Teater publik PERJAMUAN SESA(A)T: Menggugat kesesaatan/kesesatan dalam kebijakan budaya

IKWAN SETIAWAN

Setelah menggelar pertunjukan teater OTAK BATU dalam Rampak Ujung Gethekan (RUG), 29 Desember 2019, Suharsono S.Sn. aka Sony Cimot kembali menggelar pertunjukan teater publik. Ia menghadirkan laku teatrikal dari Jembatan Jalan Jawa, Bunderan Halmahera-Bangka, hingga Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jember, 13 Januari 2020. Pertunjukan yang diberi judul Perjamuan Sesa(a)t ini masih menyuarakan kekurangseriusan pemerintah untuk memperhatikan nasib para seniman dan kesenian Rakjat serta ketidakjelasan kebijakan budaya yang mereka laksanakan. Bukan Cimot kalau tidak menghadirkan keunikan yang membuat pertunjukannya menggelitik sekaligus mengkritik. Dengan menggunakan jalan umum pada waktu menjelang setengah siang, jam 10.00 WIB, Cimot ‘menguasai’ jalan yang dilewati dengan celetukan dan tingkah laku yang terkadang jenaka, terkadang sangat serius. Kostum yang ia pilih pun tak tanggung-tanggung: pakaian ala balerina berwarna hitam. Tidak lupa pernak-pernik properti seperti kipas angin berbahan bambu dengan logo emergency (+), sapu lidi, gongseng, topeng, nampan/talam/lengser, dan buah-buahan. Semua itu ia rangkai dalam pertunjukan di sepanjang rute yang dilalui.

Aktor (Cimot) bersiap di Warung Pak Ali

Catatan sederhana ini merupakan tasfir atas pertunjukan publik yang dilakukan Cimot dan difasilitasi oleh Dewan Kesenian Jember (selanjutnya disingkat DeKaJe). Analisis tekstual-kontekstual menjadi piranti untuk mengungkap wacana yang dikonstruksi oleh Cimot dalam pertunjukan yang berlangsung sekira 45 menit tersebut. Bagi saya, terlepas kelemahan-kelemahan teknis yang sudah biasa terjadi, Cimot berani menghadirkan pertunjukan di jalanan dan mengusung isu-isu sensitif di Jember, pada khususnya, dan Indonesia, pada umumnya. Konsistensi untuk mengusung kritik terhadap kebijakan budaya yang belum beres di Jember merupakan capaian tersendiri di tengah-tengah mentalitas para pencari proyek kebudayaan yang hanya memuja pemimpin ketika mendapatkan dana. Keberanian untuk menyuarakan apa-apa yang selama bertahun-tahun disenyapkan dalam birokrasi kebudayaan di Jember merupakan kekuatan teatrikal yang melahirkan adegan demi adegan di sepanjang lokasi pertunjukan.

Kipas angin darurat dan seniman yang terus bergerak

Warung Pak Ali yang cukup terkenal sejak era 1990-an di Jalan Jawa VII dipilih sebagai tempat persiapan. Beberapa seniman ludruk dan mamacah—macapat dalam tradisi Madura—hadir  bersama pengurus Dewan Kesenian Jember (selanjutnya disingkat DeKaJe). Warung Pak Ali dikenal sebagai salah satu tempat tongkrongan para aktivitas mahasiswa di era Orde Baru. Banyak hal yang dibincangkan para aktivis di warung yang terletak di sebelah timur pintu masuk Jawa VII ini, dari urusan gerakan demonstrasi untuk mengkritisi rezim Suharto, aktivitas intrakurikuler di kampus, hingga urusan perkuliahan. Maka, dipilihnya Warung Pak Ali bukanlah tanpa sebab. Ada tanda historis yang dijadikan pijakan untuk menyuarakan bisik batin para seniman dan pelaku budaya lain di Jember, sepertihalnya dulu warung itu digunakan para aktivis untuk melakukan konsolidasi gerakan.

