Politik hidayah: Mitos dan kuasa dalam tayangan sinema religi

IKWAN SETIAWAN

Pendahuluan

Kehadiran televisi swasta di Indonesia telah memberikan atmosfer yang‘semakin meriah’ dalam kehidupan masyarakat Indonesia dewasa ini. Banyaknya stasiun televisi dan program-program yang ditawarkan, tidak bisa dipungkiri, telah memberikan alternatif-alternatif tontonan yang mampu menghadirkan ‘ritual’ bagi para audiens. Dari selepas subuh hingga menjelang subuh lagi, penonton bisa menikmati acara-acara sesuai dengan selera mereka, dari pernik- pernik dunia dapur, film, hingga gosip-gosip terhangat seputar selebritis yang bercerai tersaji lengkap. Dengan kata lain, maraknya stasiun televisi swasta telah memberikan peluang bagi lahirnya “demokratisasi tontonan dan selera” yang pada masa satu televisi—TVRI—tidak pernah dinikmati audiens karena mereka hanya menikmati acara-acara yang dikontrol dengan ketat oleh negara.[1]

Era reformasi yang oleh banyak aktivis, politikus, intelektual, maupun tukang becak seringkali diagung-agungkan sebagai masa keterbukaan yang akan mengantarkan bangsa ini ke gerbang pencerahan yang lebih demokratis, harus diakui semakin membuka peluang bagi munculnya televisi-televisi baru, baik yang berlokasi di Jakarta maupun daerah. Era keterbukaan ini membawa angin segar pula bagi munculnya program-program yang dulunya tidak pernah ditayangkan oleh televisi swasta karena alasan kurang bermuatan edukatif atau bisa   menyebabkan   dekadensi moral. Akibatnya tayangan-tayangan   yang berkaitan dengan dunia ghaib, dunia malam, reality show yang mengekspos kedermawanan, maupun tayangan sinetron remaja tumbuh dengan subur. Yang menarik adalah bagaimana sebenarnya para kreator program di televisi bisa dilihat kurang kreatif karena ketika suatu program memiliki rating bagus, maka segera dibuat program serupa dalam label dan stasiun televisi yang berbeda.

Setelah dunia ghaib[2]  menjadi trend di televisi swasta, pada waktu yang tidak terlalu lama muncul trend baru berupa sinema religi, sebuah sinema televisi yang menampilkan cerita-cerita yang dikatakan bijak dan agamis dalam pandangan Islam. Adalah TPI yang pertama-tama menayangkan Sinema Reliji dan ternyata mendapat sambutan cukup baik dari publik dan menempati rating atas. Kenyataan itulah yang menjadikan sebagian besar televisi swasta menayangkan   program   serupa,   kecuali   Metro   TV.   Pun   label-label   yang digunakan hampir serupa—Sinema Hidayah (TransTV), Pintu Hidayah dan Maha Kasih (RCTI), serta Misteri Illahi dan Dua Dunia (Indosiar).

Adalah kenyataan bahwa tayangan-tayangan tersebut merupakan produk industri media yang membawa kepentingan kapitalis. Tapi, apakah benar bahwa program-program  tersebut hanya semata-mata untuk  mencari  keuntungan ketika mereka menjadi trend dan digemari audiens? Titik keberangkatan dari kajian ini adalah ‘kegalauan’ dan ‘kecurigaan’   saya   ketika   melihat menjamurnya tayangan sinema reliji. Berlandaskan dua hal itu, saya mengasumsikan bahwa dalam tayangan-tayangan yang terkadang menampilkan gambar-gambar yang tidak masuk akal—seperti mayat penuh belatung—tersebut sepertinya menyampaikan ‘sesuatu’. Artinya ada representasi wacana yang hendak disampaikan kepada audiens. Dan, di balik wacana-wacana yang disusun dengan apik melalui dinamisasi gambar-gambar visual bisa jadi terdapat sebuah kepentingan ideologis yang terselip dalam tayangan-tayangan sinema religi.

Memahami representasi: