Catatan Kegelisahan Anak Patuh dalam Film ILANG, THE NAMELESS BOY, ANGSA ORIGAMI dan DAYOH

It is not at all an absurd film; it’s a film that is full of meaning; full of what Lacan calls “significance”. It is full of significance, but it doesn’t have one meaning, or a series of little meanings. And in that way its a film which disturbs profoundly, and which forces you to go beyond dogmatism, beyond doctrines. (Barthes in The Grain of The Voice, 1985: 21)

Keinginan Barthes dalam “The Grain of The Voice” bahwa film sepatutnya mampu melampaui doktrin dan dogmatisme kultural direspon baik oleh sederet sineas dari Bandung, Jakarta dan Jember. Merespon kegelisahan yang spesifik pada diri anak-anak keempat film yang ditayangkan di home teater Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember berupaya memberikan gambaran alternatif bahwa keceriaan tidak selalu melekat pada dunia anak – anak. Kerumitan dan peliknya hidup justru hadir bukan karena mereka anak yang nakal, melainkan ketika mereka menjadi teramat patuh pada kode sosio kultural yang ketat.

Ilang  dan Sederet Kesialan Anak-anak Patuh

Film yang berjudul Ilang karya Ancipa Pict mengkisahkan seorang anak yang mengutuk dirinya sendiri karena tak patuh pada ibunya. Ilang lebih memilih mengiyakan perintah pamannya untuk menerbangkan burung merpati dan diperjalanan perutnya mendadak sakit. Kesialan tak dapat dibendung kendati dia memungut batu-batu kecil dengan harapan sakit perutnya akan hilang seperti yang diajarkan orang tuanya. Ilang anak yang patuh karena dia tak menyalahkan pamannya tapi dirinya sendiri yang tak menghiraukan perintah ibunya. Ilang pada dasarnya adalah anak yang penurut. Peristiwa Ilang yang mengutuk dirinya karena merasa kualat tak menuruti perintah ibunya adalah bukti betapa pelik kehidupan seorang anak yang menyesal karena tidak patuh pada ibunya. Sehingga kebahagian bagi Ilang adalah selalu menjadi patuh. Dengan patuh dia tidak sakit perut dan dengan patuh dia mendapatkan es krim seperti yang dijanjikan pamannya. Ilang adalah subjek patuh yang tengah sial pada kebahagiaan yang penuh syarat.

Film Angsa Origami yang diproduksi oleh Swan Team Production, Universitas Indonesia, juga tak kalah pelik. UKM Sinematografi ini berupaya memberikan ilustrasi seorang anak perempuan bernama Kiyoko yang tercerabut dari akar kebudayaannya. Kiyoko hanyalah nama yang tak punya asosiasi fisik apapun dengan gadis jepang. Kiyoko berkulit coklat khas Indonesia yang ingin hidup bersama orang tuanya yang tak lagi bersamanya. Semacam pesan kegelisahan diasporik, film ini ingin menggambarkan adanya jarak kebudayaan yang jauh ketika seorang gadis harus mengucapkan keinginannya melalui lipatan origami khas tradisi jepang. Kerinduan pada orang tua yang digambarkan jauh dari Kiyoko membuat kebahagian dia hanya dapat ditentukan dengan hadirnya yang lain. Prasyarat kebahagiaan kiyoko adalah ketika dia mampu bersatu dengan orang tua.

Film The Nameles Boy karya sineas independen Diego Mahameru, dasawarna pictures, ingin mengutarakan hal yang kurang lebih sama. Adegan anak kecil yang dieksploitasi mennjadi objek politik memang menjelaskan adanya nuansa arogansi hirarki kekuasaan. Massa demonstran yang mengucapkan dalil dengan serius dan lantang ditabrakan dengan aktifitas seorang anak yang tengah santai bercampur bingung ketika menikmati jajanan ditengah riuh demonstrasi. Atribut pakaian yang identik dengan massa memberikan padangan bahwa anak yang disengaja miskin dialog ini untuk terus patuh pada pria yang menggandengnya. Film ini memberikan sinyal ada hirarki sosial yang kental antara koordinator demonstran yang berteriak dan anak kecil yang tengah hilang kesempatan bermainnya. Demonstrasi tengah mengecoh impian anak kecil yang tentu saja berbeda dengan teriakan penuh makian. 

Pada film terakhir yaitu Dayoh karya Kenda, koordinator media rekam Dewan Kesenian Kampus, memberikan kesan yang tramat tragis ketika tamu (dayoh) yang mereka undang adalah pria yang menyembunyikan niat buruknya dengan selubung dogmatisme kultural. Seluruh keluarga yang percaya bahwa kesembuhan hanya hadir dari pemuka agama akhirnya dibantai. Tamu yang dipuja oleh pasangan suami istri adalah pembunuh yang mendokumentasikan tindakannya melalui media Youtube. Kepatuhan pada dogmatism justru membawa seluruh keluaraga itu pada kematian karena mengundang pembunuh berkedok ustad untuk dating kerumah anak mereka yang tengah kerasukan karena telah mengkencingi sesajen ketika bermain. Dogmatisme membunuh alternatif jawaban pada anak yang tengah sakit untuk pergi ke dokter dan membiarkan orang tak dikenal untuk memberikan pengobatan. Petaka datang justru karena patuh pada kohesi sosial. Tawaran alternatif ditolak sehingga membungkam anak untuk mengucapkan pilihan – pilihan lain yang memungkinkan. Judul Dayoh semakin memperkuat adanya nuansa aturan sosial yang kuat. Pembunuh satu keluarga tersebut bukanlah tokoh agama, tapi surplus keyakinan pada arogansi hirarki sosial.

Epilog, Melampaui Penjara Kepatuhan?

Keempat film yang disuguhkan oleh beberapa sineas memang berusaha untuk memberikan gambaran bahwa anak dalam strata sosial adalah objek dogmatisme kultural. Mekanisme kekerasan hadir pada tuntutan orang tua terhadap anak. Kekerasan tiba bukan melulu pada anak nakal dalam definisi normatif, tapi juga sangat mungkin pada anak yang patuh. Kepatuhan Ilang pada pamannya justru membuat dia merasa sebagai anaka yang “dikutuk” .Ilang terjebak pada polemik apakah dia harus patuh pada ibunya ataukah pamannya yang menjanjikan dia es krim, Kiyoko terpenjara pada konstruksi sosial yang mengharuskan bahwa seorang anak hanya mampu bahagia apabila ada keluarga sebagai prasyarat hidup. Sedangkan Nameless Boy ingin mengesankan bahwa anak yang patuh cenderung tak paham pada apa yang diinginkannya dan sangat wajar anak diposisikan demikian karena sudah disubsidi hasrat jajannya. Film akhir juga memberikan kesan bahwa anak tak punya hak untuk memberikan saran pada orang tua, sehingga anak adalah serupa objek dan bukan subjek ketika dihadapkan pada dogmatism yang justru membawa petaka. Ikatan yang kuat dalam keempat film ini berusaha memberikan jalan baru bahwa anak – anak ada pada hirarki sosial yang paling tak berdaya. Ada pertarungan antara modernitas vis a vis kekolotan konservatif yang hendak disajikan pada penonton. Penonton akhirnya diberikan pilihan untuk mengamini kesialan anak-anak sebagai proses hiudp atau belenggu kesialan sosial yang harusnya disudahi

Share This:

About Ghanesya Murti 10 Articles
Peneliti di Matatimoer Institute yang mendalami isu-isu psikoanalisis dalam bidang kebudayaan. Juga, mengajar sebagai dosen kontrak di Politeknik Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*