Yang Bercahaya di Kaki Gunung Raung

Oleh AMAL TAUFIK

“Pokoknya, Mas, orang-orang sini itu kalau senang ngajak saya. Kalau ruwet juga ngajak saya,” selorohnya. Ia menyulut entah batang rokok ke berapa, lalu melanjutkan, “Mobil saya itu,” ujarnya sambil menunjuk Toyota Avanza silver di depan rumahnya, “Multifungsi. Ada tetangga lamaran pakai mobil itu; ngantar pengantin, orang melahirkan, orang sekarat juga pakai itu; bahkan dulu pernah saya ngantar orang sini yang terinfeksi HIV. Sampai di rumah sakit, oleh petugas, mobil saya langsung disemprot cairan entah namaya apa.”

***

Masyarakat memanggilnya Ustad Danil, atau Kiai Danil. Ia mengaku ‘Danil’ diambil dari nama anaknya: Aleq Dinillah[1]. Nama aslinya Muhammad Zainul Wasik. Lahir tahun 1979 di Kecamatan Mayang, Jember, Jawa Timur, dari keluarga pesantren. Ia merupakan pengasuh Pesantren At-Tanwir di Dusun Sumbergadung, Desa Slateng, Jember.

Selain darah pesantren yang mengalir kental dalam tubuhnya, Zainul juga memiliki trah pendekar dari kakeknya. Sewaktu kecil Zainul pernah berlatih silat bersama sang kakek, namun kemudian rutinitas latihan itu berhenti ketika ia mulai masuk pesantren.

Di pesantren jalan silatnya sedikit berbelok. “Sejak masuk pesantren, silat saya kacau. Karena tidak pernah latihan,” katanya. Ia memilih jalan pintas dengan mempelajari kitab-kitab ilmu hizib milik kakeknya. “Waktu itu saya masih sangat muda. Bahkan kakek mengharamkan saya mempelajari kitab-kitab itu. Tapi saya tetap mencuri-curi.”

Mempelajari hizib, menurutnya, adalah pelampiasan ekspresi masa muda. Ia tertantang karena harus bersaing dengan teman-teman sebayanya di rumah. Mereka pandai silat, sementara Zainul yang tinggal di pesantren tanpa fasilitas berlatih silat harus memiliki nilai lebih dari mereka. Sehingga ia melakukan lompatan dengan menyelami supranatural.

Pendalamannya akan ‘silat’ transendental secara otodidak itu, kelak di beberapa masa, menyelamatkan nyawanya. Di antaranya pada tahun 1995 di Kecamatan Kalisat Zainul terlibat tawuran santri vis a vis preman dan ia menghajar banyak preman. “Saya pakai hizib. Orang yang saya serang pasti dalamannya rusak.” Dan tahun 1997 ia juga terlibat kasus yang sama di Kecamatan Mayang. “Itu dunia hitam saya,” katanya.

Lalu pada tahun 2000 setelah menikahi Nur Khasanah yang berselisih umur 6 tahun dengannya dan memutuskan tinggal di Dusun Sumbergadung, ia tiga kali dibacok. Suatu siang, di bawah pohon kelapa, ketika Zainul bersama tujuh petani lainnya sedang santap siang, tiba-tiba jleb! Sebilah clurit menancap punggungnya. Teman-temannya lari; istrinya pingsan; perempuan-perempuan menjerit; si pembacok juga lari.

Zainul berdiri, dengan punggung sobek mengejar si pembacok itu ke rumahnya. Namun si pembacok sembunyi entah ke mana. Itu yang pertama. Kejadian yang kedua, masih dengan pembacok yang sama, karena masalah tanah Zainul dihadang di pinggir jalan lalu dibacok. Pada laga kedua itu Zainul tak lagi membendung amuknya. Ia mengejar si pembacok, tapi beruntung si pembacok cepat lari, dan lagi-lagi, berhasil sembunyi.

“Selain dua pembacokan itu saya juga pernah dibacok pas subuh ketika saya sedang ambil wudlu. Waktu itu gara-garanya masalah pemilihan kepala desa,” kata Zainul lalu menyesap kopinya.

Di Dusun Sumbergadung itulah sampai kini ia bermukim. Dusun itu terletak di bawah kaki Gunung Raung serta ia merupakan dusun paling ujung dari Desa Slateng. Salah satu lumbung kopi di Kecamatan Ledokombo. Di sini Zainul mendirikan Pesantren At-Tanwir dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengasuh-perjuangkan anak-anak dan pendidikan.

