Menjadi perempuan: Salah, salah, dan salah dalam ‘ramahnya’ patriarki

NINDIA SEPTINA PRASTIWI

 

 

Hakikatnya dalam perjalanan hidup segala sesuatu tidak ada yang terus-menerus secara signifikan berada dalam garis kesejahteraan abadi, kebahagiaan permanen atau bahkan keseimbangan yin dan yang yang konon menjadi tolok ukur kestabilan kehidupan. Begitu juga halnya dengan hubungan antar laki-laki dan perempuan yang senantiasa hidup berdampingan dan saling berinteraksi setiap hari dalam satu wadah, dunia. Dalam ranah pemikiran kuno, perempuan selalu dimarjinalkan bahkan selalu ditempatkan ‘di bawah ketiak’ laki-laki. Hal ini masih saja dan akan terus berlanjut di era yang sudah mulai berkembang ke ranah kemajuan. Ironis memang, ketika zaman mulai melaju ke serba-serbi teknologi canggih, pikiran masyarakat masih saja terhenti dalam konsep patriarki.

Dari kedua jenis manusia yang ada di bumi, laki-laki dan perempuan, jenis yang kedua selalu terhentak dalam ironi. Unen-unen yang masih sering terngiang di telinga saya adalah salah satu wejangan dari Mbah kepada saya bukan kepada kakak lelaki saya: “wong lanang milih methik tapi wong wedok kudu ngenteni tetese embun” (lelaki itu memilih untuk memetik, tetapi perempuan harus menuggu tetesnya embun) dan juga wong wedok iku cowek rembang, nek apik digrayang nek elek dibuang” (perempuan itu cowek rembang, kalau bagus digerayangi kalau jelek dibuang). Mbah saya memberikan wejangan pertama dengan harapan agar sebagai perempuan saya bisa merawat diri, secantik-cantiknya dan sewangi-wanginya. Tujuannya, agar saya bisa mendapatkan pasangan yang mapan lagi tampan.  Mengingat perempuan tidak akan mudah memilih lelaki seperti halnya lelaki memilih perempuan untuk diperistri. Sementara, wejangan kedua akan berlaku apabila kelak saya sudah menjadi istri seorang laki-laki; perempuan masih dituntut untuk bisa merawat diri selepas melahirkan agar tetap singset dan mempesona ketika dipandang suami. Implaikasinya agar perempuan tidak mudah di buang atau diabaikan oleh suami sehingga  suami tidak mudah tertarik kepada perempuan lain yang bukan istrinya. Untuk menghargai wejangan Mbah, saya memberikan senyuman dan jawaban pendek “iya”, meskipun sebenarnya dalam hati, ada keinginan kuat sekali untuk memberontak dan bilang, “saya ini manusia dan tidak bisa disamakan dengan sebuah benda berbentuk cobek yang mana saya ini adalah seorang perempuan yang seharusnya tidak bisa di buang sembarangan seperti cowek rusak ketika badan saya menjadi lebar dan tak lagi kinyis-kinyis seperti masa sebelum menikah. Dari sini, saya bisa menyimpulkan, bahwa enak benar jadi lelaki di budaya ini, meskipun mereka jadi ulek-ulek boncel masih saja bisa seenaknya memilih cowek sekehendak hati mereka. Begitu kan apa yang ada di dalam isi kepala beberapa manusia di lingkungan saya ini? Apa jadinya jika wejangan ini terus menerus menjadi warisan leluhur yang akan terus berkembang hingga sampai di telinga anak, cucu, cicit saya nanti? Baiklah, pemikiran kritis tentunya yang bisa menjawab dengan arif dan bijaksana. Begitu kata batin saya kala itu.