Adegan di depan gang Jawa VII

Jam 10.00, Cimot sebagai aktor memulai pertunjukan publik dengan berdiri dan memainkan kipas berlogo darurat di depan Jalan Jawa VII, menghadap ke arah barat. Meskipun sedikit terganggu, arus kendaraan bermotor bisa dikatakan lancar-merambat. Beberapa kali si aktor membuat adegan menyilangkan kipas berbahan bambu di atas kepalanya. Adegan tersebut mengirimkan sinyal tentang kondisi kesenian Rakjat dan juga budaya lokal di Jember yang sedang mengalami permasalahan di tengah-tengah modernitas masyarakat kota dan desa. Memang masih ada komunitas seni yang hidup seperti jaranan, reyog, dan ludruk, tetapi esksistensi mereka cukup terbantu karena masih adanya warga yang menyukai. Beberapa kesenian sudah kesulitan regenerasi seperti mamacah, glundhengan, dan ludruk Jawa di kawasan selatan Jember.

Tetap menantang arus

Maka, pemilihan pakaian balerina cukup mewakili apa yang terjadi di kalangan seniman. Banyak di antara mereka yang masih bergerak lincah selincah balerina. Para pelaku ludruk masih sering mendapat tanggapan dari komunitas Madura di Jember utara, timur, dan barat. Para seniman jaranan masih sering dipanggil warga untuk mengisi acara khitanan maupun pernikahan. Demikian pula dengan reyog. Namun, semua pelaku seni di Jember merasakan bahwa tidak ada kepastian kebijakan yang dibuat oleh Disparbud. Bukan berarti mereka tidak bisa bertahan tanpa uluran tangan pemerintah. Keluh-kesah mereka lebih menjurus kepada alpanya tanggung jawab pemerintah untuk membuat kebijakan yang bisa menyiapkan pengembangan beragam kesenian di Jember.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, sepatu dan luar ruangan
Terus menari di jembatan

Di Jembatan Jawa, sembari diiringi tembang mamacah yang dinyanyikan oleh Pak Yasin, aktor mulai melemparkan ungkapan-ungkapan ironis, seperti “jamuanmu adalah senyum sesaat, setelah itu kau lupakan kami. Kau biarkan kami bermain sendiri.” Tentu saja, ungkapan yang ia sajikan dengan suara penuh amarah itu menegaskan kejengkelan dan kemarahan yang sudah terlalu lama dipendam oleh para pelaku budaya. Sejak Orde Baru, mereka diagungkan sebagai pelestari dan penyokong budaya bangsa yang adiluhung. Kenyataannya, mereka dibiarkan untuk berjuang survive, dari satu tanggapan ke tanggapan lain. Keadaan tersebut tidak berubah di era Reformasi dan sesudahnya. Bahkan, mereka harus menghadapi kompetitor dominan berupa produk-produk industri budaya pop. Segala puji yang dilontarkan oleh birokrat tidak ubahnya “jamuan sesaat” yang memberikan sedikit kebahagiaan, tetapi sesudahnya, kembali ke dalam kondisi tidak menentu. Bahkan, kehadiran Undang-undang Pemajuan Kebudayaan Tahun 2017 juga tidak banyak mengubah kondisi tersebut. Seminar demi seminar dibuat untuk membicarakan bagaimana pengembangkan budaya lokal dan para pelakunya, tetapi tidak melahirkan solusi berupa program konkrit yang bisa memberdayakan keberadaan pelaku dan komunitas seni.

