darah-dan-doa

LAYAR BERKEMBANG BUDAYA MENGHADANG: Paradoks budaya bangsa dalam perkembangan film Indonesia

April 6, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini berusaha untuk menelusuri geneaologi kuasa budaya bangsa dalam perkembangan film Indonesia, dari masa Sukarno hingga “Orde Reformasi” saat ini. Asumsi kritis yang mendasari tulisan ini adalah bahwa pengetahuan tentang budaya bangsa yang dibangun oleh aparatus-aparatus hegemonik melalui penyebaran wacana ke dalam kesadaran dan imajinasi masyarakat telah melahirkan rejim kebenaran yang menjadi patokan untuk memberikan penilaian, mengatur, ataupun membicarakan film Indonesia, baik yang dilakukan oleh birokrat seni, budayawan, kritikus, maupun sineas film itu sendiri. Kondisi inilah yang memunculkan tegangan-tegangan diskursif di antara mereka yang mendukung hegemoni melalui budaya maupun yang menentangnya. Untuk bisa sampai ke dalam permasalahan tersebut, tulisan ini akan menggunakan analisis wacana kritis yang dikembangkan dari pikiran-pikiran Michel Foucault tentang wacana dan kuasa/pengetahuan.

sinema-pintu-taubat

ISLAM TELEVISI

April 4, 2016 Ikwan Setiawan 0

Mungkin, inilah saatnya kita harus menyaksikan bagaimana Islam sebagai agama yang sangat luwes dan adaptif dengan semangat perubahan zaman dicitrakan dalam kontradiksi komodifikasi televisi. Di satu sisi, Islam adalah ajaran yang damai, harmonis, modis, sekaligus formalis. Islam dalam tayangan-tayangan siraman rohani, jelas-jelas membawa semangat kapitalistik dengan mengusung mode-mode pakaian trendy yang diidentikkan dengan simbol-simbol Islam yang formalis. Para ustadz/ah dalam Islam televisi telah menjadi agen-agen kapitalis dengan ‘senyum imannya’ yang mampu membangkitkan relasi imajiner dari para penonton untuk meniru gaya berpakaian dan cara hidup seperti yang dilakukan para guru ngaji modis tersebut. Kutbah-kutbah yang mereka tak lebih dari sandiwara yang bisa dimainkan setiap saat tergantung pesanan dan honor yang mereka terima. Dan semua yang mereka omongkan memang belum tentu dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

honda-tiger

DI JALANAN (JUGA) ADA BUDAYA: Konsumsi kreatif dan kolektivitas dalam subkultur klub pengendara motor

April 2, 2016 Ikwan Setiawan 0

Jalanan telah menjadi sebuah arena baru bagi perayaan subkultur pengendara motor. Di jalananlah para pengendara motor melakukan ‘selebrasi kultural’ yang merepresentasikan satu semangat untuk berbeda namun tetap mentaati aturan lalulintas dalam bentuk safety reading. Jalanan juga telah menjadi arena untuk menyemaikan gaya hidup bermotor yang membedakan anggota klub dengan pengendara motor lain ataupun para pengendara mobil. Melalui touring maupun konvoi, para pengendara menunjukkan kepada publi bahwa mereka punya gaya bermotor yang berbeda tetapi tidak selalu dalam bentuk yang chaos. Apa yang lahir di jalanan adalah satu bentuk kultural baru yang harus dibaca sebagai partikularitas dan tidak selamanya yang hadir di jalanan adalah atribut dan praktik yang tidak berbudaya, tetapi sangat berbudaya karena di situlah lahir kreativitas-kreativitas dalam semangat keberbedaan yang produktif. Lebih jauh lagi, jalanan telah menjadi arena kultural baru yang mampu menciptakan solidaritas kolektif demi mencapai orientasi kultural yang dinamis dan kreatif.

