Pertunjukan SALBHI: Mengurai poros semiotik dan lapisan diskursif dalam mekanisme ke(tidak)beraturan (bagian 3-habis)

IKWAN SETIAWAN

Resistensi menjelang akhir

Pada adegan berikutnya, perempuan 1 dan perempuan 3 dengan gerakan-gerakan teatrikal yang sama. Kesamaan ini bisa dibaca sebagai solidaritas dan kekompakan subjek perempuan dalam menjalani kehidupan, khususnya persoalan-persoalan terkait ketidaksetaraan jender yang masih berlangsung dalam masyarakat patriarkal. Diakui atau tidak, ketidaksetaraan jender menjadi akar bermacam permasalahan menyedihkan yang dialami subjek perempuan. Dalam kondisi demikian, pilihan untuk menumbuh-kembangkan solidaritas bisa memunculkan kekuatan ketimbang harus berkompetisi sesama perempuan untuk mendapatkan perhatian laki-laki.

Perempuan 3 mengungkapkan secara reflektif apa-apa yang ia rasakan dan alami sebagai perempuan. Kesadaran reflektif ini tentu bukan sesuatu yang mudah. Namun, kalau kita perhatikan pada adegan-adegan sebelumnya, perempuan 3 sempat hadir dengan membawa buku, sehingga dia bisa diposisikan sebagai perempuan yang memiliki kecerdasan dan nalar kritis.  

“Mengetik kenangan di jendela yang ku tutup rapat. Membuat lintasan seperti bayangan dalam batu. Sebuah pagi aku antar dan ku persiapkan tanpa lelah sedikitpun. Perkara masih cukup dingin untuk kita peluk. Cukup bukan berarti menjadi genangan yang tersisa kenangannya. Kau menyengatku pada keadaan yang melipat kesengajaan sama seperti sengaja memakai pakaian tanpa kotoran kotoran ayam.”

“Menutup rapat jendela” berarti menjadikan peristiwa yang pernah ia alami tidak diketahui oleh orang lain. Ia “mengetik” semua peristiwa itu, menjadikannya prasasti yang tentu saja bisa dibuka setiap saat, ketika memang sudah saatnya dibuka. Ia sudah menyiapkan dan akan mengantarkan ingatan itu tanpa lelah sedikitpun. Dinginnya pagi dan rintangan-rintangan lain tidak akan bisa melunturkan niat. Si perempuan sadar dan ingat sepenuhnya bahwa subjek lelaki—in absentia—melakukan tindakan yang menyakitkan secara sengaja karena ia memang lebih superior. Peristiwa itulah yang selalu ia ingat dan pada akhirnya hendak ia sampaikan. Tidak semua subjek perempuan yang mengalami permasalahan mau terbuka. Tentu, masing-masing pihak memiliki pertimbangan dan reasoning untuk menyimpannya. Meskipun demikian, subjek yang tidak mau speak up kepada publik bukan berarti ia sepenuhnya dan selamanya diam. Selalu ada kemungkinan untuk melakukan resistensi, meskipun hanya melalui ingatan yang diketik atau ditulis. Itu sudah menjadi keberanian tersendiri. Bahasa tulis akan diingat sebagai monumen testimoni yang menjadikan subjek perempuan ada.

Keberanian membuat testimoni disambut dengan solidaritas antarperempuan. Perempuan 3 dan perempuan 1 mendorong lelaki 2. Kita memang tidak menemukan lelaki 2 sebagai penindas, tetapi kehadirannya bisa menjadi simbol yang melengkapi logika teatrikal resistensi yang dilakukan kedua subjek perempuan. Mereka berdua mendorong subjek lelaki ke sudut panggung untuk meudian berteriak. Teriakan bisa dibaca sebagai ekspersi kemarahan, keberanian, dan, sekaligus, kemenangan. Adapun lelaki 3 tidak bisa berbuat apa-apa selain menendang tong keluar arena pertunjukan. Segala kesombongan akan superioritas fisik dan nalar harus menyingkir dari medan permainan ketika perempuan bersolidaritas dan melawan. Solidaritas dan kekompakan mereka ekspresikan lagi melalui pernyataan bersama-sama:

Kini, 126 jam dalam sebulan kuhabiskan mengaduk kopi, laki-laki tidak boleh terlalu berhati-hati daripada perempuan yang wajib berbahaya. Kau boleh pasangkan busa di dadanya, sobek celananya, transgender kelaminnya. Jika pasanganmu tidak mampu mewujudkan keinginannya. ( diulang 3 kali)