(https://heroineproblem.com/2015/10/12/the-four-horsemen-of-the-patriarchy-introduction/)

Selain itu, televisi yang menjadi teman sehari-hari para penikmat, dari perempuan dan lelaki dewasa sampai dengan adik-adik kecil, menampilkan iklan sponsor TV dan beberapa cuplikan di sinetron yang mayoritas memberikan gambaran bahwa orang yang masak itu selalu perempuan, yang bawa sapu untuk bersih-bersih perempuan dan juga yang mengganti popok anak masih perempuan. Some people still believe that women belong in the kitchen, sehingga dengan adanya gambaran semacam ini dapat menimbulkan presepsi apabila perempuan yang tidak mampu melakukan hal ini akan dicap sebagai perempuan yang malas dan bahkan dengan kejamnya ada yang berkomentar sebagai perempuan yang tidak bisa menempatkan posisinya sebagai perempuan hanya karena ia tidak pandai memasak. Begitu massifnya konstruksi visual dan diskursif yang diberikan oleh media untuk mengkotakkan perempuan dalam hal-hal yang kesannya hanya aktivitas remeh temeh di kehidupan sehari-hari.

Lemahnya posisi perempuan juga dengan mudah bisa dijumpai dalam kasus perkosaan seperti yang pernah dialami tetangga saya. Siang itu, 2 Januari 2019, salah seorang tetangga perempuan saya datang ke rumah hanya untuk berbagi cerita perihal keponakannya yang menjadi korban perkosaan di desa Kabat-Banyuwangi. Dia berbicara dalam bahasa Jawa Ngoko campur Using dengan terjemahan bahasa Indonesia yang kurang lebih seperti ini:

‘‘Saya baru saja datang dari resepsi pernikahan keponakan perempuan saya, anak ini baru 18 tahun, hamil 8 bulan sebelum menikah dan keluarganya baru tahu akhir bulan lalu, karena dia tidak pernah mengadu ke orang tua nya dan mengurung diri dikamar. Usut demi usut hal ini terjadi karenak ada tiga orang teman laki-laki yang mengajaknya untuk minum pil koplo kemudian dia di ‘habisi’ oleh seorang lelaki muda dengan dua teman menunggui didepan kamarnya, tapi saya tidak heran, pantas saja hal ini terjadi padanya, maklum dia anak nakal. Orang tuanya malu, bapaknya menghajar dia habis-habisan hingga seluruh badannya memar, kemudian mencari pemuda itu sampai dapat dan memaksa mereka untuk menikah’’.

Sontak saya terkejut. Saya hanya merespon sebisanya dan berusaha untuk memberikan pehamanan agar tetangga ini mengerti bagaimana untuk tidak menyalahkan korban perkosaan dan lebih mengalihkan fokus ke pelaku kejahatan daripada hanya menyalahkan korban. Sebagai perempuan sekaligus seorang penyintas pelecehan seksual, saya begitu memahami kondisi psikis korban yang pasti masih trauma dan takut untuk mengadu ke orang tua. Terlebih lagi lingkungan di desa yang sama sekali tidak ramah akan laporan yang ‘memalukan’ ini. Apalagi apabila laporan ini terucap dari mulut seorang perempuan muda berusia 18 tahun. Pelaku pemerkosaan tidak terkena sanksi sama sekali, apalagi dilaporkan ke polisi. Satu-satunya tanggung jawab yang bisa membebaskan dia dari tuntutan moral adalah menikahi korban. Bereslah urusan hanya dengan mengucap ijab qabul seketika.

Image result for women oppressed

(https://www.123rf.com/photo_100904879_man-closes-by-hand-mouth-of-oppressed-woman-brutal-treatment-of-women-victim-of-tyranny-.html)

