kriya-1-640x480

Membelenggu kriya?

October 25, 2016 Ikwan Setiawan 0

Untuk membaca artikel ini klik link berikut: Membelenggu Kriya Gambar sampul diunduh dari: http://www.tandapagar.com/pengertian-seni-kriya-2/ Share This:

kaum-muda

YANG MUDA YANG BERTINGKAH: Konsumsi, resistensi, dan kreativitas kaum muda dalam budaya pop

August 17, 2016 Ikwan Setiawan 0

Artikel ini membahas permasalahan budaya pop dalam hubungannya dengan kaum muda. Dengan perspektif cultural studies, kajian ini menunjukkan bahwa dalam mengkonsumsi budaya pop, kaum muda memiliki beberapa kecenderungan: (1) terdapat resistensi terhadap budaya tinggi di masyarakat tertentu; (2) secara semiotik kaum muda memiliki kreativitas mereka sendiri dalam memberikan makna simbolik terhadap budaya massa; (3) popularitas gerakan subkultur; dan, (4) terdapat kemampuan kreatif dalam menggunakan budaya pop sebagai sumber inspiratif dan kreatif untuk pemberdayaan masyarakat lokal.

pekerjaan-kantor-d-rumah

Ragam tubuh ideologis

August 17, 2016 Ikwan Setiawan 0

Artikel tentang beragam konstruksi ideologis yang mengusung keperempuanan dan kelelakian dalam beberapa macam iklam media cetak. Dengan menggunakan teori representasi, kita bisa melihat betapa tubuh dikonstruksi dalam beragam rupa dan negosiasi ideologisnya.

basic-instinct-2-risk-addiction-2006-697x480

Perempuan Cerdas yang (Tetap) Butuh Tubuh

August 11, 2016 Ikwan Setiawan 0

Film BASIC INSTINCT 2 yang masih dibintangi Sharon Stone menawarkan wacana yang mengusung keunggulan subjek perempuan yang memainkan hasrat seksual seorang lelaki. Bukan untuk tunduk, tetapi untuk menjadikan si lelaki linglung. Namun, di balik keberhasilannya, si perempuan tetaplah memainkan tubuh. Tulisan ini membedah persoalan tersebut dengan perspektif semiotika mitos Barthesian.

6af0e9dec9548b96781c3a5d54ba169d_adie9048-s

Bukan sekedar mencampur budaya: Hibriditas sebagai politik kultural masyarakat Using dan titik-baliknya di masa kini

August 9, 2016 Ikwan Setiawan 0

Artikel ini mendiskusikan kekuatan hibriditas kultural pada masyarakat Using Banyuwangi. Gandrung dan musik Banyuwangian menjadi contoh menarik betapa “siasat” untuk mengapropriasi aspek-aspek dominan-luar ke dalam kreativitas estetik telah memperkaya budaya Using meskipun secara historis mereka mengalami penindasan. Hibriditas merupakan “struktur dalam” kebudayaan Using sekaligus menjadi politik kultural yang menjadikannya selalu dinamis dalam proses “menjadi”.

saman-ayu-utami-rev1

SASTRA WANGI: Kontestasi wacana dalam sastra populer

April 7, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan berikut merupakan analisis kritis terhadap apa-apa yang sebenarnya diusung oleh perdebatan tentang sastra wangi akhir-akhir ini. Perspektif yang dipakai untuk melakukan analisis ini adalah (1) hegemoni yang diusung oleh Antonio Gramsci dan (2) power and knowledge yang dikemukakan oleh Michel Foucault. Dari Gramsci penulis akan menggunakan perspektifnya tentang bagaimana sebuah kelas/kelompok menegosiasikan ideologi dominan yang diusungnya dan bagaimana cara kelompok ini menguasai wacana dan kepentingan kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat dengan cara mengartikulasikan kepentingan-kepentingan kelompok tersebut dan juga bagaimana dalam budaya populer kekuatan subordinat melakukan resisteni terhadap kekuatan hegemonik.[1] Sedangkan dari Foucault penulis akan menggunakan perspektifnya tentang kuasa (power) yang ada di balik wacana-wacana pengetahuan (knowledge) yang terepresentasikan dalam formasi diskursif

darah-dan-doa

LAYAR BERKEMBANG BUDAYA MENGHADANG: Paradoks budaya bangsa dalam perkembangan film Indonesia

April 6, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini berusaha untuk menelusuri geneaologi kuasa budaya bangsa dalam perkembangan film Indonesia, dari masa Sukarno hingga “Orde Reformasi” saat ini. Asumsi kritis yang mendasari tulisan ini adalah bahwa pengetahuan tentang budaya bangsa yang dibangun oleh aparatus-aparatus hegemonik melalui penyebaran wacana ke dalam kesadaran dan imajinasi masyarakat telah melahirkan rejim kebenaran yang menjadi patokan untuk memberikan penilaian, mengatur, ataupun membicarakan film Indonesia, baik yang dilakukan oleh birokrat seni, budayawan, kritikus, maupun sineas film itu sendiri. Kondisi inilah yang memunculkan tegangan-tegangan diskursif di antara mereka yang mendukung hegemoni melalui budaya maupun yang menentangnya. Untuk bisa sampai ke dalam permasalahan tersebut, tulisan ini akan menggunakan analisis wacana kritis yang dikembangkan dari pikiran-pikiran Michel Foucault tentang wacana dan kuasa/pengetahuan.

sinema-pintu-taubat

ISLAM TELEVISI

April 4, 2016 Ikwan Setiawan 0

Mungkin, inilah saatnya kita harus menyaksikan bagaimana Islam sebagai agama yang sangat luwes dan adaptif dengan semangat perubahan zaman dicitrakan dalam kontradiksi komodifikasi televisi. Di satu sisi, Islam adalah ajaran yang damai, harmonis, modis, sekaligus formalis. Islam dalam tayangan-tayangan siraman rohani, jelas-jelas membawa semangat kapitalistik dengan mengusung mode-mode pakaian trendy yang diidentikkan dengan simbol-simbol Islam yang formalis. Para ustadz/ah dalam Islam televisi telah menjadi agen-agen kapitalis dengan ‘senyum imannya’ yang mampu membangkitkan relasi imajiner dari para penonton untuk meniru gaya berpakaian dan cara hidup seperti yang dilakukan para guru ngaji modis tersebut. Kutbah-kutbah yang mereka tak lebih dari sandiwara yang bisa dimainkan setiap saat tergantung pesanan dan honor yang mereka terima. Dan semua yang mereka omongkan memang belum tentu dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari mereka.