PATRIARKI: Masyarakat, budaya, dan negara dalam kuasa lelaki

April 5, 2016 Ikwan Setiawan 0

Bahwa persoalan kuasa patriarki tidak bisa dilepaskan dari konteks ruang dan waktu. Adalah sangat tidak bijak ketika melihat realitas patriarki di Barat untuk memandang persoalan di timur. Terdapat kondisi sosio-kultural yang jelas membedakan persoalan patriarki dalam masyarakat. Perbedaan inilah yang harus dilihat ketika hendak mengkaji persoalan patriarki ataupun gender. Ada ‘konteks kejadian’ yang harus selalu dibaca dengan kritis sesuai dengan kotekstualitasnya, bukan dari kacamata pemikir barat. Artinya, tidak cukup hanya dengan sebuah teori besar untuk ‘membedah’ struktur dan bentuk patriarki dalam masyarakat. Dibutuhkan kejelian dan kecemerlangan peneliti dalam membaca realitas di balik realitas yang terhampar di pelupuk mata, termasuk ke dalam ruang-ruang yang disucikan, yang dilindungi oleh doktrin agama (yang ‘diselewengkan’) dan budaya (yang ‘di-adi luhung-kan’) demi sebuah kepentingan kuasa.

Membaca-kembali perempuan Jawa

April 5, 2016 Ikwan Setiawan 0

Dalam penelitian yang dilakukan di Solo dan Yogyakarta, Brenner menemukan realitas betapa di balik konsep perempuan Jawa sebagai ‘konco wingking’ (kawan di belakang) terdapat konteks historis dan kultural yang melingkupinya dan sampai saat ini menyisakan peran signifikan perempuan dalam ranah keluarga dan sosial, meskipun pengaruh tradisi keraton dan Islam dalam Jawa kontemporer masih kuat.

MENULIS ARTIKEL TENTANG BUDAYA LOKAL: Kecenderungan tematik, teknik penulisan, dan kepentingan

April 5, 2016 Ikwan Setiawan 0

Terpengaruh oleh omongan para seniman jaranan, tema-tema kajian yang saya angkat tidak hanya seputar keunikan estetik dan nilai-nilai filosofis kesenian lokal bagi kehidupan masyarakat, tetapi juga sampai aspek-aspek lain yang dialami oleh para seniman jaranan. Misalnya, berapa honor yang mereka terima? Bagaimana sistem pembagian honor? Bagaimana pengaruh honor itu dalam kehidupan para seniman? Apa yang mereka lakukan ketika sepi tanggapan? Bagaimana siasat yang dilakukan para seniman di tengah-tengah trend budaya pop yang lebih ringkas dan penuh warna? Bagaimana tanggapan anak-anak di sekolah terhadap para jathil cilik? Bagaimana tanggapan alim-ulama terhadap jaranan yang diwarnai adegan kesurupan? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menggiring kajian kepada tema dinamika, kompleksitas, dan perubahan terkait eksistensi sebuah seni pertunjukan lokal. Membincang nilai-nilai adiluhung dalam sebuah kesenian memang penting, tetapi harus juga diperkuat dengan bagaimana transformasi atau perubahan dari nilai-nilai tersebut di tengah-tengah budaya pop yang semakin menggila saat ini.

ISLAM TELEVISI

April 4, 2016 Ikwan Setiawan 0

Mungkin, inilah saatnya kita harus menyaksikan bagaimana Islam sebagai agama yang sangat luwes dan adaptif dengan semangat perubahan zaman dicitrakan dalam kontradiksi komodifikasi televisi. Di satu sisi, Islam adalah ajaran yang damai, harmonis, modis, sekaligus formalis. Islam dalam tayangan-tayangan siraman rohani, jelas-jelas membawa semangat kapitalistik dengan mengusung mode-mode pakaian trendy yang diidentikkan dengan simbol-simbol Islam yang formalis. Para ustadz/ah dalam Islam televisi telah menjadi agen-agen kapitalis dengan ‘senyum imannya’ yang mampu membangkitkan relasi imajiner dari para penonton untuk meniru gaya berpakaian dan cara hidup seperti yang dilakukan para guru ngaji modis tersebut. Kutbah-kutbah yang mereka tak lebih dari sandiwara yang bisa dimainkan setiap saat tergantung pesanan dan honor yang mereka terima. Dan semua yang mereka omongkan memang belum tentu dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

