Formula anti-radikalisme dalam sastra pesantren di area Jember-Situbondo-Probolinggo Jawa Timur – Indonesia

HAT PUJIATI, IRANA ASTUTININGSIH, EKO SUWARGONO

 

A. Pendahuluan

Sebulan terakhir, polemik perda syariah di beberapa daerah di Indonesia mencuat di media sosial. Pelaporan Grace Natalie sebagai ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) atas dugaan penistaan agama oleh Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) menunjukkan ketegangan antara kaum moderat dan konservatif di Indonesia. Grace dilaporkan karena pernyataannya bahwa “partainya menolak Peraturan Daerah (perda) berlandaskan agama seperti perda Syariah atau Perda Injil” (Junalpolitik.id, 2018). Alasan PSI yang dikemukanan Grace terhadap perda berlandaskan agama seperti perda syariah tersebut karena rawan diskriminasi. Bagi mereka, diskriminasi tidak dapat ditoleransi di negara demokratis seperti Indonesia yang memiliki keragaman budaya, suku dan agama. Diskriminasi dalam peraturan demikian justru mendorong pada perpecahan. Sementara itu pakar-pakar hukum negara juga memberikan respon berragam terkait polemik ini. Ada yang pro dan juga banyak yang kontra. Namun intinya, mereka setuju istilah perda syariah segmentaris Islam sehingga rawan diskriminasi.

Ada sensibilitas masyarakat yang meningkat terkait radikalisme agama di Indonesia saat ini. Tahun 2019 mendatang, dalam hitungan bulan, pesta demokrasi rakyat akan dilangsungkan. Dua kandidat yang akan bersaing tak lain adalah para calon di masa pemilihan sebelumnya. Dr. Michael Buehler seorang dosen perbandingan politik di SOAS (School of Oriental and African Studies, University of London) Inggris pernah melakuakn penelitian di daerah Sulawesi Selatan dan Jawa Barat dan melahirkan buku The Politics of Shari’a Law (2016) menemukan bahwa gerakan oleh kelompok-kelompok pegiat Islam yang ada saat ini bukan merupakan lanjutan dari gerakan kelompok yang sama yang pernah ada di Indonesia (Siregar, 2017). Munculnya perda-perda tersebut menurut Buehler lebih pada pemanfaatan politik untuk meningkatkan elektabilitas kelompok pegiat Islam di dunia politik. Perda-perda tersebut dalam temuan riset Beuhler ternyata tidak menunjukkan perubahan ideologis dalam masyarakat, bahkan cenderung itu diberlakukan oleh mereka yang tidak terlalu paham tentang syariah itu sendiri (Siregar,2017). Konsekwensi dari popularitas perda syariah ini justru menciptakan arogansi golongan yang merasa lebih Islam di antara yang Islam, diskriminasi pun rentan merebak dalam penerapan perda-perda tersebut. Masyarakat masa kini pun menjadi lebih rentan terhadap paparan berbagai kepentingan yang disembunyikan di balik teks dengan pesatnya pertumbuhan teknologi informasi yang serba elektronik, akses pun semakin mudah dan murah.

Diskusi yang dilakukan peneliti dengan penggiat sastra di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Menanggapi teknologi informasi yang berkembang pesat, kami melihat sisi positif dari fenomena ini yaitu kebisaan membaca masyarakat pun tumbuh. Netizen Indonesia adalah komunitas besar yang tidak bisa diabaikan oleh pemerhati ekonomi, sosial, budaya atau pun politik karena ini menyababkan perubahan kultural. Hanya saja, kebiasaan membaca teks pendek pada pesan-pesan personal melalui sosial media atau pun paparan singkat ini belum dibuktikan penelitian mengenai korelasinya dengan kemampuan membaca kritis para masyarakat yang telah akrab dengan teknologi komunikasi. Setidaknya melalui provokasi-provokasi singkat di media sosial yang mengarahkan pembaca pada model yang kami tawarkan menjadi motivasi kami dalam menciptakan model sastra pesantren yang peka terhadap radikalisme sehingga bisa mengantipasinya dan memberikan alternatif-alternatif pemikiran terhadap kekakuan pikir radikal. Dalam tulisan ini kami akan memetakan formula antiradikalisme yang disajikan tulisan-tulisan dalam buku model tersebut menggunakan teori formula oleh John Cawelti. Adapun rumusan masalah yang kami susun untuk bisa membaca formula dalam buku model tersebut adalah sebagai berikut: pertama, bagaimana struktur karya-karya dalam buku model tersebut? Kedua, bagaimana pengetahuan tentang radikalisme dan deradikalisme dihadirkan dalam tulisan-tulisan di buku model?

