Distinction: Kontestasi agensi demi meraih posisi dan legitimasi

GHANESYA HARI MURTI

Mengenal doxa dan heterodoxa, mengakumulasi kuasa: Pergulatan posisi dalam arena

The coincidence of the objective structures and the internalized structures which provides the illusion of immediate understanding, characteristic of  practical experience of  the familiar universe, and which at the same time excludes from that experience any inquiry as to its own conditions of possibility. (Bourdieu, 1992:25)

Kutipan diatas hendak memulai bangun pemikiran Bourdieu pada konsep doxa, atau doxic experience, yang dibayangkan sebagai struktur objektif yang diterima sebagai sesuatu yang wajar, namun juga membagi tindakan bisa dikatakan wajar dan tidak wajar. Bourdieu bahkan memberikan definisi doxic experience sebagai peristiwa taken for granted (Bourdieu, 1992:24). Artinya seseorang tidak akan bertanya mengapa ini boleh dan itu tidak boleh tapi cukup diterima begitu saja, sama seperti kenapa seorang perempuan boleh memakai rok dan memasak di dapur sedangkan laki–laki tidak. Aturan tersebut menjadi opini popular yang tidak mungkin bisa disangkal karena dekat atau familiar sebagai sistem pengetahuan yang benar. Dalam pemikiran Bourdieu doxa menetap pada field atau arena penuh dominasi dimana setiap individu, agents, berlomba untuk menaiki tangga hirarki sosial sebagai pemenang, champ, dan memperoleh legitimasi yang menjadi ruh atau logika pada arena “the more it completely fulfils its own logic of a field, the more it tends to suspend or reverse the doiminat principle of hierarchization but also whatever its degree of independence, it continues to be affected by the laws of the field” (Bordieu, 1993:39) dimana dia contohkan dalam arena kesusastraan.

Konsep penting lainnya dalam arena adalah ketika agent berhasil beradaptasi pada lingkungannnya makadia akan mendapatkan modal, atau dalam bahasa Bourdieu disebut capital yang tidak selalu berasosiasi pada uang kendati uang adalah modal yang paling mudah dikonversi untuk mendapatkan keuntungan atau modal lainnya. Capital yang dimaksud adalah capital sosial yang bisa berupa relasi yang beragam, cultural capital atau legitimasi secara intelektual, atau hal lain yang diperoleh secara kebudayaan bisa saja keturunan yang feodalistik, economi capital yang tentu saja kekuatan uang, dan yang paling prestisius adalah symbolic capital karena adaya posisi kehormatan pada relasi tersebut (Jenkins, 2006:53). Sebagai sebuah gambaran di dalam kampus, yang memiliki posisi legitim adalah intelektual, dosen, misalnya karena memiliki capital secara cultural, social karena sering terhubung dengan komunitas intelektual lain,dan institusi pun mendukung itu. Economic capital tidak terlalu menjadi pertimbangan karena kampus tempat memaksimalkan pikiran bukan menimbun kekayaan, sehingga yang dicari adalah legitimasi spesifik, namun tidak jarang economic capital menjadi penting karena sulit bagi intelektual untuk melakukan penelitian dan menulis jika tidak ada dana yang cukup sehingga tidak jarang jika ada yang secara economic capital lebih kuat bisa mengkonversi uangnya untuk bekerjasama dengan kolega intelektual lain yang lebih kuat cultural dan social capitalnya untuk takluk. Intelektual kampus akhirnya akan beradaptasi pada kondisi tersebut sehingga terbentuklah “habitus,as an acquired system of generative schemes objectively adjusted to the particular conditions in which it is constituted, the habitus engenders all the thoughts, all the perceptions, and all the actions consistent with those conditions, and no others” (Bourdieu, 2013:95). Habitus bukanlah kebiasaan tapi skema objektif dimana membentuk kesadaran dan tindakan dimana agent kemudian memperoleh modal tertentu untuk bergulat dengan yang sosial dalam arena.

