Pertunjukan SALBHI: Mengurai poros semiotik dan lapisan diskursif dalam mekanisme ke(tidak)beraturan (bagian-2)

IKWAN SETIAWAN

Tong sisa pembakaran aspal lagi-lagi menjadi medium yang dimainkan oleh tokoh lelaki 1 ketika ia menyampaikan ‘sabda’-nya tentang tubuh dan seks. Tong sebagai salah satu bagian dari poros semiotik pertunjukan dilekatkan dengan pembentukan wacana tubuh dan seks karena maknanya yang tidak bisa dilepaskan dari praktik pembangunan yang berhasil mengubah banyak nilai dan praktik budaya. Perubahan sudut pandang tentang tubuh dan seks ikut berubah sejalan dengan perubahan budaya yang berlangsung dalam masyarakat. Dalam kondisi demikian, cacian akan praktik “hohohihe” merupakan kritik terbuka terhadap segala macam ideologi kesempurnaan tubuh yang nyatanya diakhiri dalam praktik persetubuhan. Segala capaian rasionalitas sebagaimana diagungkan oleh manusia-manusia berdimensi-pembangunan memang tidak bisa dipungkiri telah memberikan banyak dampak positif dalam kerangka modernitas. Namun, yang juga tidak bisa diabaikana adalah keberadaan “tong-tong bekas” yang menjadi saksi betapa banyak pemikiran, tindakan, dan orientasi yang secara ideal dianggap mencerahkan kehidupan manusia, apabila tidak dikelola dengan benar hanya akan memproduksi kebodohan-kebodohan baru yang mengkorupsi semua capaian modern.

Kepergian tokoh lelaki dan tokoh perempuan 2, bisa jadi, menggambarkan ketenangan-romantis yang tengah terganggu.  Dalam konteks tersebut, semua cacian yang menyalahkan tindak kebebasan seksual ataupun tindakan residual lain sebagai akibat menguatnya modernitas bisa diposisikan sebagai bentuk “kepanikan moral” yang seringkali memposisikan keliaran dan kebebasan manusia-manusia modern tidak sesuai dengan prinsip agama dan budaya. Sebagai 2 subjek yang hendak merayakan relasi romantik dalam kendali awal si perempuan, kehadiran subjek lelaki 1 dengan kutbahnya merupakan bentuk gangguan sekaligus ancaman terhadap kemerdekaan individual. Dalam dimensi diskursif ini, ada oposisi biner dalam poros “tong”, di mana kritik terhadap perilaku-perilaku bebas yang mengatasnamakan rasionalisme dan kemerdekaan harus dihadapi dengan resistensi karena kritik itu diposisikan tidak lagi menghormati eksistensi individu dalam melakoni perjuangan hidup. Ketika si tokoh perempuan 2 menentukan gerak diskursif dan praksis yang bisa jadi akan menentukan relasi-relasi berikutnya—tidak harus persoalan seksual, semua celoteh tokoh lelaki 1 menghancurkannya. Wacana pencerahan yang diberikan subjek perempuan diintervensi oleh kekuatan moral-patriarkal yang membawa kutbah-kutbah moralitas tendensius.

Masuknya tokoh perempuan 3 dengan membawa buku dan karpet, meskipun hanya sesaat, bisa menjadi “penanda yang menjembatani” kepergian tokoh lelaki dan perempuan 2 dengan adegan-adegan berikutnya. Mengapa ia harus membawa buku dan karpet? Buku merupakan medium yang di dalamnya terdapat banyak wacana atau pengetahuan yang bisa dijadikan rujukan para pembaca agar mereka memiliki sudut pandang yang tidak ngawur dalam menanggapi permasalahan tertentu. Lagi-lagi, kehadiran tokoh perempuan menandakan bahwa banyak permasalahan yang sebenarnya bisa diurai dengan kehadiran perempuan yang membawa wacana ataupun formula yang dibutuhkan. Adapun karpet cukup ia gunakan untuk memukul-mukul tong di mana tokoh lelaki 1 ada di dalamnya. Aksi itu bisa dibaca sebagai usaha untuk menyadarkan tokoh lelaki 1 agar tidak merasa berada dalam zona mapan dalam memahami permasalahan ataupun menggerakkan kebudayaan, karena, kenyataannya, banyak hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengumbar kutbah-kutbah moralitas. Betapa banyak dalam masyarakat kita pihak-pihak yang mengaku (paling) paham ajaran agama dan moral, tetapi, ujung-ujungnya, hanya digunakan untuk melegitimasi kepentingan-kepentingan ekonomi maupun politik. Dalam kerangka “Pencerahan”, semestinya praktik tersebut bukan lagi sesuatu yang dominan karena prinsip kesetaraan dalam bingkai rasional semestinya menjadi keutamaan. Ketika masih ada pihak-pihak yang memainkannya, maka kehadiran tokoh perempuan yang cerdas, meskipun hanya sesaat, bisa memberikan pembeda dalam kebisingan dogma yang menjadikan subjek harus mengalami subdordinasi terus-menerus. Kehadiran subjek perempuan mendorong terjadinya ketegangan dan kegundahan kultural, khususnya bagi individu yang merasa terancam, seperti ilustrasi musik yang menggambarkan sesuatu yang tegang dan semburat warnah merah lampu yang mengindikasikan sesuatu yang menakutkan. Kondisi ini juga menandakan krisis yang bisa mengganggu dan menghancurkan kekuasaan yang sebelumnya sudah mapan dalam masyarakat.

