BHAKOH: Perjuangan petani tembakau dalam ‘kenakalan’ pertunjukan kolaboratif

IKWAN SETIAWAN

Sebuah pengantar menuju pertunjukan

Bagian depan Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Jember, 15 Desember 2019, dipenuhi seni instalasi dalam wujud akar yang terbuat dari daun-daun kering yang dirangkai, menyulur lebih dari 10 meter. Bagi saya, ini merupakan “pengantar” bagi pertunjukan kolaboratif Bhekoh (Tembakau) yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Kampus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (selanjutnya disingkat DKK). Sejak awal, tim kreatif pertunjukan ini ingin membawa imajinasi penonton ke dalam jagat petani dan buruh tani tembakau yang berliku, complicated, dan seakan tanpa ujung.  Di bagian samping pintu masuk PKM dipasang lukisan yang menghadirkan “pusaran daun kering” yang juga merepresentasikan persoalan tembakau yang melibatkan petani dan subjek lain dalam mata rantai produksi dan konsumsi. Banyak cerita keindahan tentang “emas hijau” yang menjadi andalan komoditas Jember sejak era kolonial hingga masa kini. Namun, semua kalkulasi ekonomi seringkali mengabaikan kompleksitas permasalahan yang dialami oleh para petani dan buruh tani.

Seni instalasi, pusaran daun kering, yang merepresentasikan betapa kompleksnya dunia tembakau. (Dok. Ardie DKK)

Pilihan untuk menghadirkan seni instalasi dan lukisan di bagian depan PKM bisa dibaca sebagai kecerdasan kreatif yang mengajak penonton untuk membangun asumsi akan maksud pertunjukan. Selain itu, dalam perspektif formasi wacana, instalasi dan lukisan itu menjadi bagian dari wacana jagat pertembakauan yang akan disajikan dalam pertunjukan kolaborati: drama, tari, dan musik. Harus saya akui, kesadaran untuk memanfaatkan ruang depan yang menghadirkan tuturan visual yang bisa menggiring asumsi ataupun opini tertentu. Tentu saja, pemahaman demikian membutuhkan kepekaan kreatif dan kritis atas teks yang disajikan. Saya bisa pada sampai pada cara baca demikian, karena menggunakan perspektif representasi[1] yang memosisikan semua teks kultural sebagai arena untuk memroduksi makna melalui bahasa atau memroduksi pengetahuan melalui wacana yang berkelindan dengan atau menjadi bagian tak terpisahkan dari kondisi historis partikular. Secara sadar tim kreatif menyuguhkan makna yang dikonstruksi dari tanda-tanda visual dalam seni instalasi dan lukisan. Secara sadar pula, mereka mengkonstruksi wacana yang berkontribusi pada pembentukan pengetahuan terkait dunia pertembakauan yang berkorelasi dengan wacana-wacana yang dihadirkan dalam pertunjukan Bhekoh. Asumsi itulah yang secara sadar saya bawa ketika dipersilahkan oleh MC untuk memasuki ruang pertunjukan bersama penonton hingga membaca lainnya: bahwa ada konstruksi diskursif yang ditawarkan oleh tim kreatif dalam pertunjukan.

Dunia Bhekoh, dunia siasat

Empat perempuan muda melakukan gerakan tari yang rancak dan lincah. Mereka adalah para buruh tani yang menikmati proses mengelola daun tembakau, setelah dipanen dari lahan. Sebagai penggambaran dari proses dalam kehidupan nyata, kelincahan para penari memang menghadirkan suasana ketika warga petani dan buruh tani mengelola daun tembakau. Kegembiraan dan kebahagiaan menjadi atmosfer yang dengan jelas tergambar karena mereka akan segera mendapatkan hasil dari jerih-payah dalam merawat tembakau. Para petani sudah mengeluarkan uang banyak untuk menyukseskan usaha penanaman tembakau. Wajar para petani membayangkan atau memimpikan hasil yang cukup menguntungkan. Berbagai macam kebutuhan keluarga akan tercukupi dan terbantu dengan keuntungan dari penjualan daun tembakau. Adapun para perempuan buruh tani sudah membayangkan upah dari proses pengelolaan tembakau pasca panen untuk mencukupi keperluan sehari-hari ataupun membayar hutang.

