pekerjaan-kantor-d-rumah

Ragam tubuh ideologis

August 17, 2016 Ikwan Setiawan 0

Artikel tentang beragam konstruksi ideologis yang mengusung keperempuanan dan kelelakian dalam beberapa macam iklam media cetak. Dengan menggunakan teori representasi, kita bisa melihat betapa tubuh dikonstruksi dalam beragam rupa dan negosiasi ideologisnya.

sastra

Mengakrabi pascastrukturalisme dan neo-Marxisme

August 12, 2016 Ikwan Setiawan 0

Ini tentang desain teori dan analisis di konsesntrasi Sastra, Jurusan Sastra Inggris, FIB UJ. Kedatangan beberapa dosen muda dari S2 dan S3, diakui atau tidak, ikut mempengaruhi meningkatnya kecenderungan tersebut. Berpijak pada teks untuk melampauinya dan membawanya ke konteks historis sembari menemukan relasi dan kepentingan ideologis menjadi warna yang mulai berkembang sejak era 2000an.

basic-instinct-2-risk-addiction-2006-697x480

Perempuan Cerdas yang (Tetap) Butuh Tubuh

August 11, 2016 Ikwan Setiawan 0

Film BASIC INSTINCT 2 yang masih dibintangi Sharon Stone menawarkan wacana yang mengusung keunggulan subjek perempuan yang memainkan hasrat seksual seorang lelaki. Bukan untuk tunduk, tetapi untuk menjadikan si lelaki linglung. Namun, di balik keberhasilannya, si perempuan tetaplah memainkan tubuh. Tulisan ini membedah persoalan tersebut dengan perspektif semiotika mitos Barthesian.

6af0e9dec9548b96781c3a5d54ba169d_adie9048-s

Bukan sekedar mencampur budaya: Hibriditas sebagai politik kultural masyarakat Using dan titik-baliknya di masa kini

August 9, 2016 Ikwan Setiawan 0

Artikel ini mendiskusikan kekuatan hibriditas kultural pada masyarakat Using Banyuwangi. Gandrung dan musik Banyuwangian menjadi contoh menarik betapa “siasat” untuk mengapropriasi aspek-aspek dominan-luar ke dalam kreativitas estetik telah memperkaya budaya Using meskipun secara historis mereka mengalami penindasan. Hibriditas merupakan “struktur dalam” kebudayaan Using sekaligus menjadi politik kultural yang menjadikannya selalu dinamis dalam proses “menjadi”.

ideologi-media

Mengungkap-kembali ‘yang ideologis’ dalam kajian media: Pemikiran Stuart Hall (bagian-1)

April 7, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini merupakan review dari tulisan Stuart Hall, “The rediscovery of ideology: return of the repressed in media studies” dalam Gurevitch, Michael, Tony Bennet, James Curran & Janet Woollacot (eds). Culture, Society, and Media (London: Metheun, 1982, hlm. 56-90). Pemikirannya mungkin dianggap klasik untuk saat ini, tetapi masih sangat kontekstual untuk membaca bermacam konstruksi ideologis dalam media hari ini.

saman-ayu-utami-rev1

SASTRA WANGI: Kontestasi wacana dalam sastra populer

April 7, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan berikut merupakan analisis kritis terhadap apa-apa yang sebenarnya diusung oleh perdebatan tentang sastra wangi akhir-akhir ini. Perspektif yang dipakai untuk melakukan analisis ini adalah (1) hegemoni yang diusung oleh Antonio Gramsci dan (2) power and knowledge yang dikemukakan oleh Michel Foucault. Dari Gramsci penulis akan menggunakan perspektifnya tentang bagaimana sebuah kelas/kelompok menegosiasikan ideologi dominan yang diusungnya dan bagaimana cara kelompok ini menguasai wacana dan kepentingan kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat dengan cara mengartikulasikan kepentingan-kepentingan kelompok tersebut dan juga bagaimana dalam budaya populer kekuatan subordinat melakukan resisteni terhadap kekuatan hegemonik.[1] Sedangkan dari Foucault penulis akan menggunakan perspektifnya tentang kuasa (power) yang ada di balik wacana-wacana pengetahuan (knowledge) yang terepresentasikan dalam formasi diskursif

darah-dan-doa

LAYAR BERKEMBANG BUDAYA MENGHADANG: Paradoks budaya bangsa dalam perkembangan film Indonesia