Di tengah krisis tersebut, tokoh lelaki 3 dan tokoh lelaki 2 masuk sembari membawa selonjor bambu yang pada adegan awal dibawa oleh tokoh perempuan 1. Tokoh lelaki 2 berkata, “gak punya uang”, sedangkan tokoh lelaki 3 berucap, “punya Pajero”. Kepada siapa ucapan itu ditujukan? Kepada tokoh lelaki 1 kah? Atau kepada khalayak yang hadir? Kalau kita lihat struktur dramatik yang dibangun, ucapan tersebut ditujukan untuk tokoh lelaki 1 sekaligus kepada khalayak penonton yang hadir. Kedua lelaki tersebut, bisa jadi, tahu siapa tokoh lelaki 1 sebenarnya. Ia adalah lelaki yang sepertinya atau mengaku tidak punya uang sebagai upaya untuk tidak menonjolkan kekayaannya. Namun, ternyata ia memiliki mobil Pajero, sebuah kontradiksi, tentunya dari kapasitas ekonomi yang tampak ke publik. Dalam kehidupan nyata, kita bisa menjumpai ada individu-individu yang tampak tidak memiliki pekerjaan formal, tetapi mereka memiliki kemampuan tertentu dalam masalah agama ataupun politik. Eksistensi mereka menjadi poin tersendiri karena bisa memberikan wejangan-wejangan moral ataupun agama kepada masyarakat. Hebatnya lagi orang-orang seperti itu memiliki kapasitas untuk melakukan tindakan-tindakan politik yang bisa mendatangkan keuntungan ekonomi, sehingga mereka bisa memiliki kendaraan mewah seperti Pajero. Kemampuan membangun retorika berbasis dogma agama menjadikan mereka memiliki banyak pengikut. Semakin banyak pengikut, semakin mudah mereka menggerakkan massa untuk memenuhui kepentingan ekonomi dan politik dari elit-elit tertentu.

Tokoh lelaki 2 dan 3 mengangkat tokoh lelaki 1 dari tong, kedua tangan dan kakinya ditautkan di bambu, layaknya binatang buruan dari tengah hutan belantara. Bambu menjadi poros semiotik yang memainkan peran sebagai salah satu alat alamiah untuk menaklukkan kesombongan dogmatis manusia-manusia penjaga moral. Ketika mereka berbusa-busa dalam mengkutbahkan agama dan moralitas, kesederhanaan dan kelugasan benda ciptaan Tuhan berupa bambu bisa mengalahkan dan menjadikan mereka tak berdaya. Wacana tentang kemenangan terhadap sosok individu yang memanfaatkan moralitas dan agama yang diawali dari sosok perempuan dan lanjutkan oleh sosok laki-laki merupakan keberanian diskursif sekaligus penegasan sikap resisten terhadap dogmatisasi yang masih banyak berlangsung dalam masyarakat.  Diakui atau tidak, dalam konteks Indonesia, ada sebagian penjaga gawang moral dan agama seringkali menempati posisi dominan yang bisa memanfaatkannya untuk mewujudkan dan memapankan kepentingan ekonomi dan politik mereka. Maka, dalam menghadapi individu atau kelompok demikian, wacana dan pengetahuan kritis yang dipadukan dengan kearifan lokal—buku dan bambu—merupakan pilihan alternatif yang bisa diambil. Kengototan yang seringkali mengatasnamakan agama hanya bisa diuraikan dengan logika dan kerangka pikir yang bisa menunjukkan kelemahan demi kelemahan yang dimiliki mereka. Sementara, kearifan lokal yang berkaitan dengan kemanunggalan subjek individu dengan kekuatan alam dan makrokosmos bisa digunakan untuk menghadirkan pemahaman komprehensif bahwa formalisasi agama tanpa menimbang faktor keyakinan lokal bisa menggiring kepada pemahaman parsial. Selain itu, kekayaan religi lokal juga bisa meng-counter prinsip kebenaran mutlak yang selalu dikatakan berbasis kitab suci, sedangkan banyak ketidakjelasan ketika benar-benar dipahami.

