Différance: Mencegah dominasi kebenaran absolut, mengupayakan suara yang dipinggirkan bisa menuntut

GHANESYA HARI MURTI

A. Problem logosentrisme Saussurean dan hierarki metafisik

To do justice to this necessity is to recognize that in a classical philosophical   opposition we are not dealing with the peaceful coexistence of a vis-a-vis, but rather with a violent hierarchy. (Derrida, 1981:41)

Kutipan diatas hendak menitikberatkan pandangan Derrida pada hadirnya hirarki, atau strate kelas dalam kehidupan sosial. Namun Derrida melacak hirarki secara sosial diciptakan bukan sebagai sebuah hal yang natural dalam kehidupan sosial namun dikreasikan melalui bahasa sebagai instrument kekuasaan. Hadirnya hirarki metafisika bahasa bisa dibuktikan ketika secara sadar maupun tidak kata putih menjadi lebih tinggi dari hitam, laki-laki daripada perempuan, tinggi ketimbang daripada pendek dan seterusnya. Proses bahasa tersebut dikehendaki, diterima secara sosial karena sistem bahasa menghendaki konvensi seperti yang diutarakan Saussure, signifier (pohon)-signified (mental konsep pohon), sehingga bunyi menghadirkan logosentrisme.

Logosentrisme secara mudah mengandalkan adanya pusat, atau dalam bahasa Derrida disebutkan sebagai “the centrism of language in general-of discourse-in structuralism” (Derrida, 2002:77). Derida memeriksa ulang logika dalam bahasa yang selalu berkelindan ketika menngucapkan suatu bahasa sehingga mengabsenkan kehadiran yang lainnya. Seperti kata supir maka yang muncul dalam benak ketika menarasikan kata tersebut yang menjadi logis adalah laki-laki, kelas menengah, buruk, dan setersunya yang tentunya sangat logis jika diterjemahkan dalam jenis masyaraklat tertentu. Hal itu juga buruk, karena mengabsenkan kemungkinan lainnya untuk diucapkan, perempuan, perlente, necis dan seterusnya. Logosentrisme dengan begitu memiliki ekses negatif seperti hirarkisasi, absensi, dan tentunya dominasi karena hanya memungkinkan realitas menjadi logis untuk dipraktikan ketika logosentrisme bekerja. Tidak mungkin dalam benak seseorang untuk menggambarkan ada supir perempuan yang profesional dan juga rapi. Proses tersebut melahirkan yang disebut Derrida sebagai différance, proses membedakan sekaligus menunda pemaknaan yang tak logis untuk muncul.

Secara mudah différance adalah mispelling yang sengaja dilakukan oleh Derrida kemudian dijadikan konsep demi menunjukkan kesalahan menjadi terlihat ketika dituliskan namun tidak ketika dilafalkan. Bahasa tidak terlihat inkonssitensi ketika diucapkan (speech) karena bisa direvisi tapi bisa ditunjukkan ketika ditulis menjadi teks (writing)  ketika dituliskan namun tidak bermasalah dan bisa direvisi ketika diucapkan. Différance bagi Derrida adalah konsep yang penting karena ingin membedakan, menunda, justififikasi yang ada sebagai sesuatu yang seolah-olah pasti“différance is to be conceived prior to the separation between deferring as delay and differing as the active work of difference….It is also inconceivable as the mere homogeneous complication of a diagram or line of time, as a complex “succession” (Derrida, 1973, 88). Keberhati-hatian Derrida dalam menciptakan konsep tersebut juga dimaksudkan agara seseorang untuk berhati-hati ketika menetukan makna yang sudah seolah final, karena sangat mungkin pemaknaan yang dihasilkan bisa ditunda dan bahkan dibatalkan ketika ditunjukkan inkonsistensi sekaligus tegangan antar kata yang bergerak dalam teks. Fayyadl pun mengartikan différance sebagai strategi membongkar totalitas makna dalam teks yang berusaha membakukan makna, lalu menunda dan membedakan pada saat yang bersamaan sehingga kehadiran (makna total) menjadi tidak mungkin (Fayyadl, 2005:110).

