Rampak Ujung Gethekan: Merintis ruang budaya di kawasan muara

IKWAN SETIAWAN

Perjalanan ‘menemukan’ Rampak Ujung Gethekan

Sungai Bedadung yang sumber airnya berasal dari Pegunungan Hyang dan bermuara di wilayah Puger–sebelum berjumpa Samudra Indonesia–merupakan kekayaan dan kekuatan alam yang memberikan banyak manfaat kepada warga Jember. Warga banyak memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari seperti mandi dan mencuci serta kebutuhan air untuk pertanian. Di bagian muara, kapal motor kayu milik para nelayan lalu lalang untuk menuju ke atau kembali dari laut lepas. Muara menjadi ruang geografis transisional sebelum para nelayan pergi ke samudra luas. Di muara ataupun wilayah dekat muara, para nelayan menambatkan kapal motor ketika mereka pulang ke rumah menjumpai keluarga tercinta.

Salah satu wilayah dekat muara Bedadung yang cukup terkenal di Jember bagian selatan adalah Gethekan. Wilayah ini berada di Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan. Setiap harinya, puluhan kapal kayu motor disandarkan, meskipun tidak sebanyak di Muara Besini, Puger. Gethekan berasal dari kata gethek yang bermakna perahu dari bambu yang digunakan untuk menyeberang dengan bantuan tali. Dibangunnya jembatan pengubung antara Lojejer dan Puger menjadikan gethek menghilang. Pada perkembangannya kapal kayu motor yang cukup membantu para nelayan cukup banyak dan membutuhkan tempat sandar selain di Muara Besini dan Muara Puger. Maka, dipakailah bekas tempat Gethekan sebagai tempat bersandar sampai sekarang.

Bagi Dewan Kesenian Jember (selanjutnya disingkat DeKaJe), perjalanan untuk menemukan Gethekan adalah buah dari pencarian yang tidak mudah. Didorong keinginan untuk menyelenggarakan kegiatan kecil untuk membatalkan niat ingsun acara KIDUNG PANSELA—gelaran kultural yang menghadirkan ragam kesenian di kawasan pantai selatan Jember—yang semestinya dilaksanakan pada Oktober 2019 tetapi tidak ada kejelasan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember,  pengurus DeKaJe beberapa kali mencari lokasi yang cocok. Karena lokasi harus di pantai selatan, pengurus DeKaJe menentukan beberapa lokasi alternatif, seperti Muara Sungai Getem, Pantai Pancer, kawasan dekat Tempat Pelelangan Ikan Puger, Pantai Paseban Kencong, dan beberapa tempat lainnya.

Survei pun dilakukan selama beberapa kali. Namun, tak satupun lokasi yang dirasa sesuai dengan konsep yang disiapkan pengurus DeKaJe. Atas saran Suharto alias Mak Ndon, dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember dan anggota Dewan Pakar DeKaJe, pengurus pun bergerak ke Desa Lojejer untuk menemui Bu Sartin, salah satu juragan jaranan yang kabarnya tinggal di Lojejer. Sayangnya, salah satu tetangganya mengatakan dia sudah pindah.. Karena masih ingin bertemu Bu Sartin kami pun mencari warung di pinggir jalan raya Wuluhan Puger, tapi, lagi-lagi, tidak bertemu. Meskipun demikian, pengurus DeKaJe sepakat bahwa lokasi yang tepat untuk gelar budaya adalah Lojejer, entah di mana.

