“Lodheh tewel” dalam bukber DeKaJe: Memperkuat solidaritas, menyiapkan prioritas

Menjemput senja

11 Mei 2019. Senja mulai menampakkan rona jingganya ketika beberapa pengurus Dewan Kesenian Jember (DeKaJe) dan pelaku seni duduk di teras rumah Kang Eko Suwargono, di kawasan Antirogo, timur Ponpes Nuris Jember. Mereka adalah Mas Poponk, Kabid Teater DeKaJe, dan kawannya dari Mumbulsari, serta Mas Taufik Fatha, seniman muda dari Candijati Arjasa yang memiliki kelompok Can-macanan Kaduk dan Ta’-Buta’an. Ditemani tuan rumah, mereka tampak berbincang santai. Setelah memarkir motor, saya pun menyalami mereka satu per satu. Sambil menunggu kedatangan tamu lainnya, kami pun berbincang gayeng tentang beberapa agenda kesenian di Jember. Kang Eko memang sengaja mengundang pengurus DeKaJe dan pengurus DeKaJe Kecamatan yang sudah dibentuk dan dilantik serta para pelaku seni dari beragam etnis yang ada di Jember untuk buka bersama (bukber) di rumahnya. Selain mensyukuri datangnya bulan suci Ramadhan, acara ini juga dimaksudkan untuk menambah keguyuban untuk memperkuat solidaritas serta rembugan, mendiskusikan memaparkan beberapa permasalahan dan program unggulan yang menjadi prioritas di tingkat kabupaten maupun kecamatan dan desa.

Kang Eko, Mas Poponk, dan Mas Taufik menunggu para tamu

Menjelang pukul 17.00 WIB, satu per satu tamu mulai berdatangan. Ada Cak Lipianto, Mas Slamet Mintoyo, Pak Kacuk, dan rombongan dari DeKaJe Ledokombo. Ada Pak Satoha dan rombongan dari Panti. Ada Kang Arjes dan kawannya dari Curahnongko, Tempurejo. Ada Pak Nimin alias Pak Dayat yang datang bersama istri dan kedua anak perempuan mereka. Pak Dayat adalah seniman ludruk yang cukup terkenal di Jember. Istrinya adalah keponakan alm. Pak Saro’i, tokoh Lengger yang cukup legendaris di era 1980-an hingga 2000-an awal. Istri Pak Dayat sejak 1985 sudah menjadi penari lengger di Pasar Tanjung dan Stasiun Jember. Putri pertama mereka juga sudah sering manggung di pertunjukan ludruk, baik sebagai penari remo maupun penyanyi kontes.[1] Tidak ketinggalan rombongan dari DeKaJe Wuluhan yang datang dengan naik pick up. Setiap menghadiri undangan dari DeKaJe, para pengurus DeKaJe Wuluhan dan pelaku seni seringkali mengunakan pick up; sebuah perjalan epik.

Para pengurus DeKaJe dan seniman Rakjat membaur sebelum bukber

Tentu saja, tanpa ada komitmen kuat untuk terus bergerak bersama bersama dalam mengembangkan dan memajukan budaya Jemberan yang cukup beragam, para seniman Rakjat dan pengurus DeKaJe Kecamatan tidak akan mau jauh-jauh datang ke acara bukber ini. Para seniman dan penurus DeKaJe Kecamatan tidak mendapatkan uang transportasi, tidak pula mendapatkan hidangan istimewa ala restoran mahal. Sesederhana apapun hidangan yang disajikan, kuatnya komitmen dan solidaritas mampu menyatukan rasa, batin, dan pikir untuk bertemu dan ber-rembug, di tengah-tengah bermacam kesibukan masing-masing. 

