Mempermasalahkan multikulturalisme: Beberapa wacana dari sastra diasporik

IKWAN SETIAWAN

Mornings, on my way to JHS 49, I yearned for my life in Macứn. I missed the dew-softened air, the crunchy gravel of the dirt road, the rooster’s crow, the buzz of bees, the bright yellow sun of a Puerto Rican Dawn. I resisted the square regularity of Brooklyn’s street, the sharp-concerned buildings that towered over me, the sidewalk spotted with crusted phlegm and sticky chewing gum. (Santiago, 1998: 31)

Masih tentang diaspora

Sebagai subjek diasporik yang pindah dari Puerto Riko ke Amerika Serikat karena mengikuti ibunya yang mencari perawatan saudaranya, Negi, dalam Almost a Woman (Santiago, 1998), harus melakukan “proses membandingkan jalan” yang ia lewati, antara jalanan Brooklyn dan Macun. Kerinduan terhadap tanah airnya, tidak diragukan lagi, menjadi momen kenangan dan perbedaan. Mancun adalah situs yang harus dirayakan di dalam hati di Brooklyn, ketika dia merasa tidak nyaman dengan warga dan budaya baru. Kerinduan adalah kondisi psikologis umum yang dialami subjek diasporik ketika ia merasa terasing dari masyarakat induk yang darinya proses mengingat beberapa peristiwa masa lalu yang tak terlupakan muncul sebagai alternatif untuk menenangkan dan merawat ingatan untuk memandang diri sebagai manusia seutuhnya.  Pembandingan kedua jalan tersebut, lebih jauh lagi, adalah pembadingan dua atmosfer sosial dan kultural sebagai konsekuensi perbedaan dua negara yang akan mendorong subjek diasporik untuk secara aktif terlibat dalam proses kultural yang njlimet. Secara umum, mengikuti perspektif poskolonial, proses tersebut telah menghasilkan kondisi di antara kondisi yang membuat subjek diasporik dalam proses membandingkan dua budaya yang berkontribusi satu sama lain dalam diri mereka sendiri sementara enggan untuk sepenuhnya meninggalkan budaya ibu tetapi tidak sepenuhnya menerima budaya inang ( Bhabha, 1994).

Lunar New Year in Hing Hay Park, which is part of Seattle’s International District. (Photo: Joe Mabel/Wikimedia Commons).

Dalam sastra diasporik, baik yang ditulis di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, konstruksi dualitas kultural menjadi semacam “menu-yang-harus-disajikan,” di mana—di antara ingatan masa lalu dan berbagai peristiwa kultural, ekonomi, sosial, politik serta kebutuhan untuk terus beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan nilai-nilai, bentuk, dan praktik budaya masyarakat Barat—tokoh-tokoh utama dari negara pascakolonial digambarkan memiliki masalah survival. Dalam pengantar The Arab Diaspora: Voice of anguished scream (2006), Salhi berpendapat bahwa meskipun penulis diasporik menulis dalam bahasa Inggris dan Prancis, pekerjaan mereka tidak harus sama atau mirip dengan kondisi aktual dalam kehidupan, baik di tanah air atau negara induk, selalu di-antara. Sastra diasporik, dengan demikian, menjadi bentuk ekspresi untuk menegosiasikan penderitaan imigran sebagai akibat dari ingatan akan tragedi politik, penyakit, masalah ekonomi, kemiskinan dan perang saudara serta masalah rasial yang dihadapi di kota-kota metropolitan Barat, tetapi mereka juga memiliki mimpi menjadi individu yang lebih sukses melalui perjuangan dan pemanfaatan budaya dominan.

Dualitas terus-menerus yang dialami oleh subjek diasporik tidak hanya menempatkan mereka di dalam ruang di mana hibriditas kultural merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal. Lebih jauh lagi, kondisi itu juga mendorong mereka untuk memahami kembali masalah identitas yang tidak lagi dapat melekat pada sejarah negara atau budaya asal. Selain itu, mereka juga harus memahami budaya dominan atau budaya etnis lain dalam masyarakat multikultural. Identitas budaya, dengan demikian, tidak lagi menjadi hal yang tetap, tetapi selalu dalam proses negosiasi, positioning, dan menjadi (Hall, 1997, 1994). Selain itu, sebagaimana identitas, bangsa dan nasionalisme adalah proyek yang dapat ‘direvisi’ dan dinegosiasikan secara lentur, meskipun mereka tidak dapat sepenuhnya menghilangkan pengaruh dan ingatan budaya asal atau ingatan akan tanah air. Para penulis tampaknya mendapatkan ‘kesempatan bernafas’ untuk menulis narasi tentang berbagai masalah, termasuk masalah politik dan aturan rezim yang kejam di negeri asal yang membuat banyak orang menderita, karena di metropolitan mereka menemukan kebebasan sebagai nilai yang mengkonstruksi subjektivitas, terutama pandangan politik (Al Maleh, 2009: 14). Dalam posisi itu, penulis tidak melupakan tanah air, tetapi berusaha memberikan perspektif visioner berdasarkan wacana demokratis yang bisa menjadi alternatif untuk upaya perbaikan sosial, ekonomi, dan politik.

