Menari bersama gerimis: Energi berkebudayaan dari lereng Argopuro

IKWAN SETIAWAN

Hujan seringkali menjadi momok bagi pertunjukan kesenian, baik di desa maupun di kota, khususnya yang digelar di tempat terbuka. Semua rancangan acara yang dipersiapkan secara ideal akan berantakan ketika tepat pada waktu pelaksanaan turun hujan. Itulah mengapa jagat pertunjukan seni tidak bisa dilepaskan dari praktik nyarang udan, mengalihkan dan mencegah datangnya hujan. Tidak sulit rasanya mencari pawang hujan di wilayah-wilayah perdesaan Jember. Meskipun demikian, nyarang udan belum tentu berhasil secara gemilang untuk mencegah atau mengalihkan hujan. Hal itu biasanya terjadi ketika di kawasan lain juga terdapat hajatan atau pertunjukan sehingga pawang hujan kesulitan untuk mengalihkan mendung. Dalam kondisi demikian, menerima kenyataan bahwa hujan turun akan lebih bijaksana ketimbang harus meratapi air.

Saya tidak tahu apakah panitia Gelar Seni di Dusun Wonolangu Panti, Jember, 27 April 2019, memakai jasa pawang hujan atau tidak. Yang pasti hujan deras mengguyur kawasan Panti dan sekitarnya selepas Maghrib. Seperti tidak memberikan ampun bagi semua aktivitas manusia. Dalam perjalanan menuju lokasi saya membayangkan masalah-masalah rumit yang akan dihadapi panitia karena hujan deras ini. Mereka harus pontang-panting melindungi alat agar tidak terkena air. Selain itu, ada kekhawatiran kalau acara malam kesenian tersebut tidak akan ditonton warga karena mereka tentu malas keluar.

Semua bayangan tersebut, pada akhirnya, harus kalah oleh kenyataan. Memang hujan gerimis masih menyapa Wonolangu ketika acara mau dimulai. Namun, semangat para seniman untuk menyuguhkan yang terbaik kepada warga dan tamu undangan mendorong mereka untuk mengabaikan gerimis dan hujan yang bisa tiba setiap saat. Ketika pengurus Dewan Kesenian Jember (selanjutnya disingkat DeKaJe) meminta para pengrawit  untuk menabuh gamelan Banyuwangi, tidak lama kemudian hujan gerimis mulai meredah. Gerimis kecil memang masih hadir, tetapi tidak mengganggu gairah para pengrawit. Penonton pun satu per satu mulai berani keluar rumah. Ada yang yang membawa payung, ada yang membiarkan tubuh mereka disapa air langit. Nyatanya, energi yang dibawa para seniman itu bertemu energi yang dibawa para penonton dari beragam usia; anak-anak, remaja, hingga dewasa. Ketika energi itu menyatu, maka gerimis kecil bukanlah penghalang untuk meramaikan Wonolangu.

Energi berkebudayaan melintas batas

Bagi saya dan pengurus DeKaJe, bertemu dengan para seniman ndeso bisa memberikan dan memperbarui semangat untuk terus bergerak mengembangkan budaya Jemberan. Mengapa? Para seniman Panti—baik laki-laki ataupun perempuan, tua ataupun muda—mampu membuktikan bahwa mereka bisa memelihara energi berkebudayaan yang dibutuhkan dalam kerja-kerja strategis dan taktis di lapangan. Dalam bentuk paling sederhana, energi tersebut mereka wujudkan melalui penyiapan pertunjukan dan gelaran beragam karya seni. Dengan persiapan tidak lebih dari 1 minggu, kemampuan para seniman di bawah koordinasi Pak Satoha melakukan persiapan dan pelaksanaan gelaran yang menampilkan beberapa jenis kesenian yang hidup di Panti tidak akan berhasil kalau mereka tidak memiliki energi berlipat yang sudah biasa mereka yakini dan alirkan dalam aktivitas kultural.

