Female gaze: Kompleksitas gender dan relasi kuasa di media digital melalui sastra internet

IRANA ASTUTININGSIH

Dalam tatanan masyarakat patriarkal, persoalan gender dan segala carut marutnya tak pernah usai dan kehilangan daya tariknya untuk diperbincangkan baik di kalangan akademik maupun non akademik. Di ranah publik, persoalan yang kerap muncul terkait dengan fenomena ketidakadilan gender biasa dijumpai dalam kasus sreet catcalling, pelecehan seksual, stigma, eksploitasi dan diskriminasi perempuan. Sementara di ranah domestik persoalan ketidakadilan gender lebih terkait pada peran ganda yang harus dimainkan oleh perempuan karir. Persoalan gender dalam tulisan ini  ini tidak dibatasi pada persoalan stigma atau diskriminasi seperti dicontohkan diatas, namun pada kompleksitasnya dalam media digital. Lebih spesifik,  tulisan ini menyoal tentang bagaimana female gaze hadir dalam media digital, serta keterkaitannya dengan persoalan relasi kuasa melalui sastra internet.

Representasi perempuan dalam media

Berbagai studi tentang gender telah dilakukan, tak terkecuali persoalan tentang representasi perempuan dalam media, tentang bagaimana bagaimana media merepresentasikan laki-laki dan perempuan terkait dengan tubuh dan peran sosialnya. Dalam salah satu artikel ilmiahnya Wood mengatakan bahwa ada tiga tema terkait dengan bagaimana media merepresentasi gender. Pertama, perempuan kurang direpresentasikan, yang berimplikasi bahwa laki-laki merupakan cultural standard dan perempuan dianggap tidak penting atau bahkan tak terlihat. Kedua, laki-laki dan perempuan digambarkan secara stereotyping yang mencerminkan sekaligus mempertahankan pandangan-pandangan sosial tentang gender. Ketiga, penggambaran hubungan antara laki-laki dan perempuan bertitik tekan pada peran tradisional dan menormalisasi kekerasan terhadap perempuan (1994). Sementara itu, Zoonen dalam Feminist Media Studies (1994) mengatakan bahwa elemen utama budaya patriarkal barat adalah display perempuan sebagai tontonan untuk dilihat, ditujukan untuk tatapan khalayak (pria). Ini senada pula dengan apa yang dikatakan oleh Mulvey yang terkenal dengan konsepnya tentang male gaze bahwa kehadiran perempuan dalam narasi film merupakan elemen yang esensial, namun visualisasi perempuan cenderung berlawanan dengan perkembangan plot cerita sendiri; visualisasinya  lebih cenderung memperlambat alur action menjadi suatu momen kontemplasi erotik (1975).

Sejauh ini, representasi perempuan di media telah menunjukkan perkembangannya. Berbagai film laga Hollywood dengan tema superhero telah cukup melibatkan  tokoh-tokoh heroine dengan kemampuan laga yang tak kalah dengan superhero laki-laki, yang pada umumnya marak mendominasi film-film laga. Upaya gender swap juga telah dilakukan, semisal yang dapat dilihat dalam Ghostbuster (20160 atau Ocean’s Eight (2018). Lebih jauh, female ensemble movie juga makin marak meramaikan jagad industri film seperti yang terlihat di Mean Girls (2004), Dreamgirls (2006)  dan yang terkini contohnya Charlies’ Angels (2019). Namun persoalannya adalah, apakah reperesentasi tokoh-tokoh heroine dalam jagad industri film tersebut mampu menampilkan perempuan sebagai subjek tanpa kembali terjebak pada’tatapan patriarkal’? Jika Charlies’ Angels, misalnya, berupaya untuk mengubah tokoh Bosley menjadi perempuan, dan bahkan mengindikasi bahwa Charlie Townsend pun kemungkinan adalah perempuan, pada kenyataannya penggambaran adegan-adegan perkelahian yang dilakukan oleh para angels masih terjebak pada penguatan kembali nilai-nilai maskulin khas budaya patriarki. 

