Semiotika film perspektif mitos-Barthesian: Teori, metode, dan praktik (bagian-3 habis)

IKWAN SETIAWAN

Kondisi Glass semakin kacau ketika penyelidik mulai menaruh curiga dan menginterogasinya di kantor polisi meskipun belum menetapkannya sebagai tersangka dalam pembunuhan si wartawan. Merasa kacau akan kondisi psikisnya, Glass menemui seniornya untuk kemudian diajak menemui salah satu profesor psikologi yang diharapkan mampu mengatasi masalah yang ia hadapi. Ternyata Catherine juga ada di tempat si profesor. Lebih kacau lagi ketika ia mengetahui Catherine mulai mendekati rekan seniornya. Dalam kekacauan suasana batinnya, ia mencoba mengikuti Catherine yang menuju sebuah klub malam. Tahu kalau Glass mengikuti, Catherine segera membuat permainan baru. Ia membayar seorang pria kulit hitam untuk bercinta. Segera si pria dengan kasar membawanya ke dalam. Glass merasa bahwa Catherine dalam keadaan bahaya, ia segera masuk ke dalam klub. Ia begitu kaget ketika melihat Catherine sedang bercinta dengan liar bersama si pria kulit hitam.

Menyadari kedatangan Glass, Catherine lebih agresif lagi dalam bercinta. Ini merupakan bagian dari strateginya untuk terus menyeret Glass dalam skenario novel yang ditulisnya, mengaduk hasrat dan mempermainkan sisi psikis Glass sehingga  ia  merasa  terikat  untuk  terus  melakoni  cerita  yang  tampak  sangat misterius itu dan akan sulit keluar sampai cerita berakhir. Bahkan demi melanjutkan ceritanya, ia mau membayar pria kulit hitam dan menikmati permainan-permainan liar yang ada. Dengan melakukan itu semua, sebenarnya ia mendapatkan dua keuntungan sekaligus: (1) berhasil mengarahkan lakon yang akan dijalankan Glass dalam novelnya dan (2) memuaskan hasrat dan fantasi liarnya, sebagaimana ia gambarkan dalam novel-novelnya. Perempuan ambisius yang penuh fantasi liar bisa melakukan apa saja untuk kepuasannya.

Benar saja, dalam kondisi yang semakin tertekan akibat penjelasan penyelidik bahwa Catherine kemungkinan tidak bisa dijadikan tersangka dan ditambah terbunuhnya mantan istrinya, Glass semakin mengalami guncangan batin yang luar biasa. Apalagi penyelidik mengatakan bahwa Catherine kemungkinan tidak bisa menjadi tersangka dalam kedua kasus pembunuhan tersebut, meskipun Glass tetap mencurigainya. Dalam keguncangan jiwa ia menuju apartemen Catherine untuk mencoba menemukan bukti bahwa ia terlibat pembunuhan mantan istrinya. Namun, Catherine  tetap  tidak  mau  mengakuinya.  Bahkan  dengan  jujur  ia  mengatakan bahwa apa yang menimpa Glass adalah bagian dari riset untuk novel barunya. Karena Catherine tahu bahwa Glass sebenarnya ingin berhubungan seksual dengannya, segera ia mempengaruhinya untuk bercinta. Dalam kondisi kekacauan jiwa,  di  satu  sisi,  dan  hasrat  seksualnya  terhadap  Catherine,  Glass  tidak  bisa menolak ajakan tersebut.

Sebagai bentuk, adegan-adegan yang dalam scene di atas menggambarkan bagaimana usaha Catherine untuk merayu dan menawarkan kenikmatan sensasional melalui percintaan kepada Glass, demi tetap menguasai garis cerita dalam novel barunya. Dan, Glass, karena hasrat dan kegalauan pikiran dan jiwanya tidak mampu menolak ajakan itu. Maka terjadilah ‘permainan’ itu. Usaha untuk mengikatkan tali kulit ke leher menandakan betapa Catherine ingin mengendalikan keliaran hasrat Glass, sekaligus menguasai jiwanya. Glass ternyata begitu liar sehingga   ia tetap bisa mengendalikan dirinya, meskipun pada dasarnya ia tetap tunduk dan takluk oleh keliaran sensasional yang diberikan Catherine. Sebagai makna, adegan-adegan di atas penuh nilai historis dari perjuangan untuk, lagi-lagi, mendobrak tabu seksual yang selama ini dikendalikan laki-laki. Hubungan seksual yang selama ini dikendalikan kuasa patriarki bisa dikendalikan juga oleh perempuan. Nilai historis itu   semakin   lengkap   ketika   dengan   hubungan   seksual   itu   perempuan   bisa merengkuh tujuan-tujuannya, meskipun terkesan ambisius. Perempuan dengan tubuhnya punya kuasa juga untuk menundukkan laki-laki dalam ‘percintaan’, menjadi konsep yang mendasari adegan-adegan tersebut.