Manhattan’s Chinatown is one of several Chinese enclaves in New York City. (Photo: mandritoiu/Shutterstock).

Berdasarkan pemikiran di atas, artikel ini akan mensurvei beberapa literatur kontemporer terkait dengan permasalahan multikulturalisme yang direpresentasikan dalam sastra diasporik. Untuk keperluan tersebut, saya juga akan menghadirkan bacaan singkat dari beberapa karya yang merepresentasikan masalah identitas dalam masyarakat multikultural. Bagi subjek diasporik multikulturalisme bukan hanya proses menghormati dan mengenali budaya etnis lain, tetapi juga terkait dengan proses meniru secara selektif budaya kulit putih yang berpotensi melanggengkan ketidaksetaraan di negara-negara liberal yang berkampanye untuk demokrasi. Bagi penulis diasporik, multikulturalisme di negara maju menjadi konteks yang memengaruhi pilihan diskursif, apakah akan mengkritiknya untuk masalah yang ditimbulkan atau mendukung dengan kepentingan mencapai tujuan ideal sebagai imigran.

Sekali lagi, multikulturalisme: Temuan dari sastra diasporik

Untuk individu diasporik yang hidup di tengah-tengah kota metropolitan di Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Kanada, Jerman, dan beberapa negara maju lain—bersama berbagai ras, etnis, dan agama yang berbeda—di mana pemerintah dapat menerapkan politik multikulturalisme, sebenarnya, bisa memberikan mereka berpeluang mendapatkan perhatian penuh dari masyarakat tuan rumah yang memiliki nilai-nilai modern dan liberal yang menekankan kesetaraan dan solidaritas di antara umat manusia. Multikulturalisme tampaknya menjadi model terhadap asimilasi ala melting-pot yang mengharuskan kelompok-kelompok yang beragam secara ras dan etnis untuk bercampur dengan budaya dominan, budaya orang kulit putih. Dalam prinsip keanekaragaman, idealnya kaum minoritas akan mendapatkan pengakuan dan kesetaraan yang dijamin oleh liberalisme sebagai ideologi negara-negara maju di Eropa dan Amerika Serikat. Menurut Kymlicka (1995: 82-93), keanggotaan dalam komunitas kultural akan memastikan identitas pribadi dan menyediakan kerangka kerja bagi individu untuk menjalani kebebasan mereka. Politik pengakuan dan identitas kultural merupakan nilai penting bagi otonomi manusia dan individu. Sejalan dengan pendapat ini, Taylor (1992) menegaskan bahwa politik pengakuan adalah pintu untuk menjamin kebebasan dan hak-hak individu terlepas etnis atau ras asal mereka. Meskipun multikulturalisme dengan model pengakuan dianggap sebagai suatu pemberdayaan integrasi sosial dari keragaman budaya masyarakat—suatu pengakuan yang luar biasa, baik dalam praktik maupun produk representasional tentang individu-individu dari latar belakang etnis yang berbeda—juga dikhawatirkan akan memperkuat perbedaan rasis.

Kondisi kontekstual

Meningkatnya jumlah komunitas diasporik atau komunitas transnasional di negara-negara maju dengan beragam kasus rasisme adalah salah satu faktor dominan yang mendorong banyak pemerintah menerapkan kebijakan multikulturalisme. Selain itu, kehadiran banyak kelompok etnis di tengah-tengah masyarakat kulit putih juga menimbulkan transformasi besar yang harus diambil oleh pemerintah dengan menerapkan sistem dan struktur sosial berbasis liberalisme yang memberikan sebagian kebebasan berekspresi kepada setiap individu sehingga mereka dapat menghindari proses marjinalisasi, pengucilan, dan rasisme dalam kehidupan sehari-hari (Dijkstra, Geuijen, & Ruijter, 2001: 61-62). Multikulturalisme adalah gerakan moral yang bertujuan mengakui martabat, hak, dan nilai dari kelompok yang terpinggirkan (Fowers & Richardson, 1996). Prinsip menghormati dan mengakui perbedaan budaya masing-masing kelompok etnis adalah wacana utama yang selalu dimobilisasi oleh para pemikir liberal dan dijadikan dasar utama oleh pemerintah negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, Prancis, Inggris, Jerman dan lainnya, untuk membuat kebijakan budaya berbasis keragaman yang idealnya dapat memberikan kesetaraan kepada semua pihak (Modood, 2010: 20).

More than a million people attend San Francisco’s Chinese New Year parade. (Photo: Kobby Dagan/Shutterstock) .