Sebagai sajian tari, keempat perempuan buruh tani memang berhasil menyuguhkan atmosfer kegembiraan dengan gerakan tangan, kaki, dan kepala yang lincah, serta memenuhi semua komposisi tubuh, dari berdiri, setengah berdiri, dan melantai. Sayangnya, gerakan tari yang ditawarkan memang masih berupa “gerakan indah dan lincah”. Tentu saja itu tidak menjadi masalah karena tubuh buruh tani adalah tubuh yang lincah meskipun seringkali dipandang tidak atau kurang indah. Kelincahan yang dihadirkan tubuh para penari yang memerankan perempuan buruh tani adalah “tubuh substansial” yang bisa melakukan banyak hal dalam kerja-kerja pertanian. Dalam gerakan-gerakan tari grouping lainnya, para penari masih menikmati gerakan-gerakan “indah dan lincah”. 

Perempuan buruh tani menari dengan riang gembira.

Dalam konteks tersebut, kekurangkreatifan koreografer/sutradara untuk mengeksplorasi gerakan-gerakan yang keluar dari pakem “gerakan tari indah” memang layak dikritisi. Ketika tim kreatif memiliki waktu observasi yang lebih lama serta telaah yang lebih kreatif dan kritis mereka menemukan karakteristik tubuh perempuan buruh tani dalam menjalani aktivitas sehari-hari dalam kerja pertanian, termasuk mengelola tembakau. Mereka adalah subjek yang memiliki kekuatan dan keliatan di tengah-tengah ketidakberdayaan ekonomi. Mereka adalah para perempuan yang memiliki tanggung jawab keluarga. Mereka adalah subjek yang disubordinasi dalam sistem patriarki, tetapi tidak sepenuhnya diam dan pasrah. Karakteristik-karakteristik subjektivitas itulah yang seharusnya dihadirkan dalam tubuh dan gerakan para perempuan buruh tani yang tengah menari. Pendalaman melalui “keterlibatan etnografis” dan penelusuran referensi kompleksitas bisa menjadi pintu masuk untuk mendapatkan karakteristik tubuh, permasalahan, dan harapan para perempuan buruh tani yang bisa menjadi dasar untuk menubuhkannya dalam gerakan tari. Tentu, tahapan ini menantang para penggiat kesenian di kampus karena jarang yang mau melakukannya, baik karena faktor biaya maupun kecukupan waktu.

Tidak hanya berhenti pada kegembiraan dan kebahagiaan menanti hasil panen, pertunjukan ini juga menghadirkan adegan-adegan drama berwarna realis tentang bagaimana keberadaan tengkulak dalam kehidupan petani. Seorang perempuan petani tembakau, Sariah, hidup sebagai janda yang mengelola lahan tembakau dibantu oleh para perempuan buruh tani. Sariah harus menjalani kondisi ini karena suaminya pergi entah kemana, meninggalkan anak semata wayang yang sering sakit dan membutuhkan biaya besar. Daun tembakau menjadi andalan Sariah untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi anaknya. Masalahnya, tengkulak bermuka manis selalu mematok harga yang tidak memberi keuntungan maksimal kepada petani. Rumus ini menjadi kelaziman karena si tengkulak juga ingin mendapatkan profit sebesar-besarnya. Sekuat apapun Sariah berusaha untuk menaikkan harga jual tembakau keringnya, tengkulak tetap memaksakan marjin keuntungan maksimal. Bahkan, kepada Sariah dan Monah, perempuan petani tembakau lainnya, si tengkulak menawarkan bibit tembakau yang ia klaim super. Keuntungan berlipat ganda dari pembelian daun tembakau kering dan penjualan bibit tembakau.