Dari komunikasi yang dilakukan Eko Suwargono (Kang Eko), Ketua Umum DeKaJe, dengan beberapa seniman di Wuluhan, dicapailah kesepakatan awal soal Lojejer sebagai lokasi pertunjukan. Maka, Kang Eko dan saya pun meluncur ke rumah Pak Natun, Ketua Jaranan Citra Budi Luhur, di Lojejer, untuk menemui beberapa seniman Rakjat dan pengurus DeKaJe Wuluhan. Setelah 1,5 jam perjalanan dari Kampus Universitas Jember, kami pun sampai di lokasi. Sambutan hangat dari Pak dan Bu Natun, Pak dan Bu Eko Sucahyo, Pak Samsuri, dan Mbah Sumari bereserta Istrii. Mereka semua adalah seniman Rakjat sekaligus pengurus DeKaJe Wuluhan. Kami pun segera larut dalam perbincangan terkait acara. Kang Eko menekankan bahwa gelar budaya akan menampilkan beberapa  kesenian Rakjat seperti jaranan, janger berdendang, barongan, dan rampak cemeti. Tidak lupa tumpeng untuk slametan juga disiapkan.

Gambar mungkin berisi: 7 orang, orang tersenyum, orang duduk
Suasana guyub dalam pertemuan di Rumah Pak Natun, Lojejer, 19 Desember 2019,
untuk persiapan acara.

Pak Eko Sucahyo dan para seniman pun menyepakati dan menawarkan Gethekan sebagai lokasi dengan alasan lokasinya berada di dekat muara sungai. Kami pun menyepakati Gethekan sebagai lokasi gelar budaya. Posisi di dekat muara sungai cukup strategis karena mendukung program kampanye ekologis. Maka, selepas Ashar kami semua menuju lokasi untuk memverifikasi kepatutan lokasi. Dari kunjungan tersebut dipastikan bahwa Gethekan bisa menjadi lokasi untuk gelar budaya yang melibatkan seniman Rakjat dan warga masyarakat Wuluhan dan sekitarnya. Kami pun diliputi rasa gembira karena satu pekerjaan awal sudah teratasi.

Gambar mungkin berisi: langit, tanaman, pohon, awan, luar ruangan, alam dan air
Suasana Gethekan Lojejer di sore hari.

Suasana senja di Gethekan benar-benar memukau. Air Bedadung yang jernih, hamparan sawah menghijau, angin semilir dari arah Bukit Watangan, dan para nelayan yang mempersiapkan kapal kayu motor menjadi orkestra menjelang petang yang sempurna. Suasana itulah yang menjadi inspirasi untuk memberi nama gelaran RAMPAK UJUNG GETHEKAN (RUG). Ketika saya tawarkan ke Kang Eko, dia pun segera menyepakatinya. Rampak berasal dari bahasa Jawa yang bermakna “selaras atau harmoni dalam permainan gamelan”. Ini menjadi makna filosofis dari ragam kesenian Rakjat yang akan ditampilkan dalam acara. Meskipun berbeda, mereka bisa membentuk pertunjukan yang harmonis karena energi masing-masing kesenian tersebut adalah ke-Rakjat-an yang berkarya dengan gembira. Kekompakan di antara para pengisi acara juga menjadikan pertunjukan bisa terjalin dengan baik. Sementara, “ujung” dipilih karena pertunjukan publik ini diselenggarakan di pinggir Gethekan. Konsep ujung dimaknai sebagai ruang liminal di mana manusia-manusia desa bisa bermain dan berkarya

Untuk mematangkan persiapan, pertemuan kembali diadakan di rumah Pak Sumari, Dusun Pumo, Desa Ampel, Wuluhan. Pada pertemuan yang diawali dengan makan malam bersama dengan bermacam menu ndeso seperti lodeh, urap-urap, tongkol, ayam pedas, dan yang lain itu, saya hadir bersama dengan Kang Eko dan Sony Cimot. Dalam forum rembugan, Pak Eko Sucahyo, mengutarakan bahwa para pengisi acara membutuhkan “uang untuk membeli es”, meskipun seniman lain agak berat mengutarakannya. Menanggapi itu, Kang Eko pun secara diplomatis menjelaskan bahwa RUG adalah gelaran gotong-royong yang sebelumnya tidak menganggarkan honor untuk pengisi acara. Namun demikian, pengurus DeKaJe akan tetap mrngusahakan biaya transport, khususnya yang berasal dari Wuluhan.  Adapun para penampil yang berasal dari luar Wuluhan sudah bersedia tidak dibayar karena mereka paham RUG adalah acara gotong-royong yang tidak mendapatkan anggaran dari Pemkab Jember. Dalam forum tersebut juga disepakati peran masing-masing pengurus DeKaJe Wuluhan.