Seminggu kemudian, tetangga saya kembali bercerita: ‘‘Baru seminggu menikah, keponakanku ngajak berpisah, katanya tidak betah dengan suaminya’’. Tanggapan saya hanya sederhana: “Siapa yang bakal tahan menikah dengan orang yang menyakiti lahir dan batin kita?’’ Kemudian ia bergumam: ‘‘Iya, kamu benar juga’’. Sekelumit percakapan tersebut mampu menguak kebobrokan yang tidak asing terjadi di lingkungan kita, terutama di lingkungan desa dan masih di negara ini, Indonesia. Seluruh anggota keluarga perempuan muda itu turut berkonstribusi dalam penyiksaan batin serta menambah beban psikis dan trauma kepada korban. Belum lagi, luka fisik yang ia derita akibat pukulan yang diberikan oleh sang ayah sebagai bentuk hukuman karena ia dianggap telah sukses mencoreng nama baik keluarga. Apa yang tak kalah menyiksa: pernikahan paksa dengan pelaku yang harus dilalui si gadis yang pasti menambah beratnya beban dalam kehidupannya. Miris sekali, ketika kasus kekerasan, pelecehan sekaligus pemerkosaan yang merusak masa depan si gadis ini luput dari laporan ke pihak kepolisian dan menjadi selesai seketika hanya dengan menikahkan korban dengan pelaku. Telah banyak kejadian serupa yang merupakan potret dari ‘pincang’ nya pola pikir masyarakat kita dalam memandang sebuah tindakan kejahatan yang dilakukan oleh para penjahat kelamin ini.

Pernak-pernik persoalan mengenai perempuan menyambut awal tahun baru 2019 dengan meriah. Dari kasus perkosaan dan pelecehan seksual, kabar prostitusi online artis ibu kota, hingga kejahatan revenge porn polwan dari Makasar. Media—baik media cetak, media televisi dan media sosial semacam Facebook, Twitter, hingga Instagram—dengan  cerdiknya membombardir berita berita ini dengan ‘apik’.  Tidak sedikit awak media amatiran dan jurnalis dadakan turut serta mengeksploitasi info terkini, hingga rela menyediakan waktu mereka untuk membuat meme dan membagikannya ke akun media sosial mereka.

Related image

(http://thesocialrush.com/violence-2/women-oppressed/)

Kasus pelecehan seksual yang dialami oleh RA seorang Karyawan kantor BPJS yang dilakukan oleh bosnya menuai polemik yang nyata, ketika berita pelecehan seksual gadis 27 tahun itu disebarluaskan oleh salah satu media sosial Line Today yang kemudian dibagikan ke Facebook. Mengenai berita ini saja terdapat 1,6 ribu komentar dari para pengguna Facebook dan 458 kali dibagikan. Saya mengamati, komentar-komentar tersebut di dominasi oleh orang-orang yang kontra akan laporan korban dan menganggap bahwa laporan itu tidak valid, tidak masuk akal, hingga macam-macam komentar yang jelas-jelas mengarah ke penghinaan serta victim blaming kepada korban. Hanya sedikit orang yang benar-benar pro kepada apa yang dilakukan korban dengan melapor.

Untuk kasus prostitusi online artis, media juga membawakan berita secara masif, apalagi celoteh di media sosial. Anehnya, artis yang diduga melakukan prostitusi ini sama sekali tidak ditutupi nama panggungnya atau disensor wajahnya. Bahkan, tarif nominal yang ia pasang kepada pelanggan menjadi bahan bercandaan para pengguna media sosial. Tak jarang pula dari mereka yang membuat meme ‘kaleng’ yang menandakan pendegradasian diri seorang artis bersangkutan. Semua penikmat berita beramai-ramai mencerca bahkan menghardik artis ini, namun sangat sedikit sekali orang yang bertanya tentang siapakah pembelinya? Pria mana yang mampu membayar artis ini dengan rupiah yang tidak murah? Hampir tidak ada warganet yang menanyakan hal itu karena mereka terlalu sibuk menyoroti sang perempuan.