Seluruh pergulatan itu tentu saja demi mencapai capital symbolic, yaitu posisi paling berharga dimana seseorang mendapat pengakuan atau legitimasi yang dibagi Bourdieu menjadi tiga yaitu specific, popular dan borjuis (Bourdieu, 1993:51). Legitimasi tersebut penting karena menentukan sejauh mana pengakuan, social honour, bisa disematkan pada seorang intelektual karena pemberian legitimasi seperti gelar dan publikasi tertentu sangat mungkin hanya diganjar legitimasi borjuis karena diberikan oleh sebuah institusi saja, tapi tidak dari koleganya, sebut saja honoris causa, sedangkan legitimasi popular adalah dimana seseorang dalam arena kampusnya memiliki jejaring yang kuat, dari mahasiswa dan masyarakat luas, sedangkan spesifik bisa dicontohkan sebagai legitimasi paling prestisius, karena diakui oleh institusi, kolega, mahasiswa dan masyarakat luas tentunya karena ada kebermanfaatan yang nyata. Sebut saja para pemikir canon, yaitu Ferdinand de Saussure dalam linguistics, Ranciere dalam ilmu politik khususnya demokrasi, sastra dan seni, atau Gilles Delleuze dalam penerapan ilmunya tentang peletakan jalan pikiran barunya mengenai filsafat hasrat.  Symbolic capital sangat memikat karena memiliki daya dominasi yang kuat sehingga kerap kali justru ada potensi untuk menghasilkan kekerasan, kendati tidak selalu seperti itu. Namun Bordieu mengingatkan sangat mungkin symbolic memproduksi kekerasan dalam dimensi sosial yang celakanya korbannya justru menyetujui tindakan tersebut karena legitimasi kekuasaan surplus pada agent tertentu dan tidak pada korban yang defisit kekuasaan.

Dominasi di mana korbannya menyetujui hal tersebut karena hadirnya misrecognition,atau meconnaissance dalam bahasa prancis yang menurut Bourdieu adalaha proses dimana relasi kuasa tidak dilihat struktur objektifnya “the process whereby power relations are perceived not for what they objectively are but in a form which renders them legitimate in the eyes of the beholder” (Bourdieu, 1977: xxii). Bourdieu membedakan antara ‘meconnaissance’ dengan misunderstanding atau kesalahpahaman karena misunderstanding adalah problem bahasa sedangkan yang dimaksud Bourdieu adalah problem legitimasi. Secara ilustrasi akan disediakan model kultural yang kerap terjadi seperti ibu kos yang menghardik anak kos perempuan yang pulang larut jam sembilan malam karena takut nanti terjadi sesutau pada dirinya dan bahkan menduga bosnya memiliki iktikat tidak baik padanya kendati dia lakukan itu demi membiayai biaya kuliahnnya. Pulang malam identik tidak baik bagi perempuan, karena lekat dengan citra negatif, akhirnya perempuan tersebut berhenti bekerja dan bilang kepada bosnya bahwa tidak baik dan ingin mencari kerja lian saja walaupun gajinya tidak sebaik di toko tersebut. Tidak ada masalah misunderstanding disini karena peasannya tersampaikan, tapi problem legitimasi kekuasaan yang bukannya ditenta sebagai opini buruk namun semakin dikuatkan sebagai opini yang benar, atau sering disebut heterodoxa, “imposed authoritative view” (Calhoun, 1991:119). Ibu kos surplus modal ekonomi, sedangkan si perempuan justru defisit, Ibu kos surplus modal kutural karena mampu beradaptasi dengan wacana budaya yang tepat, si perempuan defisit modal kultural karena tidak bisa patuh dan menyesuaikan diri pada wacana budaya.