Gambar mungkin berisi: 5 orang, termasuk Sony Cimot, orang tersenyum, orang duduk dan tabel
Suasana pertemuan di rumah Pak Sumari, Dusun Pumo, Ampel, 27 Desember 2019.

Perjalanan di atas menegaskan bahwa untuk sampai kepada RUG atau kegiatan-kegiatan lainnya dibutuhkan kejelian dan keliatan dalam mengelola permasalahan yang berkembang. Permasalahan ekonomi yang dihadapi para seniman memang tidak bisa diselesaikan hanya dengan retorika pelestarian budaya. Meskipun tidak seberapa, mereka tetap membutuhkan uang untuk, setidaknya, membeli beras. Untuk itulah, uang transport tetap perlu dipenuhi, meskipun jumlahnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan dan dedikasi para seniman Rakjat untuk menyukseskan RUG 2019. Perjuangan untuk memajukan budaya, bukanlah persoalan sepele yang bisa diselesaikan hanya dengan tepuk tangan dalam seminar di hotel berbintang. Lebih dari itu, permasalahan yang tampak sepele sejatinya harus dipahami dan diselesaikan agar permasalahan yang lebih besar tidak muncul dan mengganggu kerja-kerja budaya.

Beragam atraksi kultural di pinggir kali

Segala perjuangan pasti membuahkan hasil, sesederhana apapun. Itu pula yang saya dan pengurus DeKaJe rasakan ketika menyaksikan anak-anak SD dengan jaranan dari pelepah pisang tengah menyiapkan diri. Bersama para pelaku rampat cemeti dan rampak barong, mereka berbaris rapi di pos kamling sebelum akhirnya berjalan ke arah makam pedhanyangan Gethekan. Meskipun matahari nyumer, para pelaku tetap bersemangat. Di pinggir jalan dan di depan rumah, warga pun menyambut antusias arak-arakan. Anak-anak muda memainkan cemeti secara bergantian ditimpali para pembarong. 29 Desember 2019 menjadi saksi betapa dari kawasan dusun masih tumbuh dan berkembang energi untuk terus menghadirkan kesenian Rakjat di tengah-tengah gerak perubahan masyarakat.

Gambar mungkin berisi: 9 orang, orang berdiri, keramaian dan luar ruangan
Arak-arakan dari Makam Pedhanyangan sebagai pembuka RUG.

Sesampai di makam pedhanyangan, para sesepuh, pengurus DeKaje, dan beberapa perwakilan seniman, berdoa untuk arwah pendahulu yang telah mbabat alas untuk membuka wilayah yang sekarang dinamai Gethekan dan Lojejer. Selain itu, mereka juga berdoa agar seluruh rangkaian acara bisa berjalan dengan lancar. Lebih dari itu, menghormati para pendahulu merupakan kearifan lokal yang akan mengingatkan manusia-manusia masa kini bahwa ada perjuangan untuk menghadirkan kehidupan di masa lalu. Maka, menghormati di sini bukanlah tindakan syirik karena bertujuan baik. Bagi para seniman, pedhanyangan berperan penting karena arwah para leluhur merupakan energi yang diharapkan akan ikut mendorong doa mereka kepada Tuhan Sang Pencipta agar hajatan bisa berjalan lancar. Energi positif para leluhur juga diharapkan bisa menghindarkan pertunjukan dari energi negatif yang hendak mengganggu.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri dan luar ruangan
Rampak Barongan dalam arak-arakan.