Tidak kalah juga kasus viral yang di lakukan oleh salah seorang polwan dari Makasar yang tertangkap basah oleh rekannya berselingkuh dan terbukti mengirim foto dan video pribadinya kepada seorang narapidana yang merupakan teman selingkuhnya. Sial memang foto dan video itu disebarluaskan oleh selingkuhannya hingga akhirnya si polwan dipecat secara tidak terhormat. Tidak kalah dengan kasus yang saya tuliskan sebelumnya, kasus polwan ini juga menjadi bahan cibiran ramai di media sosial. Lucunya, para netizen mencibir, menghina, bahkan ada yang melaknat tapi juga tidak sedikit yang meminta link video tersebut. Semua pencibir hanya berfokus pada polwan ini, tanpa ada keinginan menghakimi si narapidana yang sebenarnya juga melakukan kejahatan dunia maya karena menyebar konten pribadi tanpa consent si polwan. Jelas sekali, kasus ini bisa masuk ke dalam ranah UU ITE. Sungguh munafik jika dirasakan ketika di satu sisi perempuan ini dipandang begitu hina, tetapi banyak juga pria yang meminta link untuk menambah gairah libidonya.

Apa yang sebenarnya diinginkan oleh masyarakat Indonesia perihal seks dan selakangan? Mengapa hanya perempuan yang menjadi bahan olok-olok dan cercaan  hingga seakan-akan semua kejahatan yang menimpa perempuan sebagai korban terkesan seratus persen salah si perempuan? Analogi konyol tentang “kucing dan ikan asin” yang selama ini dimainkan juga seharusnya mampu dicermati dengan hati dan pikiran yang sedikit jeli; bahwa perempuan bukan ikan asin dan laki-laki bukanlah kucing. Betapa dungu laki-laki yang bangga ketika masyarakat kucluk menyamakannya dengan kucing dan menganggap wajar jika kucing akan dengan senang hati melahap ikan asin tanpa pikir panjang; tanpa memanusiakan dirinya yang seyogyanya memiliki dedikasi dan pride tersendiri sebagai seorang pria yang gigih menjaga martabatnya lebih dari seekor kucing. Kolot memang ketika analogi koplak ini masih terus-menerus disebarluaskan dan masih eksis di abad ke-21 ini dan masih juga sukses berkonstribusi untuk mengdeskriditkan kaum perempuan serta menganggap wajar apa yang dilakukan laki-laki dalam sebuah kasus kejahatan.

(https://blog.ipleaders.in/journey-of-indian-women-oppression-since-ancient-days-till-the-present-day/)

Budaya patriarkal masih begitu ramah dan akan terasa begitu murni serta lumrah ketika pola pikir masyarakat masih terus-menerus di ‘cekoki’ dan dibentuk dengan ide-ide inferioritas terhadap perempuan. Lebih miris lagi ketika standar perempuan dinilai dengan kata murah, rendah dan sampah hanya karena statusnya sebagai penjual jasa. Goblok, dungu, dan mau sama mau saat posisinya benar-benar sebagai korban atau penyintas kejahatan seksual. Tanpa mau tahu, tanpa mau mengerti, bahkan untuk membaca wacana mereka masih merangkak tertatih namun dengan lihainya menghakimi. Akan sampai kapan? Apalagi para hakim yang terhormat ini juga tidak sedikit yang datang dari jenis yang sama; tidak lain dan tidak bukan juga sesama perempuan. Apa yang membedakan hanyalah karena mereka lebih ‘suci’ tanpa ‘noda’ tanpa ‘dosa’ sehingga berhak menghakimi yang liyan. Mengutip judul buku yang ditulis pleh Prof. Faruk pada tahun 2000 Women Womeni Lupus, begitulah yang ada dalam rimba kami. Musuh terbesar perempuan adalah perempuan sendiri. Saya sebagai teman, anggota klub kumpulan perempuan berpesan, “wahai saudaraku, lebih bijaklah, agar engkau tidak menjadi kaum yang berkonstribusi dalam pendegradasian kaummu ini, berpijaklah dan saling merangkul sama-sama menggempalkan tangan dan berteriak tolak patriarki.”

 

Ilustrasi cover:

http://veromero.com/new-gallery-98/

Share This:

About Nindia Prastiwi 1 Article
NINDIA SEPTINA PRASTIWI adalah lulusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Bergabung dengan Matatimoer Institute sejak 2017. Saat ini ia menggeluti multmodal discourse analysisi dan critical discourse analysis untuk mengkaji persoalan religi dan gender.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*