B. Sastra dan formula oleh John Cawelti

Cawelti melihat sastra sebagai sebuah struktur yang tidak bisa dilepaskan dari budaya yang berkembang di sekitar penciptaannya. Pola struktur sastra yang terikat dengan budaya, yang berarti juga terikat pada masa dan tempat tertentu, disebutnya sebagai formula. Dengan kata lain, formula ini merupakan arketip dari apa-apa yang sudah ada di sebuah masyarakat. Secara umum, menurut Cawelti formula sastra merupakan struktur naratif atau konvensi dramatik yang melibatkan karya-karya individual dalam jumlah besar (1976:5). Formula sastra yang ada saat ini bisa berakar dari imaji-imaji, simbol-simbol, tema atau pun mitos dari sebuah kebudayaan (Cawelti, 1976:16). Sastra sebagai sebuah produk kebudayaan yang berupa imajinasi ini bagaimana pun tidak dapat disamakan dengan kenyataan sebenarnya. Maka melalui sastra pembaca mengalami sebuah eskapisme, atau pelarian dari kenyataan yang sebenarnya dan masuk ke dalam dunia asing yang diciptakan dalam karya sastra tersebut. Dunia yang kita kenal sebagai kenyatan dalam kehidupan sehari-hari dibentuk ulang dengan kreativitas dalam sastra sehingga menjadi kenyataan yang berbeda. Namun pola dari kenyataan yang diciptakan terhubung dengan kenyataan yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Keterhubungan sastra dengan dunia nyata hadir dalam struktur mikrokosmos cerita. Formula dengan demikian merupakan sebuah strukturasi makrokosmos ke dalam mikrokosmos cerita sehingga penikmatan terhadap karya dengan formula pada waktu tertentu bisa dinikmati atau bahkan digandrungi oleh pembacanya. Bagaimana meramu pola sastra secara artistik ini berkaitan dengan fenomena dalam masyarakat. Dengan demikian latar kontekstual sastra sebagai modal estetis dalam formula tergantung pada pemaduan dimensi eskapis yang ditawarkan pada audien agar mereka tetap bisa menikmati dengan menemukan korelasi eskapisme tersebut dengan kenyataan (1976:34).

Dunia rekaan dalam cerita, yang oleh Cawelti disebut sebagai pola fantasi, terbentuk dari beragam ekspresi artistik sehingga membentuk konvensi akan fantasi. Konstruksi mikrokosmos dalam cerita formulaik haruslah menekankan pada moral fantasinya agar eskapis karena tujuan dari formula adalah ‘escape’. Moral fantasi dan mimesis sebagai formula utama dalam konvensi formula sastra ini merupakan pemetaan mikrokosmos sebagai poros eksistensi kontinum yang agak kompleks (1976;37). Untuk itu Cawelti menyederhanakan moral fantasi dalam konvensi kontinum ini menjadi lima; Petualangan (Advanture), Romance, Misteri, Melodrama dan makhluk atau keadaan asing (Alien Being or States). Moral fantasi petuangan berkisah seputar perjuangan hero dalam menumpas kejahatan dan melalui rintangan hingga menggapai kemenangan, sementara Romance lebih menekankan perihal cinta dimana semua aksi dalam cerita ditujukan untuk mengembangkan hubungan cinta kasih. Misteri lebih pada pengungkapan rahasia, semua rintangan yang ada menguji suspense yang dibangun dengan kekuatan logika. Melodrama lebih pada gabungan kempat moral fantasi yang ada dengan permasalahan yang problematis; petualangan, cinta, misteri dan Alien Being atau States. Sementara Alien Being atau States menghadirkan makhluk atau keadaan asing dalam cerita, genre horor adalah yang paling sering menggunakan formula ini dengan kehadiran moster (1976: 37-50). Moral fantasi yang disebutkan tersebut memiliki kebaruan-kebaruan sesuai perkembangan zaman dan interaksi antar budaya satu dengan yang lain. Adapun peralatan sastra yang kerab digunakan digunakan dalam menciptakan karya formulaik adalah sebagaimana dinyatakan Cawelti berikut.

Much of the artistry of formulaic literature involves the creator’s ability to plunge us into a believable kind of excitement while, at the same time, confirming our confidence that In the formulaic world things always work out as we want them to. Three of the literary devices most often used by formulaic writers of all kinds can serve as an illustration of this sort of artistic skill: suspense, Identification, and the creating of a slightly removed, imaginary world (1976:16).

Terkait dengan apa yang telah diuraikan Cawelti tersebut, maka metode yang mungkin dalam mengaplikasikan teori ini ke dalam karya sastra adalah sebagai berikut. Pertama, pemetaan struktur karya dengan memperhatikan konstruksi suspense, mengidentifikasi karakter dan hubungan emosionalnya dengan kita sebagai pembaca untuk mengukur kedekatannya dengan dunia mimetik sehingga bisa kita petakan posisinya dalam eskapisme atau kah masih dalam area standar yang selama ini telah dibangun. Selain itu dunia imajiner yang dibangun cerita juga merupakan elemen intrinsik penting dalam hal konstruksi eskapis. Pembacaan formula tidak bisa dilepaskan dari aspek kultural karena dasar teori formula ini terbentuk dari konvensi pola-pola cerita (1970:30). Formula terbaca setelah setidaknya ada satu dasar popularitas dieliminasi.