Glass larut dalam permainan, ketika Catherine memberi Glass salinan novel yang hendak terbit dan tinggal menemukan cerita penutup. Membaca salinan novel tersebut, Glass semakin yakin bahwa akan ada peristiwa-peristiwa pembunuhan misterius lainnya, dan ia tetap yakin bahwa Catherine-lah yang merencanakan itu semua. Kembali ia menemui Catherine di apartemennya untuk mencari kejelasan akan semua kecurigaannya dan menuduhnya telah mengendalikan dan menguasai kehidupannya. Lagi-lagi, Catherine berkelit dengan retorika yang semakin memperkuat ketidakpastian dalam diri dan pikiran Glass. Untuk kembali mengendalikan permainannya, Catherine mengajak Glass ke bath-up, segera ia membuka semua gaun tidurnya dan menceburkan diri sembari memampangkan kemolekan tubuhnya di hadapan Glass sembari terus beretorika sembari meyakinkannya bahwa ia tidak terlibat dalam semua peristiwa itu. Ia hanya menuliskannya dalam novel berdasarkan apa yang ia alami dan saksikan. Dalam kondisi yang sangat kritis, ternyata perempuan memang harus menggunakan tubuhnya, untuk tetap bisa memutar-balikkan keadaan dan tetap menguasai jalan pikiran laki- laki. Ketelanjangan dan kemolekan tubuh disertai sedikit retorika akan menjadi senjata yang ‘mematikan’ orang yang hendak terus dikendalikan.

Karena  merasa  bahwa  Catherine  akan  membunuh  rekan  seniornya,  Glass menuju rumahnya. Si rekan senior tidak mempercayai semua ucapan Glass, dan mengatakan bahwa Catherine sekarang menjadi pasiennya. Glass tetap berusaha meyakinkannya bahwa Catherine akan membunuhnya. Si rekan malah menganggap Glass mengalami gangguan mental dan menyarankannya untuk mengikuti terapi kejiwaan di sebuah rumah sakit jiwa. Itu berarti ijin praktiknya sebagai seorang analis dicabut untuk sementara dan akan mendapatkan kembali setelah menyelesaikan terapi. Dalam kondisi yang semakin kacau, ternyata benar seperti perkiraannya,  Catherine  datang  dengan  membawa  pistol.  Segera  ia menghampirinya dan menuduh bahwa ia akan membunuh rekannya. Kembali Catherine beretorika tentang apa yang sudah terjadi dan mengatakan bahwa si detektiflah yang melakukan semua pembunuhan. Ia membawa pistol untuk berjaga- jaga karena si penyelidik hendak membunuhnya dan akan melimpahkan semua kesalahan kepada Glass. Untuk membuat Glass bingung ia mengarahkan pistol ke arah  lehernya.  Ia  juga  menceritakan  bahwa  si  detektif  membunuh  si  wartawan karena laporan akan kejahatan yang ia lakukan. Catherine juga membantah kalau ia mengendalikan   hidupnya   dan   beretorika   bahwa   Glasslah   yang   menjadikan semuanya kacau. Dan ia mentertawakan Glass yang hendak menyelamatkan rekannya  karena  itu  semua  hanya  cerita fiktif  dalam  novelnya.  Catherine  tetap berusaha beretorika dan itu semua semakin membuat pikiran Glass kalut dan kejernihan   pikirannya   hilang.   Dalam   kondisi   itu   semua   ketenangan   yang sebelumnya ia miliki, benar-benar hilang, dan semakin menampakkan ketidakmampuannya dalam mengendalikan diri. Kondisi semakin tegang ketika si penyelidik mengetuk pintu dan memanggil Glass. Catherine berusaha terus memprovokasi bahwa ia benar-benar akan dibunuh, dan Glass yang akan dituduh.