Pada hemat ini konsep heterodoxa menjadi penting, karena ingin melawan wacana dominatif “heterodox belief  implying  awareness  and  recognition  of  the  possibility  of  different  or  antagonistic  beliefs”  (Bourdieu, 1977:164) demi hadirnya struktur masyarakat yang lebih adil. Heterodoxa juga membantu untuk menghasilkan struktur sosial baru karena tidak ingin kelas tertentu tetap berkuasa secara mutlak. Pada contoh kasus tersebut secara mudah perlawanan bisa saja dilakukan, sang perempuan bisa saja pindah kos khusus karyawan, sehingga dia bisa kuliah sambal bekerja. Atau melancarkan wacana argumentative bahwa dia harus tetap bekerja karena dia memerlukan uang tersebut untuk membiayai kuliahnya. Jika kekuasaan bisa dikoreksi maka akhirnya akan muncul regulasi baru di dalam kosan tersebut bahwa yang bekerja boleh untuk pulang lebih larut. Artinya struktur sosial berubah, dan sangat mungkin hal ini diterapkan oleh kosan lain. Sehingga struktur objektif sosial berubah. Pada akhirnya, agent bisa saja sama-sama memiliki economy capital yang sama, namun mereka juga harus menghitung sejauh mana economy capital mereka jika harus berhadapan dengan economy capital agent lain, sekuat apa jejaring satu agen secara social capital dengan agen lain, dimana akhirnya Bourdieu meletakkan hal tersebut sebagai the space of social positions dimana hirarki menjadi lebih kompleks pun stratifikasinya (Jenkins, 2006:90). Posisi akhirnya memperngaruhi kalkulasi sejauh mana agen bisa bertaruh dalam arena sosial.

Distinction, perihal selera yang juga perihal (posisi) kelas

Selera, taste, dalam artian tertentu selalu diimajinasikan sebagai sesutau yang teramat subjektif atau bahkan seeorang bisa dengan sanagt berani mengungkapkan bahwa itu pilihan yang otentik menurut dirinya. Seperti halnya ketika seseorang memilih rokok karena alasan kuat dari diri bahwa cita rasa yang dia inginkan terwakili oleh rokok tersebut. Berbeda dengan pandangan umum itu, bagi Bourdieu selera bukanlah perkara natural, tapi kultural di mana itu adalah upaya afirmasi sosial seseorang ketika berada dalam arena tertentu untuk membedakan dirinya dengan kelas lainnya “Tastes (i.e., manifested preferences) are the practical affirmation of an inevitable difference. It is no accident that, when they have to be justi• fied, they are asserted purely negatively, by the refusal of other tastes (Bourdieu, 1996:56). Artinya, alih alih ingin menunjukkan sifat otentik atau innocent justru hal tersebut adalah upaya membedakan kelas, distinction, yang kadang bisa terlihat sangat norak, bahkan vulgar bagi kaum ‘petite buorgeise’/ kelas menengah keatas demi menujukkan posisinya “the entry of the petite bourgeoisie into the game of distinction is marked, inter alia, by the anxiety exposing oneself to classification by offering to the taste of others such infallible indices of personal taste as clothes or furniture, even a simple pair of armchairs” (Bourdieu,1996:57). Hal ini banyak terjadi seperti pergulatan antara sepatu asli dan palsu dari bran ternama, sehingga merek palsu pun memiliki kelasnya sendiri. Hal ini bahkan menimbulka kelucuan bahwa seseorang ingin dianggap berbeda kelasnya dengan pemakai sepatu palsu lain kendati dia juga memakai sepatu palsu juga namun kualitasnya lebih baik.

