Sukorejo Serempak: Mengusahakan ruang budaya di Taman Kota

IKWAN SETIAWAN

‘Melahirkan’ Sukorejo Serempak  

Setelah menggelar Rampak Ujung Gethekan pada 29 Desember 2019, Dewan Kesenian Jember (selanjutnya disingkat DeKaJe) kembali menghadirkan pertunjukan publik. Lapangan Sukorejo yang menjadi bagian dari Taman Kota Sumbersari dipilih sebagai lokasi gelaran yang diberi label Sukorejo Serempak. Pertunjukan ini merupakan inisiatif Basis Wanto, Bendahara DeKaJe. Tidak muluk-muluk, hajatan bertujuan meramaikan Taman Kota yang menjadi salah satu program Pemkab Jember sebagai ruang budaya di mana masyarakat dan para seniman bisa ‘saling bertemu’ dalam kapasitas masing-masing. Konsep acara yang disuguhkan juga sederhana, tampilan beberapa kesenian Rakjat secara bergantian. Adapun yang ditampilkan adalah jathilan, rampak cemeti, janger berdendang, show penyanyi ludruk, dan reyog sebagai penutup.  Semua seniman yang terlibat adalah mereka yang selama ini didampingi oleh DeKaJe.

Pertemuan di Warung Amin Jember, 8 Januari 2020, untuk menyiapkan acara
Sukorejo Serempak

Meskipun dikemas sederhana, sesuai dengan prediksi pengurus DeKaje, penonton dari kawasan Sumbersari akan memadati arena pertunjukan. Salah satu alasannya adalah sudah lama tidak ada pertunjukan kesenian Rakjat di Lapangan Sukorejo. Padahal generasi tua masih menyimpan ingatan ketika pada era 1970-an hingga 1990-an, lapangan ini sering menjadi tempat keramaian. Selain itu, bagi anak-anak dan generasi muda yang berada di wilayah kota, pertunjukan kesenian Rakjat seperti jathilan adalah sesuatu yang langka dan menarik untuk dinikmati. Budaya upload foto atau video ke media sosial ikut mendorong penonton untuk datang.. Bahkan, ada juga penonton yang datang karena salah satu kelompok yang akan tampil dalam gelaran Sukorejo Serempak adalah kelompok yang mereka gandrungi. Realitas ini menegaskan betapa masyarakat kota Jember, pada dasarnya, masih menyukai pertunjukan kesenian yang bisa mendatangkan banyak penonton. Di tengah-tengah geliat budaya internet yang semakin biasa, mereka masih menyimpan kerinduan terhadap keunikan estetik kesenian yang berkembang di wilayah perdesaan.

Diskusi gayeng menyiapkan konsep acara

Sejatinya, proses ‘melahirkan’ Sukorejo Serempak bukanlah persoalan sederhana. Mendekati hari H, terdapat permasalahan njlimet yang sempat membuat pusing beberapa pengurus DeKaJe. Ada gerakan dari salah satu RW yang menolak pelaksanaan karena dianggap akan merusak rumput lapangan. Padahal, rumput lapangan memang sudah tidak bagus sejak awal. Selain itu, mereka juga meminta surat izin dari Dinas Pemuda dan Olahraga. Menghadapi hal itu, ada usulan untuk menghentikan acara. Saya menolak karena publikasi sudah tersebar luas. Melalui komunikasi intens dengan (Plt) Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya, bisa dicarikan solusinya. Pengurus DeKaJe diminta berkirim surat permohonan izin langsung ke Bupati Jember. Maka, menjelang pukul 23.00, 16 Januari 2020, surat dalam bentuk file PDF pun dikirim ke Bupati. Atas penjelasan Kang Eko via WA, Bupati pun mempersilahkan DeKaJe menggelar acara di Lapangan Sukorejo. Siang harinya, surat izin dari Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya pun terbit. Para pengurus DeKaJe dan pengisi acara pun bahagia karena pertunjukan jadi digelar.

Nyatanya, masalah belum selesai dengan keluarnya surat izin tersebut. Salah satu pemuda tetap menolak acara tersebut dengan alasan tidak ada surat dari Dinas Pemuda dan Olahraga. Lagi-lagi, pengurus DeKaJe pun kebingungan pada malam menjelang pertunjukan. Saya pun tetap berusaha santai. Lagi-lagi saya berkomunikasi dengan Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya. Ia pun merespons dengan cepat dengan memberitahukan permasalahan kepada Bupati. Tanpa basa-basi, Bupati pun menghubungi Lurah Karangrejo dan memintanya untuk turun menyelesaikan permasalahn. Akhirnya, si pemuda pun tidak berani lagi menolak.