Dengan mimik meyakinkan, Catherine, layaknya seorang sutradra yang mengatur permainan para aktornya, berusaha mempertajam konflik batin Glass. Terprovokasi, Glass tidak bisa menguasai dirinya lagi, segera diambil pistol dari Catherine dan ia hendak menembaknya. Kuasa dan pesona Catherine membuatnya kembali bingung dan semakin gundah. Ia lupa akan siapa diri Catherine sebenarnya, yang memang suka menulis dari cerita nyata yang ia alami; penuh ketegangan, kengerian, dan pembunuhan. Catherine adalah pengendali semua permainan ini dan ia memang sengaja menciptakan kondisi-kondisi yang menegangkan untuk mengakhiri riset sastranya dengan cerita yang sangat tragis. Glass, di sisi lain, sudah melupakan semua jatidirinya sebagai seorang analis. Ia yang sebelumnya tenang dan rasionalistis, harus menjadi dirinya yang lain: penuh amarah karena semua peristiwa yang ia alami. Sejarah Catherine dan sejarah dirinya menjadi sirna dari kejernian pikirannya. Sejarah seorang penulis penuh fantasi seksual dan kekerasan dan sejarah seorang analis yang penuh ketenangan di tengah-tenagah masalah  yang  dihadapinya  hanya  menjadi  fakta  masa  lalu  yang  saat  ini  harus dikubur demi menuntaskan sebuah cerita yang tragis. Permainan cantik perempuan bisa membuat laki-laki lupa segalanya, benar-benar tampak memenuhi dan mengarahkan semua adegan tersebut.

Dan, ketika si penyelidik berhasil masuk, karena diliputi kebingungan dan kekacauan  pikiran,  ia  tidak  menembak  Catherine,  tetapi  menembak  si  detektif hingga meninggal. Kematian si penyelidik, benar-benar di luar kendali Glass, dan pengendali sebenarnya adalah Catherine. Ini adalah antiklimaks yang memang ia rencanakan dalam novelnya. Semua dikesankan bahwa para aktorlah, didorong hasrat-hasrat instingtif purbanya, yang membuat ceritanya seperti itu.

Karena ingin mendapatkan sebuah akhir cerita yang ‘indah’, ia tetap tegar meskipun Glass hendak menembaknya. Bahkan ia menyuruh Glass untuk menembaknya.   Namun   ia   yakin   Glass   tidak   akan   menembaknya   dan   akan menembak penyelidik karena Glass tengah diliputi suasana kacau dalam pikiran dan jiwanya. Dan ketika, Glass benar-benar menembak penyelidik, Catherine tetap tenang dan tampak terpancar kepuasan dari mukanya. Dan ketika penyelidik mengatakan bahwa apa-apa yang dikatakan Catherine adalah kebohongan, semua sudah terlambat karena polisi segera datang, dan Glasslah yang terbukit membunuh penyelidik.  Catherine  tetap  bebas  dan  menikmati  kemenangannya.  Dan,  Glass hanya  berteriak  meratapi  semua  kesalahan  dan  kebodohannya  sembari  menatap wajah Catherine.

Semua bentuk adegan di atas, berusaha menghadirkan satu motivasi dan intensi yang mengatakan bahwa perempuan bisa saja menghancurkan kehidupan laki-laki, yang sebelumnya penuh ketenangan dan rasionalitas dalam bertindak. Seorang laki-laki yang dalam kesehariannya tampak tenang, kalem, cerdas, bisa saja menjadi makhluk yang liar, tidak bisa mengontrol dirinya, ketika perempuan yang memiliki ambisi- ambisi tertentu berhasil mempermainkan hasrat terpendam yang disimpannya dalam-dalam. Perempuan yang cerdas, penuh fantasi dan ambisi, serta memperlakukan tubuhnya sedemikian rupa, akan menjadi pemenang dari sebuah permainan   yang   melibatkan   hasrat   yang   selama   ini   dikendalikan   laki-laki. Betapapun hebat dan berkuasanya laki-laki dengan segala superiotasnya, ia akan bisa saja tunduk dan takluk kepada kuasa perempuan. Dan untuk melengkapi kemenangannya, Catherine dengan senyum dan bangga mengunjungi Glass di rumah sakit untuk menyerahkan novel barunya, The Analyst. Dan ia mengatakan bahwa itu novel itu merupakan cerita yang indah, dengan teka-teki pembunuhan yang   tidak   diketahui   siapa   pembunuh   sebenarnya.   Meski,   dalam   novel   itu diceritakan bahwa Glasslah yang melakukan semua pembunuhan itu dengan semua latar belakang masalah yang ia hadapi serta hasrat instingtif yang tidak bisa ia kuasai. Bahkan ia masih bertanya-tanya, hingga membuatnya gila, siapa sebenarnya yang membunuh si detektif. Sebuah kemenangan seorang penulis perempuan dan kegilaan seorang analis.