https://www.thehits.co.nz/spy/the-new-charlies-angels-cast-has-been-revealed-and-were-not-sure-how-we-feel-about-it/

Melalui representasi gender, media mempunyai kemampuan untuk memperkuat nilai-nilai patriakal yang sudah ada dan dianggap ‘benar’ dalam masyarakat. Lebih jauh lagi, media mempunyai kekuatan untuk memproduksi suatu pencitraan tentang identitas gender yang stereotyping dengan ‘berlindung’ dibawah dominasi kultur patriakal, karena media benar-benar mempunyai kekuatan untuk memproduksi sebuah ‘realitas’. Ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Grossberg bahwa media memproduksi makna dan mengorganisirnya dalam berbagai kode dan system, yang implikasinya adalah bahwa kode-kode tersebut menginterpretasi realitas, kode-kode tersebut membuat dunia bermakna dan dapat dipahami. Istilah ‘realitas’ dan ‘dunia’ membuat menandai bergesernya pertanyaan akan ‘makna’ menjadi pertanyaan tentang ‘interpretasi’. (2006: 194).

Apa yang menjadi pandangan beberapa pihak tentang subordinasi perempuan serta berbagai upaya merepresentasi perempuan dalam industri film tersebut di atas lebih merujuk pada media yang mempunyai kekuatan untuk memproduksi simbol-simbol budaya, yang audience lebih merupakan pihak pengkonsumsi teks secara pasif. Kenyataannya, dalam sejarah perkembangan media, apa yang disebut sebagai new media juga memberi kesempatan pada audience untuk aktif berpartisipasi alih-alih sekedar mengkonsumsi teks. Terkait dengan karakteristik new media dan representasi perempuan, pertanyaannya yang muncul adalah: jika media konvensional memposisikan perempuan sebagai objek, bagaimanakah posisi perempuan dalam new media yaitu internet?

Berbicara tentang media internet berarti berbicara tentang media yang bersifat demokratis dalam arti memungkinkan siapapun sebagai pengguna untuk dapat terlibat aktif didalamnya. Jika media konvensional berjalan dibawah kontrol para ‘penguasa media’ maka internet merupakan media yang memiliki kontrol sangat sedikit, bahkan seringkali berjalan out of control. Karena sifatnya yang sangat demokratis itulah, pengguna internet tidak lagi dapat disebut sebagai pihak audience atau reader yang sekedar mengkonsumsi teks secara pasif, namun juga aktif dalam memproduksi teks budaya seperti dikatakan Fiske tentang ‘demokrasi semiotik’, yaitu suatu kekuatan media dalam memungkinkan audience untuk ikut terlibat dalam proses kreatif terhadap pembentukan simbol-simbol kultural, bukannya sebagai  pihak konsumen yang pasif  (1997). Senada dengn ini, Kapor mengatakan bahwa “…when broadcast model seems to breed consumerism, passivity, crassness, and mediocrity, the Internet model seems to breed critical thinking, activism, democracy and quality” (1993).

Karena pengguna internet sangat beragam dari segi usia maupun gender, dapat dikatakan bahwa media internet memungkinkan perempuan untuk menjadi pihak yang turut aktif dalam memproduksi simbol-simbol kultural. Perempuan mampu menjadi subjek dalam ruang-ruang yang tersedia di media internet atau apa yang disebut sebagai ‘ruang cyber’, karena mereka bisa ‘berbicara’ sesuai dengan apa yang menjadi harapan mereka, alih-alih sekedar menjadi objek yang dieksploitasi. Tulisan ini berupaya menunjukkan sejauh mana perempuan bisa menjadi subjek di media internet atau bagaimana female gaze terjadi di dalamnya dengan merujuk pada fenomena sastra cyber fan fiction; yakni karya fiksi yang ditulis oleh perempuan penggemar teks tertentu yang marak diunggah di  internet.

