Cambuk GEDRUK: Energi berkebudayaan dari Wuluhan untuk Jember

Kembali ke sini

Awal Juli 2000, saya memasuki aula Balai Kecamatan Wuluhan, Jember. Bangunan yang seluruhnya terbuat dari kayu tersebut—kecuali lantai—cukup memukau, menghadirkan suasana sederhana tetapi penuh keteguhan. Di balai itulah saya dan kawan-kawan mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) Universitas Jember berkumpul untuk mendengarkan arahan dari DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) dan Muspika (Camat, Danramil, dan Kapolsek). Setelah pengarahan, para mahasiswa dipimpin DPL melakukan pemilihan Koordinator Kecamatan (Korcam) yang akan bertugas mengkoordinasikan dan mengkonsolidasikan kegiataan KKN dalam lingkup kecamatan serta berkomunikasi dengan pihak Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPM) Universitas Jember terkait permasalahan-permasalahan yang menuntut sikap kelembagaan. Secara mufakat saya terpilih sebagai Korcam. Dengan sedikit bercanda, DPL, Drs. Arif Rijadi, M.Si. (dosen FKIP Universitas Jember), mengatakan bahwa salah satu alasan terpilihnya saya adalah karena di antara mahasiswa peserta KKN, sayalah satu-satunya yang gondrong. Saya pun hanya nyengir mendengar guyonan itu. Yang pasti, selama 3 bulan KKN di Wuluhan, saya dan kawan-kawan cukup menikmati; membaur dan berkegiatan bersama warga. Semilir angin laut yang melewati hadangan Gunung Watangan di selatan Desa Ampel menjadi warna sehar-hari dari gerak masyarakat keturunan migran Mataraman dan Ponorogoan yang begitu kami hayati.

Balai Kecamatan Wuluhan

2 Mei 2019, 19 tahun kemudian, saya dan beberapa pengurus Dewan Kesenian Jember (DeKaJe) di bawah kepemimpinan Dr. Eko Suwargono, M.Hum. (biasa dipanggil Kang Eko) bertandang ke Balai Kecamatan Wuluhan. Tidak banyak berubah. Warna kayu jatinya masih mengeluarkan aura keteguhan. Kesederhanaan balai ini masih begitu terasa. Yang lebih membahagiakan lagi, puluhan lelaki pelaku seni berpakaian hitam yang biasa dikenakan dalam pertunjukan reyog dan jaranan menyambut kedatangan kami dengan senyum bahagia serta energi keakraban yang begitu damai. Sementara, beberapa perempuan pelaku seni mengenakan pakaian kebaya menjaga meja daftar hadir. Kami segera membaur dan saling menanyakan kabar masing-masing. Tidak lupa beberapa pelaku seni melaporkan kesiapan acara “Pelantikan Pengurus Dewan Kesenian Jember Kecamatan Wuluhan”.

Mengantarkan energi berkebudayaan

Tidak lama kemudian, beberapa anak muda berpakaian kuning, menyiapkan seperangkat gamelan Banyuwangi. Beberapa sesepuh meminta mereka untuk segera mamainkan musik, menghangatkan suasana. Dengan penuh semangat mereka pun memainkannya. Tukang kendang menjadi ‘dirijen’ yang segera disambut penabuh kenong, gamelan, dan gong. Untuk lebih memberikan semangat dan energi, Bu Eko menembangkan lagu Banyuwangian. Inilah salah satu bukti dinamika budaya Jemberan di Kecamatan Wuluhan dan juga kecamatan-kecamatan lain. Para seniman itu masih menjalankan identitas etnis—Mataraman dan Ponorogoan—tetapi mereka tidak menolak kekayaan seni masyarakat lain. Meskipun masih meyakini dan menjalanan tradisi reyog, jaranan, dan wayangan, para pelaku seni di Wuluhan juga familiar dengan kesenian Banyuwangi.