Tengkulak bertemu dengan Sariah dan Markona dakam adegan fragmen dramatik.

Bagi para penikmati apa yang dikatakan sendratari, kehadiran drama secara verbal yang melibatkan percakapan dan acting bisa saja mengganggu kemapanan pola pikir dan kenikmatan menonton mereka yang sudah terbiasa dengan gerakan-gerakan tari indah. Meskipun bukan hal yang baru dalam pertunjukan kolaboratif, pilihan menghadirkan beberapa fragmen harus dibaca sebagai keberanian kreatif sutradara/koreografer serta tim kreatif karena bukan bentuk yang lazim di Jember. Bahkan di Indonesia, pilihan untuk menghadirkan 50% adegan drama dan 50% adegan tari seperti dalam pertunjukan ini memang belum umum. Memang ini bisa berisiko ketika perpindahan dari tari ke drama tidak bisa berlangsung dengan lembut, tetapi masih mengandalkan mekanisme lampu black out. Sayangnya, mekanisme pergantian adegan drama ke tari atau sebaliknya dalam pertunjukan ini masih mengandalkanteknik lampu hidup-mati. Akibatnya, saya merasa kurang nyaman. Namun, hal ini tentu sudah dipikirkan secara masak oleh sutradara/koreografer dan tim kreatif. Bisa jadi mereka memang tidak ingin memberi penekanan semata kepada tari, tetapi juga kepada drama dan musik. Reasoning lebih masuk akal karena tidak ada bentuk gelaran yang mendominasi pertunjukan, hingga mereka tidak mempermasalahkan teknik pemunculan dan keluar bagi para pelaku, termasuk pergantian dari gerak tari ke drama dan sebaliknya.  

Meskipun memiliki kelemahan penggunaan adegan drama memiliki keuntungan, khususnya dalam menyamapaikan wacana yang dihadirkan dalam keseluruhan pertunjukan. Moda realis yang dipilih untuk adegan yang melibatkan tengkulak dengan perempuan petani, tengkulak dengan pembantunya, petani dengan para perempuan buruh tani, ataupun sesasama buruh petani perempuan. Percakapan ketika tengkulak merayu Monah untuk membeli bibit atau ketika ia menyatakan cinta, menghadirkan wacana kekuasaan patriarkal yang dimainkan dalam ranah profesional maupun kultural. Dalam aspek profesional, penerapan prinsip ekonomi untuk membeli harga murah dari petani tembakau menjelaskan “wacana kecurangan tengkulak” dan “kerugian petani” sehingga mereka harus bersusah payah untuk menutup semua kebutuhan yang dibutuhkan selama perawatan tanaman. Sementara, dalam hal cinta, kepemilikian uang berlimpah memunculkan keyakinan diri pada si tengkulak untuk menyatakan cintah ke Monah, meskipun si perempuan petani menolaknya. Wacana-wacana itu memudahkan penonton untuk menebak makna dan wacana yang disampaikan dalam gerak tari lain dalam pertunjukan Bhekoh.

Perempuan buruh tani menarikan aktivitas di ladang tembakau.