B. Dekonstruksi, membongkar finalitas konstruksi dan dominasi dalam teks

Dekonstruksi adalah konsep paling terkenal jika mengingat Derrida, namun sering juga salah diartikan sebagai konsep yang menghancurkan makna dalam teks seolah makna tidak ada. Pada tulisan ini dekonstruksi dimaksudkkan dalam definisi perayaan pembacaan dan cara untuk melihat dominasi dalam teks yang bekerja secara subtil. Kendati Derrida tidak pernah mendefinisikan dekonstruksi secara definitif khas pemikir pasca structural lain yang menolak pemusatan pada definisi mutlak, namun demi kemudahan pembacaan dan semangat dekonstrukis maka dekonstruksi akan dimaknai melalui dua yaitu secara kamus sebagai strategi analisis kritis untuk membongkar asumsi mutlak dalam teks sekaligus adanya kontradiksi internal didalam filsafat, bahasa dan sastra. Selain itu dekonstruksi juga menganjurkan pengalaman (pembacaan) tentang yang tak terduga/tak mungkin sehingga teks tidak terlihat menjadi teks yang utuh atau stabil (Royle, 2003:24). Jika definisi tersebut masih dirasa kurang membantu, maka penggambaran semangat dekonstruksi diucapkan Derrida sebagai berikut “deconstruction interferes with solid structures, “material” institutions, and not only with discourses or signifying representations, that it is always distinct from an analysis or a “critique.” (Derrida, 1987:17). Ini ingin membuktikan bahwa limit dekonstruksi bukan hanya sekedar membatalkan makna tunggal tapi juga harus mampu membantu dalam membongkar dominasi sosial. Artinya ada perubahan yang diharapkan.

Ilustrasi dekonstuksi yang bisa diterapkan adalah seperti peristiwa seorang perempuan yang ditangkap polisi karena membunuh suaminya karena cemburu pada perempuan lain. Pada saat laporan perempuan itu berkilah tidak mungkin saya membunuh saya istrinya satu-satunya yang mencintai, saya yang bekerja mencari nafkah hingga luar negeri demi menghidupi keluarga, saya tidak mungkin membunuh karena hanya saya keluarganya satu-satunya yang mengerti dia. Argumentasi tersebut terdengar logis untuk membuktikan bahwa dirinya tak bersalah, namun nyatanya keterangan tersebut justru semakin membuktikan bahwa istrinya adalah tersangka utama. Istri adalah orang yang paling peduli dan cinta sehingga suami tidak punya alasan untuk kabur, Istri yang punya uang, suami tidak, istri adalah keluarga satu-satunya sehingga semakin membuktikan bahwa tidak ada tersangka lain yang potensial. Narasi ini justru membuktikan bahwa sangat mungkin perempuan itu adalah pelakunya. Sistem representasi tentang cinta yang menyayangi menjadi lenyap, institusi pernikahan menjadi tawanan, struktur narasi yang seolah kuat konstruksinya tentang argument pembelaan justru menjadi penghakiman.

Derrida menyebut tegangan pemaknaan yang tak bisa dipastikan itu sebagai undecidable atau dalam bahasa prancis indécidable. Undecidable bukan berarti makna tidak ada atau bernuansa negative yang berarti tidak adanaya kepastian (indeterminancy). Undecidable berarti kecurigaan pada pemaknaan yang total setidaknya itu yang dituliskan secara lugas oleh Derrida “above all, no completeness is possible for undecidability. This, I have often stated, is to be understood in a variety of senses… to rend to render all totalization, fulfillment, plenitude impossible” (Derrida,1988:114). Derrida bermaksud memberikan pembuktian bahwa asumsi atau kesimpulan yang seolah logis, cepat dan mutlak sangat mungkin mengabsenkan kemungkinan yang lain dan tidak terduga. Dalam rangkuman isu ini, pun Derrida juga punya posisi yang sama bahwa etika (publik) harus mendahului hukum (Fayyadl, 2005:217)

C. Dekonstruksi berita CNN Indonesia, Ahok Pertimbangkan Mobil Pribadi Pakai Jalur Transjakarta

Dalam upaya penanggulangan kemacetan, penggunaan fasilitas publik ketimbang pribadi, serta pelayanan publik gratis menjadi isu utama yang ingin dibangun Ahok pada pemberitaan CNN, “Ahok Pertimbangkan Mobil Pribadi Pakai Jalur Transjakarta”.  Ahok dalam berita tersebut menerangkan bahwa mobil pribadi boleh melewati jalur publik bus trans Jakarta asal membayar sejumlah tarif tertentu yang dimulai dari lima puluh ribu rupiah sehingga nantinya akan ada efek jera sekaligus keadilan sosial, pendapatan lebih untuk menggratiskan tiket bus, dan akhirnya masyarakat beralih ke transportasi umum. Semangat ahok yang pro pada publik dengan “memeras” angkutan pribadi terlihat betul konstruksi keberpihakannya pada upaya pengurangan pelanggaran lalu lintas demi menciptakan kesadaran kepentingan publik Tapi apakah benar seperti itu konstruksi yang ingin dibangun.