Semua cerita itu menjadi kesempurnaan yang indah bagi si penulis. Ia bisa menyelesaikan imaji-kreatifnya melalui fantasi, ambisi, kecerdasan, dan kenikmatan tubuh  untuk  membuat  akhir  yang  tragis.  Dengan  senyum,  ingin  mengatakan, “inilah aku, penulis perempuan yang mampu menaklukan semua tokoh-tokoh nyataku dalam sebuah jalinan cerita yang misterius, tetapi sangat indah”. Sebuah dunia yang kejam yang ditandai pembunuhan telah dirangkai dalam cerita yang apik dan para tokoh adalah mereka yang menjadi korban dari kuasa penulis perempuan. Sebuah dunia yang tragis dan penuh kematian, yang tidak mampu diungkap oleh para polisi: apa penyebab sebenarnya dan siapa yang melakukannya? Tapi, Catherine mampu ‘mengungkap’ itu semua, dalam novel yang indah.

Ekspresi muka Glass yang menjadi penutup dari semua episode kemenangan yang dirayakan oleh Catherine. Ia menyesal, marah, dan dendam akan semua yang telah  terjadi  dalam  kehidupannya.  Dan  itu  semua  disebabkan  oleh  kehadiran seorang Catherine. Namun, ia kembali merenung, bahwa ia pun tidak bisa mengendalikan  diri,  pikiran,  dan,  terutama,  hasrat  instingtif  yang  selama  ini ditutupi dan dipendam dalam bingkai intelektualitas, rasionalitas, dan profesionalitasnya sebagai seorang psikiater. Dan ia harus ‘sedikit tersenyum’ untuk mengakui bahwa Catherine memang sosok penulis liar yang mampu melebihi kehebatan analisa psikis yang biasa ia lakukan terhadap pasiennya. Di hadapan Catherine, ialah yang menjadi pasien yang memang harus disembuhkan di rumah sakit jiwa sekaligus penjara. Dan, tinggalah kini, Glass yang dalam kegilaannya akan membaca ulang novel yang sebenarnya ia lakoni sendiri. Sementara Catherine melenggang  dengan  kemenangan  yang  sempurna.  Dan  mungkin  akan menghasilkan novel-novel baru yang penuh petualangan seksual, kekerasan, dan kematian.

c. Kuasa tubuh perempuan dan pseudo-victory: sebuah problem ideologis

Dari analisis di atas, paling tidak bisa dirangkum beberapa pesan ideologis (yang bisa diambil atau dikembangkan dari konsep) yang mirip satu sama lain dan direpresentasikan dengan begitu natural melalui adegan-adegan dalam beberapa scene pilihan di atas. Beberapa scene, yang diasumsikan sebagai submitos tersebut, pada akhirnya membentuk pesan ideologis inti/utama yang menjadi kerangka dari keseluruhan narasi film tersebut, sebuah mitos. Pesan ideologis itu menjadi sesuatu yang benar-benar hadir secara natural tanpa pretensi dan kepentingan karena bisa direpresentasikan dalam scene yang dengan teknik filmografi menghasilkan adegan- adegan yang sangat wajar.

Untuk bisa menemukan pesan ideologis inti dari film ini, kita bisa membuat struktur yang terdiri dari pesan-pesan ideologis  dalam submitos yang dipilih.

1.   Pesan ideologis submitos I: kecerdasan, keliaran, dan  sex appeal perempuan kulit putih  mampu menaklukkan (membuat celaka) pria kulit hitam.

2.   Pesan  ideologis  submitos  II:  kecerdasan  dan  sensualitas  perempuan  yang dijadikan senjata untuk menaklukkan laki-laki.

3.   Pesan ideologis submitos III: sensualitas tubuh perempuan yang menjadi obsesi bisa memunculkan keliaran perilaku seksual seeorang.

