Jangan lompong sego jagung: Catatan dari bukber DeKaJe #3 di Tamansari Wuluhan

“Terimakasih kepada DeKaJe yang telah memungkinkan acara silaturahmi melalui buka puasa bersama ini terlaksana. Selama saya menjalani kerja kesenian, baru kali ini bisa berkumpul dengan saudara-saudara dari kecamatan lain. Ini luar biasa. Karena kita jadi tidak sungkan lagi kalau mau dolan atau pentas di kecamatan lain, ada yang didatangi. Enak ngobrolnya. Nah, saya harapkan ke depan kita bisa terus mengadakan kegiatan ini agar semangat berkesenian semakin meningkat”.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang duduk, dalam ruangan dan makanan
Mbah Koyir ketika menyampaikan pendapat

Begitulah ucapan Mbah Koyir, seniman multitalenta dari Tanjungrejo Wuluhan, ketika menyampaikan pendapatnya dalam acara bukber #3 di rumah Pak Eko.Sucahyo, Ketua DeKaJe Wuluhan, 26 Mei 2019. Dalam acara ini, perwakilan pengurus dan seniman dari Ledokombo, Curah Nongko (Tempurejo), Panti, Kaliwates, Pakusari, Jenggawa, Mumbulsari dan beberapa wilayah lain. Sebagai seniman dengan usia di atas 60 tahun, apa yang disampaikan tentu berdasarkan pengalaman yang ditemui selama berkesenian. Pengakuan tersebut tentu memberikan energi kepada pengurus DeKaJe untuk mentradisikan silaturahmi, meskipun di luar bulan puasa.

Gambar mungkin berisi: makanan
Jangan lompong ketika belum tandas
Gambar mungkin berisi: makanan
Lodheh tewel dan urap-urap pun tersedia

Bincang-bincang santai memang selalu menjadi menu kedua yang dinanti dalam bukber DeKaJe. Menu pertama tentu saja menikmati hidangan. Dalam acara kali ini Bu Eko dan para ibu seniman menyiapka hidangan istimewa: “jangan lompong”, “jangan lodheh rewel”, “urap-urap”, ikan laut, nasi jagung, nasi putih, peyek kedelai, dan, tidak lupa, krupuk. Untuk minuman pembuka, disiapkan es cincau dan dawet dilengkapi semangka dan pisang raja yang dibawakan Mbah Sumari, seniman jaranan yang sudah berusia di atas 70 tahun dari Pomo, Wuluhan.

Gambar mungkin berisi: 3 orang, orang tersenyum, orang duduk, makanan dan dalam ruangan
Pak Satoha dan para seniman lain siap menikmati hidangan

Jangan lompong dan nasi jagung menjadi menu favorit yang dengan cepat ludes. Kami benar-benar menikmati menu tersebut. Saya sendiri sampai “imbuh” (nambah). Tentu saja menu yang lain juga laku keras. Kesederhanaan hidangan ndeso tersebut, nyatanya, bisa menjadi energi penggerak untuk berbincang-bincang ditemani kopi hitam.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang duduk dan dalam ruangan
Pak Eko Sucahyo memulai perbincangan

Pak Eko Sucahyo memulai perbincangan dengan menjelaskan kesiapan DeKaJe Wuluhan sebagai tuan rumah pertunjukan Bolosrewu Jaranan Barong III, sebuah agenda tahunan yang biasanya dilaksanakan di Pantai Payangan, Ambulu. Tahun ini adalah tahun ketiga Bolosrewu. Beberapa permasalahan terkait pendanaan dan lokasi menjadi pertimbangan utama ditundanya agenda tersebut. DeKaJe memutuskan untuk memindah lokasi pertunjukan karena Pantai Payangan dianggap kurang kondusif. Permasalahan dana pun belum terselesaikan karena belum ada kepastian anggaran dari dinas terkait.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, termasuk Eko Suwargono
Kang Eko Suwargono, selaku Ketua DeKaJe memberikan paparan
Gambar mungkin berisi: 3 orang, termasuk Andy Ari, orang duduk
Para seniman menyimak paparan pengurus

Ada sedikit harapan ketika Kepala Desa Kesilir dalam acara Pelantikan DeKaJe Wuluhan menyatakan ketertarikan menjadi tuan rumah gelaran Bolosrewu. Demikian pula camat Wuluhan. Tentu saja kabar ini cukup menggembirakan karena dana untuk perlengkapan, transportasi, ataupun konsumsi memang cukup besar. Adanya pihak desa yang mau bekerjasama untuk ‘memikirkan’ keperluan itu tentu sangat bermanfaat.

