via medsos untuk ini cukup efektif untuk menyebarluaskan informasi tentang Lembayung di Sepikul. Salah satu keunggulannya adalah tidak adanya biaya serta kemungkinan disebarluaskan oleh mereka yang merasa senang atau bahagia dengan acara yang akan digelar. Adapun publikasi via baliho di tempat-tempat strategis Pakusari dan Jember akan dilakukan seminggu sebelum hari H. Strategi ini dimaksudkan untuk menghindari kerusakan baliho karena faktor alam ataupun ulah manusia usil.

Pertemuan dengan Kades dan Camat Pakusari

Keseriusan DeKaJe untuk menyiapkan event ini sejalan dengan harapan besar Pak Misjo dan warga Pakusari, karena di tempat ini tidak pernah ada event seni budaya sebelumnya. Untuk itulah, Pak Misjo selaku Kepala Desa mengundang pengurus DeKaJe untuk pertemuan terbatas di Balai Desa Pakusari untuk membicarakan persiapan yang dibutuhkan serta pembagian dan pendetilan kerja. Pertemuan pertama dilakukan pada 13 Pebruari bertempat di Balai Desa Pakusari. Pertemuan ini dihadiri Kepala Desa, Camat, dan perangkat desa Pakusari serta pengurus DeKaJe. Dengan semangat guyub, masing-masing pihak melontarkan gagasan dan keinginan. Pemdes, misalnya, akan menanggung semua urusan konsumsi untuk para penampil dan pernik-pernik yang dibutuhkan selama pertunjukan. Sementara, pengurus DeKaJe akan menyiapkan pertunjukan seni termasuk mendatangkan para seniman dari komunitas reyog, jaranan, can-macanan kaduk, dan rampak cemeti.

Pertemuan dengan perangkat desa dan seniman

Pada pertemuan kedua, 17 Pebruari 2020, masih di Balai Desa Pakusari, Kepala Desa juga mengundang perangkat desa dan beberapa koordinator seniman. Selain pematangan acara pada hari H, pada pertemuan ini pihak desa mengusulkan penambahan mata acara, yakni sound mini, debus dan pencak silat warga. Pengurus DeKaJe pun mempersilahkan karena acara ini memang sudah semestinya menjadi peristiwa kultural milik masyarakat. Pertemuan ini juga membahas hal-hal sederhana tetapi cukup penting dalam sebuah event, seperti tempat parkir, panitia lokal untuk wira-wiri, ketersediaan toilet, rumah transit untuk para penampil, dan beberapa hal lainnya. Pendetilan wilayah kerja menjadi prioritas karena kesalahpahaman sekecil apapun pada waktu hari H akan berdampak kurang baik dalam pelaksanaan. Memahami keinginan Pemdes, warga, dan seniman adalah keutamaan dalam menjalin kerjasama bermodal gotong-royong.

Menghadirkan keberagaman budaya, menegaskan komitmen ekologis

Sebagai tujuan awal, Lembayung di Sepikul merupakan event eko-kultural untuk memperkenalkan kepada publik luas tentang keindahan alam, komunitas, dan keberagaman budaya Jember, tanpa mengabaikan usaha untuk keberlanjutan ekosistem lingkungan. Ekosistem Sepikul perlu menjadi perhatian bersama, khususnya keberadaan pohon-pohon di sepanjang lereng, baik bukit bagian barat maupun timur. Memang dari kejauhan masih tampak hijau, tetapi kalau kita mendaki, di bukit bagian barat pohonnya tidak begitu banyak, kecuali jambu mente dan rumput gajah yang ditanam warga untuk keperluan ternak. Kepentingan itulah yang menjadikan panitia memasukan aktivitas penanaman bibit pohon selain aktivitas kesenian.