Permasalahan tersebut perlu saya ungkapkan agar bisa menjadi pelajaran betapa niatan untuk melahirkan ruang budaya bukanlah permasalahan sepele. Ada saja kekuatan yang tidak suka dengan kemampuan DeKaJe untuk menggelar acara bersama warga. Sejatinya, para pengurus sudah berhasil mengidentifikasi siapa-siapa yang berpotensi untuk menggagalkan Sukorejo Serempak. Namun, para pengurus memilih untuk mendiamkannya dan cukup dijadikan bahan evaluasi. Apresiasi patut diberikan kepada Bupati Jember, Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya, dan Lurah Karangrejo atas gerak cepat mereka dalam menangani permasalahan sehingga hajatan kultural tersebut bisa terlaksana. Apa yang diyakini para pengurus DeKaJe adalah bahwa semua usaha untuk memajukan budaya lokal akan memberikan dampak positif kepada para pelaku dan warga, sehingga akan ada kekuatan yang membantu dalam mengatasi bermacam permasalahan. Bukan hanya bantuan dari Pemkab Jember, semesta alam pun memberikan bantuannya berupa cuaca mendung tanpa hujan yang cukup ‘mengayomi’ para seniman dan penonton dari sengatan matahari di bulan Januari.  

Kesenian-kesenian yang mengibur dan mengobati rindu

Perempuan-perempuan tua, sebagian berjilbab sebagian tidak, berdiri di belakang anak-anak usia SD dan SMP yang berada di bagian depan lingkaran. Mereka memperhatikan sambutan yang diberikan oleh Ketua Umum DeKaJe, Dr. Eko Suwargono, M.Hum. Dalam sambutannya, Kang Eko menekankan bahwa apa yang dilakukan oleh DeKaJe sejalan dengan keinginan Bupati Jember untuk menjadikan kota ini sebagai “kota wisata berbudaya”. Bagi DeKaJe keinginan tersebut tidak cukup dikampanyekan, tetapi harus diwujudkan dalam karya dan kegiatan nyata yang menegaskan keragaman budaya Jemberan. Tidak bisa wilayah sejak era kolonial sudah beragam secara etnis dan agama ini dipaksakan hanya memiliki satu identitas: Pandhalungan. Sementara, kajian tentang identitas tersebut masih bersifat mentah. Untuk itulah, tidak perlu bingung dengan identitas. Karena dalam masyarakat multikultural, identitas tidak bisa dipandang secara kaku. Mereka yang Jawa biarkanlah menjadi Jawa meskipun tetap berinteraksi secara dinamis dengan warga Madura. Ketika perjumpaan antaretnis karakteristik unik, itulah konsekuensi dari keragaman budaya, meskipun masing-masing komunitas masih bertahan dengan identitas etnis mereka. Kalaupun ada Pandhalungan, itu hanya bagian kecil dari Jember.

Sambutan Ketua DeKaJe, Kang Eko

Ragam warna dalam ruang geo-kultural Jemberan itulah yang semestinya dikembangkan dan dipromosikan oleh Pemkab Jember. Pemaksaan pada identitas Pandhalungan tanpa kejelasan konsep dan realitas, hanya akan menjadikan kebijakan budaya yang diambil tidak jelas dan tak tentu arah. Keragaman budaya Jember semestinya menjadi kekuataan dan kekayaan yang bisa dikelola. Untuk itu, Kang Eko menegaskan, sudah saatnya kemungkinan-kemungkinan menggunakan Taman Kota Sumbersari sebagai ruang budaya didiskusikan secara serius. Ruang budaya akan mendorong lahirnya aktivitas-aktivitas kultural, dari mendiskusikan, mendesain, hingga menjalankan. Partisipasi warga masyarakat dan para pelaku menjadi kemutlakan. Kebijakan Pemkab semestinya bisa menjangkau usaha memanfaatkan taman kota sebagai pusat budaya di mana partisipasi dan kreativitas menjadi kunci. Dalam kepentingan itulah, Sukorejo Serempak dihadirkan oleh DeKaJe.