4.   Pesan  ideologis  submitos  IV:  perempuan  mutlak  membutuhkan  keindahan tubuhnya untuk terus menguasai/ berkuasa.

5.     Pesan ideologis submitos V: perempuan ambisius yang penuh fantasi liar bisa melakukan apa saja untuk kepuasan dan tujuannya.

6.   Pesan ideologis submitos VI:   perempuan dengan tubuhnya punya kuasa juga untuk menundukkan laki-laki dalam ‘percintaan’.

7.   Pesan  ideologis  submitos  VII  dan  VIII:  permainan  cantik  perempuan  bisa membuat laki-laki lupa segalanya serta menghancurkan kehidupan laki-laki.

Dari rangakain pesan ideologis di atas dan dengan memperhatikan kembali adegan-adegan yang menyusunya kita bisa menemukan konsep utama yang sekaligus bisa digunakan sebagai pesan ideologis utama/inti dari keseluruhan narasi dalam film Basic Instinct 2, yakni: perempuan untuk bisa berkuasa dan menguasai tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan, kecerdikan, dan fantasi, tetapi juga harus mengandalkan kemolekan tubuh serta keliaran-keliaran dalam bercinta. Bisa jadi pesan ideologis tersebut bertentangan dengan idealisme para pemikir/penulis/aktivis gerakan feminis liberal yang merayakan tubuh sebagai media pembebasan dari ketertindasan ideologi patriarkal dalam masyarakat, baik di Barat maupun di Indonesia. Namun itu semua adalah realitas pembacaan dari perspektif mitos dari film ini, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya pembacaan yang lain.

Memang   sampai   saat   ini   para   pemikir   feminis   masih   dihadapkan   pada perdebatan yang pelik mengenai persoalan tubuh dalam kaitannya dengan relasi kuasa yang ada dalam masyarakat. Bahkan di antara para feminis barat pun masih terus berlangsung perdebatan. Di satu sisi, sebagian feminis beranggapan bahwa tubuh merupakan medan awal terjadinya eksploitasi kekuasaan oleh laki-laki terhadap perempuan, yang dimulai dari ranah rumah tangga dan berlanjut hingga ranah privat. Para perempuan dituntut berperilaku sopan tidak mengumbar aurat karena tubuhnya hanya bisa dinikmati oleh para suami mereka. Ketidakberdayaan untuk menguasai tubuhnya sendiri, menjadi awal bagi penindasan bagi perempuan.

Untuk membebaskannya maka tubuh perempuan harus dibebaskan dari segala kekangan  tersebut,  termasuk  dengan  cara  membabaskannya  dari  pengekangan relasi seksual yang selama ini dihegemoni laki-laki dan menguasai tubuhnya untuk kepentingannya serta membebaskannya dari stereotipisasi domestik yang selama ini melekat. Media merupakan salah satu situs yang bisa digunakan untuk merepresentasikan itu semua. Jadi, persoalan tubuh menjadi hak sepenuhnya dari perempuan, bahwa mereka tidak hanya harus menjadi para ibu yang berdomisili di rumahan; memasak, bersolek, untuk kemudian ‘melayani’ para suami di kasur.

Sementara bagi sebagian feminis lainnya, pembebasan tubuh hanya akan menunjukkan kelemahan perempuan dengan lebih memperhatikan sensualitas dan kecantikan tubuh dan kurang menekankan pada sisi intelektual. Di samping itu, dengan membebaskan kontestasi tubuh perempuan di media, hanya akan membangkitkan kembali naluri penaklukan patriarki yang bersinergi dengan kepentingan modal kaum kapitalis industri media. Lagi-lagi perempuan hanya menjadi objek komodifikasi kapitalis dan sekaligus menjadi pemuas pandangan dan hasrat   laki-laki.   Kecerdasan   menjadi   terabaikan   dan   hanya   semata-mata menonjolkan kecantikan dan sensualitas tubuh. Realitas yang kini banyak kita jupai dalam   industri   media—terutama   film   dan   televisi—dimana   semakin   banyak selebritis yang bermain dalam sinetron dan acara-acara lainnya, tetapi dengan kemampuan acting yang sangat pas-pasan. Yang penting ia berwajah cantik, bertubuh seksi, dan kalau bisa masih blesteran. Itu semua terlanjut menjadi asumsi umum yang dianggap wajar oleh publik, sehingga potensi kecerdasan yang dimiliki oleh sebagian kecil selebritis kita menjadi tenggelam.