budaya-bangsa

BUDAYA NASIONAL DI TENGAH PASAR: Konstruksi, dekonstruksi, dan rekonstruksi

March 23, 2016 Ikwan Setiawan 0

Pada masa Reformasi, rezim negara masih memobilisasi nilai-nilai tradisional-ideal sebagai
budaya nasional tanpa memberikan penjelasan konseptual dan operasional. Dalam artikel ini, saya
menggabungkan dua pendekatan, kajian budaya dan poskolonial, untuk membaca budaya nasional
sebagaimana direpresentasikan dalam beberapa pidato Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Saya
akan menganalisis konstruksi ideal-tetapi-ambivalen dari budaya nasional dalam perspektif rezim seperti
direpresentasikan dalam beberapa pidato tersebut, khususnya, dalam konteks mobilisasi terus-menerus
makna tradisional sebagai kekuatan tidak kelihatan bagi rakyat Indonesia, sedangkan pada saat bersamaan,
mereka selalu menekankan kemajuan ekonomi. Alih-alih sebagai konstruksi kultural strategis, budaya
nasional memproduksi dekonstruksinya sendiri dan gagal menjadi formasi diskursif. Lebih jauh, saya
berargumen bahwa rezim menjalankan kepemerintahan mereka dengan merekonstruksi budaya nasional
baru berbasis ekonomi pasar sebagai konstruksi diskursif yang secara ideal bisa menyediakan basis
konseptual dan material bagi rezim untuk menjalankan pemerintahan dan bagi warga negara untuk
memperoleh kesejahteraan dalam formasi neoliberal.

budaya-pop

Menjadi (bangsa) nge-pop (?): Budaya pop dan pengaruhnya terhadap transformasi kultural masyarakat

March 23, 2016 Ikwan Setiawan 0

Masyarakat Indonesia—sejak masa kolonial hingga saat ini—sudah terbiasa menikmati budaya pop, baik dalam hal nilai, bentuk, maupun praktik. Ketakutan akan tergusurnya atau hilangnya kekayaan lokal masyarakat memunculkan perdebatan di antara intelektual dan budayawan terkait pengaruh negatif budaya pop. Perdebatan-perdebatan tersebut seringkali melupakan genealogi pemaknaan, sehingga menegasikan kekayaan persoalan yang bisa dikaji lebih mendalam dari eksistensi budaya pop di tengah-tengah masyarakat. Bagi saya, kemampuan kita untuk memaknai dan mengkaji secara mendalam persoalan-persoalan yang muncul akan menjadikan kita bisa bersiasat dan tidak gagap dalam menyikapi budaya pop—tidak sekedar menjustifikasinya sebagai perusak budaya lokal ataupun moral bangsa.

lentera-merah

HANTU-HANTU LOKAL BERGAYA HOLLYWOOD: Telaah kritis perkembangan film neo-horor Indonesia

March 23, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini merupakan pembacaan kritis tentang perkembangan film neo-horor Indonesia. Asumsi dasar dari kajian ini adalah ada sesuatu yang sebenarnya menarik dalam film-film neo-horor—baik dari segi teknik-teknik pengambilan gambar maupun tema-tema cerita yang diangkat—sehingga selalu menyedot perhatian penonton. Ironisnya, popularitas film-film horor tersebut kurang mendapatkan perhatian dari ‘pihak-pihak yang berwenang’ dalam memberikan penilaian terhadap baik atau buruknya mutu sebuah film. Realitas tersebut juga akan didiskusikan dalam kajian ini karena berkaitan dengan arus kebudayaan yang berlangsung di Indonesia saat ini.

garuda-di-dadaku

BANGSA DALAM LAYAR IMPIAN: Poskolonialitas kultural, individualisme, dan nasionalisme dalam (sebuah) narasi film Indonesia era 2000-an

March 23, 2016 Ikwan Setiawan 0

Artikel ini akan membicarakan produksi poskolonialitas kultural dalam film Indonesia era 2000-an dengan menggunakan pendekatan poskolonial tanpa meninggalkan pertimbangan ekonomi-politik. Pendekatan poskolonial bermanfaat untuk membingkai wacana-wacana poskolonialitas yang diproduksi oleh para sineas dalam narasi film yang tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosio-historis, khususnya terkait bagaimana ekonomi-politik neoliberalisme diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pasca Reformasi 1998. Asumsi utama yang saya usung adalah bahwa anggitan poskolonialitas kultural dalam narasi film menegosiasikan individualisme sebagai pengetahuan ideal di zaman pasar serta berimplikasi pada pemaknaan-ulang nasionalisme. Untuk bisa membuktikan asumsi tersebut, saya akan menggunakan film Garuda di Dadaku (Ifa Isfiansyah, 2009, selanjutnya disingkat GDD) sebagai sumber data utama. Untuk melengkapi pembacaan kontekstual dari wacana yang berlangsung dalam narasi, saya akan menggunakan artikel jurnal, buku, dan sumber internet sebagai sumber data skunder. Selain untuk mengkonseptualisasikan budaya poskolonial dan nasionalisme di tengah-tengah neoliberalisme, temuan-temuan dalam analisis ini akan saya pakai untuk mengkritisi kajian poskolonial.

