Lintasan sejarah dan gagasan pascamodern

YONGKY GIGIH PRASISKO

Ledakan ekonomi dan industri budaya

Ekonomi dunia, pada tahun 1950an, mengalami pertumbuhan pesat. Masa ini kemudian dianggap sebagai awal periode ledakan ekonomi. Kebanyakan negara-negara yang mengalami kehancuran parah akibat perang dunia II sukses melakukan pemulihan ekonomi antara lain Jepang, Jerman Barat, Austria, Korea Selatan, Perancis, Itali dan Yunani. Negara-negara Amerika Serikat, Uni Soviet, Eropa Barat dan Asia Timur turut mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Amerika menyebutnya Zaman Keemasan Kapitalisme (Golden Age of Capitalisme), Jepang, Itali dan Yunani menyebut Keajaiban Ekonomi, Jerman Barat dan Austria menyebut Keajaiban Rhine (Wirtschaftswunder), Korea Selatan menyebut Keajaiban Sungai Han dan Perancis mengistilahkan Tiga Puluh Tahun Kejayaan (Trente Glorieuses). Periode ini dimulai sejak 1950an sampai berakhir pada 1970an.

Di masa ini Amerika menjadi pentolan kekuatan industri dunia. Amerika turut mengembangkan industri budaya dalam perluasan ekonominya. TV komersial, musik pop, seni pop, film, media massa, majalah turut mewarnai industri budaya Amerika. Sampai pada tahun 1960an, berbagai kebudayaan pop bermunculan dan menjadi gerakan. Masa ini turut dikenal sebagai periode enam-puluhan (the sixties) yang ditandai dengan berbagai gerakan populer karena kekecewaan politik pada saat itu (Porta dan Diani, 2006:1). Gerakan turut mengarah kepada perlawanan terhadap norma dan institusi yang mapan seperti seksualitas, sekolah, cara berpakaian yang dilakukan melalui budaya pop seperti musik, puisi dan seni rupa pop. Generasi bunga (flower generation) di Amerika lahir dalam periode ini yang didominasi oleh anak-anak muda yang menyuarakan pemberontakan terhadap kebudayaan yang mapan. Kelompok musik, hippies, sastrawan dan seniman saling melengkapi dalam membentuk budaya tandingan (counter culture). Gagasan pascamodern turut muncul dalam menanggapi seni pop Amerika selama periode enam-puluhan. Tak cuma di Amerika, gerakan politik kebudayaan turut terjadi di Perancis tahun 1968. Gerakan yang dipicu oleh demonstrasi mahasiswa ini membesar dengan berbagai tuntutan seperti perombakan sistem pendidikan, kesehatan, sosial, politik dan seni serta tak lupa menentang sistem kapitalisme. Para seniman, sastrawan, filsuf turut tergabung dalam gerakan ini yang di kemudian hari disebut sebagai peristiwa Mei 1968.  Seorang filsuf Jean-François Lyotard, juga tergabung dan mendapat inspirasi gagasan pascamodern dari peristiwa ini. Selain itu, muncul juga kelompok Situationist International yang dimotori seniman Avant-Garde dan intelektual politik yang menelanjangi pengaruh media-media modern dalam reproduksi ideologi kapitalis (Couteau, J., 2000: xxiii-xxiv).

https://www.tes.com/lessons/nkpo1QBZumBqdg/developments-in-art-after-world-war-ii

Dalam konteks Amerika, gagasan pascamodern muncul dalam menanggapi seni pop yang berkembang di era enam-puluhan. Istilah seni pop muncul di Inggris sekitar tahun 1957-1958 yang merujuk pada produk budaya dari industri media. Tahun 1960an, istilah seni pop kerap dilekatkan secara khusus pada seni rupa di Amerika (Alloway, 1974:1). Kritikus pada masa ini antara lain adalah Susan Sontag. Dalam esainya One Culture and the New Sensibility (1965), Sontag mengatakan bahwa kehadiran budaya pop mengevaluasi hirarki budaya tinggi dan rendah. Seni kontemporer tak lagi sesuai dengan analisis ide dalam karya seni. Sensibilitas baru, dalam seni pop, telah muncul sebagai bentuk kelincahan karya seni dalam memperbaharui sense, komposisi dan menyuburkan gagasan. Seorang kritikus sastra, Ihab Hassan turut menekankan kelincahan dalam budaya kekinian. Ia mengutarakan karakter pascamodern antara lain retak (discontinuity), tidak pasti (indetermincacy) dan ironi. Gagasan Hassan tentang pascamodern turut menginspirasi filsuf Perancis, Jean-François Lyotard. Dalam La Condition Postmoderne: Rapport sur le Savoir (1979), Lyotard menggambarkan kondisi pascamodern sebagai masyarakat terkomputerisasi yang terhubung secara linguistik dan memiliki permainan bahasanya masing-masing. Kondisi pascamodern menekankan ketidakpastian, ketidakstabilan, paradoks dan disensus.