Menikmati lodheh tewel dan ikan laut

Ketika terdengar suara adzan, Mbak Rita, istri Kang Eko, mempersilahkan kami untuk terlebih dahulu menikmati es sirup rasa jeruk yang cukup segar. Tidak lupa pisang godok legit dan kopi ikut melengkapi menu awal buka puasa bersama kami. Sebagian tamu lelaki memilih untuk menikmati rokok terlebih dahulu. Sementara para tamu perempuan dipersilahkan menikmati hidangan makan: nasi, sayur lodeh tewel, dan ikan laut. Menu yang cukup sederhana ini, rupa-rupanya, mampu menarik perhatian para tamu lelaki. Kami pun segera menikmati makan bersama-sama. Keguyuban dan kebersamaan begitu terasa. Sayur lodeh dan ikan laut benar-benar mempertemukan para pengurus DeKaJe dan para pelaku seni dalam suasana kerakyatan. Tidak ada lagi sekat yang memisahkan kami. Yang berasal dari etnis Madura, Jawa, Blambangan, semua menjadi satu. Yang bekerja sebagai dosen, guru, swasta, wiraswasta, pedagang, petani, dan buruh tani, merasakan kebersamaan yang sebenarnya.

Suasana buka puasa bersama cukup gayeng

Suasana tersebut menghadirkan percumbuan manis antara laku keagamaan dan laku kesenian yang diorientasikan untuk kepentingan pemajuan kebudayaan. Formula seperti ini sekaligus menegaskan bahwa para pelaku seni Jemberan memiliki karakteristik yang bisa mempertemukan pemahaman agama dan budaya dalam dimensi ruang yang bersifat lentur dan dinamis dengan tujuan utama pemajuan kebudayaan yang berorientasi kepada keberdayaan seniman dan komunitas seni serta kesadaran masyarakat penikmati sebagai pewaris pasif. Selain itu, kebersamaan yang tercipta juga menandakan bahwa untuk mewujudkan kerja-kerja strategis dan taktis dalam bidang kesenian, pada khususnya, dan kebudayaan, pada umumnya, pengurus DeKaJe dan pelaku seni sudah seharusnya memulai dari komitmen untuk merekatkan pikiran dan batin.

Memperkuat solidaritas, menyiapkan prioritas

Setelah menunaikan ibadah sholat Maghrib, kami segera berkumpul kembali. Kang Eko memulai acara rembugan dengan menekankan pentingnya seluruh seniman Rakjat dan pengurus DeKaJe terus membangun kekompakan, solidaritas, dan sinergitas. Karena kedua hal itu merupakan modal kultural untu menyukseskan program-program priotias atau unggulan tahun 2019. Beberapa program yang harus segera dipersiapkan adalah ROMANSA BEDADUNG, KIDUNG PANSELA (Pantai Selatan), BOLO SREWU JARANAN BARONG (BSJB), BHAKTI BUMI GUNUNG MAYANG III (BBGM), dan SABDA RAUNG. Tidak lupa pula program bulanan GEDRUK JEMBERAN.

Kang Eko memimpin acara rembugan

ROMANSA BEDADUNG merupakan program yang memadukan aktivitas kesenian, kesastraan, lukis, ritual air, permainan, dan konservasi sungai yang membelah dan mengaliri wilayah Jember. Tahun 2018, program ini diganti dengan FESTIVAL KALI BEDADUNG[2] atas permintaan Bupati Jember sebagai penentu disetujui atau tidaknya acara yang digagas DeKaJe dan dimasukkan agenda Dinas Pariwisata dan Kebudayaan ini. Meskipun belum bisa dilaksanakan sebagaimana desain awal, program ini cukup mendapatkan apresiasi publik.  Tahun 2019, ROMANSA BEDADUNG semestinya bisa lebih baik lagi dengan menekankan pada kombinasi acara kultural, konservasi, kompetisi, dan edukasi. Menurut  Kang Eko, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sudah meminta DeKaJe untuk menyiapkan proposal acara ini. Tentu saja, para pengurus perlu segera menyiapkan proposal dan desain acara.