Untuk keperluan itu, DeKaJe meminta bantuan bibit pohon dari Balai Pembibitan Kementerian Kehutanan di Jember. Kerjasama yang sudah dirintis pada Bhakti Bumi Gunung Mayang 2017 dan 2018 menjadikan pihak Balai dengan senang memberikan bantuan bibit, sebanyak 5.300 batang, baik yang berupah bibit buah seperti klengkeng, durian, rambutan, maupun bibit pohon seperti sengon laut. Kedatangan bibit pada H-2 acara ternyata disambut gembira warga di kawasan Sepikul. Mereka langsung meminta izin kepada Kepala Desa untuk membawa pulang nuntuk di tanam di pekarangan rumah dan di kawasan bukit. Maka, agenda penanaman bibit pohon yang seharusnya dilaksanakan pada 22 Pebruari  maju pada 20 Pebruari 2020. Menghadapi realitas tersebut, para pengurus DeKaJe pun tidak mempermasalahkannya karena antusiasme warga patut dihargai. Ke depan, aktivitas menanam pohon bisa dijadikan atraksi wisata bagi pengunjung yang ingin berinvestasi oksigen kepada bumi dan manusia.

Painting on the Spot Komunitas Serat Kayu Jember

Kegembiraan merasakan, menghayati, dan merayakan Lembanyung di Sepikul, mulai terasa pada pagi hari, 22 Pebruari 2020. Di depan Base Camp, panitia berkumpul. Selain mempersiapkan apa-apa yang harus disiapkan di panggung terbuka, kami juga menyambut kedatangan para pelukis muda dari Komunitas Serat Kayu. Di bawah koordinasi Hat Pujiati, M.A., dosen Sastra Inggris Universitas Jember, 9 pelukis muda datang pada 80.30 WIB. Mereka pun diarahkan untuk mendaki bukit di bagian tengah, di antara bukit bagian timur dan barat. Para pelukis muda yang terdiri 8 perempuan dan 1 laki-laki tersebut pun melewati pematang sawah untuk selanjutnya mendaki bukit. Tidak sampai 20 menit, mereka sudah sampai di bagian tengah.

Dengan riang gembira, mereka mulai menyiapkan keperluan untuk melukis. Hembusan angin pagi menghadirkan atmosfer yang cukup indah untuk mulai mencari dan menemukan objek lukisan. Perlahan tangan-tangan mereka menggerakkan dan memainkan pensil khusus untuk mulai membuat sketsa. Kebebasan merupakan kata kunci bagi setiap pelukis karena mereka memerlukan ruang jernih dalam imajinasi ketika menatap atau memikirkan objek tertentu. Mendatangi ruang untuk menciptakan kemungkinan imajinatif baru akan menjadikan para pelukis tersebut menemukan hal-hal yang berbeda dari kebiasaan yang mereka lakukan. Maka, keterlibatan mereka sebagai manusia-manusia yang terbiasa dengan pola pikir modern dalam aktivitas painting on the spot ini bisa memberikan keuntungan kreatif yang melampaui kebiasaan imajinatif dalam melukis. Dampaknya, mereka diharapkan bisa mendapatkan goresan-goresan kreatif baru dalam lukisan mereka.

Atraksi sound mini di depan Base Camp

Rancak sound mini menghibur masyarakat pada selepas dhuhur. Lima komunitas dari Pakusari dan Antirogo menyuguhkan karya dance para anggotanya di sepanjang jalan menuju lokasi pertunjukan. Di depan Base Camp panitia mereka berhenti sejenak untuk menari mengikuti house music dan dangdut koplo-jaranan. Tidak ada keraguan dalam diri mereka untuk menari, bergembira. Mereka mengantarkan tontontan yang sejatinya merepresentasikan dunia desa yang tengah berubah menuju rumus modernitas, tetapi masih enggan mengabaikan dan melupakan sebagian nilai dan praktik budaya warisan leluhur. Para pengusaha sound mini tahu bahwa anak-anak muda itu juga ingin memainkan tubuh mengikuti dentuman musik diskotik. Itulah mengapa mereka berkumpul dan berlatih untuk kemudian menyuguhkan karya ke tengah-tengah masyarakat.

Tubuh kaum muda yang bergabung dalam sound mini merupakan tubuh desa yang terus bergerak, melintasi dan melampaui ketradisionalan yang seringkali dijadikan tameng untuk kegelisahan rezim yang takut diganggu dan dilawan oleh subjek yang memperjuangkan kemerdekaan berpikir dan berekspresi. Tubuh para anggota sound mini bukanlah tubuh desa yang membawa endapan Romantisisme klasik. Alih-alih, tubuh mereka adalah fleksibilitas dalam memahami nilai budaya di tengah menguatnya hasrat untuk menjadi modern. Pada posisi itulah kita tidak mungkin lagi memposisikan tubuh kaum muda desa sebagai pewaris menyeluruh narasi keadiluhungan. Mereka adalah subjek yang mengikuti dentuman musik industrial yang siap bergerak, tetapi masih mengapresiasi komunalisme desa. Eksistensi sound mini itulah yang mendorong pengurus DeKaJe menghadirkannya dalam Lembayung di Sepikul karena melaluinya kita bisa tahu betapa bersemangatnya desa menghadapi perubahan.