Tetap lincah menari, meskipun beragam masalah hadir

“Senyum manismu hanyalah perjamuan sesaat yang berulang-kali menikam,” celetuk si aktor sambil berlari-lari kecil. Gongseng yang biasa digunakan untuk tari remo ludruk pun berbunyi “krimpying, krimpying”. Melalui ungkapan dan adegan tersebut, setidaknya, kita bisa melihat dua wacana kritik yang disampaikan. Pertama, kebijakan budaya yang secara ideal bisa menjadi kerangka untuk program-program pengembangan dan pemberdayaan dengan melibatkan para pelaku dan warga masyarakat, hanyalah menjadi rutinitias bersifat sesaat yang tidak memiliki aspek keberlanjutan dan keberdayaan; silih berganti sebagai tindakan absurd oleh pemerintah. Disparbud Jember, misalnya, tidak memiliki roadmap pemajuan kebudayaan untuk memaksimalkan kerja-kerja pemertahanan, pengembangan, dan pembinaan terhadap ragam budaya Jemberan. Bahkan, sejak 2017—saat pertama Undang-undang Pemajuan Kebudayaan di-undangkan—hingga saat ini, Jember belum memiliki Pokok-pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD), sebuah dokumen legal yang disusun oleh tim ahli dan ditandatangani Bupati tentang potensi dan permasalahan budaya di daerah, belum ditetapkan. Akibatnya, Pemkab Jember tidak bisa mengakses dana alokasi khusus yang disiapkan pemerintah pusat untuk kegiatan pemajuan kebudayaan. Ironisnya, seringkali kegiatan-kegiatan yang dilakukan Disparbud tidak menyentuh permasalahan dan kebutuhan dasar pelaku dan komunitas kultural. Hanya kelompok tertentu yang disukai birokrat Disparbud yang akan mendapatkan job untuk mengisi acara-acara formal. Bagi komunitas seni hal itu sesungguhnya bukan masalah serius, tetapi kalau terus dibiarkan bisa memunculkan endapan-endapan ketidaksukaan dan menunjukkan betapa “tidak adilnya” para birokrat budaya di Disparbud Jember.

Bergerak terus menuju sasaran

Sebagai tafsir kedua, adegan aktor yang berlari dan suara krimpying gongseng, saya menemukan sebuah gerak dan geliat yang terus memenuhi ruang Jemberan. Di tengah-tengah ketidakjelasan kebijakan, para seniman, sebagaimana sudah saya singgung di awal, tidak mau tinggal diam. Bagi mereka, hidup dan matinya kebudayaan tidak bergantung kepada tanggapan yang diberikan oleh Disparbud dengan cara kongkalikong. Maka, terus memperjuangkan ruang budaya dan kesempatan untuk terus meng-ada merupakan jawaban eksistensial terhadap ketidakhadiran Negara yang direpresentasikan melalui kelalaian Disparbud Jember.

Gambar mungkin berisi: 3 orang, termasuk Sony Cimot, sepatu, sepeda Motor, pohon, janggut dan luar ruangan
Arus lalu-lintas pun merambat untuk sesaat

Ketidakhadiran Negara dalam upaya pemajuan kebudayaan adalah bentuk kelalaian dan pengkhianatan terhadap cita-cita besar kebangsaan. Kelalaian itulah yang harus diingatkan dengan beragam cara, termasuk pertunjukan teater ini. Negara tidak boleh sekedar menggantungkan aktivitas-aktivitas pengembangan kultural kepada para pelaku, tanpa memberikan kerangka operasional, karena strategi dan tahapan kerja sangat menentukan capaian yang diinginkan. Negara-negara seperti Singapura, Korea Selatan, Australia, dan yang lain mampu mendesain blue print kebijakan budaya yang berdampak besar kepada kehidupan para pelaku kultural dan masyarakat. Semestinya, Negara menjadi “jembatan” yang mengantarkan para seniman dan pelaku budaya untuk menemukan strategi tepat untuk memberdayakan potensi kebudayaan demi kebangsaan dan keberdayaan komunitas.

Menyapu kotoran-kotoran birokrasi budaya

Sesampai di Bundaran Halmahera-Bangka, aktor mengelilinginya, sebelum akhirnya memainkan sapu lidi untuk selanjutnya menyapu jalan beraspal. Sembari menyapu ia berkata: “kalian berkumpul jadi satu, berjanji satu, aku…kau makan.” Sapu lidi yang dicat warna merah, adegan menyapu, dan ucapan si aktor terintegrasi mengkonstruksi makna tentang aktivitas membersihkan mereka yang terbiasa mencari makan/nafkah dari para seniman. Wacana “bersih-bersih” yang dihadirkan dalam adegan ini merupakan kritik terbuka terhadap para birokrat yang biasa mendapatkan gaji tetapi tidak maksimal memperjuangkan pengembangan dan pemajuan budaya. Selain itu, keinginan “bersih-bersih” juga diarahkan kepada kebiasaan jelek birokrat yang mencari keuntungan finansial dari kegiatan-kegiatan yang dijalani, sementara mereka sudah mendapatkan gaji bulanan. Tindakan itu seringkali ditempuh dengan jalan kongkalikong dan mengkhianati fungsi sebagai pelayan Rakjat. Kongkalikong itu misalnya mewujud dalam pemberikan proyek pertunjukan hanya kepada sanggar-sanggar seni tertentu yang dinilai bisa ‘bekerjasama’ dengan para birokrat. Akibatnya, muncul istilah sanggar seni “langganan” karena terlalu sering diberikan job oleh mereka. Sanggar atau komunitas seni lain pun tidak mendapatkan kesempatan untuk mewakili Jember dengan karya mereka.