C. Pembahasan

1. Kontestasi dan negosiasi religiusitas dalam sastra pesantren

Seperti yang telah disampaikan Cawelti bahwa formula adalah sejenis seni sastra (Cawelti, 1976:08) yang melihat bentuk universal dari karya-karya yang ada atau arketipe. Artikel ini membahas elemen sastra dari karya-karya dalam buku model dari suspense, identifikasi serta dunia imajiner yang ditawarkan.

i. Puisi-puisi Halim Bahriz

Lima judul yang ditulis Bahriz dalam antologi puisi dan cerpen buku model hasil penelitian berjudul Igauan Bantal yang Terbakar, Siklus Tasbih, Hari yang Lupa Kami Tunggu Akhirnya Tiba, Tabiat Mandat dan Peziarah Gaib. Sebagai sastra pesantren, karya-karya tersebut menghadirkan ketuhanan dan kemanusiaan dari peristiwa yang sehari-hari dalam beragama hingga masalah politik. Dari bentuk puisi yang bercerita hingga puisi yang merupKn abstraksi pengalaman manusia yang taat hingga yang ‘galau’. Puisi Hari yang Lupa Kami Tunggu itu Akhirnya Tiba mengisahkan kecelakaan yang dialami seorang lelaki di tepi danau, pengisahan digambarkan seperti layar monitor rekaman peristiwa yang dikatakan “/Jalan sepi di pinggir rawa cuma menyediakan cctv sebagai penyadap cerita yang tak lengkap./” (Bahriz, 2015). Suspense dibangun dalam peristiwa ini dengan pertanyaan siapakah lelaki itu. Bait-bait selanjutnya mengisahkan ibu yang menyediakan bumbu untuk ikan-ikan hasil tangkapan ayah, anak yang menonton televisi dan juga bermain gitar. Suasana rumah yang terkesan rumahan ini menghadirkan dunia imajinasi yang biasa, penghadiran dunia paralel antara fiksi dan kenyataan. Kehidupan keluarga menjadi sudut pandang tentang kematian yang justru kebalikan dari hidup itu sendiri. Narator menggambarkan kematian tokoh ayah yang datang tanpa pernah dibayangkan sebelumnya, kematian selalu diidentikan dengan usia lanjut, sesuatu yang jauh dari mereka yang muda. Namun sore itu, ayah mereka yang belumlah lanjut usia tiba pada definisi kematian dan baru menyadarkan narator yang muda bahwa kematian itu ada dan hari yang lupa mereka tunggu itu akhirnya tiba. Bagaimana lupa dan kematian menginterupsi hidup yang menjadi kebiasaan dan menghadirkan kekuasaan Tuhan yang bisa kapan saja terjadi. Peristiwa ini menegaskan kuasa Tuhan atas manusia. Tetapi teks tersebut tidak menyoal lupa sebagai dosa melainkan manusiawi.

Sementara, dalam Tabiat Mandat, Igauan bantal Terbakar, dan Peziarah Gaib, fantasi akan dunia ideal di mana Tuhan-manusia-alam dihadirkan melalui hasrat kuasa yang tidak pernah lahir tanpa penindasan (Hariatmoko,2015). Diri manusia dan hasratnya dihadirkan dalam keterasingan, laju modernitas yang membangun jarak-jarak kesadaran diri dengan keinginan dan tuntutan arus perubahan yang tergesa menghapuskan hubungan-hubungan kontak langsung dengan hubungan kontak elektronik. Diksi yang digunakan Bahriz dalam puisi-puisinya di antologi ini misalnya copy paste, cctv, yang keduanya mengacu pada barang-barang elektronik. Tentu saja diksi semacam ini tidak akan lahir dalam puisi Chairil Anwar arau pun Emily Dickinson karena pada era mereka hidup, teknologi belum mencapai tahapan elektronik. Bahkan dalam Igauan Bantal yang Terbakar Bahris menuliskan sebagai berikut.

tapi jangan juga kau

copy paste seruan seruan bung tomo, tanpa membayangkan bahwa butir butir pelor telah menjadi biji-biji tasbih yang berjalan 24 jam di ujung jari jari tangan para pemegang saham dan lubang meriam telah menjelma rahang seorang pembesar parpol yang kata-katanya bisa meledak di saku celana anak-anak kita kapan saja (Bahriz, 2016).

Kata-kata pembesar parpol bisa meledak di saku celana anak-anak merupakan ungkapan atas teknologi komunikasi yang telah berkembang pesat dimana dengan gadget, siapa pun, di mana pun bisa mengakses konten informasi apa saja tanpa saringan akan laju teknologi dan perilaku manusia yang sulit dikendalikan dengan fasilitas-fasilitas kemudahan mengaburkan keyataan dan ilusi. Manusia terasing di dunianya sendiri, di antara barang-barang ciptaannya dan mengalami keterpecahan kesadaran di dunia yang tadinya telah familiar baginya. Artinya perilaku manusia yang terjajah oleh barang-barang ciptaanya ini perlu kendali yang bukan terbuat dari barang elektronik, melainkan kembali pada fitrahnya sebagai manusia. Biji-biji tasbih yang berputar di tangan pemegang saham tentu saja tidak dalam rangka zikir mengingat Tuhan melainkan simbol ketuhanan yang mulai menghilang ditelan oleh kehendak, kehendak kuasa dan keuntungan. Manusia butuh membedakan mana keadilan dan mana perihal salah benar yang tak lain merupakan konstruksi. Keterasingan itu akan berlanjut yang ujungnya hanya akan menghadirkan schizophrenia masal dan manusia kehilangan dirinya, ketenangan, serta tempat untuk hidup karena alam yang tak lagi memenuhi kebutuhan dasar manusia. Puisi Siklus Tasbih berbunyi sebagai berikut.

