Energi Wonolangu: Menyambut GEDRUK JEMBERAN

IKWAN SETIAWAN

Setelah menembus hujan

Hujan deras membasahi bumi Panti, Jember, 27 April, 2019, selepas Maghrib. Di sepanjang jalan, banyak warga ngiyub, “berteduh” di emperan toko. Untuk sesaat geliat warung-warung di pinggir jalan tampak senyap. Seorang diri saya mencoba untuk bertahan menyusuri jalan, melawan arus air yang datang dari arah berlawanan. Berbekal mantel dengan wujud yang tidak utuh lagi, dari arah pertigaan Serut, Panti, saya berusaha keras menemukan sebuah jalan ke arah kiri menuju Dusun Wonolangu. Menurut informasi di grup WA, panitia telah memberikan tanda khusus agar tamu tidak kesulitan menemukan lokasi Gelar Seni Rakyat yang diselenggarakan oleh para seniman Panti. Air hujan yang cukup deras benar-benar menggangu pandangan mata. Sampai akhirnya, bisa ditebak, saya terlebet alias kebablas, terlewat jalan menuju lokasi acara. Setelah 3 kali bertanya, akhirnya saya bisa menemukan jalan yang dimaksud. Uniknya, tanda yang dibuat panitia tidak berupa umbul-umbul atau tulisan di papan, melainkan tulisan dengan media cat di atas aspal. Tentu saja sulit untuk ditemukan dalam kondisi hujan lebat.  Apalagi tidak ada lampu penerangan tepi jalan.

Setelah beberapa meter menyusuri jalan ke arah Wonolangu, saya berpikir bahwa lokasi tidak jauh lagi. Saya pun bertanya kepada seorang ibu bersama putranya. Dia dengan ramah mengatakan bahwa Wonolangu sudah dekat. Bahagia rasanya karena saya akan segera berjumpa dengan para seniman yang dari pagimenyiapkan panggung dari peralatan seni. Bahagia karena saya akan berjumpa dengan beberapa pengurus Dewan Kesenian Jember (DeKaJe) yang sejak sore sudah di lokasi untuk memastikan semua persiapan demi suksesnya acara. Melewati jalan aspal penuh lubang tanpa lampu penerangan seorang diri, saya sempat diliputi rasa takut. Namun, bayangan akan gelaran seni menumbuhkan keberanian tersendiri.

Panggung yang masih diguyur hujan

Ketika sampai di lokasi, gerimis belum juga hilang. Panggung yang didominasi warna merah berdiri kokoh, siap menyambut kehadiran tamu dan penonton. Seorang panitia menyambut kedatangan saya dan mempersilahkan untuk bergabung dengan pengurus DeKaJe di ruang tamu. Bertemu Mas Eko Suwargono (Ketua Umum DeKaJe) dan Mas Poponk (Kabid Teater) adalah bertemu kesungguhan dalam berorganisasi, berkesenian, dan berkebudayaan, terlepas dari banyaknya permasalahan yang dihadapi DeKaJe dan ketiadaan anggaran untuk organisasi ini, meskipun sudah mendapatkan surat pengangkatan pengurus dari Bupati Jember, Faida. Bagi mereka berdua, idealisme dalam berkesenian harus diuji di medan nyata permasalahan dan perjuangan bersama para seniman rakyat yang terus bergerak dan bersiasat menghadapi perubahan zaman. Di lapangan kebudayaan rakyat, idealisme harus dimaknai-ulang berdasarkan apa-apa yang terjadi. Tentu saja, prinsip ini lahir dari pergulatan batin dan pikiran yang mereka rasakan selama berproses dalam jagat seni dan budaya.

Membatalkan SARTANJUNG GAYENG 2019

Setelah menyalami puluhan seniman dari beberapa desa di Kecamatan Panti yang malam hari ini diundang oleh koordinator acara, Pak Satoha, kami bertiga mulai membicarakan masa depan SARTANJUNG GAYENG 2018. Sebagai sebuah institusi yang diberikan amanah untuk mengembangkan dan memberdayakan kesenian dan lokal yang hidup di kawasan Jember, DeKaJe telah menyusun program SARTANJUNG GAYENG 2019. Program ini dimaksudkan untuk meramaikan ruang publik kota dengan atraksi kesenian rakyat sekaligus untuk memperkuat keberagaman kultural di tengah-tengah masyarakat Jember. Selain itu, gelaran setiap bulan tersebut juga sesuai dengan amanah UU Pemajuan Kebudayaan di mana institusi kesenian dan pemerintah kabupaten wajib berkontribusi secara nyata dalam setiap kegiatan untuk memajukan objek-objek kebudayaan.