Para pengrawit muda menghidupkan suasana

Sementara Kang Eko dan beberapa pengurus DeKaJe sedang menemani Ibu Deborah, Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember berdiskusi dengan Muspika, saya dan beberapa pengurus lainnya bersama para seniman menikmati sajian tari berbasis Banyuwangian yang diberi nama Gedruk. 5 penari muda menarikan gerakan-gerakan atraktif di sisi samping ruang pertemuan. Tanpa panggung mewah ala pertunjukan kota, mereka menari, menghibur sekaligus mengabarkan tumbuh dan bangkitnya energi berkebudayaan di Bumi Wuluhan. Beberapa pengurus DeKaJe, rupa-rupanya, tidak tahan untuk tidak segera nyawer. Bukan bermaksud apa-apa, tradisi nyawer dipahami sebagai bentuk apresiasi atas semangat para penari tersebut dalam melanjutkan tradisi berkesenian di tengah-tengah perubahan peradaban desa. Camat Wuluhan yang sudah berada di meja depan bersama Ketua DeKaJe, Danramil, Kapolsek, dan Ibu Deborah pun ikut memberikan saweran. Dengan muka bahagia, beliau juga menyemangati para penari muda tersebut. Tidak mau ketinggalan, Basis Wanto, Bendahara DeKaJe, juga mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna ‘biru’ dari dompetnya. Para pelaku seni pun bersorak-sorai melihat adegan-adegan saweran tersebut.

Para penari menyambut para tamu

Setidaknya, adegan-adegan di atas menyiratan adanya komitmen dan solidaritas untuk berkesenian dan berkebudayaan di Wuluhan yang melibatkan para pelaku, pengurus DeKaJe, dan aparat pemerintah. Tentu saja, kondisi ini bisa memberikan energi kepada para pelaku karena mereka mendapatkan empati dalam bentuk apresiasi yang diharapkan bisa ditindaklanjuti dalam bentuk perhatian konkrit berupa kebijakan-kebijakan praksis. Sinergi antara pelaku, pengurus DeKaJe, aparat pemerintahan, dan masyarakat merupakan kekuatan untuk menumbuhkan dan menyebarkan energi berkebudayaan.

Memperkuat komitmen

Sebagai wilayah yang dihuni keturunan migran dari wilayah Mataraman dan Ponorogoan serta sebagian kecil keturunan Madura (yang kebanyakan sudah berbahasa Jawa), desa-desa di Wuluhan—Dukuh Dempok, Ampel, Tanjungrejo, Kesilir, Lohjejer, dan Glundengan—memiliki kekayaan dan keragaman seni, seperti reyog, jaranan/jathilan, ludruk, hadrah, wayang, campursari, pencak silat, sholawatan, dan yang lain. Bahasa sehari-hari masyarakat adalah bahasa Jawa Kulonan. Ritual selametan yang berkaitan dengan siklus hidup juga masih dilakukan oleh mayoritas masyarakat Wuluhan, apapun agama mereka.

Para pelaku seni antusias mengikuti acara pelantikan

Selama ini para pelaku seni bergerak sendiri, karena tidak adanya kebijakan yang jelas dari pemerintah. Fakta ini bukanlah sesuatu yang aneh karena pasca Reformasi dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga pemerintah kabupaten belum ada kejelasan kebijakan budaya. Akibatnya, pemerintah kecamatan dan desa juga tidak memiliki panduan dalam membuat kebijakan yang bisa diterapkan untuk pengembangan budaya lokal. Diundangkannya UU Pemajuan Kebudayaan memberikan sedikit kegembiraan karena negara memberikan jaminan konstitusional untuk semua aktivitas objek kebudayaan, seperti kesenian. Sayangnya, tidak semua aparat pemerintah di tingkat kabupaten paham isi UU tersebut karena belum adanya sosialisasi secara komprehensif. Setidaknya, kehadiran DeKaJe ke wilayah kecamatan dan desa bisa memberikan penjelasan konkrit terkait usaha-usaha pemajuan kebudayaan. Apalagi Kang Eko beberapa kali diundang kementerian untuk acara Rembug Budaya di Jakarta yang bertujuan mendiskusikan usaha-usaha pemajuan kebudayaan di Indonesia.

Para perempuan pelaku seni bersiap di meja tamu

Pelantikan pengurus DeKaJe Wuluhan ini bisa menjadi salah satu usaha pemajuan kebudayaan. Karena dengan terbentuknya pengurus baru koordinasi dan konsolidasi untuk pemetaan  potensi, strategi pengembangan, dan permasalahan akan lebih mudah dilakukan. Dengan adanya koordinasi dan konsolidasi itulah diharapkan bisa muncul kegiatan-kegiatan yang memberdayakan. Sebagaimana disampaikan Eko Sucahyo, Ketua DeKaJe Kecamatan Wuluhan, wilayah ini memiliki kekayaan seni dan budaya yang belum banyak dikembangkan menjadi kegiatan-kegiatan menarik. Selama ini kegiatan yang dilakukan para seniman masih sebatas kegiatan rutin di komunitas seperti latihan dan kegiatan tanggapan di warga yang mempunyai hajatan. Berbekal kekuatan komunitas dan solidaritas, bermacam kesenian yang ada di Wuluhan bisa digerakkan untuk membuat atraksi yang berorientasi regional, misalnya, tanpa harus melupakan penguatan di tingkat komunitas.

