sastra1

Eks-nominasi ideologi dalam narasi: Model analisis mitos-Barthesian dalam kajian sastra

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Dalam tulisan ini saya akan menawarkan model analisis mitos untuk mengkaji karya sastra, khususnya yang berbentuk naratif—cerita pendek, novella, novel, dan drama. Produk kesastraan bukan lagi dibaca sebagai struktur naratif yang memapankan makna berdasarkan relasi-relasi penanda-petanda konvensional, tetapi lebih sebagai sebuah proses penandaan yang menaturalisasi dan mendepolitisasi apa-apa yang bersifat politis/ideologis menjadi tampak tidak politis/ideologis. Untuk keperluan tersebut, pertama-tama, saya memaparkan konsep-konsep teoretis mitos-Barthesian sebagai acuan untuk menjabarkan langkah kedua, yakni memformulasi model metode analisis yang bisa dilakukan oleh seorang pengkaji terhadap sebuah karya sastra. Selanjutnya, saya akan menggunakan metode analisis mitos-Barthesian untuk mengkaji novel terjemahan, Pengantin Dusun di Beverly Hills (2008), karya penulis diaspora India di Amerika Serikat, Kavita Daswani. Contoh analisis tersebut saya harapkan bisa mempermudah pemahaman tentang bagaimana mengoperasikan mitos-Barthesian dalam kajian sastra.

denias

Menelisik relasi tekstual-kontesktual: Narasi film dan televisi dalam paradigma kajian budaya

March 21, 2016 Ikwan Setiawan 0

Mengkuti perspektif representasi—salah satu perspektif teoretis dominan dalam paradigma cutural studies—sesederhana apapun sebuah narasi film maupun program televisi selalu berjalin-kelindan dengan persoalan-persoalan sosial, ekonomi, politik, gender, dan kultural dalam bentuk cerita-cerita yang sudah diseleksi sedemikian rupa dan tidak terlalu jauh dari peta konseptual masyarakat. Karena praktik representasi dalam kerja-kerja film dilakukan oleh para sineas yang menjadi bagian dari sebuah masyarakat atau komunitas, struktur naratif yang ada juga tidak bisa dilepaskan dari pandangan dunia dalam memandang persoalan-persoalan tertentu dalam masyarakat yang terhubung dengan norma dan prinsip tertentu dari sebuah kelompok atau kelas sosial. Inilah yang menjadikan representasi bersifat ideologis. Dalam artian, makna dan wacana yang ada dalam narasi film memiliki kecenderungan untuk merespons permasalahan dalam masyarakat secara kreatif berdasarkan formasi wacana dominan yang berkembang.

dukun-tengger

Bukan (sekedar) catatan, bukan (sekedar) warisan: Definisi, signifikansi, dan sinergi dalam perlindungan warisan budaya tak benda

March 21, 2016 Ikwan Setiawan 0

Pertama-tama, saya akan mengupas beberapa pemahaman dasar terkait Warisan Budaya Tak Benda dan ranah-ranah kultural yang bisa dimasukkan ke dalamnya sesuai dengan Konvensi 2003. Kedua, signifikansi perlindungan terhadap WBTB dalam konteks lokal, nasional, dan global. Ketiga, peran yang bisa dimainkan pemerintah, komunitas, LSM, dan akademisi dalam perlindungan WBTB. Paling tidak, tulisan singkat ini bisa memberikan pemahaman awal betapa membincang WBTB bukan sekedar membanggakan dan mencatat keunggulan warisan kultural bangsa ini, tetapi membutuhkan kebijakan pemerintah yang jelas serta sinergi antarelemen dalam masyarakat sehingga aktivitas perlindungan sebagaimana diidealisasi oleh UNESCO bukan sekedar menjadi utopia di tengah-tengah semakin kuat dan massifnya pengaruh budaya global yang berpotensi menyeragamkan kekayaan kultural masyarakat lokal.

seblang

Merawat dan meng-investasi tradisi: Politik identitas berbasis budaya Using dan Tengger pasca Reformasi

March 19, 2016 Ikwan Setiawan 0

“Politik identitas juga mesti dibaca secara dinamis, dalam artian tidak hanya berdasarkan satu dalil teoretis saja. Apa yang mesti dibaca lebih lanjut adalah bahwa paradigma esensialisme identitas yang membayangkan adanya sebuah poros kultural dalam masyarakat yang berlangsung dari masa lalu hingga masa kini serta memberi manfaat bagi para anggotanya, kurang tepat—bukan berarti tidak boleh—digunakan untuk membaca politik identitas di hari ini.”

tengger

“Leluhur lagi duwe gawe”: Pengetahuan Tengger tentang Gunung Bromo

March 18, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini akan membahas secara ringkas pengetahuan Tengger terkait Gunung Bromo yang menyatu dalam keyakinan religi serta diwujudkan dalam bermacam ritual yang memosisikan gunung tersebut sebagai ‘poros mikrokosmos-makrokosmos’. Pertama-tama, saya akan menjelaskan posisi Bromo dalam religi Tengger yang bertujuan membangun keharmonisan dengan Tuhan, Dewata, dan semesta. Kedua, pemahaman konseptual wong Tengger terhadap erupsi Bromo serta dinamikanya di masa kini ketika budaya modern di-apropriasi ke dalam kehidupan masyarakat, baik melalui ‘revolusi sayur’, media, maupun wisatawan. Ketiga, kemungkinan untuk mendialogkan pengetahuan Tengger dan pengetahuan saintifik tentang mitigasi bencana sebagaimana sudah banyak dikembangkan di masa kini.

samsoe

MEMBACA-ULANG SANG LOKAL: Kompleksitas Kultural dalam Masyarakat dan Budaya Lokal

December 16, 2015 Ikwan Setiawan 0

Memposisikan budaya lokal sebagai sebuah kompleksitas merupakan pintu masuk untuk membuka relasi, negosiasi, dan tegangan kultural yang berlangsung dalam masyarakat lokal di tengah-tengah jagat modern yang digerakkan pasar saat ini. Performativitas lembut kapitalisme neoliberal, bagaimanapun, secara ajeg terus memasuki nalar dan impian masyarakat lokal, sehingga terus memunculkan kompleksitas kultural.