Meskipun secara formal multikulturalisme menjadi bentuk tanggung jawab negara, dalam praktiknya, peran individu dalam masyarakat lebih menentukan. Wise & Velayutham (2014) menggunakan kerangka “multikultural ramah” untuk menguji bagaimana masyarakat multietnis di Singapura dan Sydney mengembangkan perilaku ramah di lingkungan yang berkontribusi terhadap toleransi yang mendukung koeksistensi sosial dan menjadikan multikulturalisme sebagai habitus. Bagi warga diasporik yang mengalami translokasi budaya, multikulturalisme bukanlah ideologi, filosofi atau resep yang dapat dengan cepat menyelesaikan masalah sosial, ekonomi, dan politik, terutama yang berkaitan dengan ketidaksetaraan. Alih-alih, seperti dalam kasus Inggris, multikulturalisme membutuhkan negosiasi jangka panjang dan terus-menerus dengan berbagai bentuk ekspresi kultural yang melibatkan banyak aktor dan anggota masyarakat dalam menanggapi gerakan kohesi komunitas yang diprakarsai oleh pembuat kebijakan dan politisi (Werbner, 2005).

Namun demikian, penerapan kebijakan multikulturalisme oleh negara-negara maju yang merayakan keragaman budaya dari setiap kelompok migran atau diasporik dari Asia, Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin, Karibia dan lainnya, dapat menciptakan kegelisahan karena terlalu peduli dengan masalah budaya tetapi mengabaikan masalah sosial di mana minoritas masih menghadapi prasangka rasis dan ketidakadilan ekonomi. Chae (2008: 2) memberikan contoh yang sangat baik dari “inflasi penggunaan terminologi budaya” dengan menggambarkan masalah kemiskinan yang dialami oleh kelompok minoritas di AS. Seringkali kemiskinan ditujukan pada karakteristik negatif yang ada di komunitas etnis tertentu, seperti kemalasan, tingkat pendidikan rendah, kurangnya keberanian untuk berkompetisi, dan bukan pada kenyataan ketidaksetaraan struktural dalam masyarakat. Sayangnya, seperti yang ditunjukkan Mishra (2007: 135), multikulturalisme yang disponsori negara kurang peduli dengan kekuasaan, hubungan kelas, keadilan yang tidak merata, dan ketidakseimbangan budaya antara mereka yang secara historis dominan dengan mereka yang berjuang untuk kesetaraan setelah mampu menyesuaikan diri dan dimasukkan menjadi satu ke dalam budaya dominan. Selain itu, pemahaman multikulturalisme yang menekankan perayaan keanekaragaman budaya dapat memperkuat jarak sosial antara minoritas dan mayoritas dan juga untuk mengidealkan budaya hanya sebagai “paket siap pakai” alih-alih sebagai praktik njlimet yang melibatkan masalah regenerasi, termasuk upaya pertahanan dan tantangan dalam masyarakat multi-etnis.

Chicago’s Chinatown celebrates Lunar New Year despite sometimes-frigid winter weather. (Photo: erikccooper/Wikimedia Commons)

Apa yang perlu dicermati lebih lanjut mengenai perbedaan etnis dan budaya dalam multikulturalisme adalah trend populer dan akademik yang menempatkan etnis sebagai fiksitas (sesuatu yang bersifat pasti) yang menggerakkan seluruh sistem sosial dalam suatu komunitas. Fox & Jones (2013: 386) mengungkapkan bahwa efek pemikiran itu adalah bahwa banyak penelitian tentang migrasi, diaspora, dan transnasionalisme dalam kerangka multikulturalisme menganggap etnisitas sebagai kemutlakan esensial sehingga meniadakan faktor-faktor ketidaksetaraan ekonomi dan politik dalam masyarakat induk. Serta tidak dapat menangkap fleksibilitas dan dinamika dalam kehidupan internal etnis. Kecenderungan untuk menempatkan perbedaan budaya pada dasarnya mengaburkan fakta-fakta ketidaksetaraan ekonomi yang dialami oleh kelompok diasporik, munculnya rasisme, dan Liyanisasi kelompok minoritas. Kehidupan subjek diasporik dalam ruang multikultural metropolitan yang menuntut ketepatan strategi, pada akhirnya, berkontribusi pada cara mereka memandang isu-isu identitas yang selalu berada di ruang-antara. Dengan sengaja, mereka menyesuaikan dan membangun kesamaan dengan budaya kelompok dominan dan budaya etnis lainnya, sambil terus mempertahankan perbedaan budaya (Moslund, 2010: 38-39).

Hibriditas yang disengaja seperti itu adalah strategi yang diterapkan untuk mempertahankan dan memperkuat keberadaan diaspora sehingga mereka dapat berkontribusi pada kehidupan multikultural yang diarahkan oleh pemerintah induk. Dalam jangka panjang, terutama yang dialami oleh generasi diaspora kedua atau ketiga, kemandirian budaya merupakan tantangan besar bagi pembentukan makna identitas nasional dan nasionalisme. Sebagai akibat dari liminalitas di ruang-antara, masalah identitas yang biasanya diarahkan dan ditentukan oleh kekuatan negara (asal) dengan memobilisasi keunikan nasional dan peristiwa heroik dalam rangka mengembangkan kebersamaan, solidaritas dan rasa memiliki ditantang. oleh divergensi diasporik dari kehadiran budaya dan nilai-nilai baru yang berbeda (Král, 2009: 15). Kondisi demikian menyiratkan kesulitan untuk menggeneralisasi mata pelajaran diasporik hanya berdasarkan perbedaan etnis dan keunikan.