Penegasan permasalahan yang dihadapi petani dengan gamblang dimunculkan dalam gugatan-gugatan kecil Sariah terhadap si tengkulak. Ketika mengetahui tembakau yang berasal dari bibit yang ia beli dari tengkulak dihargai murah, Sariah tidak terima dan mencoba untuk bernegosiasi. Namun, si tengkulak dengan kuasanya tetap saja tidak bergeming. Meskipun ia sudah menaikkan harga, tetapi Sariah tetap tidak bisa menerimanya. Logika perlawanan perempuan petani tembakau dihadirkan untuk menegaskan bahwa Sariah dan juga petani-petani lain sudah seharusnya memiliki keberanian, karena merekalah yang memiliki tembakau, bukan tengkulak. Apa yang harus dicatat dari Sariah adalah tujuannya untuk segera membawa anaknya berobat sebagai kesadaran seorang ibu. Bagaimanapun juga, sebagai seorang ibu, ia bertanggung jawab sepenuhnya atas kesehatan buah hatinya. Karena biaya rumah sakit yang tidak murah, satu-satunya jalan adalah menaikkan harga jual tembakau pascapanen. Di sinilah, ada produksi pengetahuan ke-ibu-an (mothering) yang diposisikan sebagai kekuatan esensial sekaligus substansial ketika menghadapi permasalahan yang disebabkan oleh kekuasaan patriarkal, baik dalam relasi pernikahan maupun profesional. Sariah adalah korban dari kebrengsekan suaminya, tetapi ia tidak mau menyerah dengan mengabaikan anaknya. Sebagai ibu, ia memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan kehidupan buah hatinya. Dan, melawan kesewenang-wenangan tengkulak menjadi pilihan, meskipun itu juga tidak berakhir dengan kebebasannya.

Tengkulak mendatangi gudang tembakau Monah

Perlawanan terhadap kekuasaan tengkulak juga dilakukan oleh Monah. Merasa sudah diberikan janji indah oleh si tengkulak ia menunut harga tinggi. Sayangnya, keberaniannya menolak cinta si tengkulak harus dibayar mahal. Harga yang ditawarkan tengkulak jauh dari ekspetasinya. Ini yang membuatnya marah. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak kecuali mencari tengkulak lain yang mau membeli lebih mahal. Motivasi untuk mendapatkan keuntungan berlimpah agar kehidupan pribadinya bisa makmur, mendorong Monah untuk melakukan tindakan tegas, tetapi tidak sampai harus mengorbankan harga diri dan cintanya. Sekuat apapun nafsunya untuk menjadi sejahtera, masih ada nalar perempuan tegas dan kuat yang melekat pada tubuh dan pikirannya. Tubuh Monah-juga tubuh Sariah—adalah tubuh merdeka karena mereka memiliki keleluasaan dalam mengusahakan dan memperjuangkan kesejahteraan ekonomi. Mereka tidak bergantung kepada pihak lain. Kalaupun Monah harus menerima kenyataan bahwa tembakaunya dihargai murah oleh si tengkulak, setidaknya ia tidak harus menyerahkan cinta dan tubuhnya kepada si lelaki pembohong itu.

Seorang perempuan buruh tani menarikan fase batiniah yang dialami Sariah.

Bagi Sariah, “fase batiniah” harus ia tempuh untuk menumbuhkan kekuatan pasca permainan harga yang dilakukan si tengkulak terhadap tembakaunya. Bagaimanapun juga, melawan tengkulak memang tidak mungkin bisa dilakukan secara mutlak, dalam artian mengabaikan keberadaannya dalam jagat pertembakauan. Sariah dan banyak petani harus menjalani tahapan bertemu tengkulak sebagai bagian dalam mata rantai  pertembakauan yang bisa dikendalikan petani. Harga masih ditentukan oleh permintaan pabrik yang masih dimanfaatkan perantara tengkulak untuk mengambil marjin keuntungan. Menjadi wajar kalau Sariah harus mengalami fase batiniah yang digambarkan dengan adegan tari yang menghantarkan pada kontemplasi untuk menentukan apa yang harus ia lakukan. Si penari adalah representasi dari pergulatan batin dan usaha pemikiran yang dilakukan Sariah untuk menemukan solusi permasalahannya ketika si tengkulak tak mau lagi membeli tembakau yang bibitnya berasal dari dirinya. Fase kontemplasi-via-tari ini menjadi bentuk perjuangan mental yang harus dilakoni petani ketika mereka dituntut untuk memutuskan apa yang harus dilakukan dalam mata rantai tersebut.  Pada, akhirnya, Sarian menelepon tengkulak lain yang ia harapkan menawarkan harga lebih mahal. Panggilan telepon tersebut menutup pertunjukan sekaligus menawarkan plot terbuka.

