Cinta tak semanis surat bersampul jingga

MUFIDAH MINKARYO

 

Matahari begitu terik.Telah sepuluh hari Bondowoso tidak diguyur hujan.Hari ini adalah minggu kedua di bulan April, berdasarkan prakiraan cuaca memang masuk pada musim kemarau. Artinya masih 6 bulan lagi akanmerasakan cuaca yang panas, sumuk, dan bahkan bisa jadi kekeringan.

Farah tak kuat menahan panasnya ruang kelas. Berkali-kali ia mengipas badannya dengan buku tulis tipis, buku catatan Bahasa Jawa. Keringat mengucur dari ujung rambutnya yang pendek, mengalir pada pelipis hingga dagu. Sambil terus berusaha memperhatikan bu Mubirotun menerangkan di depan, ia sapu butiran keringat di dahinya dengan tisu pemberian Rita, teman sebangkunya.

“Akh..panas…,” keluhnya pelan. Ia melirik ke arah Rita yang asyik menjawab pertanyaan-pertanyaan dari bu Mubirotun. Jam menunjukkan pukul 14.05. Dua puluh lima menit lagi bel istirahat berdentang. Farah bergegas mengerjakan tugas menulis aksara Jawa di buku tulisnya. Kalau hanya menulis hanacarakadia bisa, asalkan tidak disuruh menerjemahkan kalimat dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Jawa saja, atau mengubah kalimat Bahasa Jawa ngoko menjadi kromo.

Lima belas menit.

Farah menyelesaikan tugasnya lima menit lebih awal dari Rita. Dia tutup bukunya.Dia masukkan alat-alat tulisnya ke kotak pensil dan kembali pada rutinitas awal; mengipas-ngipas sambil memandang lepas keluar jendela.Mungkin karena lega, dia merasa angin berhembus sejuk menerpa wajahnya. Jalan di depan sekolah sangat ramai. Hilir mudik kendaraan berlalu lalang, ada mobil, motor, becak, dan sepeda.

“Ngelamun, Nduk?”

Farah terkejut bukan kepalang. Bu Mubirotun sudah berada di depan mejanya. Secara reflek dia menatap wajah gurunya dengan tersipu malu.Tergopoh-gopoh dia mencari buku tulisnya, dirogohnya kolong meja lalu dia serahkan tugasnya.

“Ini, Bu, saya sudah selesai,” ujarnya pelan. Dia serahkan buku tulisnya, berharap tidak mendapat hukuman karena sudah melamun di kelas.

Bu Mubiratun mengambil buku Farah.Dia tersenyum ramah.“ Ini milikmu ya?!” katanya sembari menyodorkan amplop berwarna jingga.

Farah semakin gugup. Dia bingung harus menjawab apa jelas-jelas amplop itu menempel pada bukunya. Terpaksa dia terima amplop itu meskipun malu karena tepuk tangan dan suitan teman sekelasnya membahana.

“ Maaf, Bu,” lirih suaranya gugup, “ terima kasih,” lanjutnya. Farah bersyukur karena bu Mubi tidak menghukumnya juga tidak membacakan isi surat di depan kelas seperti cerita di sinetron-sinetron.

***

Farah tersenyum-senyum sendiri. Matanya memandang ke langit-langit kamar, sesekali dia kecup dan dekap surat cinta yang diterimanya di sekolah dua minggu lalu. Surat cinta pertama. Surat cinta dengan untaian kalimat yang begitu manis. Sangat menyentuh hatinya.Surat cinta dari kakak kelas, tidak sabar dia ingin tahu yang mana orangnya.

Image result for Surat cinta dari masa lalu

Bel istirahat berbunyi tiga kali. Setelah mengucap salam, guru Fisika meninggalkan kelas diikuti siswa-siswi yang hendak istirahat. Dengan menggandeng tangan Rita, Farah berjalan penuh semangat menuju musholla sekolah.Sholat ashar kemudian jajan di kantin merupakan kebiasaan dua gadis bersahabat itu setiap harinya.

“ Tan! Sultan!”

Panggil seseorang dengan suara keras. Farah ikut menoleh karena nama itu tidak asing. Sultan; nama itu ada dalam surat. Bulu kuduk Farah begidik, irama jantungnya berdegup tak karuan.Antara senang dan penasaran, matanya tak berkedip memandang ke arah laki-laki yang berjalan keluar dari tempat wudu’.

“ Duuhh, ganteng.!” Pujinya dengan suara agak keras. Rupanya laki-laki itu yang menulis surat padanya. Sultan, nama yang cocok dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap dengan potongan rambut cepak ala taruna. Farah ingat, Sultan adalah kakak kelas yang menjadi pemimpin upacara pembukaan Masa Orientasi Siswa Juli lalu.Sultan yang menyabet juara dua siswa teladan SMP se-propinsi, yang setiap Sabtu sore mengisi acara di radio lokal menggunakan Bahasa Inggris.Sultan yang usut punya usut tidak pernah terlempar dari peringkat tiga besar di kelas. Sultan oohhhh Sultan…. Sultan yang istimewa!!

