Ikan asin dalam bukber DeKaJe #2: Meng-gurih-kan SABDA RAUNG dari Lembengan Ledokombo

Saya selalu menyukai perjalanan ke arah timur Jember. Ada kebahagiaan batin bisa menjumpai lahan pertanian yang cukup subur dengan lanskap yang indah, sungai dengan bebatuan perkasa mengalirkan air jernih dari kawasan Gunung Raung. dan manusia-manusia ramah yang selalu asyik diajak berbincang. Itulah mengapa saya selalu bersemangat ketika diajak ngluyur ke kawasan timur Jember seperti Sumberjambe dan Ledokombo. Perasaaan bahagia itu pula yang saya bawa-serta ketika pada 19 Mei 2019 bersama-sama Kang Eko Suwargono (Ketua DeKaJe), Suharsono alias Sony Cimot (Ketua 1 DeKaJe), Mas Popong (Koordinator Teater DeKaJe), dan seorang kawan dari Mumbulsari, berangkat menuju Desa Lembengan, Kecamatan Ledokombo. Pengurus DeKaJe Ledokombo mengundang kami untuk menghadiri acara buka puasa bersama (bukber) di rumah Sekretaris DeKaJe Ledokombo, Mas Slamet Mintoyo.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang duduk dan luar ruangan
Pak Eko Sucahyo, Ketua DeKaJe Wuluhan, dan Fatha, seniman Arjasa

Sampai di Lembengan, cahaya matahari senja masih memanjakan bumi; menghadirkan energi keakraban yang menyentuh. Setelah memasuki sebuah gang kecil, kami sampai di lokasi. Dengan ramah, Mas Slamet dan beberapa pengurus DeKaJe Ledokombo menyambut kedatangan kami. Yang membuat semakin bahagia, ternyata Mas Fatha (seniman muda dari Candi Jati, Arjasa), Pak Kacuk (penasehat DeKaJe Ledokombo), dan Pak Eko Sucahyo (Ketua DeKaJe Wuluhan) dan istri sudah hadir. Setelah saling sapa, kami pun berbincang ringan tentang semangat berkesenian yang terus digelorakan di masing-masing wilayah, meskipun kurang mendapatkan perhatian pemerintah kabupaten. Mas Fatha. misalnya, bersama-sama warga terus mengembangkan can-macanan kaduk dan ta’-buta’an sebagai dua kesenian khas Arjasa. Bahkan, ia berencana memberi sentuhan kesenian rakyat seperti jaranan untuk peringatan hari besar Islam. Tentu saja hal itu cukup menarik karena bisa mensinergikan budaya rakyat dan budaya bernuansa islami.

Gambar mungkin berisi: 3 orang, orang duduk, tabel dan luar ruangan
Berbincang menunggu tamu

Tidak lama kemudian, Kang Ari Arjes dan seorang kawan dari Curahnongko, Tempurejo datang setelah menempuh perjalanan cukup jauh. Cak Jujuk, seniman jaranan dan kriyawan topeng barong, tidak lama kemudian hadir dari Talangsari Jember. Demikian pula dengan Mas Basis Wanto dan para calon punggawa DeKaJe Panti yang dipimpin Pak Satoha. Cristian Veri Firmansyah, Pak Kodi dan kawan dari Putra Sakti Pakusari juga hadir. Cak Lipianto, selaku Ketua DeKaJe Ledokombo datang setelah berkunjung ke saudaranya di Kalibaru.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang duduk dan dalam ruangan
Guyub menikmati lodheh, ikan asin, dan pecel

Ketika suara adzan berkumandang, Mas Slamet selaku tuan rumah mempersilahkan kami menikmati es “campursari” yang cukup segar. Dilanjutkan dengan menikmati makan berat berupa nasi putih, nasi jagung, pecel dan aneka sayur, tahu, tempe, dadar jagung, dan lodheh tewel. Tidak ketinggalan, yang cukup istimewa, IKAN ASIN. Aroma gurihnya menjadikan para tamu tidak tahan untuk tidak mengambilnya. Kami pun larut dalam gurihnya ikan asin dan lauk lainnya.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk dan sepatu
Ketum DeKaJe memberikan sambutan