Dengan ekspresi yang lebih kritis, Chae (2008: 2-3) mengidentifikasi beberapa kelemahan multikulturalisme seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Pertama, karena terlalu menekankan perbedaan dan keragaman budaya, multikulturalisme cenderung mengabaikan realitas ketidakadilan sosial dan ketidaksetaraan dalam masyarakat metropolitan. Akibatnya, muncul pandangan yang membenarkan bahwa masalah sosial seperti kemiskinan yang dialami oleh kelompok minoritas lebih disebabkan oleh masalah dan beban budaya yang mereka hadapi. Kedua, terlepas dari penghargaan dan pengakuan atas perbedaan budaya, multikulturalisme masih memandang budaya dan ras minoritas sebagai Liyan, sembari memposisikan mayoritas kulit putih tanpa harus mengemuka, memungkinkan pengurangan masalah rasial. Kecenderungan politik netralisasi multikulturalisme Amerika menyiratkan bahwa keragaman budaya dapat diterima dan dirayakan sejauh itu tidak mengganggu pembentukan struktur kekuasaan yang masih memungkinkan orang kulit putih menjadi dominan. Ketiga, multikulturalisme AS memang dapat membangun citra dan wacana “Amerika” sebagai ruang ekspresi warga multi-etnis dan agama sambil berjuang untuk memenuhi impian ideal mereka. Namun, pengalaman hidup banyak penduduk diasporik dan imigran menunjukkan bahwa di AS masih ada diskriminasi rasial, eksploitasi tenaga kerja, dan marginalisasi sosial-ekonomi yang sering ditujukan pada ketidakmampuan kaum minoritas untuk mengembangkan kapasitas dan mengatasi hambatan budaya.

Traditionally, red lanterns, like these in Hawaii, are hung to mark the end of the Lunar New Year holiday. (Photo: Akshay Thaker-Photovation/Shutterstock)

Sebagai latar belakang kontekstual bagi proses sastrawi, semua masalah dan peluang hidup dalam kondisi multikultural yang dialami oleh individu diasporik dari negara-negara berkembang, merupakan sumber kreatif bagi penulis diasporik yang memiliki sudut pandang kreatif dan kritis dalam menceritakan kompleksitas budaya. Mereka juga memiliki pertimbangan khusus dalam menulis pertanyaan hidup dalam keragaman budaya di mana individu dari Asia, Afrika, Amerika Latin, atau Karibia harus memainkan subjektivitas secara fleksibel, terutama dalam menghadapi budaya kulit putih dominan dan budaya etnis lain. Selain itu, tidak sedikit penulis mengalami masalah yang serupa, atau bahkan lebih rumit, seperti tragedi politik berdarah yang memaksa mereka atau keluarga mereka untuk bermigrasi ke negara-negara maju, terutama AS, Kanada, Australia, dan negara-negara Eropa Barat. Kenangan nostalgia dan ingatan di tanah air serta realitas rumit dan masalah yang mereka temukan di kota-kota metropolitan menjadi sumber kreatif yang penting bagi para penulis diaspora (Walder, 2011). Membandingkan kerumitan masalah politik, ekonomi, dan sosial di negara asal dengan kehidupan demokratis di negara tuan rumah sering menimbulkan perspektif liberal yang mengakomodasi nilai-nilai Barat, meskipun mereka belum menghilangkan subjektivitas asli sepenuhnya dalam lalu-lintas multikultural. Apa yang menarik untuk dilihat lebih lanjut adalah bagaimana penulis menyajikan realitas multikultural dan isu-isu yang menempatkan subyek diasporik dalam situasi yang mengharuskan mereka untuk menyesuaikan budaya dominan dan untuk menghormati budaya etnis lain sementara orang kulit putih menempatkan mereka sebagai subjek yang berbeda secara kultural dan ingin mereka berada di keunikan stereotip.

Karya yang secara politis bersepakat dengan wacana multikultural

Dalam studinya tentang novel-novel populer yang ditulis oleh para penulis Asia-Amerika dari tahun 1950-an hingga 1990-an, Chae (2008: 6-7) mengkonseptualisasikan dua kerangka kerja diskursif untuk membaca keberadaan isu-isu multikulturalisme dalam karya-karya tersebut, yakni karya yang secara politis bersepakat dan karya yang sadar secara politis terhadap multikultural. Konsep pertama menggambarkan wacana konservatif yang memosisikan proses asimilasi dengan budaya putih—apakah terpakasa ataupun sukarela—sebagai cara terbaik bagi subjek diasporik untuk mewujudkan impian Amerika tanpa menghubungkannya dengan masalah sosial-politik dan ekonomi yang membuat mereka pindah dari negara asal, diskriminasi rasial, dan ketidaksetaraan ekonomi di Amerika Serikat. Kebanyakan teks etnis yang populer cenderung tidak merepresentasikan kebijakan kontradiktif pemerintah AS terhadap imigran, sehingga memilih untuk menceritakan kisah sukses asimilasi yang membentuk minoritas model, seperti yang digambarkan dalam berita atau visualitas di media. Karya-karya Asia-Amerika yang setuju secara politis menyepakati wacana multikultural berkelindan dengan kebijakan multikulturalisme AS yang dilembagakan untuk mengungkap dan merayakan keragaman budaya. Sementara, pada saat yang sama mengaburkan struktur politik dan kekuasaan yang tidak setara dan hanya menghadirkan perbedaan budaya, sembari memperkuat warga Asia-Amerika sebagai minoritas model.