Para perempuan pelaku seni menyimak penjelasan Ketua DeKaJe

KIDUNG PANSELA direncanakan untuk berlangsung tahun 2018, sayangya miskomunikasi antara DeKaJe dan Disparbud menjadikan proposal acara ini tidak sempat diajukan ke Bupati. Acara ini didesain untuk menggelar beragam potensi kesenian, ritual, dan kuliner di kawasan selatan Jember; dari Kecamatan Tempurejo, Ambulu, Wuluhan, Gumukmas, Kencong, dan Jombang. Dengan promosi massif dan terarah, KIDUNG PANSELA bisa mendatang wisatawan domestikan/Nusantara untuk menikmati sajian kesenian, kemasan ritual, permainan tradisional, produk olahan hasil laut (petis, trasi), dan lezatnya kuliner kawasan pantai selatan. Selain itu, akan sangat bagus kalau di tengah-tengah acara dihadirkan program ekologis terkait pesisir. Untuk itu, menurut Kang Eko, DeKaJe akan segera berkoordinasi dengan perwakilan pengurus DeKaJe Kecamatan dan para pelaku kultural di masing-masing wilayah untuk menentukan kepanitiaan, mendata dan memetakan potensi kultural, dan mendesain acara. Tidak lupa pula untuk berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan pemerintah desa serta tokoh masyarakat.

Para seniman senior pun menyimak perbincangan

BOLO SREWU JARANAN BARONG (BSJB) III menurut kalender program semestinya dilaksanakan pada bulan Pebruari. Namun, karena ada kendala keuangan dan penolakan mayoritas seniman yang pernah terlibat untuk menggelar acara di Pantai Payangan Ambulu,[3] gelaran ini ditunda. Namun, dalam perbincangan dengan seniman Rakjat, camat, dan beberapa kepala desa di sela-sela acara sewaktu pelantikan pengurus DeKaJe Kecamatan Wuluhan, , muncul ketertarikan untuk memindah acara BSJB III di salah satu desa di wilayah ini. Pengurus DeKaJe pun menyatakan ketertarikannya. Meskipun demikian, perlu dijajaki silaturahmi dan jagongan dengan pihak kecamatan, pemerintah desa, DeKaJe Wuluhan, dan para pelaku untuk mengerucutkan lokasi, anggaran dan desain acara. Penempatan BSJB III di Wuluhan cukup menarik karena di wilayah ini banyak terdapat kesenian jaranan dan reyog. Selain itu, pemerintah desa dan warga masyarakatnya juga cukup mendukung kegiatan budaya secara massif.

Serius dalam rembugan

BHAKTI BUMI GUNUNG MAYANG (BBGM) III semestinya juga dilaksanakan pada bulan April 2019. Sayangnya, kesamaan jadwal dengan Pemilu menjadikan acara yang merupakan hasil kerjasama DeKaJe dengan Pemerintah Desa Suco dan Kecamatan Mumbulsari ini ditunda sampai ditentukan waktu yang tepat. BBGM III perlu perbincangan agak serius terkait desain acara. Kalau pada event BBGM I dan II gelaran difokuskan kepada kolaborasi pertunjukan seni untuk pubik dan semangat konservasi, BBGM III belum disepekati format acaranya. Untuk itu, Kang Eko, Mas Poponk dan beberapa pengurus DeKaJe lain akan segera berkoordinasi dengan Kepala Desa Suco terkait jadwal dan format acara.

Bendahara DeKaJe, Mas Basis, berbaju kuning dan ber-blangkon. ‘Manajer’ transportasi dalam acara-acara DeKaJe, Sonhaji, berbaju batik putih dan merokok.

Adapun SABDA RAUNG adalah gelaran multi-event yang memadukan karya seni, ritual, dan potensi ekonomi kreatif masyarakat di kawasan Ledokombo. SABDA adalah singkatan dari seni, alam, dan budaya. Sementara RAUNG diambilkan dari nama Gunung Raung. Soal desain acara dan jadwal kegiatan belum ditentukan. Gelaran ini direncakan berlangsung beberapa hari dengan melibatkan semua potensi sumberdaya manusia bidang kesenian dan budaya serta keragaman hasil bumi dari wilayah yang cukup subur di lereng Gunung Raung ini. Tentu saja, diharapkan DeKaJe Ledokombo harus segera berkoordinasi dengan pemerinta kecamatan, pemerintah desa, dan tokoh-tokoh masyarakat. Mas Slamet Mintoyo, salah satu pengurus DeKaJe Ledokombo meminta agar SABDA RAUNG didiskusikan terlebih dahulu oleh sesama pengurus. Dengan demikian, ketika bertemu dalam forum jagongan dengan pengurus DeKaJe sudah bisa didapatkan gambaran. Tentu, masukan dari pengurus DeKaJe juga dibutuhkan untuk penyempurnaan acara.  