perempuan-tengger

Perempuan di balik kabut Bromo: Perempuan Tengger dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Perempuan juga ikut bekerja di tegal. Pekerjaan mereka bukan hanya sebatas ngirim (mengantarkan sarapan) suami, tetapi perempuan juga ikut melakukan kegiatan yang di wilayah lain hanya lazim dikerjakan oleh kaum laku-laki. Perempuan Tengger juga ikut mencangkul, menyiangi rumput, menanam sayur, bahkan ngobat (menyemprotkan pestisida ke sayuran). Tanpa rasa canggung dan malu kaum perempuan berkontestasi di ladang bersama-sama dengan suami tercinta.

tandak-ludruk

Transformation of ludruk performances: From political involvement and state hegemony to creative survival strategy

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

This article discusses the transformation of ludruk performances, from Soekarno to Reformation era. In discussing the problem, we apply a cultural studies perspective. From our analysis, there are three findings related to the discursive transformation of ludruk stories. Firstly, in the era of Soekarno, many ludruk groups joined Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra/Institute of People’s Culture), which had many ideological similarities with Partai Komunis Indonesia (PKI/ Indonesian Communist Party). Consequently, ludruk groups performed some provocative stories that exposed the problems of lower-class people and criticized Islamic religious beliefs. Secondly, after the bloody 1965 tragedy, the regional military apparatuses controlled ludruk groups and their performances, including the stories. In this era, ludruk stories supported the New Order regime’s national development programs and raised people’s consensus on the significance of militarism through popular stories about people’s resistance to colonizers. Thirdly, in the Reformation era, some ludruk groups make newer, interesting stories about many complicated social problems in contemporary society. Finally, we conclude that this mode of transformation through creating newer, social problem-based stories that intertwine with historical conditions has deep historical roots in ludruk performances. In addition, during the Reformation period in whichmarket capitalism becomes a dominant ideology and practice, such newer stories and breakthroughs of staging may become a suitable creative survival strategy for ludruk groups in the midst of techno-cultural popularity as the dominant taste and orientation in societies.

tayub

Tayub dalam dua kutub: Wacana kesakralan dan keprofanan di masa kolonial dan pascakolonial

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Meskipun demikian, terdapat beberapa persoalan yang membutuhkan klarifikasi lebih lanjut, yakni: (1) sejak kapan sebenarnya dua kutub—kesakralan dan ke-profan-an—dalam tayuban dikonstruksi secara diskursif?; (2) kondisi historis seperti apa yang menjadikan kedua wacana tersebut dikemukakan?; (3) kepentingan-kepentingan apa dan siapa yang dimainkan dalam usaha untuk memapankan wacana dikotomis tersebut?; dan, (4) bagaimana transformasi kedua wacana itu dalam perubahan zaman. Keempat pertanyaan itulah yang mendasari lahirnya tulisan ini. Argumen dasarnya adalah terdapat kondisi historis dan kepentingan politiko-ideologis yang mempengaruhi munculnya wacana ke-profan-an dan ke-sakral-an dalam pertunjukan tayub. Argumen berikutnya adalah bahwa wacana kesakralan dan ke-profan-an yang dilekatkan dalam pagelaran tayub mengalami transformasi sebagai akibat perubahan kondisi zaman. Tulisan ini, pada tataran minimal, berusaha membuka keempat permasalahan tersebut sekaligus menjelaskan bahwa wacana-wacana terkait kesakralan dan keprofanan tayub bukanlah sesuatu yang netral dan tiba-tiba hadir dalam lingkaran akademis dan kehidupan masyarakat. Alih-alih, mereka adalah hasil konstruksi yang ditransformasikan dari awal kelahirannya hingga saat ini di mana terdapat pengaruh dari pihak-pihak yang berkepentingan.