Menonton “Siapa?” Teater Gelanggang

DWI PRANOTO

“Panggung tidak punya pintu.” –- Kamto, tokoh panggung ‘Siapa?’

Teater Gelanggang adalah teater berandalan. Pemanggungan-pemanggungannya, yang pernah saya tonton, meletakan tubuh sebagai pusat permainan. Bersama anonimitas reka-penokohan, dialog antar tokoh pemanggungan dimediasi oleh gerak tubuh. Narasi biohistoriografi tokoh terguling di situ, subjek semata dikenali dalam ruang-waktu hari ini, dalam gerak yang seperti semau-maunya. Adegan-adegan menemui penonton sebagai rentetan kebaruan, mengasingkan penonton dari persepsi estetiknya yang dibentuk oleh pengalaman-pengalaman menonton pemanggungan. Namun, citra teater Gelanggang ini tampaknya hendak dibubarkan dalam pemanggungannya yang terakhir, “Siapa?”.

Saya datang terlambat pada pemanggungan “Siapa?” malam itu, 19 Juli 2019. Saya masuk ruang pertunjukan saat seorang tokoh bergerak ke sana ke mari, mencari-cari sesuatu, di atas panggung.

Setting panggung “Siapa” bagian kanan. (Dok. Ikwan S)

Panggung: sebelah kiri berisi kursi sofa panjang yang membelakangi penonton menghadap meja kayu dengan tiga buah botol di atasnya, layar televisi menayangkan gambar statis yang buram, kulkas, perangkat tata suara—seperti kotak amplifier yang terus mengedap-ngedipkan lampu led di atas salon, dua boneka dan gitar digantung di dinding, bagian tengah panggung yang agak menjorok ke dalam diisi sebuah meja kerja yang agak panjang dan kursinya berlatar belakang dinding yang dipenuhi tempelan print out tulisan, potongan koran, gambar-gambar orang, dan gambar peta yang ditandai dengan tali-tali menghubungkan sejumlah titik  dan sebuah lemari berkas pendek di pojokan kanan. Sebuah lemari buku besar berpenutup kaca geser dengan berbagai barang di atasnya berdiri di dinding panggung sebelah kanan. Tata panggung yang sedemikian rupa, pengelompokan perabot yang membagi ruang secara fungsional, memberikan isyarat suatu pemanggungan yang dipersiapkan secara terstruktur. Lampu gantung bertundung dan lampu-lampu neon panjang bertundung yang nampak telanjang menjelmakan panggung seibarat sepotong scene ruang nyata yang diboyong begitu saja di atas panggung. Intensitas cahaya panggung yang statis dan menyebar secara ‘alamiah’—relatif tanpa pengaturan fokus pencahayaan—dan dengan lantai panggung yang sejajar dengan penonton tampak menolak konsep prosenium—paralel dengan mengubah arah pemanggungan yang membelakangi panggung prosenium—yang membingkai pemanggungan sebagai realitas tersendiri di mana hubungan antar panggung dan penonton terselenggara sebagai hubungan yang hirarkis. Hal ini diperkuat dengan perbedaan intensitas cahaya antara ruang panggung dan ruang penonton yang relatif tak berbeda, tak tampak adanya pretensi untuk meletakan penonton sebagai obyek yang didikte  oleh pemanggungan. Antarpenonton bukan saja dapat saling melihat wajah kapanpun, juga bebas untuk menggunakan hp dan merokok. Situasi penonton semacam ini tak lazim terselenggara dalam gedung PKM Unej yang biasanya menyituasikan penonton dengan perintah mematuhi tata krama pemanggungan sebelum pemanggungan dimulai. “Siapa?” berlangsung pada ruang pemanggungan yang tak hendak dibersihkan dari rembesan-rembesan luar: kaca-kaca gedung yang dibiarkan terbuka memaparkan ruang pertunjukan pada cahaya dari luar, suara-suara luar juga bebas masuk seliweran.

Tokoh TOING bersama perempuan yang ia culik. (Dok. Ikwan S)

“Siapa?” bertema persekongkolan yang ditenun dengan motif asmara, balas dendam, dan ambisi politik. Dengan meletakan penculikan dan pembunuhan sebagai semacam pusat pengadeganan, kekerasan demi kekerasan hadir di atas panggung. Namun demikian, alih-alih menciptakan teror kengerian dari pengancaman, tubuh yang diseret, diikat, ditendang, dihantam, dan diracun, “Siapa?” justru mengundang tawa dari penonton. Adegan-adegan kekerasan yang dihiperbolis menciptakan situasi pemanggungan yang komikal. Situasi-situasi komikal ini semakin diperkental dengan gerak-gerak, gestur-gestur, dan dialog-dialog karikatural dari tokoh-tokohnya, terutama Toing dan Kamto. Apalagi ditambah dengan celetukan spontanitas, kelatahan, Toing dan Kamto saat merespon sejumlah kejadian di atas panggung yang tampaknya tak direncanakan. Komikalisasi kekerasan-kekerasan di atas panggung mencegah penonton untuk memproyeksikan perasaan simpati atau empati kepada tokoh korban, dan secara keseluruhan mencegah penonton mengidentifikasikan diri pada tokoh tertentu. Komikalisasi semacam ini membuat penonton menjadi rileks dan memungkinkan penonton mengambil jarak dari tontonan. Pada sisi lain, alur struktur naratif yang dapat dijaga dengan baik memungkinkan penonton untuk mengaktifkan penalaran guna memahami dan memaknai pemanggungan.