satu titik

yang bahkan, ketika kau tinggalkan

kau tetap menuju

kepadanya (Bahriz, 2015)

Hiruk pikuk dunia yang penuh kehendak dan imaji-imajinya akhirnya hanya menuju pada satu titik. Ketuhanan yang tak diliteralkan namun dituju. Apa yang diucapkan kerap kali hanya kamuflase, kepura-puraan seperti diungkapkan dalam Tabiat Mandat. Atas nama agama, seorang calon manusia mati bersama ibunya, anak narrator yang dicap sebagai anjing jahiliah karena pengangguran dan tukang mabuk oleh bapak kekasihnya yang seorang kyai. Tampilan luar kerap menyihir orang kebanyakan dan memuja atribut, cangkang, atau status namun kehilangan isi. Gambaran ini ada pada kyai yang dicium tangannya oleh masyarakat di tempat-tempat umum, imam masjid namun gagal memanusiakan manusia lain yang tidak satu pandangan, tidak di jalan yang sama dengannya. Bahriz menggambarkan kebenaran-kebenaran semu yang dipuja namun kehilangan isi sebagai berikut.

sebentar! kulihat bapakmu sumringah di dekat pasar orang-orang menciumi tangannya. mirip tabur kembang menanam wangi di tanah makam; yang paling binatang tak mengendus busuk bangkainya lagi. mataku terbakar! teringat nasib anak kita yang tak sempat punya nama. juga kematianmu—yang seakan wajar: o, langit biru mengapa pada orang dungu mesti kami minta restu?

aku kembali, pak kyai, dengan lenguh ngilu yang berdenyutan di sumsum tulang.

(Bahriz, 2015)

ii. Puisi-Puisi Al-Falah yang bertutur: Enigmatik dan kritis

Supriandi yang tumbuh dan mengajar SMP di Ponpes Al-Falah di Karangharjo-Jember bermain teka-teki kenyataan, kenangan dan hidup dengan syurga yang maya namun diyakini ada. Kebersamaan hidup dipesantren seperti dalam Kulluhum, teriakan santri pada temannya ketika baru saja mendapat bekal kiriman dari keluarganya di rumah. Tak perduli lauk apa, asal makan cuma-cuma bersama-sama, kebahagiaan itu nyata bagi mereka. Maria Ulfa Juga dari pesantren yang sama, dia menjadikan apa pun yang ada dalam jangkau pandangnya sebagai objek untuk bertutur perihal tahapan hidup, Hikayat Pohon Rambutan dan puisi Tokoh di tangan Maria menjadi kisah sederhana keseharian hidup di kampung yang tak asing dengan pohon rambutan, petani, /anak kecil yang meraung nestap/, interaksi yang muda dan tua begitu lepas. Kepentingan-kepentingan politik, usaha perolehan suara para calon yang mengunjungi mereka yang di desa kerab menggunakan para tetua desa atau imam-imam masjid. Dalam Tokoh, Maria menggambarkan keresahan politik yang kerab mengatasnamakan agama sebagai berikut.

Ada deru serta seru mengharu kalbu

Kepada kekuasaan, mereka temu pada tamu

Hujan dan pawangnya berlarian menjaga teduhnya para orang

Menanam yakin di ladang desa

Sedang ketika ada emas di gubug hamba

Lupanya tak bisa kita eja

Mungkin memang begini,

Zaman jadi basah karena tangis menjadi bengis

(Ulfa, 2018)

Bakal tambang di Silo-Jember yang tak jauh dari Al-Falah ini tak lain sebagai hasil nego politik para penguasa. Puisi ini berbicara dari sisi mereka yang menyayangi tanah mereka tempat hidup namun kekuasaan hendak merebutnya. Kritik terhadap kebijakan yang tak berpihak pada mereka yang kecil juga muncul dalam sastra pesantren yang tanpa mengungkapkan ketuhanan secara literal tetapi kemanusiaan sebagai produk etis dari pengetahuan, keimanan dan hukum-hukum dalam ajaran agama kerap diabaikan. Puisi-puisi Maria Ulfa ini menegosiasikan kemanusiaan tanpa melepaskan religiusitas melalui peristiwa-peristiwa kecil dalam hidup sehari-hari.