Gambar mungkin berisi: 3 orang, termasuk Sony Cimot, orang berdiri dan luar ruangan
Sapu adalah kunci

Setelah melakukan adegan di Bunderan, aktor beradegan menaiki sapu menuju ke Kantor Disparbud. Di jalan, ia berganti memegang nampan yang biasanya digunakan sebagai tempat makanan dan buah-buahan. Dalam tradisi sebagian masyarakat Jawa, nampan atau talam digunakan untuk tempat uang, khususnya waktu ada pertunjukan tayub. Perlahan-lahan, ketika mendekati kantor Dinas, ia memukul-mukulkan nampan ke kepalanya hingga benda itu ringsek.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, termasuk Hary Kresno, orang berdiri, mobil dan luar ruangan
Memainkan talam/nampan/lengser

Adegan ‘kekerasan’ ini menyampaikan pesan yang cukup tegas bahwa tindakan untuk memperbesar rezeki dari cara-cara yang salah dalam mekanisme birokrasi tidak bisa dibenarkan. Harus dihancurkan dan dilumat-lumat. Tindakan seperti itu hanya menjadikan kerja birokrasi keluar dari aturan dan kepatutan serta melahirkan ketidakberarahan kebijakan budaya karena dikelola seenaknya sendiri. Pilihan menghancurkan talam, dengan demikian, menegaskan bahwa harus ada keberanian dari para seniman untuk melawan segala bentuk kesesatan birokrasi yang merugikan aktivitas pemajuan kebudayaan.  

Gambar mungkin berisi: 1 orang, sepatu dan luar ruangan
Merusak topeng-topeng

Sesampainya di depan Kantor Disparbud, aktor melakukan adegan memukul beberapa topeng yang diletakkan di pohon dengan background kain hitam. Ia memukul topeng-topeng itu dengan pedang kayu. Adegan ‘penghancuran topeng’ ini menandakan keberanian untuk melawan pihak-pihak yang memanfaatkan birokrasi kebudayaan untuk mengeruk keuntungan pribadi. Subjek itu bukan hanya birokrat, tetapi juga para seniman pragmatis yang hanya ingin “menang sendiri”: rakus terhadap proyek dan job yang diberikan Dinas. Ada yang beralasan bahwa sanggar yang qualified pantas mendapatkan job dari pemerintah. Masalahnya, apakah benar mereka mendapatkan job tersebut dengan cara fair? Siapakah yang menjamin. Kalau sekali atau dua kali meminta sanggar tertentu untuk mewakili Jember dalam ajang pertunjukan di luar kota, mungkin bisa dianggap wajar. Namun, kalau berulang-kali, patut dipertanyakan, apakah tidak ada sanggar lain yang mumpuni atau karena birokrat sudah punya klik dan tradisi kongkalikong untuk mengirim perwakilan. Kalaupun, komunitas-komunitas seni lain masih jelek, bukankah para birokrat bisa melakukan pelatihan dengan mengundang pelatih-pelatih profesional. Alasan jadwal yang mepet juga tidak bisa diterima. Mengapa? Event-event regional ataupun nasional biasanya sudah ditetapkan jauh jari, jadi untuk melakukan seleksi ataupun pelatihan masih memungkinkan. Visi kesamaan dan kesetaraan untuk komunitas seni, sanggar seni, atau komunitas kultural lain harus dikedepankan.  