Dalam pola narasi minoritas model, Fifth Chinese Daughter (1950) karya Jade Snow Wong (1950) dan Joy Luck Club (1989) karya Amy Tan dapat dianggap sebagai contoh sastra Asia-Amerika yang mewakili perbedaan budaya para imigran Asia yang dikemas dalam narasi dan stereotip yang eksotis. Karena terlalu menekankan pada keberhasilan subjek diasporia Asia-Amerika dalam mewujudkan impian mereka meskipun ada diskriminasi rasial, kedua novel itu gagal untuk menyajikan kompleksitas dan masalah ekonomi, sosial-politik, dan hukum yang semuanya dikondisikan oleh kebijakan pemerintah dan dominasi budaya kulit putih (Chae , 2011: 56). Di Joy Luck Club, lebih lanjut, terlepas dari representasi strategi budaya yang dilakukan oleh generasi kedua diasporik dalam menunjukkan kebangsaan mereka sambil mempelajari budaya ibu mereka, kita dapat menemukan konstruksi ke-China-an dalam paradigma esensial melalui deskripsi ibu di tanah air dan di AS (Adams, 2008: 122-123). Paradigma esensial dapat mengarah pada pembentukan neo-Orientalisme di mana penulis diasporik dengan pengalaman Barat membangun stereotip bangsa, masyarakat, dan budaya Timur, meskipun secara bertahap mulai meningkatkan nilai-nilai modern. Kehadiran Timur yang esensial juga dapat membantu pembaca kulit putih untuk menemukan keunikan dan tradisionalisme orang Timur yang berbeda di tengah-tengah gerakan metropolitan yang cepat serta perjuangan mereka untuk menjadi bagian dari masyarakat Amerika.

A gate marks the entrance to Boston’s Chinatown. (Photo: aphotostory/Shutterstock)

Dalam perspektif yang lebih kritis, formasi multikultural dalam sastra diasporik memang merupakan penanda bagi penguatan keragaman dalam masyarakat, tetapi pada saat yang sama menjadi media bagi orang kulit putih untuk mempertahankan pandangan yang menempatkan mereka sebagai subjek dominan yang harus dijadikan rujukan para imigran. Dalam kondisi demikian, kita dapat melihat bagaimana ketidakadilan struktur kekuasaan disamarkan oleh keragaman kultural sehingga tidak ada resistensi besar-besaran para migran karena kotak-kotak budaya disiapkan sebagai apresiasi dari komunitas induk. Mereka seolah-olah memberi kebebasan berekspresi tetapi sebenarnya menempatkan subjek diasporik mereka dalam posisi yang mudah dikenali dan diawasi oleh pemerintah dan warga kulit putih.

Memang, banyak sastra diasporik merepresentasikan pertanyaan identitas dalam ruang di-antara, di mana karakter utama — biasanya imigran atau generasi diaspora kedua dan ketiga — mengalami dualitas budaya sebagai akibat dari pengaruh kuat nilai-nilai dan praktik liberal tuan rumah. komunitas. Namun, jika kita melihat secara kritis, tokoh-tokoh diasporik sebenarnya cenderung menyesuaikan nilai-nilai liberal ke dalam kehidupan mereka, sedangkan budaya ibu hanya menjadi ekspresi marjinal. Stephanos, seorang imigran Ethiopia yang tinggal di tengah masyarakat Amerika, dalam The Beautiful Things that The Heaven Bears (Mengestu, 2007), misalnya, tidak melupakan pemberontakan komunis di negara asalnya, juga masih mengingat perayaan Natal dan menyanyikan lagu-lagu rakyat. Kerinduan terhadap ibu, saudara, dan tanah air cukup dirayakan di ruang pribadi, apartemennya, karena ketika memasuki ruang publik, Stephanos harus memosisikan dirinya sebagai subjek yang perlu belajar bahasa Inggris dan menyesuaikan budaya Amerika, agar bisa tepat untuk berkomunikasi dan bergaul dengan orang kulit putih atau orang-orang dari kelompok minoritas lainnya. Bahkan, ia memilih untuk meninggalkan apartemen tempat para imigran Ethiopia berkumpul di Amerika, karena ketika tinggal bersama mereka, Stephanos selalu mengingat berbagai cerita di tempat asalnya. Selain itu, ketika setiap hari bertemu dan berkumpul dengan orang-orang dengan bahasa dan budaya yang sama, ia merasa semakin sulit untuk beradaptasi dengan budaya Amerika. Dalam prosesnya, ada seorang wanita kulit putih dengan putrinya yang menjadi pasangan ideal sekaligus guru bagi Stephanos. Pilihan narasi ini menegaskan bahwa ada idealisme normatif keramahtamahan dan kemauan orang kulit putih sebagai subjek dominan yang harus membimbing subjek subordinat, membantu mewujudkan semua impian Amerika. Bagi individu diasporik yang telah terhegemoni oleh keunggulan impian dan budaya Amerika untuk mendapatkan kebahagiaan dan kemajuan, kegagalan atau asimilasi yang tidak sesuai dengan etika dan kebiasaan kulit putih dapat menciptakan ketidaknyamanan dan ketidakamanan yang berdampak pada kelangsungan hidup dan menghancurkan semua impian mereka (Wong, 1993: 99).