Perlu diberi catatan, distinction, tidak hanya beroperasi pada barang yang dibeli tapi apapun yang melekat pada agen sebagai preferensi diri demi pertaruhannya pada arena sosial tertentu, sehingga pilihan bahasa, kata, praktik berkesenian, bahkan dalam tradisi universitas. Bourdieu menunjukkan dalam intelektual kampus, sebagai homo academicus, mampu melancarkan cultural distinction, demi menghasilkan kriteria tertentu demi mendapat legitimasi sembari mengubah proses legitimasi yang conflicting, “in proffering these criteria, in trying to have them acknowledged, in staking their own claim to constitute them as legitimate properties, as specific capital, they are working to modify the laws of formation of the prices characteristic of the university market, and thereby to increase their potential for profit (Bourdieu, 1988:11). Dalam artian tertentu, distinction bisa memodifikasi jenis legitimasi di dalam kampus yang jenis citranya bisa mungkin lebih baik atau bahkan jadi lebih buruk, seperti halnya legitimasi daya struktural menjadi lebih kuat dan mempesona ketimbang daya intelektual.

Starbuck dan masalah keberpihakan: Minum kopi dan posisi dalam pusaran arena teologi

Sebagai contoh dalam perihal budaya, arena kontestasi sosial terlihat dalam komunitas beragama tertentu, ketika pimpinan agamanya secara lantang melarang mengkonsumsi Starbuck karena mendukung isu keberagamaan gender dan seksualiatas, secara verbatim dikutip oleh BBC Indonesia, “Macam tak ada kopi yang lain. Kopi Sidikalang berserak-serak, kenapa mesti kopi Starbucks diminum?”  yang tentu saja hal ini diucapkan selain untuk konteks beragama tapi juga mengukuhkan modal sosial sekaligus kultural seorang ulama agar semakin legitim. Dengan kata lain urutan konsep yang dipakai adalah Doxa, tentang sejauh mana dan pada konteks arena apa wacana itu bisa dipraktikan sehingga konsep kedua yang dipakai adalah field. 

Image result for Starbuck

Field  yang  dimaksud pada kalimat  tersebut tentunya tidak  pada  tujuan  untuk  memperoleh ekonomi, atau keuntungan materiil jangka pendek tapi lebih pada mengakumulais modal sosial dan kultural status legitim dan tingkat teologis pemuka agama tersbut, maka field yang dimaksud adalah “field of restricted production, in this sub- field the stakes of competition between agents are largely symbolic, involving prestige, consecration and artistic celebrity” (Bourdieu, 1993:15), berbeda dengan  large production yang  kerap dilihat jadi budaya  massa  yang menginginkan adaanya keuntungan ekonomi langsung yang besar dan melimpah. Sehingga dalam kalimat tersebut lebih dilihat upaya kanonisasi beragama, dengan menimbun modal kultural dan simbolik yang tidak menutup kemmungkinan akan bisa dikoneversi menjadi modal ekonomi kelak. Posisi teologi sangat terlihat karena ada kata yang diambil dari kamus privat agama “Karena ada sumbangan’. ‘Siapa yang menyumbang?’. ‘Itu yang di surga’ Eh tarik balik. Diobok-obok masuk neraka, gara-gara menyumbang ke Starbucks” sehingga secara definitif kata surga dan neraka menunjukkan distinction dalam bahasa.

Distinction adalah konsep ketiga yang bisa dijadikan acuan agara terlihat posisi preferensi dari agen yang tengah bergulat. Bourdieu melihat, bahwa pembeda kelas juga menubuh dan terlihat dari jenis bahasa yang diujarkan. Ketika diujarkan berulang –ulang “these conditions, perpetuated in the mode of utilization-i.e., in a given relationship to culture or language-function like a sort of ‘trade-mark’, and, by linking that competence to a particular market, help to define the value of its products in the various markets” (Bourdieu, 1996:65) sehingga kalimat itu menjadi ‘trade-mark’ pembeda dimana akhirnya keberadaan kekuatan dan akumulasi kapitalnya sedang dalam proses akumulasi. Dengan kata lain konsep ketiga ini juga menutut konsep capital untuk juga dihitung dalam analisis sosial.