Keadaan masyarakat ini turut dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi. Daniel Bell menyebutnya sebagai masyarakat pos-industri. Alan Tourine memakai istilah masyarakat terporgram (programmed society).  Jean Baudrillard menggunakan istilah masyarakat pascamodern. Zygmunt Bauman punya istilah modernitas cair (liquid modernity). Manuel Castells menyebut sebagai masyarakat jejaring (network society). Alvin Toffler punya istilah masyarakat informasi (information society). Anthony Giddens menyebut istilah era kapitalisme lanjut (advance capitalism). Mereka merumuskan bahwa masyarakat kekinian memiliki kompleksitas yang tinggi yang punya kecenderungan produksi simbolik, informasi dan pengetahuan yang melimpah.

Agenda pascamodern

Di Amerika, bibit-bibit gagasan pascamodern tumbuh seiring dengan perkembangan industri kebudayaan. Ada tuntutan seni harus menyesuaikan diri dengan pasar dan hasrat konsumstif masyarakat. Dasawarsa 1960an, dunia seni rupa menghadapi serangan hebat yang membuatnya berada di titik nadir. Muncul kemudian wacana “akhir dari seni” yang menyatakan sudah tak ada lagi keunikan dalam karya seni. Seorang kritikus seni, Arthur Danto menyatakan bahwa seni pop Andy Warhol adalah titik ujung dari narasi besar tentang sejarah seni. Ia merupakan tanda berakhirnya cerita seni tentang yang indah, agung dan unik. Seni hari ini bukan hanya untuk kaum intelektual, kolektor dan mereka yang punya kebudayaan yang sama dengan si seniman, tetapi untuk masyarakat global. Di zaman pascamodern, seni mampu memberikan jawaban dan keselamatan kemanusiaan yang sebelumnya cenderung didapatkan di lembaga-lembaga keagamaan (SJ, Florentia, 2018: 175). Gagasan pascamodern, dalam hal ini, turut menggugat legitimasi lembaga modern dalam memproduksi kebudayaan terutama soal kebenaran.

https://www.tes.com/lessons/nkpo1QBZumBqdg/developments-in-art-after-world-war-ii

Kemunculan gagasan pascamodern turut dipicu oleh lumpuhnya semangat estetika modern. Seorang filsuf Jerman Jürgen Habermas, menyatakan modernitas mulai kehabisan daya dorongnya yang dirasakan melalui detik-detik kematian seni Avant-Garde. Lemahnya dorongan modernitas ini karena budaya modern telah menjadi budaya kapitalis, masyarakat konsumtif dan hedonis yang menjajah dunia-kehidupan individu. Prinsip subjektivitas yang bebas telah rusak dan budaya telah gagal menjadi sumber kreativitas seni. Habermas memperkirakan akhir (ide) seni modern itu terjadi di penghujung tahun 1970an (Habermas, 1981: 5-6). Gagasan pascamodern kemudian muncul untuk menyambut keringnya budaya modern. Gagasan pascamodern hadir untuk memberikan dorongan kembali dan sumber kretivitas baru dalam kehidupan. Melalui seni, Lyotard mengenalkan konsep sublim sebagai sebuah dorongan untuk menghadirkan pengalaman kehidupan baru. Seni berperan dalam membuka ruang representasi dan pengalaman untuk membentuk jejaring makna baru. Jika seni terjebak pada ruang representasi kapitalisme dan teknologi maka ia hanya menjadi fungsional, ekonomis dan teknologis (Lyotard, 1981:13). Gagasan pascamodern dalam hal ini berusaha untuk memberikan dorongan akan pengalaman baru, melalui karya seni, untuk mengevaluasi kebudayaan modern yang konsumtif dan kapitalistik.