Para perempuan itu mengakui bahwa mereka mengaduk kopi 126 jam selama sebulan atau 4,2 jam setiap harinya. Tentu ini merupakan sebentuk hiperbolaisasi dari rutinitas yang mereka lakoni dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas menyiapkan kopi—dari memasak air hingga menyeduh dan mengaduknya—paling lama membutuhkan waktu 10 menit. Dengan penggambaran hiperbolik tersebut, penonton diajak masuk ke dalam dunia perempuan yang dibebani rutinitias melayani lelaki. Meskipun demikian, mereka bukanlah subjek pasif. Ketika perempuan sudah mampu menggunakan nalar kritis dan memaksimalkan solidaritas, mereka “wajib berbahaya”, meskipun lelaki disarankan “tidak boleh terlalu berhati-hati”. Tidak boleh terlalu berhati-hati memang indikasi bahwa mereka bisa saja grusa-grusu, gegabah, semaunya sendiri, dan indikasi kelelakian lainnya. Namun, ketika perempuan wajib berbahaya, wacana yang mengindikasikan kekuatan menyeruak. Dalam kondisi demikian, mereka bisa mengejek pasangan lelakinya dengan memasangkan “busa di dadanya”, “sobek celananya”. Mungkin dia lebih pantas menjadi lelaki transgender. Itu semua bisa dilakukan ketika perempuan sebagai pasangan lelaki tidak bisa mewujudkan keinginannya.

Kalau dibaca secara sekilas, makna dari pernyataan yang diulang sampai 3 kali tersebut tampak menegaskan bahwa lelaki superior itu harus menjadi lelaki tulen, lelaki yang bisa mewujudkan keinginannya. Namun, kita harus ingat bahwa peristiwa yang dihadirkan adalah kekuatan dan keberanian subjek perempuan untuk melakukan perlawanan melalui penghinaan kepada subjek lelaki. Ketika para lelaki masih saja membatasi atau mengekang para perempuan dalam mendapatkan impian dan keinginannya, saat itulah mereka sebenarnya tak berdaya dan tidak hebat sebagai lelaki. Maka, lebih baik bagi mereka menjadi transgender. Apa yang harus dikritisi adalah pengungkapan istilah “transgender” yang terasa membawa beban stigma dan sekedar memudahkan nalar teatrikal dengan meminjam istilah publik untuk melabeli lelaki yang kurang kelelakiannya. Menurut saya, sampai di titik ini, pertunjukan ini tidak seharusnya mengusung bias terkait transgender ke atas panggung karena masih banyak idiom-idiom lain terkait persoalan lelaki dan perempuan di ranah publik.

Ketika para perempuan itu membuat pernyataan, lelaki 2 hanya mampu bergerak-gerak di sudut panggung dan kemudian keluar sambib berbicara sendiri, “masih makan, masih minum”. Ungkapan itu dilontarkan sebagai bentuk kekagetan dan pengakuan bahwa perempuan-perempuan itu masihlah manusia biasa, bukan makhluk lain. Dalam nalar patriarki, perempuan adalah makhluk lemah yang harus dididik, diarahkan, dan, selanjutnya dikuasai. Tidak boleh perempuan menyamai lelaki, apalagi mengejek dan menghina. Itulah mengapa si lelaki sampai terheran mendengar keberanian kedua perempuan tersebut. Memilih untuk meninggalkan panggung adalah ekspresi kejengkelan yang tidak bisa dilampiaskan kepada kedua subjek perempuan. Suara bambu dibanting adalah sebuah usaha untuk menegaskan bahwa segala hal yang tampak alamiah—sepertihalnya bambu—dan dilekatkan ke dalam sistem dan tindakan sosial masyarakat sudah tidak bisa dipertahankan lagi karena akan muncul kritik dan perbaikan dari subjek yang secara genealogis dikalahkan. Munculnya doksa-doksa baru dalam kesadaran kaum perempuan akan memberanikan mereka untuk memaknai-kembali dan kemudian meresistensi kepatutan dan kewajaran dari penindasan dan ketidaksetaraan yang berlangsung.

Pada adegan berikutnya, perempuan 1 menyampaikan pernyataan personal. Tidak seperti sebelumnya, perempuan 3 memilih duduk di bawah.