Dari pedhanyangan, para seniman langsung bergerak menuju lokasi, pinggir Gethekan. Arak-arakkan anak-anak yang membawa jaranan dari pelepah pisang menghadirkan rasa dami dan adem di tengah cuaca yang nyumer. Gerak serempak para pemain cemeti, pembarong dan sesepuh memunculkan dinamika yang melahirkan kebanggaan akan gairah generasi penerus budaya lokal. Sementara, banyak analisis sosial menempatkan generasi muda sebagai kelompok rentan di tengah-tengah pengaruh budaya modern berorientasi global, ternyata di Jember masih ada anak-anak dan kaum remaja yang mau bercampur debu dan bermandi panas untuk menyukseskan RUG.

Gambar mungkin berisi: 12 orang, orang berdiri dan luar ruangan
Sony Cimot dengan pertunjukan teater publik OTAK BATU.

Di pertigaan, pelaku teater yang juga pengurus DeKaJe Suharsono, S.Sn. alias Sony Cimot menyambut arak-arakkan dengan pertunjukan teater publik Otak Batu. Menggunakan daun pisang sebagai payung, Sony Cimot melakukan gerak tubuh sederhana yang mengirim pesan bahwa semestinya pemerintah memperhatikan para seniman Rakjat yang sudah menempatkan diri mereka sebagai para pelaku yang memperjuangkan kebudayaan. Sayangnya, banyak birokrat budaya yang berotak batu dan sering melakukan kongkalikong dengan pihak-pihak yang bisa diajak kerjasama. Kritik itu ia sampaikan dengan cara mengangkat batu besar. Meskipun demikian, bukan tidak mungkin para seniman mengalahkan para otak batu. Para seniman bisa terus membangun solidaritas dan kerjasama untuk melawan para birokrat ber-otak batu. Tanpa itu semua, para seniman akan terus berada dalam posisi subordinat dan menjadi mainan para birokrat. Arak-arakkan dan pertunjukan teater publik mengawali usaha sederhana untuk menciptakan ruang kultural di mana para seniman bisa mengekspresikan dan menghadirkan karya-karya terbaik mereka kepada publik.

Gambar mungkin berisi: 11 orang, orang tersenyum, orang berdiri dan luar ruangan
Anak-anak antusias memainkan jaranan pelepah pisang.

Jaranan pelepah pisang yang dimainkan anak-anak SD menjadi pembuka gelaran di pelataran salah satu warga di pinggir Gethekan. Puluhan anak-anak menari berputar. Tentu saja, saat ini anak-anak desa sudah semakin jarang bermain dengan menggunakan jaranan pelepah pisang. Dunia mereka hari ini adalah dunia televisi dan game yang semakin mudah diakses melalui piranti gadget milik orang tua mereka atau milik mereka sendiri. Dunia anak-anak desa hari sudah berubah dari dunia anak-anak pada era 1990-an. Meskipun tidak secepat anak-anak kota dalam mengakses teknologi, anak-anak desa di era 2000-an adalah subjek yang sudah terbiasa dengan budaya gadget, internet, dan game. Usaha para seniman Wuluhan untuk menghadirkan jaranan pelepah pisang, meskipun terkesan romantik, merupakan tindakan strategis untuk membawa kembali benda budaya masa lalu ke masa kini. Setidaknya, anak-anak masa kini jadi tahu bahwa tanaman di sekitar mereka bisa dimanfaatkan untuk mainan yang tidak kalah serunya dengan game modern. Bahkan, anak-anak bisa bermain sembari berlatih fisik dan olah pikiran.

Gambar mungkin berisi: 4 orang, anak dan luar ruangan
Janger berdendang beralas tanah