Semangat Farah semakin terpacu.Dia tidak dapat menutupi kebahagiaan yang meletup-letup lantaran tahu bahwa cowok sekaliber Sultan ternyata menaruh hati padanya. Dia tidak cantik, tidak kerren, dan sama sekali tidak ada yang bisa ditonjolkan. Demikian halnya urusan akademis, untuk meraih peringkat 10 besar di kelasnya pun membutuhkan belajar dengan konsentrasi tingkat dewa.Disukai oleh Sultan membuat tekadnya bulat untuk giat belajar. Walaupun tidak seperti Sultan, minimal tembus peringkat 5 besar.

***

Tanpa terasa sebulan pun berlalu. Farah belum juga membalas surat bersampul jingga itu. Dia belum menemukan kalimat-kalimat yang tepat untuk membalas surat yang membuat hatinya berbunga-bunga hingga langit ke tujuh.Surat cinta pertama dari orang yang istimewa harus dibalas dengan jawaban yang istimewa pula. Harus berkesan sehingga tak akan pernah terlupakan.

Farah tiba 15 menit lebih awal di sekolah. Hari ini ada 2 ulangan harian, jam pertama ulangan Matematika dan jam terakhir ulangan Bahasa Inggris.Dia betah berdiam diri di kelas sambil terus mempelajari buku paket dan buku catatannya. Dia belajar dengan sangat giat demi satu tujuan, menjadi lima besar untuk semester depan. Pun sejak seminggu lalu dia ikut kursus Bahasa Inggris di Lembaga Kursus Bahasa Inggris tempat dimana Sultan juga belajar.

“Dik, ini ada titipan dari Sultan.”

Sapaan kakak kelas membuyarkan konsentrasi belajar Farah. Dengan mata berbinar disertai kerlingan nakal, cewek berambut lurus sebahu itu menyodorkan amplop yang sama dengan amplop surat sebulan lalu. Surat cinta bersampul jingga.

Farah tercengang.Tak sepatah kata keluar dari mulutnya.Kembali bulu romanya berdesir.Dia teramat sangat bahagia, serasa barisan suka cita mengalir dari ujung kaki dan ujung rambutnya kemudian menjadi satu memenuhi dadanya. Srrrrrr….!! Farah menarik nafas panjang. Tak kuasa ia menahan emosi yang mencapai puncak.Benar kata pepatah, jatuh cinta berjuta rasanya. Andaikata bel tidak berbunyi, ingin rasanya pulang, mengunci diri di kamar dan membaca surat dari Sultan, sang pencuri hati.

Ulangan Matematika kali ini Farah selesaikan dalam waktu yang cukup singkat. 17 menit sebelum ketok meja tanda waktu ulangan telah usai dia mengumpulkan lembar jawabnya ke depan. Sebenarnya dia terlalu bersemangat untuk segera mengetahui isi surat hingga ulangan pun dikebut secepat jaguar.

Setelah mengumpulkan kertas ulangannya di meja guru, Farah bergegas keluar. Dengan setengah berlari, dia pegangi surat yang diselipkannya di saku baju. Masih dengan senyum yang dikulum, matanya tertuju pada kamar mandi di ujung timur. Yah, kamar mandi adalah satu-satunya tempat paling aman untuk membaca surat.

Sekujur tubuh Farah gemetar.Ia baca baris demi baris kalimat dalam tiap-tiap paragraf. Betapa pandainya Sultan merangkai kata sehingga setiap kalimat penuh makna. Satu kata untuk surat kedua, romantis.!! Dalam surat itu tertulis bahwa Sultan ingin menemui Farah sepulang sekolah. Dia akan menunggu Farah di gerbang, berjalan menyusuri sepanjang pecinan lalu mengantarnya pulang.

Akh..!!!

Pikiran Farah semakin terbang melayang. Dia membayangkan apa yang akan terjadi nanti saat bertemu Sultan. Apa yang hendak Sultan sampaikan untuk pernyataan cintanya yang terkesan sebulan Farah abaikan. Juga bagaimana Farah mengontrol emosinya, bagaimana ia bisa tampil elegan ketika kata-kata cinta itu Sultan ucapkan, dan dengan kalimat apa dia harus menjawab agar moment spesial ini menjadi teramat sangat istimewa.

***

Farah melangkah gontai menuju gerbang sekolah. Sengaja ia pulang paling akhir untuk berkompromi dengan hatinya. Perasaannya harus ditata. Sebesar apa pun rasa suka tetap harus memperhatikan sisi elegan sebagai perempuan. Jangan sampai pertemuan pertama sekaligus ajang menyatakan cinta ini berjalan tidak sesuai harapan.Kampungan dan atau murahan.

“Farah..”

Suara lembut sedikit serak itu memanggilnya.Langkah Farah terhenti sejenak tatkala sosok jangkung mensejajari jalannya.Farah belum berani mengangkat wajah.Jantungnya berdegup kencang.Sangat kencang.

“Sultan..”

Cowok jangkung itu pun menjulurkan tangan kanannya yang kemudian disambut oleh Farah.

“Fa…,”

Farah menatap wajah Sultan, volume suara yang mulanya keras perlahan merendah. “..raah..” akhirnya keluar juga meskipun dengan sangat lirih.

Farah tidak percaya dengan apa yang ada di depannya.

Inikah Sultan.?!

Memangnya di sekolah ini ada berapa nama Sultan???!!!!

Share This:

About Mufidah Minkaryo 2 Articles
Mufidah Minkaryo adalah guru di SMK ANALIS KESEHATAN Jember. Alummni Prodi D-III Bahasa Inggris Fak. Sastra Universitas Jember dan FKIP Bahasa Inggris Universitas Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*