Konsep keempat yaitu akumulasi capital, khsususnya cultural yaitu pengetahuan agama yang kuat dan social capital, jejaring pengikut yang massif tersebar luas menjadi penting untuk diikut sertakan dalam hitungan sosial karena hal tersebut menjadi legitimasi keberanian seorang pemuka agama untuk melawan korporasi besar sekelas starbuck yang tentunya tidak bisa dianggap remeh. Sehingga bisa diliihat bahwa semakin kuat dua modal tersebut, maka semakin kuat pula kemungkinan dua capita tersebut mampu dikonversi menjadi capital lain yaitu economy capital dengan dibuktikan makin banyaknya undangan hingga keluar negeri Melbourne, Australia yang juga tertera dalam berita tersebut.

Konsep terakhir adalah symbolic violence yang sangat mungkin terjadi ketika agen telah mendapatkan legitimasi yang  kuat seseorang mampu  mengabsenkan, meminggirkan yang lain dalam skema  mayoritas dan  doxa  yang berlaku.   Kekerasan simbolik bekerja secara efisien karena selain bersikap terselubung melalui relasi yang mempesona dia juga bekerja berdasarkan prinsip bahwa ada kebanggan yang bisa dibusungkan, it is ‘gentle, invisible violence, unrecognized as such, chosen as much as undergone, that of trust, obligation, personal loyalty. hospitality, gifts, debts, fiety, in a word, of all the virtues honoured by the ethic of honour (Bourdieu, 1991:24). Dalam artian tertentu, kalimat tersebut sangat mungkin menjadi kekerasan simbolik karena mengupayakan agar terjadi legitimasi tindakan bahwa etika moral majoritarian untuk diterapkan, atau dalam artian tertentu, mengamplifikasi kepenti ngan privat  agar  diakui  secara  sah  pada  praktik  publik.  Korbannya  menjadi  setuju  karena  suatu  kehormatan  bisa melakukan praktik tertentu karena mendapatkan rasa bangga dan terverifikasi dirinya sebagai kelompok sosial yang taat. Jadi dibalik kekerasan simbolik yang dilangsungkan oleh petingginya, pengikut pun merasa naik derajatnya dan diakui ketaatannya karena bisa menjadi bagian dari komunitas tersebut, meskipun akhirnya secara pilihan tersebut mengabsenkan kepentingan yang lebih luas, makropolitik. Potensi konflik sosial menjadi sangat terbuka. Dalam posisi tersebut, pemberitaan bahwa ada tindakan rasisme pada gerai kopi ternama itu juga makin memperburuk citra dari perusahaan sehingga makin melegitimasi tindakan untuk mengaktifkan selera minum kopi non starbuck.

Saut Situmorang dan kontestasi sastrawan legitim

The literary or artistic field is at all times the site of a struggle between the two principles of hierarchization: the heteronomous principle, favourable to those who dominate the field economically and politically (e.g. ‘bourgeois art’) and the autonomous principle (e.g. ‘art for art’s sake’), which those of its advocates who are least endowed with specificcapital tend to identify with degree of independence from the economy, (Bourdieu, 1993:40)

Karya sastra memang pantas dikaji, namun bagi Bourdieu, perkara sastra juga harus melibatkan posisi pengarang dalam pergualatan sastra,  setidaknya bagi Bourdieu kontestasi tersebut dibagai  menjadi dua  yaitu demi  motif ekonomi dan politik yang dia sebut sebagai seni borjuis atau pada motif seni untuk seni yang lebih otonom sehingga tidak mengejar kepentingan ekonomi saja, persis seperti kutipan diatas. Pergulatan sastra yang terjadi di Indonesia tentu saja bisa dilihat dari kasus Saut Situmorang yang berselisih dengan Deny J.A ketika meluncurkan buku 33 sastrawan berpengaruh yang hendak mendaku dirinya sebagai sastrawan legitim dan mengeksklusi Saut dalam arena sastra tersebut. Komentar Saut yang menulis “bajingan” di tulisan Iwan Soekri di grup Facebook “Anti Pembodohan Buku  33  Tokoh  Sastra  Indonesia  Paling  Berpengaruh”,  berujung  pelaporan  Fatin  Hamama  dengan  tudingan pencemaran nama baik di media sosial. Peristiwa ini tentunya preseden buruk bagi agen agen kesusastraan tertentu, sehingga memberikan demarkasi yang kuat bahwa akan ada proses pemberian legitimasi yang berujung eksklusi pada agen agen susastra yang lainnya. Seseorang yang terlegitimasi di publik sastra nasional; novelis  menulis dan mempublikasikan novel tidak secara otomatis menjadi sastrawan, karena status ‘sastrawan’ sesungguhnya diberikan oleh pihak-pihak tertentu yang ada dalam arena sastra (Karnanta, 2013:3).