Suasana guyub para pelaku seni

Meskipun program-program tersebut masuk ketegori prioritas, di wilayah kecamatan yang belum terdapat program unggulan seperti Panti dan Arjasa, pengurus DeKaJe Kecamatan ataupun para pelaku seni didorong untuk menggagas program yang bisa melibatkan pemerintah desa dan pemerintah kecamatan. Calon pengurus DeKaJe Panti, misalnya, bisa mengeksplorasi kekayaan seni, alam, dan budaya masyarakat di lereng Panti. Demikian kawasan Arjasa bisa memaksimalkan potensi kepurbakalaan dan kesenian-kesenian unik yang ada di kecamatan ini seperti can-macanan kaduk dan ta-buta’an. Memang di Arjasa sudah ada agenda tahunan Festival Ta’-Buta’an, tetapi masih harus dipikirkan program kreatif yang mengemasnya bersama-sama can-macanan kaduk sehingga warga dan penonton bisa mendapatkan sajian yang berbeda. Bisa juga diramu dengan ritual-ritual terkait konservasi lingkungan.  Tentu saja, tim DeKaJe akan mendampingi dalam proses eksplorasi gagasan dan diskusi pendalaman.

Tentang kritik dan masukan untuk pengurus serta apresiasi untuk seniman berprestasi

Dalam ajang rembugan, para pengurus DeKaJe Kecamatan dan pelaku seni juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan uneg-uneg terkait kinerja DeKaJe. Menurut Kang Eko, kritik dan masukan ini perlu disampaikan agar kerja dan kinerja organisasi bisa berjalan lebih baik lagi serta bisa memberikan yang terbaik kepada para seniman Rakjat dan warga Jember.

Pak Satoha, Calon Ketua DeKaJe Panti, menyampaikan masukannya

Menanggapi permintaan Kang Eko, Pak Satoha, calon Ketua DeKaJe Panti, mengucapkan terima kasih karena DeKaJe sudah mau turun ke bawah, ke para seniman di desa-desa.

“Selama ini kami ini seperti nggak ada yang memperhatikan, nggak ada yang ngopeni. Kami yang di Panti bergerak sendiri, berkarya sendiri, dari tanggapan ke tanggapan. Nah, dengan adanya DeKaJe kami sungguh berharap akan ada pendampingan kegiatan-kegiatan yang asyik. Kami di Panti akan berusaha untuk menggagas program budaya, apalagi Argopuro itu kan cukup terkenal. Entah nanti apa namanya,” ucap Pak Satoha penuh semangat.

Pengakuan Pak Satoha ini tentu memberikan semangat dan energi kepada pengurus DeKaJe yang masih aktif untuk terus bergerak menyapa dan mem-bersama-i para seniman Rakjat agar bisa memberdayakan potensi mereka.  

Pak Eko Sucahyo, Ketua DeKaJe Wuluhan memberikan masukan tentan pentingnya para pengurus DeKaJe Kecamatan untuk bekerjasama dengan kepala desa-kepala desa di wilayah masing-masing. Dalam dana desa itu hak para seniman untuk berkarya dan melestarikan kesenian Rakjat. Jaminan undang-undang harus dimanfaatkan. Para seniman harus mengetahui hal itu. Maka dari itu, lobi ke camat juga harus dilakukan karena merekalah pemimpin yang bisa meminta kepala desa untuk mengalokasikan dana desa guna membiayai kegiatan budaya. “Di Wuluhan kami bersilaturahmi dan berdiskusi dengan camat dan kepala desa. Alhamdulillah banyak program kita yang disetujui,” tutur Pak Eko yang juga berprofesi sebagai guru ini.