Selepas berbuka, kami mulai diskusi terkait usaha pemajuan kebudayaan yang bisa dilakoni oleh DeKaJe, baik pengurus di tingkat kabupaten maupun kecamatan dan desa. Kang Eko mengingatkan bahwa DeKaJe bukanlah organisasi yang bertugas “nanggap” kesenian. Lebih dari itu, organisasi ini telah dan harus terus terlibat dalam usaha-usaha untuk mendata potensi kesenian dan budaya serta permasalahan yang dihadapi pelaku. DeKaJe harus terlibat mendesain program advokasi untuk para seniman yang selama ini diabaikan oleh negara. Yang juga tidak boleh diabaikan adalah DeKaJe kudu mampu membuat gerakan kultural dalam beragam bentuknya dengan orientasi pemajuan budaya lokal Jemberan yang cukup kaya dan beragam. Semua tugas tersebut, setidaknya bisa berkontribusi kepada tetap ‘adanya’ dan berkembangnya budaya lokal di tengah – tengah pengaruh budaya global saat ini.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang duduk dan luar ruangan
Mas Slamet Mintoyo memberikan paparan

Saya sendiri mengatakan pentingnya pengurus DeKaJe Ledokombo untuk mematangkan konsep SABDA RAUNG. Gelaran yang direncanakan tahunan itu merupakan kolaborasi “seni, alam, dan budaya”. Semua potensi seni dan budaya bisa dihadirkan dalam gelaran tersebut, tentu dengan kreativitas yang menarik. Gelaran tersebut bisa dipadukan dengan keindahan alam di Ledokombo. Untuk itulah harus diatur sedemikian rupa agar pengurus DeKaJe Ledokombo mampu berkoordinasi dengan aparat pemerintah kecamatan dan desa agar bisa memaksimalkan acara. Untuk itulah, dalam waktu dekat proposal gelaran harus segera dibuat serta didiskusikan konsep acara secara detil. Tujuannya agar panitia bisa segera bergerak.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk
Cak Lipianto, Ketua DeKaje Ledokombo

Mas Slamet dan Cak Lip secara prinsip sangat bergembira dan mendukung adanya gelaran SABDA RAUNG. Selama ini tidak ada gelaran yang melibatkan semua seniman Rakjat di Ledokombo. Demikian pula belum adanya maksimalisasi potensi alam di kawasan Raung ini. Untuk itulah, menurut Mas Slamet, para pengurus DeKaJe perlu mengeksplorasi model kegiatan yang bisa mengkombinasikan potensi budaya, alam dan masyarakat. Cak Lip juga menyatakan kesiapan pengurus DeKaJe Ledokombo dan para seniman untuk menyukseskan gelaran tersebut. Banyaknya gelaran jelas tidak cukup hanya dilangsungkan dalam waktu sehari. Untuk itu, kesiapan anggaran menjadi kemutlakan, sehingga kerjasama dengan pemerintah kecamatan dan desa harus segera di-clear-kan.

Gambar mungkin berisi: 5 orang, orang duduk dan luar ruangan
Mendengar paparan Ketum DeKaJe

Setidaknya, IKAN ASIN berhasil meng-gurih-kan perbincangan terkait SABDA RAUNG sehingga muncul komitmen untuk segera menyelesaikan proposal dan rancangan acara yang bisa membesarkan agenda tahunan itu. Kerjasama strategis untuk memperkuat GEDRUK JEMBERAN tidak bisa ditawar lagi. Sekali komitmen sudah diikrarkan, ribuan GEDRUK perjuangan harus dilakoni. SABDA RAUNG sudah memanggil, saatnya para tenaga penggerak budaya dan pelaku seni menggaungkan energi itu di tengah-tengah Rakjat.

IKWAN SETIAWAN, peneliti dan pendiri Matatimoer Institute, dosen Fakultas Ilmu Budaya UNEJ, dan anggota Dewan Pakar DeKaje

Share This:

About Ikwan Setiawan 179 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*