Pertunjukan teater “Aporia”: Banyak hal jika ingin mencari sebuah kesalahan

ROIS BLODOT

 

Download artikel versi PDF

Banyak definisi jika seseorang ingin tahu apa “itu teater?” Seseorang bisa saja mendefinisikan teater dari sudut pandang genre, teknik pemanggungan, metode, dan hal-hal lain. Di luar itu, ada jugaseseorang yang hanya mendefinisikan teater sesuai dengan apa yang ia pelajari atau gurunya ajarkan. Dalam kasus yang demikian bisaanya akan melahirkan definisi yang utopis, tidak kompleks, subjektif, dan paradoksal dalam dirinya sendiri. Namun itu juga bukan sesuatu yang salah.

Secara genre, sudah banyak wacana konvensional yang mengkategorisasikan genre teater: realis, surealis, absurd, eksperimental, dan banyak lainnya. Jika kita menyoal tentang kritik seni, pengetahuan yang kompleks menjadi penting, pembacaan yang detail memungkinkan untuk membisakan teks-teks dalam pertunjukan. Belum lagi menyoal banyaknya tokoh-tokoh teater yang memiliki konsep dan metode yang berbeda-beda. Katakanlah Barba dengan teater antropologi, Artaud dengan teater kekejaman, Stanislavski dengan realisme, dan masih banyak lagi. Persoalan itu pun akan melahirkan persoalan baru mengingat setiap Kelompok teater memiliki cara kerjanya masing-masing. Originalitas dari sebuah konsep/metode menjadi saling berbenturan. Tidak menutup kemungkinan juga melahirkan konsep/metode baru.

Eksperimental atau absurd?

Pengalaman saya ketika mengikuti apresiasi-apresiasi pertunjukan teater di Jember, jika pertunjukannya bukan realis, maka akan ada dua kesimpulan dominan dalam forum apresiasi: kalau bukan absurd, pasti eksperimental. Namun kesimpulan ini tidak bersifat pembenaran,.Artinya masih ada kemungkinan lain di luar itu.

Aporia 1

Pertunjukan “Aporia” di rumah kontrakan yang sekaligus menjadi base camp Komunitas Gelanggang. Tidak membuat jarak dengan penonton.

Dalam forum apresiasi pertunjukan Gelanggang yang saya hadiri selama 3 hari, 19-21 September 2018, banyak yang menyoal tentang judul pementasan, “Aporia”, secara harafiah. Artinya, kebutuhan penonton akan makna sangat besar di situ. Pertanyaan-pertanyaan itu kebanyakan langsung ditujukan kepada sutradara, bukan aktor. Kebutuhan “makna” ini bisa jadi sebuah kebisaaan yang terbawa dari perspektif kehidupan sehari-hari: dalam melakukan suatu kegiatan seseorang harus mempunyai tujuan/motivasi. Bisa juga berangkat dari pola-pola menonton yang sering menempati posisi sebagai objek dari makna tunggal, misal, pola menonton tayangan televisi, menonton bola, film, dan yang lain.

Tidak menutup kemungkinan juga kebutuhan akan “makna” tersebut berangkat dari pengetahuan tentang teater; bahwa teater haruslah bermakna. Banyak kemungkinan. Dan lagi, bukan hanya satu penonton yang menyoal “makna” tersebut. Kebutuhan “makna” juga bisa merujuk pada pola negasi terhadap bentuk teater realis. Mengingat sesuatu yang dipentaskan Gelanggang jauh dari definisi teater relais yang ada. Secara tidak langsung, pertunjukan Gelanggang sudah ditempatkan di dua kuburan makna tadi: absurd dan eksperimental. Tapi itu bukan sebuah kesalahan, sah-sah saja.

Aporia 4

Salah satu adegan dalam “Aporia”

Jika dalam konteks filsafat aporia bisa dimaknai sebagai rasa bimbang, bingung. Definisi tersebut juga bisa saja menjadi bekal dalam memahami pertunjukan Gelanggang. Terlepas dari apakah dia absurd atau eksperimental, wilayah penonton bisa lebih fleksibel memberikan interpretasi sesuai bekal dan latar belakang mereka masing-masing. Jika, misalnya, ada seorang pegawai perusahaan menonton pertunjukan tersebut, sah-sah saja jika dia memahami “Aporia” sebagai dampak inflasi yang membuat para karyawan stres, bingung, karena perusahaan mereka terancam bangkrut. “Aporia” dimaknai sebagai rasa panic dan cemas.

Prespektif penghargaan terhadap Seni

Banyak sikap yang bisa dikatakan sebagai penghargaan. Dalam konteks seni, penghargaan tersebut bisa berupa tepuk tangan, kritik, memberi ruang untuk tampil, membantu menyebarkan informasi, membeli karya, membeli tiket, dan sebagainya. Namun bentuk-bentuk penghargaan juga mempunyai semacam stratifikasi, dan stratifikasi tersebut mempunyai konteks dan faktornya sendiri-sendiri.

Stratifikasi bisa disebabkan oleh paradigma ketokohan: seseorang yang dianggap berpengaruh, terkenal, dan sebagainya, akan lebih dihargai dari pada seniman-seniman rookie. Stratifikasi yang ini umum terjadi dan dipraktikkan bahkan oleh rookie-rookie itu sendiri.