Pengurus DeKaJe bersama para seniman dan pengurus DeKaJe Wuluhan

Pembicaraan semakin gayeng ketika beberapa pengurus DeKaJe Wuluhan dan Suharsono (Ketua 1 DeKaJe) hadir. Kami bersepakat bahwa bahwa pelarangan pagelaran publik SARTANJUNG GAYENG 2019 dengan alasan-alasan yang tidak jelas merupakan bentuk “ketidakberpihakan” Bupati terhadap kerja-kerja pemajuan budaya, khususnya yang dituangkan dalam tujuh agenda strategis pemajuan kebudayaan. Pemerintah RI melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan 7 agenda strategis yang menjadi tanggung jawab bersama pemerintah pusat dan daerah serta lembaga-lembaga yang berkaitan dengan UU Pemajuan Kebudayaan. Dalam diskusi, kami mengidentifikasi 2 strategi kebudayaan yang berkelindan dengan gelaran tersebut.

Para pengrawit menghangatkan suasana sebelum acara dimulai

Pertama, menyediakan ruang bagi keberagaman ekspresi budaya dan mendorong interaksi untuk memperkuat kebudayaan yang inklusif. Dalam agenada ini terdapat 3 proses yang harus dipahami dan dijadikan landasan, yakni: (1) melindungi kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai dan ekspresi budayanya; (2) memperluas keterlibatan penadanyang disabilitas dan orang berkebutuhan khusus dalam upaya pemajuan kebudayaan; dan, (3) mendorong interaksi budaya lintas keompok dan daerah dengan semangat persatuan. Kegiatan SARTANJUNG GAYENG 2019 sejatinya berkesesuaian dengan agenda pertama ini. Mengapa? Dalam gelaran pertunjukan seni di ruang publik, DeKaJe dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan berupaya untuk ikut memelihara dan mengembangkan keragaman seni dan budaya Jemberan dengan memberi kesempatan kelompok-kelompok seni menggelar karya estetik mereka yang menghibur sekaligus menawarkan nilai-nilai komunal. Dalam gelaran ini, para seniman dari bermacam kelompok kesenian bisa berinteraksi dan berdiskusi terkait strategi dan cara pemeliharaan, pengembangan, pemanfaatan kekayaan budaya Jemberan.

Kedua, melindungi dan mengembangkan nilai, eskpresi, dan praktik kebudayaan tradisional untuk memperkaya kebudayaan nasional. Terdapat 3 proses yang patut diperhatikan, yakni: (1) meningkatkan perlindungan terhadap nilai, ekspresi, dan praktik kebudayaan tradisional; (2) memperkuat kedudukan dan memberdayakan lembaga, komunitas, dan masyarakat yang berpegang pada nilai tradisi dan kepercayaan lokal; dan, (3) mempromosikan nilai, ekspresi, dan praktik kebudayaan yang berkontribusi bagi pengayaan kebudayaan nasional. Penghadiran beragam kesenian rakyat yang cukup beragam di Jember dalam gelaran SARTANJUNG GAYENG merupakan kerja nyata yang ikut berkontribusi terhadap pengayaan nilai, ekspresi, dan praktik kultural di tingkat lokal dan nasional. Publik diajak menyadari dan mencintai keragaman karya seni yang dikembangkan oleh para seniman-seniman rakyat. Dalam karya seni tersebut juga bisa ditemukan nilai-nilai kehidupan yang mengikat mereka dan masyarakat. Pertunjukan kesenian di ruang publik juga bisa memberdayakan komunitas-komunitas seni di Jember yang tersebar luas di 31 kecamatan. Kesempatan untuk mengisi pagelaran akan mendorong mereka untuk melakukan persiapan-persiapan agar pertunjukan mereka digemari publik penonton. Setidaknya, melalui ajang SARTANJUNG GAYENG mereka bisa mempromosikan keunikan dan keunggulan kesenian yang mereka suguhkan. Dari sinilah diharapkan mereka akan mendapatkan job tanggapan. Keberdayaan dan kekuatan kelompok seni untuk bertahan melalui pagelaran dan tanggapan, pada akhirnya, akan berkontribusi kepada pengayaan budaya lokal dan budaya nasional.