Bertemunya poros “bambu” dengan wacana “perlawanan” mengkonstruksi sebuah pemahaman bahwa poros semiotik dan lapisan  diskursif sangat mungkin bertemu dengan tujuan ideal untuk menegosiasikan kemampuan para subjek dalam sebuah komunitas atau masyarakat untuk menegaskan eksistensi mereka. Bahwa mereka bisa menggunakan kekuatan alam dan budaya lokal untuk pengetahuan modern sebagai strategi hibrid—meminjam istilah Bhabha (1994)—untuk melawan kekuatan-kekuatan yang memanfaatkan agama atau dogma moralitas guna mewujudkan ambisi mereka. Pertemuan poros semiotik dan lapisan diskursif yang mengusung semangat pascastuktural merupakan ‘percumbuan estetik’ yang bisa meledakkan keberanian untuk menawarkan wacana subversif terhadap kemapanan-kemapanan paham yang berkembang dalam masyarakat. Melalui keberanian tersebut subjek bisa menjadi ada dalam sistem dan struktur sosial, sehingga ia bukan hanya menjadi individu yang harus memendam rasa takut atau dianggap liyan dalam kondisi kemapanan dan kewajaran moralitas.

Ke(tidak)beraturan resistensi yang masih berlanjut

Panggung berwana merah, sedangkan musik menghadirkan suasana tegang. Ada usaha untuk menunjukkan keadaan yang tidak baik, pengab, panas.  Entahlah, ruang pengap perkampungan padat di pinggiran Jakarta—sebagaimana dihadirkan dalam tayangan-tayangan televisi—tiba-tiba hadir memenuhi imajinasi saya. Bukan ruang ruma kayu dengan asap dapur seperti masih ada di lanskap dusun. Saya membiarkannya mengikuti tindakan yang dimainkan oleh perempuan 2 dan lelaki 2. Si perempuan mengusap busa ke tubuh lelaki 2. Adegan ini sejak awal menarik, karena sangat jarang saya jumpai padanannya dalam film atau tayangan televisi di Indonesia, kecuali di film-film asing. Sekilas, adegan tersebut masih menghadirkan konstruksi stereotip perempuan yang harus melayani lelaki sepenuh hati, dalam kondisi ruang dan waktu apapun. Namun, benarkan keutuhan makna “perempuan yang melayani lelaki” bisa terjaga secara konsisten dalam adegan ini? Mari kita perhatikan pernyataan-pernyataan yang diproduksi oleh perempuan 1 dan lelaki 1.  

Sembari mengusap tubuh lelaki 2 dengan penuh penghayatan, perempuan 2 mengucapkan pernyataan agak panjang sebagai berikut.

“…lagu lagu kesedihan masih membakar aura tubuhmu, kelihatannya kau habis berbohong pada mesin diesel yang menyala saat dini hari. Aku malu… ya aku malu pada televisi yang kau taruh di punggung mu. Seperti bekas gigitan kecilmu yang tumbuh pada bahan kayu ranting yang makin hari makin menumpuk. Apakah ada struktur imajinasi baru? Aku ingin menyulam alismu, sebab alismu selalu terlihat patah dari kejauhan. Aku ingin menyebrang di wajahmu dengan perahu bibir lengkungmu. Bertemu angka yang salah sama halnya menaruh nasi kotak di pangkuanmu.”