Female gaze, kekuasaan dan seksualitas dalam sastra cyber

Penelusuran yang dilakukan oleh para akademisi pemerhati fanfic menunjukkan bahwa fan fiction mayoritas ditulis oleh perempuan. Derecho mengatakan bahwa  fan fiction merupakan sastra subordinat, karena mayoritas penulis fan fiction adalah perempuan yang merespon produk media yang kebanyakan masih kurang merepresentasikan perempuan (Hellekson, 2006: 71). Sementara itu, tentang fan fiction Jenkins mengatakan bahwa penggemar menulis fan fiction sebagai suatu kombinasi antara keterpesonaan dan frustrasi mereka terhadap produk media yang menjadi favorit mereka (Hellekson, 2006: 71). Dapat dikatakan bahwa para perempuan penulis fan fiction merasakan ketidakpuasan terhadap teks media yang masih kental dengan nuansa patriakal, sehingga mereka menarasikan ekspektasi mereka dalam media internet melalui karya mereka.

https://www.wired.com/2014/02/fanfic-and-publishers/

Salah satu genre fan fiction yang sangat unik dan banyak menarik perhatian para akademisi pemerhati fanfic adalah slash fiction. Slash fiction atau slash merupakan fan fiction yang menceritakan hubungan homoseksual antar karakter-karakter yang pada teks sumbernya merupakan karakter heteroseksual. Meskipun menceritakan hubungan homoseksual antara karakternya, slash tidak dianggap sebagai representasi kaum gay, karena slash fiction ini pun ditulis oleh perempuan heteroseksual. Slash fiction ditulis dengan fokus penggambaran hubungan seksual antara lelaki dan lelaki, dimana ini semakin menarik para pemerhati fanfic untuk mengajukan berbagai anggapan tentang slash. Sharon Cumberland berpendapat bahwa penulis perempuan menggunakan internet untuk mengekpresikan hal-hal yang masih dianggap tabu untuk dilakukan oleh perempuan (2000). Lebih jauh, Reed mengatakan bahwa slash  merupakan ekspresi feminisme karena slash memungkinkan para perempuan penulis untuk memiliki kontrol terhadap karakter-karakter laki-laki dalam teks (2000). Senada dengan ini, Thrupkaew beranggapan bahwa slash membuat perempuan mempunyai power terhadap laki-laki seperti halnya laki-laki memiliki power terhadap perempuan dalam kultur patriakal (2003).

Pertanyaan yang mungkin muncul terkait dengan slash adalah: benarkan penulis slash perempuan? Tidakkah karakteristik ruang cyber yang menawarkan anonimitas memungkinkan para penulis slash memalsukan identitas mereka sebagai perempuan? Untuk menjelaskan tentang ‘keaslian gender perempuan’ sebagai penulis slash ini, perlu ditinjau secara ringkas tentang awal mula ditulisnya slash fiction. Pada pertengahan 70-an, para penggemar serial televisi Star Trek menerbitkan fanzine (fans magazine) yang beredar terbatas dikalangan penggemar. Dalam fanzine tersebut dimuat sebuah cerita yang ditulis oleh perempuan dan berkisah tentang hubungan homoseksual antara Kirk dan Spock, yaitu karakter utama dalam serial Star Trek yang merupakan laki-laki heteroseksual. Fanzine yang banyak diterbitkan diantaranya bersumber pada serial Star Trek, Starsky and Hutch, dan Xena: Princess Warrior (Jenkins: 1992). Jenkins sendiri merupakan akademisi yang menaruh perhatian besar terhadap slash. Dalam Textual Poacher, Jenkins menggambarkan secara detail bagaimana para perempuan penggemar Star Trek menggambarkan hubungan homoseksual antara Kirk dan Spock. Tulisan Jenkins dalam Textual Poacher merupakan hasil dari penelitiannya yang menggunakan pendekatan etnografis secara bertahun-tahun, hingga bisa dikatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Jenkins dan pemerhati fanfiction lainnya bahwa slash ditulis oleh perempuan bukan semata-mata berdasar atas asumsi .