Gagasan pascamodern turut membedah proyek modernitas yang dianggap gagal. Proyek modernitas berusaha membangun tata kehidupan masyarakat beradab yang diatur melalui rancangan pemukiman. Salah satu proyek modernitas terwujud melalui pemukiman Pruitt-Igoe yang dirancang sejak tahun 1951 dan selesai pada tahun 1954. Proyek Pruitt-Igoe menerapkan prinsip modern tentang rancangan yang teratur: memisahkan jalan dan trotoar, ruang terbuka yang cukup diantara blok-blok bangunan serta apatermen dengan cahaya dan pemandangan yang cukup. Arsitek proyek ini adalah Minoru Yamasaki. Seiring berjalannya waktu, proyek Pruitt-Igoe tak sesuai, bahkan berkebalikan, dengan rencana rasional untuk mengatur masyarakat agar berperilaku lebih baik dan beradab. Blok-blok jalan nyatanya lebih banyak dikenal sebagai tempat kekerasan, vandalisme, kebrutalan, kriminalitas dan kemiskinan. Polisi pun enggan masuk ke sana. Pada akhirnya, tahun 1972, bangunan Pruitt-Igoe dihancurkan. Peristiwa penghancuran Pruitt-Igoe, tepatnya pada 15 Juli 1972, disebut Charles Jencks sebagai akhir dari arsitektur modern. Jencks, dalam The Language of Post Modern Architecture (1977), membedah proyek Pruitt-Igoe yang menggunakan prinsip rasionalis Kongres Arsitektur Modern Dunia (CIAM) dan prinsip rancangan perumahan massal dan industrial urban Le Corbusier (Bristol 1991: 168). Kegagalan proyek Pruitt-Igoe adalah karena rancangannya cenderung bersifat teknis-fungsional dan kurang mempertimbangkan dimensi sosial-budaya seperti perilaku lingkungan masyarakat. Berakhirnya arsitektur modern, mendorong munculnya gagasan pascamodern yang lebih menekankan pada nilai budaya yang beragam. Paradigma pascamodern menjurus pada pluralisme dengan percampuran, eklektik dan keberagaman fungsi yang antara lain mewujud dalam fraktal arsitektur. Pascamodern, dalam hal ini bermaksud, membangun keberagaman paradigma, budaya dan identitas dalam usaha membangun peradaban masyarakat.

https://www.tes.com/lessons/nkpo1QBZumBqdg/developments-in-art-after-world-war-ii

Keberagaman dalam agenda pascamodern dicapai dengan membuka ruang bagi narasi-narasi kecil yang bersifat lokal. Ruang-ruang tersebut dibuka melalui gerakan terus-menerus untuk mengguncang sesuatu yang mapan. Di ranah filsafat, Lyotard memperkenalkan istilah paralogi yang menjadi legitimasi pengetahuan dalam masyarakat kontemporer. Produksi informasi dan pengetahuan yang melimpah menjadikannya terus bergerak bebas dan mengalir menggugat segala sesuatu yang mapan. Modernisasi menghasrati kemapanan serta keteraturan melalui pengkategorian, penjinakan, rasionalisasi dunia untuk membuatnya bisa diprediksi, dikendalikan serta dipahami. Gerakan paralogi berusaha untuk menggugat kategori-kategori yang mapan di mayarakat sekaligus lembaga-lembaga yang memapankannya . (Lyotard, 1984: 66-67). Sesuatu yang mapan pada akhirnya akan mendominasi yang lain. Gugatan terhadap sesuatu yang mapan bermaksud untuk menggerus dominasi dan membuka ruang bagi narasi lain kemudian menjadikannya setara dan beragam. Agenda pascamodern bertujuan membentuk masyarakat yang plural dengan keberagaman identitas kelompok yang bisa hidup saling berdampingan dengan tetap menjaga/menghormati nilai dan keyakinan masing-masing kelompok.

