aadc

Kuasa di balik narasi: Kontribusi pendekatan ekonomi-politik untuk mengkaji budaya poskolonial dalam narasi film

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini akan melihat kontribusi pendekatan ekonomi-politik untuk mengkaji persoalan budaya poskolonial yang direpresentasikan dalam film Indonesia era 2000-an. Budaya poskolonial, dalam konteks ini, dipahami sebagai praktik dan orientasi kultural yang terdapat pada masyarakat selepas penjajahan dan dipengaruhi secara lanjut oleh masuknya budaya global-neoliberal melalui industri budaya dan media.

Local complex: Projects of modernity, complicated cultural appropriations, and fluid-hybrid subjectivity in a local sphere

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Indeed, the local people have been appropriating education, daily consumption and capitalism, democratization, and secularization as the forms of modernity projects that have been changing some traditional cultures, but they still have been preserving some other cultures as signifiers of essential identity. Those processes may emerge what I call as local complex, a complicated process of cultural appropriation in local sphere coloured by fluid-hybrid subjectivity. In this article, by applying postcolonial perspective without leaving political economy consideration, I will read field data from Tenggerese community in Probolinggo, East Java to discuss some cultural conditions in local complex in the following frameworks. Firstly, the local people appropriate modernity into their everyday life, but they still believe, celebrate, and preserve some traditional cultures essentially. Secondly, as the discursive effect of modern experiences, there are some changing in understanding traditional beliefs and practices as [a] celebrating rituals in more profane and luxurious ways and [b] having deconstructive meaning towards religious authority and ancient taboos. As concluding remarks, I will emphasize some strategic researches on local communities and give new considerations of postcolonial studies and.

bromo

Membaca-ulang poskolonialisme: Konsep, kritik, dan dialog teoretis dalam kajian poskolonial

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Saya lebih memilih untuk membaca-ulang perdebatan di antara mereka. Apa yang saya maksud dengan membaca-ulang adalah mengungkap kelemahan masing-masing perspektif dan menemukan “jembatan penghubung” di antara mereka untuk kemudian memformulasi sintesis baru yang berasal dari pertarungan beragam tesis dan anti-tesis yang ada. Saya menyadari bahwa “keterbatasan halaman” akan menghasilkan pembacaan-pembacaan yang kurang detil. Paling tidak, saya akan menawarkan beberapa konsep umum tentang pembacaan-ulang poskolonialisme yang—saya harapkan—bisa menginspirasi munculnya proses pembacaan-ulang secara ajeg dan lebih terperinci. Bagi saya pribadi, hanya dengan pembacaan-ulang itulah, poskolonialisme bisa menjadi disiplin yang semakin sadar terhadap kehadiran kuasa-kuasa baru dalam kehidupan masyarakat pascakolonial, tanpa harus meninggalkan pembacaan tekstual dan kontekstual—narasi dan ekonomi-politik.

eiffel-im-in-love

Self-narratives, postcoloniality, and negotiation of neoliberalism in Indonesian films in the 2000s

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

This article deals with self-narratives, postcoloniality, and negotiation of neoliberalism as ideology in Indonesian films in the 2000s, particularly in some teen and children films. In this era, filmic self-narratives become more individual in which filmic characters get freedom in expressing desires, individual-skillful struggles, and self-identities. Such narratives represent a detaching and deconstructing process from local and national bounds, as represented in filmic narratives under the New Order regime. By exploring cultural ambivalences as the dominant condition of postcoloniality, the films still articulate some traditional/local values in filmic world structure, but rather than empower their roles, their appearances tend to support self-narratives of teenagers and children who want to get more freedom in modern life. From cultural studies, postcolonial studies, and political economy perspective, self-narratives of teenagers and children that seek freedom from traditional bounds, for celebrating individualism, and for creating skillful self as the ways to reach great achievements, represent discursive negotiation of neoliberalism as ideal orientation for postcolonial Indonesian. Those narratives do not explore neoliberalism as a free market system transparently, but as individuals-capacity ideology that will make them successful in social, economy, and cultural competitiveness.

sastra1

Eks-nominasi ideologi dalam narasi: Model analisis mitos-Barthesian dalam kajian sastra

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Dalam tulisan ini saya akan menawarkan model analisis mitos untuk mengkaji karya sastra, khususnya yang berbentuk naratif—cerita pendek, novella, novel, dan drama. Produk kesastraan bukan lagi dibaca sebagai struktur naratif yang memapankan makna berdasarkan relasi-relasi penanda-petanda konvensional, tetapi lebih sebagai sebuah proses penandaan yang menaturalisasi dan mendepolitisasi apa-apa yang bersifat politis/ideologis menjadi tampak tidak politis/ideologis. Untuk keperluan tersebut, pertama-tama, saya memaparkan konsep-konsep teoretis mitos-Barthesian sebagai acuan untuk menjabarkan langkah kedua, yakni memformulasi model metode analisis yang bisa dilakukan oleh seorang pengkaji terhadap sebuah karya sastra. Selanjutnya, saya akan menggunakan metode analisis mitos-Barthesian untuk mengkaji novel terjemahan, Pengantin Dusun di Beverly Hills (2008), karya penulis diaspora India di Amerika Serikat, Kavita Daswani. Contoh analisis tersebut saya harapkan bisa mempermudah pemahaman tentang bagaimana mengoperasikan mitos-Barthesian dalam kajian sastra.

