Mantra dari Kali Bedadung: Slametan dan pergelaran seni sebagai kritik terhadap kebijakan budaya di Jember

IKWAN SETIAWAN

4 Desember 2019, selepas Maghrib, puluhan seniman janger dan jaranan berkumpul untuk make up di rumah sederhana milik Pak Totok–seorang pengrawit janger dan jaranan–di kawasan Antirogo Jember. Mereka tengah mempersiapkan diri untuk menggelar acara sederhana yang diinisiasi oleh Dewan Kesenian Jember (selanjutnya disingkat DeKaJe).  Di teras rumah, beberapa pengurus DeKaJe dan penggiat sosial berdiskusi tentang kebijakan budaya di Kabupaten Jember yang tidak juga menemukan titik terang. Para seniman, pengurus DeKaJe, dan penggiat sosial berkumpul untuk mengadakakan slametan—ritual—di Kali Bedadung. Dengan mengandalkan dana gotong-royong hasil patungan pengurus DeKaJe dan sumbangan sukarela warga, slametan ini bisa diwujudkan. 

Berbincang sembari menunggu acara dimulai

Tujuan utama dari slametan ini adalah sebagai upaya untuk menggugurkan “niat ingsun” atas program yang sudah diajukan oleh DeKaJe ke Pemkab Jember, Romansa Bedadung yang rencananya akan diselenggarakan pada bulan Oktober 2019 di Kali Bedadung dekat Lapangan Kecamatan Arjasa. Sayangnya, Pemkab Jember tidak menindaklanjuti usulan tersebut, meskipun Romansa Bedadung sudah sempat muncul dalam baliho yang dipasang di sebelah samping Kantor Pemkab Jember. Sebagai slametan kecil, acara malam itu memang tidak bisa menggantikan rencana acara di Arjasa yang memang diorientasikan menjadi gelaran besar yang memadukan ragam kesenian Madura dan gerakan ekologis di bantaran Sungai Bedadung. Setidaknya, slametan ini secara spiritual bisa membebaskan pikiran dan batin para pengurus DeKaJe dari beban untuk menyelenggarakan Romansa Bedadung.

Menghadirkan ritual di tengah sungai

Slametan di Kali Bedadung Antirogo tidak melupakan tujuan awal Romansa Bedadung, yakni gerakan kultural yang membawa misi ekologis. Tujuan tersebut merupakan karakteristik sebagian besar kegiatan kultural yang dilakukan oleh DeKaJe. Bukan kegiatan berskala megah yang hanya menghadirkan kesenian rakyat ataupun kesenian garapan. Lebih dari itu, dalam hajatan kultural harus selalu muncul hajatan ekologis, sesederhana apapun. Sungai Bedadung, harus diakui, merupakan  entitas alam yang berperan penting dalam kehidupan warga Jember. Bersumber dari pegunungan Hyang di utara dan bermuara di kawasan selatan, Puger, sungai ini berkonstribusi dalam bidang pertanian, perikanan, dan aktivitas sehari-hari warga. Maka, tidak ada salahnya, dalam setiap pertunjukan, selalu diselipkan ritual untuk mendoakan semesta serta ajakan untuk memelihara ekosistem sungai.

Para seniman membawa perlengkapan ritual menuju Kali Bedadung

Untuk kepentingan ritual itulah, acara dimulai dengan pemberangkatan seniman yang terlibat. Dipimpin seorang seniman mamacah (macapat dalam tradisi Madura) yang menembangkan sebuah tembang, seorang seniman jaranan membawa tumpeng dan diikuti para penari dan penyanyi janger serta para pengurus DeKaJe dan aktivis sosial. Suasana sakral mulai terasa ketika arak-arakan kecil ini bergerak melewati jalan sempit menuju sungai. Warga pun berjajar menunggu arak-arakan yang bergerak, turun ke kali. Suasana malam tidak menjadikan para seniman mengendurkan niat. Suara rancak gamelan janger menyambut kedatangan anggota arak-arakan yang satu per satu harus menyeberangi air sungai. Mereka menuju delta kecil penuh bebatuan.

Ketua Umum DeKaJe didampingi 3 penari dan beberapa pengurus memberikan sambutan

Setelah tumpeng diletakkan di tengah delta, Ketua DeKaJe, Eko Suwargono, didamping tiga penari janger dan beberapa pengurus langsung membuka acara. Tanpa basa-basi, Kang Eko, begitu ia biasa dipanggil, membuka acara. Dalam sambutannya ia mengatakan bahwa slametan kecil ini merupakan ‘pengganti’ Romansa Bedadung yang tidak mendapatkan persetujuan dari Pemkab Jember, tanpa alasan yang jelas.

