romi-dan-juli

Representasi perempuan, film, dan hegemoni patriarki (bagian 1)

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Dengan menghadirkan perempuan dalam film, maka ketimpangan ideologis antara laki-laki dan perempuan dalam praktik sosio-kultural masyarakat akan dikesankan hilang karena mereka juga turut berkontestasi di dalam produk-produk budaya. Tetapi yang harus diperhatikan secara kritis adalah bahwa representasi perempuan tersebut juga menjadi syarat utama bagi representasi fiksional film sebagai reproduksi dari wacana ideologis patriarkal dalam masyarakat sehingga kepentingan ideologis akan tampak natural.

film-heart-2

Media, film, dan ideologi (bagian 2-habis)

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Media dalam praktik representasinya sangat memperhatikan relasi kuasa dan wacana ideologis konsensual yang sudah diyakini masyarakat dalam wacana dan praktik kehidupannya—baik di ranah politik, ekonomi, maupun sosio-kultural.

nagabonar-2

Media, film, dan ideologi (bagian 1)

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Untuk bisa menemukan praktik dan proses ideologis yang disampaikan melalui media, maka memahami representasi merupakan kerja awal yang harus dilakukan seorang pengkaji dalam paradigma kritis. Representasi tidak semata-mata sebuah terma yang mendeskripsikan bagaimana seseorang atau kelas sosial tertentu dicitrakan melalui media, baik tulis, audio, maupun audio-visual. Lebih dari itu, representasi merupakan sebuah pencitraan wacana ideologis yang dilakukan oleh para pekerja media dalam memproduksi makna yang berkaitan dengan realitas sosial tertentu yang eksis di tengah-tengah masyarakat melalui medium bahasa.

tandak-ludruk

Transformation of ludruk performances: From political involvement and state hegemony to creative survival strategy

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

This article discusses the transformation of ludruk performances, from Soekarno to Reformation era. In discussing the problem, we apply a cultural studies perspective. From our analysis, there are three findings related to the discursive transformation of ludruk stories. Firstly, in the era of Soekarno, many ludruk groups joined Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra/Institute of People’s Culture), which had many ideological similarities with Partai Komunis Indonesia (PKI/ Indonesian Communist Party). Consequently, ludruk groups performed some provocative stories that exposed the problems of lower-class people and criticized Islamic religious beliefs. Secondly, after the bloody 1965 tragedy, the regional military apparatuses controlled ludruk groups and their performances, including the stories. In this era, ludruk stories supported the New Order regime’s national development programs and raised people’s consensus on the significance of militarism through popular stories about people’s resistance to colonizers. Thirdly, in the Reformation era, some ludruk groups make newer, interesting stories about many complicated social problems in contemporary society. Finally, we conclude that this mode of transformation through creating newer, social problem-based stories that intertwine with historical conditions has deep historical roots in ludruk performances. In addition, during the Reformation period in whichmarket capitalism becomes a dominant ideology and practice, such newer stories and breakthroughs of staging may become a suitable creative survival strategy for ludruk groups in the midst of techno-cultural popularity as the dominant taste and orientation in societies.

bourdieu

HABITUS, MODAL SIMBOLIK, DAN DOMINASI: Pengantar singkat menuju pemikiran Pierre Bourdieu

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Pierre Bordieu lebih banyak menggunakan analisis sosiologis-etnografi sebagai basis bagi pemikirannya tentang habitus yang ada dalam masyarakat. Sebagai pemikir yang kiprah keilmuannya diawali pada era penjajahan Perancis di Afrika, Bordieu lebih banyak menjadikan kebiasaan yang ada dalam masyarakat terjajah (the colonized)—dalam hal ini di salah satu desa di Aljazair—sebagai dasar konseptual yang mendasari teori-teori sosiologisnya tentang struktur, habitus, dan kekuasaan simbolik dalam masyarakat.

tayub

Tayub dalam dua kutub: Wacana kesakralan dan keprofanan di masa kolonial dan pascakolonial

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Meskipun demikian, terdapat beberapa persoalan yang membutuhkan klarifikasi lebih lanjut, yakni: (1) sejak kapan sebenarnya dua kutub—kesakralan dan ke-profan-an—dalam tayuban dikonstruksi secara diskursif?; (2) kondisi historis seperti apa yang menjadikan kedua wacana tersebut dikemukakan?; (3) kepentingan-kepentingan apa dan siapa yang dimainkan dalam usaha untuk memapankan wacana dikotomis tersebut?; dan, (4) bagaimana transformasi kedua wacana itu dalam perubahan zaman. Keempat pertanyaan itulah yang mendasari lahirnya tulisan ini. Argumen dasarnya adalah terdapat kondisi historis dan kepentingan politiko-ideologis yang mempengaruhi munculnya wacana ke-profan-an dan ke-sakral-an dalam pertunjukan tayub. Argumen berikutnya adalah bahwa wacana kesakralan dan ke-profan-an yang dilekatkan dalam pagelaran tayub mengalami transformasi sebagai akibat perubahan kondisi zaman. Tulisan ini, pada tataran minimal, berusaha membuka keempat permasalahan tersebut sekaligus menjelaskan bahwa wacana-wacana terkait kesakralan dan keprofanan tayub bukanlah sesuatu yang netral dan tiba-tiba hadir dalam lingkaran akademis dan kehidupan masyarakat. Alih-alih, mereka adalah hasil konstruksi yang ditransformasikan dari awal kelahirannya hingga saat ini di mana terdapat pengaruh dari pihak-pihak yang berkepentingan.