iii. Nurul Jadid: Cerita-cerita dengan nilai kultural dan ekologis

Sementara senada dengan Maria, Diyana Millah Islami dalam cerpennya Hadiah dari Tamu juga menghadirkan peristiwa keseharian dan kritik terhadap sikap etis kebanyakan masyarakat yang dihipnotis doxa. Kedatangan tamu tak selalu membahagiakan, hadiah istimewa dari tamu juga tidak selau cocok dengan keadaan penerimanya. Cerpen tersebut berkisah tentang tamu mantan tunangan suami yang masih berhubungan baik dengan keluarga besar sang suami. Lilis datang bersama keluarga besarnya ke tempat Rohim. Istri Rohim yang hidup melarat, demi menyambut tamu jauh yang dihormati keluarga harus berhutang pada tetangga untuk memberikan sajian yang pantas pada tamu terhormat. Saat Lilis pulang, tak lupa dia memberikan pakaian-pakaian mewah sebagai oleh-oleh pada keluarga Rohim, tapi istri Rohim menjual pakaian-pakaian itu untuk membayar SPP anak kembarnya yang belum terbayar, membayar hutang yang dipakai untuk menyiapkan sajian istimewa dan juga untuk membeli kebutuhan. Istri Rohim yang menjadi narator ini mengungkapkan kejengahannya hidup bermasyarakat yang berorientasi materi sebagai berikut

 

Adat-istiadat di desa kami, jika sesorang diminta bantuan di dapur untuk sebuah hajatan, maka orang yang diminta bantuan tenaga itu wajib menyumbangkan bahan makanan. Bahan makanan itu akan diganti ketika orang yang menyumbang tadi juga memiliki hajatan pada suatu hari nanti. Jika orang yang diminta bantuan tidak memiliki apa-apa untuk disumbangankan, jangan pernah berani untuk menampakkan batang hidungnya di tempat hajatan agar tidak digunjingi.

Kebiasaan-kebiasaan antartetangga yang seperti itu, seringkali membuatku merasa jengah hidup bermasyarakat. Semuanya serba butuh materi. Sedikit-sedikit uang, apa-apa uang, yang kerap membuatku pusing di pojok dapur. Dapurku yang asapnya tak setebal asap rokok suamiku (Islami, 2018:5).

Adat yang membebani seorang istri yang hanya bisa menyabit rumput untuk pakan ternak, kesewenangan patriarki yang digambarkan dalam asap dapur yang tak setebal asap rokok suaminya mengalir seolah wajar dalam cerita. Perempuan yang harus patuh pada suami, pontang panting mengatur kekuasaan domestiknya dimana suami yang bahkan secara adat dibenarkan merokok banyak-banyak mengalahkan kebutuhan domestiknya digugat dalam cerita. Istri Rohim pun memilih menegosiasikan keadaan domestiknya dengan kebiasaan atau pandangan baik-tak baik dalam lingkungannya dengan menjual hadiah dari tamu. Dia sadar risiko menjual hadiah dari Lilis akan dipandang bentuk kecemburuan pada kisah masa lalu karena Lilis adalah mantan tunangan sang suami. Istri Rohim melaporkan keadaannya, ternyata Rohim tidak keberatan dan memahami bahwa keadaan domestik mereka lebih membutuhkan uang dari pada pakaian hadiah tersebut.

Diskusi peneliti dengan penggiat sastra di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Laila Haqy juga dari Nurul Jadid dengan cerpennya Rebbe, yaitu nasi tumpeng yang biasanyanya di buat di piring, sederhana dengan lauk seadanya dan biasanya dibagikan pada tetangga atau guru setelah pihak yang mengadakan selamatan berdoa, mengangkat persoalan kultural dalam kehidupan religius tanpa menjadikannya ‘dosa’. Justru nasi rebbe tersebut menjadi harapan si miskin yang sedang kelaparan. Dalam Puisinya Aku Suka Menari, Haqy tak segan merayakan perasaannya dengan ‘menari’ yang membebaskan tubuh berekspresi tanpa kungkungan justifikasi. /Aku suka menari/ diam-diam/merayakan yang sering tak terkatakan/ hingga tenggelam/ lupa/ mana kamar/ mana kolam/ lesap/ bersama adzan/ kadang lonceng/ (Haqy, 2018). Adzan dan lonceng menghadirkan keragaman paham, kendali terhadap tubuh pun diambil alih oleh pemilik tubuh sehingga paham tak lagi atas nama. Ada terobosan-terobosan batas yang dibuat puisi ini namun tidak radikal, tidak juga bid’ah, hanya kembali pada fitrah manusia yang juga butuh pelepasan berekspresi.

Puisi-Puisi Baidawi, santri Nurul Jadid ini banyak bicara cinta. Pesona alam yang juga bentuk kebesaran Tuhan menginspirasi untuk merawat alam sebagai bagian dari hidup. Ada malu ketika hendak mencemari kemegahan alam dengan kegemaran yang kerab tak dapat dibendung; merokok. Dalam puisi Pagi Ini, Baidawi menggambarkan pagi sebagai berikut:

Perlahan bias-bias temaram pagi merambat

lereng hijau menjulang Bunga-bunga mekar di

sepanjang tepian jalan Gemericik air di pembatas

ladang dan pematang Memantik syukur di

relung-relung terlalu alpa Lalu kuhirup dalam

Menginjak puntung yang gagal kunyalakan;

Oh.

Nikmat mana yang hendak kudustakan?