“Selamat malam yang tak pernah guru selamatkan. Kata hanya terpendam saat itu, aku meniduri kesedihan setelah berita-berita koran beredar. Aku nampak keriput saat kau menyapaku dengan nada salah. Tolong, jangan kau ulangi kata yang membakar menipis pantat dekilmu. Ujian masih berlangsung di jam nol-nol. Lututmu baru saja tenggelam lalu bercerita, tebakan apa yang kau inginkan? Aku hanya berduka di pojokan masjid kecil dan menggegam sebuah peluru. Sebuah nilai hanya untuk yang berhasil meminta rayuan. Desahan-desahan prematur masih berlarian di ujung lidahmu. Seperti ibu rayap yang kebingungan saat anaknya kelaparan. Lalu, pantaskah hujan turun saat itu? Hei, pekerti budi manusia gagal, terima kasih mengucap kasih yang diterima. Kau tetap mencintaiku sebrutal Hercules memukul aparat”.

Kalau dibaca sekilas, pernyataan di atas tidak memiliki ketunggalan topik. Namun, kalau kita perhatikan lagi melalui beberapa ungkapan kunci yang bisa kita gunakan untuk membedah makna dan wacana yang dikonstruksi. Ungkapan seperti “selamat malam yang tak pernah guru selamatkan” kalau dipahami secara semiotik bermakna ucapan yang diucapkan seorang perempuan sebelum tidur, tetapi ada hal lain yang mengusiknya karena guru tidak pernah bertutur tentang beragam masalah yang dihadapinya ketika melakoni rutinitas menjelang tidur atau sewaktu tidur. Sudah menjadi kewajaran, bahwa ucapan “selamat malam” memang ditujukan agar subjek yang dikenai salam. Namun, bagi perempuan 1 hal itu berkebalikan. Salah satu yang menghadirkan masalah adalah “nada salah” yang digunakan lawan bicara untuk menyapanya dan menjadikannya “nampak keriput”. Apakah yang disebut “nada salah”? Bisa jadi cara pengucapan salam yang tidak tepat, perlakukan subjek lelaki ke subjek perempuan yang tidak manusiawi (?), atau mungkin kengerian yang mengancam, sehingga si perempuan “nampak keriput”. Ungkapan nampak keriput berarti tidak benar-benar keriput sehingga bisa ditafsir bahwa ada kejadian tertentu yang menjadikannya demikian.

Kalimat berikutnya, “ujian masih berlangsung di jam nol-nol”, mempertegas peristiwa yang menjadikan si  perempuan 1—dan juga banyak perempuan lain—mengalami peristiwa yang mungkin menyenangkan lelaki, tetapi tidak bagi perempuan. Ketika “lutut lelaki baru saja tenggelam”—karena adegan-adegan tertentu dalam bercinta, misalnya—si perempuan “hanya berduka di pojok masjid kecil dan menggenggam sebuah peluru”. Apa yang dilakukan lelaki membuatnya berduka. Namun, apa yang menarik adalah bahwa dalam dukanya dia menggenggam peluru. Keberadaan peluru merupakan kekuatan untuk bertindak. Artinya, meskipun dia merasakan perlakuan yang menyiksa, pada satu titik, subjek perempuan masih memiliki kekuatan yang cukup menentukan, termasuk untuk mengendalikan permainan dan menjadikan subjek lelaki. Dengan tegas ia mengatakan bahwa semua desahan si lelaki bersifat prematur; sebuah ekspresi ketidakkuatan. Si lelaki tidak ubahnya “ibu rayap” yang cukup bingung ketika anaknya kelaparan. Si lelaki bingung karena sebenarnya dia tidak memiliki kesempurnaan. Maka perempuan 1 mengibaratkan si lelaki mencintainya seperti Hercules memukul aparat. Ia memang kuat, tetapi sebenarnya tidak berdaya karena subjek yang ia sakiti memiliki kekuatan lebih.

Sampai dengan ucapan di atas, kita bisa menemukan wacana “perempuan yang bisa mengendalikan permainan yang seolah-olah dikendalikan lelaki”. Untuk mempertegas wacana tersebut, perempuan 1 dan perempuan 3 memanfaatkan drum bekas sebagai poros semiotik yang harus mereka tabrak: kemapanan dan kekuatan lelaki yang harus dikacaukan, dilemahlan, dan dikendalikan secara tegas. Tong bekas merupakan penanda kemapanan dan kekuasaan lelaki dalam kehidupan. Dan, ketika para perempuan menemukan ketidakberesan, mereka bisa melakukan aktivitas atau ungkapan dekonstruktif yang seolah-olah mendukung pihak dominan, tetapi sebenarya memperlemahnya dari dalam mekanisme internal terkait ketidakberesan yang mereka miliki.