TOING dan perempuan yang ia sekap mampu menghidupkan cerita.(Dok. Ikwan S)

Peluang penonton untuk mengidentifikasikan diri pada tokoh dan meluapkan emosi simpati atau empati semakin dipersempit dengan “tekhnik” pemeranan yang mengijinkan tokoh panggung membocorkan perilaku luar panggung sang aktor, terutama pemeran Toing dan Kamto yang menjadi tokoh pusat pemanggungan,  melalui celetukan-celetukan latah dan tone juga vibrasi suara sehari-hari.  Tokoh Kamto bahkan menelanjangi pemanggungan saat mengatakan panggung tak punya pintu.

Secara umum pemanggungan “Siapa?” oleh Teater Gelanggang yang mendekonstruksi hubungan penonton dan panggung membebaskan penonton dari sihir estetik tontonan yang membawa penonton pada situasi “kontemplatif”. Tak sterilnya panggung dari rembesan-rembesan realitas luar, teknik pemeranan yang tak bebas dari “pribadi-pribadi” aktor, dan komikalisasi pengadeganan, di sana sini, berfungsi sebagai jeda-jeda interuptif dalam alur dramatik pemanggungan. Sebagai contoh, belum lagi penonton hilang keterkejutan karena pembalikan karakter Kamto yang berubah drastis dari pandir menjadi intelek di ujung pemanggungan hingga hampir tak menyadari pemanggungan sudah usai, saat penonton tergiring membalik pandangannya ke arah panggung prosenium, seorang tokoh perempuan yang tertinggal di atas panggung yang telah dipunggungi penonton tiba-tiba berteriak minta tolong agar tali yang mengikat tubuhnya dilepaskan.

Tokoh-tokoh lain pun bisa menghadirkan permainan yang menarik. (Dok.Ikwan’S)

Jeda-jeda interuptif yang memenggal-menggal alur dramatik pemanggungan pada dasarnya adalah kejutan-kejutan yang membangunkan penonton dari keterserapan emosional di hadapan obyek estetik. “Siapa?” mengarahkan penonton untuk menemukan dirinya dalam perubahan-perubahan montasial pada narasi kehidupan sehari-hari karena lalu-lintas gelombang banjir informasi yang berbeda-beda pada tiap detik. Ketergeragapan terhadap tak tercernanya pengalaman sehari-hari  yang terpecah-pecah melahirkan kembalinya  perasaan rindu terhadap pengalaman atavistik yang utuh berupa obyek-obyek ritual yang dapat mengonsolidasi diri dalam keterpakuan kontemplatif. Melalui jalan masuk semacam ini produk-produk pop kultur (estetik) kapitalisme seperti game online yang halusinogenis dan etnisitas yang mengaktifkan perasaan keterkaitan ilusif (nyatanya tak lagi dilandasi oleh norma-norma yang mengintegrasikan secara sosial dan geografis) merebut perhatian dan menguburkan yang sehari-hari dalam praktik ekonomi dan politik kapitalistik. Sebaliknya, “Siapa” mengembalikan pengalaman sehari-hari yang hilang, menghadapkan penonton pada terpenggal-penggalnya waktu kronologis dan ruang yang meluruh batas-batasnya.   

TOING yang bernyanyi dalam kebengisan. (Dok. Ikwan’S)

Secara khusus, saya kira, “Siapa?” berkaitan dengan penentangan terhadap estetisasi politik hari ini. Estetisasi politik yang memanggil dan memobilisasi massa dengan memanipulasi sentimen primordial dengan memposisikan elite dan lambang-lambang politik sebagai kultus yang memancarkan kekeramatan dalam praktik politik yang mengimitasi praktik ritual dengan membangkitkan memori atavistik. Keterpakuan kontemplatif yang lahir dari memori atavistik dalam praktik politik mengubah problem-problem politik nyata yang menjangkar pada realitas sehari-hari menjadi problem-problem kultural ilusif, contoh paling gamblang dari hal ini adalah masalah identitas. Ini adalah pembajakan tradisi oleh kapitalisme, mengonsolidasi persepsi-persepsi estetik ke dalam praktik ritual dan terekspresi dalam kultus budaya populer. Estetisasi politik mentransendensikan elite dan lambang-lambang politik sebagai impersonalitas yang tak tersentuh, terus menerus dalam “kesucian” dan mesti dijaga “kesuciannya”. Politik menjelma sebagai selebrasi, perayaan-perayaan. Panggung drama, yang pada konteks perayaan ritual masa lalu adalah instrumen yang berfungsi untuk mengonsolidasi dan menunjukan kekuatan politik, pada hari ini adalah politik itu sendiri.

Dwi Pranoto, pelaku dan pemerhati budaya

Share This:

About Dwi Pranoto 2 Articles
Dwi Pranoto adalah penggiat sastra dan pemerhati budaya yang concern dengan pemikiran-pemikiran kritis.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*