Lagi-lagi kita dihadapkan pada gugusan pernyataan yang tidak langsung bisa ditemukan—bahkan—makna denotatifnya. Namun, mari kita mulai dari klausa pertama, “lagu-lagu kesedihan masih membakar aura tubuhmu”. Melalui pernyataan itu, perempuan 2 menegaskan kedekatan personal dengan lelaki 1 karena ia sampai mengerti bahwa ada aura tubuh yang masih terbakar, sekaligus membangun wacana bahwa lelaki itu tidak selamanya menjadi manusia-manusia perkasa yang tidak pantas merasakan kesedihan. Bahwa lelaki adalah subjek yang bisa masuk ke dalam narasi dan perjalanan berlumur luka batin, sehingga aura yang biasana tegas dan kuat sampai bisa dibaca terbakar. Apa yang menjadi njlimet adalah ketika lagu kesedihan dan aura tubuh tersebut dikaitkan dengan klausa “kelihatannya kau habis berbohong pada mesin diesel yang menyala saat dini hari”.  Menggunakan logika sintaksis, meskipun si perempuan tidak begitu yakin yang dibuktikan dengan kata “kelihatannya”, lagu-lagu kesedihan itu terjadi berhubungan dengan tindakannya berbohong pada “mesin diesel yang menyala saat dini hari”. Bisa jadi, tindakan berbohong itulah yang menghadirkan lagu-lagu kesedihan.

Pertanyaannya adalah mengapa harus ada “mesin diesel”? Sebagai tanda ikonik, jelas ia merujuk kepada seperangkat mesin yang menghasilkan tenaga untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang disengaja, seperti untuk memberikan penerangan, menyedot air, dan kegiatan yang lain. Kalau kita bawa kepada tanda simbolik, mesin diesel adalah kekuatan mekanistik yang memberikan tenaga untuk melakukan sesuatu, baik pikiran ataupun tindakan yang bisa mengarahkan kehidupan manusia. Ketika diesel itu menyala di waktu dini hari, maka kekuatan itu muncul secara mengejutkan dan bisa mengganggu ketentraman publik yang tengah lelap, atau terbuai mimpi. Atau, ketika orang lain dalam kondisi lelap, terbuai, stagnan, tidak berkembang, si lelaki mendapatkan energi ‘pencerahan’ dari rumus-rumus mekanistik ala modern. Kekuatan “diesel” yang menghadirkan banyak perubahan pada eksistensi individual haru dikhianati dengan kebohongan yang sebenarnya juga membuatnya bersedih.

Ucapan “aku malu… ya aku malu pada televisi yang kau taruh di punggungmu” bisa kita gunakan untuk membuka lapisan diskursif yang lumayan sulit ini. Televisi dan diesel adalah simbol peradaban teknologi yang menjadi penting dan saling terintegrasi satu sama lain. Diesel bisa menjadi penghasil tenaga listrik untuk menyalakan televisi. Televisi akan memberikan banyak informasi dan hiburan bagi manusia-manusia modern, meskipun sekarang sudah mendapatkan saingan dari peradaban internet yang semakin canggih. Energi kemajuan dan pengetahuan modern menggerakkan banyak manusia modern, termasuk kaum lelaki, dengan beragam argumen. Perempuan 2 merasa malu karena subjek lelaki harus tergantung kepada wacana ataupun pengetahuan yang sudah dikonstruksi oleh media seperti televisi karena sudah banyak hal-hal yang bisa dimanipulasi dan dikomodifikasi—meminjam istilah Adorno & Horkheimer (1993)—untuk mengelabuhi kesadaran massa.

Pembandingan “televisi di punggung”dengan “bekas gigitan kecilmu yang tumbuh pada bahan kayu ranting yang makin hari makin menumpuk” membawa kita ke dalam dua entitas yang sama-sama dikaitkan dengan lelaki 2. Memang secara fisik bisa dibayangkan bahwa bekas gigitan itu membentuk tumpukan atau gundukan kayu ranting.  Begitupula televisi yang menempel di punggung. Namun, visualitas fisik yang demikian tidak dihadirkan dalam pertunjukan ini. Penonton diajak membayangkan tampilan fisik, meskipun belum tentu mereka bisa memahami maksud dari ungkapan perempuan 2. Lalu, apa hubungan antara “televisi di punggung” dengan “bekas gigitan”? Tidak ada hubungan secara langsung yang bisa dikaitkan. Yang mungkin dikaitkan adalah bahwa kedua hal tersebut bisa jadi membentuk “struktur imajinasi baru”.