DI JALANAN (JUGA) ADA BUDAYA: Konsumsi kreatif dan kolektivitas dalam subkultur klub pengendara motor

April 2, 2016 Ikwan Setiawan 0

Jalanan telah menjadi sebuah arena baru bagi perayaan subkultur pengendara motor. Di jalananlah para pengendara motor melakukan ‘selebrasi kultural’ yang merepresentasikan satu semangat untuk berbeda namun tetap mentaati aturan lalulintas dalam bentuk safety reading. Jalanan juga telah menjadi arena untuk menyemaikan gaya hidup bermotor yang membedakan anggota klub dengan pengendara motor lain ataupun para pengendara mobil. Melalui touring maupun konvoi, para pengendara menunjukkan kepada publi bahwa mereka punya gaya bermotor yang berbeda tetapi tidak selalu dalam bentuk yang chaos. Apa yang lahir di jalanan adalah satu bentuk kultural baru yang harus dibaca sebagai partikularitas dan tidak selamanya yang hadir di jalanan adalah atribut dan praktik yang tidak berbudaya, tetapi sangat berbudaya karena di situlah lahir kreativitas-kreativitas dalam semangat keberbedaan yang produktif. Lebih jauh lagi, jalanan telah menjadi arena kultural baru yang mampu menciptakan solidaritas kolektif demi mencapai orientasi kultural yang dinamis dan kreatif.

POLITIK BUDAYA POPULER: Antara populisme, resistensi, dan hegemoni

March 24, 2016 Ikwan Setiawan 0

Budaya populer, bagaimanapun juga, saat ini sudah menjadi sebuah realitas budaya yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia sehari-hari. Di Indonesia, entah sadar atau tidak sadar, bangsa ini sebenarnya sudah sejak lama menggunakan produk-produk industri budaya massa dalam praktik-praktik konsumsi, baik melalui pemaknaan kritis maupun sekedar mengkonsumsinya. Masalahnya adalah sampai saat ini masih sedikit kajian-kajian yang berkonsentrasi pada wilayah budaya populer sebagai praktik dan teks. Adalah sebuah tantangan bagi para pengkaji budaya untuk lebih memperhatikan bagaimana rakyat kebanyakan—semisal kaum buruh, warga urban, ataupun warga pedesaan—memperlakukan benda-benda budaya buatan pabrik, apakah dalam praktik konsumsi, pemaknaan resisten, maupun counter-hegemony terhadap kekuatan dominan. Banyak ahli selama ini hanya ’menyalahkan’ budaya populer sebagai bentuk budaya yang ’menina-bobokan’ kesadaran rakyat dalam jebakan kapitalisme, tetapi data-data yang diungkapkan sekedar konsepsi normatif yang masih harus diuji kebenarannya.

BUDAYA NASIONAL DI TENGAH PASAR: Konstruksi, dekonstruksi, dan rekonstruksi

March 23, 2016 Ikwan Setiawan 0

Pada masa Reformasi, rezim negara masih memobilisasi nilai-nilai tradisional-ideal sebagai
budaya nasional tanpa memberikan penjelasan konseptual dan operasional. Dalam artikel ini, saya
menggabungkan dua pendekatan, kajian budaya dan poskolonial, untuk membaca budaya nasional
sebagaimana direpresentasikan dalam beberapa pidato Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Saya
akan menganalisis konstruksi ideal-tetapi-ambivalen dari budaya nasional dalam perspektif rezim seperti
direpresentasikan dalam beberapa pidato tersebut, khususnya, dalam konteks mobilisasi terus-menerus
makna tradisional sebagai kekuatan tidak kelihatan bagi rakyat Indonesia, sedangkan pada saat bersamaan,
mereka selalu menekankan kemajuan ekonomi. Alih-alih sebagai konstruksi kultural strategis, budaya
nasional memproduksi dekonstruksinya sendiri dan gagal menjadi formasi diskursif. Lebih jauh, saya
berargumen bahwa rezim menjalankan kepemerintahan mereka dengan merekonstruksi budaya nasional
baru berbasis ekonomi pasar sebagai konstruksi diskursif yang secara ideal bisa menyediakan basis
konseptual dan material bagi rezim untuk menjalankan pemerintahan dan bagi warga negara untuk
memperoleh kesejahteraan dalam formasi neoliberal.