Dalam tafsir kritis, semua adegan tari, drama, dan musik, pada akhirnya, bermuara pada perpindahan dari satu tengkulak ke tengkulak lain. Dunia pertembakauan tidak pernah berpihak secara maksimal kepada para petani karea selalu ada celah dan kesempatan yang dimainkan oleh tengkulak. Ada lorong panjang berliku yang harus dijalani oleh mereka. Ada banyak drama yang harus mereka hadapi dalam merawat dan menjual tembakau. Ada banyak kebahagiaan yang diimpikan. Namun, apapun kondisinya, semua berpulang kembali kepada subjek-subjek pengendali perdagangan tembakau yang tidak berpusat pada petani. Dalam kondisi demikian, saya melihat tim kreatif pertunjukan kolaboratif tidak hendak mengatakan bahwa belenggu tengkulak adalah takdir petani. Apa yang diungkapkan oleh para pelaku dalam Bhekoh adalah bahwa dunia pertembakauan bagi petani mewujud sebuah kompleks. Mereka ingin mendapatkan banyak keuntungan untuk memenuhi semua harapan dan kebutuhan, tetapi para petani masih harus menunggu semua keputusan pengusaha yang akan diturunkan kepada keputusan para tengkulak. Dalam kondisi subordinat tersebut, para petani memang harus pandai-pandai bersiasat, termasuk mencari tengkulak yang lebih masuk akal dalam menawar harga. Pengungkapan belenggu tengkulak memunculkan banyak wacana yang memroduki pengetahuan terkait pertembakauan yang menyiksa petani, tetapi tidak membuat mereka kapok karena dari tembakaulah mereka bisa survive.  

Tukang tengkulak menari bersama iringan pembantunya dengan pakaian sehari-hari.

Di sinilah saya menjumpai keberanian untuk berbicara dengan drama dan adegan tari yang berbeda dari tari-tari garapan sebelumnya seperti Lahbako dan Petik Kopi yang masih mengandalkan gerakan tubuh indah. Bahwa, sutradara/koreografer dan para pelaku tidak berhenti pada tari-tari garapan yang sandaran kultural dan sosiologisnya kurang kuat, karena hanya melihat visualitas aktivitas pertanian, tetapi belum pada dimensi terdalam kehidupan subjek di dalamnya. Pada titik itulah, meskipun masih banyak kekurangan dalam hal prosentasi gerak tari garapan dan drama atau dalam hal pendalaman karakter, Bhakoh berani menawarkan kebaruan sudut pandang kepada para penggiat kesenian, bukan mengulangi gerakan-gerakan indah semata, tanpa berani mengungkap akar permasalahan yang sebenarnya. Bahwa, sebuah karya, sesederhana apapun, tetap menampilkan wacana yang terhubung dengan permasalahan masyarakat. Maka, bisa dikatakan, Bhekoh mampu merintis jalan bagi munculnya pertunjukan kolaboratif berdimensi sosio-kultural, ekonomi, dan politik yang bersumber pada persoalan lokalitas.

‘Revolusi’ Kostum

Kalau ada sesuatu yang istimewa dari pertunjukan kolaboratif Bhekoh adalah keberanian tim kreatif memilih kostum. Para penari dan pelaku drama menggunakan kostum keseharian. Para penari, misalnya, mengenakan kaos lengan panjang yang biasa dipakai buruh tani ketika berada di sawah. Pilihan ini bisa saya katakan ‘revolusioner’ karena mendobrak tradisi kostum glamor yang biasa dikenakan para penari. Bahwa pertunjukan tari tidak harus selalu mahal di kostum. Bahwa dengan kaos sehari-hari, para pelaku bisa menghasilkan pertunjukan kontekstual. Pilihan moda realis, memang membawa tim kreatif untuk tidak berlebihan mengenakan kostum.

Sariah dan para perempuan buruh tani untuk menggalangkan solidaritas.