 Fenomena slash di media internet menunjukkan bahwa perempuan penulis slash mampu memposisikan diri mereka bukan sekedar sebagai objek atau korban eksploitasi media, namun justru sebaliknya menjadi subjek yang mengobjektifikasi laki-laki melalui eksploitasi tubuh dan aktifitas seksual mereka.

Upaya perempuan penulis slash untuk mengobjektifikasi laki-laki melalui eksploitasi tubuh dan seksualitas mereka menjadi sangat menarik jika dikaitkan dengan gagasan Foucault tentang kekuasaan dan seksualitas. Menurut Foucault, kekuasaan lahir melalui pengetahuan, atau dengan kata lain, tidak ada kekuasaan tanpa pengetahuan dan begitu juga tidak ada pengetahuan tanpa melahirkan kekuasaan. Untuk dapat menjadi ‘penguasa’ diperlukan pengetahuan tentang pihak yang dikuasai. Kekuasaan dalam konsep Foucault bersifat menyebar dan sangat labil, tidak selalu terpusat dan berada dalam struktur yang tetap (1980: 187).

Dalam pemikiran Foucault, kekuasaan tidak terletak di atas, di pusat, di dalam atau dimiliki. Kekuasaan bersifat menyebar, terpencar dan hadir di mana-mana, ‘merasuki’ seluruh bidang kehidupan masyarakat modern. Kekuasaan berada di semua lapisan: kecil dan besar, laki-laki dan perempuan, dalam keluarga, di sekolah, kampus, dan sebagainya. Kekuasaan dilaksanakan dalam tubuh bukan sebagai milik melainkan sebagai strategi yang menyebar dalam masyarakat modern (1998: 27-35). Lebih jauh, karena kekuasaan sangat melekat dengan produksi pengetahuan, kekusaan dalam pemikiran Foucault tidak selalu bersifat negatif, namun bisa produktif. Misalnya, kekritisan yang muncul sebagai reaksi atas kekuasaan otoriter akan melahirkan bentuk pengetahuan dan kekuasaan yang baru sebagai wujud resistensi atau perlawanan.

Terkait dengan seksualitas, Foucault (1998) beranggapan bahwa seks pernah menjadi entitas terbuka bagi siapapun, seperti halnya persoalan lain. Seks bukan sesuatu yang tabu dan hanya menjadi milik orang dewasa. Abad 19 menjadi akhir era keterbukaan soal seks. Seks dianggap tabu dan keinginan untuk membicarakan seks menjadi sangat ditekan; dimana menurut Foucault, ini terkait oleh kebutuhan era kapital pada waktu itu. Seks sengaja ‘dibungkam’ dalam konteks praktik, keilmuan dan pembicaraannya karena dianggap sebagai penghalang masyarakat untuk menjadi produktif.

Hingga saat ini, seks masih dianggap sebagai wilayah personal dan hanya dianggap layak jika ditempatkan dalam konteks pernikahan heteroseksual. Pada kenyataannya, wilayah pribadi ini dikontrol oleh kekuasaan sebagai rezim yang dilegitimasi melalui berbagai lembaga resmi, misalnya agama, negara, ilmu pengetahuan dan kebudayaan; dimana media dalam konteks ini merupakan salah satu agen kekuasaan itu sendiri. Melalui kekuasaan, selama ini terbangun wacana bahwa hubungan seksual yang ‘benar’ adalah hubungan seksual yang ditujukan untuk meneruskan keturunan dalam bingkai perkawinan yang sah antara laki-laki dan perempuan (heteroseksual). Dapat disimpulkan dari sini bahwa hubungan seks diluar perkawinan dan terjadi secara homoseksual merupakan hubungan yang tidak benar atau dianggap amoral.