Janger berdendang yang dipersembahkan seniman muda dari Jaranan Citra Budi Luhur Lojejer semakin memeriahkan suasana. Kesenian dari Banyuwangi ini cukup terkenal di kawasan Jember. Para seniman jaranan pun terbiasa dengan lagu Banyuwangian, baik dari era 1980-an maupun era 2000-an. Lagu Jaran Ucul merupakan menu wajib bagi para seniman jaranan ketika mereka pentas. Kesenian janger berdendang yang merupakan bentuk populer dari drama janger juga cukup digemari. Penyebarannya melalui VCD/DVD dan Youtube dengan cepat menjadikan janger berdendang digemari di Jember. Maka, para seniman jaranan ataupun para perempuan seniman ludruk juga mempelajari dan mementaskannya. Kehadiran janger berdendang dalam bentuk penari perempuan dan lelaki berpasangan dengan diiringi lagu Banyuwangian merupakan bukti bahwa budaya Jemberan terbuka terhadap budaya-budaya lain dari kabupaten tetangga. Mereka tidak merisaukan lagi masuknya budaya lain, tetapi bukan berarti kehilangan karakteristik etnis asal.

Gambar mungkin berisi: 10 orang, orang berdiri dan luar ruangan
Para jathil wedok unjuk kebolehan di tengah-tengah lingkaran pertunjukan

Tidak hanya berhenti di situ, hajatan ini dilengkapi dengan tari jathilan yang dipersembahkan empat perempuan muda dari Kelompok Jaranan Ajisoko, Jatigowok, Kesilir, Wuluhan. Para penonton semakin banyak dan membentuk formasi lingkaran. Lahan di pinggir kali penuh oleh ratusan penonton. Empat penari jathil menyapa mereka dengan gerakan-gerakan lincah layaknya kuda. Tidak lupa mereka juga memainkan gerakan tari yang mengadopsi goyang masa kini. Suasana semakin ramai ketika para tiga penari menyanyi lagu-lagu Banyuwangian dan campursari secara bergantian. Beberapa penonton pun nyawer, memberikan uang kepada para jathil dan tukang kendang. Saweran merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap karya kultural yang dihadirkan para jathil perempuan di tengah-tengah masyarakat. Bagaimanapun juga, mereka adalah sedikit perempuan muda yang berkenan menjadi jathil secara sukarela. Kesadaran kultural tersebut patut diapresiasi, meskipun uang saweran tentu tidak cukup. Mereka berani melampaui stigma negatif seorang jathil wedok. Sejak awal mereka sadar bahwa menjadi jathil tidak akan cukup digunakan untuk membeli bedak. Namun, keinginan untuk ikut mempertahankan kesenian Rakjat di tengah-tengah kehidupan modern mereka merupakan sebuah pilihan esksistensial harus dihormati sebagai bentuk kepedulian generasi muda, tidak perlu lagi dicarikan reasoning yang terlalu mbulet.

Gambar mungkin berisi: 11 orang, orang tersenyum, sepatu dan luar ruangan
Para jathil sedikit bergoyang

Hal lain yang menarik untuk dicermati adalah realitas estetik tari jathil yang dicampur dengan lagu campursari dan Banyuwangian. Memang, ini bukanlah sesuatu yang aneh, karena sejak awal 2000-an, trend mencampur jaranan dengan musik dangdut berkembang pesat. Biaanya, ada penyanyi khusus yang menyanyikan lagu-lagu yang sedang booming atau lagu-lagu terkenal yang dipesan para penggemar. Adapun para jathil hanya menari di kalangan. Sementara dalam tampilan jahil wedok di RUG, para jathil juga ikut menyanyi. Ketika seorang jathil menyanyi, para jathil lain tetap menari. Realitas hibrid tersebut merupakan respons kreatif para seniman jaranan terhadap perkembangan musik di era internet dewasa ini di mana lagu-lagu populer dari Banyuwangi dan Jawa Tengah serta Jakarta bisa diakses dengan mudah. Maka, menghadirkan lagu-lagu populer merupakan strategi kultural agar kesenian jaranan tetap digemari masyarakat. Tentu saja, pilihan ini bukanlah sebuah kekalahan dalam menghadapi modernitas, tetapi sebuah siasat untuk bergerak secara liat dan lentur dalam gelombang perubahan selera masyarakat desa.