Ketua DeKaJe memberikan sambutan

Menanggapi keinginan Eko Sucahyo, Kang Eko, Ketua DeKaJe, dalam sambutannya, mengatakan bahwa apapun pengembangan seni budaya yang digagas, harus berdasar pada pemetaan potensi di setiap kawasan. Kawasan Wuluhan, misalnya, kaya dengan ekspresi budaya Mataraman dan Ponorogoan, maka di wilayah ini harus ditata sedemikian rupa upaya regenerasi pada setiap kesenian. Kalau regenerasi sudah bagus, pengembangan berikutnya adalah membuat agenda budaya yang bisa mempertemukan para pelaku seni di Wuluhan, atau, bahkan, Jember. Namun, sebisa mungkin warna Mataraman dan Ponorogoannya kelihatan. Jadi, tidak bisa digebyah-uya, semua dilabeli pandhalungan. Adalah hal aneh ketika identitas budaya pandhalungan yang sampai sekarang masih debatable itu dijadikan identitas seluruh warga Jember yang beragam ini. Karena kenyataan di wilayah Wuluhan kedua identitas budaya itulah yang berkembang, maka kegiatan bersama yang dilakukan sebisa mungkin diarahkan ke penguatan kesenian atau ekspresi kultural lain yang menjadi bagian budaya Mataraman dan Ponorogoan.

Camat Wuluhan menyambut baik pelantian Pengurus DeKaJe Wuluhan

Camat Wuluhan, Akbar Winasis, S.E., M.Si., menyambut baik semua gagasan terkait pengembangan budaya Mataraman dan Ponorogoan. Dari informasi yang didengarkannya dari warga, dulu di Wuluhan pernah ada kegiatan budaya besar, sampai menutup jalan kecamatan. “Saya berharap dengan dilantiknya pengurus DeKaJe Wuluhan, bisa digarap event besar yang bentuknya bisa didiskusikan bersama. Event tersebut, selain bisa memperkuat komunitas, juga bisa memberikan kontribusi ekonomi kepada warga masyarakat, khususnya mereka yang berjualan pada saat acara.” Menanggapi permintaan Camat, para pelaku pun bertepuk tangan, tanda menyetujui dan mengapresiasi gagasan tersebut. Salah satu tokoh penggerak reyog di Wuluhan, Edy Suryanto, bertutur bahwa dulunya memang pernah ada kegiatan besar di Wuluhan, sayangnya berhenti selama beberapa tahun terakhir. Dia sangat setuju kalau para seniman dikumpulkan lagi dalam kegiatan bersama, sehingga solidaritas dan kebersamaan bisa terus ditumbuhkan. Selain itu, masyarakat juga bisa terus mengapresiasi dan mendukung kegiatan budaya di Wuluhan.

Cambuk GEDRUK

Setelah pelantikan pengurus DeKaJe Wuluhan, Kang Eko menyerahkan sebuah cambuk besar yang dinamai Cambuk Gedruk. Nama “gedruk” berasal dari gerakan GEDRUK JEMBERAN yang diluncurkan pada saat pertunjukan kesenian di Wonolangu, Panti, 27 April 2019. GEDRUK JEMBERAN merupakan jawaban DeKaJe atas pelarangan event SARTANJUNG GAYENG. Gerakan GEDRUK JEMBERAN berusaha menggalang solidaritas dan komitmen perjuangan para pelaku seni di kawasan pinggiran Jember. Gerakan ini ditandai dengan gelar seni budaya dan jagongan, diskusi terkait permasalahan dan pemajuan budaya Jemberan. Cambuk Gedruk merupakan simbol komitmen para pelaku seni, pengurus DeKaJe, aparat pemerintahan, dan warga masyarakat untuk ‘mencambuk’ diri agar mau melakukan gerakan kultural di seluruh wilayah Jember melalui kegiatan-kegiatan strategis.