Atraksi sound mini di panggung terbuka

Atraksi masing-masing komunitas sound mini di panggung terbuka di bawah Sepikul juga memiliki makna tersendiri. Mereka yang biasanya identik dengan hal-hal negatif seperti minuman beralkohol dan tawuran, nyatanya, masih bisa menempatkan diri dalam kosmos yang didesain untuk tertib. Gerakan dinamis mereka seperti menambahkan kegembiraan atmosfer Sepikul yang biasanya senyap, meskipun dipenuhi warna indah. Keindahan warna-warni kostum anggota sound mini mempercantik warna lembayung yang hadir setelah panas menyengat kulit. Keindahan senja, nyatanya, menjadi terasa hidup ketika disajikan pertunjukan. Ke depan, warna lembayung yang dipercantik dengan sajian pertunjukan bisa menjadi atraksi wisata eko-kultural yang asyik. Para warga bisa menyajikan makanan dan minuman untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari proses wisata.

Menegaskan komitmen di tengah (ancaman) hujan

Menyambut kehadiran Bupati Jember, dr. Faida, M.MR., membutuhkan kecerdasan dan kreativitas. Usulan Kades Misjo untuk menghias kereta bendi pun mendapat sambutan positif. Jadilah, sebuah kereta bendi yang dikhususkan untuk menyambut Bupati di tengah ancaman hujan deras. Tentu saja Bupati bergembira dengan ketika Kades Misjo dan perangkat desa serta Muspika Pakusari menyambut dan mempersilahkannya naik ke bendi. Dalam penerangan seadanya, iring-iringan bergerak membela malam.

Tentu sambutan tersebut tidak perlu dimaknai secara berlebihan. Kades Misjo dan perangkat desa, sejatinya, hanya ingin mengekspresikan kegembiraan atas kehadiran Bupati. Dalam tradisi birokrasi, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Namun, di balik siasat bendi tersebut, sebenarnya, kita bisa menemukan strategi orang desa. Bahwa dengan diajak melewati jalan gelap, Bupati dikondisikan untuk berpikir bahwa ada lampu penerangan jalan umum yang harus diberikan kepada masyarakat di kawasan Spikul.

Sambutan sholawat diiringi hadrah di bagian depan lokasi pertunjukan ketika Bupati turun dari bendi, menandakan bahwa ada nilai etik-religius yang dihadirkan dalam Lembayung di Sepikul. Doa keselamatan melalui sholawatan untuk Kanjeng Nabi Muhammad SAW bermakna kesalataman pula bagi pemimpin komunitas serta warga yang hadir. Kehadiran aspek sakral ini, tentu saja, menjadi penguat spirit yang tengah diperjuangkan oleh DeKaJe, Pemdes Pakusari, dan para warga melalui rangkapan event yang bisa merangsang tumbuhnya aktivitas wisata eko-kultural. Lebih jauh, lantunan sholawat bisa diposisikan sebagai ajakan untuk menjaga kehidupan agar selamat, baik para pemimpin ataupun mereka yang terus memperjuangkan kebenaran dan melayani rakyat kebanyakan.  

Sebelum Bupati sampai di lokasi pertunjukan, dua penyair muda membawakan beberapa puisi, dilengkapi pertunjukan puisi dan mamacah oleh Sony Cimot, Pak Yasin dan Pak Waqik. Afraah, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember membawakan puisi terkait Sepikul yang berisi ajakan untuk merawat dan emnyelamakannya. Zaybi, penyair muda asli Pakusari yang tengah menempuh studi di Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo membawakan puisi tentang keluarga yang amat ia cintanya. Kolaborasi manis Cimot dan kedua seniman mamacah menghadirkan aura mistis yang trasendental. Sepikul tampak begitu gagah, meskipun kurang jelas karena ketiadaan tata cahaya yang tidak menjangkau. Kolaborasi kesenian modern dan kesenian rakyat menunjukkan bahwa dalam tataran kerjasama kreatif, kedua kesenian memiliki celah untuk diisi oleh orang atau pakar lain.