Berangkat dari pemikiran Foucault tentang kekuasaan dan seksualitas, dapat diasumsikan bahwa fenomena slash fiction mencerminkan resistensi perempuan terhadap teks media patriakal dalam dua dimensi. Pertama, dominasi atau kekuasaan media dalam kultur patriakal telah melahirkan bentuk kekuasaan baru yang resisten terhadap objektifikasi perempuan oleh teks-teks media dalam kultur patriakal melalui aktifitas perempuan penulis slash di ruang cyber. Kedua, kontrol kekuasaan terhadap seksualitas melalui media dalam kultur patriakal telah melahirkan pula kekuasaan baru oleh perempuan penulis slash yang resisten terhadap anggapan bahwa hubungan heteroseksual dalam konteks pernikahan merupakan hubungan yang dianggap layak dan benar.

Female gaze: Objetifikasi tubuh dan seksualitas laki-laki

Seperti dijelaskan sebelumnya, persoalan tentang objektifikasi laki-laki melalui sastra cyber dilakukan oleh perempuan penulis slash fiction dengan bertitik tekan pada narasi hubungan sesama jenis. Lebih jauh, ini menjadi menarik jika dikaitkan dengan relasi kuasa dan seksualitas dalam kerangka pemikiran Foucault.  Dalam satu karya slash fiction yang ditulis oleh Confeito yang berjudul More Than Words (2011), misalnya, digambarkan penampilan fisik seorang laki-laki bernama Harry baik wajah maupun tubuhnya. Tidak hanya deskripsi tentang mata indah, bibir merah merekah, dan tubuh langsing saja yang ditulis dalam slash tersebut, namun juga sensualitas dan daya tarik seksualnya. Di cerita tersebut disebutkan bahwa bibir indah Harry menantang siapapun untuk menciumnya, mempertegas sensualitas tersebut. Deskripsi fisik Harry tidak berbeda dengan deksripsi tentang perempuan yang biasa dijumpai di teks-teks media yang berada di bawah dominasi kultur patriakal.

Lebih jauh lagi, Confeito dalam slashnya mengungkapkan bagaimana daya tarik fisik Harry mempengaruhi kekasihnya Tom Riddle sebagai berikut:

“…Menyeringai, Tom mengarahkan perhatian pada Harry. Melihat rona merah menghiasi pipi kekasihnya, seringai Tom semakin melebar.

‘My, my, such a naughty boy you are, darling’. Tom melepas dasinya, melemparnya sembarangan, disertai dengan lepasnya sepatu serta kaus kaki. Jari-jari Tom berlari meraba tubuh Harry.

Rona merah itu menyebar ke wajah Harry. Dalam posisi terikat, dia tersenyum setengah malu-setengah genit pada Tom.

‘Then punish me, Master.’

Sorotan mata Tom berubah menjadi sorotan predator yang mengincar mangsanya. Dia tanpa segan lalu meremas pantat Harry keras, membungkam desahan Harry dengan ciuman ganas.

‘Gladly, my Pet.’ …”  (Confeito: 2011).

Pilihan kata yang digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana Harry memikat Tom kekasihnya merupakan pilihan kata yang mempertegas posisi Harry Potter sebagai ‘objek’ yang pasif. Dalam keintiman mereka, Harry digambarkan dalam posisi terikat dan mengatakan ‘Punish me, Master’. Penggambaran posisi Harry yang terikat serta pemilihan kata ‘punish’ dan ‘master’ berimplikasi terhadap  adanya relasi kuasa yang tak setara antara Harry dan Tom.  Harry Potter, seorang tokoh yang populer dan dikenal sebagai laki-laki heteroseksual di teks sumber menempatkan dirinya sebagai ‘objek yang dikuasai’, bahkan meminta untuk dikuasai. Lebih jauh lagi, penulis menggambarkan Harry sebagai ‘mangsa’, tak ubahnya seperti pihak yang tidak berdaya dalam konteks relasinya dengan Tom. Begitu pula dengan pilihan kata dan frase predator, mengincar mangsa, meremas pantat dan membungkam dengan ciuman ganas semakin mempertegas Harry sebagai objek yang dikuasai dan dieksploitasi secara seksual, dan secara implisit dapat dilihat bahwa Harry pun begitu menikmati eksploitasi dan objektifikasi akan dirinya.