“Struktur imajinasi baru” menjadi kenakalan pembayangan yang ditawarkan oleh Shalbi. Kita dituntut untuk tidak sekedar masuk ke dalam struktur imajinasi yang sudah biasa mendeskripsikan sesuatu berdasarkan relasi-relasi yang masuk akal atau logis. Sebenarnya, struktur imajinasi baru itu bukanlah sesuatu yang benar-benar baru karena sedari era modern itu sendiri, banyak pekerja kultural yang melakukan terobosan imajinasi yang sudah dikekang oleh logika rasional-mekanistik. Revolusi industri telah menjadikan era modern penuh dengan pengetahuan dan praksis mesin; sesuatu yang menjadikan tumpulnya imajinasi manusia. Di saat itulah, kebebasan berpikir yang digembar-gemborkan filsafat Pencerahan Cartesian—“aku berpikir maka aku ada—mendapatkan kritik tajam, khususnya dari gerakan Romantisisme. Kaum Romantik menggunakan alam sebagai subjek untuk menawarkan eksplorasi tak berbatas dari pikiran manusia; keluar dari struktur imajinasi modern yang serba dibatasi hukum matematika. Atau, dalam ranah bahasa, apa yang diberikan struktur imajinasi baru jelas melampaui hukum penandaan Saussurean yang selalu berpikir relasional-sintaktis antara tanda-tanda yang menghasilkan makna logis.

Bagaimana menghubungkan “matinya diesel”, “televisi di punggung”, “gigitan kecil di ranting”, dan “struktur imajinasi baru” dalam satu logika makna komprehensif? Tentu akan kesulitan kalau kita menggunakan nalar Saussurean. Bahkan dengan dengan nalar Foucauldian dan Derridean juga tidak semudah yang dibayangkan. Pemaknaan semiotik dalam kerangka simbolik, setidaknya bisa mengantarkan kita kepada relasi yang memungkinkan di antara ungkapan-ungkapan tersebut. Relasi simbolik menegaskan bahwa ada usaha merayakan batin-kesedihan untuk mengkritisi kehadiran peradaban mekanik yang mengekang kehidupan manusia serta kehadiran media televisi dan sejenisnya yang seringkali menjadi sumber pengetahuan baru yang menggerakkan dan menentukan kehidupan manusia. Kesedihan, bagaimanapun, merupakan kualitas manusia yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya oleh kehadiran rasionalitas maupun mesin. Pada tataran itulah, kesedihan merupakan bentuk pengkhianatan terhadap segala capaian peradaban mekanistik dan media yang menjadikan manusia teralienasi dari aspek kemanusiaannya. Kesedihan merupakan fase untuk merasakan dan merayakan diri-manusia dalam kemutlakannya.

Hal-hal yang berkorelasi dengan ke-manusia-an seorang manusia juga dilontarkan oleh lelaki 2 dalam omongan berikut:

“Aku ingin menimbang waktu dari sorotan wajah ketakutanmu yang tengkurap sebagai parasit. Sirkulasi kecemasan menjadi keberanian dahaga menyerang tanpa pikir panjang dari sudut-sudut kebohongan. Riwayat kesaksian menjadi identitas baru. Aku, yang selalu menjunjung tinggi pada nilai-nilai manusiawi yang tak henti henti aku idami dari kelahiran sakral sang ibu, seperti kami yang berjalan di atas helai-helai rambut melucuti nilai-nilai surgawi. Merobek tabir dari nilai nilai kecemasan, kebutaan, keheningan, kegaduhan, kerinduan, kegagalan dari tirani tirani keruh. Rasa sesal sesaat menjadi hantu dalam tubuh. Membaptis hal ketabuhan menjadi batu loncatan primadona usang. Begitu juga norma yang selalu diusung menjadi pertumbuhan yang berkembang di pangkal dubur.”

Lagi-lagi kita dihadapkan pada sebuah kualitas manusia, “wajah ketakutanmu”. Bagi lelaki 2 wajah ketakutan perempuan 2 menarik untuk dirasakan dan dihayati, sehingga ia ingin “menimbang waktu”, sebuah ungkapan hiperbolis terkait lamanya proses historis ketakutan yang dialami di perempuan.  “Wajah ketakutan tengkurap sebagai parasit” menegaskan betapa bagi kaum perempuan ketakutan merupakan hal yang dirasakan sehari-hari, tetapi tidak harus ditampakkan. Ini menjadi semacam tanggapan balik dari lelaki 2 ketika perempuan 2 memaparkan kesedihan yang dialaminya. Relasi resiprokal “kesedihan-ketakutan” di antara dua subjek ini merupakan poros semiotik yang berusaha menghadirkan kesetaraan dalam merasakan dan merayakan ke-manusia-an manusia.

