Negeri Pantai

APRINUS SALAM

 

Pilihan strategis antara negara dengan konsentrasi kemaritiman, kedirgantaraan, atau bahkan kedaratan adalah pantai. Pantailah yang mempertemukan darat, laut, dan udara. Penekanan pada salah satu hal, bukan saja akan mengabaikan hal yang lain, tetapi terdapat pula pemaksaan terhadap beberapa kenyataan.

Penekanan pada aspek dan instrumentasi kemaritiman membuat hal-hal lain tidak mendapat prioritas dan tidak memperkembangnnya dengan konsentrasi yang maksimal. Padahal, kenyataannya, walaupun kita hidup pada sebuah pulau yang dikelilingi laut, hampir semua kehidupan berjalan di darat atau di pantai (termasuk terutama di pinggir sungai), sebagai ruang yang mempertemukan. 

Sebaliknya, penekanan pada konsentrasi dan instrumentasi udara (dirgantara), bukan saja berbiaya mahal dan berteknologi tinggi, tetapi adalah kenyataan bahwa secara historis banyak masyarakat hidup dengan mengandalkan dunia dan hasil laut dan sungai. Istilahnya, kita ini negeri bahari yang dibatasi pulau-pulau. Secara historis dan kultural, hampir semua kota besar dan penting di Indonesia ada di pinggir laut di satu sisi, dan sungai di sisi yang lain. Akan tetapi, seperti dijelaskan kemudian, ruang yang mempertemuannya adalah pantai.

Memang, penekanan pada konsentrasi dan instrumentasi darat tidak terlalu berlebihan. Realitasnya, kita hidup di darat (di atas pulau besar ataupun kecil). Di samping itu, terdapat sejumlah daerah (setingkat kabupaten/kota) yang tidak memiliki laut, tetapi memiliki sungai. Sungai merupakan miniatur laut, dan sungailah, dengan jalur airnya, yang mempertemukan secara langsung daerah tersebut dengan laut.

Ilustrasi lain, bagaimana mempertemukan gunung (darat) dan laut. Di Yogyakarta, misalnya, garis imajiner yang mempertemukan gunung Merapi dan laut Selatan, di samping terhubung langsung dengan sungainya, maka yang menghubungkan garis imajiner tersebut dengan melakukan berbagai ritual di pantai selatan. Bahkan dengan maksud menghidupkan selatan/laut, Yogyakarta membangun konsep among tani dagang layar. Salah satu strateginya adalah dengan membangun hotel dan jalan yang bagus di pinggir-pinggir pantai selatan.

Menghidupkan Sungai
Membangun paradigma negeri pantai juga menghidupkan banyak hal. Sungai merupakan bagian yang terhubung dengan laut. Kita tahu, bahwa banyak sungai belakangan ini mengalami pendangkalan, bahkan menjadi tempat pembuangan sampah serta limbah mandi, cuci, dan kakus. Hal ini juga dapat dilihat bahwa banyak sungai menjadi halaman belakang perumahan. Padahal dulu rumah menghadap sungai dan menjadi halaman depan perumahan.

Sungai Kahayan (https://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_kahayan)

Perubahan itu menyebabkan banyak sungai tidak bisa dipakai untuk berlayar. Sebagai akibatnya, keterhubungan sungai dan laut banyak yang terputus. Dengan membangun paradigma negeri pantai, maka mau tidak mau sungai harus dihidupkan kembali. Dengan hidupnya sungai, banyak spesies ataupun ikan-ikan yang seharusnya hidup di sungai-sungai bisa dikembangkan kembali.

Sungai juga bisa menjadi miniatur kemaritiman. Pinggiran sungai yang dikelola dengan baik akan menjadi pantai yang secara langsung terhubung dengan pantai lautan. Semua prilaku kemasyarakatan masyarakat sungai adalah pula dan memenuhi syarat untuk disebut sebagai bangsa bahari. Dulu, hingga tahun 1950-an, di sejumlah tempat seperti di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, banyak masyarakat melangsungkan perdagangan hingga ke kota-kota setingkat kecamatan yang dihubungkan dengan sungai. Kini, sebagian besar sungai itu tidak bisa dipakai karena terlalu dangkal.

Berdasarkan beberapa hasil riset juga memperlihatkan bahwa pinggiran (bantaran) sungai yang sehat akan mengurangi kriminalitas. Di beberapa tempat, sejumlah kriminal yang sedang buron, menurut catatan, salah satu tempat persembunyian adalah pinggiran sungai yang semrawut dan diterlantarkan. Dengan demikian, sungai yang sehat diharapkan tidak menjadi tempat pelarian para kriminal.

Implikasi
Mengapa kita masih perlu terus-menerus memikirkan alternatif pembangunan seperti apa yang paling cocok dan strategis di tingkat negara. Pertama, seperti telah disinggung, jangan sampai paradigma dan konsentrasi kemaritiman membuat kita tidak memberikan perhatian yang cukup kepada sektor lain, utamanya dimensi dan instrumentasi kedaratan dan keudaraan.

Kedua, dulu kita memang menjadi bangsa maritim, karena instrumentasi udara belum ditemukan, dan instrumentasi darat belum berkembang dengan baik. Akan tetapi, sekarang kedua hal tersebut telah berkembang dan menjadi pilihan utama.

Sungari Maron, Pacitan (https://liburmulu.com/tempat-liburan-di-indonesia-yang-mirip-luar-negeri/)

Ketiga, dan ini yang paling penting, bahwa adalah kenyataan bahwa kita hidup di darat, dan sebagian besar mereka yang memiliki kultur laut pun hidupnya di darat atau tepatnya pantai. Istilah nenek moyang kita bangsa pelaut memang tidak salah. Akan tetapi, ke depan, mempertahankan mitos itu sungguh seperti ketidakmampuan mengembangkan teknologisasi darat atau udara.

Kita tahu, saat ini perkembangan kendaraan darat yang pesat dan perkembangan jalan yang lamban menyebabkan lalu-lintas terlihat padat dan macet di mana-mana. Dengan menghidupkan kembali fungsi sungai dan antarpantainya sebagai alternatif transportasi diharapkan akan sedikit memberi perimbangan terhadap pilihan transportasi. Akan tetapi, yang lebih penting daripada itu adalah keterhubungan darat berbasis pantai/sungai

Diharapkan pilihan terhadap paradigma pantai dan sungainya akan mengubah banyak terhadap berbagai kebijakan pembangunan di tingkat kabupaten atau kota, terutama kabupaten atau kota yang tidak memiliki laut. Secara sejarah, ekonomi, dan sosial, mereka akan merasa terhubung kembali. * * *

 

Foto cover:

Raja Ampat, tersedia di: http://infowahyudi.blogspot.com/2012/06/raja-ampat-islands-indonesia.html

Share This:

About Aprinus Salam 2 Articles
Dr. Aprinus Salam adalah Ketua Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Juga mengajar di Fakultas Ilmu Budaya dan Prodi Kajian Budaya dan Media UGM.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*