Ketika kedua perempuan tersebut keluar, lelaki 1, 2, dan masuk ke arena permainan dengan membawa tong. Ada sebuah usaha untuk merebut kuasa atau otoritas yang dilemahkan oleh para perempuan. Bahwa tong adalah dunia mereka; dunia lelaki yang mengandalkan kekuatan fisik untuk membangun negeri. Lelaki berkata: “kembalikan sisa kenangan yang tersisa di saku bajumu”. Ungkapan ini sangat familiar ketika seseorang sedang tertimpa masalah hati, sementara banyak kenangan telah tercipta. Bahkan tersimpan di ruang privat, “saku baju”. Rupa-rupanya, si lelaki 1 sedang menghina dirinya sendiri dengan mendekonstruksi semua kekuatan dan kelebihannya sebagai lelaki. Mengapa? Karena ia masih mencari kenangan, sementara kenyataan yang lebih beragam ada di depan mata. Hidup dalam kenangan menandakan kelemahan subjek lelaki yang sangat jauh dari kebenaran umum dalam masyarakat patriarkal. Maka, apakah sejatinya lelaki bisa mengendalikan permainan dengan kekuasaan dan keutamaan yang mereka peroleh? Pertanyaan ini terjawab dengan lembut dalam konsep “kenangan” tersebut.

Lelaki 2 memilih untuk menghadirkan kebajikan dalam memandang hubungan cinta dengan perempuan. “Menjadi kekasihku hanya akan menjadi beban di kota perantauanmu” menjelaskan bagaimana ia menyarankan secara bijak kepada perempuan yang punya keinginan dan impian besar dengan merantau. Bisa jadi, ungkapan ini dimaksudkan untuk menegaskan sikap dan pikiran lelaki yang memberikan keleluasaan bagi subjek perempuan memaksimalkan perjuangannya tanpa harus direcoki urusan cinta dan kekasih yang memang seringkali merepotkan. Lelaki 2 rupa-rupannya masih menggunakan pandangan umum bahwa ketika mengalami masalah cinta, subjek perempuan bisa benar-benar tak berdaya. Padahal dalam konteks kekinian, stigma tersebut tidak bisa lagi digeneralisasi. Namun, ungkapan ini memang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa sebagai subjek rasional, lelaki juga bisa melakukan tindakan yang membebaskan perempuan dari rutinitas yang menjenuhkan di ranah domestik.

Adapun lelaki 3 mengungkapkan “kelas kecil selalu memagari pola-pola manusia” untuk memfokuskan pemahaman filosofis manusia bahwa mereka yang berada dalam ruang kecil-terbatas akan mendapatan batasan-batasan dalam berpikir dan bertindak. Ketika seorang subjek dibesarkan dengan dogma-dogma di keluarga atau di ruang pendidikan yang cukup membatasi kebebasan berpikir, misalnya, akan berimplikasi kepada bagaimana cara pandang yang ia sematkan dalam memahami masalah-masalah tertentu. Lihatlah lelaki 1 sebagai bukti susahnya kalau pikiran dibatasi oleh banyak norma. Ketika merasakan kenangan yang beragam dengan perempuan, maka ia akan merengek untuk meminta kembali kenangan. Maka, tindakan lelaki 2 dan 3 mengangkat dan memasukkan lelaki 1 bisa dibaca sebagai tindakan ideologis agar dia tidak terus merengek meminta kenangan; sebuah tindakan yang bisa memperburuk kelelakian. Apakah dengan demikian lelaki 2 dan lelaki 3 bisa dianggap sebagai pendukung patriarki? Iya ketika kita membaca semua yang dilakukan lelaki 1 adalah pelecehan terhadap rasionalitas dan superioritas lelaki; karena lelaki 1 tetap tidak semestinya berada dalam kecengengan.

Apa yang patut dicermati adalah kesadaran genealogis pada diri lelaki 1 bahwa ketika ada “lahan luas” maka manusia bisa “terbentur ke kanan dan ke kiri”. Namun, ketika semua serba terbatas, maka jangan berharap akan terbentur. Lahan luas merupakan penanda dari kemampuan, keberlimpahan, kemakmuran, kemungkinan yang selalu terbuka lebar. Terbentur bukanlah sesuatu yang negatif, tetapi keleluasaan untuk bergerak ke kanan atau ke kiri, sehingga bisa mendapatkan kemungkinan-kemungkinan yang menguntungkan. Dengan mengucapkan pernyataan tersebut, lelaki 1 sedang mengkritisi dirinya sendiri yang berasal dari keterbatasan ruang—termasuk ruang kelas kecil—sekaligus menggugat genealogi keadaan yang menjadikannya harus menghadapi dan mengakrabi banyak batasan, sehingga pikirannya pun tidak bisa meluas; terjebak dalam kenangan.  