Gambar mungkin berisi: 15 orang, orang tersenyum, orang berdiri dan luar ruangan
Jaran kincak pun mempesona

Jaran kincak juga dihadirkan dalam lingkaran pertunjukan. Kuda dengan bermacam hiasan melakukan atraksi joget mengikuti alunan musik para pengrawit. Atraksi tersebut menegaskan bahwa si pemilik kuda memiliki kesabaran dan ketelitian untuk melatih piaraannya. Meskipun tidak sehebat pemain sirkus, kemampuan tersebut tentu membutuhkan kecakapan tersendiri. Selain menghibur dengan jogetan, penonton anak-anak juga diperkenankan untuk naik kuda, mengelilingi arena. Tentu saja, adegan tersebut membuat penonton semakin antusias. Meskipun mereka sudah terbiasa dengan ragam acara di televisi, kehadiran jaran kincak tetap memukau karena tidak setiap saat mereka bisa menontonnya. Artinya, di tengah-tengah modernitas yang sudah semakin biasa mereka rasakan, warga desa sejatinya masih menyimpan endapan-endapan rindu terhadap kesenian Rakjat.  

Gambar mungkin berisi: 2 orang, keramaian, langit dan luar ruangan
Atraksi cemeti yang memukau penonton

Rampak cemeti yang dipersembahkan oleh Komunitas Cemeti Sodho Lanang Jember (KCSL) menyemarakkan lingkaran penonton dengan suara yang menggetarkan ruang Gethekan. Penonton pun dibuat kagum kepada kemampuan para seniman muda. Beberapa pemain cemeti melakukan atraksi tunggal dengan cambuk seolah membela langit biru. Tidak ketinggalan pula, pemain meminta pengurus DeKaJe untuk terlibat dalam atraksi. Si pemain melecutkan cemeti ke arah lengan salah satu pengurus DeKaJe. Karena latihan rutin yang mereka jalani, cemeti pun tidak menimbulkan rasa sakit. Empat puluh anggota KCSL ikut meramaikan acara RUG tanpa meminta bayaran maupun uang transport. Mereka dengan sukarela mengisi acara karena tahu apa yang dilakukan DeKaJe bukanlah sesuatu yang mendatangkan keuntungan komersil serta bertujuan untuk memajukan budaya lokal. Samahalnya dengan para jathil perempuan, komitmen para pemain cemeti merupakan sebuah penanda penting bahwa masih ada generasi muda yang berhasrat dan berkehendak untuk ikut berpartisipasi. Mereka tanpa paksaan masuk ke dalam proses regenerasi sebagai ujung tombak pemertahanan kesenian Rakjat. Di tengah-tengah kesibukan bekerja sebagai buruh, mereka masih meluangkan waktu untuk berkumpul, berdiskusi, dan berlatih rampak cemeti. Bahkan, mereka juga memperluas jaringan hingga sampai ke Lumajang.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, keramaian, pohon dan luar ruangan
Rampak Barong penuh warna

Rampak barong menjadi atraksi penutup dalam RUG. Lebih dari sepuluh barong yang dimainkan para seniman muda dari Wuluhan dan Puger menghadirkan gerakan akrobatik binatang mitologis naga. Lagi-lagi, anak-anak muda menjadi pelaku utama atraksi barongan. Kebiasaan menonton kesenian jaranan sejak kecil memunculkan rasa senang yang mendorong mereka ikut berlatih dan bermain kesenian barongan. Apa yang cukup menarik adalah solidaritas pemain jaranan dari Puger yang datang ke RUG tanpa meminta honor pertunjukan karena memang niat ingsun acara ini, sama sepertihalnya pemain cemeti. Meskipun dalam pertunjukan untuk hajatan atau 17-an mereka selalu mendapatkan honor melalui para ketua atau juragan, masih ada energi komunal untuk menghadirkan karya kultural tanpa honor ketika pertunjukan diarahkan untuk kepentingan khusus seperti yang dilakoni oleh DeKaJe. Kesadaran seperti itulah yang semestinya harus terus dijaga karena berkaitan dengan gerakan bersama untuk menghadirkan ruang-ruang kultural di tengah-tengah masyarakat.