Dari analisis film di atas, kita bisa melihat bahwa tim kreatif ingin membebaskan diri dari perdebatan panjang tentang kontestasi dan eksploitasi tubuh perempuan di media. Ada penekanan pada kecerdasan, kecerdikan, dan kepandaian dalam memainkan perasaan orang lain yang dianggap bisa dipermainkan. Semua itu mewujud pada bagaimana retorika yang dibangun oleh Catherine sehingga mampu menggiring pemikiran dan perilaku Glass. Di samping itu, film ini juga berusaha menunjukkan bahwa perempuan bisa sangat berkuasa dan laki-laki menjadi sangat‘bodoh’  dan  gila  ketika  si  perempuan  mampu  meliarkan  imajinasi  dan  disertai dengan pemikiran dan tindakan yang terarah. Perempuan adalah makhluk yang sangat pantas untuk berkuasa dan menguasai.

Sementara  di  sisi  lain,  film  ini  tetap  mengetengahkan  ‘keterbukaan  tubuh’ perempuan   dan   ‘permainan-permainan   cinta’   yang   ia   tawarkan   untuk   bisa mewujudkan ambisi berkuasanya. Kesan ini yang kemudian menjadi dominan dan mengarahkan pemahaman akan pesan ideologis yang tetap mengungkung perempuan pada sebatas tubuh. Perempuan, bagaimanapun cerdasnya, tetap tidak bisa melarikan diri dari tubuhnya untuk bisa mengendalikan tujuannya. Dengan tubuh ia bisa mengatasi kendala-kendala rumit yang mungkin terjadi. Tubuhnya merupakan senjata utama ketika ingin tetap mengendalikan permainan yang ia rencanakan;  dan  juga  demi  ambisi-ambisi  pribadinya.  Semua  kecerdasan  dan capaian-capaian kreatif yang ada pada diri perempuan, Catherine, menjadi sekedar citra retoris yang tetap mengutamakan tubuh untuk tetap bisa berkuasa. Dan tanpa sensualitas tubuh dan ‘permainan-permaian liar’ yang ia tawarkan, kecerdasan itu hanya akan berhenti dan mengendap dalam benak serta sulit menjadi sebuah novel best-seller.

Film sebagai mitos dan representasi ideologi/kontra-ideologi: simpulan

Kajian   film   dengan   menggunakan   perspektif   mitos-Barthesian   memberikan‘kekayaan’ kajian. Di satu sisi, tetap memperhatikan struktur penandaan yang ada dalam narasi film. Di sisi lain, kajian ini, berangkat dari struktur naratif (linguistik) memberikan pemaknaan secara kritis terhadap representasi wacana ideologis yang berkorelasi dengan relasi-relasi kuasa di dalam masyarakat. Dalam struktur narasi yang terksesan hanya mengusung motivasi keuntungan kapital dari produsen, film bisa saja mengusung persoalan-persoalan ideologis dengan sangat natural. Hal itu, sekali lagi, disebabkan karena tim kreatif adalah bagian dari masyarakat yang di dalamnya terdapat beragam persoalan ideologis, dari yang menempati posisi dominan hingga subordinat maupun oposan.

Barthes menggunakan kajiannya untuk melihat bagaimana mitos dalam masyarakat modern mewujud dalam beragam moda representasi populis demi meneguhkan kuasa ideologi kelas borjuis maupun ideologi dominan lainnya, seperti patriarki. Seperti dalam film Basic Instinct 2, dimana kita masih bisa menemukan berpoperasinya ideologi patriarki, meskipun direpresentasikan sedemikian rupa sebagai mitos yang menyampaikan kecerdasan perempuan dan kedunguan laki-laki dalam mengendalikan hasratnya, kita masih bisa membaca betapa kecerdasan itu tidak berarti apa-apa tanpa ‘permainan tubuh’ yang dimiliki ditawarkan si novelis.