Karya  yang sadar secara politis terhadap wacana multikultural

Sebaliknya, karya yang secara politis sadara terhadap wacana multikultural menghadirkan kisah-kisah tentang konteks sejarah, ekonomi, dan politik partikular serta menggambarkan suasana dan kondisi lingkungan yang memengaruhi kehidupan masyarakat diasporik. Konstruksi diskursif ini menyatakan ketidaksepakatan atas ketidakkonsistenan pemerintah AS—dan, tentu saja, pemerintah negara-negara maju lainnya—berkenaan dengan sikap dan kebijakan terhadap kaum minoritas dan imigran serta kebijakan luar negeri negara adikuasa yang merugikan banyak negara dan negara-negara di dunia (Chae, 2008: 7). Kritik ini dapat membantu kita melihat bagaimana buruh murah dari negara bekas jajahan dieksploitasi untuk mendukung kapitalisme di negara-negara maju; bagaimana pemerintah negara maju menggunakan berbagai upaya kultural untuk mengatasi masalah politik, ekonomi, dan ideologis yang disebabkan oleh fakta eksploitasi; dan, bagaimana masalah globalisasi yang berpusat pada negara maju berkaitan erat dengan masalah imigran di negara tersebut (Chae, 2008: 37). Landasan penting dari asumsi-asumsi ini adalah bahwa AS dan banyak negara maju lainnya menjadi lebih multikultural terkait dengan perkembangan kapitalisme yang membutuhkan tenaga kerja murah (Chae, 2008: 64). Inilah pentingnya kesadaran historis akan munculnya multikulturalisme yang menekankan perbedaan budaya dengan budaya kulit putih sebagai standar acuan. Selain itu, pengakuan dan penghormatan terhadap perbedaan budaya sering menjadi wacana untuk menutupi fakta-fakta rasisme yang hingga kini tetap tertanam dalam benak sebagian besar orang kulit putih.

Orange County has one of the largest Tet celebrations outside of Vietnam. (Photo: Joseph Sohm/Shutterstock)

Salah satu karakteristik sastra diasporik yang secara politis sadar akan masalah ekonomi, sosial, dan politik sebagai konteks penciptaan adalah kepekaan terhadap kondisi historis partikular yang memengaruhi masalah. Carlos Bulosan, seorang imigran Filipina, misalnya, dengan cermat menceritakan upaya kapitalis AS membedakan tenaga kerja berdasarkan perbedaan ras dan bangsa serta basis eksploitasi imigran yang tertindas secara sosial melalui America Is In The Heart (1973). Chae (2008: 66-76) menyatakan bahwa Beluson memiliki kepekaan historis mengenai fakta-fakta penjajahan AS di Filipina yang berkontribusi terhadap penghancuran budaya dan ekonomi pribumi, realitas tuan tanah, dan bagaimana masalah warga Filipina ketika bermigrasi ke AS sebagai hasil dari kebijakan yang sepertinya menekankan kesetaraan, tetapi sebenarnya lebih rumit. Terkait dengan kebijakan multikultural Amerika yang masih membutuhkan imigran atau keturunannya untuk meniru dan menerapkan pendidikan berbahasa Inggris dan nilai-nilai liberal, Beluson menggambarkan bahwa proses itu telah menjadi bentuk kontrol kolonial dan telah membentuk pikiran dan budaya Filipina; sebuah hegemoni budaya. Pendidikan AS, dengan demikian, mengubah pikiran dan budaya orang-orang muda Filipina ke arah nilai dan praktik budaya Amerika, sehingga mencabut mereka dari budaya ibu. Dalam hal ini, kekuatan ekonomi dan politik AS dapat memosisikan pendidikannya sebagai “proyek peradaban” terhadap mata pelajaran diasporik yang masih dianggap Liyan karena perbedaan budaya mereka.