Tumpengan sederhana: Memperbaiki relasi antarkosmos dalam lelaku ekologis

Slametan atau ritual dengan tumpeng dan sesajen lainnya menjadi penutup gelaran RUG. Slametan dalam tradisi Jawa merupakan usaha untuk berkomunikasi kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan semua kekuatan adikodrati tak tersentuh tetapi bisa dirasakan kekuatannya oleh jagat kecil (mikrokosmos). Sungai Bedadung dengan air dan segenap ekosistemnya diyakini oleh masyarakat memiliki para penjaga ghaib yang untuk mengawal kehadiran sungai ini dalam kehidupan masyarakat Jember. Warga tentu bisa menafsir berdasarkan empiri mereka tentang wujud atau sosok penjaga tersebut. Setidaknya, mereka bisa merasakan keberadaan makhluk penunggu itu. Slametan berfungsi sebagai sarana untuk memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar kekuatan adikodrati tersebut tetap menjaga Bedadung dan segenap ekosistemnya.

Gambar mungkin berisi: 21 orang, termasuk Eko Suwargono, keramaian dan luar ruangan
Para pinisepuh memimpin slametan

Dalam pemahaman demikian, slametan yang dilakukan dalam RUG merupakan sebuah lelaku ekologis untuk mengusahakan komunikasi harmonis antarkosmos agar ekosistem sungai tetap bisa dijaga. Tentu saja tantangan terbesar dari lelaku ini adalah mengajak masyarakat untuk memiliki kepekaan dan kesadaran ekologis untuk ikut menjaga lingkungan Bedadung. Apalagi, di wilayah Gethekan tanah pinggir sungai sudah tergerus oleh air ketika volume Bedadung meningkat di musim hujan. Pada masa lalu, masih terdapat barongan (rumpun bambu) yang bisa menahan tanah. Hilangnya barongan menjadikan air semakin leluasa menggerus tanah. Beberapa rumah yang dekat dengan pinggir sungai pun berada dalam kondisi berbahaya. Setidaknya, warga, melalui slametan bersama ini juga diingatkan bahwa menjaga kawasan pinggiran sungai dengan menanam pohon dan tidak membuang sampah anorganik sembarangan akan memberi keuntungan kepada mereka.  

Gambar mungkin berisi: 13 orang, termasuk Eny Sofie, orang tersenyum, keramaian, topi dan luar ruangan
Para seniman dan warga menikmati tumpeng

Selain kepada warga di sekitar Gethekan, slametan ini juga mengirim pesan kepada warga Jember yang ada di kawasan Bedadung, dari hulu hingga hilir, bahwa mereka memiliki tanggung jawab ekologis secara komunal. Meskipun warga di kawasan muara tertib dalam menjaga ekosistem sungai, kalau mereka yang berada di wilayah kota, misalnya, masih membuang sampah plastik sembarangan, tentu kehidupan sungai tetap terganggu dan berada dalam kondisi berbahaya. Kesadaran komunal terhadap tanggung jawab ekologis itulah yang menjadi salah satu target gerakan kultural DeKaJe. Tentu saja, ke depan kerjasama dengan dinas-dinas terkait bisa dilakukan, tanpa melupakan pendekatan kultural kepada komunitas di pinggir Bedadung. Kita bisa membayangkan seandainya tidak ada lagi atau terjadi penurunan jumlah sampah plastik atau limbah berbahaya yang masuk ke sungai, tentu kesehatan ekosistem bisa lebih terjaga dan akan memberikan lebih banyak manfaat untuk warga Jember. Di situlah signifikansi gerakan kultural berdimensi ekologis yang dilakukan DeKaJe bersama para seniman dan Rakjat. Sesederhana apapun, akan ada ingatan dan pesan yang disampaikan kepada publik dengan cara-cara non-dogmatis.