Tahap pertama yang dilakukan adalah menggunakan indécidable untuk mencegah keputusan yang dilakukan Ahok adalah murni demi kepentingan publik. Konsep ini dimaksudkan untuk menunda makna final serta mengaktifkan kemungkinan makna yang lain yang tidak terbatas (Royle, 2003:5).  Dalam konsep indécidable akhirnya kita melihat makna yang absen maka kata kunci seperti public yang dipertentangkan dengan privat, gratis dengan berbayar, jera dengan berlanjut, keadilan dengan kesenjangan menjadi patut untuk dibuktikan. Deretan kata itu itunya menyihir pikiran untuk tiba pada kesimpulan bahwa yang dilakukan Ahok itu baik. Namun, bagi Derrida yang penting bukanlah yang hadir dalam pikiran tapi justru yang absen, karena diksi yang dipakai untuk mengkonstruksi pikiran dan melegitimasi tindakan Ahok justu bisa mengecoh. Pilihan kata yang memusatkan pemaknaan bahwa akan hadir jenis keadilan baru dan “penghakiman” bagi pelanggar mobil seolah memberikan kegembiraan karena logisnya penanda dan petanda yang digunakan padahal sangat mungkin affirmasi logos itu palsu “joyous affirmation of the play of the world and of the innocence of becoming, the affirmation of a world of signs without fault, without truth, and without origin which is offered to an active interpretation. This affirmation then determines the noncenter otherwise than as loss of the center” (Derrida, 2005:369).

Pada tahap ini urutan penanda yang ada dalam teks dan dipertentang justru harus dibalik, agar yang absen menjadi muncul. Kata yang dipakai vis a vis seperti bebas/terkontrol, biaya/gratis, istimewa, macet/lancar, kaya/miskin, pribadi/umum justru mampu menunjukkan posisi ketidak adilan dan mendekonstruksi harapan akan hadirnya jalanan yang bebas macet demi kepentingan publik. Pembalikan hirarki metafisik manjadi keharusan agar yang absen muncul dan menjadi lebih bermakna ketimbang keterpusatan logika akan adanya justice. Can one not affirm the nonreferral to the center, rather than bemoan the absence of the center? Why would one mourn for the center? Is not the center, the absence of play and difference, another name for death (Derrida, 2005:374). Dekontruksi terjadi ketika yang bebas adalah masyarakat yang kelas menengah keatas dan yang patuh pada kontrol adalah masyarakat kelas menengah kebawah, artinya pelanggaran pada kepentingan umum sah untuk dilanggar bagi kepentingan pribadi jika macet dibeli, dan kesenjangan justru makin terjadi. Biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan gratisnya busway, artinya sudah sepantasnya masyarakat berterimakasih pada elite, kendati secara etika idealnya transportasi umum memang sudah seharusnya tanggung jawab pemerintah. Derrida menyebut ini sebagai “almost inconceivable: simple irrationality, the opposite of reason, are less irritating and waylaying for classical logic” (Derrida, 1976:154). Kata macet memang harusnya melekat pada pengendara sepeda motor atau ekonomi kelas tertentu dan bukan bagi yang masyarakat miskin yang sudah patut untuk bergelut dengan kemacetan tiap harinya. Konsekuensi epistemic lain yang kaya akan punya cara untuk mengangkangi kepengtingan public, yang hanya melekat pada masyrakat miskin. Sebagai fianlitas pembalikan hirarki metafisik, kebijakan Ahok mencederai kepentingan public untuk ditundukkan kepentingan privat. Tujuan dari diciptakannya busway secara nilai untuk menunjukkan kepentingan umum harus mendahului kepentingan pribadi, itu dasarnya ada ruas jalan yang diambil karena ada perjuangan etis dalam kebijakan tersebut yang justru dibatalkan oleh kebijakan tiket masuk busway.