Penutup

Setelah tahun 1970an, ekonomi Amerika mengalami titik balik dengan resesi yang dalam: meningkatnya perusahaan yang bangkrut, inflasi dan pengangguran yang tinggi. Tahun 1980an sampai awal 1990an, intensitas perang dingin semakin meningkat antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. A.S. menjalankan strategi penyebaran pengaruhnya ke negara-negara lain melalui produk-produk industri budayanya. Dalam latar ini, muncul karya-karya dari para inteketual pascamodern yang membaca Amerika, terutama industri budayanya seperti Linda Hutcheon, Brian McHale, Jean Baudrillard dan Frederic Jameson. Baudrillard, misalnya, menerbitkan kumpulan esai La Guerre du Golfe n’a pas eu lieu (Perang Teluk Tak Pernah Terjadi: 1991) yang membedah bagaimana propaganda media Amerika dalam menggambarkan kekuatan militernya selama perang Teluk. Linda Hutcheon turut menerbitkan karya-karyanya di tahun 1980an perihal produk seni kontemporer Amerika seperti arsitektur, karya sastra, seni lukis, seni pahat, film, video, tari, TV dan musik yang tersebar secara global. Lalu karya Frederic Jameson, Postmodernism, or, the Cultural Logic of Late Capitalism (1989) juga menelanjangi ideologi yang terkandung dalam budaya dan media massa, terutama Amerika dalam usaha penyebaran kapitalisme global. Para intelektual tersebut turut merumuskan politik pascamodern. Agenda-agenda yang menjadi bibit politik pascamodernn di tahun 60-70an mulai melebarkan sayapnya dengan melihat politik kebudayaan Amerika ke luar negeri di tahun 1980-1990an. Politik pascamodern turut menanggapi bagaimana politik Amerika dalam menanamkan pengaruhnya ke negara-negara lain melalui produk budayanya, yang semakin gencar terutama saat kejatuhan Uni Soviet tahun 1991. Perkembangan teknologi informasi, terutama internet, turut melancarkan penyebaran produk budaya Amerika. Karena penyebaran yang kian gencar ini, maka ia lalu dikenal sebagai Amerikanisasi.

* Makalah disampaikan dalam Sekolah Kritik Budaya (SKB) Angkatan ke-3, Aula Sutan Takdir Alisjahbana, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, 22-24 November 2019. Diselenggarakan atas kerjasama Matatimoer Institute dengan Community for Advanced Humanities Studies (coHumanis) dan Circle for Critical Linguistic and Literary Studies (CCLLS).

Daftar Pustaa

Alloway, Lawrence, 1974, American Pop Art, New York: Macmillan Publishing Co. Inc.

Bristol, G.K., 1991, “The Pruitt-Igoe Myth”, Journal of Architectural Education Volume 44.

Couteau, Jean, 2000, ‘Gerakan Mei 1968’, pengantar dalam Seale, Patrick dan McConville, M., 2000, Pemberontakan Mahasiswa:Revolusi Perancis, Mei 1968, Yogyakarta:Yayasan Litera Indonesia.

Habermas, Jürgen, 1981, “Modernity versus Postmodernity”, diterjemahkan oleh Seyla ben-Habib, dalam Jurnal New German Critique 22 (Winter) hlm. 3-14.

Jencks, Charles, 1977, The Language of Post-Modern Architecture, New York: Rizzoli, pp. 9-10.

Lyotard, J.F., 1984, The Postmodern Condition:A Report on Knowledge, translated by Geoff Bennington and Brian Massumi, Manchester:Manchester University Press.

______________, 1988, The Différend:Phrases in Dispute, translated by Georges Van Den Abbeele, Manchester:Manchester University Press.

Porta dan Diani, 2006, Social Movement: An Introduction (Second Edition), Oxford: Blackwell Publishing.

SJ, Florentia, 2018, Andy Warhol: The King of Pop Art, Yogyakarta: Tomato Books

Sontag, Susan, 1965, One Culture and New Sensibility, dalam Against Interpretation and Other Essays, London: Picador.

Cover: https://www.the-tls.co.uk/articles/public/postmodernism-dead-comes-next/

Share This:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*