“Meskipun sederhana, mari kita kirimkan pesan kepada pemimpin Jember dan dinas terkait. DeKaJe masih mempunyai daya dan kekuatan untuk terus bergerak. Bersama para seniman dan Rakjat, mari kita terus berkarya. Biarlah selamatan kecil ini menjadi ‘pengganti’ Romansa Bedadung yang tidak jelas nasibnya. Kita bersama-sama disaksikan Gusti Alloh dan semua pedhanyangan penjaga sungai ini menyelenggarakan acara sederhana untuk menggugurkan niat ingsun. Meskipun Pemkab tidak mau bersama kita, tidak apa-apa, kita kirimkan doa dan mantra serta kita persembahkan karya sebagai bentuk perjuangan untuk memperjuangkan apa yang menjadi kekayaan kita, kebudayaan. TIdak lupa saya juga mengajak warga yang sehari-hari memanfaatkan Kali Bedadung dan warga Jember secara umum, mari menjaga batin, agar tidak mudah membuang sampah atau limbah lain ke air sungai yang banyak membantu warga Jember.”

Apa yang disampaikan Kang Eko merupakan pesan yang cukup jelas dan tegas. Boleh saja Pemkab tidak memberikan dana kegiatan DeKaJe, termasuk Romansa Bedadung, namun lembaga ini tidak akan pernah mundur dalam berkegiatan. Bagi lembaga lain yang memang ingin mendapatkan dana melimpah dan mencari keuntungan dari aktivitas kesenian yang mereka lakukan, apa-apa yang dilakukan DeKaJe memang terlihat konyol. Tanpa biaya, tanpa perhatian Pemkab. Padahal semua pengurus mendapatkan SK dari Bupati Jember. Mereka memutuskan untuk bergerak dari wilayah pinggiran, bersama para seniman dan Rakjat. Membiasakan urunan atau patungan setiap kali mau mengadakan gelaran kultural. Sejatinya, kerjasama harmonis dengan para seniman dan Rakjat itulah yang menjadikan DeKaJe masih ada.

Sony Cimot dalam pertunjukan monolog TEPUK BATU.

Selesai sambutan Ketua Umum DeKaJe, Suharsono alias Sony Cimot, seniman teater dan pengurus DeKaJe melakukan monolog TEPUK BATU. Dia menggunakan dua buah batu dari Kali Bedadung untuk ber-acting. Sembari memukul-mukulkan kedua batu, Cimot mengalirkan banyak pernyataan puitik melalui mulut lantangnya. TEPUK BATU ditujukan sebagai bentuk kritik kepada kekakuan dan kekerasan hati para penentu kebijakan budaya di Jember yang menutup mata atas apa yang terjadi dalam kehidupan para seniman. Mereka yang mengeraskan hatinya dan memilih tidak peduli terhadap usaha pemajuan kebudayaan yang dilakukan DeKaJe dan para seniman Rakjat adalah batu-batu yang keras dan kaku.

Maka, melalui gelaran sederhana di delta kecil Bedadung, DeKaJe mengirim sinyal kepada Pemkab Jember. Penolakan tanpa penjelasan atas Romansa Bedadung boleh saja dilakukan. Namun, DeKaJe bukanlah lembaga lembek yang mudah putus asa dan tidak bisa berbuat apa-apa tanpa uang APBD. Mungkin, banyak pihak mengira bahwa ketidakpedulian Pemkab Jember terhadap DeKaJe akan menjadikan lembaga ini ‘mati perlahan-lahan’. Mungkin banyak yang menyangka bahwa banyaknya pengurus DeKaJe yang mundur karena ketidakjelasan anggaran akan membut organisasi ini sekarat. Apa yang mereka lupa adalah pengurus DeKaJe yang masih bertahan dan terus ‘bergerilya’ di tengah-tengah warga Jember merupakan manusia-manusia yang sudah digembleng pengalaman berkebudayaan selama puluhan tahun. Mereka lupa pengurus DeKaJe yang bertahan adalah manusia-manusia yang memiliki komitmen batin untuk terus berkarya demi keragaman budaya Jemberan yang sangat indah. Mereka lupa bahwa doa para seniman Rakjat yang benar-benar paham bagaimana gerakan lembaga ini akan menjadi energi dan penerang jalan yang ditempuh.