Namun, kuasa ideologis tidak pernah berada dalam posisi statis dan permanen. Meksipun sebuah ideologi melalui anggota kelas dan agen-agen lainnya telah melangsungkan  sebuah  relasi  kuasa  hegemonik  dalam  masyarakat,  pada  titik tertentu ketika kelas subordinat maupun oposan—yang sebelumnya seolah-olah dipenuhi kebutuhannya—bisa melakukan resistensi dengan cara radikal maupun dengan mengambil produk-produk yang sudah ada untuk kemudian mengolahnya dengan tujuan untuk mengganggu atau melawan kuasa hegemonik yang ada sehingga bisa memunculkan counter-hegemony. Gramsci sebagai penggagas teori hegemoni menjelaskan kondisi itu bisa muncul, misalnya, ketika kelas hegemonik sudah tidak mampu lagi mendapatkan konsensus dari kelas-kelas lain dalam masyarakat (1981: 193). Dalam kondisi itulah semestinya kelas-kelas subordinat dan oposan bisa melakukan resistensi, termasuk melalui moda representasi media untuk menawarkan nilai-nilai kritis sebagai kontra-ideologi.

Barthes sendiri sebenarnya menjelaskan adanya potensi dari kelas-kelas resisten untuk menggunakan mitos yang sudah ada untuk menggunakannya sebagai “mitos kedua” (second myth) guna melawan kemapanan ideologi dominan dalam masyarakat: “….senjata terbaik untuk melawan mitos yang memungkinkan adalah dengan cara memitifikasinya secara berkebalikan sehingga bisa digunakan untuk memproduksi mitos artifisial; dan mitos bentukan baru ini akan menjadi fakta dalam mitologi. Karena mitos mencuri bahasa sesuatu, kenapa tidak mencuri mitos? Apa yang diperlukan adalah menggunakan mitos sebagai titik keberangkatan bagi rantai- semiologis-ketiga, mengambil penandaan mitis (pada mitos pertama) sebagai terma pertama dalam mitos kedua….mitos-tatanan-kedua….kekuatan mitos kedua adalah bahwa  ia  memberikan  mitos  pertama  dasarnya  sebagai  kenaifan  yang  terlihat” (1983: 135). Barthes memberikan contoh bahwa yang bisa melakukan pembalikan tersebut, adalah terutama, para penulis sastra. Dalam contoh yang ia ambil ia menggambarkan betapa Flaubert bisa menggunakan mitos yang terbangun dalam kelas borjuis untuk menunjukkan betapa naifnya dunia yang mereka miliki (1983:136). Hal itu menandakan bahwa insan-insan kreatif media, film, maupun televisi, sebenarnya bisa melakukan hal serupa. Para sineas alternatif , misalnya, sangat mungkin menggunakan mitos kedua untuk bersikap resisten terhadap hegemoni ideologi kelas penguasa dalam masyarakat.

Sangat mungkin bahwa di antara film-film mainstream sudah ada yang menggunakan mitos kedua untuk menawarkan ideologi tandingan terhadap ideologi hegemonik dalam masyarakat. Semua tergantung kejelian dan kreatifitas tim para sineas  untuk  mau  melakukan  pembacaan  dan  riset  terhadap  mitos-mitos  dari ideologi hegemonik dalam masyarakat yang menyebar secara massif lewat kebudayaan  dan  media.  Film  Basic  Instinct  2,  bila  dilihat  dari  mitos  kedua,
sebenarnya   telah   berusaha   untuk   menawarkan   ideologi   tandingan   tetang kecerdasan perempuan dengan merepresentasikan betapa laki-laki dengan segala kematangannya tampak dungu dalam menghadapi kecerdikan dan rasionalitas liar perempuan, sesuatu yang dulu didominasi laki-laki. Sayangnya, sineas film ini masih belum bisa melepaskan dari mitos keperkasaan laki-laki yang bisa diluluhkan hanya dengan tubuh perempuan; sebuah reproduksi ideologi patriarki dalam bentuknya yang sangat halus. Dan, ke depan perspektif mitos kedua sangat mungkin dikembangkan lebih lanjut untuk kajian film—atau mungkin bisa bersandingan dengan perspektif mitos pertama—sehingga kita bisa lebih jeli melihat bagaimana pertarungan ideologis yang ada di dalam sebuah film; bagaimana ideologi tandingan diwacanakan dan direpresentasikan melalui film mainstream. Atau untuk melihat bagaimana film mainstream berusaha mengartikulasikan ideologi tandingan, sembari mengekangnya dalam wacana-wacana stereotip yang sudah ada sebelumnya.