Gambar mungkin berisi: 3 orang, orang duduk
Pak Sam memberikan informasi terkait kesiapan Kepala Desa Kesilir sebagai tuan rumah Bolosrewu Jaranan Barong III

Pak Sam selaku perwakilan dari Kesilir menyampaikan bahwa Kepala Desa sudah menyampaikan ke dirinya bahwa beliau siap kalau DeKaJe mau ber-rembug di rumahnya. Semua keperluan akan disiapkan untuk rembugan. Tentu saja, kabar dari Pak Sam cukup menggembirakan. Maka dari itu, selepas Idul Fitri pengurus DeKaJe perlu bersama-sama mengagendakan untuk bertemu dengan Kepala Desa Kesilir. Meskipun demikian, keputusan final tentang jadi atau tidaknya gelaran Bolosrewu di Kesikir Wuluhan akan ditentukan setelah ada rembugan bersama. Karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan, baik faktor lokasi maupun kondisi masyarakat pendukung.

Gambar mungkin berisi: 3 orang, termasuk Sony Cimot, orang tersenyum, orang duduk
Sony Cimot, selaku Ketua 1 DeKaje, memberikan arahan

Tidak ketinggalan, Ketu 1 DeKaJe, Suharsono alias Sony Cimot, meminta kepada para pengurus DeKaJe kecamatan untuk selalu aktif memantau informasi melalui grup yang ada. Hal itu penting karena banyak informasi terkait kegiatan baik di Jember maupun luar Jember yang disebarkan melalui grup. Terkadang tidak dalam bentuk surat resmi, tetapi informasi WA, yang penting bisa sampai ke para pengurus. Adapun para pengurus diharapkan untuk menyebarkan ke para seniman.

Gambar mungkin berisi: 5 orang, termasuk Aris Panji Ws II, orang duduk dan dalam ruangan
Pak Suroyo dari Mumbulsari menyampaikan uneg-uneg-nya

Pada bagian akhir bincang-bincang, Pak Suroyo meminta DeKaJe Kabupaten untuk mereformasi DeKaJe Mumbulsari karena tidak aktif. “Sangat disayangkan karena Mumbulsari memiliki potensi seni, budaya, dan alam yang cukup bagus. Kalau pengurus DeKaJe Mumbulsari aktif pasti akan semarak,” tutur Pak Suroyo. Menanggapi permintaan itu, Kang Eko menyanggupi setelah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait di Mumbulsari dan rapat dengan pengurus dan dewan pakar DeKaJe. Kang Eko juga mengingatkan bahwa Mumbulsari masih harus menyiapkan agenda tahunan, BHAKTI BUMI GUNUNG MAYANG, sebuah pertunjukan publik sebagai bentuk gerakan eko-kultural. Selain itu, ada acara PURNAMA DI GUNUNG MAYANG yang melibatkan ritual bersama masyarakat thethelan di Mumbulsari, dilengkapi dengan pertunjukan seni.

Gambar mungkin berisi: 6 orang, orang duduk dan dalam ruangan
Para seniman muda dari Mangaran Ajung bersama Ketua 1

Setidaknya, jangan lompong telah mampu memantik diskusi asyik yang mengerucut pada beberapa gagasan yang harus direalisasikan. Semoga Tuhan dan semesta Jember selalu membukakan jalan untuk menggerakkan Gedruk Jemberan.

“Jangan lompong sego jagung,
ketimbang bengong monggo bergabung.”

IKWAN SETIAWAN, peneliti Matatimoer Institute, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, dan anggota dewan pakar DeKaJe.

Share This:

About Ikwan Setiawan 179 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*