Berdoa untuk kelancaran usaha pemajuan kebudayaan dan kebaikan Kali Bedadung

Sebagai bentuk doa kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan penghormatan kepada para penunggu Sungai Bedadung, dari hulu hingga hilir, ritual berupa slametan yang dipimpin Suharto alias Mak Ndon pun laksanakan penuh khidmat. Suasana sakral segera memenuhi ruang pergelaran bersama gemericik aliran sungai, gerakan lambat daun bambu, dan diamnya bebatuan. Para pengurus DeKaJe, seniman, dan warga Antirogo hanyut dalam doa dan harapan agar keinginan untuk terus mengembangkan budaya lokal bisa menemukan jalan terbaik. Tidak lupa, doa agar mereka yang menghalangi kegiatan kebudayaan yang dikoordinasi oleh DeKaJe segera menyadari semua kesalahan mereka sebelum Tuhan bertindak. Selain itu doa juga dihaturkan untuk keselamatan Sungai Bedadung agar selalu bisa memberikan yang terbaik kepada warga. Kepada para penunggu pedhanyangan Bedadung, doa terbaik juga dikirimkan agar mereka selalu membersamai sungai dan segala isinya.

Pertunjukan sederhana di tengah Bedadung

Untuk melengkapi ritual, janger berdendang (frgamen musikal dari drama janger Banyuwangi) dan atraksi Leak juga dihadirkan di delta kecil. Tiga penyanyi dan penari Janger mengawali pertunjukan dengan suara dan tarian mereka. Beberapa pengurus DeKaJe pun larut dalam tarian sederhana dengan iringan gamelan nan rancak. Tradisi nyawer pun tidak ketinggalan sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi para perempuan seniman dan pengrawit. Ratusan penonton yang berada di pinggir sungai pun asyik mengikuti pertunjukan sembari memotret dan mem-video-kan dengan telepon seluler mereka.

Para penyanyi dan penari janger berdendang menghibur warga

Secara kritis, pertunjukan janger berdendang ingin menunjukkan kepada para penentu kebijakan budaya di Jember bahwa meskipun DeKaJe dan para seniman Rakjat tidak mendapatkan anggaran khusus, mereka tetap bisa bergerak dengan riang gembira. Mereka bisa terus menjalankan amanah Undang-undang Pemajuan Kebudayaan Tahun 2017, meskipun dengan cara sederhana. Itu semua bisa berlangsung karena masih ada keyakinan terhadap adat gotong-royong yang bisa menyelesaikan bermacam masalah, termasuk masalah pendanaan. Kebiasaan jagongan (berbicara santai untuk menyelesaikan masalah) bersama para seniman, pemerintah desa, dan warga, menjadikan DeKaJe bisa bertahan dan bisa menghadirkan aktivitas-aktivitas kebudayaan. Banyak pihak yang tidak suka dengan DeKaJe menghina bahwa lembaga ini tidak akan bisa berkegiatan karena tidak ada anggaran dari Pemkab Jember. Kenyataan membuktikan, pengurus DeKaJe beserta para seniman dan warga Antirogo masih bisa menggelar pertunjukan sederhana yang menandai kekuatan kultural mereka.

Leak mendekati tiga penari janger

Setelah beberapa lagu dan tarian, musik janger berubah menjadi bernuansa mistis. Tidak lama kemudian, dari arah barongan (rumpun bambu) di pinggir sungai, muncul sosok leak. Ia menuruni lereng sungai dengan gerakan-gerakan dinamis. Segera ia menuju delta sungai hendak ‘mengganggu’ para penari, pengurus DeKaJe, dan warga. Ia bergerak cepat berkeliling lokasi pertunjukan. Lebih dari 10 menit ia melakukan tarian-tarian khas leak Bali. Tidak lama kemudian, leak mengarah kepada ketiga penari. Para penari berusaha menenangkannya dengan tarian. Si leak pun diam dan menghaturkan rasa hormat kepada ketiga penari sebagai simbol Dewi penunggu Bedadung. Akhirnya, leak memilih untuk naik ke lereng sungai dan menghilang di barongan. Sebagai penutup, penari janger mengajak warga untuk menari.