Testimoni di sebuah akhir

Pada adegan akhir pertunjukan, penonton disuguhi beberapa peristiwa yang melibatkan beberapa tokoh. Pada peristiwa pertama, lelaki 3 dan perempuan 2 membawa-masuk tong, gitar, dan gambor. Masuknya kedua tokoh tersebut diikuti alunan musik romantis. Ada atmosfer damai yang dihadirkan, meskipun benda-benda semiotik tersebut pada awalnya menghadirkan beragam makna dan wacana. Namun, atmosfer damai tersebut sedikit diinterupsi oleh adegan kedua tokoh yang bermain “dorong-dorongan” gitar. Adegan ini bisa lebih tampak seperti 2 anak yang mendapatkan mainan baru dan saling berebut. Pemaknaan ini menjadi titik masuk untuk melihat bagaimana wacana terkait subjek dan identitas yang dibentuk oleh otoritas, masyarakat, dan budaya yang mengeliling lelaki 3 harus dimaknai-ulang; seperti  anak yang baru dilahirkan dan mendapati kemurnian dalam dirinya setelah mengalami fase-fase katarsis.

Berikut pernyataan lelaki 3 dengan posisi tubuh di belakang tong yang disaksikan perempuan 2.  

“Aku memutuskan mengganti namaku sepihak, aku memutuskan tubuhku lenyap, aku memutuskan tekad berujung kegagalan, aku memutuskan berkepala buku, aku memutuskan berfilosofi-filosofi, aku memutuskan berideologi-ideologi, aku memutuskan karma yang menimpa, aku memutuskan tangisan darah, aku memutuskan menghutang hak-hak asasi, aku memutuskan kesaksian memori, aku tumbuh… aku tumbuh dari tangisan-tangisan menjijikkan, aku tumbuh mati-matian pada kebebasan…” (Perempuan 2 menyiram kepala lelaki 1 dengan air yang berasal dari gambor).

Dengan tegas lelaki satu membuat sebuah testimoni multidimensional terkait identitasnya sebagai subjek dalam kehidupan. Kita tidak mendapatkan “penjelasan historis”—mungkin ini dianggap tidak penting oleh penulis naskah yang katanya kroyokan itu—mengapa lelaki 3 sampai membuat testimoni seperti itu. Mari kita perhatikan satu demi satu pernyataannya. “Aku memutuskan mengganti namaku sepihak” merupakan ekspresi kultural yang tidak membutuhkan kesepakatan dari keluarga ataupun orang-orang terdekat karena keputusan itu mutlak haknya. Mengapa demikian? Bisa ditafsir karena ada perjalanan historis yang cukup menjengkelkan ataupun menyakitkan selama dia menjadi subjek yang berada dalam medan ideologis bermacam pengetahuan, budaya, dan kepentingan.

Namun, keputusan itu bukanlan keputusan tunggal, tetapi multi, plural. Bahwa satu subjek bisa melakukan banyak keputusan yang terhubung dengan banyak fragmen orientasi. “Aku memutuskan tubuhku lenyap” dan “aku memutuskan tekad berujung kegagalan” adalah contoh rangkaian keputusan setelah ia memutuskan mengganti nama sepihak. Ia merdeka untuk memasuki banyak dunia yang ia sadari secara mandiri. Ia bisa memutuskan tubuhnya lenyap yang menghadirkan ketiadaan sempurna tanpa mengkhawatirkan eksistensi diri yang sebenarnya. Bukankah tubuh secara mandiri memang telah lenyap ketika mereka menjadi display berjalan bermacam produk busana trendy atau ketika ia dijadikan tak berdaya oleh ekspansi bermacam produk wewangian tubuh? Dengan demikian tubuh telah masuk ke dalam mesin akumulasi keuntungan komersial yang tidak menguntungkan diri si empunya. Dalam kondisi demikian, bukankah tubuh memang lenyap? Pembacaan serupa juga bisa diterapkan untuk memaknai “tekad berujung kegagalan”. Dia dengan sadar akan menemui banyak halangan dan rintangan ketika menumbuhkan tekad sesuai dengan keindingan idealnya. Ketika tekad itu berhadapan dengan realitas, seperti kemiskinan, subordinasi sosial, kelemahan posisi politiko-ideologis, serta otoritas penguasa dan budaya, subjek lelaki 3 sudah bisa memahami kegagalan yang selalu siaga untuk meng-ada. Namun, sekali lagi keputusan itu adalah kemerdekaannya.