Konsep Bourdieu yang bisa dipakai tentunya awalnya adalah arena, dengan cara memetakan arena kesusastraan yang sering dianggap sebagai “The constraints inherent in belonging to the field of power also apply to the literary field owing to exchanges that are established between the powerful – for the most part upstarts in search of legitimacy – and the most conformist or the most consecrated of writers, notably through the subtly hierarchized universe  of  the  salons.”  (Bourdieu,  1995:50).  Dari  kutipan  tersebut  kata  yang  penting  adalah  konsekrasi, consecrated, dan semesta hirarki karya ditampilkan, subtly hierarchized universe of the salons, Konsekrasi menuntut sejauh mana legitimasi bisa diberikan pada Deny J.A dan 33 penulis yang juga dikontestasikan dengan Sastrawan Saut Sitimorang. Selain itu bagaimana, dimana, dan oleh siapa karya itu diterima.

Image result for saut situmorang

Konsep selanjutnya adalah, capital, karena konsep ini bisa melacak modal yang dimiliki oleh berbagai agen demi  menghitung  sejauh  mana  legitimasi  dapat  diberikan,  apakah  bisa  diganjar  spesifik  (diterima  juga  oleh komunitas sastra legitim), utan kayu (salihara dan komunitas lainnya), atau popular (profit yang banyak karena karena banyak dibaca masyarakat luas), hingga borjuis (diterima oleh elite kekuasaan).

Demi mengukur posisi penulis dalam arena, maka karya sastra sebagai produk, juga harus diuji, karena karya akan membunyikan sejauh mana pergulatan sosial yang dimunculkan oleh karya sehingga terlihat tawaran-tawaran sosial  yang diberikan oleh  pengarang, jenis abstraksi konflik  seperti pelaku vs  struktur sosial, dan juga jenis kebenaran yang ditawarkan khususnya secara strukturalisme genetik (Haryatmoko, 2015:31) maka bisa dibuktikan karya tersebut lahir demi merespon kondisi sosiologis tertentu.

Epilog, menyoal sejauh mana dominasi dapat dicegah dan realitas sosial bisa berubah

Daya abstraksi teoritis Bourdieu perlu dirumuskan ulang kelemahannya karena selalu mengharapkan kalkulasi demi kemenangan. Artinya doxa diajukan sebagai prasyarat kemenangan. Kalkulasi punya problem epistemic karena mengikutkan aturan-aturan lama, modal, legitimasi dari pelaku dan seluruh struktur sosial yang direkam melalui habitus. Simpulan ini hendak mengapresiasi lebih pada heterodoxa karena mampu setidaknya mencicil perubahan sosial melalui opini alternatif yang ada semabari mengakumulasi modal. Daya dobrak Bordieu relatif terbaca reformatif ketimbang revolusioner dalam hemat hemat tertentu. Asumsi yang terbangun pun Bordieu ingin memperingatkan bahaya kekerasan simbolik sebagai jalan menuju kekerasan fisik. Peristiwa peristiwa konflik sosial seperti yang terjadi di Starbuck adalah kontestasi bagaimana arena sosial ditunjukkan kemajemukan agen-agen yang melancarkan praktik-praktik dominasi dengan cara mengajukan, mengkonversi, bahkan melegitimasi tindakannya sebagai hal yang baik melalui modalnya yang kuat. Overdeterminasi kekuasaan modal yang melekat mengupayakan bahwa seolah olah warga komunitas juga memiliki hak lebih daripada warga negara.  Pun problem kesusastraan bagi Bordieu ingin menyudahi dikotomi sastra secara intrinsic dan ekstrinsik, karena genesis kelahiran karya perlu diperhitungkan juga selain isi dari karya itu sendiri. Maka karya harus dikaji secara ulang alik, homolog, baik dari secara konten maupun pengkarya dengan pergulatannya. Senada dengan nuansa determinis nan positivistic pada bangun kerangka determinis Bourdieu, maka baik dalam praktik sosial mapun problem kesusastraan harus ada upaya untuk mencegah bahkan membatalkan dominasi bagi setiap agen, agar tercipta hidup tidak hanya determinis tapi juga etis.

