jaranan

MENULIS ARTIKEL TENTANG BUDAYA LOKAL: Kecenderungan tematik, teknik penulisan, dan kepentingan

April 5, 2016 Ikwan Setiawan 0

Terpengaruh oleh omongan para seniman jaranan, tema-tema kajian yang saya angkat tidak hanya seputar keunikan estetik dan nilai-nilai filosofis kesenian lokal bagi kehidupan masyarakat, tetapi juga sampai aspek-aspek lain yang dialami oleh para seniman jaranan. Misalnya, berapa honor yang mereka terima? Bagaimana sistem pembagian honor? Bagaimana pengaruh honor itu dalam kehidupan para seniman? Apa yang mereka lakukan ketika sepi tanggapan? Bagaimana siasat yang dilakukan para seniman di tengah-tengah trend budaya pop yang lebih ringkas dan penuh warna? Bagaimana tanggapan anak-anak di sekolah terhadap para jathil cilik? Bagaimana tanggapan alim-ulama terhadap jaranan yang diwarnai adegan kesurupan? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menggiring kajian kepada tema dinamika, kompleksitas, dan perubahan terkait eksistensi sebuah seni pertunjukan lokal. Membincang nilai-nilai adiluhung dalam sebuah kesenian memang penting, tetapi harus juga diperkuat dengan bagaimana transformasi atau perubahan dari nilai-nilai tersebut di tengah-tengah budaya pop yang semakin menggila saat ini.

dukun-tengger

Bukan (sekedar) catatan, bukan (sekedar) warisan: Definisi, signifikansi, dan sinergi dalam perlindungan warisan budaya tak benda

March 21, 2016 Ikwan Setiawan 0

Pertama-tama, saya akan mengupas beberapa pemahaman dasar terkait Warisan Budaya Tak Benda dan ranah-ranah kultural yang bisa dimasukkan ke dalamnya sesuai dengan Konvensi 2003. Kedua, signifikansi perlindungan terhadap WBTB dalam konteks lokal, nasional, dan global. Ketiga, peran yang bisa dimainkan pemerintah, komunitas, LSM, dan akademisi dalam perlindungan WBTB. Paling tidak, tulisan singkat ini bisa memberikan pemahaman awal betapa membincang WBTB bukan sekedar membanggakan dan mencatat keunggulan warisan kultural bangsa ini, tetapi membutuhkan kebijakan pemerintah yang jelas serta sinergi antarelemen dalam masyarakat sehingga aktivitas perlindungan sebagaimana diidealisasi oleh UNESCO bukan sekedar menjadi utopia di tengah-tengah semakin kuat dan massifnya pengaruh budaya global yang berpotensi menyeragamkan kekayaan kultural masyarakat lokal.

tengger

“Leluhur lagi duwe gawe”: Pengetahuan Tengger tentang Gunung Bromo

March 18, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini akan membahas secara ringkas pengetahuan Tengger terkait Gunung Bromo yang menyatu dalam keyakinan religi serta diwujudkan dalam bermacam ritual yang memosisikan gunung tersebut sebagai ‘poros mikrokosmos-makrokosmos’. Pertama-tama, saya akan menjelaskan posisi Bromo dalam religi Tengger yang bertujuan membangun keharmonisan dengan Tuhan, Dewata, dan semesta. Kedua, pemahaman konseptual wong Tengger terhadap erupsi Bromo serta dinamikanya di masa kini ketika budaya modern di-apropriasi ke dalam kehidupan masyarakat, baik melalui ‘revolusi sayur’, media, maupun wisatawan. Ketiga, kemungkinan untuk mendialogkan pengetahuan Tengger dan pengetahuan saintifik tentang mitigasi bencana sebagaimana sudah banyak dikembangkan di masa kini.

informasi-publik

MENUJU MASYARAKAT PARTISIPATIF(?): Problematika Sosio-Kultural dalam Penerapan UU Keterbukaan Informasi Publik Berbasis Teknologi Informasi-Komunikasi

December 16, 2015 Ikwan Setiawan 0

Apakah keterbukaan informasi bisa memberdayakan kehidupan publik yang lebih demokratis, kritis, dan kreatif? Apakah teknologi informasi bisa menjadi situs yang memberdayakan kehidupan masyarakat di tengah-tengah globalisasi saat ini? Bagaimana efek dan tegangan kultural yang muncul ketika keterbukaan informasi publik menjadikan teknologi informasi-komunikasi sebagai piranti garda depan?