Pak Satoha, koordinator acara memberikan sambutan

Maka, bagi pengurus DeKaJe, SARTANJUNG GAYENG merupakan kegiatan yang bisa memberikan manfaat, bukan hanya kepada para seniman, tetapi juga kepada masyarakat Jember dan bangsa ini. Itulah mengapa dalam beberapa kesempatan diskusi, pengurus belum bisa memutuskan masa depan acara ini: dilanjutkan atau dibatalkan. Momen diskusi di Wonolangu memberikan kekuatan dan ketegasan untuk membatalkan agenda SARTANJUNG GAYENG sampai Desember 2019. Tentu ada kesedihan mengingat semua persiapan dan perjuangan yang sudah dilakukan pengurus. Suharsono, alias Sony Cimot, selaku Koordinator seluruh rangkaian kegiatan tersebut pun mengiyakan pembatalan semua agenda yang sudah dirancang.

Menyambut GEDRUK JEMBERAN

Meskipun demikian, pengurus DeKaJe tidak ingin membunuh spirit dan energi yang sudah mulai menguat di antara para seniman rakyat. Maka, saya mengusulkan untuk membuat agenda baru yang bisa mewakili semangat gerakan dari pinggiran yang sudah dijalankan. Beberapa nama yang sempat saya usulkan adalah GREBEG JEMBERAN, SWARGA JEMBER, dan GEDRUK JEMBERAN. Setelah mendiskusikan sambil menikmati kopi, kami bersepakat memakai nama GEDRUK JEMBERAN.  

Mas Eko Suwargono, Ketua Umum DeKaJe, memberikan sambutan

Kata GEDRUK merupakan istilah dalam bahasa Jawa yang bermakna “menghentakkan kaki di atas tanah atau di atas panggung. Bukan hanya dilakukan warga biasa, para seniman juga sering melakukan gedruk. Para seniman jaranan/jathilan/jaran kepang, misalnya, sudah terbiasa melakukan adegan gedruk di atas tanah ataupun panggung. Demikian pula para seniman reyog di Jember selatan juga sudah biasa melakukannya. Para penari remo dalam pertunjukan ludruk Jemberan tidak ketinggalan pula selalu memainkan hentakan kaki dengan lincah. Dalam makna ideologis, Mas Eko Suwargono memaknai gedruk sebagai penanda estetik kesenian-kesenian rakyat yang berkembang di Jember. Juga, merepresentasikan keseriusan dalam bergerak bersama-sama secara strategis dan taktis untuk mengembangkan kesenian dan budaya Jemberan. Selain itu, gedruk juga bisa dimaknai kekuatan untuk melipatkgandakan semangat, energi, dan komitmen untuk terus memperjuangkan dan memajukan budaya Jemberan yang sangat beragam demi memperkuat budaya nasional.

Para penari muda menyuguhkan tari gandrung

Pagelaran seni rakyat di Dusun Wonolangu yang di bawah koordinasi Pak Satoha, juragan kesenian janger di Panti, menjadi awal dari gelaran GEDRUK JEMBERAN ini. Kegiatan yang dipersiapkan nyaris hanya dalam seminggu ini menjadi inspirasi sekaligus penanda dimulainya gerakan kultural dari pinggiran Jember. Pak Satoha dan para seniman Panti mampu menjadi inspirator gerakan budaya berbasis kekuatan rakyat. Mengapa demikian? Karena dalam pagelaran sederhana tetapi meriah ini warga bisa menikmati suguhan tari gandrung, musik patrol, janger berdendang, dan pencak silat tradisional Madura. Para seniman ikut nyengkuyung hajatan pertama yang diharapkan menjadi cikal-bakal kegiatan serupa dalam koordinasi DeKaJe Kecamatan Panti. Kegigihan Pak Satoha dan panitia lainnya menunjukkan bahwa kekuatan seniman dan kesenian rakyat merupakan akar dari keberlanjutan dan keberdayaan keragaman kultural masyarakat Jember. Dalam kondisi demikian DeKaJe berperan sebagai institusi induk yang mewadahi keragaman aktivitas kultural para seniman dan mengkomunikasikannya dengan dinas-dinas terkait atau lembaga-lembaga non pemerintah dalam aspek pengembangan.

Share This:

About Ikwan Setiawan 171 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*