Yang tidak kalah rumit dalam struktur masyarakat multikultural Amerika adalah kenyataan bahwa perbedaan budaya antara kulit putih dan kulit berwarna adalah alat untuk melegitimasi perbedaan upah pekerja. Dalam perspektif kapitalis AS, rakyat Filipina dapat digunakan untuk mendapatkan pekerja berupah murah, dibandingkan dengan pekerja kulit putih. Selain itu, investor juga merekrut kelompok pekerja dari etnis atau ras lain dengan alasan untuk membedakan dan mengelompokkan pekerja dengan menempatkan batas-batas di antara mereka, sehingga mereka tidak dapat membangun kekuatan melalui serikat pekerja. Dengan demikian, penekanan pada keragaman budaya mungkin memiliki implikasi untuk pelestarian minoritas yang dapat menjadi tenaga kerja untuk perkembangan cepat kapitalisme. Keindahan dan kebesaran Amerika dan negara-negara maju Eropa lainnya dengan kebijakan multikulturalnya, oleh karena itu, bukanlah suatu kepastian bahwa semua diaspora dapat memperolehnya. Kekuatan superioritas yang secara historis bertahan dari era kolonial hingga saat ini adalah kenyataan politik yang membuat mereka berhak untuk mengatur dan mendefinisikan kebijakan ekonomi, pendidikan, politik, dan budaya yang tampaknya “merayakan perbedaan,” tetapi sebenarnya masih menegakkan hegemoni mereka di tengah-tengah ruang sosial yang berubah. Maka, dapat dikatakan bahwa America Is In The Heart adalah tulisan yang secara sadar merongrong mitos-mitos arus utama tentang ke-Amerika-an dan mengungkap kontradiksi-kontradiksi budaya, ekonomi, sosial, dan politik yang terjadi di dalamnya sebagai pesan-pesan ideologis Beluson tentang anti-rasis. dan anti-imperialis (Wong, 1993: 136; Adams, 2010: 6).

The Lunar New Year parade passes through D.C.’s historic Chinatown. (Photo: Ted Eytan/flickr)

Karya sastra lain yang mewakili kritik terhadap hegemoni nilai-nilai Amerika adalah Bone, karya Fae Myenne. Menurut Chae (2008: 77-86), dalam novel ini, tanpa melupakan jejak historis migrasi Cina ke Amerika Serikat, Ng menceritakan kontradiksi struktural terutama yang dialami oleh komunitas minoritas Tionghoa diaspora dan imigran lain karena ketidakberpihakan kapitalisme AS kepada mereka. Tidak seperti penulis lain yang telah mempopulerkan “minoritas model” yang terkait dengan kelas menengah imigran, Ng menolak mitos keberhasilan imigran karena mereka berhasil mengatasi hambatan kultural yang berasal dari etnis atau komunitas mereka. Banyak imigran Tiongkok masih harus berjuang untuk kelayakan ekonomi, sehingga citra imigran Asia sebagai “minoritas yang sukses” di media perlu didemistifikasi. Menariknya, Bone juga mewakili konflik dalam komunitas etnis atau antar etnis di mana semuanya dimulai dengan prasangka dan sentimen yang ditujukan kepada komunitas etnis lain. Namun, Ng menyiratkan bahwa semua konflik berasal dari ketidakadilan ekonomi yang mereka rasakan, terutama karena upah rendah yang mereka terima dan stratifikasi tenaga kerja berdasarkan perbedaan ras atau etnis. Dengan beralih dari fokus multikulturalisme AS pada karakteristik budaya etnis minoritas, Bone secara diskursif mempertanyakan multikulturalisme yang tidak dapat dipisahkan dari proses kapitalisme yang terus dilakukan dengan berbagai kebijakan dan konsolidasi untuk mendapatkan keuntungan finansial maksimum dengan kedatangan tenaga kerja murah dari negara berkembang atau miskin.

Menentukan posisi: Simpulan

Kesadaran apakah akan mengkritik multikulturalisme atau tidak dalam sastra diasporik adalah pilihan ideologis yang tidak dapat dipisahkan dari pengalaman kultural dan posisi kelas seorang penulis. Bagi para penulis diasporik yang terbiasa dengan strategi di tengah-tengah budaya dominan di mana liberalisme menjadi orientasi ideal, budaya Barat akan menjadi konstruksi diskursif yang perlu diikuti oleh karakter utama agar mereka dapat meraih kesuksesan. Belum lagi berbagai tragedi politik di negara asal mendorong para penulis diaspora untuk memposisikan budaya ibu sebagai pajangan atau kotak yang dapat merusak para pembaca kulit putih yang mulai merindukan tradisionalisme dan eksotisme timur pada era postmodern. Selain itu, pertimbangan penerbit yang menginginkan banyak konstruksi eksotis dan unik dari Asia, Afrika, Latin, Karibia, dan budaya lain sebagai salah satu formula terlaris untuk literatur diasporik membuat penulis yang juga menginginkan keuntungan finansial lebih suka menghadirkan budaya etnis mereka berada dalam kerangka perbedaan-yang-dikonsumsi oleh subjek barat. Tidak adanya kesadaran kritis terkait kepentingan ideologis kapitalisme negara maju dalam mengkampanyekan multikulturalisme adalah hak mutlak penulis dengan berbagai pertimbangan. Namun, pilihan itu bisa menjadikan sastra diasporik tidak lebih sebagai pelengkap—atau, bahkan, pendukung—bagi keberlanjutan kapitalisme yang cenderung mengeksploitasi sumber daya manusia dari negara-negara miskin atau negara-negara berkembang sambil memperkuat pembangunan neo-Orientalisme untuk kekuatan negara Barat berdasarkan kerinduan posmodern.