Anak-anak bersiap menikmati pertunjukan demi pertunjukan

Kebahagiaan penonton ketika menyaksikan tampilan pertama, jathil wedok dari Kelompok Jaranan Ajisoko, Jatigowok, Kesilir Wuluhan menjadi bukti bahwa warga kota membutuhkan atraksi kesenian di ruang publik yang bisa menghibur batin mereka. Enam jathil berusia muda menyapa penonton dengan gerakan lincah mengikuti iringan musik gamelan jaranan. Para pengrawit pun tak kalah semangatnya melihat ratusan penonton mengelilingi lokasi pertunjukan. Jarak yang begitu dekat menjadikan sajian ini menghadirkan suasana akrab yang cair. Tidak ada panggung yang didesain megah. Semua penari menari di atas tanah lapang yang diberi karpet. Anak-anak begitu gembira. Menonton atraksi jathil secara langsung merupakan sesuatu yang langka. Tentu saja, kita berharap dari proses menonton ini ada di antara anak-anak atau kaum remaja yang tertarik untuk ikut berlatih di komunitas seni. Kegembiraan dalam menonton pertunjukan secara langsung juga bisa memberikan alternatif nutrisi pikiran, batin, dan imajinasi, agar tidak hanya dipenuhi oleh hasrat dan memori tentang game.

Para jathil wedok sedang beraksi

Sementara, bagi penonton berusia dewasa dan tua, kehadiran para jathil seperti mengobati rindu karena sudah terlalu lama tidak ada pertunjukan kesenian Rakjat di Lapangan Sukorejo. Wajah mereka menampakkan kebahagiaan. Dalam rutinitas harian di ruang pinggiran kota, mereka adalah subjek yang mengikuti ritme kehidupan modern, meskipun tidak mampu menjangkau sepenuhnya narasi besarnya. Mereka masih belum mau pula meninggalkan komunalisme dengan sesama warga. Ikatan-ikatan dengan budaya leluhur yang mereka nikmati di masa kecil ataupun masa muda tidak bisa hilang sepenuhnya. Itulah mengapa meskipun tanpa publikasi massif—hanya mengandalkan penyebarluasan poster media sosial—warga masyarakat memenuhi lingkaran pertunjukan. Ada kerinduan terhadap masa lalu dan kesenian lokal yang perlu diledakkan dalam perayaan bersama warga lain dan keluarga mereka. Kondisi keberantaraan kultural masyarakat kota inilah yang semestinya difasilitasi dengan menghadirkan ruang budaya yang memungkinkan mereka berinteraksi dengan kekayaan kesenian.

Gaya komikal Sony Cimot ketika membaca puisi membuat para jathil tertawa

Suharsono alias Sony Cimot menghadirkan pembeda selepas atraksi jathilan. Dia membacakan puisi dengan gaya teatrikal yang cukup menggelitik penonton. Ia membawakan puisi Laler (Lalat) untuk menggambarkan bagaimana kehidupan yang bergerak dinamis dan merdeka. Meskipun tidak banyak penonton yang mengerti maksudnya, mereka tertawa karena aksi teatrikal Cimot yang lucu ketika membaca puisi. Cimot adalah penggerak Teater BLAGADOR dan pengurus DeKaJe yang menggeluti dunia teater. Pertunjukan puisi ini, setidaknya, memberikan alternatif kepada warga. Bagi pengembangan kesenian modern, pembacaan puisi ini juga mengirim sinyal bahwa dengan kemampuan tertentu, puisi bisa dihadirkan di tengah-tengah pertunjukan kesenian Rakjat. Cimot berusaha membawa puisi dan teater ke tengah-tengah publik yang awam sehingga memori mereka akan merekamnya sebagai sajian yang asyik dan unik.

Tiga penyanyi kontes ludruk menghibur warga.

Setelah dihibur oleh Cimot, warga diajak untuk menikmati karya seni yang menandakan keberantaran kultural karena kuatnya modernitas. Para seniman pun demikian. Para penyanyi kontes ludruk adalah salah satu contohnya. Dalam pertunjukan ludruk, kontes merupakan babak hiburan di mana para penyanyi akan berpakaian modis untuk kemudian menyanyikan lagu-lagu campursari, Banyuwangian, dan Madura yang terkenal di masyarakat. Kontes merupakan setrategi kultural yang dimainkan para seniman ludruk agar pertunjukan mereka menjadi lebih berwarna dan tidak menjadikan penonton jenuh. Panitia Sukorejo Serempak juga menghadirkan tigapenyanyi kontes untuk menghibur warga Karangrejo dan sekitarnya. Mereka menyanyikan beberapa lagu yang sedang hits, seperti Juragan Empang dan Welas Hang Ring Kene. Para penonton pun hanyut dalam nyanyian dan goyang mereka yang mengikuti musik elekton. Atraksi ketiga penyanyi berakhir ketika adzan Ashar hendak dikumandangkan. Break ini merupakan penghormatan terhadap warga yang mau menunaikan ibadah sholat. Setelah beberapa menit, adegan janger berdendang pun disajikan oleh dua penari dari Jaranan Citra Budi Luhur, Lojejer, Wuluhan. Meskipun hanya sesaaat, kehadiran mereka berdua bisa menjadi penawar rindu masyarakat terhadap budaya Banyuwangi.