(Baidawi, 2018)

Sementara dalam Up-gradasi Doa, Baidawi kembali memadukan perihal keimanan dan kemanusiaan selaras dengan alam. Ada usaha-usaha mengingatkan hubungan manusia dan alam yang kerab dilupakan dalam era digital ini agar doa bukan hanya dirapal, tapi laku dari doa harus dijalankan pula. Akan ada masa tanah kering dan pohon sulit tumbuh dan masa itu adalah ketika /Angka-angka dijadikan rumus kehidupan/Kata-kata dirangkai sebagai hiburan/Menjadi teknologi pembaharuan/ //Barulah doa-doa dipahat pada dinding-dinding/Dibaca layaknya mantra/Kemudian diamini (Baidawi, 2018). Manusia-Tuhan-alam dalam puisi-puisi Baidawi mengindikasikan kesadaran ekologis yang harusnya juga dijaga sebagaimana ajaran agama untuk menjaga kehidupan itu sendiri.

Di puisi Kumpulan 14, Baidawi lebih liar menghadirkan Tuhan dalam puisinya semacam larik berikut: /Tuhan… ijinkan aku menelanjangimu dengan caraku/Mencumbumu dengan birahiku/Hingga aku tak mengenal waktu (Baidawi, 2018). Tuhan yang tak kasat mata hendak ditelanjangi, diumpamakan Tuhan hadir bertubuh dan berpakaian. Kebersatuan diri dengan Tuhan dilebur oleh waktu sehingga tak ada lagi batas masa yang menghalangi antara diri dan Tuhan. Kebebasan yang dihadirkan dalam puisi ini lebih pada penyatuan dengan Tuhan. Ada ekstasi yang dibawa puisi melalui penghadiran Tuhan dalam wujud bahkan hendak dicumbu.

iv. Perenungan keyakinan dan laku dari pesantren salaf

Sementara Bismillah…! (2018) Oleh Wilda Zakariyah, alumni ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo- Situbondo membangun dunia kepenulisan yang megah dalam cerita. Kaila perlahan-lahan menggapai mimpinya untuk menjadi penulis berkelas Internasional dan menikah dengan laki-laki yang juga punya kesamaan minat pada kepenulisan. Ayah Kaila juga seorang penulis di rezim lalu dan tulisannya dianggap menentang rezim sehingga dia pun terbunuh oleh tulisannya. Rezim berganti dan Kaila melanjutkan kepenulisan tersebut pada saat menulis telah lebih bebas. Walau pada kenyataannya dunia penerbitan di Indonesia tidak semeriah Inggris atau Amerika dengan J.K Rowling atau Stephenie Meyer dan Suzanne Collins, cerpen oleh Wilda ini menggambarkan penulis sebagai profesi menjanjikan. Sebagai produk pesantren, judul-judul yang dibuat dalam cerita bernada islami seperi Habblun minannas dalam Politik dan Mendamba Jalan Lurus-Mu. Dunia keislaman dengan demikian juga memberikan alternatif profesi menjanjikan. Ketegangan yang muncul sepanjang cerita bukan pada kecurigaan warga saat ayah Kaila akhirnya dibunuh, karena kisah itu hanya kilasan masa lalu. Suspense yang mendebarkan justru pada ijin ibu bagi Kaila untuk menjadi penulis. Kekhawatiran Ibu akan situasi politik Negara lah yang membuatnya berat mengijinkan anaknya menjadi penulis. Dia takut akan kehilangan sekali lagi. Namun akhirnya cerita memberi ruang eskapis dalam kesuksesan Kaila sebagai penulis. Izzul Muttaqin juga ikut menulis dalam kumpulan puisi model yang kami rangkai dalam luaran buku model kami ini. Kota Kata Kita memiliki diksi yang abstrak seperti / Kota kata kita/ Adalah reruntuhan sajak/ -putus harap dari diksi-/ Membentang dari ujung pantai/ Menuju pegunungan/ Melipat dosa/Menukar logika (Izzul, 2018). Perenungan filosofis masih menjadi ciri dari tulisan Izzul perihal Ketuhanan dan kebenaran-kebenaran yang menyertai dalam ajaran agamanya (Pujiati, 2018). Sebelumnya, Izzul menulis novel berjudul Menggapai Kosong yang juga mengkritisi kepasrahan beragama dengan segala aturannya yang telah ada sejak manusia-manusia sebelum saat ini. Puisi Kota Kata Kita ini menghadirkan kebersamaan, penerimaan pada yang berbeda tanpa kecurigaan namun masih dalam keraguan bila ternyata itu adalah kesalahan. Lalu / roh kudus menghardikku/ padahal pengambilan posisi untuk melebur dalam perbedaan belumlah matang yang ditunjukkan oleh larik /Sementara aku, masih terpelintir/ Tanya pada lidah. Emosi yang ditampilkan dalam puisi ini fluktuatif.

Tarik ulur dan lebur atau tidak dilepaskan dalam harapan agar /…Kota Kata Kita menjelma mantra/ seperti kekuatan Tuhan mengubah segalanya dalam /“Kun, maka Jadilah”/. Kekakuan dari jejak konservatif ruang-ruang tumbuh Izzul di pesantren salaf menunjukkan kelenturan, semacam pintu selamat datang pada perbedaan yang dengan takut-takut dibuka karena dikembalikan pada Tuhan yang maha segalanya dengan sabda ajaibnya “Kun” maka semua yang dikehendakinya pun terjadi. Apalah manusia dengan segala kekuatannya bila dihadapkan pada “Kun!”.