Sementara, ungkapan “aku memutuskan berkepala buku-buku,” “aku memutuskan berfilosofi-filosofi”, dan “aku memutuskan berideologi-ideologi” adalah keputusan eksistensial terkait pencerahan hidup yang ia harapkan. Buku, bagaimanapun juga, merupakan simbol kecerdasan dan pengetahuan yang dengannya manusia bisa berjuang untuk mendapatkan capaian-capaian strategis. Kehadiran buku diperkuat dengan keputusan untuk “berfilosofi-filosofi” agar bisa memikirkan dan menelaah persoalan kehidupan secara radikal, mendalam dan seutuhnya. Ketika capaian pencerahan dan filosofis didapatkan, tahapan “berideologi-ideologi” menjadi kemutlakan dalam meyakini dan mempraktikkan orientasi ideal dalam kehidupan. Poros buku-filosofi-ideologi menjadi struktur eksistensial yang sejatinya bisa mengantarkan subjek manusia ke dalam pengembaraan pengetahuan dan praksis yang berangkat dari kematangan pikir.

Namun, kenyataan dramatik menegaskan bahwa keputusan-keputusan tersebut belumlah berakhir. Dari keputusan yang begitu rasional, lelaki 3 memasuki keputusan yang bersifat mistis, “karma yang menimpa”. Bagi manusia rasional, karma bukanlah konsep ideal yang harus dimunculkan dalam ranah akademis ataupun perbincangan filosofis. Meskipun demikian, bagi lelaki 3, keputusan terkait karma yang menimpa menjadi bentuk perayaan kebebasan yang tidak harus selalu dipikirkan secara logis, tetapi bisa dibawa masuk ke dalam peradaban arkaik ketika modernisme belum berkuasa. Kenyataannya, pada masyarakat kontemporer, kehadiran karma belumlah hilang sepenuhnya. Pada titik tersebut, subjek lelaki 3 hanya berusaha menghadirkan kenyataan yang masih saja beredar di masyarakat meskipun mereka mengaku sudah menjadi modern. Adapun ungkapan “aku memutuskan tangisan darah” tidak jauh berbeda dengan konsep karma. Sebagai subjek patriarkal yang terbiasa dengan logika, toh lelaki 3 tidak mau memutuskan membuang hadirnya “tangisan darah” yang sangat manusiawi dan bersifat batiniah tersebut. Maka, karma dan tangisan darah menjadi subversi terhadap pikiran dan tindakan modern yang mengikat lelaki. Semodern dan sekuat apapun lelaki, mereka adalah manusia yang juga berhak memutuskan karma atas tindakan-tindakan jahat terhadap sesama dan memutuskan untuk menangis darah terkait penyesalan ataupun kesedihan.

Bahkan, keputusan individual juga berkaitan dengan hal-hal jahat dalam nalar universial. “Aku memutuskan menghutang hak-hak asasi” adalah ekspresi atas kemerdekaan “menghutang” atas tanggung jawab akan hak asasi manusia lain. Itu bisa jadi karena nalar jahat yang bersemayam atas nama kepentingan partikular atau karena subjek melakukannya untuk bisa mempertahankan eksistensinya sebagai manusia. Alasan eksistensial tersebut bisa dilakukan oleh mereka yang berada dalam kondisi terdesak atau terhimpit oleh keadaan atau kekuasaan tertentu. Melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan prinsip universal hak asasi manusia memang bentuk kejahatan, tetapi akar masalah tidak bisa dilupakan. Dalam hal itu, kita bisa menafsir bahwa keputusan lelaki 3 bukanlah sekedar keputusan tanpa alasan karena bersanding dengan pilihan-pilihan lain. Baginya, biarlah “kesaksian memori” yang akan menilai semua tindakan dan keputusan yang telah dilakukannya.