Cimot dan seniman mamacah berkolaborasi

Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, Bupati didampingi Ketua Umum DeKaJe, Dr. Eko Suwargono, dan para penonton menyanyikan lagu. Semua kegiatan DeKaJe memang menyanyikan lagu Indonesia Raya tidak hanya menghafalnya. Ini menjadi bentuk kebanggaan dan kesadaran nasional di tengah-tengah semua usaha memajukan kebudayaan. Menyanyikan lagu ini dalam atmosfer malam Sepikul memunculkan sensasi tersendiri dalam tubuh, pikiran, dan imajinasi.

Persembahan Lenggang Sepikul oleh Sanggar Sotalisa Jember menyemarakkan malam yang mulai dingin. Beberapa penari dengan pakaian glamour tersenyum menyapa warga Pakusari. Kegembiraan, kelenturan, dan kekuatan dalam menjalani kehidupan merupakan wacana yang disampaikan melalui gerak tubuh dinamis-hibrid. Kreativitas berdasarkan karakteristik kehidupan komunitas Madura yang dinamis dan lentur menjadikan tarian ini mampu memunculkan energi malam yang menjadikan Sepikul meriah. Suguhan-suguhan pertunjukan ketika malam hari pun bisa menjadi alternatif untuk menghibur para wisatawan yang datang kelak ketika kawasan ini sudah menjadi destinasi yang ramai dikunjungi. Tentu saja, warga harus dipersiapkan secara matang untuk bisa mengorganisir pertunjukan ringan dan keperluannya.

Tari Lenggang Sepikul

Sambutan Kang Eko selepas tari, menekankan beberapa hal penting yang perlu digaribawahi. Pertama, semua kegiatan DeKaJe seperti Lembayung di Sepikul, pada dasarnya ingin menyukseskan Jember Kota Wisata Berbudaya. Kedua, untuk menyukseskannya, perlu dibuat program-program tahunan yang menjadi gerakan untuk memunculkan peluang wisata eko-kultural yang melibatkan dan memberikan keuntungan kepada warga. Lontaran tersebut sekaligus mengkritisi ketiadaan program yang jelas dari dinas terkait di Jember dalam upaya memajukan dan memaksimalkan potensi alam, budaya, dan masyarakat.

Bupati Jember pun menyambut baik lontaran yang disampaikan Ketua Umum DeKaJe. Dia menyatakan dukungan terhadap acara yang baru pertama kali dilakukan di kawasan Sepikul. Apalagi event ini merupakan hasil kerjasama DeKaJe dan Pemdes Pakusari. Model kerjasama inilah yang ke depan harus dicontoh oleh pemdes-pemdes lain. Keberadaan ragam seni dan budaya harus dikembangkan di desa-desa sehingga ada sajian-sajian bermutu yang bisa dikembangkan untuk mendukung aktivitas wisata. Selain itu, harus semakin banyak para penggiat budaya yang berani membuat terobosan kreatif, tanpa buru-buru meminta upah. Bagi Bupati, Lembayung di Sepikul ini adalah bukti nyata bahwa masih ada penggiat budaya dan seniman yang benar-benar berpikir tentang kemajuan.

Sambutan Bupati Faida

Terlepas dari beberapa kelemahan selama event berlangsung, Lembayung di Sepikul memang telah membuka jalan untuk memformulasi wisata eko-kultural yang memadukan kekayaan dan keindahan alam, komunitas warga, dan keragaman budaya. Aspek ekologis menjadi sangat penting karena perbaikan ekosistem alam tidak mungkin lagi ditunda-tunda. Penguatan komunitas warga sebagai subjek harus segera dilakukan karena ke depan merekalah yang harus mampu mengatur banyak event di Sepikul agar mendapat kemanfaatan dari itu semua. Gotong-royong untuk banyak aktivitas di Sepikul, termasuk promosi melalui new media ataupun media arus utama, tetap harus dijalankan. Event ini memberikan pelajaran betapa gotong-royong yang bersifat dinamis dan strategis bisa menyelesaikan bermacam persoalan dan menyukseskan banyak impian. Gotong-royong merupakan kekuatan yang harus terus dikembangkan secara dinamis.

Share This:

About Ikwan Setiawan 182 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*