Nama At-Tanwir yang artinya ‘bercahaya’ dirumuskan dari momen intim-spiritual Zainul ketika pesantren ini masih sebentuk gubug. Saat itu bulan Ramadan dini hari, Zainul dan para santrinya masih istirahat ketika kemudian dunia tiba-tiba menjadi terang. Zainul tergeragap bangun lalu mengobrak semua santrinya agar bangun.

Mereka langsung mengangsu wudlu lalu cepat-cepat shalat subuh di musala. Shalat usai, Zainul dan para santri berdoa membaca surat Al Waqi’ah. Selesai berdoa, tiba-tiba corong masjid besar yang tidak jauh dari pesantren mereka menjerit, “Sahur-sahur!” Mereka kaget. Zainul lalu menyuruh santrinya untuk mengecek keadaan di luar. Ternyata jam masih pukul setengah tiga pagi. “Kejadian itu saya maknai kalau Tuhan sudah meridai apa yang saya lakukan. Langit yang terang itu saya maknai sebagai simbol keridaan-Nya.”

Pesantren At-Tanwir saat ini mengasuh 127 anak. Sekitar 60 persennya anak-anak yang bermasalah. Anak-anak bermasalah adalah: anak yatim piatu, anak yatim sosial[2], dan anak-anak yang identitasnya sulit dilacak. “Dulu saya punya santri panggilannya ‘Dul’. Suatu kali ia pernah curhat begini ke saya, ‘Ustad, andaikata memperkosa tidak dosa, saya ingin memperkosa ibu saya. Gara-gara dia kehidupan ayah saya kacau dan saya jadi seperti ini,’” ujarnya menirukan Dul.

Dul lahir tanpa pernah menyusu pada ibunya. Si ibu main serong dengan lelaki lain sampai menikah. Dul kecil lalu terombang-ambing disebabkan kondisi ekonomi Salimin, ayahnya, sangat tidak stabil. “Dia nyusu ke ayahnya,” kata Zainul. Kondisi ekonomi yang tidak stabil menyebabkan Salimin terlibat dalam pencurian di kebun cengkeh di Banyuwangi. Bahkan beberapa aksinya dilakukan sembari menggendong Dul kecil.

Sekarang Dul sudah menikah. Niat memperkosa ibunya telah luruh dikikis waktu. Akan tetapi di Pesantren At-Tanwir masih ada Dul-Dul lainnya. Anak korban perceraian, anak buruh migran, anak terlantar, dan masih banyak lagi. Mereka diberi pelajaran formal dan informal. “Di rumah ini setiap hari ada acara,” kelakarnya. Yang dimaksud ‘acara’ oleh Zainul: masak besar setiap hari. Zainul mengasuh anak-anak itu tanpa memungut biaya. Semuanya gratis. Biaya hidup dan sekolah santri sepenuhnya ditanggung dana pribadi Zainul.

Dusun Sumbergadung jam setengah 5 sore. Senja di barat merayap di atas barisan pohon kelapa dan bukit-bukit. Riuh gesekan sandal santri terdengar dari luar rumah Zainul. Para santri berjalan bergerombol menuju masjid. Kami menyesap sisa kopi kami bersamaan. Kopi itu manis sekali. “Jangan niru hidup saya. Hidup saya hidup ngawur. Pokoknya tiap dapat rezeki: 50 % buat pondok, 25 % buat istri, 25 % buat rumah,” katanya lalu tergelak.

Catatan kaki

[1] Dalam masyarakat madura pedesaan, bagi seseorang yang sudah punya anak, biasanya nama ‘daging’-nya hilang lalu secara otomatis nama panggilannya sehari-hari akan diganti dengan nama anaknya. Jadi seumpama nama aslinya Eko lalu ia punya anak namanya Devi, maka sehari-hari oleh tetangganya ia akan dipanggil Pak Devi. Bukan Pak Eko.

[2] Yatim sosial adalah anak-anak yang masih memiliki orangtua biologis, tapi orangtua mereka pergi ke luar negeri/daerah sehingga anak-anak ini kurang mendapat perhatian dari orangtua mereka. Di Kecamatan Ledokombo, Jember, anak-anak seperti banyak terjerumus ke hal-hal negatif.

Keterangan

Tulisan ini mendapat juara 1 kategori feature dalam ajang Bulan Bahasa UGM 2018.

Share This:

About Amal Taufik 1 Article
Seorang pegiat budaya dan penulis lepas. Sekarang aktif di Yayasan Tanoker Ledokombo.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*