Semua ekspresi pengakuan tersebut menjadi pengantar untuk membuat pernyataan reflektif yang lebih berani. “Aku tumbuh dari tangisan-tangisan menjijikkan” bisa dijadikan skema diskursif untuk menelusuri perjalanan atau kisah historis yang menjadikan subjek lelaki 3 memutuskan banyak keputusan yang kadang saling berkontradiksi dan saling melintasi seperti rasionalitas-mistisisme atau superioritas-kecengengan. Masalahnya, tangisan-tangisan menjijikkan itu tangisan siapa? Tangisan model apa? Sebagai manusia, tangisan-tangisan itu adalah tangisan orang tua, kerabat, sahabat, guru, dan orang lain yang merasakan kesedihan. Tangisan-tangisan itu bisa menjadi aparat yang selalu mengawasi pikiran dan tindakan kultural subjek manusia. Ketika subjek ingin melakukan hal-hal yang menurutnya ideal, orang-orang terdekat akan menangisinya karena dianggap tidak sesuai dengan norma agama, misalnya. Dalam kondisi demikian, tangisan mereka akan menjadi alat untuk merepresi keinginan individual, sehingga wajar kalau dianggap menjijikkan. Itulah mengapa pada ungkapan berikutnya, lelaki 3 mengatakan “aku tumbuh mati-matian pada kebebasan”. Baginya, kebebasan adalah perjuangan yang harus benar-benar diperjuangkan mati-matian, karena banyaknya batasan dan hambatan kultural dan politik di masyarakat. Bukanah pekerjaan mudah untuk menumbuhkan dan memelihara kebebasan berpikir dan bertindak.

Tindakan perempuan 2 menyiram kepala lelaki 3 sebelum keluar arena pertunjukan bisa dibaca dalam beberapa wacana. Pertama, air yang disiramkan perempuan merupakan “pendingin” dari panas dan rumitnya pikiran lelaki 3 terkait banyak keputusan dan perjalanan historisnya sebagai manusia. Kedua, air yang disiramkan subjek perempuan adaah sebuah restu terhadap pilihan dan keputusan yang dibuat, tetapi harus menimbang bermacam aspek yang akan dimunculkan. Kalaupun lelaki 3 mengambil keputusan untuk memperjuangkan kebebasan, itu semua harus dilakukan dengan kesadaran dan tujuan yang bisa memaksimalkan pikiran dan potensinya sebagai manusia. Bukan untuk melakukan tindakan-tindakan destruktif yang bisa merusak bumi dan merugikan manusia lain. Kedua wacana tersebut saling melengkapi dan bisa memberikan kekuatan baru kepada lelaki 3. Sampai di sini kita menjumpai posisi dan peran eksistensial perempuan dalam menentukan kematangan pikiran dan tindakan lelaki.  

Pada adegan akhir, lelaki 3 tetap duduk di tong, sedangkan lelaki 1 dan lelaki 2 masuk membawa ayam dan rokok. Apakah ayam dan rokok itu tanda bahwa mereka memutuskan-kembali pada tradisi patriarki setelah mengalami banyak peristiwa teatrikal? Bisa jadi demikian. Adu ayam jago di beberapa wilayah merupakan bentuk superioritas lelaki. Begitupula menikmati rokok sambil bercengkrama di warung kopi merupakan tindakan untuk merayakan otoritas lelaki yang tidak boleh diganggu. Mereka melakukan tindakan involutif dengan menghadirkan simbol kelelakian yang sebenarnya sudah usang. Sementara, perempuan 1, perempuan 2, dan perempuan3 berjalan di arena pertunjukan dengan membawa komputer jinjing. Capaian-capaian pencerahan, nyatanya, bisa dikendalikan oleh para perempuan karena mereka berpikir dan bertindak dalam alur dan logika modern yang selama ini diklaim sebagai otoritas lelaki. Ketika para lelaki sibuk dengan perayaan kemenangan dan superioritas, para perempuan melakukan lompatan-lompatan strategis sehingga mereka bisa mengendalikan peradaban dengan segala pernak-perniknya. Kendali tersebut cukup dari benda bernama komputer yang bisa melakukan banyak aktivitas peradaban.

Itulah mengapa lelaki 3 yang telah mengalami fase katarsis menuju pencerahan mengulangi perkataanya, “kelas kecil selalu memagari pola-pola manusia”. Sebuah sindiran diskursif sekaligus ideologis untuk pikiran dan tindakan lelaki berwawasan sempit seperti lelaki 1 dan lelaki 2 yang memilih untuk hidup dalam kemalasan patriarkal. Adegan mereka berdua saling “menabrakkan badan” dan “menjerit” ketika keluar dari arena pertunjukan sebelum lampu mati semakin menegaskan bahwa keterjebakan pada kenikmatan ataupun keributan terkait hal-hal sepele benar-benar menghancurkan semua wacana dan ideologi kelelakian yang dibanggakan dalam peradaban manusia.