Menjadi (bangsa) nge-pop (?): Budaya pop dan pengaruhnya terhadap transformasi kultural masyarakat

March 23, 2016 Ikwan Setiawan 0

Masyarakat Indonesia—sejak masa kolonial hingga saat ini—sudah terbiasa menikmati budaya pop, baik dalam hal nilai, bentuk, maupun praktik. Ketakutan akan tergusurnya atau hilangnya kekayaan lokal masyarakat memunculkan perdebatan di antara intelektual dan budayawan terkait pengaruh negatif budaya pop. Perdebatan-perdebatan tersebut seringkali melupakan genealogi pemaknaan, sehingga menegasikan kekayaan persoalan yang bisa dikaji lebih mendalam dari eksistensi budaya pop di tengah-tengah masyarakat. Bagi saya, kemampuan kita untuk memaknai dan mengkaji secara mendalam persoalan-persoalan yang muncul akan menjadikan kita bisa bersiasat dan tidak gagap dalam menyikapi budaya pop—tidak sekedar menjustifikasinya sebagai perusak budaya lokal ataupun moral bangsa.

HANTU-HANTU LOKAL BERGAYA HOLLYWOOD: Telaah kritis perkembangan film neo-horor Indonesia

March 23, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini merupakan pembacaan kritis tentang perkembangan film neo-horor Indonesia. Asumsi dasar dari kajian ini adalah ada sesuatu yang sebenarnya menarik dalam film-film neo-horor—baik dari segi teknik-teknik pengambilan gambar maupun tema-tema cerita yang diangkat—sehingga selalu menyedot perhatian penonton. Ironisnya, popularitas film-film horor tersebut kurang mendapatkan perhatian dari ‘pihak-pihak yang berwenang’ dalam memberikan penilaian terhadap baik atau buruknya mutu sebuah film. Realitas tersebut juga akan didiskusikan dalam kajian ini karena berkaitan dengan arus kebudayaan yang berlangsung di Indonesia saat ini.

BANGSA DALAM LAYAR IMPIAN: Poskolonialitas kultural, individualisme, dan nasionalisme dalam (sebuah) narasi film Indonesia era 2000-an

March 23, 2016 Ikwan Setiawan 0

Artikel ini akan membicarakan produksi poskolonialitas kultural dalam film Indonesia era 2000-an dengan menggunakan pendekatan poskolonial tanpa meninggalkan pertimbangan ekonomi-politik. Pendekatan poskolonial bermanfaat untuk membingkai wacana-wacana poskolonialitas yang diproduksi oleh para sineas dalam narasi film yang tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosio-historis, khususnya terkait bagaimana ekonomi-politik neoliberalisme diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pasca Reformasi 1998. Asumsi utama yang saya usung adalah bahwa anggitan poskolonialitas kultural dalam narasi film menegosiasikan individualisme sebagai pengetahuan ideal di zaman pasar serta berimplikasi pada pemaknaan-ulang nasionalisme. Untuk bisa membuktikan asumsi tersebut, saya akan menggunakan film Garuda di Dadaku (Ifa Isfiansyah, 2009, selanjutnya disingkat GDD) sebagai sumber data utama. Untuk melengkapi pembacaan kontekstual dari wacana yang berlangsung dalam narasi, saya akan menggunakan artikel jurnal, buku, dan sumber internet sebagai sumber data skunder. Selain untuk mengkonseptualisasikan budaya poskolonial dan nasionalisme di tengah-tengah neoliberalisme, temuan-temuan dalam analisis ini akan saya pakai untuk mengkritisi kajian poskolonial.