Representasi perempuan, film, dan kontra-hegemoni (bagian 1)

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Gender dan relasi seksual yang terjadi adalah konstruksi budaya dalam perspektif patriarki sehingga heteroseksual menjadi lebih hegemonik dan dengan heteroseksualitas itulah laki-laki juga terus meredefenisi dan mentransformasikan kuasanya kepada perempuan. Tawaran representasi perempuan-mengidentifikasi-perempuan dalam sebuah relasi kehidupan—dan tidak semata-mata menekankan aspek erotisnya—merupakan pemikiran alternatif yang bisa digunakan untuk membongkar relasi kuasa tersebut.

Representasi perempuan, film, dan hegemoni patriarki (bagian 2-habis)

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Selain domestifikasi perempuan, representasi perempuan dalam film juga bisa dilihat dari sudut pandang sensualitas dan erotisisme. Perempuan seringkali menempati posisi objek yang layak dipandang dan ditampilkan secara sensual sehingga mampu memenuhi hasrat sesksual para penonton laki-laki. ‘Pandangan politis’ tersebut, sekali lagi, berkorelasi dengan hegemoni patriarki yang memposisikan laki-laki sebagai kelas kuasa dan berhak memperlakukan dan mempersepsikan tubuh perempuan sebagai objek pemuasan, meskipun hanya melalui citra visual.

Representasi perempuan, film, dan hegemoni patriarki (bagian 1)

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Dengan menghadirkan perempuan dalam film, maka ketimpangan ideologis antara laki-laki dan perempuan dalam praktik sosio-kultural masyarakat akan dikesankan hilang karena mereka juga turut berkontestasi di dalam produk-produk budaya. Tetapi yang harus diperhatikan secara kritis adalah bahwa representasi perempuan tersebut juga menjadi syarat utama bagi representasi fiksional film sebagai reproduksi dari wacana ideologis patriarkal dalam masyarakat sehingga kepentingan ideologis akan tampak natural.

Media, film, dan ideologi (bagian 2-habis)

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Media dalam praktik representasinya sangat memperhatikan relasi kuasa dan wacana ideologis konsensual yang sudah diyakini masyarakat dalam wacana dan praktik kehidupannya—baik di ranah politik, ekonomi, maupun sosio-kultural.

Media, film, dan ideologi (bagian 1)

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Untuk bisa menemukan praktik dan proses ideologis yang disampaikan melalui media, maka memahami representasi merupakan kerja awal yang harus dilakukan seorang pengkaji dalam paradigma kritis. Representasi tidak semata-mata sebuah terma yang mendeskripsikan bagaimana seseorang atau kelas sosial tertentu dicitrakan melalui media, baik tulis, audio, maupun audio-visual. Lebih dari itu, representasi merupakan sebuah pencitraan wacana ideologis yang dilakukan oleh para pekerja media dalam memproduksi makna yang berkaitan dengan realitas sosial tertentu yang eksis di tengah-tengah masyarakat melalui medium bahasa.

HABITUS, MODAL SIMBOLIK, DAN DOMINASI: Pengantar singkat menuju pemikiran Pierre Bourdieu

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Pierre Bordieu lebih banyak menggunakan analisis sosiologis-etnografi sebagai basis bagi pemikirannya tentang habitus yang ada dalam masyarakat. Sebagai pemikir yang kiprah keilmuannya diawali pada era penjajahan Perancis di Afrika, Bordieu lebih banyak menjadikan kebiasaan yang ada dalam masyarakat terjajah (the colonized)—dalam hal ini di salah satu desa di Aljazair—sebagai dasar konseptual yang mendasari teori-teori sosiologisnya tentang struktur, habitus, dan kekuasaan simbolik dalam masyarakat.

Kuasa di balik narasi: Kontribusi pendekatan ekonomi-politik untuk mengkaji budaya poskolonial dalam narasi film

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini akan melihat kontribusi pendekatan ekonomi-politik untuk mengkaji persoalan budaya poskolonial yang direpresentasikan dalam film Indonesia era 2000-an. Budaya poskolonial, dalam konteks ini, dipahami sebagai praktik dan orientasi kultural yang terdapat pada masyarakat selepas penjajahan dan dipengaruhi secara lanjut oleh masuknya budaya global-neoliberal melalui industri budaya dan media.

Membaca-ulang poskolonialisme: Konsep, kritik, dan dialog teoretis dalam kajian poskolonial

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Saya lebih memilih untuk membaca-ulang perdebatan di antara mereka. Apa yang saya maksud dengan membaca-ulang adalah mengungkap kelemahan masing-masing perspektif dan menemukan “jembatan penghubung” di antara mereka untuk kemudian memformulasi sintesis baru yang berasal dari pertarungan beragam tesis dan anti-tesis yang ada. Saya menyadari bahwa “keterbatasan halaman” akan menghasilkan pembacaan-pembacaan yang kurang detil. Paling tidak, saya akan menawarkan beberapa konsep umum tentang pembacaan-ulang poskolonialisme yang—saya harapkan—bisa menginspirasi munculnya proses pembacaan-ulang secara ajeg dan lebih terperinci. Bagi saya pribadi, hanya dengan pembacaan-ulang itulah, poskolonialisme bisa menjadi disiplin yang semakin sadar terhadap kehadiran kuasa-kuasa baru dalam kehidupan masyarakat pascakolonial, tanpa harus meninggalkan pembacaan tekstual dan kontekstual—narasi dan ekonomi-politik.

Eks-nominasi ideologi dalam narasi: Model analisis mitos-Barthesian dalam kajian sastra

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Dalam tulisan ini saya akan menawarkan model analisis mitos untuk mengkaji karya sastra, khususnya yang berbentuk naratif—cerita pendek, novella, novel, dan drama. Produk kesastraan bukan lagi dibaca sebagai struktur naratif yang memapankan makna berdasarkan relasi-relasi penanda-petanda konvensional, tetapi lebih sebagai sebuah proses penandaan yang menaturalisasi dan mendepolitisasi apa-apa yang bersifat politis/ideologis menjadi tampak tidak politis/ideologis. Untuk keperluan tersebut, pertama-tama, saya memaparkan konsep-konsep teoretis mitos-Barthesian sebagai acuan untuk menjabarkan langkah kedua, yakni memformulasi model metode analisis yang bisa dilakukan oleh seorang pengkaji terhadap sebuah karya sastra. Selanjutnya, saya akan menggunakan metode analisis mitos-Barthesian untuk mengkaji novel terjemahan, Pengantin Dusun di Beverly Hills (2008), karya penulis diaspora India di Amerika Serikat, Kavita Daswani. Contoh analisis tersebut saya harapkan bisa mempermudah pemahaman tentang bagaimana mengoperasikan mitos-Barthesian dalam kajian sastra.