Janger berdendang di-ayomi mendung

Suara cemeti yang dimainkan oleh para anggota Komunitas Cemeti Sodho Lanang (KCSL) memecah langit senja Sukorejo. Anak-anak dan para penonton lainnya dibuat terkesima dengan adegan demi adegan yang dimainkan. Tak sedikit dari mereka yang mem-video-kan atraksi rampak cemeti tersebut. Kehadiran rampak cemeti ini sekaligus mengabarkan bahwa salah satu adegan dalam jaranan ini—biasanya sebagai pembuka—bisa dikembangkan lebih lanjut dalam atraksi tersendiri. Warga pun tidak merasa jenuh. Apa yang patut diapresiasi dari rampak cemeti adalah usaha kaum muda untuk mengisi waktu luang mereka dengan kegiatan-kegiatan kultural yang mengkonstruksi imajinasi mereka secara positif untuk kemudian melahirkan karya kreatif. Ini membuktikan bahwa stigmatisasi terhadap generasi muda sebagai kelompok yang sering membuat keonaran gugur. Bahwa memang ada anak-anak muda yang membuat keresahan sosial, tetapi itu terjadi karena mereka tidak memiliki saluran kreatif bagi hasrat dan keinginan yang meledak-ledak. Itulah mengapa penciptaan ruang budaya dalam bentuk tempat-tempat latihan kesenian yang difasilitasi pemerintah desa, pemerintah kecamatan, dan pemerintah kabupaten menjadi penting. Di tempat-tempat latihan itu mereka bisa belajar menata kepribadian, memperkuat kedisiplinan, dan mengembangkan imajinasi kreatif, sehingga bisa mengurangi keterlibatan mereka dalam aktivitas-aktivitas sosial berwarna destruktif.

Atraksi cemeti pun mempesona

Sebagai penutup pergelaran, anak-anak muda dari Putra Sakti, Pakusari, mempersembahkan beberapa babak pertunjukan reyog Ponorogo. Adegan pembuka adalah atraksi dadak merak. Suarah gamelan dan adegan dadak merak mendorong penonton untuk merangsek ke depan. Arena untuk atraksi pun semakin menyempit. Hal ini memang tidak bisa dhindari karena warga ingin menyaksikan pertunjukan reyog yang sangat jarang mereka nikmati. Anak-anak kecil yang tidak kelihatan pun duduk di atas pundak bapak mereka. Tidak lupa sebagian mereka mem-video-kan adegan demi adegan. Kehadiran ganongan menjadikan pertunjukan semakin meriah dengan akrobat salto dan gerakan-gerakan lainnya. Beberapa bujang ganong melakukan komunikasi interaktif dengan penonton. Inilah yang patut diapresiasi dari sajian Putra Sakti. Mereka menjadikan pertunjukan reyog layaknya obyokan—non festival—yang tidak ada panggung dan sekat. Kehadiran beberapa jathil wedok di tengah-tengah adegan ganongan menjadi kekuatan harmoni. Meskipun ada jathil yang sudah berumur, kelincahan mereka tetap memukau. Pertunjukan reyog ditutup dengan gelaran dadak merak. Penonton seolah enggan untuk beranjak. Namun, karena panitia disiplin terhadap jadwal, pertunjukan pun berakhir pada pukul 17.00 WIB.

Seorang anak mem-video-kan atraksi dadak merak

Mayoritas pemain reyog adalah anak-anak muda kelahiran Jember, baik yang berasal dari etnis Madura, Jawa, ataupun campuran. Namun, mereka tidak mau gegabah menamai pertunjukan mereka sebagai reyog Pandhalungan seperti yang pernah terjadi di Ambulu pada tahun 2018.[1] Mereka sadar sepenuhnya, reyog adalah kesenian khas Ponorogo. Kalaupun mereka memberikan sentuhan-sentuhan lokal Jember seperti interaksi beraroma humor dengan penonton, tidak akan mengubah nama kesenian dari Bumi Wengker ini. Ruang Jemberan memang memungkinkan perjumpaan bermacam budaya. Meskipun masih memendam prasangka, kehadiran kesenian bermacam etnis di bumi Jember bisa sedikit banyak berkontribusi terhadap kesadaran masyarakat bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang harus terus dipertentangkan.