Kang Eko menyerahkan Cambuk GEDRUK kepada Eko Sucahyo, Ketua DeKaJe Wuluhan

Tentu saja, para pelaku seni dan pengurus DeKaJe akan menjadi ‘jantung’ dari gerakan yang bergerak dari kecamatan dan desa ini. Cambuk adalah pelecut energi berkebudayaan yang bergerak dari ruang-ruang ekspresi yang selama ini diabaikan oleh pemerintah. Hal ini bukan dimaksudkan menggantungkan sepenuhnya pengembangan dan pemajuan kesenian dari uluran tangan pemerintah. Alih-alih, para pelaku dan pengurus DeKaJe akan selalu mengingatkan aparat pemerintah bahwa mereka memiliki tanggung jawab dan kewajiban berdasarkan UU Pemajuan Kebudayaan yang harus direalisasikan. Meskipun demikian, para pelaku dan pengurus DeKaJe tidak akan merengek-rengek ke aparat pemerintah. Kalaupun aparat tidak memberikan perhatian, biarkanlah hukum negara dan hukum alam semesta berjalan. Dengan adanya cambuk, para pelaku dan pengurus DeKaJe akan terus terlecut untuk terus-menerus mengalirkan energi berkebudayaan, apapun permasalahan yang terjadi. Prinsip jagongan  menjadi kekuatan komunal untuk menemukan solusi-solusi strategis dan taktis atas ragam permasalahan.

Mak NDON mengajak hadirin berdoa untuk perjuangan budaya

Sebagai agenda penutupan acara pelantikan adalah pembacaan doa oleh Suhatro, M.A., atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mak Ndon, anggota Dewan Pakar DeKaJe dan pemotongan tumpeng. Dalam doanya, Mak Ndon mengajak semua yang hadir memohon kebaikan kepada Sang Pencipta agar diberikan kekuatan dan kekompakan dalam perjuangan untuk memajukan budaya Jemberan. Selesai doa, Ibu Deborah sebagai perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan memotong tumpeng dan diberikan kepada Eko Sucahyo selaku Ketua DeKaJe Wuluhan. Pemberian tumpeng ini merupakan simbol untuk memulai gerakan budaya yang bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk pelaku seni dan komunitas serta memberikan hiburan sekaligus nilai-nilai bijak terkait kebersamaan dan identitas kepada warga masyarakat. Bersama-sama, para pengurus DeKaJe, para pengurus DeKaJe Wuluhan, Muspika, Ibu Deborah, dan para pelaku seni menikmati hidangan yang disediakan panitia sambil mendengarkan beberapa gending Jawa dan Banyuwangian. Atmosfer keguyuban benar-benar meruang di Balai Kecamatan.

Ibu Deborah menyerahkan potongan tumpeng kepada Eko Sucahyo

GEDRUK JEMBERAN diawali dari lereng Argopuro, Wonolangu Panti. Argopuro adalah salah satu situs bumi yang memberikan kontribusi besar bagi kehidupan warga Jember. Bentang wilayah perkebunan dan pertanian di Jember banyak berhutang kepada Argopuro. Dengan mengambil spirit bumi Argopuro diharapkan GEDRUK JEMBERAN akan memberikan kontribusi terbaik kepada pemajuan budaya Jemberan. Sementara, Wuluhan berdekatan dengan Segoro Kidul, Laut Selatan Jawa. Bahkan, Tanjung Papuma, salah satu objek wisata pantai terindah di Indonesia, masuk wilayah kecamatan ini. Dengan menyerap sepirit samudra yang mampu menghadirkan tantangan dan ancaman sekaligus keindahan dan kesempatan kepada manusia, para penggerak GEDRUK JEMBERAN akan terus berjuang untuk mengembangkan budaya Jemberan, apapun kesulitan dan permasalahan yang akan dihadapi. Kerja-kerja ke depan adalah kerja ideologis yang tidak cukup hanya menciptakan keramaian, tetapi juga kesungguhan dan komitmen untuk terus mengalirkan energi berkebudayaan di ruang-ruang pinggiran, hingga pada saatnya nanti akan menyapa jantung kota dengan kejutan-kejutan kreatif.   

IKWAN SETIAWAN, Dewan Pakar DeKaJe, Peneliti Matatimoer Institute, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Share This:

About Ikwan Setiawan 171 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*