Seluruh perjalanan dramatik yang tampak tumpang tindih dari pertunjukan Salbhi sejatinya bergerak dalam poros semiotik bambu-tong bekas pembakaran aspal-gitar dan varian benda lain seperti buku, karpet, dan gambor dengan beragam peristiwa yang menyusun lapisan-lapisan diskursif. Membutuhkan ketelitian dan kedetilan untuk membongkar konstruksi wacana, kuasa, dan resistensi yang berlangsung dalam banyak peristiwa. Dinamika teks dan pertunjukan yang begitu ramai dan berlapis secara teatrikal menuntut kesabaran untuk ‘mengupas’ agar bisa dipetakan, dikategorikan, dan ditelaah agar bisa menemukan kekuatan makna dan wacana pertunjukan ini. Setidaknya, kita bisa melihat adanya ketidakpuasan berujung resistensi terhadap segala hal yang sudah dianggap mapan, baik yang dihasilkan oleh pembangunan berbasis pengetahuan rasional, identitas, kuasa moralitas, ataupun kuasa-kuasa jender dalam kerangka patriarki. Struktur pertunjukan yang terkesan fragmentaris memang menjadikan wacana-wacana tersebut tampak terpisah satu sama lain atau bahkan tidak tampak sebagai perlawanan. Namun, sekali lagi, dengan kerangka poros semiotik dan lapisan diskursif, kita bisa menguraikannya.

Dengan demikian, ketidakberaturan teatrikal yang dirasakan oleh penonton dan disampaikan para pelaku dalam konsep “salbut” tidak menjadikan pertunjukan Salbhi kehilangan makna dan wacana yang disampaikan ke penonton. Dalam ketidakberaturan struktur teatrikal kita masih bisa menemukan keberaturan makna dan wacana karena selalu ada motivasi yang menggerakkan lahirnya penanda dan peristiwa dalam struktur. Motivasi itulah yang merangkai makna dan palisan diskursif yang distrukturkan dalam semua ketidakberaturan struktur teatrikal. Maka, se-eksperimental apapun sebuah pertunjukan, kita akan bisa menempukan makna, wacana, dan kepentingan kalau tidak buru-buru menyerah untuk membawa pengalaman menonton ke dalam ketelitian analisis.   

Pustaka acuan

Adorno, Theodor W. & Max Horkheimer. 1993. “The culture industry: enlightment as mass deception.” Dalam Simon During (ed). The Cultural Studies Reader. New York: Routledge.

Bhabha,Hommi K. 1994. The Location of Culture. London: Routledge.

Bordieu, Pierre. 1994. “Structure, Habitus, Power: Basis for a Theory of Symbolic Power”. Dalam Nicholas B.Dirk, Geoff Eley, & Sherry B. Ortner (eds).  Culture/Power/History: A Reader in Contemporary Social Theory. Pricenton: Pricenton University Press.

Hall, Stuart. 1997. “The Work of Representation”, dalam Stuart Hall (ed). Representation, Cultural Representation and Signifying Practices. London: Sage Publication in association with The Open University.

Foucault, Michel. 1998. The Will to Knowledge, The History of Sexualities Volume 1 (English trans. Robert Hurley). London: Penguin Books.

Foucault, Michel. 1989. The Archaeology of Knowledge (Terj. Inggris A.M. Sheridan Smith). London: Routledge.

Foucault, Michel. 1984. “Truth and Power”. Dalam Paul Rainbow (ed). Foucault Reader. New York: Panthean Books.

Foucault, Michel. 1981. “The Order of Discourse”, Inaugural Lecture at the College de France, 2 Desember 1976, dipublikasikan kembali dalam Robert Young (ed). Untying the Text: A Post-Structuralist Reader. Boston: Routledge & Kegan Paul Ltd.

Foucault, Michel. 1980. Power/Knowledge. Brighton: Harvester.

Merrel, Floyd. 2001. “Charles Sanders Peirce’s Concept of the Sign.” Dalam Paul Cobley (ed). Semiotics and Linguistics. London: Routledge.

Setiawan, Ikwan, Albert T., & Andang S. 2017. Merawat Budaya Merajut Kuasa: Identitas Using dalam Kontestasi Kepentingan. Yogyakarta: Diandra Kreatif bekerjasama dengan Matatimoer Institute.

Share This:

About Ikwan Setiawan 179 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*