Leak mendekati sesajen slametan

Adegan leak ini menggambarkan gangguan demi gangguan yang menghalangi perjalanan dan gerakan DeKaJe bersama para seniman Rakjat dan warga masyarakat. Gangguan tersebut bisa berasal dari dalam, yakni pengkhianatan beberapa pengurus setelah mengetahui ketidakadaan anggaran dana dari Pemkab atau setelah sadar bahwa mereka tidak bisa memanfaatkan lembaga ini untuk kepentingan oportunis dan pragmatis. Mereka memilih keluar atau tidak aktif. Gangguan kedua berasal dari pihak-pihak yang tidak ingin melihat DeKaJe bisa terus hidup dan bergerak mendampingi para seniman. Mereka memosisikan DeKaJe sebagai kompetitor yang bisa menghambat akses pendanaan dari dinas terkait. Gangguan ketiga berasal dari pihak-pihak di dinas-dinas terkait yang tidak suka kehadiran DeKaJe karena bisa mengganggu ‘kemapanan birokrasi budaya’ yang menguntungkan mereka.

Pengurus DeKaJe pun ikut menari

Pengurus DeKaJe yang digawangi akademisi dan para penggiat budaya, tidak pernah kompromi untuk kongkalikong yang merugikan para seniman dan masyarakat. Gangguan keempat berasal dari ketidakjelasan kebijakan budaya Pemkab Jember yang kurang berpihak kepada pemajuan kebudayaan. Namun, itu semua bisa diatasi dengan gotong-royong dan kekompakan, sepertihalnya kedua penari yang tetap tenang menghadapi leak. Sejatinya, gotong-royong dan kekompakan merupakan modal utama dalam usaha pemajuan kebudayaan.

Makan bersama sebagai penutup acara

Sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Mahaesa atas lancarnya acara, pengurus DeKaJe mengajak para seniman Rakjat yang terlibat beserta warga untuk makan bersama. Semua makanan disiapkan oleh warga. Meskipun sederhana, makanan tersebut bisa menjadi pengikat kebersamaan sekaligus menandai bahwa semua kerja pemajuan kebudayaan harus tetap dijalankan dengan penuh kebahagiaan. Antusiasme warga memberikan energi dan semangat khusus kepada para pengurus DeKaJe dan para seniman Rakjat untuk terus membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam mengembangkan budaya Jemberan yang cukup beragam. Tidak perlu bingung dengan identitas budaya—sampai-sampai harus memaksakan Pendalungan untuk semua warga Jember—karena takdir kultural Jember adalah keberagaman yang begitu indah.

Makan bersama selepas acara

Setidaknya, melalui slametan dan pertunjukan sederhana di delta kecil Kali Bedadung, pengurus DeKaJe, para seniman Rakjat, dan warga masyarakat mengirimkan kritik kepada dinas terkait di Pemkab Jember bahwa mereka masih “ada”, masih “hidup”, dan masih “bergerak”. Pemerintah yang semestinya bisa membuat kebijakan yang bisa mendorong dan menghidupkan aktivitas pemajuan kebudayaan, ternyata belum bisa diandalkan. Padahal, salah satu tugas penting mereka adalah mendesain dan menetapkan kebijakan budaya yang dampaknya bisa dirasakan oleh para seniman dan warga masyarakat sebagaimana amanah undang-undang. Pemkab Jember perlu terus diingatkan agar mereka tidak lupa bahwa kebudayaan di kabupaten ini cukup beragam dan bisa dikelola untuk keberdayaan seniman dan warga masyarakat.

Warga pun ikut menikmati hidangan

Kritik yang disampaikan melalui kegiatan ini, setidaknya, bisa menjadi penanda bahwa masih ada subjek yang tidak diam dan terus memperjuangkan gerakan budaya yang semestinya menjadi tanggung jawab Pemkab Jember. Kenyataan membutkikan, gerakan identitas Pendalungan yang sempat diramaikan oleh Pemkab Jember pada tahun 2016-2017, sudah tidak ada gaungnya lagi karena memang didesain atas nama proyek, bukan sebagai gerakan pemajuan kebudayaan. Apalagi banyak komunitas di Jember yang menentangnya. Tentu saja, hanya pihak-pihak tertentu yang diuntungkan. Sudah semestinya, Pemkab Jember mengusahakan kebijakan budaya yang lebih memperhatikan realitas kultural Jemberan yang cukup beragam tanpa harus terjebak pada identitas Pendalungan dan lebih mengarah kepada usaha pemajuan kebudayaan sebagaimana amanah UU No. 5 Tahun 2017. Selain itu, kebijakan budaya yang dibuat sudah seharusnya bisa diintegrasikan dengan gerakan ekologis serta pemberdayaan komunitas.

Share This:

About Ikwan Setiawan 202 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*