Pembalikan hirarki menunjukkan bahwa secara logika yang seolah mengkonstruksi argument yang koheren dan ingin menciptakan social justice bagai kepentingan public justru lenyap. Pada wilayah ini idelogi yang dipakai oleh Ahok adalah ideology capital yang sangat trasnsaksional. Artinya, tidak ada perjuangan nilai dalam kebijakan tersebut karena logika kapital hanya mengenal untung/rugi bukan kepentingan public/privat. Hal tersebut sangat mungkin melukai hati publik karena setiap hari harus melihat infrastruktur yang dibangun demi pindah dari transportasi pribadi ke umum malah dikapitaslisasi. Macet adalah keniscayaan bagi miskin bukan yang kaya karena yang kaya pasti menemukan cara untuk membeli kemacetan demi kemewahan pribadinya.

Konsep différance menjadi penting karena menunjukkan alibi dibalik konstruksi pemaknaan yang mutlak, bahwa nantinya akan hilang kemacetan dan kepentingan publik ditegakkan “différance goes on endlessly producing irreducible effects of alibi through traces that refer to some other, to another place and another moment, to something else, to the absolute other, to the other to come, the event, and so forth” (Derrida, 2002:xvi-xvii). Alibi pusat ditelanjangi, konstruksi argumentasi menjadi hancur dan perlu ditunda pemaknaan mutlaknya. Bukan berarti final tapi dengan hadirnya pemaknaan ini ada alternative kebenaran dalam kebijakan Ahok yang seolah sempurna dimana jejak pikirannya justru terlihat kacau ketika dihadapkan pada perjuangan nilai dan etika publik yang seharusnya melekat pada pejabat public. Logika transaksional lebih dekat dengan pengusaha dan bukan pada politisi yang harusnya mengerti tentang distribusi keadilan sosial bukan membuatnya malah terlihat renggang dan seolah malah mencederai.

D. Dekonstruksi jenis kebahagian dalam Pursuit of Happines: Jebakan akumulasi kekayaan

If we are going to speak of it, we will have to name something. Not to present the thing, here the impossible, but to try with its name, or with some name, to give an understanding of or to think this impossible thing, this impossible itself. To say we are going to “name” is perhaps already or still to say too much. For it is perhaps the name of name that is going to find itself put in question. (Derrida, 1992:10)

Karya sastra sebagai medan pertarungan wacana juga meemiliki potensi untuk ditelanjangi pemaknaan tunggalnya. Fethisisme pada pemaknaan tunggal dan kepastian nilai pada suatu karya kerap kali juga mampu diguncang oleh dekonstruksi. Bagi Derrida menyibak makna laten dibalik teks-teks, dibalik penyebutan atau penamaan seperti kutipan diatas adalah mungkin. Teks tidak berangkat dari realitas kosong namun sangat  mungkin berangkat dari jaringan keragaman kekuatan-kekuatan yang pusat dan referensinya yang tidak jelas (Derrida,1982:230). Semangat tersebut juga berlaku pada karya Chris Gardner yaitu Pursuit of Happyness (2006) dimana persoalan tentang konsep dan label nama kebahagiaan menjadi isu utama persis seperti judul bukunya.

Image result for pursuit of happyness
https://thriveglobal.com/stories/the-pursuit-of-happyness/

Demi melihat posisi kebahagian yang ingin dicitrakan dalam teks, kata Happyness sengaja dibuat salah dalam penulisan untuk memberikan tekanan bahwa kebahagian yang dimaksud adalah keluarga, terutama anak dari Chris sang tokoh utama. Masalah terjadi karena Chris kaget ada day care yang salah menuliskan kata happiness “I feel the need to make sure my son knows that the word is spelled with an I and not a Y. H- A-P-P-I-N-E-S-S. … “That’s a big word,” …wishing that I could ensure Chris’s and my own happiness in the immediate future (Gardner, 2002:230-1).  Poin ini menjadi penting karena narasi yang diciptakan adalah bagaimana Chris berjuang dengan segala kemampuannya yang secara terbatas secara ekonomi untuk tetap memilih anaknya ketimbang yang lainnya. Bahkan Chris merasa sah untuk meninggalkan Jackie, istrinya, yang menghina dirinya karena tak punya uang untuk dirinya dan anaknya, sehingga Jackie ‘memilih’ pergi meninggalkan Chris dan anak laki-lakinya (Gardner, 2002:179-181). Poin-poin penting ini adalah bagaimana kesan untuk memberikan hirarki bahwa lebih penting keluarga timbang karir, anak ketimbang istri, dan kebahagian ketimbang uang. Dramatisasi cerita bagaimana Chris tetap berjuang bersama anaknya dalam keterpurukan menambahkan kesan betapa Chris begitu mencintai anaknya.