Terus mengusahakan ruang kultural

Pemerintah pusat memang sudah menyiapkan Undang-undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan untuk membuat kebijakan dari pusat hingga daerah tentang usaha-usaha strategis dalam mengembangkan dan memajukan budaya bangsa. Meskipun masih banyak kendala dalam penerapannya, khususnya terkait koordinasi pemerintah pusat dan daerah serta implementasi tanggung jawab masing-masing pihak, UU No. 5 Tahun 2017 memberikan jaminan akan usaha-usaha pemajuan terhadap objek kebudayaan di mana ritua dan kesenian menjadi salah satu bagiannya. Salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah mengusahakan ruang budaya di banyak wilayah Indonesia.

Gambar mungkin berisi: 25 orang, orang berdiri, keramaian dan luar ruangan
Para penonton lintas generasi

Ruang budaya bukan hanya berupa bangunan megah seperti taman budaya dan gedung kesenian. Lebih dari itu, ruang budaya merupakan tempat yang mempertemukan para seniman, pelaku budaya, dan warga masyarakat dalam beragam aktivitas berwarna egaliter. Mereka saling menghormati dan mengapresiasi dalam semangat kesetaraan. Dalam ruang tersebut, para seniman bisa menyuguhkan karya kreatif kepada masyarakat, agar mereka bisa terhubung dengan kekayaan budaya lokal. Meskipun tidak memahami makna keseluruhan dari sebuah pertunjukan, setidaknya mereka bisa menangkap bentuk dan makna lokalitas yang mengikat solidaritas masyarakat. Kehadiran kesenian, riatual, ataupun praktik kultural lain membuat mereka senang dan bisa merasakan perasaan sama dengan warga lainnya. Proses tersebut akan terus menginterpelasi pikiran dan batin mereka tentang tatanan estetik dengan karakteristiknya yang diwariskan secara turun-temurun melalui proses regenerasi.

Gambar mungkin berisi: 15 orang, orang tersenyum, anak dan luar ruangan
Menikmati rampak cemeti

Proses menyukai inilah yang bisa menumbuhkan beberapa keinginan untuk terlibat dalam pemajuan budaya lokal. Para penonton, khususnya anak-anak dan generasi muda, tertarik untuk ikut berlatih atau bergabung dalam kelompok atau paguyuban kesenian. Kedua, para penonton yang sudah berkeluarga akan tertarik untuk nanggap kesenian yang mereka lihat dalam hajatan keluarga atau peringatan hari besar nasional. Implikasi ini tentu sangat membantu para seniman dan komunitas seni Rakjat untuk bisa survive di tengah-tengah selera kultural menjadi modern di ruang desa. Lebih dari itu, dengan disaksikan banyak penonton, para seniman akan tertantang untuk memberikan karya terbaik. Proses latihan internal secara rutin di masing-masing komunitas tentu akan melahirkan sajian kreatif yang bisa dinikmati oleh warga masyarakat. Implikasi-implikasi positif dalam ruang budaya itulah yang harus terus diperluas oleh institusi kebudayaan dan pemerintah sehingga pemajuan kebudayaan benar-benar bisa dirasakan dampaknya oleh para seniman, pelaku budaya, dan masyarakat.

Gambar mungkin berisi: 12 orang, orang tersenyum, luar ruangan
Menunggu kawan yang sedang beraksi dengan gembira

Sangat disayangkan kalau institusi pemerintah dengan anggaran besar tidak memiliki kepekaan dan nalar kreatif untuk terus mengusahakan dan memperbanyak ruang-ruang budaya. Maka, gerakan DeKaJe untuk terus melahirkan ruang budaya di banyak wilayah Jember merupakan kontribusi nyata terhadap kerja-kerja pemajuan budaya yang seharusnya tanggung jawab terbesarnya berada di tangan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud). Keterjebakan kepada realisasi program formal yang tidak terlalu kreatif tetapi bisa digunakan untuk mencairkan anggaran merupakan salah satu faktor lemahnya usaha nyata Disparbud dalam mengusahakan dan memperbanyak ruang budaya di Jember.

Share This:

About Ikwan Setiawan 202 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*