BANGSA DALAM LAYAR IMPIAN: Poskolonialitas kultural, individualisme, dan nasionalisme dalam (sebuah) narasi film Indonesia era 2000-an

March 23, 2016 Ikwan Setiawan 0

Artikel ini akan membicarakan produksi poskolonialitas kultural dalam film Indonesia era 2000-an dengan menggunakan pendekatan poskolonial tanpa meninggalkan pertimbangan ekonomi-politik. Pendekatan poskolonial bermanfaat untuk membingkai wacana-wacana poskolonialitas yang diproduksi oleh para sineas dalam narasi film yang tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosio-historis, khususnya terkait bagaimana ekonomi-politik neoliberalisme diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pasca Reformasi 1998. Asumsi utama yang saya usung adalah bahwa anggitan poskolonialitas kultural dalam narasi film menegosiasikan individualisme sebagai pengetahuan ideal di zaman pasar serta berimplikasi pada pemaknaan-ulang nasionalisme. Untuk bisa membuktikan asumsi tersebut, saya akan menggunakan film Garuda di Dadaku (Ifa Isfiansyah, 2009, selanjutnya disingkat GDD) sebagai sumber data utama. Untuk melengkapi pembacaan kontekstual dari wacana yang berlangsung dalam narasi, saya akan menggunakan artikel jurnal, buku, dan sumber internet sebagai sumber data skunder. Selain untuk mengkonseptualisasikan budaya poskolonial dan nasionalisme di tengah-tengah neoliberalisme, temuan-temuan dalam analisis ini akan saya pakai untuk mengkritisi kajian poskolonial.

Perempuan di balik kabut Bromo: Perempuan Tengger dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Perempuan juga ikut bekerja di tegal. Pekerjaan mereka bukan hanya sebatas ngirim (mengantarkan sarapan) suami, tetapi perempuan juga ikut melakukan kegiatan yang di wilayah lain hanya lazim dikerjakan oleh kaum laku-laki. Perempuan Tengger juga ikut mencangkul, menyiangi rumput, menanam sayur, bahkan ngobat (menyemprotkan pestisida ke sayuran). Tanpa rasa canggung dan malu kaum perempuan berkontestasi di ladang bersama-sama dengan suami tercinta.

Transformation of ludruk performances: From political involvement and state hegemony to creative survival strategy

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

This article discusses the transformation of ludruk performances, from Soekarno to Reformation era. In discussing the problem, we apply a cultural studies perspective. From our analysis, there are three findings related to the discursive transformation of ludruk stories. Firstly, in the era of Soekarno, many ludruk groups joined Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra/Institute of People’s Culture), which had many ideological similarities with Partai Komunis Indonesia (PKI/ Indonesian Communist Party). Consequently, ludruk groups performed some provocative stories that exposed the problems of lower-class people and criticized Islamic religious beliefs. Secondly, after the bloody 1965 tragedy, the regional military apparatuses controlled ludruk groups and their performances, including the stories. In this era, ludruk stories supported the New Order regime’s national development programs and raised people’s consensus on the significance of militarism through popular stories about people’s resistance to colonizers. Thirdly, in the Reformation era, some ludruk groups make newer, interesting stories about many complicated social problems in contemporary society. Finally, we conclude that this mode of transformation through creating newer, social problem-based stories that intertwine with historical conditions has deep historical roots in ludruk performances. In addition, during the Reformation period in whichmarket capitalism becomes a dominant ideology and practice, such newer stories and breakthroughs of staging may become a suitable creative survival strategy for ludruk groups in the midst of techno-cultural popularity as the dominant taste and orientation in societies.

Tayub dalam dua kutub: Wacana kesakralan dan keprofanan di masa kolonial dan pascakolonial

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Meskipun demikian, terdapat beberapa persoalan yang membutuhkan klarifikasi lebih lanjut, yakni: (1) sejak kapan sebenarnya dua kutub—kesakralan dan ke-profan-an—dalam tayuban dikonstruksi secara diskursif?; (2) kondisi historis seperti apa yang menjadikan kedua wacana tersebut dikemukakan?; (3) kepentingan-kepentingan apa dan siapa yang dimainkan dalam usaha untuk memapankan wacana dikotomis tersebut?; dan, (4) bagaimana transformasi kedua wacana itu dalam perubahan zaman. Keempat pertanyaan itulah yang mendasari lahirnya tulisan ini. Argumen dasarnya adalah terdapat kondisi historis dan kepentingan politiko-ideologis yang mempengaruhi munculnya wacana ke-profan-an dan ke-sakral-an dalam pertunjukan tayub. Argumen berikutnya adalah bahwa wacana kesakralan dan ke-profan-an yang dilekatkan dalam pagelaran tayub mengalami transformasi sebagai akibat perubahan kondisi zaman. Tulisan ini, pada tataran minimal, berusaha membuka keempat permasalahan tersebut sekaligus menjelaskan bahwa wacana-wacana terkait kesakralan dan keprofanan tayub bukanlah sesuatu yang netral dan tiba-tiba hadir dalam lingkaran akademis dan kehidupan masyarakat. Alih-alih, mereka adalah hasil konstruksi yang ditransformasikan dari awal kelahirannya hingga saat ini di mana terdapat pengaruh dari pihak-pihak yang berkepentingan.