Cawelti memang tidak mencontohkan analisis menggunakan teori formula pada puisi. Dia mengurai struktur narasi dalam fiksi dengan memetakan struktur narasi. Pemetaan plot dalam seni sastra fokus pada suspense, identifikasi, dan dunia imajiner. Dalam puisi aspek-aspek tersebut juga hadir, karena puisi juga bercerita. Seperti puisi-puisi Halim Bahriz tersebut, alur berjalan melalui peristiwa-peristiwa baik naratif realistis, abstrak, atau pun peristiwa yang psikologis. Dari larik ke larik, saat mengisahkan cerita, ketegangan juga pop-up dan fluktuatif. Ini terjadi juga pada puisi Baidawi yang melukiskan pesona alam, keingintahuan pada apa selanjutnya dari paparan yang mimetis tersebut memberikan kejutan-kejutan, entah jatuh pada linieritas dunia yang ini, yang fana, yang fisik, atau pun pada pelepasan-pelepasan filosofis riligiusitas yang cenderung surgawi, psikologis, abstrak dan etis. Peristiwa-peristiwa kecil perihal kehidupan sehari-hari muncul dalam diksi yang mereka pakai. Sastra pesantren yang identik dengan kehidupan tradisional dan islami menggiring pada harapan akan kehadiran istilah-istilah dalam bahasa Arab yang bertebaran dalam karya mereka, dan seperti yang telah distereotipekan bahwa mereka tradisional, ternyata tidak terwujud. Era digital di tahap Industri 4.0, paparan media sosial sebagai konsekwensi perkembangan teknologi informasi yang pesat ini selain menyuburkan radikalisme yang mendoktrin masyarakat dalam jangkauan luas, juga membentuk kecanggihan berbahasa para penulis. Dunia imajiner yang dihadirkan juga kompleks. Religiusitas tidak selalu identik dengan istilah Arab atau pun bahasa tinggi yang membedakan posisi antara manusia dan Tuhan. Tuhan hadir dalam berbagai bentuk dalam tulisan-tulisan ini, kadang bertubuh, kadang berupa keengganan karena merasa diawasi, atau sikap-sikap kritis tokoh cerita terhadap adat seperti yang diungkapkan Diyana Millah dan Maria Ulfa.

2. Formula anti-radikalisme dalam sastra pesantren: Penanaman nilai kultural, ekologis, ideologis dan humanis

Radikalisme dalam makna kamus merupakan 1 paham atau aliran yang radikal dalam politik; 2 paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; 3 sikap ekstrem dalam aliran politik (https://kbbi.web.id/radikalisme). Dalam tulisan ini radikalisme lebih dimaksudkan pada kekakuan pada paham tertentu yang cenderung politis dan menentang negara dengan kehendak menggantikan presiden sebagai pimpinan Negara dengan kepemimpinan khilafah. Isu radikalisme agama di Indonesia ini tumbuh subur dengan berbagai aksi idelogis melalui teks di media sosial hingga pada aksi politis seperti 212. Objek materi dari tulisan ini memang didesain untuk memberikan melawan wacana radikal namun formula tulisan sepenuhnya di tangan para penulis. Alternatif-alternatif untuk melawan radikalisme melalui karya sastra ini sangat tergantung pada pengetahuan yang mereka miliki, lingkungan mereka tumbuh dan bergaul, dan abstraksi-abstraksi yang mampu mereka lakukan sebagai upaya melawan radikalisme yang mengancam keharmonisan bangsa. Artinya aspek kultural mengonstruk wacana-wacana yang mereka hadirkan dalam sastra karena sastra memanglah sebuah produk kultural.

Peneliti berbincang santai dengan penggiat literasi di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Para penulis tersebut mencatat dalam karya mereka bahwa ketamakan, hasrat pada kuasa yang dicapai dengan penindasan ini lah radikalisme yang menjadi lawan kemanusiaan. Sikap-sikap religius pun hanya dijadikan tameng untuk mencapai kuasa. Oleh karenanya, karya-karya ini menderadikalisasi yang radikal dengan cinta; dengan kembali memanusiakan manusia dengan kemanusiaan dan memperhatikan kerangka-kerangka fungsi diri sebagai manusia dan tanggungjawabnya pada manusia, Tuhan dan alam sebagai wujud hidup itu sendiri. Isu kultural, Ekologis, ideologis dan humanis pun menjadi pilihan mereka untuk mendudukkan perkara manusia dengan manusia, Tuhan dan alam sebagai poros hidup. Ketiga poros hidup tersebut tidak bisa dipisahkan dan sebenarnya ketiganya telah ada dalam mitos, cerita-cerita rakyat, ajaran-ajaran nilai dan moral dalam masyarakat sebagai arketipe. Kebaruan formula para penulis ini ada pada permainan diksi dan emosi serta pemilihan materi penyampaian usaha eskapis dari yang telah ada. Kampanye anti radikal sebagai sebuah gerakan yang membidik berbagai kalangan ini memakai persoalan-persoalan sehari-hari (bukan tokoh dan peristiwa spesial semacam Hercules, keluarga kerajaan, Perang Salib, atau pun Hijrah Nabi) untuk memikirkan ulang hingga muncul sikap kritis terhadap kemungkinan-kemungkinan lahirnya ketidakadilan. Radikalisme lahir atas dasar berbagai alasan, entah itu ekonomis atau pun ideologis (Zaini, 2017). Ragam penawaran yang dilakukan para penulis objek materi ini menjadikannya lebih mungkin efektif. Penawar radikalisme diberi pilihan tergantung akar dari sikap radikal tersebut.