* Tulisan ini lahir selain dari pembacaan pemikiran Bourdieu yang ketat juga merupakan hasil dari proses diskusi dan kuliah tamu di Program Pasca Sarjana, Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga tahun 2014-2017 dengan beberapa intelektual yang bagi penulis, jika meminjam istilah Bourdieu, legitim dalam memberikan pertemuan – pertemuan pikiran yang monumental yaitu Kukuh Yudha Karnanta dan Romo Haryatmoko SJ sehingga tulisan ini mampu dibagikan dalam acara Sekolah Kritik Budaya (SKB) Angkatan ke-3, Aula Sutan Takdir Alisjahban, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, 23 November 2019. Diselenggarakan atas kerjasama Matatimoer Institute, Community for Advanced Humanities Studies (coHumanis), dan Circle for Critical Linguistic and Literary Studies (CCLLS).

Daftar bacaan

Bourdieu, Pierre. 1977. Reproduction in Education, Society and Culture. London: Sage Publication.

Bourdieu, Pierre. 1988. Homo Academicus. Stanford University Press:California.

Bourdieu, Pierre. 1991. Language and Symbolic Power. Polity Press.

Bourdieu, Pierre 1992. The Logic of Practice, Cambridge, Polity.

Bourdieu, Pierre. 1993. The Field of Cultural Production, Columbia. Columbia University Press.

Bourdieu, Pierre. 1995. The Rules of Art: Genesis & Structure of The Literary Field. Stanford Press: California.

Bourdieu, Pierre. 1996. Distinction. A Social Critique of The Judgement Of Taste.Harvard University Press.

Bourdieu, Pierre. 2013. Outline of a Theory of Practice. Cambridge University Press: Cambridge

Calhoun, Carig. 1991. Indirect Relationships and Imagined Communities: Large-Scale Social Integration and the Transformation of Everyday Life. Edited by Pierre Bourdieu, James S. Coleman – Social

Theory for a Changing Society. Russell Sage Production. New York. Haryatmoko. 2015. Membongkar Rezim Kepastian. Boekoe Tjap Petroek: Yogyakarta. Jenkins, Richard. 2006. Pierrre Bourdieu. London Routledge.

Karnanta, Kukuh Y. 2013. Paradigma Teori Arena Produksi Kultural Sastra: Kajian terhadap Pemikiran Pierre Bourdieu.

Web

1“Trensosial”, https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-43920100  

2.  “Cibir Denny JA Masuk 33 Tokoh Sastra Berpengaruh Saut Dijemput Polisi”. https://regional.kompas.com/read/2015/03/26/17321731/Cibir.Denny.JA.Masuk.33.Tokoh.Sastra.Be rpengaruh.Saut.Dijemput.Polisi .

Share This:

About Ghanesya Murti 12 Articles
Peneliti di Matatimoer Institute yang mendalami isu-isu psikoanalisis dalam bidang kebudayaan. Juga, mengajar sebagai dosen kontrak di Politeknik Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*