Sikap penghargaan juga bisa dilatarbelakangi oleh kultur teritorial. Misalnya, apa yang terjadi di Jember, atau yang lebih mengerucut lagi: lingkungan kampus di Jember. Di masyarakat Jember pertunjukan teater–atau, bahkan kata teater saja masih asing–itu bisa saja dipungkiri. Namun memang itu yang saya alami. Keterasingan teater di masyarakat pun menjadi soal bagaimana sikap dan respon masyarakat terhadap teater. Jika menyoal komersil, mungkin pemuda-pemudi di Jember lebih memilih melihat konser dengan tiket 100 ribu, dari pada melihat pertunjukan teater dengan tiket 20-30 ribu.

Aporia 3

Salah satu adegan “Aporia” di tangga rumah kontrakan.

Sejatinya, di lingkaran  kampus di Jember, banyak UKM/F kesenian di kampus-kampus Jember. Dan, hampir semua UKM/F tersebut punya bidang/divisi kreatif teater. Setiap tahun di Jember rutin diisi oleh pertunjukan-pertunjukan teater dari UKM/F kesenian tersebut. Mereka cukup berjasa dalam pengenalan teater kepada mahasiswa. Akan tetapi apakah cukup hanya dengan pengenalan saja?.

Tidak semua pertunjukan yang dilakukan oleh UKM/F bertiket, masih banyak yang gratis. Hal itu memungkinkan terjadinya stratifikasi komersil, secara tidak sadar perspektif penonton akan menganggap bahwa seni teater itu “murah”. Dan itu berlangsung setiap tahun di Jember. Penonton yang terbiasa menonton secara gratis akan menganggap bahwa tiket teater seharga 20/30 ribu itu mahal, tapi mereka tidak akan protes ketika misal konser musik Payung Teduh bertiket 100 ribu. Bukankah dua-duanya sama-sama seni?Lagi-lagi, itu bukan sesuatu yang salah, karena mengingat UKM/F berada di bawah struktur negara dan pastinya mendapat subsidi.

Imbas peristiwa tersebut dirasakan komunitas-komunitas teater independen di Jember. Mereka akan mendapat dua tantangan yang berat. Pertama, mengenalkan teater ke masyarakat. Kedua, mencaripasarpenonton yang mau membeli tiket. Jika bukan dari tiket, dari mana mereka menghidupi komunitasnya?Alternatif lain mungkin bisa mencari sponsor, namun bagaimana jika komunitas tersebut baru memulai debutnya? Produser seperti sponsor akan selalu mempertimbangkan kapabilitas dan jaringan dari kolompok tersebut.

Stratifikasi yang berlangsung di lingkungan kampus kemungkinan besar dapat merusak ekonsistem teater di Jember. Namun peristiwa tersebut tidak boleh menjadi tema-tema penghakiman kepada UKM/F. Ada juga UKM/F yang melakukan ticketing di setiap pertunjukan teaternya. Lebih lanjut, komunitas-komunitas independen juga harus bergerak dan tidak hanya menerima begitu saja apa yang terjadi.

Kesalahan-Kesalahan Gelanggang?

Banyak yang bisa dipetik dari pertunjukan Gelanggang untuk dijadikan sebuah kesalahan; tentu, jika memang ingin mencari kesalahan. Misalnya, ketergesa-gesaan menetapkan harga tiket yang dalam konteks Jember bisa dikatakan “mahal”, Rp. 20.000. Selain itu, pilihan genre pertunjukan yang selalu dekat atau diidentikkan dengan teater absurd dan eksperimental, sehingga melahirkan cap “anti-realis” pada diri mereka. Prinsip, selalu menyerahkan makna pada penonton sepernuhnya, bisa juga menyebabkan penonton merasa dirugikan karena sudah membeli tiket.

Mau tidakmau, Gelanggang juga harus melihat Jember secara kompleks dan ‘waspada’. Bisa dikatakan sebuah kemacetan jika Gelanggang sebagai komunitas independen mengukuhkan dirinya sebagai komunitas yang “idealis-apatis”. Idealis karena tetap mementaskan bentuk teater yang itu-itu saja. Apatis karena bersikeras dan tidak mau melihat secara kompleks kondisi konsumen teater di Jember.

Kalau menyoal tentang salah-benar, tentu banyak yang bisa dijadikan bahan, namun apakah semua harus diputuskan dengan parameter salah dan benar? Haruskah salah dan benar menjadi kuburan makna samahalnya absurd dan eksperimental di Jember? Perspektif salah-benar kurang tepat jika dijadikan titik kulminasi dalam menyikapi segala sesuatu.

Share This:

About Rois Blodot 1 Article
Rois Blodot (M. Roisul) adalah mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Lahir 17 November 1995 di Bojonegoro, Jawa Timur. Aktif di Komunitas Gelanggang. Puisi-puisinya dimuat di persmaideas.co, poetryprairie.com. Naskahnya Ekspedisi Orok (2015) dipentaskan oleh Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia FIB UNEJ.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*