Ganongan yang atraktif dan menghibur

Ketika anak-anak muda Pakusari dan sekitarnya belajar dan mementaskan reyog, kita bisa menemukan betapa dinamis dan lenturnya budaya Jemberan ini. Kondisi inilah yang harus dipelihara dan dikembangkan tanpa harus buru-buru memaksakan identitas Pandhalungan. Anak-anak muda itu memang berasal dari etnis Madura ataupun Jawa, tetapi mereka secara kultural juga bisa mengadopsi dan meniru budaya dari etnis lain. Itu semua tidak meniadakan karakteristik etnis yang melekat dalam kehidupan mereka. Proses melintasi tersebut merupakan proses historis untuk menjadi, sehingga kreativitas-kreativitas kultural berbasis etnis bisa semakin kaya. Labelisasi yang terlalu memaksa tidak akan menghasilkan apa-apa selain resistensi dari para pelaku budaya itu sendiri.

Ruang budaya: Sebuah pesan untuk pemerintah

Pemkab Jember telah dan sedang membuat Taman Kota di beberapa wilayah, seperti Sumbersari, Mangli, Balung, dan Arjasa. Tentu saja, hal itu merupakan usaha strategis untuk memberikan publik ruang publik tempat mereka bisa melakukan banyak aktivitas rekreatif maupun edukatif. DeKaJe, melalui Sukorejo Serempak berkeinginan agar Pemkab Jember juga memikirkan penggunaan Taman Kota sebagai ruang budaya. Tentu saja, yang saya maksudkan sebagai ruang budaya bukanlah bangunan megah tempat berkumpulnya para seniman. Alih-alih, sebuah tempat—bisa di tanah lapang, balai desa, balai dusun, halaman sekolah, dan yang lain—di mana warga masyarakat bisa berjumpa dalam peristiwa dan kegiatan budaya. Mereka bisa menggelar pertunjukan seni, pameran, pelatihan tari, lomba melukis, dan yang lain. Ruang budaya itulah yang akan mengisi kota dengan aspek-aspek humanis di tengah-tengah gerak modernitas. Anak-anak, kaum remaja, dan kaum muda bisa berlatih bersama para seniman agar mendapatkan pengetahuan dan skill kreatif. Mereka bisa terhubung secara batin dengan kekayaan kesenian dan budaya Jemberan. Dengan cara itulah, mereka bisa memperbanyak isi otak dengan imajinasi kreatif, bukan imajinasi tentang hal-hal yang bersifa negatif. Di Taman Kota, warga bisa berdiskusi untuk mendesain kegiatan-kegiatan yang melibatkan anak-anak, kaum remaja, dan kaum muda, selain para seniman dan pelaku budaya lainnya. Maka, ruang budaya juga menjadi perluasan partisipasi publik dalam mekanisme demokratis.

Mendung menggantung sebagai ‘restu’ semesta

Tentu saja, Pemkab Jember memiliki tanggung jawab untuk ikut mengusahakan terciptanya ruang budaya. Keinginan besar Bupati untuk mewujudkan “Jember Kota Wisata Berbudaya” harus ditopang partisipasi publik untuk menciptakan banyak event budaya. Kita bisa membayangkan kalau di setiap Taman Kota atau di setiap lapangan kecamatan dan lapangan desa sebulan atau dua bulan sekali digelar pertunjukan publik yang melibatkan anak-anak, kaum remaja, dan kaum muda, Jember akan ramai dengan event. Blow up media akan membantu untuk mempromosikan event-event tersebut ke tingkat nasional maupun internasional, sehingga wisatawan akan tertarik untuk datang. Model ini tentu berbeda dengan model penunjukan sanggar seni yang disukai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud). DeKaJe melawan model penunjukan karena hanya menguntungkan sanggar tertentu, sementara di Jember banyak sekali kelompok seni Rakjat dan sanggar. Kegiatan budaya di Taman Kota semestinya bisa memfasilitasi kehendak warga dan perkembangan beragam kesenian Rakjat di Jember. Dengan demikian, aktivitas-aktivitas kultural di Taman Kota juga bisa terhubung dengan usaha pemajuan kebudayaan sebagaimana diperintahkan Undang-undang No. 5 Tahun 2017.  


[1] Lihat, Ikwan Setiawan. ‘Reog Pandhalungan: Politik wacana media, kekuasaan, dan proyek indentitas.” https://matatimoer.or.id/2018/07/25/reog-pandhalungan-politik-wacana-media-kekuasaan-dan-proyek-identitas-jember/

Share This:

About Ikwan Setiawan 182 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*