Gambar mungkin berisi: 4 orang, termasuk Firman Dae Ezza, luar ruangan
Hanya untuk yang berani mengungkap kebenaran

Keberanian untuk mengungkap dan menghadapi pihak-pihak yang menjalani kesesatan, termasuk para seniman, adalah pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi karena kalau dibiarkan tradisi buruk itu bisa merugikan ekosistem budaya. Para seniman yang sejatinya memiliki kemampuan kreatif akan dirugikan karena mereka tidak bisa memainkan politik kongkalikong. Tidak boleh ada keraguan dan ketakutan karena solidaritas bisa menghancurkan segala kesesatan yang sengaja dipelihara demi memperoleh keuntungan demi keuntungan. Mereka yang memilih untuk mengkhianati solidaritas dan komitmen karena merasa tidak mendapatkan keuntungan bisa dikategorikan sebagai subjek yang harus dilawan karena mengutamakan pragmatisme. Kecenderungan pragmatis itulah yang menjadi faktor utama tidak solidnya para seniman Jember. Bahkan, mereka yang sudah berusaha dan berjuang memperkuat solidaritas terus saja ‘digoyang’ dengan bermacam isu yang tidak jarang diwarnai fitnah. Tentu saja, kondisi tersebut harus dilawan, sepertihalanya topeng-topeng yang harus “dipedang hingga tuntas”. Apabila solidaritas dan komitmen untuk memajukan kesenian lokal terus menguat, maka segala bentuk politik pecah-belah akan sulit menembus.

Mengembalikan perjamuan sesa(a)t

Selesai bermain dengan topeng, aktor mengambil nampan berisi buah. Dengan penuh keyakinan ia membawanya ke dalam area Kantor Disparbud. Di depan pintu, ia mulai adegan mengeluarkan buah-buahan dari nampan dan meletakkannya persis di jalan masuk. “Saya kembalikan, kutata dengan rapi, angka satu sampai angka lima. Kukembalikan candu-candu ini” ucap si aktor tetap dengan nada tegas. Adegan ini merupakan penanda penting yang menegaskan kekuatan seniman. Ia mengembalikan jamuan yang diberikan oleh para pejabat dan birokrat. Jamuan berupa kebijakan yang tidak jelas dan tidak visioner sudah selayaknya dikembalikan kepada mereka yang membuat. Sebuah ‘mosi tidak percaya’ dihaturkan aktor sebagai representasi ketidakpercayaan publik seniman Jember atas kinerja dan kerja para birokrat dan ketidakjelasan kebijakan budaya. “Candu-candu” berupa janji dan omongan manis bukanlah kenyataan yang bisa membahagiakan dan menggerakkan para seniman dalam mekanisme dan aktivitas pemajuan. Sebaliknya, “candu-candu” itu hanyalah menjadi tradisi yang terus diulangi. Para seniman memang dijamu dalam kegiatan-kegiatan kultural, tetapi itu pun tidak menyetuh akar permasalahan dan hanya menguntungkan komunitas tertentu. Menjadi wajar, kalau jamuan yang tidak visioner itu harus dikembalikan sampai diputuskannya komitmen baru dari para birokrat di Disparbud.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, sepatu, luar ruangan dan dalam ruangan
Mengembalikan jamuan

Apa yang terasa cukup heroik adalah ketika aktor memukulkan nampan ke kepalanya sembari menghadap ke arah dalam Kantor Dinas. Gongseng pun terus berbunyi. Suara melengking seniman mamacah menghadirkan suasana sakral ketika si aktor mengucapkan beberapa perkataan. “Aku yakin, aku percaya, keringat ini yang terkumpul dengan mereka mereka, tak akan terlepas begitu saja. Subuh, pagi, siang, malam, sampai ketemu pagi lagi, aku tak akan berhenti di sini, karena langkahku tak bisa kau berhentikan.” Ekspresi tersebut merupakan penegasan akan garis perjuangan yang akan terus diambil dan ditempuh. Karena para penggerak kultural yang tahu bagaimana para seniman Rakjat berjuang, tidak akan berhenti untuk melakukan resistensi, sampai tujuan pemajuan yang mengakomodasi kepentingan seniman dan komunitas seni terpenuhi. Para seniman Rakjat telah “mengumpulkan keringat” dengan bermacam daya dan upaya. Komitmen untuk membersamai perjuangan mereka harus ditempuh, agar pemerintah sadar dan paham bahwa merekalah yang telah benar-benar memajukan kebudayaan. “Langkah-langkah yang tak bisa dihentikan” adalah langkah-langkah para penggerak yang tak pernah takut kelaparan dan tak pernah berniat mengumpulkan keuntungan material. Subjek-subjek itulah yang siap menghadapi segala macam kemungkinan, bahkan ketika tidak mendapatkan anggaran sama sekali dari pemerintah.  

Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk dan sepatu
Berat, tetapi perjamuan sesa(a)t itu harus dikembalikan

Ada tugas historis yang harus diemban dari pada sekedar mengindahkan dan memelihara rasa takut. Sebagaimana diucapkan oleh si aktor, “mulutmu seperti….” (sambil merusak nampan, menjadi seperti mulut manusia), tugas historis itu adalah melawan segala macam bentuk kongkalikong dalam mekanisme birokrasi dan bermacam ketidakjelasan kebijakan budaya yang merugikan para seniman dan tidak memberikan jaminan apapun bagi masa depan budaya lokal. Kesadaran kritis dan keberanian bertindak adalah syarat mutlak untuk melakukan resistensi terus-menerus sampai tujuan untuk keberdayaan para seniman terpenuhi. Sekali lagi, hanya mereka yang mau menjaga komitmen dan menjalankan perjuangan secara ajeg-lah yang akan berani mengambil tindakan-tindakan signifikan untuk kesenian Rakjat dan budaya lokal.

Sebuah gugatan yang mengingatkan

Bagi saya, apa yang dipersembahkan oleh Sony Cimot dalam Perjamuan Sesa(a)t merupakan sebuah gugatan yang mengingatkan. Mengapa demikian? Sebagai seorang pelaku budaya dan pengurus DeKaJe yang sudah lama menyelami permasalahan seniman dan kesenian Rakjat, ia bisa mendengar, melihat, dan merasakan apa-apa yang sesungguhnya terjadi. Maka, ketika ia menemukan ketidakberesan dalam jalannya birokrasi terkait pemajuan budaya lokal, respons kreatif-kritis melalui pertunjukan teater merupakan ruang dan kesempatan untuk menyuarakan apa-apa yang selama ini hanya menjadi rasan-rasan. Dengan menggunakan benda-benda yang mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti kipas angin berbahan bambu, gongseng, sapu lidi, nampan, buah-buahan, dan topeng yang diintegrasikan dengan adegan di sepanjang jalan hingga kantor Dinas, suara-suara yang selama ini hendak disenyapkan keluar sebagai gugatan yang cukup berani.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang duduk dan sepatu
Tugas historis yang harus dijalani

Gugatan-gugatan yang berlangsung dalam Perjamuan Sesa(a)t mengingatkan para pejabat di sektor kebudayaan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Bahwa kehadiran Undang-undang Pemajuan Kebudayaan tidak akan pernah menjamin apa-apa ketika pada tataran operasional di daerah tidak pernah menyentuh permasalahan. Anggaran yang besar memang dibutuhkan, tetapi yang apa yang lebih penting adalah komitmen untuk membuat dan melaksanan cetak biru pemajuan kebudayaan dari tingkat pusat hingga tingkat daerah. Cetak biru tersebut tidak boleh hanya mementingkan aspek pergelaran, tetapi juga usaha untuk regenerasi dan kreativitas menghadapi tantangan zaman. Ketidakjelasan kebijakan budaya akan mengakibatkan terombang-ambingnya program di kalangan birokrasi. Dampak negatifnya para seniman dan kesenian Rakjat akan selalu berada dalam keadaan minimalis yang susah sekali berkembang. Lebih celaka lagi kalau para birokrat budaya mengambil manfaat dalam program-programnya, sehingga tradisi kongkalikong yang merugikan seniman kebanyakan akan tetap marak. Maka, gugatan-gugatan kreatif yang ditawarkan Sony Cimot adalah peringatan politiko-kultural terhadap ketidakjelasan kebijakan dan kemungkinan penyelewengan birokrasi untuk kepentingan sendiri. Ketika semua itu masih terjadi, maka resistensi adalah tindakan yang harus terus diusahakan dan diperjuangkan oleh para penggerak budaya dan para seniman Rakjat.

Share This:

About Ikwan Setiawan 181 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*