Keberaksaraan dalam abad digital: Implikasi-implikasinya terhadap proses kebudayaan dan kebangsaan

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini akan mendiskusikan posisi dan masalah tradisi keberaksaraan di tengah-tengah kemajuan teknologi informasi yang mampu mengubah dengan cepat tradisi analog menuju tradisi digital; salah satu penanda peradaban dari abad ke-21. Aksara yang dalam era teknologi analog sudah mengalami tantangan luar biasa dari kelisanan kedua yang dibawa oleh program televisi dan film, saat ini harus menghadapi realitas booming piranti, media, dan permainan digital yang mampu mengubah cara berpikir, kebiasaan tubuh, dan impian ideal umat manusia. Permainan kode dan tombol dalam teknologi digital menghadirkan kebiasan-kebiasaan baru yang menggiring individu ke dalam pola pikir ringkas, serba cepat, emosional, serba bisa, serba mudah, dan serba pragmatis. Kondisi inilah yang membawa implikasi-implikasi kultural dalam kehidupan individu dan masyarakat. Dan, dalam konteks yang lebih luas, proses kebangsaan yang bersifat kompleks tidak bisa mengelak dari kebiasaan-kebiasan baru tersebut.

Local complex: Projects of modernity, complicated cultural appropriations, and fluid-hybrid subjectivity in a local sphere

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

Indeed, the local people have been appropriating education, daily consumption and capitalism, democratization, and secularization as the forms of modernity projects that have been changing some traditional cultures, but they still have been preserving some other cultures as signifiers of essential identity. Those processes may emerge what I call as local complex, a complicated process of cultural appropriation in local sphere coloured by fluid-hybrid subjectivity. In this article, by applying postcolonial perspective without leaving political economy consideration, I will read field data from Tenggerese community in Probolinggo, East Java to discuss some cultural conditions in local complex in the following frameworks. Firstly, the local people appropriate modernity into their everyday life, but they still believe, celebrate, and preserve some traditional cultures essentially. Secondly, as the discursive effect of modern experiences, there are some changing in understanding traditional beliefs and practices as [a] celebrating rituals in more profane and luxurious ways and [b] having deconstructive meaning towards religious authority and ancient taboos. As concluding remarks, I will emphasize some strategic researches on local communities and give new considerations of postcolonial studies and.

Self-narratives, postcoloniality, and negotiation of neoliberalism in Indonesian films in the 2000s

March 22, 2016 Ikwan Setiawan 0

This article deals with self-narratives, postcoloniality, and negotiation of neoliberalism as ideology in Indonesian films in the 2000s, particularly in some teen and children films. In this era, filmic self-narratives become more individual in which filmic characters get freedom in expressing desires, individual-skillful struggles, and self-identities. Such narratives represent a detaching and deconstructing process from local and national bounds, as represented in filmic narratives under the New Order regime. By exploring cultural ambivalences as the dominant condition of postcoloniality, the films still articulate some traditional/local values in filmic world structure, but rather than empower their roles, their appearances tend to support self-narratives of teenagers and children who want to get more freedom in modern life. From cultural studies, postcolonial studies, and political economy perspective, self-narratives of teenagers and children that seek freedom from traditional bounds, for celebrating individualism, and for creating skillful self as the ways to reach great achievements, represent discursive negotiation of neoliberalism as ideal orientation for postcolonial Indonesian. Those narratives do not explore neoliberalism as a free market system transparently, but as individuals-capacity ideology that will make them successful in social, economy, and cultural competitiveness.

Merawat dan meng-investasi tradisi: Politik identitas berbasis budaya Using dan Tengger pasca Reformasi

March 19, 2016 Ikwan Setiawan 0

“Politik identitas juga mesti dibaca secara dinamis, dalam artian tidak hanya berdasarkan satu dalil teoretis saja. Apa yang mesti dibaca lebih lanjut adalah bahwa paradigma esensialisme identitas yang membayangkan adanya sebuah poros kultural dalam masyarakat yang berlangsung dari masa lalu hingga masa kini serta memberi manfaat bagi para anggotanya, kurang tepat—bukan berarti tidak boleh—digunakan untuk membaca politik identitas di hari ini.”