Bagi lelaki 2, perempuan 2 mengalami “sirkulasi kecemasan”, sebuah proses dan keadaan di mana subjek perempuan hidup dalam produksi dan reproduksi kecemasan sebagai manusia, meskipun tidak pernah terbahasakan. Sebagai manusia, ia tidak harus diam dalam kecemasan itu. Mentransformasinya dalam bentuk keberanian yang terkadang tanpa harus dipikirkan secara rasional, karena ada batin yang terus menuntunnya sebagai manusia. Banyak kesaksian yang sudah diceritakan dan sudah di-sejarah-kan. Dari situlah, semestinya manusia, termasuk perempuan, bisa belajar untuk memahami segala konstruksi  identitas yang disematkan dari waktu ke waktu. Alasan gender, politik, ekonomi, filosofis, dan kultural selalu saja menjadi batu pijakan untuk membenarkan identitas yang disematkan ke seorang subjek dan objek. Kesempatan untuk terus membaca adalah kesempatan untuk selalu mengangan-ulang dan memaknai-ulang identitas demi memformulasi kelenturan yang bisa menjadi piranti ideologis dalam melakukan perubahan.

Pada titik itulah, keberanian untuk melampaui nilai-nilai manusiawi merupakan perjuangan yang harus diusahakan oleh perempuan 2—dan juga perempuan-perempuan lain—dan oleh lelaki atau siapa saja yang menginginkan identias baru yang merdeka dari kekangan. Perjuangan itu pasti memiliki konsekuensi logis yang harus ditanggung, bahkan ketika harus berbenturan dengan nilai-nilai keagungan yang menjadi keyakinan ideologis dalam masyarakat. Keberanian “merobek tabir” menjadi titik krusial perjuangan individual atau komunal karena akan berdampak pada pudarnya segala macam “kecemasan” dan “kebutaan” yang dihadirkan dari sikap tunduk tanpa kritik terhadap bermacam dogma kuasa. Keberanian itu juga akan mengantarkan manusia pada “keheningan” yang menjauhkan dari “kegaduhan” dan “kerinduan” terhadap bermacam rayuan yang dihadirkan mereka yang berkuasa. Dengan sikap itulah diri-individual dan diri-komunal bisa melihat secara jernih dan kritis kegagalan sebenarnya dari tirani yang dimapankan dengan berbagai macam tipu daya, keruh.

Apa yang harus dicatat adalah munculnya penyesalan dalam resistensi akibat kehancuran kekuatan tirani, apapun itu bentuknya. Penyesalan tersebut muncul karena diri-individual dan diri-komunal merasa kehilangan suasana, atmosfer, dan nilai yang biasa mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi pihak yang gagal menyadari titik balik ini, hal-hal dari masa lalu yang dianggap tabu untuk dibicarakan dalam suasana perubahan akan ‘dibaptis’ sebagai loncatan primadona usang. Begitupula norma-norma yang kembali digali dan dikembangkan “pertumbuhan yang berkembang”, tetapi sebenarnya berada di “pangkal dubur”.Ungkapan ini dengan jelas menggugat titik-balik dalam perubahan yang bisa membawa-kembali kesadaran massa kepada masa lalu atau budaya residual yang berbahaya.

Posisi lelaki 2 yang tengkurap merupakan tanda semiotik dari kepasrahan untuk diperlakukan apapun oleh perempuan 2. Dengan penuh ketlatenan dan keseriusan, perempuan 2 mengecat pantat lelaki 2. Sesudahnya perempuan 2 menumpahkan sabun ke tubuh lelaki 2. Adegan ini menjadi bentuk “komposisi tubuh” yang menandakan betapa kehadiran masa lalu yang bisa membangkitkan kembali kekuasaan tirani sudah sepatutnya dibersihkan dari atmosfer publik karena bisa mengotori dan bisa membangkitkan kembali anasir-anasir jahat dari masa lalu. Lagi-lagi, kita melihat peran strategis subjek perempuan yang dengan keseriusan, kecerdasan, dan kesungguhannya mampu menjadi penentu di tengah-tengah kegamangan yang terjadi di tengah-tengah publik. (bersambung)

Share This:

About Ikwan Setiawan 179 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*