Pak Eko Sucahyo dengan penuh semangat menyampaikan
masukan mewakili DeKaJe Wuluhan

Sementara, Suharsono alias Sony Cimot, selaku Ketua 1 DeKaJe menjelaskan bahwa memang benar bahwa pengurus kecamatan harus mampu berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan desa. “Pengurus DeKaJe kecamatan harus proaktif, jangan menunggu perintah dari pengurus DeKaJe. Bapak-bapak dan ibu-ibu punya hak dan tugas untuk membawa DeKaJe kecamatan berdaya. Maka, diskusikan dan laksanakan gagasan-gagasan yang sekiranya bagus untuk pengembangan kesenian di kecamatan,” tegasnya. Selain itu, Cimot juga meminta kepada seluruh pengurus DeKaJe kecamatan, agar selalu berkomunikasi dengan pengurus di tingkat kabupaten apabila mendapati masalah agar tidak berkembang menjadi isu yang tidak sedap.

Cak Lipiyanto menyampaikan kritik untuk pembenahan konstruktif DeKaJe

Menanggapi permintaan Cimot, Cak Lipianto, Ketua DeKaJe Ledokombo mengatakan bahwa kritik yang membangun mutlak dibutuhkan untuk kebaikan organisasi dan kerja-kerja yang dilakukan.

“Kalaupun saya mengkritik, misalnya terkait pengusulan seniman yang dapat tali asih dan apresiasi dari pemerintah provinsi, itu semata-mata agar mekanismenya transparan. Dan, agar DeKaJe tidak salah mengusulkan. Maksudnya, agar para seniman yang mendapatkan tali asih, jangan sampai terus menghilang dan tidak berkontribusi apa-apa terhadap usaha pengembangan seni Jemberan. Tentu, kita semua jadi malu kalau seperti itu. Sebagaimana kita ketahui bahwa ada seniman yang sudah pernah mendapatkan tali asih tetapi saat ini yang aktif berapa, patut kita pertanyakan. Itulah yang saya maksudkan dengan kritik membangun,” ujar Cak Lipiyanto dengan semangat.

Menanggapi kritik Cak Lipiyanto, baik Kang Eko maupun Cimot mengatakan bahwa untuk saat ini mekanisme pengusulan seniman berprestasi ke provinsi sudah dibuat berjenjang. Artinya, pengurus DeKaJe akan berkoordinasi dengan pengurus DeKaJe kecamatan apabila ada permintaan dari Disparbud. Setelah itu, usulan akan digodok di rapat pengurus atas persetujuan anggota dewan pakar. Hasil final itulah yang diusulkan kepada Disparbud. Soal keputusannya, ya diserahkan ke pihak provinsi.

Pak Slamet Mintoyo, tengah, menyampaikan masukan terkait SABDA RAUNG

Hal itu berbeda dengan pengusulan tahun 2018. Waktu itu DeKaJe sudah mengusulkan 8 nama, termasuk Cak Lipiyanto dan Kang Arjes. Sayangnya, pihak Disparbud meminta jatah 4, jadi beberapa nama yang diusulkan DeKaJe terpaksa dicoret. Untuk tahun 2019, Disparbud hanya meminta 1 jatah sehingga DeKaJe bisa mengusulkan 7 seniman yang akan mendapatkan tali asih dari Gubernur Provinsi Jawa Timur. Untuk tahun ini, 7 seniman yang diusulkan oleh DeKaJe adalah: (1) Karyadi aka Kang Arjes (seniman jaranan dari Sari Budoyo Pangestu, Curahnongko); (2) Lipiyanto (seniman ludruk Rukun Trisno Ledokombo); (3) Cucuk Sudaryanto (pengrajin topeng dan barongan caplok, seniman jaranan Singo Gendeng Jember); (4) Sumari (seniman campursari Wahyu Budoyo); (5) Rino Nevi Andrean (seniman reyog Singo Muncul Pontang Ambulu); (6) Juma’i (seniman janger Toto Budoyo); dan, (7) Pak Lilik (pengendang lurdruk Mawar Muda dan lengger).

Menikmati lodheh tewel

Dengan model seleksi beberapa tahapan diharapkan seniman-seniman yang memang berhak mendapatkan akan mendapatkan haknya. Kang Eko dan Cimot juga kembali menekankan bahwa apresiasi dari Gubernur Jawa Timur merupakan satu tahapan proses kreatif yang harus mendorong para seniman untuk terus berkarya dan melakukan regenerasi. Para pelaku seni yang hadir pun bersepakat dengan apa-apa yang disampaika oleh pengurus DeKaJe.