denias

Menelisik relasi tekstual-kontesktual: Narasi film dan televisi dalam paradigma kajian budaya

March 21, 2016 Ikwan Setiawan 0

Mengkuti perspektif representasi—salah satu perspektif teoretis dominan dalam paradigma cutural studies—sesederhana apapun sebuah narasi film maupun program televisi selalu berjalin-kelindan dengan persoalan-persoalan sosial, ekonomi, politik, gender, dan kultural dalam bentuk cerita-cerita yang sudah diseleksi sedemikian rupa dan tidak terlalu jauh dari peta konseptual masyarakat. Karena praktik representasi dalam kerja-kerja film dilakukan oleh para sineas yang menjadi bagian dari sebuah masyarakat atau komunitas, struktur naratif yang ada juga tidak bisa dilepaskan dari pandangan dunia dalam memandang persoalan-persoalan tertentu dalam masyarakat yang terhubung dengan norma dan prinsip tertentu dari sebuah kelompok atau kelas sosial. Inilah yang menjadikan representasi bersifat ideologis. Dalam artian, makna dan wacana yang ada dalam narasi film memiliki kecenderungan untuk merespons permasalahan dalam masyarakat secara kreatif berdasarkan formasi wacana dominan yang berkembang.

dukun-tengger

Bukan (sekedar) catatan, bukan (sekedar) warisan: Definisi, signifikansi, dan sinergi dalam perlindungan warisan budaya tak benda

March 21, 2016 Ikwan Setiawan 0

Pertama-tama, saya akan mengupas beberapa pemahaman dasar terkait Warisan Budaya Tak Benda dan ranah-ranah kultural yang bisa dimasukkan ke dalamnya sesuai dengan Konvensi 2003. Kedua, signifikansi perlindungan terhadap WBTB dalam konteks lokal, nasional, dan global. Ketiga, peran yang bisa dimainkan pemerintah, komunitas, LSM, dan akademisi dalam perlindungan WBTB. Paling tidak, tulisan singkat ini bisa memberikan pemahaman awal betapa membincang WBTB bukan sekedar membanggakan dan mencatat keunggulan warisan kultural bangsa ini, tetapi membutuhkan kebijakan pemerintah yang jelas serta sinergi antarelemen dalam masyarakat sehingga aktivitas perlindungan sebagaimana diidealisasi oleh UNESCO bukan sekedar menjadi utopia di tengah-tengah semakin kuat dan massifnya pengaruh budaya global yang berpotensi menyeragamkan kekayaan kultural masyarakat lokal.

seblang

Merawat dan meng-investasi tradisi: Politik identitas berbasis budaya Using dan Tengger pasca Reformasi

March 19, 2016 Ikwan Setiawan 0

“Politik identitas juga mesti dibaca secara dinamis, dalam artian tidak hanya berdasarkan satu dalil teoretis saja. Apa yang mesti dibaca lebih lanjut adalah bahwa paradigma esensialisme identitas yang membayangkan adanya sebuah poros kultural dalam masyarakat yang berlangsung dari masa lalu hingga masa kini serta memberi manfaat bagi para anggotanya, kurang tepat—bukan berarti tidak boleh—digunakan untuk membaca politik identitas di hari ini.”

tengger

“Leluhur lagi duwe gawe”: Pengetahuan Tengger tentang Gunung Bromo

March 18, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini akan membahas secara ringkas pengetahuan Tengger terkait Gunung Bromo yang menyatu dalam keyakinan religi serta diwujudkan dalam bermacam ritual yang memosisikan gunung tersebut sebagai ‘poros mikrokosmos-makrokosmos’. Pertama-tama, saya akan menjelaskan posisi Bromo dalam religi Tengger yang bertujuan membangun keharmonisan dengan Tuhan, Dewata, dan semesta. Kedua, pemahaman konseptual wong Tengger terhadap erupsi Bromo serta dinamikanya di masa kini ketika budaya modern di-apropriasi ke dalam kehidupan masyarakat, baik melalui ‘revolusi sayur’, media, maupun wisatawan. Ketiga, kemungkinan untuk mendialogkan pengetahuan Tengger dan pengetahuan saintifik tentang mitigasi bencana sebagaimana sudah banyak dikembangkan di masa kini.