Para seniman jaranan menunggu giliran pentas

Rancak gamelan Banyuwangi yang dimainkan para pengrawit pertunjukan janger menghangatkan malam yang masih diguyur hujan gerimis. Mereka begitu bersemangat untuk menyapa warga Wonolangu dan semesta lereng Argopuro dengan gending dinamis khas bumi Blambangan. Perlu dicatat, kesenian khas Blambangan seperti janger dan gandrung cukup populer di kawasan Jember. Selain kedekatan secara geografis, sebelum era kolonial, kawasan ini merupakan bagian kerajaan Blambangan. Itulah mengapa di beberapa wilayah Jember masih bisa dilacak pengaruh budaya Banyuwangi seperti bahasa Using, janger, dan gandrung. Selain itu, keturunan Blambangan pernah mendiami beberapa wilayah di Panti, Arjasa, Balung, dan Puger. Menurut pengakuan Pak Satoha, di Panti banyak warga keturunan Blambangan, meskipun secara bahasa sudah sulit ditemukan eksistensinya. Maka, tabuhan gamelan oleh para pengrawit sekaligus mengingatkan dan membuka pemahaman bahwa wilayah Panti, meskipun dihuni mayoritas etnis Madura, budaya Banyuwangi bisa diterima karena keterkaitan historis. Bahkan, warga Madura pun dengan seksama bisa menikmati alunan gamelan bersama gerimis yang syahdu. Itulah kebudayaan. Kehadirannya bisa melintasi batas dan sekat etnisitas secara lentur, apalagi dalam medan masyarakar pascakolonial Jember yang memang terdiri dari beragam etnis. Sapaan gamelan Banyuwangi, dengan demikian, tidak hanya menyapa semesta lereng Argopuro yang dingin, tetapi, lebih dari itu, menggugah dan memperkuat keasyikan berbudaya yang melintasi garis batas.

Para pengrawit janger beraksi

 Realitas kebudayaan multietnis yang berkembang di kawasan Panti ini sesuai dengan misi yang dibawa DeKaJe, yakni mengembangkan budaya Jemberan yang beragam. Itulah mengapa ketika perwakilan pengurus DeKaJe, Suharsono (Sony Cimot) membuka komunikasi dengan seniman Panti, mereka langsung menemukan kecocokan. Bagi Pak Satoha sendiri, sebagaimana disampaikan dalam sambutannya, acara gelar seni yang terlaksana dengan pendampingan DeKaJe ini bisa menjadi “pintu masuk” untuk memperkuat semangat pengembangan kesenian dan budaya di wilayah Panti. Menurutnya, selama ini kesenian rakyat di Panti berkembang dengan sendirinya. Kurang diperhatikan oleh pemerintah. Meskipun demikian, para seniman jaranan, janger, gandrung, hadrah, mamacah, dan pencak silat tidak pernah lelah untuk berjuang di tengah-tengah perubahan masyarakat.  Pak Satoha berharap dengan hadirnya DeKaJe Panti para seniman bisa melakukan koordinasi dan kerjasama untuk membuat kegiatan-kegiatan dalam pengembangan.

Harapan Pak Satoha tersebut sejalan dengan keinginan Eko Suwargono, Ketum DeKaJe. Dalam sambutannya, Eko Suwargono menegaskan bahwa kehadiran DeKaJe hingga wilayah kecamatan dan desa diharapkan bisa membangkitkan semangat berkesenian dan berkudayaan. Kesenian-kesenian yang tadinya mati suri atau kurang berkembang bisa ‘dirangsang-kembali’ dengan kegiatan-kegiatan kreatif sehingga para pelakunya kembali bergairah untuk berkarya. Adapun untuk kesenian-kesenian yang sudah eksis bisa diberdayakan lebih lanjut secara kreatif sehingga bisa memberikan nilai lebih kepada para pelakunya. Dengan demikian, kerjasama lintas-institusi—DeKaJe, dinas-dinas terkait, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, dan kelompok-kelompok seni—harus diusahakan agar tumbuh semangat dan kerjasama untuk memikul tanggung jawab pengembangan dan pemajuan kebudayaan di Jember.    

Pak Satoha memberikan sambutan

Konsep pengembangan budaya lokal tersebut disambut baik oleh tokoh agama Wonolangu, Ustadz Sunarso. Lelaki sederhana berambut dan berkumis putih tersebut dengan tegas meminta  para seniman untuk terus menggelar pertunjukan untuk menghibur rakyat sekaligus menyebarluaskan kekuatan budaya lokal secara terus-menerus. Menurutnya, di tengah-tengah semaraknya budaya asing di televisi dan internet, kaum muda di desa harus mau terus belajar kesenian tradisional agar tidak asing di negeri sendiri. Pernyataan tersebut menegaskan visi seorang ustadz yang berkelindan dengan cita-cita pemajuan kebudayaan sebagaimana diamanahkan undang-undang. Setidaknya, wacana yang dilontarkan Ustadz Sunarso juga menegaskan bahwa kegiatan budaya tidak harus dipertentangkan dengan kehidupan beragama. Keduanya bisa saling melengkapi untuk menyemarakkan budaya lokal. Lebih dari itu, kehadiran Ustadz Sunarso bisa menyemangati para seniman untuk terus berkarya dan bergerak di wilayah perdesaan Panti.

Sambutan Ustadz Sunarso

Perwakilan pemerintah desa yang diwakili Ketua BPD Panti menyambut baik gelar seni di Wonolangu ini. Ke depannya, pemerintah desa berharap akan tercipta kerjasama strategis dengan para pelaku seni-budaya sehingga pengembangan bisa lebih tertata dan terarah dengan baik. Tawaran ini tentu harus disambut baik oleh Pak Satoha dan para pelaku seni di Panti. Apalagi tidak ada rintangan perundang-undangan yang menghalangi kontribusi pemerintah desa terhadap pelestarian dan pengembangan budaya. Pemerintah desa memang harus ikut berperan dalam pembangunan budaya dengan menyediakan perangkat sistem ataupun kecukupan anggaran untuk biaya pagelaran atau melengkapi fasilitas. Setidaknya dengan kesanggupan pemerintah desa untuk terlibat dalam kerja-kerja budaya adalah wujud tanggung jawab kepada para pelaku dan masyarakat.

Ketua BPD Panti memberikan sambutan

Bangunan wacana yang dilontarkan masing-masing pihak di atas membuktikan bahwa energi berkebudayaan di lereng Argopura sudah siap untuk digerakkan dalam wujud kerja-kerja kultural berorientasi pengembangan dan pemajuan seniman dan komunitas. Keberdayaan mereka akan memperkuat eksistensi keragaman budaya Jemberan yang berasal dari multietnis, multiagama, dan multibudaya.  

Menari bersama gerimis, gedruk untuk Jemberan

Tiga penari remaja naik ke panggung sederhana ketika gerimis masijatuh di bumi Wonolangu. Dengan cukup lincah mereka menarikan tari gandrung Banyuwangi. Para penari remaja itu mengabaikan dingin dengan gerakan-gerakan lincah tubuh dibalut busana tari. Gerak lincah itu mengundang puluhan remaja menuju jalan dusun yang terletak di depan panggung. Mereka, mengabaikan gerimis, berdiri menonton.

Beberapa remaja merekam pertunjukan tari gandrung

Bebeapa di antara mereka ada yang merekam dengan perangkat android. Kondisi ini menghadirkan takjub tersendiri karena para penari tersebut mampu mengirim energi positif tentang tradisi tari yang ditangkap penuh antusias oleh penonton yang juga masih berusia remaja. Tidak ketinggalan anak-anak dan orang dewasa juga menikmati tari gandrung. Kenikmatan lintas-etnis dari proses menari dan menonton adalah narasi indah yang tersaji dari lereng Argopuro. Ketegaran untuk menyuguhkan tari bersama gerimis mengirimkan kabar tentang keteguhan dan kesungguhan kaum remaja dalam mengimplementasikan energi berkebudayaan dalam kondisi apapun. Energi itulah yang selalu mengikat para seniman dengan rakyat.

Para penari gandrung menyapa gerimis

Tidak mau ketinggalan, penari janger berdendang pun menjadikan malam semakin hangat. Seorang penari diiringi gamelan dan tembang dari sinden mengajak beberapa pengurus DeKaJe untuk menari di atas panggung. Adegan tersebut menghadirkan pertemuan kultural antara lembaga kesenian yang mewadahi bermacam kesenian di Jember dengan para pelaku seni yang harus mereka perjuangkan. Pertemuan ini bukan saja menegaskan keakraban dan keterlibatan langsung pengurus DeKaJe dalam atraksi kesenian, tetapi juga menjadi tantangan tersendiri untuk terus berkhidmat tanpa pamrih dalam kerja-kerja kultural di Jember.