Saya melihat ada beberapa konsep ‘revolusioner’ yang bisa digagas dari pilihan kostum ini. Pertama, sutradara/koreografer dan tim kreatif ingin menawarkan wacana “keberjalin-kelindanan” teks pertunjukan kolaboratif dengan permasalahan sehari-hari yang harus bisa dijembatani, tidak hanya pada model garapan, tetapi juga kostum. Kostum menjadi sebuah jembatan kultural untuk memasuki dunia diskursif yang membentuk pengetahuan pertembakauan. Kedua, kostum kontekstual akan mengatasi persoalan biaya yang seringkali menjadi masalah bagi komunitas. Maka, terobosan kecil dalam pertunjukan kolaboratif ini bisa menjadi acuan bagi para penggiat seni di Jember dalam memahami keberadaan kostum.

Ketiga, kostum bukanlah sedekar bahasa pertunjukan yang digunakan untuk melengkapi pertunjukan dengan aspek keindahan dan keglamoran. Adalah hal yang umum di Jember, semua pertunjukan tari garapan ataupun sendratari tidak bisa dilepaskan dari kostum mewah. Rasanya sudah menjadi semacam kewajiban estetik. Ironisnya, kostum sekedar menjadi kebutuhan sekunder yang tidak berkaitan apa-apa dengan wacana yang dikonstruksi dalam tarian. Yang lebih buruk lagi adalah implikasi estetik kepada garapan yang harus menyesuaikan keglamoran kostum, sehingga lebih banyak garapan yang masih terjebak pada tubuh dan gerakan indah. Saya tidak mengatakan bahwa kostum glamor hanya menghasilkan garapan indah, bukan garapan konstekstual yang terikat dengan kondisi historis. Penekanan saya adalah bahwa keterjebakan pada kostum glamor tanpa mau melakukan pendalaman konstekstual terhadap tema garapan hanya menghadirkan wacana keindahan, bukan wacana sosio-kultural yang bisa menggerakkan pemahaman para pelaku dan penikmat.  

Tengkulak membujuk Monah agar membeli bbit tembakaunya.

Maka, bagi saya, selain masih banyak kekurangan koreografis dan mekanisme pengadeganan, pertunjukan Bhekoh adalah sebuah keberanian esktetik untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru penciptaan multirupa yang terkoneksi dengan kondisi historis sekaligus mengatasi hambatan-hambatan teknis dan biaya dalam penggarapan. Pada realitas itu saya menemukan harapan akan munculnya kreativitas-kreativitas baru yang tidak terjebak pada pakem tubuh indah dan pakaian glamor. Kreativitas-kreativitas tersebut bisa terus berkembang kalau para pelaku seni berani keluar dari sekretariat untuk ngluyur menemukan banyak peristiwa, banyak tubuh, banyak masalah, banyak harapan, banyak gerak, dan, bahkan, banyak tangis, yang bisa menjadi sumber lahirnya karya-karya kultural. Membaca banyak referensi akan memperkaya otak untuk mendukung lahirnya keberanian dalam berkarya. Para pelaku memiliki tugas peradaban untuk memroduksi pengetahuan, sehingga mereka harus siap, sesederhana apapun, untuk menawarkan wacana-wacana berbasis realitas kepada para penikmat; bukan lagi hasrat untuk menjadi manusia paling indah dalam hal tubuh dan gerak.  

Download artikel versi PDF

Untuk sitasi

Setiawan, Ikwan. 2019. “BHEKOH: Perjuangan petani tembakau dalam kenakalan pertunjukan kolaboratif.” http://matatimoer.or.id/2019/12/17/bhekoh-perjuangan-petani-tembakau-dalam-kenakalan-pertunjukan-kolaboratif/

Catatan akhir
[1] Stuart Hall. 1997. “The Work of Representation”, dalam Stuart Hall (ed). Representation, Cultural Representation and Signifying Practices. London: Sage Publication in association with The Open University.

Share This:

About Ikwan Setiawan 181 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*