Energi sayur lodheh tewel: Melampaui keinginan Bupati

Ketika diberi kesempatan untuk berbicara selaku anggota dewan pakar DeKaJe, saya menyampaikan beberapa hal yang harus menjadi bahan pemikiran untuk selanjutnya mengkristal sebagai amunisi untuk bertindak. Pertama, bahwa acara-acara yang dilakukan DeKaJe bukan sekedar ‘gebyar sesaat’ untuk menghabiskan anggaran yang disediakan pemerintah. Alih-alih, semua kegiatan DeKaJe membawa spirit dan ideologi keRakjatan yang menekankan kebersamaan dan keberdayaan para pelaku dan masyarakat. Selain itu, acara-acara DeKaJe sebisa mungkin terlibat dalam gerakan ekologis yang tengah menjadi isu global. Kesadaran komprehensif itulah yang harus selalu menjadi spirit dan keyakinan ideologis para pengurus dan pelaku seni.

Berembug dalam solidaritas

Kedua, Bupati Jember memang telah mencanangkan Jember kota wisata berbudaya pada tahun 2019. Namun, keinginan ideal tersebut tidak akan berarti apa-apa dan hanya menjadi “tong kosong nyaring bunyinya”, kalau tidak ada program yang benar-benar bisa mendongkrak nilai tawar kabupaten ini. Tentu saja kita bisa melihat kenyataan bahwa sampai saat ini Bupati dan dinas-dinas terkait belum menunjukkan kemampuan untuk membuat program yang bisa mengangkat pamor wisata sesuai yang ia inginkan. Beberapa pentas memang sudah dilakukan, tetapi rasa-rasanya hanya menjadi pentas biasa. Bupati sebenarnya bisa memberikan kepercayaan kepada DeKaJe untuk melanjutkan dan menambah program yang bisa mendongkrak kehadiran wisatawan. Sayangnya, itu semua tidak dilakukan. Padahal DeKaJe sudah membuat cetak biru kegiatan budaya yang bisa ditautkan dengan kepentingan wisata, meskipun lebih dari 20 kegiatan yang ditawarkan berorientasi kepada gerakan kultural berdimensi pemberdayaan seniman dan masyarakat serta mengusung kampanye ekologis.

Para perempuan seniman pun masih asyik dalam rembugan

Menurut saya, biarkanlah Bupati dengan tindakannya, pengurus DeKaJe tidak boleh cengeng. Sebaliknya, mari tunjukkan solidaritas dan sinergitas untuk terus bergerak dan bekerjasama dengan para seniman Rakjat agar bisa terus berkontribusi terhadap pemajuan kebudayaan Jemberan melalui program-program yang terukur dan tekonsep dengan baik. Toh, selama kepemimpinan Kang Eko, DeKaJe juga sudah terbiasa berjuang, ‘berdarah-darah’, untuk semua menyukseskan program-program besar yang melibatkan ratusan seniman Rakjat. Kita juga sudah terbiasa tidak mendapatkan anggaran tetap dari Bupati sehingga kegiatan-kegiatan harus dicantholkan ke dinas terkait. Kita juga sudah terbiasa tidak mendapatkan dana operasional meskipun Bupati memberikan SK. Dengan semua fakta itu, jangan pernah menyerah dan kendur, jangan pula menjadi pengurus yang cengeng. Cukuplah Tuhan dan semesta Jember memberikan kekuatannya untuk semua gerakan kebudayaan yang dijalankan DeKaJe.

Pak Nimin alias Pak Dayat, seniman ludruk

Ketiga, soal di kemudian hari Bupati dan dinas-dinas terkait ‘melirik’ atau tidak kegiatan-kegiatan DeKaJe, itu persoalan lain yang tidak sepatutnya terlalu diributkan. Namun, kita tidak boleh melupakan dan mengabaikan bahwa Bupati dan dinas-dinas terkait sesuai amanah UU Pemajuan Kebudayaan memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk mengembangkan dan memajukan budaya lokal. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa yang harus dipikirkan itu bukan hanya budaya Pandhalungan yang dipaksakan menjadi identitas Jember. Mengapa? Karena Jember ini memiliki kekayaan budaya di mana Pandhalungan hanya menjadi bagian kecilnya. Jadi lucu saja ketika yang kecil mau dipaksakan menjadi identitas budaya warga Jember. Pengembangan budaya di Jember sudah seharusnya memperhatikan keragaman etnis, agama, dan budaya yang benar-benar ada di masyarakat. Kalau Bupati dan dinas-dinas terkait kita pandang lalai terhadap UU tersebut, tentu ada mekanisme dan gerakan yang dilakukan para seniman.