Kajian ini, sekali lagi, hanyalah sebuah usaha untuk menawarkan konseptualisasi metodologi yang mungkin bisa digunakan untuk membaca persoalan ideologis melalui tutur mitis film. Barthes sendiri, memang tidak pernah memberikan metodologi   yang   cukup   jelas   bagaimana   menggunakan   perspektifnya   untuk membaca secara kritis sebuah film. Hal itu tidak harus menjadikan kita takut untuk menciptakan usaha-usaha metodologis guna membantu analisis, tentu saja dengan berpegang pada perspektif yang ditawarkan Barthes. Dan akan sangat baik ketika muncul usaha-usaha metodologis baru untuk terus mengembangkan perspektif mitos-Barthesian dalam kajian film, khususnya untuk film-film Indonesia. Yang terpenting adalah bagaimana kita memposisikan diri sebagai pembaca kritis yang terus berusaha memunculkan modifikasi-modifikasi metodologi sembari membaca teori yang sudah ada sehingga tidak akan kehilangan nalar kritis untuk membaca mitos-mitos populer yang semakin banyak jumlahnya. Semoga…

Gejayan, melintasi senja menikmati hidup, April-Juni 2007.

* Artikel ini merupakan tugas akhir matakuliah “Pendekatan Semiotika dan Hermeunetika” sewaktu penulis menempuh S-2 di Program Studi Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.

Bahan bacaan

Adorno, Theodor W. & Max Horkheimer.1993. “The culture industry: enlightment as mass deception”, dalam Simon During (ed). The Cultural Studies Reader. New York: Routledge.

Adorno, Theodor W.1997. “Culture Industry Reconsidered”, dalam Paul Marris & Sue  Thornham.  Media  Studies:  A  Reader.  Edinburgh:  Edinburgh  University Press.

Barthes, Roland.1977. Image-Music-Text. London: Fontana.

Barthes, Roland. 1981. Element of Semiology. New York: Hill and Wang.

Barthes, Roland. 1983. Myhtologies. New York: Hill and Wang.

Chandler, Daniel.1994. Semiotics for Beginners (www document). Diakses dari http://www.aber.ac.uk/media/Documents/S4B/semiotic.html,   10   September 2005.

Fairclough, Norman.1992. Language and Power. London: Longman.

Fiske, John.2002. Television Culture. London: Routledge.

Fiske, John. 2006. Cultural and Communication Studies (terj. Yose Iriantara & Idi Subandy Ibrahim). Yogyakarta: Penerbit Jalasutra.

Gramsci, Antonio.1981. “Class, Culture, and Hegemony”, dalam Tony Bennett, Graham Martin, Collin Mercer, and Janet Woolacott (eds). Culture, Ideology, and Social Process. Batsford: The Open University Press.

Hall, Stuart. 1997a.  “The  problem  of  ideology:  marxism  without  guarantees”, dalam David Morley & Kuan-Hsing Chen (eds). Stuart Hall, Critical Dialogues in Cultural Studies. London: Routledge.

Hall,  Stuart.1997b.  “The  Work  of  Representation”,  dalam  Stuart  Hall  (ed).Representation,  Cultural  Representation  and  Signifying  Practice.  London:  Sage Publication in association with The Open University.

Hodge,   Robert   &   Gunter   Kress.1988.   Social   Semiotics.   New   York:   Cornell University Press.

Lawenthal, Leo.1957. “Historical Perspective of Popular Culture”, dalam Bernard Rosenberg & David Manning White. Mass Culture, The Popular Arts in America. Illionis: The Free Press.

MacDonald, Dwight.1957. “A Theory of Mass Culture”, dalam Bernard Rosenberg & David Manning White. Mass Culture, The Popular Arts in America. Illionis: The Free Press.

Mulvey, Laura.1989. “Visual Pleasure and Narrative Cinema”, dalam Visual and Other Pleasure. Houndmills: McMillan.

Noth, Winfried.1990. Handbook of Semiotics. Indiana: Indiana University Press.

Storey, John.1993. An Introductory Guide to Cultural Theory and Popular Culture.Hertfordshire: Harvester Wheatsheaf.

Storey, John. 1996. Cultural Studies and The Study of Popular Culture. Georgia: University Georgia Press.

Walby, Sylvia.1989. “Theorizing Patriarchy”, dalam Jurnal Sociology, Vol. 23, No. 2.



Share This:

About Ikwan Setiawan 179 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*