Dengan meminjam urutan konsep yang sama dalam menganalisis, tulisan ini menambahkan fungsi dari dekonstruksi untuk menunjukkan posisinya secara kebermanfaatan, 1) melihat kontradiksi serta inkonsistensi 2) membuka tafsir baru 3) membuka semangat kritis sehingga bisa menunjukkan posisi ideologi yang telah menyatu dengan bahasa dan 4) menjadikan asing teks yang tadinya dianggap familiar secara pemaknaan karena narasi yang dipinggirkan menjadi lebih mendapatkan perhatian (Haryatmoko, 2015:94). Kontradiksi yang muncul adalah munculnya ambiguitas berupa kondisi dimana jika yang diutamakan adalah keluarga mengapa motif uang begitu besar dan mendominasi cerita. Peristiwa ini yang membuat konsep indécidable menjadi penting. Happyness yang dimaksud nyatanya adalah uang dan bukan kebahagian keluarga seolah olah-olah uang adalah jalan utama, persis seperti aporia yaitu kesulitan yang tidak ada jalan keluarnya (Haryatmoko, 2005:99) dimana kontradiksi juga kembali hadir. Jika motif ambisi mencari uang adalah ambisi yang menyebabkan keluarga hancur nyatanya sepanjang cerita kata happiness justru paling dekat dengan pencarian uang. Kritisisme yang penting adalah ketika kata uang (money) yaitu 107 kali belum termasuk kata ganti, ketimbang keluarga (family) yang disebutkan 66 kali.

Image result for pursuit of happyness
https://sustainabilityatspu.wordpress.com/2013/04/19/sustainability-and-film-pursuit-of-happyness/

Kata Happyness yang hendak diberikan sorot lampu, bahkan dijadikan judul dengan cara penulisan yang salah, sebenarnya secara analog tidak hanya merujuk pada kata keluarga dan anak-anak Chris tapi juga kepada pencapaian kekuasaan atas capital atau uang. Penolakan dan kehancuran Chris yang disebabkan oleh uang dan dinarasikan seolah uang bukanlah hal utama melainkan kebahagian keluarga justru dipertegas posisinya diakhir cerita dimana Chris berhasil memiliki banyak uang dan ingin kembali ke istrinya “I actually convinced myself that we were supposed to get back together. …, Well, for Christopher’s sake. Maybe now that the money wasn’t so tight and I had established myself in the business, she’d have the chance to pursue her goals” (Gardner, 2002:284-5). Artinya pada akhirnya logika mencari kekayaan yang hendak didesiminasikan atau disebarkan, maka pursuit of happyness bisa saja diganti dengan pursuit of money, karena masih memiliki semangat yang sama kendati terkesan terlalu frontal dan direct. Dissemination atau penyebaran makna menjadi konsep penting bagi Derrida karena makna yang disampaikan tidak lagi tunggal melainkan plural bahkan mengecoh.  

I’ve often been asked how much money equates to real wealth. My answer is always the same. By my definition, money is the least significant part of wealth. My net  worth is not among the Forbes 400, nor is it my ambition to be so  listed, but I am healthy, have raised two children as a single parent (blessed with a village of support) that have become outstanding young people, and I’m in a position to do work that reflects my values.That’s my defi nition of wealth. (Gardner,2005:99)

Chris seolah ingin membuktikan bahwa kekayaan baginya adalah dirinya sehat dan mampu merawat anaknya walau sebagai single parent. Nilai itu yang hendak diseminasikan oleh Chris, kendati seperti yang diungkap diatas dia ingin rujuk dengan istrinya dan narasi yang dia highlight justru mencari uang kendati anaknya pun sehat ketika dia miskin. Disemenasi adalah arena permainan yang terus bertransformasi dalam penanda-penanda, ketika makna terus menerus mendesak masuk dalam lingkaran yang berusaha dibangun namun tersebar berulang-ulang (Fayyadl, 2005:79). Disemenasi makna memang penting namun kadang palsu ketika diterima sebagai pesan yang membuai dalam teks. Disemenasi dengan begitu adalah upaya subtil dimana Chris, walau pahit untuk dikatakan, mengkapitalisasi nilai keluarga dan penderitaan single parent untuk mengkaburkan akumulasi modal yang dia miliki. Secara pesan motivasi ekonomi baik, tapi secara pesan pendidikan keluarga adalah buruk karena teramat transaksional.