D. Simpulan

Dari pemetaan yang telah dilakukan pada karya-karya santri dan alumni santri ini menunjukkan bahwa religiusitas harusnya tidak ditumbuhkan terpisah antara manusia-Tuhan-alam. Meyakini Tuhan seharusnya mampu menghargai perbedaan pada manusia karena perbedaan pun merupakan ciptaan Tuhan yang menunjukkan kebesaran-Nya. Alam juga demikian; keimanan harus bisa diikuti oleh laku yang tidak menghapus situs-situs kebesaran dan kekuasaan Tuhan di alam raya. Kesadaran ekologis sebenarnya telah ditanamkan dalam setiap ajaran religius. Merawat kebudayaan juga menjadi salah satu cara dalam membina harmonisasi dalam masyarakat majemuk yang humanis. Nilai-nilai kultural sesungguhnya pada tahapan filosofis juga bertemu dengan angan-angan surgawi yang diharapkan dalam setiap ajaran keagamaan sebagaimana yang dihadirkan Haqy dalam cerpennya Rebbe, Tuhan tidak absen pada nasi tumpeng jejak peradaban Hindu itu. Perpecahan atas nama agama seharusnya memang tidak perlu hadir dalam kehidupan bermasyarakat.

Daftar bacaan

Bahriz, Halim. 2015. Hari yang Lupa Kami Tungggu itu Akhirnya Tiba. Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Bahriz, Halim. 2015. Sikulus Tasbih. Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Bahriz, Halim. 2015. Tabiat Mandat. Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Bahriz, Halim. 2016. Igauan Bantal yang Terbakar. Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Baidawi. 2017. Kumpulan 14. Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Baidawi. 2017. Up-gradasi Doa. Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Baidawi. 2018. Pagi Ini. Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai Dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Cawelti, John. 1976. Adventure, Mystery, and Romance; Formula Stories as Art and Popular Culture. Chicago: The University of Chicago Press.

Haqy, Laila. 2017. Rebbe. Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Haqy, Laila. 2018. Aku Suka Menari. Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Haryatmoko. 2015. Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis. Yogyakarta: Penerbit Boekoe Tcap Petroek.

Islami, Diyana Millah. 2018. Hadiah dari Tamu.Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Jurnalpolitik.id. 2018. Yusril: Indonesia Tak Kenal Istilah “Perda Syariah”. (diakses pada 26 November 2018 di laman https://jurnalpolitik. id/2018/11/26/yusril-indonesia-tak-mengenal-istilah-perda-syariah/ amp/)

Kamus KBBI. Diakses dari laman https://kbbi.web.id/radikalisme

Muttaqin, Izzul. 2018. Kota Kata Kita. Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai Dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Pujiati, Hat. “Representasi Radikalisme dan Deradikalisme Agama dalam Sastra Pesantren.” Jurnal Bahasa dan Sastra; Adabiyyat. Vol II no. 1, Juni. Halaman 1-28. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Siregar, Liston P. 2017. “Mengapa Perda Syariah Bermunculan di Indonesia Sejak 1998?” (diakses pada 26 November 2018 di laman https://www. bbc.com/indonesia/indonesia-39033231).

Supriandi. 2018. Kulluhum. Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Supriandi. 2018. Sajak Maya. Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Ulfa, Maria. 2018. Hikayat Pohon Rambutan. Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Ulfa, Maria. 2018. Tokoh. Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Zaini, Moh. Zuhri KH. 2017. Memahami dan Menangkal Kelompok Radikal Transnasional. Dalam Al-Fikr edisi Oktober 2017.

Zakiyah, Wilda. 2018. Bismillah…!. Naskah dibuat untuk buku model dari riset berjudul “Konstruksi Damai dalam Perspektif Santri: Model Kreativitas Sastra di Pesantren Berbasis Wacana Religius-Humanis untuk Pencegahan Radikalisme.”

Tulisan ini dimuat dalam Prosiding Seminar Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia Komisariat Jember. Untuk mensitasi:

Pujiati, Hat, Irana Astutiningsih, dan Suwargono. 2018. “Formula Anti-Radikalisme dalam Sastra Pesantren di Area Jember-Situbondo-Probolinggo Jawa Timur Indonesia”. Dalam Novi Anoegrajekti, Heru SP. Saputra, Titik Maslikatin, dan Sudartomo Macaryus. Sastra dan Perkembangan Media. Yogyakarta: Penerbit Ombak. hlm. 559-574.

Share This:

About Hat Pujiati 9 Articles
Hat Pujiati adalah peneliti di Matatimoer Institute, juga pengajar di Jurusan Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya Universitas Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*