https://dotwe.files.wordpress.com/2014/12/harry-potter-fanart.jpg
https://dotwe.files.wordpress.com/2014/12/harry-potter-fanart.jpg

Dalam More Than Words, Confeito menggambarkan Harry dan Tom sebagai sepasang kekasih yang belum terikat dalam tali pernikahan namun mendapat restu penuh dari kedua orang tua Harry.

“ … Sekarang ini Harry sedang berada di apartemen kekasihnya, Tomm Riddle. Tom dan Harry terpaut jarak usia 10 tahun, dengan Harry berumur 17 dan Tom 27 tahun. Pada awalnya, Mr. dan Mrs. Potter sempat khawatir bahwa Tom hanya bermain-main dengan hati anak mereka, apalagi dengan perbedaan usia yang cukup besar. Tapi setelah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana hubungan mereka kurang lebih selama satu tahun, akhirnya Tom mendapat restu penuh dari suami istri Potter, …” (Confeito: 2011)

Dari kutipan di atas dapat dillihat bahwa pada awal hubungan, orang tua Harry belum memberi restu sepenuhnya bukan karena Harry menjalin hubungan dengan sesama jenis, namun karena mereka meragukan keseriusan Tom terhadap Harry. Ini menunjukkan bahwa wacana hubungan homoseksual bukan lagi merupakan hal yang dianggap tak wajar atau abnormal. Dalam slash-nya, Confeito sama sekali tidak menyinggung tentang keberatan orang tua Harry terhadap perilaku homoseksual anaknya. Lebih jauh, kutipan diatas juga menggambarkan bagaimana seksualitas juga terkait erat dengan kuasa dan dominasi. Harry digambarkan sebagai objek yang didominasi, yang terlihat dari pemilihan frase menyerahkan diri, dominasi kuat, berada sepenuhnya pada kuasa Tom.

Ada hal menarik lainnya dalam kutipan slash di atas; yakni pemilihan kata yang dipakai terkait dengan jenis kelamin Harry. Harry Potter digambarkan sebagai laki-laki dengan merujuk pada kata prostat Harry dan kejantanan Harry; namun Harry sekaligus juga digambarkan memiliki lubang sebagaimana merujuk pada vagina perempuan, sebagaimana juga terlihat pada kalimat dinding dalamnya berdenyut berkontraksi, memanjakan penis kekasihnya. Posisi Harry yang berhadapan dengan Tom (dilihat dari kalimat dia mengkalungkan lengannya pada leher Tom) menunjukkan bahwa hubungan seks mereka tidak dilakukan melalui anus sebagaimana terjadi dalam hubungan seks homoseksual pada umumnya; namun melalui lubang Harry sebagaimana yang terjadi dalam hubungan seks heteroseksual. Singkatnya, dalam slash ini laki-laki homoseksual digambarkan berhubungan seks dengan cara heteroseksual. Pada poin ini penulis melihat bahwa ilustrasi hubungan seks dalam slash tersebut ternyata belum benar-benar lepas dari pengaruh budaya patriakal yang menganggap bahwa hubungan heteroseksual merupakan hubungan yang lumrah, normal dan benar.