E. Epilog: Menolak pemaknaan tunggal demi menunjukkan suara yang dipinggirkan

Dekonstruksi berupaya melihat inkonsistensi sekaligus kontradiksi dalam momen-momon kontekstual dalam teks. Dekonstruksi adalah sikap etis untuk melihat rezim kebenaran tanda yang beroperasi dalam logosentrisme ternyata mampu menciptakan realitas yang dominatif sekaligus menjebak subjek dalam kesadaran-kesadaran yang tidak terpikirkan sebelumnya. Seperti pada keputusan mewajibkan tiket bagi kendaraan pribadi untuk jalur busway yang terkesan baik dengan menjual harapan hilangnya kemacetan dan kontribusi bagi pelanggar lalu lintas publik nyatanya adalah secara etika publik buruk karena semakin menajamkan disparitas ekonomi sosial, menghilangkan tujuan awal busway sebagai pilihan sarana public ketimbang pribadi, karena ideologi capital yang transaksional selalu bisa mencari cara untuk membayar tiket tiap harinya. Jika kemudian ada pertanyaan lalu solusinya apa, tentunya dengan menekan memperkecil kepentingan privat, dan membuka lebar kepentingan publik. Pada novel The Pursuit of Happyness juga demikian, momen-momen dalam teks yang memberikan konteks bahwa uang bukanlah sumber kebahagian justru menjadi modus atau prasyarat kebahagiaan. Artinya kata happyness yang sengaja di ketik salah justru analog dengan logika uang yang pada awal ditentang dan dijadikan problem. Sederet konsep yang diajukan demi kepentingan metodologis operasional mulai dari indécidable, hirarki metafisik, différance hingga disemenasi adalah rangkaian perkakas analisis yang mengusik kebenaran mutlak. Ikhtiar ini sulit, karena mengharuskan diri untuk bergelut dengan sistem kekuasaan dominatif tapi baik jika menginginkan hidup yang lebih beradab dan penuh martabat.

* Tulisan ini lahir selain dari pembacaan pemikiran Derrida yang rigid dan ketat juga terinpirasi dari kuliah publik Romo Haryatmoko SJ. Dipresentasikan dalam Sekolah Kritik Budaya (SKB) Angkatan ke-3, Aula Sutan Takdir Alisjahbana, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, 22-24 November 2019. Diselenggarakan atas kerjasama Matatimoer Institute dengan Community for Advanced Humanities Studies (coHumanis) dan Circle for Critical Linguistic and Literary Studies (CCLLS).

Daftar bacaan

Derrida, Jacques.1973. Speech and Phenomana. Evanstone: Nortwestern University.

Derrida, Jacques. 1976. Of Grammatology. Baltimore: John Hopkins University Pers.

Derrida, Jacques. 1981. Positions. Chicago:The University of Chicago

Derrida, Jacques. 1982. Margins of Philosophy. Chicago: The University of Chicago.

Derrida, Jacques . 1987. The Truth in Painting. Chicago: The University of Chicago

Derrida, Jacques. 1988. Limited Inc. Evanston, IL :Northwestern University Press.

Derrida, Jacques. 1992. Given Time, Counterfeit Money. Chicago:The University of Chicago.

Derrida, Jacques. 2002. I Have A Taste For Secret. Cambridge: Polity Press.

Derrida, Jacques. 2005. Writing and Difference. London: Routledge

Fayyadl, Muhammad. 2005. Derrida.Yogyakarta: Lkis Pelangi Aksara.

Gardner, Chris. 2005. The Pursuit of Happyness. HarperrCollins-ebook

Haryatmoko. 2015. Membongkar Rezim Kepastian. Boekoe Tjap Petroek: Yogyakarta

Royle, Nicholas. 2003. Jacques Derrida. London: Routledge.

Web

Putra, D. F. (2015, 1 Januari). “Ahok Pertimbangkan Mobil Pribadi Pakai Jalur Transjakarta”. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20150130133734-20-28530/ahok-pertimbangkan-mobil-pribadi-pakai-jalur-transjakarta.

Share This:

About Ghanesya Murti 12 Articles
Peneliti di Matatimoer Institute yang mendalami isu-isu psikoanalisis dalam bidang kebudayaan. Juga, mengajar sebagai dosen kontrak di Politeknik Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*