Pemilu dan rasa Indonesia

APRINUS SALAM

 

Selain kekuatan kapital, substansi penting dalam politik pemilu adalah dramatisasi wacana untuk merebut pengaruh. Kekuatan wacana, dalam bentuk pernyataan-pernyataan pendek yang mudah diingat, trik visualisasi pencitraan, dan permainan panggung simbolik, akan banyak menentukan bagaimana subjek pemilu dalam mengambil keputusan memilih pilihan politiknya. Wacana memiliki kekuatan dalam membentuk subjek dan (rasa) subjektif seseorang.

Janji-janji argumentatif, rencana-rencana politik dan ekonomi, dalam berbagai pernyataan panjang tidak akan diperhatikan, untuk mengatakan sama sekali tidak penting. Pemilu pada masa mendatang telah memasuki satu masa ketika masyarakat banyak dipengaruhi ruang-ruang on line. Temu massa, di samping boros dan tidak produktif, juga semakin berbahaya. Berbahaya karena pemanasan sudah dilakukan di ruang on line.

Dramatisasi wacana akan diterima secara berbeda-beda, bergantung posisi seseorang secara sosial, politik, ekonomi, bahkan agama. Paling tidak ada tiga situasi subjek pemilu. Pertama, mereka yang sudah menentukan posisi politiknya (pemilih tradisional). Kedua, mereka yang masih dalam posisi interseksi dan ambang. Ketiga, mereka yang belum punya plihan. Yang diperebutkan biasanya mereka dalam posisi kedua dan ketiga.

Kembali kepersoalan wacana, bahwa memang kemudian kita mengenal apa yang disebut sebagai tahun politik. Artinya, pada tahun politik tersebut, wacana-wacana kampanye akan terus berjejalan tak kenal henti. Kalau cara mengelola wacana seperti telah disinggung di awal tulisan, maka sangat mungkin wacana akan bekerja cukup operasional. Masalahnya adalah subjek pemilih tidak bisa dibentuk secara cepat dan berjejalan. Peristiwa yang menjadi penting akan memegang peranan ketika subjek terinkorporasi dalam peristiwa tersebut.

Pemetaan Diskursif
Perlu dipetakan kembali wacana apa saja yang telah berkontestasi selama ini. Kalau boleh disederhanakan terdapat empat ruang penting dalam mengklasifikasi wacana, yakni ruang politik sosial, ekonomi, agama, dan budaya. Dalam konteks politik sosial, wacana nasionalisme “sekuler”, nasionalisme “religius”, Pancasilaisme, demokrasi, anti diskriminasi, selalu bergaung. Dalam konteks ekonomi, wacana keadilan ekonomi, “anti-kapitalisme, keberpihakan pada masyarakat ekonomi rendah terus bergema.

Dalam ruang agama, wacana lebih bersifat emosional dan keyakinan. Wacana ini cukup efektif dan bisa berpengaruh kuat terhadap subjek pemilih karena rasa subjektifnya yang tinggi. Dalam konteks ini pula biasanya pemilih tradisional bercokol. Dalam praktiknya, seperti akan dijelaskan kemudian, walaupun secara sejarah tidak pernah berhasil memenangkan pemilu, tetapi selalu menghadirkan subjek-subjek pemilih yang militan dan akan selalu bertahan.

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah wacana-wacana dalam ruang budaya. Keberpihakan pada budaya sendiri, nasionalisme lokal, dan “semakin” cinta pada sesuatu yang Indonesia, terus dimobilisasi. Wacana budaya tidak terikat dengan ruang politik ataupun pesta pemilu. Dalam ruang inilah, walaupun tidak beroperasi gembar-gembor, terus berjalan dari waktu ke waktu. Proses kewacanaan kultural ini yang saya sebut sebagai semakin menguatnya perasaan yang semakin mengindonesia.

Kasus Pilkada DKI Jakarta 2017, memang boleh dikata seperti satu kemenangan wacana keagamaan, dan mengalahkan kekuatan tiga ruang wacana yang lain. Akan tetapi, bahwa arus balik dan perlawanan, terutama dari ruang budaya, terus bermunculan. Apalagi jika wacana keagamaan tersebut seolah tidak memperlihatkan keberpihakan pada sesuatu yang dianggap “budaya lokal”, “tidak berpihak pada Pancasila”, maka peristiwa Pilkada DKI 2017 justru akan menjadi blunder bagi partai politik yang memobilisasi wacana keagamaan.

Saya semakin menduga bahwa terdapat wacana yang terpendam bahwa ke depan wacana yang mengkonstruksi keberpihakan pada perasaan yang meng-Indonesia, akan semakin kuat. Hal itu artinya, ruang-ruang kultural akan memainkan peranan penting dalam merebut hati dan perasaan subjek pemilih. Namun, politik tetap penuh dengan kepentingan. Dalam banyak kasus subjek pemilih bisa dibeli atau bahkan bisa dipaksa, dalam berbagai cara, termasuk janji-janji dalam wacana keagamaan.

Namun, jangan lupa bahwa wacana-wacana dalam ruang budaya, yang memberi keberpihakan pada keberanian untuk menjadi orang Indonesia, perasaan-perasaan yang semakin kultural dan berakar pada lokal-lokal, akan semakin memperlihatkan kekuatan penting. Memang, ketika seseorang memilih, baik memilih eksekutif ataupun legislatif terdapat kalkulasi rasional, baik rasionalitas politik itu sendiri, terlebih rasionalitas ekonomi yang dimungkinkan. Sesuatu kecenderungan yang dianggap paling masuk akal.

Namun, subjek pemilih juga manusia yang memiliki perasaan. Perasaan menjadi subjek Indonesialah yang akan menjadi pertimbangan terakhir. Jika berdasarkan pertimbangan perasaan Indonesia semakin menguat, pilihan itu yang akan menjadi pilihan akurat. Kita lihat saja nanti.

 

Foto cover:

“Pertunjukkan Pencak Silat di Hadapan Ali Sastroamidjojo pada Kampanye Pemilu 1955 di Jakarta. (Foto: Howard Sochurek), tersedia di: https://www.mobgenic.com/foto-foto-suasana-pemilihan-umum-pemilu-indonesia-1955/

Share This:

About Aprinus Salam 2 Articles
Dr. Aprinus Salam adalah Ketua Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Juga mengajar di Fakultas Ilmu Budaya dan Prodi Kajian Budaya dan Media UGM.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*