budaya-pop

Menjadi (bangsa) nge-pop (?): Budaya pop dan pengaruhnya terhadap transformasi kultural masyarakat

March 23, 2016 Ikwan Setiawan 0

Masyarakat Indonesia—sejak masa kolonial hingga saat ini—sudah terbiasa menikmati budaya pop, baik dalam hal nilai, bentuk, maupun praktik. Ketakutan akan tergusurnya atau hilangnya kekayaan lokal masyarakat memunculkan perdebatan di antara intelektual dan budayawan terkait pengaruh negatif budaya pop. Perdebatan-perdebatan tersebut seringkali melupakan genealogi pemaknaan, sehingga menegasikan kekayaan persoalan yang bisa dikaji lebih mendalam dari eksistensi budaya pop di tengah-tengah masyarakat. Bagi saya, kemampuan kita untuk memaknai dan mengkaji secara mendalam persoalan-persoalan yang muncul akan menjadikan kita bisa bersiasat dan tidak gagap dalam menyikapi budaya pop—tidak sekedar menjustifikasinya sebagai perusak budaya lokal ataupun moral bangsa.

lentera-merah

HANTU-HANTU LOKAL BERGAYA HOLLYWOOD: Telaah kritis perkembangan film neo-horor Indonesia

March 23, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini merupakan pembacaan kritis tentang perkembangan film neo-horor Indonesia. Asumsi dasar dari kajian ini adalah ada sesuatu yang sebenarnya menarik dalam film-film neo-horor—baik dari segi teknik-teknik pengambilan gambar maupun tema-tema cerita yang diangkat—sehingga selalu menyedot perhatian penonton. Ironisnya, popularitas film-film horor tersebut kurang mendapatkan perhatian dari ‘pihak-pihak yang berwenang’ dalam memberikan penilaian terhadap baik atau buruknya mutu sebuah film. Realitas tersebut juga akan didiskusikan dalam kajian ini karena berkaitan dengan arus kebudayaan yang berlangsung di Indonesia saat ini.

garuda-di-dadaku

BANGSA DALAM LAYAR IMPIAN: Poskolonialitas kultural, individualisme, dan nasionalisme dalam (sebuah) narasi film Indonesia era 2000-an

March 23, 2016 Ikwan Setiawan 0

Artikel ini akan membicarakan produksi poskolonialitas kultural dalam film Indonesia era 2000-an dengan menggunakan pendekatan poskolonial tanpa meninggalkan pertimbangan ekonomi-politik. Pendekatan poskolonial bermanfaat untuk membingkai wacana-wacana poskolonialitas yang diproduksi oleh para sineas dalam narasi film yang tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosio-historis, khususnya terkait bagaimana ekonomi-politik neoliberalisme diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pasca Reformasi 1998. Asumsi utama yang saya usung adalah bahwa anggitan poskolonialitas kultural dalam narasi film menegosiasikan individualisme sebagai pengetahuan ideal di zaman pasar serta berimplikasi pada pemaknaan-ulang nasionalisme. Untuk bisa membuktikan asumsi tersebut, saya akan menggunakan film Garuda di Dadaku (Ifa Isfiansyah, 2009, selanjutnya disingkat GDD) sebagai sumber data utama. Untuk melengkapi pembacaan kontekstual dari wacana yang berlangsung dalam narasi, saya akan menggunakan artikel jurnal, buku, dan sumber internet sebagai sumber data skunder. Selain untuk mengkonseptualisasikan budaya poskolonial dan nasionalisme di tengah-tengah neoliberalisme, temuan-temuan dalam analisis ini akan saya pakai untuk mengkritisi kajian poskolonial.

perempuan-tengger

Perempuan di balik kabut Bromo: Perempuan Tengger dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Perempuan juga ikut bekerja di tegal. Pekerjaan mereka bukan hanya sebatas ngirim (mengantarkan sarapan) suami, tetapi perempuan juga ikut melakukan kegiatan yang di wilayah lain hanya lazim dikerjakan oleh kaum laku-laki. Perempuan Tengger juga ikut mencangkul, menyiangi rumput, menanam sayur, bahkan ngobat (menyemprotkan pestisida ke sayuran). Tanpa rasa canggung dan malu kaum perempuan berkontestasi di ladang bersama-sama dengan suami tercinta.

berbagi-suami

Representasi perempuan, film, dan kontra-hegemoni (bagian 1)

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Gender dan relasi seksual yang terjadi adalah konstruksi budaya dalam perspektif patriarki sehingga heteroseksual menjadi lebih hegemonik dan dengan heteroseksualitas itulah laki-laki juga terus meredefenisi dan mentransformasikan kuasanya kepada perempuan. Tawaran representasi perempuan-mengidentifikasi-perempuan dalam sebuah relasi kehidupan—dan tidak semata-mata menekankan aspek erotisnya—merupakan pemikiran alternatif yang bisa digunakan untuk membongkar relasi kuasa tersebut.

gadis-panggilan

Representasi perempuan, film, dan hegemoni patriarki (bagian 2-habis)

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Selain domestifikasi perempuan, representasi perempuan dalam film juga bisa dilihat dari sudut pandang sensualitas dan erotisisme. Perempuan seringkali menempati posisi objek yang layak dipandang dan ditampilkan secara sensual sehingga mampu memenuhi hasrat sesksual para penonton laki-laki. ‘Pandangan politis’ tersebut, sekali lagi, berkorelasi dengan hegemoni patriarki yang memposisikan laki-laki sebagai kelas kuasa dan berhak memperlakukan dan mempersepsikan tubuh perempuan sebagai objek pemuasan, meskipun hanya melalui citra visual.

romi-dan-juli

Representasi perempuan, film, dan hegemoni patriarki (bagian 1)

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Dengan menghadirkan perempuan dalam film, maka ketimpangan ideologis antara laki-laki dan perempuan dalam praktik sosio-kultural masyarakat akan dikesankan hilang karena mereka juga turut berkontestasi di dalam produk-produk budaya. Tetapi yang harus diperhatikan secara kritis adalah bahwa representasi perempuan tersebut juga menjadi syarat utama bagi representasi fiksional film sebagai reproduksi dari wacana ideologis patriarkal dalam masyarakat sehingga kepentingan ideologis akan tampak natural.

film-heart-2

Media, film, dan ideologi (bagian 2-habis)

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Media dalam praktik representasinya sangat memperhatikan relasi kuasa dan wacana ideologis konsensual yang sudah diyakini masyarakat dalam wacana dan praktik kehidupannya—baik di ranah politik, ekonomi, maupun sosio-kultural.

nagabonar-2

Media, film, dan ideologi (bagian 1)

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Untuk bisa menemukan praktik dan proses ideologis yang disampaikan melalui media, maka memahami representasi merupakan kerja awal yang harus dilakukan seorang pengkaji dalam paradigma kritis. Representasi tidak semata-mata sebuah terma yang mendeskripsikan bagaimana seseorang atau kelas sosial tertentu dicitrakan melalui media, baik tulis, audio, maupun audio-visual. Lebih dari itu, representasi merupakan sebuah pencitraan wacana ideologis yang dilakukan oleh para pekerja media dalam memproduksi makna yang berkaitan dengan realitas sosial tertentu yang eksis di tengah-tengah masyarakat melalui medium bahasa.