Para musisi patrol mengiringi penyanyi

Para seniman muda musik patrol yang tergabung dalam grup Bintang Pantura juga menyuguhkan beberapa komposisi beberapa lagu berilirik religi, lagu Using  dan lagu dangdut tarling yang sangat rancak. Meskipun alat musik patrol sempat kehujanan, para musisi tersebut tak mau terlalu ambil pusing. Mereka tetap menabuhnya dengan riang gembira. Para penonton pun semakin asyik dengan pertunjukan meskipun gerimis belum juga hilang. Ketiga lirik lagu yang disajikan menandakan campur-aduk orientasi kultural yang digemari masyarakat Panti, pada khususnya, dan Jember, pada umumnya. Mereka bisa menikmati lagu-lagu berlirik religi, tetapi juga tidak mau ketinggalan lagu-lagu berlirik Using dan Cirebonan. Keterbukaan dan kelenturan dalam kegemaran lagu direspons oleh para musisi patrol untuk disuguhkan kepada rakyat. Realitas musikal musik patrol ini juga menunjukkan bahwa membicarakan budaya tidak perlu dalam perspektif kaku dan saklek. Kenyataanya, mayoritas warga Panti adalah keturunan Madura dan sebagian Blambangan. Namun, mereka juga mengalami proses kultural yang ditandai dengan perjumpaan dengan budaya pop-modern dan budaya-budaya etnis. Modisnya pakaian penyanyi adalah tanda fashion modern yang hadir di tengah-tengah ketradisionalan patrol Jember.

Penari caplokan sedang beraksi

Gedruk para jathil lanang (lelaki) dari Turonggo Sakti (Dusun Darungan Panti) mengikuti cepatnya musik menarik penonton untuk semakin mendekat. Para jathil tidak mempedulikan kondisi jalanan yang becek. Mereka juga tidak peduli dengan gerimis. Mereka menari dari halaman hingga jalan dusun. Beberapa tukang gambuh menyiapkan diri dan sesajen untuk melengkapi pertunjukan arkaik tersebut. Satu per satu jathil menghentakkan kaki di bumi Wonolangu yang masih basah; meliukkan tubuh mereka; ber-salto, berputar. Tidak lama kemudian mereka melakukan atraksi yang cukup mengerikan. Beberapa jathil makan dengan lahap lampu neon. Suara kriuk beling dengan jelas terdengar. Penonton pun semakin riuh. Kehadiran jaranan ini menjadikan energi Gedruk Jemberan semakin terasa. Mengirimkan pesan kultural kepada masyarakat Jember bahwa apapun kendala dan tantangannya yang ada—baik yang berasal dari keruwetan birokrasi maupun perubahan orientasi budaya masyarakat—para seniman rakyat masih memilih energi dan komitmen untuk terus berkarya dan memberikan yang terbaik.

Pesilat remaja perempuan tengah memainkan celurit

Apa yang cukup membahagiakan adalah penutup gelaran: atraksi pencak silat oleh 2 pesilat remaja putri dan 2 pesilat lelaki muda. Dengan iringan kendang sederhana, dua remaja putri menunjukkan keahlian mereka memainkan jurus dan senjata tajam (celurit). Gerak silat tradisional Madura yang disuguhkan kedua remaja putri tersebut mampu memukau penonton. Mereka beratraksi di atas jalan becek. Sementara, dua pesilat lelaki muda melakukan adegan perkelahian yang cukup lincah. Suguhan pencak silat tradisional ini memberikan energi regenerasi olahraga tradisionnal yang harus bersaing dengan bermacam olahraga yang lebih populer. Keberasilan regenasi kesenian rakyat dan olahraga tradisional, setidaknya, mengirimkan sinyal positif di tengah-tengah kecemasan sosial terkait pudarnya budaya lokal. Masih ada hati untuk kesenian dan budaya lokal meskipun peradaban android dan internet menjadi semakin biasa di lereng gunung. Sekali lagi, Gedruk Jemberan akan terus digerakkan sebagai energi dan praktik kultural yang mewadahi para seniman dan karya mereka; membawanya ada di tengah-tengah masyarakat pendukungnya. Gedruk Jemberan sebagai kerja gotong royong lintas-institusi dan lintas-wilayah akan melipatgandakan semangat dan spirit kreatif dalam bingkai pengembangan dan pemberdayaan.  

Share This:

About Ikwan Setiawan 171 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*