Pak Juma’in, seniman Janger Panti setia sampai akhir acara

Maka, berbekal komitmen, solidaritas, dan kebersamaan untuk terus bergerak, sudah sepatutnya pengurus DeKaJe dan seniman Rakyat serta masyarakat terus mengembangkan beragam kegiatan kultural yang sederhana tetapi bisa menciptakan aura dan energi positif. Seperti sederhananya sayur lodheh tewel  yang mampu membangkitkan kebersamaan dan kekuatan untuk saling memahami dan memunculkan simpati sehingga kita bisa terus berkarya untuk budaya Jemberan. Sekali gedruk sudah dihentakkan di atas bumi Jember, terus bergerak dan berkarya adalah pilihan wajib yang harus dijalankan.  

Ikwan Setiawan, peneliti Matatimoer Institute, dosen Fakultas Ilmu Budaya UNEJ, anggota dewan pakar DeKaJe


[1] Kontes adalah sebuah istilah untuk salah satu pagelaran dalam pertunjukan ludruk yang diisi dengan gelaran nyanyi. Para penyanyi menghibur penonton dengan menyuguhkan lagu-lagu Banyuwangian, Madura, campursari, dan dangdut. Mereka diiringi kibor, ketipung/kendang, gitar bass. Para penonton akan naik ke panggung dan nyawer para penyanyi. 

[2] Sebagai penggagas acara, saya menolak penggantian nama itu pada tahun 2018. Alasan Bupati bahwa tidak banyak warga yang tahu istilah “Romansa” dan lebih mengenal istilah Festival adalah sesuatu yang kurang tepat. Alasan pertama menolak perubahan nama itu adalah bahwa tidak benar masyarakat kurang mengenal istilah “Romansa”. Generasi muda pastilah pernah mendengar istilah itu. Kedua, sebagai acara kultural-ekologis, program ini juga ditujukan untuk alumni perguruan tinggi di Jember yang pernah merasakan romantika mandi di Kali Bedadung ketika musim kemarau ataupun pernah mendengar mitos-mitos seputar sungai ini. Misalnya, cerita tentang mahasiswa yang mandi di sungai ini akan berjodoh dengan orang Jember atau, setidaknya akan mendapatkan jodoh di Jember. Diharapkan mereka akan tertarik dan mau berkunjung ke acara. Ketiga, saya menolak label “festival” karena Banyuwangi sudah terlebih dahulu mengambil branding itu dan kabupaten tersebut sudah mendapatkan pemberitaan nasional dan internasional.

[3] Alasan penolakan adalah karena warga pengelola Pantai Payangan menerapkan tarif parkir yang sama kepada para seniman yang terlibat dengan BSJB I dan II dengan pengunjung lain. Padahal mereka butuh beberapa kali latihan di kawasan pantai sebelum hari H. Tentu itu cukup memberatkan. Hal serupa juga dialami panitia di mana mereka harus membayar parkir mobil dengan tarif Rp. 30.000 sekali parkir. Selain itu, perilaku beberapa oknum pengelola yang meremehkan DeKaJe—bahkan, dalam postingan di media sosial malah menghina institusi ini—membuat para seniman marah. Mereka marah karena DeKaJe yang selama ini sudah mem-bersama-i mereka dalam banyak kegiatan difitnah sembarangan oleh oknum pengelola Payangan. Atas keberatan para seniman dan kendala keuangan, DeKaJe memutuskan menunda pelaksanaan BSJB III sampai dengan waktu yang ditentukan berdasarkan kesepakatan dengan para seniman dan pihak-pihak yang akan terlibat.

Share This:

About Ikwan Setiawan 167 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*