digital

Keberaksaraan dalam abad digital: Implikasi-implikasinya terhadap proses kebudayaan dan kebangsaan

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini akan mendiskusikan posisi dan masalah tradisi keberaksaraan di tengah-tengah kemajuan teknologi informasi yang mampu mengubah dengan cepat tradisi analog menuju tradisi digital; salah satu penanda peradaban dari abad ke-21. Aksara yang dalam era teknologi analog sudah mengalami tantangan luar biasa dari kelisanan kedua yang dibawa oleh program televisi dan film, saat ini harus menghadapi realitas booming piranti, media, dan permainan digital yang mampu mengubah cara berpikir, kebiasaan tubuh, dan impian ideal umat manusia. Permainan kode dan tombol dalam teknologi digital menghadirkan kebiasan-kebiasaan baru yang menggiring individu ke dalam pola pikir ringkas, serba cepat, emosional, serba bisa, serba mudah, dan serba pragmatis. Kondisi inilah yang membawa implikasi-implikasi kultural dalam kehidupan individu dan masyarakat. Dan, dalam konteks yang lebih luas, proses kebangsaan yang bersifat kompleks tidak bisa mengelak dari kebiasaan-kebiasan baru tersebut.

aadc

Kuasa di balik narasi: Kontribusi pendekatan ekonomi-politik untuk mengkaji budaya poskolonial dalam narasi film

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini akan melihat kontribusi pendekatan ekonomi-politik untuk mengkaji persoalan budaya poskolonial yang direpresentasikan dalam film Indonesia era 2000-an. Budaya poskolonial, dalam konteks ini, dipahami sebagai praktik dan orientasi kultural yang terdapat pada masyarakat selepas penjajahan dan dipengaruhi secara lanjut oleh masuknya budaya global-neoliberal melalui industri budaya dan media.

Local complex: Projects of modernity, complicated cultural appropriations, and fluid-hybrid subjectivity in a local sphere

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Indeed, the local people have been appropriating education, daily consumption and capitalism, democratization, and secularization as the forms of modernity projects that have been changing some traditional cultures, but they still have been preserving some other cultures as signifiers of essential identity. Those processes may emerge what I call as local complex, a complicated process of cultural appropriation in local sphere coloured by fluid-hybrid subjectivity. In this article, by applying postcolonial perspective without leaving political economy consideration, I will read field data from Tenggerese community in Probolinggo, East Java to discuss some cultural conditions in local complex in the following frameworks. Firstly, the local people appropriate modernity into their everyday life, but they still believe, celebrate, and preserve some traditional cultures essentially. Secondly, as the discursive effect of modern experiences, there are some changing in understanding traditional beliefs and practices as [a] celebrating rituals in more profane and luxurious ways and [b] having deconstructive meaning towards religious authority and ancient taboos. As concluding remarks, I will emphasize some strategic researches on local communities and give new considerations of postcolonial studies and.

bromo

Membaca-ulang poskolonialisme: Konsep, kritik, dan dialog teoretis dalam kajian poskolonial

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Saya lebih memilih untuk membaca-ulang perdebatan di antara mereka. Apa yang saya maksud dengan membaca-ulang adalah mengungkap kelemahan masing-masing perspektif dan menemukan “jembatan penghubung” di antara mereka untuk kemudian memformulasi sintesis baru yang berasal dari pertarungan beragam tesis dan anti-tesis yang ada. Saya menyadari bahwa “keterbatasan halaman” akan menghasilkan pembacaan-pembacaan yang kurang detil. Paling tidak, saya akan menawarkan beberapa konsep umum tentang pembacaan-ulang poskolonialisme yang—saya harapkan—bisa menginspirasi munculnya proses pembacaan-ulang secara ajeg dan lebih terperinci. Bagi saya pribadi, hanya dengan pembacaan-ulang itulah, poskolonialisme bisa menjadi disiplin yang semakin sadar terhadap kehadiran kuasa-kuasa baru dalam kehidupan masyarakat pascakolonial, tanpa harus meninggalkan pembacaan tekstual dan kontekstual—narasi dan ekonomi-politik.