April 6, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini berusaha untuk menelusuri geneaologi kuasa budaya bangsa dalam perkembangan film Indonesia, dari masa Sukarno hingga “Orde Reformasi” saat ini. Asumsi kritis yang mendasari tulisan ini adalah bahwa pengetahuan tentang budaya bangsa yang dibangun oleh aparatus-aparatus hegemonik melalui penyebaran wacana ke dalam kesadaran dan imajinasi masyarakat telah melahirkan rejim kebenaran yang menjadi patokan untuk memberikan penilaian, mengatur, ataupun membicarakan film Indonesia, baik yang dilakukan oleh birokrat seni, budayawan, kritikus, maupun sineas film itu sendiri. Kondisi inilah yang memunculkan tegangan-tegangan diskursif di antara mereka yang mendukung hegemoni melalui budaya maupun yang menentangnya. Untuk bisa sampai ke dalam permasalahan tersebut, tulisan ini akan menggunakan analisis wacana kritis yang dikembangkan dari pikiran-pikiran Michel Foucault tentang wacana dan kuasa/pengetahuan.

kelisanan-640x480

KELISANAN DAN PSIKODINAMIKANYA

April 6, 2016 Ikwan Setiawan 2

Di sadari atau tidak, kelisanan merupakan bagian keseharian dari kehidupan manusia hingga saat ini. Meski tradisi tulis sudah diperkenalkan semenjak dulu melalui institusi sekolah dan buku-buku cetak, namun masyarakat ternyata tidak bisa lepas sepenuhnyan dari kecenderungan menggunakan tradisi lisan dalam banyak ekspresi kulturalnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari realitas bahwa dalam komunikasi manusia masih banyak tergantung pada bahasa bunyi untuk bisa mempercakapkan gagasannya dengan manusia lainnya. Akibatnya banyak karakteristik lisan yang masih terbawa hingga saat ini. Kelisanan dengan demikian telah menjadi bagian dari kultur manusia yang melahirkan keunikan tersendiri.

raja-jawa

BUDAYA DAN KUASA: Pandangan cultural studies

April 6, 2016 Ikwan Setiawan 2

Ketika budaya secara natural mampu ‘menyamarkan’ atau bahkan ‘meniadakan’ kepentingan-kepentingan kelas kuasa, maka budaya, sekali lagi, bukanlah entitas netral, tetapi memiliki kepentingan yang bersifat ideologis yang akan menegakkan dan memapankan kuasa dalam formasi sosial masyarakat. Tulisan ini berangkat dari asumsi kritis tersebut dan secara konseptual akan berusaha membedah persoalan ideologi dan kuasa yang ada dalam wacana dan praktik kultural masyarakat. Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mengatakan bahwa semua budaya yang hidup dalam masyarakat kita sebagai praktik yang jelek dan penuh kepentingan tendensius. Tulisan ini merupakan analisis dan refleksi kritis terhadap praktik kultural partikular yang di dalamnya terdapat kepentingan-kepentingan kuasa yang secara kasat mata tampak bukan sebagai kepentingan tetapi tradisi yang sudah biasa dijalani.

patriarki

PATRIARKI: Masyarakat, budaya, dan negara dalam kuasa lelaki

April 5, 2016 Ikwan Setiawan 0

Bahwa persoalan kuasa patriarki tidak bisa dilepaskan dari konteks ruang dan waktu. Adalah sangat tidak bijak ketika melihat realitas patriarki di Barat untuk memandang persoalan di timur. Terdapat kondisi sosio-kultural yang jelas membedakan persoalan patriarki dalam masyarakat. Perbedaan inilah yang harus dilihat ketika hendak mengkaji persoalan patriarki ataupun gender. Ada ‘konteks kejadian’ yang harus selalu dibaca dengan kritis sesuai dengan kotekstualitasnya, bukan dari kacamata pemikir barat. Artinya, tidak cukup hanya dengan sebuah teori besar untuk ‘membedah’ struktur dan bentuk patriarki dalam masyarakat. Dibutuhkan kejelian dan kecemerlangan peneliti dalam membaca realitas di balik realitas yang terhampar di pelupuk mata, termasuk ke dalam ruang-ruang yang disucikan, yang dilindungi oleh doktrin agama (yang ‘diselewengkan’) dan budaya (yang ‘di-adi luhung-kan’) demi sebuah kepentingan kuasa.