* Artikel ini merupakan versi terjemahan ringkas dari makalah berjudul “Problematizing multiculturalism: Some discourses from diasporic literatures and cyberspace” yang dipresentasikan pada Conference of Association of Southeast Asian Literary Studies, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, November 20, 2017.

Daftar bacaan

Adams, Bella. (2008). Asian American Literature. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Al Maleh, Layla. (2009). “Anglophone Arab Literature: An Overview.” In Layla Al Maleh (ed). Arab Voices in Diaspora: Critical Perspectives on Anglophone Arab Literature. Amsterdam: Rodofi.

Bhabha, Hommi K. (1994). The Location of Culture. London: Routledge.

Chae, Youngsuk. (2008). Politicising Asian American Literature. New York: Routledge.

Dijkstra, Steven, Karin Geuijen, and Arie De Ruijter. (2001). “Multiculturalism and Social Integration in Europe.” International Political Science Review, Vol 22, No. 1, 55–84.

Fowers, Blaine J. and Frank C. Richardson. (1996). “Why Is Multiculturalism Good?” American Psycologist, Vol. 51, No. 6, 609-621.

Fox, Jon E and Demelza Jones. (2013). “Migration, everyday life and the ethnicity bias.” Ethnicities, Vol. 13, No. 4, 385–400.

Hall, Stuart. (1996). “Who Needs ‘Identity’?” In Stuart Hall and Paul du Gay (eds). Questions of Cultural Identity. London: Sage Publication.

Hall, Stuart. (1994). “Cultural Identity and Diaspora.” In Patrick Williams and Chrisman (eds). Colonial Discourse and Post-colonial Theory: a Reader. London: Harvester Wheatsheaf.

Karim, Karim H. (2006). “Nation and diaspora: Rethinking multiculturalism in a transnational context .” International Journal of Media and Cultural Politics, Vol. 2, Vol. 3, 267-282.

Karl, Francois. (2009). Critical Identities in Contemporary Anglophone Diasporic Literature. New York: Palgrave Macmillan.

Kymlicka, Will. (1995). Multicultural Citizenship. Oxford: Oxford University Press.

Mengestu, Dinaw. (2007). The Beautiful Thing That Heaven Bears. New York: Riverhead Books.

Mishra, Vijay. (2007). The Literature of the Indian Diaspora: Theorizing the diasporic imaginary. London: Routledge.

Moodod, Tariq. (2010). “Multiculturalism and citizenship.” In Kim Knott and Sean McLoughtin (eds). Diasporas: Concepts, Intersections, Identities. London: Zed Books.

Moslund, Sten Pultz. (2010). Migration Literature and Hybridity: The Different Speeds of Transcultural Changes. New York: Palgrave MacMillan.

Parker, David and Miri Song. (2006). “New ethnicities online: reflexive racialisation and the internet,” in The Sociological Review, Vol. 54(3): 575-594.

Salhi, Zahia Smail. (2006). “Introduction: Defining Arab diaspora.” In Zahia Smail Salhi and Ian Richard Netton (eds). The Arab Diaspora: Voices of anghished scream. New York: Routledge.

Santiago, Esmeralda. (1998). Almost a Woman. Massachussetts: Da Capo Press.

Siapera, Eugenia. (2006). “Multiculturalism online: The internet and the dilemmas of multicultural politics.”, European Journal of Cultural Studies, Vol. 9, No. 1, 5-24.

Siapera, Eugenia. (2005). “Minority Activism on the Web: Between Deliberative Democracy and Multiculturalism.” Journal of Ethnic and Migration Studies, Vol. 31, No. 3, 499-/519.

Taylor, Charles. (1992). Multiculturalism: Examining the Politics of Recognition. Princeton: Princeton University Press.

Walder, Dennis. (2011). Postcolonial Nostalgia: Writing, Representation, and Memory. New York: Routledge.

Werbner, Pnina. (2005). “The translocation of culture: ‘community cohesion’ and the  force of multiculturalism in history.” The Sociological Review,  745-768.

Wise, Amanda and Selvaraj Velayutham. (2014). “Conviviality in everyday multiculturalism: Some brief comparisons between Singapore and Sydney.” European Journal of Cultural Studies, Vol. 17, No. 4, 406–430.

Wong, Sau-ling Cynthia. (1993). Reading Asian American Literature: From Necessity to Extravagance. Princeton: Princeton University Press.

Semua foto diambil dari: https://www.mnn.com/lifestyle/eco-tourism/stories/places-north-america-celebrate-lunar-new-year

Share This:

About Ikwan Setiawan 171 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*