Penutup

Media digital telah memungkinkan siapapun sebagai pengguna untuk dapat terlibat aktif dalam pembentukan teks, alih-alih sekedar mengkonsumsi teks. Dalam ruang cyber, apa yang tidak bisa dilakukan  atau dianggap ‘tabu’ di ruang offline dapat dengan mudah dilakukan, seperti yang terlihat pada penggambaran seksualitas laki-laki homoseksual dalam slash, karya fiksi yang ditulis oleh perempuan heteroseksual dan diunggah di internet.

Jika media konvensional dalam budaya patriakal dianggap masih sangat tidak proporsional dalam merepresentasi perempuan dan lebih menempatkan perempuan sebagai objek tatapan khalayak pria (male gaze), tidak demikian halnya dengan dengan media internet. Ruang-ruang media internet atau ruang cyber mampu membuat perempuan penulis slash menempati posisi subjek dan mengobjektifikasi laki-laki melalui eksploitasi tubuh dan seksualitas mereka dalam teks slash. Ruang cyber membuat female gaze eksis, sebagaimana male gaze yang banyak dijumpai dalam teks media lainya.

Jika asumsi awal mengatakan bahwa dalam slash para perempuan penulis menunjukkan resistensi terhadap kultur patriarki melalui objektifikasi tubuh dan seksualitas laki-laki serta penggambaran seksualitas diluar pernikahan, analisis terhadap teks-teks tersebut menunjukkan bahwa  posisi ideologis mereka tidak sepenuhnya keluar dari kultur patriarkal sebagai ideologi dominan. Dengan kata lain, para perempuan penulish slash fiction berupaya untuk menegosiasi nilai-nilai subversif terhadap kultur patriarkal tanpa  meruntuhkan nilai patriarkal yang telah kuat melekat dalam kehidupan empiris mereka.   

Referensi

Ardian, Donny Gahral.2002. “Menabur Kuasa Menuai Wacana”. Dalam Basis nomor 01-01, thaun ke-51, Januari-Februari. Yogyakarta: Kanisius.

Confeito. 2011. More Than Words. http://www.fanfiction.net/s/7691604/1/More_Than_Words. (akses 12 Januari 2012).

Cumberland, Sharon. 2000. Private Uses of Cyberspace: Women, Desire and Fan Culture. http://web.mit.edu/comm-forum/papers/cumberland.html  (Akses 20 Desember 2011).

Foucault, Michel. 1980. Power/Knowledge. Selected Interviews and Other Writings (Colin Gordon eds). Sussex: The Harvester Press.

_________. 1998. The Will to Knowledge: History of Sexuality. New York: Penguin Books.

Grossberg, Lawrence & Ellen Wartella. 2006. Media Making: Mass Media in A Popular Culture. USA: Sage.

Hellekson, Karen and Kristina Busse. 2006. Fan Fiction and Fan Communities in the Age   of the Internet. London: Mc Farland & Company.

Jenkins, Henry. 1992. Textual Poachers.  New York: Routledge.

Kibbey, Anna. 1998. Minding One’s P’s and Q’s Homoerotism in Star Trek The Next Generation.  http://www.genders.org/g27/g27_st.html. (Akses 22 Desember 2011)

Reed, L. 2000. Homoerotic Fanfiction: Slashing Culture. http://www.disinfo.com/archive/pages/dossier/id444/pg1/.html. (Akses 10 Agustus 2011)

Thrupkaew, Noy. 2003. Fan/tastic Voyage: A Journey into the Wide, Wild World of Slash Fiction. http://www.bitchmagazine.com/archives/04_03slash/slash.shtml. (akses 10 Agustus 2011)

Wood, Julia T. 1994. Gendered Media: The Influence of Media on Views of Gender. http://www.udel.edu/comm245/readings/GenderedMedia.pdf. (Akses 12 Januari 2012)   

Zoonen, Liesbet Van. 1994. Feminist Media Studies. London: Sage.

Share This:

About Irana Astutiningsih 6 Articles
IRANA ASTUTININGSIH adalah peneliti di Matatimoer Institute dan pengajar di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*